Anda di halaman 1dari 16

Exclusive Breastfeeding Rate

And Factors Associated


With Infant Feeding Practices In
Indonesia

Nublah Permata Lestari (2012730145)


Tutor: dr. H. Hasan Basri, Sp. A

Latar belakang ASI adalah makanan ideal untuk bayi. Menurut Survei
Kesehatan Rumah Tangga Nasional Indonesia 2007, hanya 23% dari ibu
memberikan ASI eksklusif selama enam bulan.
Tujuan Untuk menentukan tingkat pemberian ASI eksklusif di Indonesia, dan
mengevaluasi faktor yang terkait dengan praktik pemberian makan bayi, dan
untuk membandingkan status gizi dan perkembangan antara bayi yang
mendapat ASI eksklusif dengan bayi yang mendapat susu formula di
Indonesia.
Metode Survei ini dilakukan di rumah sakit yang terletak di 17 provinsi di
Indonesia. Berbagai variabel diteliti sebagai prediktor potensi ASI eksklusif
menggunakan analisis regresi logistik multivariabel. Analisis lebih lanjut
dilakukan untuk membandingkan status gizi dan perkembangan antara bayi
dengan ASI eksklusif dan susu formula pada saat survei.
Hasil Dari 1.804 subyek bayi, Presentase total pemberian ASI eksklusif
adalah 46,3% mulai dari 10,5% di Jawa Timur, untuk 66,9% di Jambi.
Dominan menyusui, makanan pendamping ASI, dan tingkat pemberian susu
formula yang presentasenya masing-masing 14,3%, 8,6%, dan 30,7%. IRT
dikaitkan dengan durasi menyusui yang lebih lama (P = 0,000). Secara
signifikan ada lebih dari bayi yang mendapat susu formula yang kekurangan
gizi dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan ASI eksklusif (14% vs 8%,
P = 0,001). Secara signifikan ada juga lebih dari bayi di kelompok susu
formula yang memiliki lingkar kepala abnormal dibandingkan dengan bayi
dalam kelompok ASI eksklusif (9% vs 6%, P = 0,031). Perkembangan anak
Kesimpulan Tingkat keseluruhan ASI eksklusif di Indonesia adalah 46,3%.
dinilai berdasarkan KPSP sama antara kedua kelompok (P = 0.996)..
Ibu pengangguran dikaitkan dengan durasi menyusui yang lebih lama. Bayi
yang disusui secara eksklusif memiliki pertumbuhan dan lingkar kepala yang
lebih baik dan signifikan dibandingkan dengan bayi susu formula, sementara
perkembangannya adalah sama di antara kedua kelompok tersebut.

AB

Latar Belakang
ASI adalah makanan yang ideal untuk bayi karena mengandung
berbagai nutrisi lengkap yang dibutuhkan untuk pertumbuhan
dan perkembangan yang optimal. ASI eksklusif dianjurkan pada
enam bulan pertama kehidupan.
Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional Indonesia
tahun 2007, praktek pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 1-3
bulan adalah 61,7%, namun turun menjadi 23% pada usia enam
bulan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi praktek enam bulan ASI
eksklusif yaitu pengetahuan ibu tentang ASI, dukungan keluarga,
dan penyedia layanan kesehatan yang mendidik ibu menyusui.

Latar Belakang
Indonesian Pediatrics Society melakukan survei untuk
mengevaluasi praktik pemberian ASI di Indonesia. Hal
ini bertujuan untuk:
1.menentukan tingkat pemberian ASI eksklusif
2.mengevaluasi faktor yang terkait dengan praktik
pemberian makan bayi
3.dan untuk membandingkan status gizi dan
perkembangan antara bayi yang mendapat ASI
eksklusif dengan bayi yang mendapat susu formula di
Indonesia.

Metode
Populasi: Perempuan yang tinggal di 17 provinsi terpilih. Terdiri dari
ibu-ibu dengan bayi berusia 0-11 bulan yang melahirkan di rumah
sakit swasta, rumah sakit umum, atau dengan bantuan bidan.
Kriteria eksklusi:
1.Bayi yang diadopsi
2.Sakit berat (dirawat di unit perawatan intensif)
3.Bayi yang memiliki indikasi medis untuk menerima pengganti ASI,
seperti ibu terinfeksi HIV, penyalahgunaan narkoba, kemoterapi, ibu
pengkonsumsi obat antikonvulsan (phelbamate atau topiramate),
atau ibu yang mendapat radioterapi
4.Serta bayi dengan galaktosemia atau fenilketonuria.

Metode
Definisi Operasional

Metode
Status gizi ditentukan berdasarkan grafik WHO weight for length (z-skor),
dengan klasifikasinya:
1.Overweight: di atas +2 SD kurva pertumbuhan,
2.Gizi baik (Well-Nourished): antara -2 SD dan +2 SD kurva
Untuk analisis univariat, perbedaan proporsi pemberian ASI
pertumbuhan,
eksklusif
dinilai diantara tingkat
yang
berbeda
dari masing3.Gizi kurang
(Under-Nourished):
di bawah
-2 SD
kurva pertumbuhan.
masing faktor
dengan menggunakan bobot normal. Chidan odd
rasio (OR)
menggunakan
confidence
Lingkar square-test
kepala juga
ditentukan
berdasarkan
grafik
WHO head
interval
95%
(95%
CI)
dilakukan
untuk
variabel
kategori.
Juga
circumference for age, dengan klasifikasinya:
dilakukan analisis regresi logistik multivariabel untuk menilai
1.Normal (dalam kurva),
faktor kemungkinan yang berhubungan dengqn pemberian ASI
2.Abnormal (di bawah atau di atas kurva).
eksklusif yang mana faktor potensial sebagai variabel
independen dan ASI eksklusif sebagai variabel dependen.
Status perkembangan dinilai berdasarkan Kuesioner Pra Skrining
Analisis lebih lanjut dilakukan untuk membandingkan status
Perkembangan
(KPSP), dengan klasifikasinya:
gizi dan perkembangan pada saat survei antara bayi yang
1.Normal
yaitu dapat
melakukan
9-10yang
aktivitas
menurut
mendapat
ASI eksklusif
dan bayi
mendapat
susukelompok
formula. usia

nya;
2.Belum dapat ditentukan (Undetermined) yaitu dapat melakukan 7-8
kegiatan menurut kelompok usia nya;
3.Abnormal yaitu hanya dapat melakukan kurang atau sama dengan 6

Hasil

Hasil
Dari 1390 total subjek yang mendapat
asi ekslusif dan susu formula , hanya
1275 subjek yang memiliki data status
gizi dan lingkar kepala

Hasil

Analisis univariat mengungkapkan tidak ada hubungan antara praktek enam


bulan ASI eksklusif pada anak tunggal atau kembar (P = 0.397), usia kehamilan
(P = 0.089), cara persalinan (P = 0.131), tempat kelahiran (P = 0,105), atau
pekerjaan ayah (P = 0.410). Namun, hubungan yang signifikan terjadi antara
praktek ASI eksklusif enam bulan dengan urutan kelahiran anak (P = 0,004),
usia ibu (P = 0,01), pendidikan ibu (P = 0,004), pendidikan ayah (P = 0005),
pekerjaan ibu (P = 0,001), dan status sosial ekonomi keluarga (p = 0,013).
Analisis multivariabel menggunakan regresi logistik mengungkapkan hubungan
yang signifikan hanya antara praktek pemberian ASI eksklusif dengan Ibu
Rumah Tangga (IRT) (P = 0,000). Ibu Rumah Tangga (IRT) lebih terlibat dalam ASI
eksklusif daripada ibu pekerja paruh waktu (2,4 kali; P = 0,012), dan ibu pekerja
penuh-waktu (2,4 kali; P = 0,000). Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan
antara Ibu Rumah Tangga (IRT) dengan ibu pengusaha, karena perbandingan
pemberian ASI eksklusif hanya 1,2 kali lebih sering pada Ibu Rumah Tangga (IRT)
(P = 0.564).

Analisis
Univariat

Pembahasan
WHO merekomendasikan bahwa ASI eksklusif
diberikan sampai bayi berusia enam bulan, karena
kebutuhan gizi bayi dapat dipenuhi oleh ASI saja.
Dalam penelitian ini, secara signifikan bayi yang
mendapat susu formula lebih kekurangan gizi
dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASIeksklusif.

Pembahasan

Kami
secarabesar-besaran
signifikan bayiyang
di kelompok
Dalam
uji menemukan
coba acak secara
dilakukan
susuetformula
memiliki bahwa
lingkar kepala
lebih
abnormal
Kramer
al, ditemukan
menyusui
meningkatkan
dibandingkan
kelompok
ASI
eksklusif (P
= 0,031).
perkembangan
kognitif
anak.
Sedangkan
dalam
penelitian
sebelumnya juga
menemukan
bahwa
bayiASI
ini, Penelitian
status perkembangan
antara
bayi yg
diberi
yang dan
mendapatkan
eksklusif
memilikiadalah
kepala sama.
yang
eksklusif
bayi yangASI
diberi
susu formula
besar
berdasarkan
circumference
age
Hasillebih
dari
penelitian
ini head
mungkin
berbedafor karena
dibandingkan
yang
mendapatkan
susu
penggunaan
alat mereka
uji yang
berbeda
untuk mengevaluasi
formula atau makanan
sementara
perkembangan,
dimana campuran,
kami hanya
menggunakan
penelitian
lain menemukan
bahwa (KPSP).
lingkar kepala
Kuesioner
Pra-Skrining
Perkembangan
tidak berbeda dengan modus makan.

Pembahasan

Tingkat keseluruhan ASI eksklusif di Indonesia


ditemukan sebesar 46,3%. Ibu Rumah Tangga
(IRT) dihubungkan dengan durasi menyusui
yang lebih lama. Secara signifikan bayi yang
mendapat susu formula lebih kekurangan gizi
dan memiliki lingkar kepala abnormal
dibandingkan mereka yang mendapatkan ASI
eksklusif. Namun, perkembangan anak sama
antara kedua kelompok.