Anda di halaman 1dari 8

Fitokimia

Menurut Robinson (1991) alasan lain melakukan fitokimia adalah untuk menentukan
ciri senyawa aktif penyebab efek racun atau efek yang bermanfaat, yang ditunjukan oleh
ekstrak tumbuhan kasar bila diuji dengan sistem biologis. Pemanfaatan prosedur fitokimia
telah mempunyai peranan yang mapan dalam semua cabang ilmu tumbuhan. Meskipun cara
ini penting dalam semua telaah kimia dan biokimia juga telah dimanfaatkan dalam kajian
biologis.
Sejalan dengan hal tersebut, menurut Moelyono (1996) analisis fitokimia merupakan
bagian dari ilmu farmakognosi yang mempelajari metode atau cara analisis kandungan kimia
yang terdapat dalam tumbuhan atau hewan secara keseluruhan atau bagian-bagiannya,
termasuk cara isolasi atau pemisahannya.
Pada tahun terakhir ini fitokimia atau kimia tumbuhan telah berkembang menjadi
satu disiplin ilmu tersendiri, berada diantara kimia organik bahan alam dan biokimia
tumbuhan, serta berkaitan dengan keduanya. Bidang perhatiannya adalah aneka ragam
senyawa organik yang dibentuk dan ditimbun oleh tumbuhan, yaitu mengenai struktur
kimianya, biosintesisnya, perubahan serta metabolismesnya, peneyebarannya secara ilmiah
dan fungsi biologisnya (Harborne,1984).
Keanekaragaman dan jumlah struktur molekul yang dihasilkan oleh tumbuhan
banyak sekali, demikian juga laju pengetahuan tentang hal tersebut. Dengan demikian
masalah utama dalam penelitian fitokimia adalah menyusun data yang ada mengenai setiap
golongan senyawa khusus. Kandungan kimia tumbuhan dapat digolongkan menurut
beberapa cara. Pengolahan didasarkan pada asal biosintesis, sifat kelarutan dan adanya gugus
fungsi kunci tertentu.

B. Fitokimia dan Golongan Senyawa Metabolit Sekunder


B.1 Fitokimia
Menurut Robinson (1991) alasan lain melakukan fitokimia adalah untuk menentukan
ciri senyawa aktif penyebab efek racun atau efek yang bermanfaat, yang ditunjukan oleh
ekstrak tumbuhan kasar bila diuji dengan sistem biologis. Pemanfaatan prosedur fitokimia
telah mempunyai peranan yang mapan dalam semua cabang ilmu tumbuhan. Meskipun cara
ini penting dalam semua telaah kimia dan biokimia juga telah dimanfaatkan dalam kajian
biologis.

Sejalan dengan hal tersebut, menurut Moelyono (1996) analisis fitokimia merupakan
bagian dari ilmu farmakognosi yang mempelajari metode atau cara analisis kandungan kimia
yang terdapat dalam tumbuhan atau hewan secara keseluruhan atau bagian-bagiannya,
termasuk cara isolasi atau pemisahannya.
Pada tahun terakhir ini fitokimia atau kimia tumbuhan telah berkembang menjadi
satu disiplin ilmu tersendiri, berada diantara kimia organik bahan alam dan biokimia
tumbuhan, serta berkaitan dengan keduanya. Bidang perhatiannya adalah aneka ragam
senyawa organik yang dibentuk dan ditimbun oleh tumbuhan, yaitu mengenai struktur
kimianya, biosintesisnya, perubahan serta metabolismenya, penyebarannya secara ilmiah dan
fungsi biologisnya (Harborne, 1984).
Keanekaragaman dan jumlah struktur molekul yang dihasilkan oleh tumbuhan
banyak sekali, demikian juga laju pengetahuan tentang hal tersebut. Dengan demikian
masalah utama dalam penelitian fitokimia adalah menyusun data yang ada mengenai setiap
golongan senyawa khusus. Kandungan kimia tumbuhan dapat digolongkan menurut
beberapa cara. Pengolahan didasarkan pada asal biosintesis, sifat kelarutan dan adanya gugus
fungsi kunci tertentu.
B.2 Golongan Senyawa Metabolit Sekunder
Metabolit atau metabolisme adalah keseluruhan proses sintesis senyawa-senyawa oleh
organ dalam jaringan atau sel individu dalam kelangsungan hidupnya. Manitto (1981),
menyatakan bahwa proses ini berlangsung selama individu atau organisme masih hidup
bahkan pada jaringan organisme yang telah mati dan pada umumnya metabolisme primer dan
metabolisme sekunder.
Menurut Judoamdjojo (1990), metabolik sekunder adalah hasil metabolisme yang
disintesis oleh beberapa organisme tertentu yang tidak merupakan kebutuhan pokok untuk
hidup dan tumbuh. Meskipun demikian, metabolik sekunder dapat berfungsi sebagai nutrien
darurat untuk pertahanan hidup. Sedangkan menurut Herbert (1981), metabolisme sekunder
merupakan senyawa yang dihasilkan organisme untuk aktivitas tertentu dan sifatnya tidak
esensial untuk kehidupannya.
Proses-proses kimia jenis lain yang terjadi hanya pada spesies tertentu sehingga
memberikan produk yang berlainan, sesuai dengan spesiesnya merupakan senyawa-senyawa
metabolik sekunder. Berperan dalam kelangsungan hidup dan perjuangan menghadapi
spesies-spesies lain berupa zat kimia untuk pertahanan, penarik seks, dan feromen (Manitto,
1981). Menurut Sastrohamidjojo (1996), bahwa metabolik sekunder adalah bahan kimia nonnutrisi yang mengontrol spesies biologi dalam lingkungan atau memainkan peranan penting
dalam koeksistensi dan koevolusi spesies.

Menurut Harborne (1984) senyawa metabolit sekunder yang umum terdapat pada
tanaman adalah : alkaloid, flavanoid, steroid, saponin, terpenoid dan tannin.
a.

Alkaloid
Alkaloid adalah suatu golongan senyawa yang tersebar luas hampir pada semua jenis

tumbuhan. Semua alkaloid mengandung paling sedikit satu atom nitrogen yang biasanya
bersifat basa dan membentuk cincin heterosiklik (Harborne, 1984).
Alkaloid dapat ditemukan pada biji, daun, ranting dan kulit kayu dari tumbuhtumbuhan. Kadar alkaloid dari tumbuhan dapat mencapai 10-15%. Alkaloid kebanyakan
bersifat racun, tetapi ada pula yang sangat berguna dalam pengobatan. Alkaloid merupakan
senyawa tanpa warna, sering kali bersifat optik aktif, kebanyakan berbentuk kristal tetapi
hanya sedikit yang berupa cairan (misalnya nikotin) pada suhu kamar (Sabirin, et al.,1994).
Suatu cara mengklasifikasi alkaloid adalah didasarkan pada jenis cincin heterosiklik
nitrogen yang terikat. Menurut klasifikasi ini alkaloid dibedakan menjadi ; pirolidin (1),
piperidin (2), isoquinolin (3), quinolin (4) dan indol (5).
(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

Gambar 1. klasifikasi alkaloid berdasarkan jenis cincin heterosiklik nitrogen (Tobing, 1989).
Alkaloid pada umumnya berbentuk kristal yang tidak berwarna, ada juga yang
berbentuk cair seperti koniina (6), nikotin (7). Alkaloid yang berwarna sangat jarang
ditemukan misalnya berberina (8) berwarna kuning.

(6)

(7)

(8)

Gambar 2. Struktur Koniina, Nikotin dan Berberina (Sastrohamidjojo. 1996)


Kebasaan alkaloid menyebabkan senyawa ini mudah terdekomposisi terutama oleh
panas, sinar dan oksigen membentuk N-oksida. Jaringan yang masih mengandung lemak,
maka dilakukan ekstraksi pendahuluan petroleum eter.
b.

Flavonoid
Flavonoid adalah kelompok senyawa fenol terbesar yang ditemukan di alam terutama

pada jaringan tumbuhan tinggi. Senyawa ini merupakan produk metabolik sekunder yang
terjadi dari sel dan terakumulasi dari tubuh tumbuhan sebagai zat racun (Robinson, 1991).
Senyawa flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon dalam inti dasarnya yang
tersusun dalam konfigurasi C6 - C3 C6. Susunan tersebut dapat menghasilkan tiga struktur

yaitu: 1,3-diarilpropana (flavonoid), 1,2-diarilpropana (isoflavonoid), 2,2-diarilpropana


(neoflavonoid).

Gambar 3. Struktur Dasar Flavonoid (Manitto, 1981).


Menurut Markham (1982), flavonoid merupakan senyawa polar karena mempunyai
gugus hidroksil yang tak tersulih, atau suatu gula, sehingga flavonoid cukup larut dalam
pelarut polar seperti etanol, metanol, butanol dan air.
Flavonoid umumnya terikat pada gula sebagai glukosida dan aglikon flavonoid. Uji
warna yang penting dalam larutan alkohol ialah direduksi dengan serbuk Mg dan HCl pekat.
Diantara flavonoid hanya

flavalon

yang menghasilkan

warna merah

ceri kuat

(Harborne,1984).
c.

Terpenoid
Semua terpenoid berasal dari molekul isoprena, CH2=C(CH3)-CH=CH2 dan kerangka

karbonya dibangun oleh penyambungan dua atau lebih satuan C 5 ini. Walaupun demikian,
secara biosintesis senyawa yang berperan adalah isopentil pirofosfat, CH 2=C(CH3)(CH)2OPP, yang terbentuk dari asetat melalui asam mevalonat, CH2OHCH2C(OH,CH3)CH2CH2COOH. Isopentil piropospat terdapat dalam sel hidup dan berkesinambungan dengan
isomernya, dimetilalil piropospat, (CH3)2C=CHCH2OPP.
Berdasarkan kenyataan ini, terpenoid dikelompokan dalam 5 bagian:
a.

Monoterpen terdiri dari dua unit C5 atau 10 atam karbon.

b.

Siskuisterpen terdiri dari tiga unit C5 atau 15 atom karbon

c.

Diterpen terdiri dari empat unit C5 atau 20 atom karbon

d.

Triterpen terdiri dari enam unit C5 atau 30 atom karbon

e.

Tetraterpen terdiri dari delapan unit C5 atau 40 atom karbon


Secara kimia, terpenoid umumnya larut dalam lemak dan terdapat didalam sitoplasma

sel tumbuhan. Biasanya diekstraksi memakai petrolium eter, eter atau kloroform dan dapat
dipisahkan secara kromatografi pada silika gel dengan pelarut ini (Harborne,1987).
Steroid adalah terpenoid yang kerangka dasarnya terbentuk dari sistem cincin
siklopentana prehidrofenantrena. Steroid merupakan golongan senyawa metabolik sekunder
yang banyak dimanfaatkan sebagai obat. Hormon steroid pada umumnya diperoleh dari
senyawa-senyawa steroid alam terutama dalam tumbuhan (Djamal, 1988).

Menurut Harborne (1984), saponin adalah glikosida triterpen dan sterol. Saponin
merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun, serta dapat dideteksi
berdasarkan kemampuannya membentuk busa yang stabil dalam air dan menghomolisis sel
darah merah. Dari segi pemanfaatan, saponin sangat ekonomis sebagai bahan baku
pembuatan hormon steroid, tetapi saponin kadang-kadang dapat menyebabkan keracunan
pada ternak (Robinson, 1991).
d.

Tanin
Secara kimia terdapat dua jenis tanin, yaitu: (1) tanin terkondensasi atau flavolan dan

(2) tanin yang terhidrolisis.


1.

Tanin terkondensasi atau flavolan


Tersebar luas dalam tumbuhan angiospermae, terutama pada tumbuhan-tumbuhan
berkayu. Nama lainnya adalah proantosianidin karena bila direaksikan dengan asam panas,
beberapa ikatan karbon-karbon penghubung satuan terputus dan dibebaskanlah monomer
antosianidin. Kebanyakan proantosianidin adalah prosianidin karena bila direaksikan dengan
asam akan menghasilkan sianidin. Proantosianidin dapat dideteksi

langsung dengan

mencelupkan jaringan tumbuhan ke dalam HCl 2M mendidih selama setengah jam yang akan
menghasilkan warna merah yang dapat diekstraksi dengan amil atau butil alkohol. Bila
digunakan jaringan kering, hasil tanin agak berkurang karena terjadinya pelekatan tanin pada
tempatnya didalam sel.
2.

Tanin yang terhidrolisis


Terbatas pada tumbuhan berkeping dua. Terutama terdiri atas dua kelas, yang paling

sederhana adalah depsida galoiglukosa. Pada senyawa ini glukosa dikelilingi oleh lima gugus
ester galoil atau lebih. Jenis kedua, inti molekul berupa senyawa dimer asam galat, yaitu
asam heksahidroksidifenat yang berikatan dengan glukosa. Bila dihidrolisis menghasilkan
asam angelat. Cara deteksi tanin terhidrolisis adalah dengan mengidentifikasi asam
galat/asam elagat dalam ekstrak eter atau etil asetat yang dipekatkan (Harborne,1987).
B.3 Ekstraksi dan Fraksionasi
B.3.1 Ekstraksi
Yang dimaksud dengan ekstraksi adalah pemisahan beberapa bahan dari suatu padatan
atau beberapa bahan dari cairan dengan bantuan pelarut. Pemisahan terjadi atas dasar
kemampuan larut yang berbeda dari komponen-komponen dalam campuran (Handoyo,
1995).
Ekstraksi dapat didefinisikan sebagai metode pemisahan komponen dari suatu
campuran dengan menggunakan suatu pelarut yang sesuai. Solut (zat terlarut) akan

dipisahkan terdistribusi diantara kedua lapisan polar dan non polar berdasarkan kelarutannya.
Ekstraksi merupakan suatu pemisahan senyawa yang terkandun

SKRINING FITOKIMIA
BAB IPENDAHULUANA . L $ ! B % & ' ( )
Fitokimia adalah ilmu yang mempelajari tentang senyawa kimiayang
terdapat di dalam suatu tumbuhan. Pada tumbuhan terjadi
prosesmetabolisme dan menghasilkan metabolit yang terdiri dari
metabolit primer d a n s e k u n d e r . M e t a b o l i t p r i m e r m e r u p a k a n s
e n y a w a y a n g h a r u s terkandung di dalam suatu tumbuhan yang
meliputi karbohidrat, lemakdan protein. Sedangkan, metabolit sekunder
yaitu senyawa yang
relatif t e r d a p a t p a d a s u a t u t a n a m a n , c o n t o h n y a y a i t u f l a o n o i
d , a l k a l o i d , saponin, tanin dan lain!
lain.P e m a n f a a t a n b a h a n a l a m s e b a g a i o b a t , d a l a m b e n t u k y a n g sede
rhana sudah tidak diragukan lagi karena telah berlangsung
jauhs e b e l u m s e j a r a h n ya d i t u l i s . P e n g e t a h u a n n e n e k m o y a n g k i t a d
a h u l u tentang bahan alam yang berupa tanaman!tanaman yang berkhasiat
obattersebut umumnya diperoleh dari orang!orang tua mereka yang diberikansecara
turun menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
"enganp e n g e t a h u a n d a n p e r a l a t a n s e d e r h a n a , m e r e k a m a m p u
mengatasimasalah kesehatan, berbagai macam penyakit dan
keluhan ringanmaupun berat diobati dengan memanfaatkan r
a m u a n d a r i t u m b u h ! tumbuhan tertentu yang dengan mudah
d i d a p a t d i s e k i t a r p e k a r a n g a n rumah dan hasilnya pun cukup
memuaskan.Skrining fitokimia adalah suatu metode pengujian yang dilakukanuntuk
mengetahui senyawa!senyawa atau kandungan kimia yang ada di
Saponin Saponin merupakan senyawa dalam bentuk glikosida yang tersebar luas
pada tumbuhan tingkat tinggi. Saponin membentuk larutan koloidal dalam air dan
membentuk busa yang mantap jika dikocok dan tidak hilang dengan penambahan
asam.
3. Flavonoida Flavonoida merupakan senyawa polifenol yang mempunyai struktur
dasar C6-C3-C6. Golongan terbesar flavonoida mempunyai cincin piral yang
menghubungkan rantai karbonnya. Senyawa flavonoida selalu terdapat pada
tumbuhan dalam bentuk glikosida dimana satu atau lebih gugus hidroksi fenol
berikatan dengan gula. Gugus hidroksil selalu terdapat pada atom C 5 dan 7 pada
cincin A dan juga pada atom C 3, 4 dan 5 pada cincin B. Flavonoida berupa
senyawa yang larut dalam air dan tetap ada dalam lapisan air setelah ekstrak ini
dikocok dengan eter minyak bumi. Flavonoida berupa senyawa fenol, karena itu
warnanya berubah bila ditambahkan basa atau amonia. Flavonoida mengandung
sistem aromatik yang terkonjugasi dan karena itu menunjukkan pada pita serapan
kuat pada daerah spektrum sinar UV dan spektrum sinar tampak. Flavonoida
umumnya terdapat dalam tumbuhan, terikat pada gula sebagai glikosida.
Flavonoida merupakan senyawa golongan fenol alam bersifat antibakteri.

4. Tanin Tanin merupakan senyawa yang memiliki sejumlah gugus hidroksi fenolik
yang banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan. Terdapat pada bagian tertentu dari
tumbuhan, seperti daun, buah dan batang. Tanin merupakan senyawa yang tidak
dapat dikristalkan, dan membentuk senyawa tidak larut yang berwarna biru gelap
atau hitam kehijauan dengan garam besi.
5. Triterpenoida/Steroida Triterpenoida adalah senyawa yang kerangka karbonnya
berasal dari enam satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari
hidrokarbon C30 asiklik, yaitu skualena. Triterpenoida banyak terdapat pada
tumbuhan dan hewan, dapat berada dalam bentuk bebas, maupun dalam bentuk
glikosida. Triterpenoida berupa senyawa yang tidak berwarna dan berbentuk
kristal. Uji yang banyak digunakan adalah reaksi Liebermann-Burchard yang dengan
kebanyakan triterpena dan sterol memberikan warna hijau-biru. Triterpenoida
dapat dibagi menjadi empat golongan senyawa, yaitu triterpena sebenarnya,
steroida, saponin dan glikosida jantung. Kedua golongan terakhir terutama
terdapat sebagai glikosida. Steroida merupakan suatu senyawa yang mengandung
inti siklopentanoperhidrofenantren. Steroida memiliki berbagai aktivitas biologik.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, C., Bambang Purwono, Harno Dwipranowo dan Tutik Wahyuningsih, 1994.Pengantar
Praktikum Kimia Organik. Dikti. UGM, Yogyakarta
Bernasconi, et.all., 1995. Teknologi Kimia 2. Terjemahan Lienda Handojo. PT. Pradya Pramita. Jakarta.
Djamal, R., 1988. Tumbuhan Sebagai Sumber Bahan Obat. Pusat Penelitian. Universitas Negeri
Andalas.
Harborne, J.B., 1984. Phitochemical Method. Chapman and Hall ltd. London.
Harborne, J.B., 1987. Phitochemical Method. Chapman and Hall ltd. London.
Herbert, R.B., 1989. The Biosynthesis of Secondary Metabolism. Campman and Hall 29 West 35th Street,
New York.
Judoamidjojo M., Darwis A.A., Gumbira E., 1990. Teknologi Fermentasi. IPB. Bogor.
Manitto, P., 1981. Biosintesis Produk Alami. Terjemahan : Koensoenmardiyah. IKIP Semarang
Press. Semarang.
Markham, K.R., 1982. Cara Mengidentifikasi Falvanoid. Alih Bahasa : Kosasih Padmawinata, (1988).
ITB. Bandung.
Moelyono, M.W., 1996. Panduan Praktikum Analisis Fitokimia. Laboratorium Farmakologi Jurusan
Farmasi FMIPA. Universitas Padjadjaran. Bandung.
T., 1991. The Organic Constituen of HigherPlants. 6th Edition. Department of
Biochemistry. University of Massachusetts
Sabirin, M., Hardjono S., dan Respati S., 1994. Pengantar Praktikum Kimia Organik II.UGMYogyakarta.
Sastrohamidjojo, H., 1996. Sintesis Bahan Alam. Gadjah Mada university Press. Yogyakarta.
Robinson,

TUGAS SETELAH PRAKTIKUM


1. Tuliskan reaksi umum yang terjadi pada :
a.

Uji alkaloid

b. Uji Flafonoid
c.

Uji Steroid

d. Uji tannin dan polifenol


2. Pada uji alkaloid, kesimpulan yang akan saudara barikan (+) alkaloid atau (-) alkaloid. Jika
uji dengan pereaksi menyer (+) sementara uji dengan dragendrof (-) jelaskan ?
Jawab:

a.