Anda di halaman 1dari 18

ABSTRAK

Praktikum keharaan tanaman tentang pengaruh pupa organic cair berbahan dasar limbah daging
buah rambutan dengan pemanfaatan larva Hermetia illucens (lalat hitam). Praktikum keharaan tanaman
dilaksanakan pada Tanggal 11 Maret 2016 hingga 2 Mei 2016 di Rumah Kaca, Fakultas Pertanian Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta. Dengan tujuan mengetahui pengaruh lalat hitam (Hermetia illucens) sebagai
dekomposer limbah daging buah rambutan sebagai pupuk organik cair, dan Pengaruh pupuk organik cair
dari limbah daging buah rambutan terhadap tanaman kacang hijau. Alat yang digunakan antara lain pasir
kuarsa, kapas, 2 botol aqua 1,5 L, 2 botol aqua 600 mL, 2 ember kecil, 2 pot, label, penggaris, alat tulis, gelas
ukur ukuran 100ml dan 1000ml , serta alat dokumentasi. Bahan yang digunakan dalam praktikum antara
lain daging buah rambutan, lalat hitam (Hermetia illucens), kacang hijau, dan air. Hasil data yang diperoleh
larva Hermetia illucense (maggot) sebagai agen decomposer karena sebagian besar fase hidupnya berperan
sebagai pengurai (larva) bahan organik. Sehingga Berdasarkan hasil t-test yang telah dilakukan didapatkan
hasil bahwa adanya penggunaan blangko(air biasa) menunjukkan hasil yang berbeda nyata dengan
penggunaan POC tertutup dan terbuka pada pertumbuhan kacang hijau.
Kata Kunci : POC, Buah rambutan, Hermetia illucense

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dari tahun ke tahun, permintaan pasar terhadap komoditas pertanian semakin meningkat,
sedangkan produktivitas pertanian belum mampu menyeimbangkan peningkatan tersebut.
Produktivitas pertanian perlu lebih ditingkatkan lagi guna memenuhi kebutuhan dalam negeri
maupun ekspor. Banyak hal yang dapat dilakukan guna meningkatkan produktivitas komoditas
pertanian, mulai dari perbaikan teknis budidaya komoditas pertanian hingga perlakuan
pascapanen. Salah satu hal yang penting untuk diperhatikan dalam perbaikan teknik budidaya
komoditas pertanian ialah ketersediaan hara yang cukup sebagai bahan makanan tanaman untuk
tumbuh dan berkembang sehingga mempengaruhi kualitas dan kuantitas hasil komoditas
pertanian. Ketersediaan hara ini berkaitan dengan mineral-mineral yang disediakan oleh tanah
ataupun media tanam. Semakin banyak unsur yang disediakan oleh media tanam untuk
mencukupi kebutuhan tanaman, maka semakin baik media tanam tersebut dan komoditas
tanaman pun akan semakin baik pula. Tidak semua media tanam memiliki tingkat kesuburan
yang sama. Oleh sebab itu, dibutuhkan pemasukkan unsur-unsur hara dari luar, contohnya dengan
cara pemberian pupuk.
Pemupukan sangat menentukan dalam peningkatkan produktivitas tanaman. Petani
sayuran dalam teknik pemupukan saat ini sering kali melebihi dosis anjuran. Hal ini
dikhawatirkan dalam jangka panjang dapat merusak sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Untuk
menanggulangi hal tersebut, diperlukan suatu sistem pemupukan yang ramah terhadap
lingkungan dan aman bagi tanaman.

Pupuk organik dapat menjadi salah satu alternatif yang tepat dalam mengatasi
permasalahan tersebut karena fungsinya yang dapat memberikan tambahan bahan organik, hara,
memperbaiki sifat fisik tanah, serta mengembalikan hara yang terangkut oleh hasil panen.
Penggunaan pupuk organik diharapkan dapat memperbaiki kesuburan tanah sekaligus
menyediakan unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman komoditas pertanian. Pupuk
organik cair adalah salah satu jenis pupuk yang dapat digunakan untuk meningkatkan
produktivitas komoditas pertanian. Hal ini didukung karena pupuk organik cair mengandung
unsur hara makro dan mikro yang cukup tinggi sebagai hasil senyawa organik bahan alami yang
mengandung sel-sel hidup aktif dan aman terhadap lingkungan serta pemakai.
Bentuk pupuk organik cair yang berupa cairan dapat mempermudah tanaman dalam
menyerap unsur-unsur hara yang terkandung di dalamnya dibandingkan dengan pupuk lainnya
yang berbentuk padat. Dalam pengaplikasiannya, selain diberikan melalui tanah yang kemudian
diserap oleh akar tanaman, pupuk organik cair juga dapat diaplikasikan melalui daun tanaman
komoditas pertanian guna mendukung penyerapan unsur hara secara optimal. Hal ini diharapkan
dapat memberikan pertumbuhan, hasil, dan mutu tanaman komoditas pertanian yang lebih baik.
B. Tujuan
Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan praktikum yang bertujuan untuk :
(1) Mengetahui pengaruh lalat hitam (Hermetia illucens L.) sebagai dekomposer limbah daging
buah rambutan sebagai pupuk organik cair, dan
(2) Mengetahui pengaruh pupuk organik cair dari limbah daging buah rambutan terhadap
tanaman kacang hijau.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Kacang hijau merupakan salah satu komoditi pangan yang penting menempati urutan
ketiga, setelah kedelai dan kacang tanah. Penggunaan kacang hijau sangat beragam, dari olahan
sederhana hingga bahan industri. Produk terbesar hasil olahan kacang hijau di pasar berupa
makanan bayi, industri minuman, kue, bahan campuran soun dan tepung hunkue.kacang hijau
memiliki kandungan karbohidrat 62,90 g, protein 22,00 g, lemak 1,20 g, juga mengandung

Vitamin A 157, Vitamin B1 0,64 g, Vitamin C 6,00 g dan mineral Ca, P, Fe serta mengandung 345
kalori (Scan, 2012).
Kebutuhan kacang hijau mengalami peningkatan dengan kebutuhan 330.000 ton setiap tahun, hal
ini disebabkan produksi yang dicapai tidak diikuti peningkatan luas panen, sehingga kekurangan
kebutuhan tersebut dipenuhi dengan cara mengimpor dari beberapa penghasil kacang hijau,
seperti India, Filipina dan Thailand. Impor kacang hijau dari tahun 2002 sampai tahun 2012
mengalami peningkatan sebesar 16,53%, sedangkan produksi kacang hijau mengalami
peningkatan hanya 1,11% (Supeno dan Sujudi, 2002).
Kacang hijau masih tergolong rendah produktivitasnya yaitu 11,65 ku/ha. Produktivitas
yang rendah dan areal yang semakin berkurang dibutuhkan upaya baik melalui intensifikasi dan
ekstensifikasi. Intensifikasi dapat dilakukan dengan perbaikan varietas unggul dan pemupukan
dan ekstensifikasi dilakukan melalui perluasan areal tanam. Kacang hijau dikembangkan pada
lahan marginal yang memiliki kesuburan rendah yang membutuhkan perbaikan diantaranya
pemberian pupuk.Pemberian pupuk diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan hara bagi
tanaman. Salah satu pupuk yang dapat digunakan dalam memperbaiki kesuburan tanah adalah
pupuk organik cair.
Pupuk organik cair dapat dibuat dari bebagai sisa buah-buahan dan tanaman. Buahbuahan atau sisa tanaman lain yang terdapat disekitar lingkungan yang selama ini masih sering
dianggap sampah, merupakan sumber hara yang potensial bagi tanaman dan juga berfungsi dalam
memperbaiki sifat fisik tanah. Salah satu cara yang dapat dilakukan ialah dengan mengolahnya
menjadi pupuk organik cair (Hakim, Wijaya, Sudirja, 2006).
Pupuk organik cair yang berasal dari sampah buah-buahan memiliki kandungan unsur
makro yang meliputi N, P, K, Ca, Mg, dan S, sedangkan unsur hara mikro meliputi Fe, Mn, Cu,
dan Zn, sehingga baik untuk digunakan sebagai unsur hara bagi tanaman, dan dapat memperbaiki
sifat fisik dan biologi tanah (Hardjowigeno, 2003).
Selain pupuk organik asal sampah buah-buahan, banyak diperdagangkan pupuk organik
cair yang siap diaplikasikan ke tanaman, salah satunya adalah Nasa. Pupuk organik cair Nasa
adalah salah satu jenis pupuk yang bisa diberikan ke daun dan tanah, mengandung unsur hara
makro, mikro, vitamin, mineral, asam-asam organik, dan zat pengatur tumbuh Auksin, Giberilin,
dan sitokinin.Kandungan unsur hara pupuk organik cair NASA adalah N 0,12%, P2O5 0,03%, K
0,31%, Ca 60,4 ppm, Mn 2,46 ppm, Fe 12,89 ppm, Cu 0,03 ppm, sehingga berpeluang untuk

digunakan sebagai unsur hara bagi tanaman yang mampu memperbaiki struktur tanah dan
meningkatkan pertumbuhan tanaman (Anonim, 2005).

III.

METODOLOGI

Praktikum Keharaan Tanaman yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh pupuk


organik dari pemanfaatan larva Hermetia illucens (lalat hitam) dengan bahan buah rambutan
dilaksanakan pada Tanggal 11 Maret 2016 hingga 2 Mei 2016 di Rumah Kaca , Fakultas
Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat yang digunakan antara lain pasir kuarsa,
kapas, 2 botol aqua 1,5 L, 2 botol aqua 600 mL, 2 ember kecil, 2 pot, label, penggaris, alat tulis,
gelas ukur ukuran 100ml dan 1000ml , serta alat dokumentasi. Bahan yang digunakan dalam
praktikum antara lain buah rambutan, lalat hitam (Hermetia illucens), kacang hijau, dan air.
Langkah pertama yang dilakukan yaitu menyiapkan 2 botol aqua ukuran 1,5 L serta buah
rambutan yang telah di potong terlebih dahulu. Buah rambutan dimasukan dalam botol hingga
dari ukuran botol aqua. Dilakukan dua perlakukan dengan botol aqua tertutup yang telah
dilubangi terlebih dahulu bagian tutup botolnya dan botol aqua tanpa tutup. Untuk botol aqua
tertutup diberikan larva Hermetia illucens sebanyak 15 larva yang belum dewasa. Untuk
perlakuan tanpa tutup tidak diberi larva. Perubahan tekstur buah, bau, warna buah, pergerakan

larva, dan warna larva diamati untuk kedua perlakuan botol aqua akan tetapi pada botol aqua
tanpa tutup diamati juga terdapat tidaknya larva dan lalat.
Pada tanggal 14 April 2016, dilakukan persiapan tanaman kacang hijau dan pengenceran
POC untuk perlakuan. Langkah pertama yang dilakukan yaitu menyiapkan media tanam yaitu
pasir kuarsa. Pasir kuarsa dimasukan kedalam 2 pot yang telah diberikan kapas dibagian dasar
terlebih dahulu. Biji kacang hijau sebanyak 10 biji ditanam dalam pot berisi pasir kuarsa. Setelah
7 hari, tanaman kacang hijau disisakan 3 tanaman yang sama tingginya.
Langkah selanjutnya yaitu melakukan pengenceran POC untuk perlakuan. 2 buah botol
aqua ukuran 600 mL di siapkan. Larutan POC rambutan dari tiap perlakuan tutup dan tanpa tutup
diencerkan dengan perbandingan 1 : 100 (5 ml POC : 500 mL air ). POC yang telah diencerkan
dimasukan kedalam botol aqua ukuran 600ml dan didiamkan selama semalam. Larutan POC
yang telah didiamkan semalam di berikan kepada tanaman kacang hijau tiap hari selama 7 hari
(23 April 2016 hingga tanggal 29 April 2016). Tinggi tanaman, jumlah daun, dan warna daun
diamati tiap harinya.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Tabel Hasil Analisis POC Terbuka dan POC Tertutup
BAHA
N
NO
1
2

TABEL HASIL ANALISIS

PERLAKUAN
POC BOTOL TERBUKA
POC BOTOL TERTUTUP

PH
3,43
3,48

DHL
2,46
2,21

WARNA
hitam kecoklatan
hitam kecoklatan

BAU
busuk
busuk

Tabel 2. Tabel Hasil Pengamatan Perlakuan Terhadap Tinggi dan Jumlah Daun Tanaman Kacang
Hijau
TABEL PENGAMATAN APLIKASI KOMPOS
perlakuan
hari ke1
2
3
4
POC botol tertutup
tinggi tanaman
tanaman
1
13 13.5
14 14.5
tanaman
13
13
14
14

15
15

16
15

16
15.5

2
tanaman
3

13

rata-rata

13

tanaman
1
tanaman
2
tanaman
3
tanaman
1
tanaman
2
tanaman
3
POC botol terbuka

rata-rata

Blanko ( air)

Rata -rata
tanaman
1
tanaman
2
tanaman
3

B. Pembahasan

14
14.6
7

15
15.3
3

15
15.5

0
0
0
tinggi tanaman

17.5

18

19

19

20

21

21

16

17

17.5

18

18.5

19

19

17
16.8
3

17.5

18
18
18.1 18.3
17.5
7
3
jumlah daun

18
18.8
3

19
19.6
7

19
19.6
7

0
0
1
tinggi tanaman

tanaman
1
tanaman
2
tanaman
3
tanaman
1
tanaman
2
tanaman
3

13 13.5 13.5
13.1 13.8
7
3
14
jumlah daun

15.3

15.6

15.6

15.8

16

16

16

12

14.4

15.7

15.9

15.9

15.9

15.9

15.4
14.2
3

15.5 15.6 16.2


15.1 15.6 15.9
7
3
7
jumlah daun

16.2
16.0
3

16.2
16.0
3

16.2
16.0
3

Pupuk organik adalah salah satu bahan yang dapt memperbaiki tingkat kesuburan tanah.
Hal ini sesuai denga pendapat Rohendi (2005) yang menyatakan, pupuk organik merupakan salah
satu bahan yang sangat penting dalam upaya memperbaiki kesuburan tanah secara aman, dalam
arti produk pertanian yang dihasilkan terbebas dari bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi
kesehatan manusia sehingga aman dikonsumsi.
Pupuk organik cair merupakan salah satu jenis pupuk yang banyak beredar di pasaran.
Pupuk organik cair kebanyakan diaplikasikan melalui daun atau disebut sebagai pupuk cair foliar
yang mengandung hara makro dan mikro esensial (N, P, K, S, Ca, Mg, B, Mo, Cu, Fe, Mn, dan
bahan organik). Pupuk organik cair selain dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah,
juga membantu meningkatkan produksi tanaman, meningkatkan kualitas produk tanaman,
mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan sebagai alternatif pengganti pupuk kandang
(Sarjana Parman, 2007). Pupuk organik cair mempunyai beberapa manfaat diantaranya adalah
(Nur Fitri, Erlina Ambarwati, dan Nasih Widya, 2007) :
1) dapat mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun dan pembentukan bintil
akar pada tanaman leguminosae sehingga meningkatkan kemampuan fotosintesis tanaman
dan penyerapan nitrogen dari udara.
2) dapat meningkatkan vigor tanaman sehingga tanaman menjadi kokoh dan kuat,
meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan, cekaman cuaca dan serangan
patogen penyebab penyakit.
3) merangsang pertumbuhan cabang produksi.
4) meningkatkan pembentukan bunga dan bakal buah, serta
5) mengurangi gugurnya daun, bunga dan bakal buah.
Terdapat dua macam tipe pupuk organik cair yang dibuat melalui proses pengomposan.
Pertama adalah pupuk organik cair yang dibuat dengan cara melarutkan pupuk organik yang telah
jadi atau setengah jadi ke dalam air. Jenis pupuk yang dilarutkan bisa berupa pupuk hijau, pupuk
kandang, pupuk kompos atau campuran semuanya. Pupuk organik cair semacam ini

karakteristiknya tidak jauh beda dengan pupuk organik padat, hanya saja wujudnya berupa
cairan. Dalam bahasa lebih mudah, kira-kira seperti teh yang dicelupkan ke dalam air lalu airnya
dijadikan pupuk.
Pupuk cair tipe ini suspensi larutannya kurang stabil dan mudah mengendap. Kita tidak
bisa menyimpan pupuk tipe ini dalam jangka waktu lama. Setelah jadi biasanya harus langsung
digunakan. Pengaplikasiannya dilakukan dengan cara menyiramkan pupuk pada permukaan tanah
disekitar tanaman, tidak disemprotkan ke daun.
Kedua adalah pupuk organik cair yang dibuat dari bahan-bahan organik yang
difermentasikan dalam kondisi anaerob dengan bantuan organisme hidup. Bahan bakunya dari
material organik yang belum terkomposkan. Unsur hara yang terkandung dalam larutan pupuk
cair tipe ini benar-benar berbentuk cair. Jadi larutannya lebih stabil. Bila dibiarkan tidak
mengendap. Oleh karena itu, sifat dan karakteristiknya pun berbeda dengan pupuk cair yang
dibuat dari pupuk padat yang dilarutkan ke dalam air. Tulisan ini bermaksud untuk membahas
pupuk organik cair tipe yang kedua.
Dalam pembuatan pupuk organik cair ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan pupuk
kimia yang mengakibatkan pencemaran lingkungan dan tanaman menjadi rawan hama. Hal ini
sesuai dengan pendapat Djuarni (2006) yang menyatakan, dari berbagai akibat penggunaan
pupuk kimia tersebut masalah yang timbul antara lain: 1) Tanaman menjadi sangat rawan
terhadap

hama, meskipun produktivitasnya tinggi namun tidak memiliki ketahanan terhadap

hama, 2) Pembodohan terhadap petani yang diindikasikan dengan hilangnya pengetahuan lokal
dalam mengelola lahan pertanian dan ketergantungan petani terhadap paket teknologi pertanian
produk industri.
Menteri Pertanian, dalam Peraturan Menteri Pertanian No 70/Permentan/SR.140/10/2011
tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah menentukan persyaratan teknis
minimal yang harus dipenuhi dalam produksi pupuk organik cair. Persyaratan teknis memuat
berbagai parameter dengan standar mutu yang harus diikuti.
1. C-Organik dengan standar mutu minimal 6% dari total massa pupuk.
2. Bahan ikutan (plastik, kaca, kerikil) dengan standar mutu maksimal 2% dari total
massa pupuk.

3. Logam berat dengan standar mutu yairu maksimal 2.5 ppm Arsen (As), maksimal
0.25 ppm Merkuri (Hg), maksimal 12.5 ppm Timbah (Pb) dan maksimal 0.5 ppm
Kadmium (Cd).
4. Tingkat keasaman dengan nilai pH 4-9
5. Mengandung unsur makro dengan standar 3 6% nitrogen, 3-6% posphat dalam
bentuk P2O5, dan 3 6% kalium dalam bentuk K2O.
6. Mikroba kontaminan dengan standar mutu maksimal 102 MPN/ml untuk mikroba
E.coli dan maksimal 102 MPN/ml untuk Salmonella sp.
7. Mengandung unsur hara mikro dengan standar mutu 90 900 ppm Fe total atau 5
50 ppm Fe 250 5000 ppm Mn, 250 5000 ppm Cu, 250 5000 ppm Zn, 125
2500 ppm B, 5 20 ppm Co dan 2 10 ppm Mo.
8. Sama sekali tidak dapat mengandung Lantanum (La) dan Serium (Ce).
Cara Penggunaan pupuk organik cair dijelaskan sebagai berikut:

Pengenceran : Agar tidak terlalu kental, pupuk cair perlu dicampur dengan air. Bila
bahannya berasal dari daun, perbandingan adalah 1 bagian pupuk cair dan 3
bagian air. Bila bahannya berasal dari kotoran ternak, perbandingannya adalah 1

bagian pupuk cair dan 4-6 bagian air.


Penyiraman : Siram tanaman yang akan di pupuk 2-3 minggu setelah
berkecambah, dan pemupukan dilakukan setiap 3 minggu.

Penggunaan lalat hitam dipraktikum ini berfungsi untuk membantu mendekomposisi


pupuk organik cair. Lalat hitam (Hermetia illucens) merupakan jenis serangga keluarga lalat yang
jauh beda dengan lalat sampah (Musca domestika) pada umumnya. Karena sifatnya yang tak
dimiliki lalat lain. Tahap nonmakan lalat dewasa bersayap tanpa bagian mulut itulah yang
menjadi alasan utama mengapa lalat-lalat itu tak dikaitkan dengan penularan penyakit kepada
manusia. Larva atau maggot Hermetia illucens dapat membunuh dan menekan populasi bakteri
jahat, seperti salmonella dan coli, serta mampu mengolah limbah organik sangat cepat. Setiap
ekornya rata-rata menghasilkan 500 maggot dalam satu siklus hidupnya. Dalam satu hari, 10 ribu
maggot mampu mengurai 1 kg sampah rumah tangga (sisa makanan) dalam 24 jam. Selain itu
menyisakan 200 gram sampah terurai yang biasa disebut bekas maggot (kasgot) yang dapat
langsung dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Pada praktikum kali ini yang digunakan sebagai bahan utama pembuatan pupuk organik
cair adalah limbah buah rambutan. Pupuk cair organik hasil dari limbah rambutan ini diuji pH

dan daya hantar listriknya, didapatkan hasil pH dengan angka 3,43 untuk yang perlakuan terbuka
dan 3,48 untuk perlakuan yang tertutup. Sedangkan nilai DHL didapat untuk perlakuan terbuka
2,46 dan untuk perlakuan tertutup 2,21. Menurut Peraturan Menteri Pertanian No
70/Permentan/SR.140/10/2011 nilai pH yang baik untuk pupuk organik cair adalah 4-9. Nilai pH
yang didapat masih jauh dari nilai pH yang baik, hal ini bisa disebabkan akibat dekomposisi yang
belum sempurna. Menurut Sutanto (2002), pada proses pengomposan anaerob, bakteri fakultatif
penghasil asam menguraikan bahan organik menjadi asam lemak, asam aldehida dan lain-lain.
Kemudian bakteri lain mengubah asam lemak menjadi gas metan, amoniak, CO2 dan hidrogen.
Diduga sejumlah asam organik tersebut mengakibatkan penurunan pH pada berbagai perlakuan
penambahan dekomposer dan kemudian nilai pH meningkat seiring dengan penggunaan asam
organik oleh mikroorganisme.
Hampir 75-80% dari masalah hara disebabkan oleh ketidaksesuaian pH media dan daya
hantar listrik. Menurut Styrer (1997) pH media yang ideal sekitar 5,5-6,5 karena pada kisaran
tersebut hara optimal diserap tanaman. Level daya hantar listrik yang sesuai bervariasi
bergantung jenis tanamannya. Pada praktikum kali ini, pupuk organik cair ini diujikan pada
tanaman kacang hijau. Menurut penelitian Taufiq dan Dyah (2013) Nilai kritis DHL untuk kacang
hijau adalah 1,79-2,65 dS/m, yang artinya nilai DHL yang didapatkan pada pupuk organik cair
dari limbah rambutan sudah sesuai.
Nilai pH dan DHL dari kedua perlakuan POC yaitu tertutup dan terbuka tidak berbeda
jauh. Hal ini membuktikan bahwa perlakuan tertutup yang menggunakan bantuan larva lalat
hitam tidak memberikan pengaruh yang nyata bila untuk mendekomposisi limbah rambutan yang
digunakan untuk membuat pupuk organik cair bila dilihat dari segi kimia (pH dan DHL). Hal ini
disebabkan karena kurang lebih 15 larva yang dimasukkan ke dalam botol POC tertutup mati
pada pengamatan hari ke dua, matinya larva bisa disebabkan oleh suhu yang terlalu panas dan
tingkat kemasaman limbah buah rambutan yang sangat tinggi.
Pertumbuhan tanaman kacang hijau baik dilihat dari tinggi tanaman dan jumlah daun pada
masing masing perlakuan (blanko, tertutup, dan terbuka) mengalami perbedaan.dapat dilihat dari
perkembangan tinggi tanaman pada tanpa perlakuan (hanya disiram air) pertumbuhan tinggi tidak
mengalami kenaikan yang signifikan. Berbeda dengan tanaman pada perlakuan tertutup (disiram
menggunakan POC tertutup) mengalami kenaikan 0,2 hingga 0,2cm perharinya. Begitu pula pada
perlakuan terbuka (disiram menggunakan POC terbuka), mengalami kenaikan rata-rata 0,3
hingga 1 cm perharinya. Dan dapat dilihat pula dari daun yang tumbuh, pada perlakuan terbuka

dan tertutup secara umum pada hari ke-3 pengamatan sudah muncul daun kacang hijau, berbeda
dengan tanaman tanpa perlakuan yang baru memiliki daun pada hari ke-5.

Grafik Tinggi Tanaman Kacang Hijau dengan Pemberian Perlakuan POC Tertutup, POC Terbuka, dan Blanko

blanko
tertutup

Tinggi Tanaman (cm)

terbuka

Hari Pengamatan ke-

Gambar 1. Grafik Tinggi Tanaman Kacanf Hijau dengan Pemberian Perlakuan POC tertutup,
POC Terbuka, dan Blanko
Pada gambar 1 dapat dilihat tinggi tanaman dari hari ke hari mengalami kenaikan. Pada
perlakuan POC terbuka mengalami kenaikan tinggi yang paling tinggi dari hari kehari, sedangkan
tanpa perlakuan cenderung stabil dan konstan. Hal ini dapat membuktikan bahwa pupuk organik
cair limbah rambutan yang diberikan kepada tanaman kacang hijau dengan cara di siram, dapat
membantu dan memenuhi kebutuhan hara tanaman kacang hijau untuk tumbuh walaupun belum
secara maksimal.
Pada uji t-test yang dilakukan antara blanko dan POC tertutup, didapat nilai p value
sebesar 0.010541489. Yang artinya adalah p-value < alfa (0,05), H0 tidak diterima/tertolak,
sehingga antara blanko dan POC tertutup terdapat beda nyata. Ada pengaruh nyata dari
pemberian POC tertutup terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Begitu pula pada uji
t-test yang dilakukan antara blanko dan POC terbuka, didapat nilai p value sebesar 0.000063343.
Yang dimana berarti p-value < alfa (0,05), H0 tidak diterima/tertolak, sehingga antara blanko

dan POC terbuka terdapat beda nyata. Ada pengaruh nyata dari pemberian POC tertutup terhadap
pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

V.

KESIMPULAN

1. Perlakuan POC tertutup dengan menambahkan larva lalat hitam (Hermetia illucens L.) yang
digunanakan untuk mempercepat dekomposisi tidak berbeda secara signifikan dengan
perlakuan POC terbuka ditinjau dari hasil kimia (nilai pH dan DHL).
2. Pada uji t-test yang dilakukan antara blanko dan POC tertutup, didapat nilai p value sebesar
0.010541489. Yang artinya adalah p-value < alfa (0,05), H0 tidak diterima/tertolak,
sehingga antara blanko dan POC tertutup terdapat beda nyata. Ada pengaruh nyata dari

pemberian POC tertutup terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Begitu pula
pada uji t-test yang dilakukan antara blanko dan POC terbuka, didapat nilai p value sebesar
0.000063343. Yang dimana berarti p-value < alfa (0,05), H0 tidak diterima/tertolak,
sehingga antara blanko dan POC terbuka terdapat beda nyata. Ada pengaruh nyata dari
pemberian POC tertutup terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hal ini dapat
membuktikan bahwa pupuk organik cair limbah rambutan yang diberikan kepada tanaman
kacang hijau dengan cara di siram, dapat membantu dan memenuhi kebutuhan hara
tanaman kacang hijau untuk tumbuh walaupun belum secara maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2005. POC NASA. Natural Nusantara. Indonesia.
Djuarni, Nan.Ir, M.Sc., Kristian.,Setiawan,Budi Susilo.2006. Cara Cepat Membuat Kompos.
Jakarta:AgroMedia.Hal 36-38
Hakim, M., Joice Wijaya dan Rija Sudirja. 2006. Mencari Solusi Penanganan Masalah Sampah
Kota. Bandung: kerjasama Fakultas Pertanian UNPAD Dengan Direktorat Jendral
Holtikultura DEPTAN RI disamapaikan pada Loka karya Pengelolaan Sampah Kota
dalam Revitalisasi Pembangunan Holtikultura di Indonesia.
Hardjowigeno, S. 2007. Ilmu Tanah. Jakarta: Akademika Pressindo
Parman, Sarjana. 2007. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair terhadap Tertumbuhan dan
Produksi Kentang (Solanum tuberosum L.). Buletin Anatomi dan Fisiologi Vol. XV, No.
2.

Rizqiani, N. F; Ambarwati E; Yuwono Widya N. 2006. Pengaruh Dosis dan Frekuensi Pemberian
Pupuk cair Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Buncis Dataran Rendah. Jurnal Ilmu Tanah
dan Lingkungan 7(1):43-53
Rohendi, E. 2005. Lokakarya Sehari Pengelolaan Sampah Pasar DKI Jakarta, sebuah prosiding.
Bogor, 17 Februari 2005.
Scan W. 2012.Pengaruh Pemberian Trichoderma dan Pupuk Kandang Ayam
Terhadap Pertumbuhan dan HasilTanaman Kacang Hijau (Vignaradiata
L.)Pada Tanah Alluvial di Polybag
Styer, R.C. 1997. Key factor of water, substrate and nutrition. Plug
production.Floriculture Internt 7 (1) : 12 15.
Supeno A danSujudi, 2002 Teknik pengujian adaptasi galur harapan kacang
hijau
dilahansawah. Bulletin TeknikPertanian vol. 9, Nomor 1, 2004.
Sutanto, R. 2002. Pertanian Organik: Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Penerbit
Kanisius. Yogyakarta.

LAMPIRAN
Perhitungan T-Test

hari
1
2
3
4
5
6
7

blanko
14.23
333
15.16
667
15.63
333
15.96
667
16.03
333
16.03
333
16.03
333

tertutu
p
13
13.16
667
13.83
333
14
14.66
667
15.33
333
15.5

terbuk
a
16.83
333
17.5
18.16
667
18.33
333
18.83
333
19.66
667
19.66
667

varia
ns
ratarata

0.458
836
15.58
571

0.978
836
14.21
429

1.119
048
18.42
857

blanko vs tertutup
uji varians
F-Test Two-Sample for
Variances

Mean
Variance
Observations
df
F
P(F<=f) one-tail
F Critical one-tail

tertutu
p
14.214
29
0.9788
36
7
6
2.1333
03
0.1893
23
4.2838
66

blanko
15.5857
1
0.45883
6
7
6

t-test equal blanko vs tertutup


t-Test: Two-Sample Assuming Equal
Variances

Mean
Variance
Observations
Pooled Variance
Hypothesized Mean
Difference
df
t Stat
P(T<=t) one-tail

tertut
up
14.214
29
0.9788
36
7
0.7188
36
0
12
3.0261
6
0.0052
71

blanko
15.585
71
0.4588
36
7

1.7822
88
0.0105
41
2.1788
13

t Critical one-tail
P(T<=t) two-tail
t Critical two-tail

blanko vs terbuka
uji varians
F-Test Two-Sample for
Variances

Mean
Variance
Observations
df
F
P(F<=f) one-tail
F Critical onetail

terbuka
18.4285714
3
1.11904761
9
7
6
2.43888376
4
0.15111350
8
4.28386571
4

blanko
15.585
71
0.4588
36
7
6

t-test equal blanko vs terbuka


t-Test: Two-Sample Assuming Equal
Variances

Mean
Variance
Observations
Pooled Variance
Hypothesized Mean
Difference
df
t Stat
P(T<=t) one-tail

terbuka
18.42857
143
1.119047
619
7
0.788941
799
0
12
5.987790
206
3.16719E

blanko
15.585
71
0.4588
36
7

t Critical one-tail
P(T<=t) two-tail
t Critical two-tail

-05
1.782287
556
6.33437E
-05
2.178812
83

FOTO PENGAMATAN

Minggu pertama

Minggu ke 3

Minggu pertama

Minggu ke 2

Hasil Pengenceran POC


Terbuka

Hasil Pengenceran POC


Tertutup