Anda di halaman 1dari 23

TUGAS HUKUM LINGKUNGAN

ANALISIS MENGENAI DAMPAK


LINGKUNGAN

Oleh :

HANDRI MAIKA SAPUTRA


15168004

PROGRAM MAGISTER ILMU LINGKUNGAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2016

1
Analisis Dampak Lingkungan

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis kirimkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
karunianya penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk bisa bermanfaat dan
menjadikan referensi bagi kita di lingkungan masyarakat dan untuk pemenuhan tugas mata
kuliah.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah dan pihak-pihak yang
membantu proses penulisan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.

Padang, Mei 2016

Penulis

3
Analisis Dampak Lingkungan

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................................................... i


Daftar Isi ............................................................................................................................. ii
Bab I PENDAHULUAN .................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................................................. 1
1.2 Tujuan ........................................................................................................................... 2
Bab II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................... 3
2.1 Pengertian Amdal ......................................................................................................... 3
2.2 Fungsi, Peran, dan Manfaat Amdal .............................................................................. 5
2.2.1 Fungsi dan Peran Amdal ....................................................................................... 5
2.2.2 Manfaat Amdal ...................................................................................................... 6
2.3 Tahap Penyusunan Amdal ............................................................................................. 8
2.4 Alasan Suatu Rencana Kegiatan Wajib Amdal ............................................................. 9

Bab III ................................................................................................................................. 13


3.1 Fungsi Amdal ................................................................................................................ 13
3.2 Prinsip-prinsip Amdal ................................................................................................... 13
3.3 Dokumen Kajian Amdal ............................................................................................... 13
3.4 Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup .................................................... 13
3.5 Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup .................................................... 14
3.6 Dokumen Ringkasan Eksekutif .................................................................................... 14
3.7 Kegiatan yang perlu dilengkapi Amdal ........................................................................ 14
3.8 Prosedur Amdal ............................................................................................................ 15

Bab IV Penutup ................................................................................................................... 18


4.1 Kesimpulan .................................................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

4
Analisis Dampak Lingkungan

1.1 Latar Belakang


Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan bertujuan untuk
mendukung distribusi lalu lintas barang maupun manusia dan
membentuk struktur ruang wilayah (Renstra Kementerian PU 20102014,2010), sehingga pembangunan infrastruktur memiliki 2 (dua) sisi
yaitu : tujuan pembangunan dan dampak pembangunan. Setiap
kegiatan pembangunan yang dilaksanakan pasti menimbulkan dampak
terhadap lingkungan baik dampak positif maupun dampak negatif, yang
perlu diperhatikan adalah bagaimana melaksanakan pembangunan
untuk mendapatkan hasil dan manfaat yang maksimum dengan
dampak negatif terhadap lingkungan yang minimum.
Para pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat dalam
kegiatan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, yang terdiri
dari pemerintah sebagai pemilik (owner) sekaligus pembuat kebijakan
(policy maker), pengusaha/kontraktor sebagai penyedia jasa dan
lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang peduli terhadap infrastruktur
jalan dan jembatan, haruslah bersama-sama melaksanakan dan
mengawasi kegiatan pembangunan sehingga infrastruktur jalan dan
jembatan yang dibangun tersebut tidak hanya berfungsi sebagaimana
mestinya tapi juga berwawasan lingkungan sehingga produk
infrastruktur
yang
dihasilkan
ramah
terhadap
lingkungan.
Pemerintah telah banyak mengeluarkan peraturan dan pedoman yang
mengatur masalah pembangunan jalan dan jembatan yang
berwawasan lingkungan, Dalam implementasi di lapangan peraturan
dan pedoman tersebut telah dimasukkan dalam pasal syarat-syarat
kontrak,
sehingga
kontraktor
sebagai
penyedia
jasa
wajib
melaksanakan pasal pasal tersebut.
Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dengan jelas menyebutkan
bahwa sumber daya alam dan budaya merupakan modal dasar
pembangunan. Sebagai arahan pembangunan jangka panjang, GBHN
menyebutkan bahwa : Bangsa Indonesia menghendaki hubungan
selaras antara manusia dengan Tuhan, dan antara manusia dengan
lingkungan alam sekitarnya. Dengan demikian perlu adanya usaha
agar hubungan manusia Indonesia dengan lingkungan semakin serasi.
Sebagai modal dasar, sumberdaya alam harus dimanfaatkan sebaikbaiknya, oleh karena itu harus selalu diupayakan agar kerusakan
lingkungan sekecil mungkin. Hal ini dapat terjadi apabila analisis
mengenai dampak lingkungan diterapkan pada setiap kegiatan yang
diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan.
5
Analisis Dampak Lingkungan

Perhatian terhadap masalah lingkungan hidup di Indonesia diawali


oleh
seminar
tentang
Pengelolaan
Lingkungan
Hidup
dan
Pembangunan Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas
Padjajaran di Bandung pada tahun 1972. Para Sarjana dan ahli
Indonesia sudah lama mengikuti perkembangan masalah lingkungan,
namun Pemerintah Indonesia baru mengenal masalah lingkungan
secara resmi sejak mengikuti sidang khusus PBB tentang lingkungan
hidup di Stockholm 5 Juni 1972.
1.2 Masalah
Adapun masalah yang dibahas pada makalah ini adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

Pengertian AMDAL
Sistem Regulasi AMDAL
Fungsi, Peran Dan Manfaat AMDAL
Tahap - Tahap Penyusunan AMDAL
Alasan Suatu Rencana Kegiatan Wajib AMDAL

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui bagian-bagian kajian AMDAL
2. Untuk mengetahui permasalahan AMDAL pada pelaksanaan Proyek
Pembangunan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
6
Analisis Dampak Lingkungan

2.1

Pengertian Amdal
Pada

umumnya

setiap

negara

yang

sedang

membangun

memiliki sistem perencanaan pembangunan sendiri-sendiri. Sistem


perencanaan pembangunan ini disusun secara sistematis untuk
mencapai tujuan pembangunan yang telah ditetapkan. Di indonesia
pembangunan nasional disusun atas dasar pembangunan jangka
pendek dan jangka panjang. Keduanya dilaksanakan secara sambung
menyambung untuk dapat menciptakan kondisi sosial ekonomi yang
lebih

baik.

Kegiatan

pembangunan

ini

dilaksanakan

dengan

menggunkan apa yang disebut proyek.


Seringkali proyek dibuat dalam porsi ruang lingkup yang sangat
luas tetapi disusun kurang cermat. Seluruh program mungkin saja
dapat diananlisis sebagai suatu proyek, tetapi pada umumnya akan
lebih baik bila proyek dibuat dalam ruang lingkup yang lebih kecil yang
layak ditinjau dari segi sosial, administrasi, teknis, ekonomis, dan
lingkungan.
Pembangunan dengan proyek yang dikaji dari aspek kelayakan
lingkungan

bisa

disebut

pembangunan

berwawasan

lingkungan.

Pembangunan berwawasan lingkungan pada hakekatnya dilaksanakan


untuk

mewujudkan

pembangunan

berlanjut

(sustainable

development). Instrumen untuk mencapai pembangunan berlanjut


adalah

Analisis

Mengenai

Dampak

Lingkungan).

Menurut PP 29/1986, yang kemudian disempurnakan dengan PP


27/1999,

yang

semula

hanya

memiliki

satu

model

AMDAL,

berkembang dan mempunyai beberapa bentuk AMDAL dan mempunya


pengertian:
7
Analisis Dampak Lingkungan

1. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah kajian


mengenai dampak besar dan penting suatu usaha/kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha/kegiatan.
Kajian ini menghasilkan dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak
Lingkungan, Analisis Dampak Lingkungan, Rencana Pengelolaan
Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan. Sementara itu
pengertian ANDAL adalah sebagai berikut.
2. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) adalah telaahan secara
cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu
kegiatan
yang
direncanakan.
Dalam PP 51/1993, dikenal ada beberapa model AMDAL yaitu
AMDAL Proyek Individual (seperti PP 29/1986), AMDAL Kegiatan
Terpadu, AMDAL Kawasan, dan AMDAL Regional. Pengertian ketiga
AMDAL menurut PP 51/1993 tersebut adalah:
1. Analisis mengenai dampak lingkungan kegiatan terpadu/multisektor
adalah hasil studi mengenai dampak penting usaha atau kegiatan
yang terpadu yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam
satu kesatuan hamparan ekosistem dan melibatkan kewenangan
lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. Di dalam PP
27/1999 definisi di atas kata hasil studi diganti kajian dan dampak
penting menjadi dampak besar dan penting.
2. Analisis mengenai dampak lingkungan kawasan adalah hasil studi
mengenai dampak penting usaha atau kegiatan yang direncanakan
terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan ha,paran ekosistem
dan menyangkut kwenangan satu instansi yang bertanggung jawab.
Di dalam PP 27/1999 definisi di atas kata hasil studi diganti kajian
dan dampak penting diganti dampak besar dan penting.
3. Analisis mengenai dampak lingkungan regional adalah hasil studi
mengenai dampak penting usaha atau kegiatan yang direncanakan
terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan
ekosistem zona rencana pengembangan wilayah sesuai dengan
rencana umum tata ruang daerah dan melibatkan kewenangan lebih
dari
satu
instansi
yang
bertanggung
jawab.
Pada PP 27/1999 pengertian AMDAL adalah merupakan hasil studi
mengenai dampak besar dan penting suatu kegiatan yang
direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi
proses pengambilan keputusan. Hasil studi ini terdiri dari beberapa
dokumen.
Atas
dasar
beberapa
dokumen
ini
kebijakan
dipertimbangkan dan diambil.
1. Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah:
- Komisi Penilai AMDAL, komisi yang bertugas menilai dokumen
AMDAL
8
Analisis Dampak Lingkungan

Pemrakarsa,
orang
atau
badan
hukum
yang
bertanggungjawab atas suatu rencana usaha dan/atau
kegiatan yang akan dilaksanakan, dan
- Masyarakat
yang
berkepentingan,
masyarakat
yang
terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses
AMDAL.
2. Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa hal yang harus
diperhatikan, yaitu:
- Penentuan kriteria wajib AMDAL, saat ini, Indonesia
menggunakan/menerapkan penapisan 1 langkah dengan
menggunakan daftar kegiatan wajib AMDAL (one step scoping
by pre request list). Daftar kegiatan wajib AMDAL dapat dilihat
di Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11
Tahun 2006
- Apabila kegiatan tidak tercantum dalam peraturan tersebut,
maka wajib menyusun UKL-UPL, sesuai dengan Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 86 Tahun 2002
- Penyusunan AMDAL menggunakan Pedoman Penyusunan
AMDAL sesuai dengan Permen LH NO. 08/2006
- Kewenangan Penilaian didasarkan oleh Permen LH no. 05/2008
2.2Fungsi, Peran Dan Manfaat Amdal
2.2.1 Fungsi dan Peran AMDAL
Pada waktu yang lampau, kebutuhan manusia akan sumber
alam belum begitu besar karena jumlah manusianya sendiri masih
relatif sedikit, di samping itu intensitas kegiatannya juga tidak
besar. Pada saat-saat itu perubahan-perubahan pada lingkungan
oleh aktifitas manusia masih dalam kemampuan alam untuk
memulihkan diri secara alami. Tetapi aktifitas manusia makin lama
makin besar sehingga menimbulkan perubahan lingkungan yang
besar pula. Pada

saat inilah manusia

perlu

berfikir apakah

perubahan yang terjadi pada lingkungan itu tidak akan merugikan


manusia. Manusia perlu memperkirakan apa yang akan terjadi
akibat adanya kegiatan oleh manusia itu sendiri.
AMDAL (Analisis Mengenai Danpak Lingkungan) merupakan
alat untuk merencanakan tindakan preventif terhadap kerusakan
9
Analisis Dampak Lingkungan

lingkungan yang mungkin akan ditimbulkan oleh suatu aktifitas


pembangunan yang direncanakan. Undang-undang No. 4 Tahun
1982 Pasal 1 menyatakan : Analisis mengenai dampak lingkungan
adalah

hasil

studi

mengenai

dampak

suatu

kegiatan

yang

direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi


proses pngambilan keputusan.
AMDAL harus dilakukan untuk proyek yang diperkirakan akan
menimbulkan

dampak

penting,

karena

ini

memang

yang

dikehendaki baik oleh Peraturan Pemerintah maupun oleh Undangundang, dengan tujuan agar kualitas lingkungan tidak rusak karena
adanya proyek-proyek pembangunan. Oleh karena itu pemilik
proyek atau pemrakarsa akan melanggar perundangan bila tidak
menyusun AMDAL, semua perizinan akan sulit didapat dan di
samping itu pemilik proyek dapat dituntut dimuka pengadilan.
Keharusan membuat AMDAL merupakan cara yang efektif untuk
memaksa para pemilik proyek memperhatikan kualitas lingkungan,
tidak hanya memikirkan keuntungan proyek sebesar mungkin tanpa
memperhatikan dampak lingkungan yang timbul.
Dampak dari suatu kegiatan, baik dampak negatif maupun
dampak positif harus sudah diperkirakan sebelum kegiatan itu
dimulai. Dengan adanya AMDAL, pengambil keputusan akan lebih
luas wawasannya di dalam melaksanakan tugasnya. Karena di
dalam suatu rencana kegiatan, banyak sekali hal-hal yang akan
dikerjakan, maka AMDAL harus dapat membatasi diri, hanya
mempelajari

hal-hal

yang

penting

bagi

proses

pengambilan

keputusan.
10
Analisis Dampak Lingkungan

AMDAL ini sangat penting bagi negara berkembang khususnya


Indonesia,

karena

Indonesia

pembangunan, dan untuk

sedang

giat

melakasanakan

melaksanakan pembangunan

maka

lingkungan hidup banyak berubah, dengan adanya AMDAL maka


perubahan tersebut dapat diperkirakan. Dampak kegiatan terhadap
lingkungan hidup dapat berupa dampak positif maupun dampak
negatif, hampir tidak mungkin bahwa dalam suatu kegiatan /
pembangunan tidak ada dampak negatifnya. Dampak negatif yang
kemungkinan timbul harus sudah diketahui sebelumnya (dengan
MDAL), di samping itu AMDAL juga membahas cara-cara untuk
menanggulangi / mengurangi dampak negatif.
Agar supaya jumlah masyarakat yang dapat ikut merasakan
hasil

pembangunan

meningkat,

maka

dampak

positif

perlu

dikembangkan di dalam AMDAL. Nurkin, (2002) mengemukakan


bahwa penerapan AMDAL di negara-negara berkembang ditujukan
untuk :
a. Untuk mengidentifikasi kerusakan lingkungan yang mungkin
dapat terjadi akibat kegiatan pembangunan
b. Mengidentifikasi
kerugian
dan
keuntungan
terhadap
lingkungan alam dan ekonomi yang dapat dialami oleh
masyarakat akibat kegiatan pembangunan
c. Mengidentifikasi masalah lingkungan yang kritis yang
memerlukan kajian lebih dalam dan pemantauannya.
d. Mengkaji dan mencari pilihan alternatif yang baik dari
berbagai pilihan pembangunan.
e. Mewujudkan
keterlibatan
masyarakat
dalam
proses
pengambilan keputusan berkaitan dengan pengelolaan
lingkungan
f. Memabantu pihak-pihak terkait yang terlibat dalam
pembangunan dan pihak pengelola lingkungan untuk
memahami tanggung jawab, dan keterkaitannya satu sama
lain.
2.2.2 Manfaat AMDAL
11
Analisis Dampak Lingkungan

A. Bagi masyarakat
Masyarakat dapat mengetahui rencana pembangunan di
daerahnya, sehingga dapat mempersiapkan diri di dalam penyesuaian
kehidupannya apabila diperlukan:
-

Masyarakat dapat mengetahui perubahan lingkungan di masa


sesudah proyek dibangun sehingga dapat memanfaatkan
kesempatan
yang
dapat
menguntungkan
dirinya
dan
menghindarkan diri dari kerugian-kerugian yang dapat diderita
akibat adanya proyek tersebut
Masyarakat dapat ikut berpartisipasi di dalam pembangunan di
daerahnya sejak dari awal, khususnya di dalam memberikan
informasi-informasi ataupun ikut langsung di dalam membangun
dan menjalankan proyek
Masyarakat dapat memahami hal-ihwal mengenai proyek secara
jelas sehingga kesalahfahaman dapat dihindarkai dan kerja sama
yang menguntungkan dapat digalang
Masyarakat dapat mengetahui hak den kewajibannya di dalam
hubungannya dengan proyek tersebut khususnya hak dan kewajiban
di dalam ikut dan mengelola lingkungan.

B. Bagi pemilik proyek


Proyek terhindar dari perlanggaran terhadap undang-undang atau
peraturan yang berlaku
-

Proyek terhindar dari tuduhan pelanggaran pencemaran atau


perusakan lingkungan
Pemilik proyek dapat melihat masalah-masalah lingkungan yang
akan dihadapi di masa yang akan datang
Pemilik proyek dapat mempersiapkan cara-cara pemecahan
masalah di masa yang akan datang
Analisis dampak lingkungan merupakan sumber informasi
lingkungan di sekitar lokasi proyeknya secara kuantitatif, termasuk
informasi sosial ekonomi dan sosial budaya
Analisis dampak lingkungan merupakan bahan penguji secara
komprehensif dari perencanaan proyeknya, sehingga dapat
diketahui kelemahan-kelemahannya untuk segera dapat dilakukan
penyempurnaannya
Dengan adanya analisis dampak lingkungan, pemilik proyek dapat
mengetahui keadaan lingkungan yang membahayakan (misalnya
banjir, tanah longsor, gempa bumi dan lain-lain) sehingga dapat
dicari keadaan lingkungan yang aman bagi proyek.

C. Bagi pemerintah
12
Analisis Dampak Lingkungan

Untuk mencegah agar potensi sumberdaya alam yang dikelola


tersebur tidak rusak (khusus untuk sumberdaya alam yang dapat
diperbaharui)
Untuk mencegah rusaknya sumberdaya alam lainnya yang berada di
luar lokasi proyek baik yang dioleh olrh proyek lain, diolah
masyarakat atau yang belum diolah
Untuk menghindari perusakan lingkungan hidup seperti timbulnya
pencemaran air, pencemaran udara, kebisingan dan lain
sebagainya, sehingga tidak mengganggu kesehatan, kenyamanan
dan keselamatan masyarakat
Untuk menghindari terjadinya pertentangan-pertentangan yang
mungkin timbul khususnya dengan masyarakat dan proyek-proyek
lainnya
Untuk menjamin agar proyek yang dibangun sesuai dengan rencana
pembangunan daerah, nasional ataupun internasional serta tidak
mengganggu proyek lain
Untuk menjamin agar proyek tersebut mempunyai manfaat yang
jelas bagi negara dan masyarakat
Analisis dampak lingkungan diperlukan bagi pemerintah sebagai
alat pengambil keputusan.

2.3

Tahapan Penyusunan Amdal


Prosedur pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Tata
laksana
menurut
PP
29
Tahun
1986
Menurut Hardjasoemantri (1988), garis besar prosedur AMDAL
sebagaimana tercantum pada PP No. 29/1986 Mengenai Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan adalah sebagai berikut ini.
-

Pemrakarsa rencana kegiatan mengajukan Penyajian Informasi


Lingkungan (PIL) kepada instansi yang bertanggung jawab. PIL
tersebut dibuatkan berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh
Menteri yang ditugaskan mengelola lingkungan hidup. Dalam
uraian dibawah ini, yang dimaksud degan menteri KLH adalah
Menteri yang di tugasi mengelola lingkungan hidup instansi yang
bertanggung jawab adalah yang berwenang memberi keputusan
tentnag pelaksanaan rencana kegiatan, dengan pengertian bahwa
kewenangan berada pad menteri atau Pimpinan Lembaga
Pemerintah Nondepartemen yang membidangi kegiatan yang
bersangkutan dan pada Gubernur Daerah Tingkat I untuk kegiatan
yang berada di bawah wewenangnya
Apabila lokasi sebagaimana tercantum dalam PIL dinilai tidak
tepat, maka instansi yang bertanggung jawab menolak lokasi
tersebut dan memberikan petunjuk tentang kemungkinan lokasi
lain dengan kewajiban bagi pemrakarsa untuk membuat PIL yang
13

Analisis Dampak Lingkungan

baru. Apabila suatu lokasi dapat menimbulkan perbenturan


kepentingan antar sektor maka instansi yang bertanggung jawab
mengadakan konsultasi dengan menteri KLH dan Menteri atau
Pimpinan
Lembaga
Pemerintah
Nondepartemen
yang
bersangkutan.
Apabila hasil penelitian PIL menentukan bahwa perlu dibuatkan
AMDAL, berhubung dengan adanya dampak penting rencana
kegiatan terhadap lingkungan, baik lingkungan geobiofisik maupun
sosial budaya, maka pemrakarsa bersama instansi yang
bertanggung jawab membuat Kerangka Acuan (KA) bagi
penyusunan AMDAL.
Apabila AMDAL tidak perlu dibuat untuk suatu rencana kegiatan,
berhubung tidak ada dampak penting, maka pemrakarsa
diwajibkan untuk membuat Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)
dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi kegiatan
tersebut. Huruf K dalam RKL adalah Kelola dan huruf P dalam RPL
dari Pantau.
Apabila dari semula sudah diketahui bahwa akan ada dampak
penting, maka tidak perlu dibuat PIL lebih dahulu akan tetapi dapat
langsung menyusun KA bagi pembuat AMDAL.
AMDAL merupakan komponen studi kelayakan rencana kegiatan
sehingga dengan demikian terdapat tiga studi kelayakan dalam
perencanaan pembangunan, yaitu: teknis, ekonomis dan
lingkungan (TEL). biaya rencana kegiatan sebagaimana tercantum
dalam studi kelayakan rencana kegiatan tersebut meliputi pula
biaya penanggulangan dampak negatif dan pengembangan
dampak positifnya.
Pedoman umum penyusunan AMDAL ditetapkan oleh Menteri KLH.
Pedoman teknis penyusunan AMDAL ditetapkan oleh Menteri atau
Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen yang membidangi
kegiatan yang bersangkutan berdasarkan pedoman umum
penyusunan AMDAL yang dibuat oleh Menteri KLH.
Apabila AMDAL menyimpulkan bahwa dampak negatif yang tidak
dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi lebih besar
dibanding dengan dampak positifnya, maka instansi yang
bertanggung jawab memutuskan menolak rencana kegiatan yang
bersangkutan. Terhadap penolakan ini, pemrakarsa dapat
mengajukan keberatan kepada pejabat yang lebih tinggi dari
instansi yang bertanggung jawab selambat-lambatnya 14 (empat
belas) hari. Sejak diterimanya keputusan penolakan. Pejabat yang
lebih tinggi tersebut memberi keputusan atas keberatan tersebut
selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya
pernyataan keberatan, setelah mendapat pertimbangan dari
menteri KLH. Keputusan tersebut merupakan keputusan terakhir.
14

Analisis Dampak Lingkungan

2.4

Apabila AMDAL disetujui, maka pemrakarsa menyusun RKL dan RPL


dengan menggunakan pedoman penyusunan RKL dan RPL yang
dibuat oleh Menteri KLH atau Departemen yang bertanggung
jawab.
Keputusan persetujuan AMDAL dinyatakan kadaluwarsa apabila
rencana kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima)
tahun sejak ditetapkannya keputusan tersebut. Pemrakarsa wajib
mengajukan kembali permohonan persetujuan atas AMDAL.
Terhadap permohonan ini instansi yang bertanggung jawab
memutuskan dapat digunakan kembali AMDAL, RKL dan RPL yang
telah dibuat atau wajib diperbaharuinya dokumen-dokumen
tersebut.
Keputusan persetujuan AMDAL dinyatakan gugur, apabila terjadi
perubahan lingkungan yang sangat mendasar akibat peristiwa
alam atau karena kegiatan lain, sebelum rencana kegiatan
dilaksanakan.
Pemrakarsa
perlu
membuat
AMDAL
baru
berdasarkan
rona
lingkungan
baru.

Alasan Suatu Rencana Kegiatan Wajib Amdal

Setiap rencana kegiatan yang mempunyai dampak besar dan penting,


wajib dibuat AMDAL Hal ini mengacu pada pasal 3 ayat 1 PP 27 tahun
1999 yaitu :
-

Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam


Eksploitasi SDA baik yang dapat diperbaharui/tidak dapat
diperbaharui
- Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan
pemborosan, kerusakan, pemerosotan dalam pemanfaatan SDA,
cagar budaya
- Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, hewan, jasad renik.
- Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati
- Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar
untuk mempengaruhi lingkungan
Kegiatan yang mempunyai tinggi dan mempengaruhi pertahanan
negara
Meskipun AMDAL secara resmi diperkenalkan ke Indonesia pada
tahun 1982, sebagian besar praktisi mengetahui asal muasal
sebenarnya untuk beranjak dari Peraturan No. 29/19869 yang
menciptakan berbagai elemen penting dari proses AMDAL10.
Sepanjang awal era 1990 didirikan suatu badan perlindungan
lingkungan pusat (BAPEDAL) terlepas dari Kementerian Negara
Lingkungan, dengan mandat meningkatkan pelaksanaan AMDAL dan
kendali atas polusi, didukung oleh tiga kantor daerah. Kajian dan
15
Analisis Dampak Lingkungan

persetujuan atas berbagai dokumen AMDAL pada saat ini ditangani


oleh Komisi Pusat atau Komisi Daerah, sesuai dengan skala proyek
dan sumber pendanaan. Lebih dari 4000 AMDAL dikaji sampai
dengan 1992 dimana menjadi lebih jelas bahwa berbagai elemen
dari proses tersebut terlalu kompleks dan terlalu banyak didasarkan
pada AMDAL gaya barat. Legislasi AMDAL yang baru yang
diberlakukan pada tahun 199311 yang memiliki efek pembenahan
atas prosedur penapisan, mempersingkat jangka waktu pengkajian,
dan memperkenalkan status format EMP yang distandardisasi
(UKL/UPL) untuk proyekdengan dampak yang lebih terbatas. Lebih
dari 6000 AMDAL nasional dan propinsi diproses berdasarkan
peraturan ini termasuk sejumlah kecil AMDAL daerah di bawah
suatu komisi pusat yang didirikan di dalam BAPEDAL.
Dengan diundangkannya Undang-undang Pengelolaan Lingkungan
yang baru (No. 23/1997) berbagai reformasi lanjutan atas regulasi
AMDAL menjadi perlu. Peraturan 27/199912 diperkenalkan dengan
simplifikasi lebih lanjut. Komisi sektoral dibubarkan dan
dikonsolidasikan ke dalam suatu komisi pusat tunggal, sementara
komisi propinsi diperkuat. Ketentuan yang lebih spesifik dan lengkap
atas keterlibatan publik juga diperkenalkan, sebagaimana halnya
juga dengan suatu rangkaian arahan teknis pendukung. Namun
demikian PP 27/1999 ternyata tidak tepat waktu, gagal untuk secara
memadai merefleksikan berbagai perubahan politis yang pada saat
itu lebih luas yang akhirnya mengarah kepada desentralisasi politik
dan
administratif.
AnalisisMengenai Dampak Lingkungan, yang sering di singkat
dengan AMDAL, lahir dengan di undangkannya undang-undang
tentang
lingkungan
hidup
di
Amerika
Serikat,
National
Environmental Policy Act (NEPA), pada tahun 1969. NEPA 1969 mulai
berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. Pasal 102 (2) (C) dalam
undang-undang ini menyatakan, semua usulan legislasi dan aktifitas
pemerintah federal yang besar di perkirakan akan mempunyai
dampak penting terhadap lingkungan diharuskan disertai laporan
Environmental Impact Assessment (Analisis Dampak Lingkungan)
tentang
usulan
tersebut.
NEPA 1969 merupakan suatu reaksi terhadap kerusakan lingkungan
oleh aktifitas manusia yang makin meningkat, antara lain
tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah industri dan
transpor, rusaknya habitat tumbuhan dan hewan langka, serta
menurunnya nilai estetika alam. Misalnya, sejak permulaan tahun
1950-an Los Angeles di negara bagian Kalifornia, Amerika Serikat,
telah terganggu oleh asap-kabut atau asbut (smog = smoke + fog),
yang menyelubungi kota, mengganggu kesehatan dan merusak
16
Analisis Dampak Lingkungan

tanaman. Asbut berasal dari gas limbah kendaraan dan pabrik yang
mengalami fotooksidasi dan terdiri atas ozon, peroksiasetil nitrat
(PAN), nitrogenoksida, dan zat lain lagi. AMDAL (Analisa Mengenai
Dampak Lingkungan) adalah instrumen yang sifatnya formal dan
wajib (control and command) yang merupakan kajian bagi
pembangunan proyek-proyek kegiatan-kegiatan pasal 17a yang
kemungkinan akan menimbulkan dampak besar dari penting
terhadap lingkungan hidup. Dalam PP No.27 Tahun 1999 dinyatakan
bahwa dampak besar dan penting adalah perubahan lingkungan
hidup yang sangat mendasar yang di akibatkan oleh suatu usaha
dan atau kegiatan. Selanjutnya pada pasal 5 PP tersebut dinyatakan
bahwa kriteria dari dampak besar dan penting dari suatu usaha atau
kegiatan terhadap lingkungan antara lain:
Jumlah manusia yang akan terkena dampak
Luas wilayah persebaran dampak
Intensitas dan lamanya dampak berlangsung
Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena
dampak
Sifat kumulatif dampak
Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (ireversible)
Dasar hukum dan prosedur pelaksanaan AMDAL diatur dalam
PP No.27 tahun 1999 beserta beberapa KEPMEN yang terkait
dan dikeluarkan oleh Kementrian Negara Lingkungan Hidup.
AMDAL dibuat sebelum kegiatan berjalan atau operasi proyek
dilakukan. Karena itu AMDAL merupakan salah satu persyaratan
keluarnya perizinan.

BAB III
3. 1 Fungsi AMDAL antara lain :
1. Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah
2. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan
hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan
3. Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana usaha
dan/atau kegiatan
4. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup
5. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari
suatu rencana usaha dan atau kegiatan
6. Awal dari rekomendasi tentang izin usaha
7. Sebagai Scientific Document dan Legal Document
8. Izin Kelayakan Lingkungan
17
Analisis Dampak Lingkungan

3.2 Prinsip-Prinsip AMDAL :


1. AMDAL bagian integral dari Studi Kelayakan Kegiatan Pembangunan
2. AMDAL menjaga keserasian hubungan antara berbagai kegiatan agar
dampak dapat diperkirakan sejak awal perencanaan
3. AMDAL berfokus pada analisis: Potensi masalah, Potensi konflik, Kendala
sumber daya alam, Pengaruh kegiatan sekitar terhadap proyek
4. Dengan AMDAL, pemrakarsa dapat menjamin bahwa proyeknya bermanfaat
bagi masyarakat & aman terhadap lingkungan
3.3 Dokumen Kajian AMDAL yaitu :
1. Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KAANDAL).
KA-ANDAL adalah suatu dokumen yang berisi tentang ruang lingkup serta
kedalaman kajian ANDAL.
2. Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL).
Dampak-dampak penting yang telah diidentifikasi di dalam dokumen
KAANDAL kemudian ditelaah secara lebih cermat dengan menggunakan
metodologi yang telah disepakati. Telaah ini bertujuan untuk menentukan
besaran dampak.
3.4 Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL).
Mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan hidup yang
bersifat negatif serta memaksimalkan dampak positif yang terjadi akibat rencana
suatu kegiatan.
3.5 Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).
RPL adalah dokumen yang memuat program-program pemantauan untuk
melihat perubahan lingkungan yang disebabkan oleh dampak-dampak yang
berasal dari rencana kegiatan
3.6 Dokumen Ringkasan Eksekutif
Ringkasan Eksekutif adalah dokumen yang meringkas secara singkat dan jelas
hasil kajian ANDAL.
Berdasarkan pasal 16 Undang-undang Republik Indonesia nomor 4 tahun
1982 tentang ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup yang meneybutkan
bahwa setiap rencana yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap
lingkungan, wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan atau
disingkat AMDAL yang pelaksanaannya diatur dengan peraturan pemerintah.
Yang dimaksud dampak penting adalah perubahan yang sangat mendasar yang
diakibatkan oleh adanya suatu kegiatan.
18
Analisis Dampak Lingkungan

3.7 Kegiatan apa saja yang perlu dilengkapi dengan AMDAL, tertuang dalam
peraturan pemerintah nomor 29 tahun 1986 yaitu setiap rencana berupa:
Perubahan bentuk lahan dan bentuk alam, seperti: pembuatan jalan,
bendungan, jalan kereta api dan pembuakaan hutan;
Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tidak
terbaharui, seperti; pertambangan dan eksploitasi hutan;
Proses dan kegiatan lain yang secara potential dapat menimbulkan
pemborosan, perusakan dan kemerosotan pemanfaatan sumber daya alam dan
energi, seperti, pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan konservasi dan
penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat
mengefisienkan pemakainya.
Proses dan hasilnya yang mengancam kesejahteraan penduduk, pelestarian
kawasan konservasi alam dan cagar budaya, seperti kegiatan yang proses dan
hasilnyamenimbulkan pencemaran, penggunaan energi nuklir dan sebagainya;
Introduksi jenis tumbuhan dan jenis hewan, seperti introduksi jenis tumbuhan
dan jenis hewan, seperti; introduksi suatu jenis tumbuhan baru yang dapat
menimbulkan jenis penyakit baru pada tanaman; introduksi suatu jenis hewan
baru yang dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada;
Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati;
Penerapan teknologi yang
mempengaruhi lingkungan;

diperkirakan

mempunyai

potensi

besar

19
Analisis Dampak Lingkungan

3.8 Prosedur AMDAL terdiri dari:


1. Proses penapisan (screening) wajib AMDAL
Proses penapisan atau disebut proses seleksi wajib AMDAL adalah
proses untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan wajib menyusun
AMDAL atau tidak. Di Indonesia, proses penapisan dilakukan dengan sistem
penapisan satu langkah. Ketentuan apakah suatu rencana kegiatan perlu
menyusun dokumen AMDAL atau tidak dapat dilihat pada Keputusan Menteri
Negara LH Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau
Kegiatan yang Wajib dilengkapi dengan AMDAL.
2. Proses pengumuman
Pengumuman dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab dan
pemrakarsa kegiatan. Tata cara dan bentuk pengumuman serta tata cara
penyampaian saran, pendapat dan tanggapan diatur dalam Keputusan
Kepala BAPEDAL Nomor 08/2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan
Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL.
3. Proses pelingkupan (scoping)
Pelingkupan merupakan suatu proses awal (dini) untuk menentukan
lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak penting (hipotetis) yang
20
Analisis Dampak Lingkungan

terkait dengan rencana kegiatan. Hasil akhir dari proses pelingkupan adalah
dokumen KA-ANDAL. Saran dan masukan masyarakat harus menjadi bahan
pertimbangan dalam proses pelingkupan.
4. Penyusunan dan penilaian KA-ANDAL
Setelah KA-ANDAL selesai disusun, lalu dapat mengajukan dokumen
kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama
waktu maksimal penilaian KA-ANDAL adalah 75 hari di luar waktu yang
dibutuhkan penyusun untuk memperbaiki ataumenyempurnakan kembali
dokumennya.
5. Penyusunan dan penilaian ANDAL, RKL, dan RPL
Penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL dilakukan dengan mengacu pada
KA-ANDAL yang telah disepakati (hasil penilaian Komisi AMDAL). Setelah
selesai disusun, pemrakarsa dapat mengajukan dokumen kepada Komisi
Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal
penilaian ANDAL, RKL dan RPL adalah 75 hari di luar waktu yang dibutuhkan
penyusun untuk memperbaiki/menyempurnakan kembali dokumennya.
6. Persetujuan Kelayakan Lingkungan
Empat jenis studi AMDAL dalam PP 51 Tahun 1993, yaitu :
1. AMDAL Proyek, yaitu AMDAL yang berlaku bagi satu kegiatan yang berada
dalam kewenangan satu instansi sektoral
2. AMDAL Terpadu/Multisektoral, adalah AMDAL yang berlaku bagi suatu
rencana kegiatan pembangunan yang bersifat terpadu
3. AMDAL Kawasan, yaitu AMDAL yang ditujukan pada satu rencana kegiatan
pembangunan yang berlokasi dalam satu kesatuan hamparan ekosistem
dan menyangkut kewenangan satu instansi.
4. AMDAL Regional, adalah AMDAL yang diperuntukan bagi rencana kegiatan
pembangunan yang sifat kegiatannya saling terkait dalam hal perencanaan
dan waktu pelaksanaan kegiatannya.Dengan rencana pembangunannya
sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Daerah
5. AMDAL di Indonesia diberlakukan berdasarkan PP 51 Tahun 1993
(sebelumnya PP 29 tahun 1986) sebagai realisasi pelaksanaan UU No. 4
tahun 1982 tentang Lingkungan Hidup yang saat ini telah direvisi menjadi
UU No. 23 tahun 1997

21
Analisis Dampak Lingkungan

BAB IV
PENUTUP
4.1

Kesimpulan
Amdal adalah kajian mengenai dampak besar dan penting untuk
pengambilan

keputusan

suatu

usaha

direncanakan

pada

lingkungan

hidup

dan/atau
yang

kegiatan

diperlukan

yang
proses

pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau


kegiatan (Peraturan Pemerintah No.27 tahun 1999 tentang Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan.
AMDAL sendiri merupakan suatu kajian mengenai dampak positif
dan negatif dari

kegiatan/proyek, yang dipakai pemerintah dalam

memutuskan apakah suatu kegiatan/proyek Iayak atau tidak Iayak


Iingkungan. Kajian dampak positif dan negatif tersebut biasanya
disusun dengan mempertimbangkan aspek fisik, kimia, biologi, sosialekonomi, sosial budaya dan kesehatan masyarakat. Prosedur AMDAL
yaitu, Penapisan, Pelingkupan, Kerangka acuan, ANDAL, Rencana
Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan, dan
Pelaporan.

22
Analisis Dampak Lingkungan

Pembangunan dengan proyek yang dikaji dari aspek kelayakan


lingkungan

disebut

pembangunan

berwawasan

lingkungan.

Pembangunan berwawasan lingkungan pada hakekatnya dilaksanakan


untuk

mewujudkan

pembangunan

berlanjut

(sustainable

development). Instrumen untuk mencapai pembangunan berlanjut


adalah

Analisis

Mengenai

Dampak

Lingkungan.

AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) adalah instrumen


yang

sifatnya

merupakan

formal

kajian

dan wajib

bagi

(control

pembangunan

and command)

proyek-proyek

yang

kegiatan-

kegiatan yang kemungkinan akan menimbulkan dampak besar dari


penting terhadap lingkungan hidup.

DAFTAR PUSTAKA
1. Djamin, Djanius.2007.Pengawasan & Pelaksanaan
Lingkungan Hidup.Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.
2. Horas, Nommy.2004.Hukum
Pembangunan.Jakarta:Erlangga

Lingkungan

Undang-Undang

dan

3. Soemarno, Otto.2007.
Analisis
Mengenai
Lingkungan.Yogyakarta:Gadjah Mada.University Press.

Ekologi

Daaampak

4. Kuncoro, (online), (http//:ml.scribd.com/doc/49530355/Tujuan-AMDAL,


diakses 14 September 2012).
5. Rasminah,
(online),
(http//:pinterdw.blogspot.com/2012/03/amdakomponen-dan-manfaat,diakses 13 September 2012).
6. BPLHD,
(online),
September 2012).

(www.bplhdjabar.go.id>currentusersiakses

14

7. Tikamala, (online), (http//:scribd.com/doc/30059-37/Apakah-Amdal-itu,


diakses 13 September 2012).
8. Gudang Makalah Terlengkap. 2012. Makalah peranan Amdal dalam
kehidupan. (online), (http://maqalah.blogspot.com/2012/02/makalahperananan-amdal-dalam-kehidupan.html, diakses pada 3 oktober
2012)
23
Analisis Dampak Lingkungan

24
Analisis Dampak Lingkungan