Anda di halaman 1dari 4

Tugas Sejarah

Muhammad Fachrurrozy
(X Mipa H
15)
Muhammad Fadhil Firdausi
(X Mipa H
Rangkuman
16)
Perang Tondano

Perang Tondano I
Perang tondano disebabkan karena VOC yang sewenang-wenang
memonopoli perdagangan orang makassar dan orang spanyol. Sebelum VOC
datang, spanyol telah berkuasa di tanah minahasa. Hubungan perdagangan
antara orang spanyol dan minahasa berlangsung baik, sampai akhirnya
terganggu dengan kedatangan VOC. VOC mengusir orang orang spanyol dan
makassar yang berdagang bebas di minahasa. VOC juga memaksa agar
penduduk setempat menjual berasnya kepada VOC. Orang orang minahasa
menentang usaha monopoli tersebut. Maka tidak ada pilihan lain bagi VOC
selain memerangi orang-orang minahasa.
VOC membendung sungai Temberan yang menyebabkan tergenangnya
rumah-rumah minahasa. Penduduk minahasa memindahkan tempat
tinggalnya ke danau Tondano dengan rumah-rumah apung. Kemudian
pasukan VOC mengepung kekuatan minahasa yang berpusat di Danau
Tondano. Simon Cos, gubernur ternate yang diberi kekuasaan Batavia untuk
membebaskan minahsa dari spanyol mengeluarkan ultimatum yang
berbunyi :
1. Orang tondano harus menyerahkan para tokoh pemberontak kepada
VOC
2. Orang tondano harus membayar ganti rugi dengan menyerahkan 5060 budak sebagai ganti rugi rusaknya padi karena genangan sungai
temberan.
Namun rakyat tondano tidak menanggapi ultimatum tersebut. Akhirnya
pasukan VOC ditarik mundur ke manado. Namun, rakyat tondano mendapat
masalah baru yaitu menumpuknya hasil pertanian dan tidak adanya pembeli.
Rakyat tondano akhirnya dengan terpaksa menjual hasil pertaniannya
kepada VOC. Maka terbukalah tanah minahasa oleh VOC. Berakhirlah perang
tondano I dan orang-orang minahasa memindahkan perkampungannya ke
daratan yang diberi nama Minawanua.

Perang Tondano II
Perang Tondano II terjadi ketika memasuki abad ke-19, yakni
pada abad ke-19, yakni pada masa kolonial Belanda. Perang ini
dilatarbelakangi oleh kebijakan Gubernur Jenderal Daendels.
Deandels yang mendapat mandat untuk memerangi Inggris, memerlukan
pasukan dalam jumlah besar. Untuk menambah pasukan maka direkrut

pasukan dari kalangan pribumi . Mareka yang dipilih adalah suku-suku


yang memiliki keberanian adalah orang Madura, Dayak dan
Minahasa. Atas perintah Deandels melalui Kapten Hartingh, Residen
Manado Prediger segera mengumpulkan para ukung(pemimpin walak atau
daerah setingkat distrik). dari Minahasa ditarget untuk mengumpulkan
pasukan sejumlah 2.000 orang yang akan di kirim ke jawa. Ternyata orangorang Minahasa tidak setuju dengan program Deandels untuk merekrut
pemuda-pemuda Minahasa sebagai pasukan kolonial. Kemudian para ukung
bertekad untuk mengadakan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Mereka
memusatkan aktivitas perjuangannya di Tondano Minahasa.
Singkatnya latar belakang terjadinya perang kedua ini, ada
hubungannya dengan perlakuan semena-mena Belanda demi
kepentingannya sendiri atas makna Perjanjian 10 Januari 1679 yang
disebut oleh N. Graafland (1898) dalam Umboh (1985) sebagai
Kunci Kontrak Besar persekutuan - persahabatan antara Minahasa
dan Belanda, yang ditandatangani oleh Robertus Padttbrugge dari
pihak Belanda, dan dari pihak Minahasa ditandatangani oleh Maondi
(Mandey), Capitaine Pacat (Paat), Soepit (Supit), dan Pedro Rantij
(Ranti).

Disebut Perang Tondano, oleh karena Walak Tondano dalam


menghadapi kehadiran kaum kolonial Belanda, cenderung
menunjukkan sikap antipati maupun ketidakpatuhan atas eksistensi
kompani Belanda, maka konsekuensinya kawasan pemukiman Walak
Tondano tepatnya di Minawanua dijadikan sasaran penyerbuan
pasukan Belanda dan antek-anteknya. Bagi kompani Belanda kawasan
Minawanua yang disebut oleh Boven Tondano (tempat tinggal orang
Tondano), merupakan kawasan yang dijadikan tempat berkumpul para
ekstrimis (Pangalila).

Dalam suasana Gubernur Prediger untuk meyerang pertahanan


orang-orang Minahasa di Tondano, Minawanua, dengan cara
membendung Sungai Temberan dan membentuk dua pasukan
tangguh. Tanggal 23 Oktober 1808 Belanda berhasil menyerang orangorang Minahasa. Tanggal 24 Oktober 1808 Belanda menguasai Tondano dan
mengendorkan serangan tetapi kemudian orang-orang Tondano muncul
dengan melakukan serangan.

Perang Tondano 2 berlasung lama sampai Agusttus 1809. dalam


suasana kepenatan banyak kelompok pejuang kemudian memihak Belanda.
Namun dengan kekuatan yang ada para pejuanga Tondano terus
memberikan perlawanan. Akhirnya tanggal 4-5 Agustus 1809 benteng
pertahanan Moraya hancur bersama para pejuang. Mereka memilih
mati daripada menyerah.