Anda di halaman 1dari 12

DASAR HUKUM KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

1.

UU No. 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan

2.

UU No. 9 tahun 1994 tentang perubahan pertama UU No. 6 tahun 1983

3.

UU No. 16 tahun 2000 tentang perubahan kedua UU No. 6 tahun 1983

4.

UU No. 28 Tahun 2007 tentang perubahan ketiga UU No. 6 tahun 1983

Berdasarkan UU KUP NOMOR 28 TAHUN 2007 Pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa pengertian
Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan
yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan
secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
Wajib Pajak (WP) adalah Orang Pribadi atau Badan yang menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan,
termasuk pemungut pajak atau pemotong pajak tertentu.
BADAN adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang
melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha, lembaga dan bentuk badan lainnya
termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
Pengertian Masa Pajak adalah :
jangka waktu yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak untuk menghitung, menyetor, dan
melaporkan pajak yang terutang dalam suatu jangka waktu tertentu sebagaimana
ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 28 tahun 2007 tentang KUP (Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan).
Pengertian Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali bila Wajib Pajak
menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.
Pengertian Pajak Yang Terutang
Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dalam Masa Pajak,
dalam Tahun Pajak, atau dalam Bagian Tahun Pajak sesuai dengan ketentuan dalam UndangUndang Perpajakan
Pengertian Surat Paksa adalah surat perintah untuk membayar hutang pajak dan biaya
penagihan pajak.
PPh pasal 25 merupakan sistem angsuran bulanan yang wajib dibayarkan oleh yang
bersangkutan.
Kredit Pajak untuk Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan
setelah dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak atau setelah
dikurangi dengan pajak yang telah dikompensasikan, yang dikurangkan dari pajak yang
terutang.

Pemeriksaan Bukti Permulaan adalah Pemeriksaan yang dilakukan untuk mendapatkan bukti
permulaan tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di bidang perpajakan.
Penanggung Pajak adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas
pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak dan memenuhi kewajiban Wajib
Pajak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Pengertian NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) adalah nomor yang diberikan kepada wajib
pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda
pengenal diri atau identitas wajib pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan.
Fungsi NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) yaitu :
1. Fungsi NPWP sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib pajak.
2. Fungsi NPWP untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam pengawasan
administrasi perpajakan.
Penghapusan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) |

Penghapusan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dapat dilakukan oleh Direktur Jenderal Pajak
apabila :

1. Diajukan permohonan penghapusan NPWP oleh wajib pajak dan/atau ahli warisnya
apabila wajib pajak sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
2. Wajib pajak badan dilikuidasi (telah dilakukan pembubaran) karena penghentian atau
penggabungan usaha.
3. Wanita yang sebelumnya telah memiliki NPWP dan menikah tanpa membuat perjanjian
pemisahan harta dan penghasilan dalam hal suami dari wanita tersebut telah terdaftar
sebagai wajib pajak.
4. Wajib pajak bentuk usaha tetap menghentikan kegiatan usahanya di Indonesia.
5. Dianggap perlu oleh Direktur Jenderal Pajak untuk menghapuskan NPWP dari wajib pajak
yang sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

DIRJEN Pajak setelah melakukan pemeriksaan harus memberikan keputusan atas


permohonan penghapusan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dalam jangka waktu 6 bulan
untuk wajib pajak badan, maka dimulai sejak tanggal permohonan diterima secara lengkap.
Apabila jangka waktu sebagaimana telah ditentukan lewat dan DIRJEN pajak tidak memberi
suatu keputusan, permohonan penghapusan NPWP pajak dianggap dikabulkan.

Pengusaha Kena Pajak, sering disebut PKP adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan
Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenakan pajak berdasarkan
Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (UU PPN) 1984 dan perubahannya, tidak termasuk
Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan, kecuali
Pengusaha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
Fungsi Pengukuhan PKP
Pengawasan dalam melaksanakan hak dan kewajiban PKP di bidang PPN dan PPnBM.
Sebagai identitas PKP yang bersangkutan.
Sarana dalam pemenuhan Kewajiban Pajak Pertambahan Nilai & Pajak Penjualan Barang
Mewah (PPnBM).

Pencabutan Pengukuhan PKP


Verifikasi dalam rangka mencabut pengukuhan PKP secara jabatan atau berdasarkan
permohonan PKP terhadap:
PKP orang pribadi yang telah meninggal dunia;
PKP telah dipusatkan tempat terutangnya PPN di tempat lain;
PKP yang pindah alamat tempat tinggal, tempat kedudukan dan/atau tempat kegiatan usaha
ke wilayah kerja KPP lainnya;
PKP yang jumlah peredaran usaha dan/atau penerimaan brutonya untuk 1 (satu) tahun buku
tidak melebihi batas jumlah peredaran usaha dan/atau penerimaan bruto untuk pengusaha
kecil dan tidak memilih untuk menjadi PKP;
PKP selain perseroan terbatas dengan status tidak aktif (non efektif) dan secara nyata tidak
menunjukkan adanya kegiatan usaha;
Pengusaha Kena Pajak yang tidak menyampaikan SPT Masa PPN untuk Masa Pajak Januari
sampai dengan Desember;
PKP yang menyampaikan SPT Masa PPN yang pajak keluaran dan pajak masukannya nihil
untuk Masa Pajak Januari sampai dengan Desember; atau
PKP bentuk usaha tetap (BUT) yang telah menghentikan kegiatan usahanya di Indonesia.
Pencabutan pengukuhan PKP secara jabatan juga dapat dilaksanakan setelah Dirjen Pajak
melakukan Verifikasi atas hasil sensus pajak nasional, hasil konfirmasi lapangan setelah
pengukuhan PKP, atau hasil kegiatan lain yang dilaksanakan oleh Dirjen Pajak.Verifikasi
dalam rangka pencabutan pengukuhan PKP dilakukan untuk tertib administrasi dan/atau
menguji pemenuhan persyaratan subjektif dan objektif sebagai Pengusaha Kena Pajak.

Surat Pemberitahuan (SPT) adalah surat yang oleh Wajib Pajak (WP) digunakan untuk
melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek
pajak dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan perpajakan.

Fungsi SPT adalah sebagai berikut :


Bagi Wajib Pajak PPh adalah sebagai sarana WP untuk melaporkan dan
mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak
Bagi Pengusaha Kena Pajak adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan
mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah PPN dan PPnBM
Bagi pemotong / Pemungut Pajak adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan
mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkan.

3.

Prosedur Penyelesaian SPT

a.
Wajib pajak sebagaimana mengambil sendiri Surat Pemberitahuan di tempat yang
ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. Atau dengan cara mengakses situs Direktorat
Jenderal Pajak untuk memperoleh formulir Surat Pemberitahuan tersebut.
b.
Setiap wajib pajak mengisi formulir tersebut dengan benar,jelas,dan lengkap,dan
menandatangani serta menyampaikannya ke kantor Direktorat Pajak.
c.
Wajib pajak telah mendapat izin menteri Keuangan untuk menyelenggarakan
pembukuan,dan wajib menyampaikan SP dalam bahasa Indonesia dan satuan mata uang
rupiah.
d.
Penandatanganan SPT harus berisikan tanda tangan stempel/tanda tangan
elektonik.digital,yang semuanya mempunyai kekuatan hukum yang sama.

Persyaratan Pembetulan SPT


Wajib Pajak dengan kemauan sendiri dapat membetulkan SPT yang telah disampaikan
dengan menyampaikan pernyataan tertulis, dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum
melakukan tindakan pemeriksaan. Yang dimaksud dengan mulai melakukan tindakan
pemeriksaan adalah pada saat Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Pajak disampaikan
kepada Wajib Pajak, wakil, kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yang telah dewasa dari
Wajib Pajak.
Jenis-jenis Surat Pemberitahuan (SPT)
1.

SPT Tahunan Pajak Penghasilan, yang terdiri dari:

a.

SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan

b. SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan bagi Wajib Pajak yang diizinkan
menyelenggarakan pembukuan dalam mata uang Dollar Amerika Serikat
c.

SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi

d.

SPT Tahunan Pajak Penghasilan Pasal 21

2.

SPT Masa Pajak Penghasilan

a.

SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan Pasal 26

b.

SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 22

c.

SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 23 dan Pasal 26

d.

SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 25

e.

SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2)

f.

SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 15

3.

SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai

4.

SPT Masa PPN bagi Pemungut Pajak Pertambahan Nilai

Batas waktu penyampaian SPT


1. SPT Masa, paling lama dua puluh hari setelah akhir Masa Pajak, kecuali untuk SPT Masa
PPh Pasal 22, PPN dan PPnBM yang dipungut oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yaitu
secara mingguan paling lama pada hari kerja terakhir minggu berikutnya, dan SPT Masa PPh
Pasal 22, PPN dan PPnBM yang dipungut oleh Bendahara paling lama 14 hari setelah Masa
Pajak berakhir. Untuk WP dengan kriteria tertentu yang melaporkan beberapa Masa Pajak
dalam satu SPT Masa, paling lama 20 hari setelah berakhirnya Masa Pajak terakhir.
2. SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi, paling lama 3 (tiga) bulan
setelah akhir Tahun Pajak, sedangkan untuk SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak
badan, paling lama 4 (empat) bulan setelah akhir Tahun Pajak.Sanksi terkait dengan
pelanggaran batas waktu penyampaian SPT

Sanksi terkait dengan pelanggaran batas waktu penyampaian SPT


SPT yang tidak disampaikan atau disampaikan tidak sesuai dengan batas waktu yang
ditentukan, dikenakan sanksi administrasi berupa denda :
1.

SPT Tahunan PPh orang pribadi Rp 100 ribu;

2.

SPT Tahunan PPh badan Rp 1 juta;

3.

SPT Masa PPN Rp 500 ribu;

4.

SPT Masa Lainnya Rp 100 ribu.

Pengertian Surat Setoran Pajak (SSP) adalah :


bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan oleh Wajib Pajak dengan
menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas negara melalui tempat
pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.

Setor langsung melalui Kantor Pos atau Bank Persepsi: WP terlebih dahulu melengkapi
lembaran SSP sebelum menyetor pajak pada lokasi yang diinginkan. Setelah menyetor
pajak, lembaran SSP yang sudah diisi akan dicap oleh Kantor Pos atau Bank Persepsi, dan
WP akan menerima NTPN dari tempat tersebut, beserta bukti pembayarannya.

Fungsi dari Surat Setoran Pajak Mengingat bahwa SSP sangat penting dalam pembayaran
atau penyetoran pajak, maka Surat Setoran Pajak berfungsi sebagai bukti pembayaran pajak
bila telah disahkan oleh Pejabat kantor penerima pembayaran yang berwenang, atau bila
telah mendapatkan validasi dari pihak lain yang berwenang. - See more at:

Surat Ketetapan Pajak (SKP) adalah Surat Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama
yang memberitahukan besarnya pajak yang terutang termasuk denda administrasi, kepada
Wajib Pajak (WP).
1.

Fungsi Surat Ketetapan Pajak

Surat ketetapan pajak berfungsi sebagai :


a. Sarana untuk melakukan koreksi fiskal terhadap WP tertentu yang nyata-nyata atau
berdasarkan hasil pemeriksaan tidak memenuhi kewajiban formal dan atau kewajiban
materiil dalam memenuhi ketentuan perpajakan.
b.

Sarana untuk mengenakan sanksi administrasi perpajakan.

c.

Sarana administrasi untuk melakukan penagihan pajak.

d. Sarana untuk mengembalikan kelebihan pajak dalam hal lebih bayar.


e.

Sarana untuk memberitahukan jumlah pajak yang terutang

Pengertian Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) adalah : surat ketetapan pajak yang
menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan
pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah pajak yang masih harus
dibayar. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) timbul sebagai akibat pemeriksaan
pajak oleh kantor pajak. Hak Wajib Pajak atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)

yang diterimanya adalah : Mengajukan Keberatan Mengajukan Pengurangan Sanksi


Administrasi. Mengajukan Penundaan Pembayaran . Mengajukan Angsuran Pembayaran.
FUNGSI SKPKB
1.

Sebagai koreksi atas jumlah pajak yang terutang

2.

Sebagai alat atau sarana untuk mengenakan sanksi

3.

Sebagai alat atau sarana untuk menagih pajak

SKPKBT adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang
telah ditetapkan (dalam surat ketetapan pajak yang telah diterbitkan sebelumnya).
FUNGSI SKPKBT
1.

Sebagai alat untuk mengoreksi ketetapan pajak sebelumnya

2.

Sebagai alat atau sarana untuk menagih pajak

3.

Sebagai alat atau sarana untuk mengenakan sanksi

Pengertian Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) adalah :


surat ketetapan pajak (SKP) yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena
jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau seharusnya tidak
terutang.
FUNGSI SKPLB
Sebagai sarana atau alat untuk mengembalikan kelebihan pembayaran pajak yang telah
dilakukan oleh Wajib Pajak
Surat Tagihan Pajak adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan atau sanksi
administrasi berupa denda, dan atau bunga
Jenis administrasi yang ditagih dengan Surat Tagihan Pajak:
a. denda administrasi bagi Wajib Pajak yang tidak atau terlambat menyampaikan SPT Masa
PPh dan ;
b. denda administrasi bagi Wajib Pajak yang tidak atau terlambat menyampaikan Surat
Pemberitahuan Tahunan;
c. denda 2% dari Dasar Pengenaan Pajak bagi Pengusaha yang tidak melaporkan usahanya
untuk dikukuhkan sebagai PKP, PKP yang tidak membuat atau tidak lengkap mengisi Faktur
Pajak;
d. bunga, bagi Wajib Pajak membetulkan sendiri SPT Tahunan sehingga mengakibatkan
kurarng bayar;
e. bunga, bagi Wajib Pajak yang terlambat atau tidak membayar pajak yang sudah jatuh
tempo pembayarannya

Pada dasarnya pelaksanaan penagihan pajak akan daluwarsa dalam waktu 10 tahun tetapi
dapat saja melebihi 10 tahun apabila :
-Telah dikeluarkan Surat Teguran dan Surat Paksa.
-Adanya pengakuan Wajib Pajak secara langsung, atau tidak langsung antara lain:
Dilakukan pembayaran utang pajak itu
Diajukan permohonan penundaan pembayaran
Diadakan pengangsuran pembayaran
Diterbitkan sesuai pasal 13 (5) dan 15 (4)

Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan,


mengolah data dan atau keterangan lainnya untuk menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan (UU No. 16 Tahun 2000 tentang KUP
pasal 1 angka 24).

1. Tujuan Pemeriksaan Pajak adalah:


1. Menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dalam rangka
memberikan kepastian hukum, keadilan, dan pembinaan kepada Wajib Pajak.
2. Tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan.
Tujuan pemeriksaan, terutama adalah untuk memperoleh/ mengumpulkan bahanbahan yang dijadikan dasar untuk:

Menerbitkan SKPKB dan atau SKPKBT.

Menerbitkan SKPN.

Menerbitkan SKPLB.

Hal-hal lain yang berhubungan dengan administrasi perpajakan.

Prosedurnya
1. Penugasan/Persetujuan/Instruksi Pemeriksaan
2. Perencanaan Pemeriksaan
3. Penerbitan SP2 & Pemberitahuan Pemeriksaan ke WP
4. Peminjaman Dokumen

5. Pelaksanaan Pengujian
6. SPHP dan Tanggapan Tertulis
7. Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan

B. PENYIDIKAN Pengertian berdasarkan pasal 1 butir 2 KUHAP adalah suatu tindakan dari
para aparat penegak hukum (penyidik) dalam mencari dan menemukan, mengumpulkan
alat bukti serta mencari tahu siapa pelaku tindak pidana.

Wewenang Penyidik :
a. menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana;
b. melakukan tindakan pertama pada saat kejadian;
c. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal tersangka;
d. melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan;
e. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;
f. mengambil sidik jari dan memotret seorang;
g. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
h. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan
perkara;
i. mengadakan penghentian penyidikan;
j. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab. Pasal 7 ayat (1).

D. Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

Kewajiban pajak itu timbul setelah memenuhi dua syarat, yaitu :

1. kewajiban pajak subyektif ialah kewajiban pajak yang melihat orangnya.

Misalnya : semua orang atau badan hukum yang berdomisili di Indonesia memenuhi
kewajiban pajak subyektif.

2. Kewajiban pajak obyektif ialah kewajiban pajak yang melihat pada hal-hal yang dikenakan
pajak.

Misalnya : orang atau badan hukum yang memenuhi kewajiban pajak kekayaan adalah
orang yang punya kekayaan tertentu, yang memenuhi kewajiban pajak kendaraan ialah
orang yang punya kendaraan bermotor dan sebagainya.[10]

Kewajiban wajib pajak

Dalam menghitung jumlah yang dipakai untuk dasar pengenaan pajak, diperlukan bantuan
dari wajib pajak dengan cara mengisi dan memasukkan Surat Pemberitahuan (SPT). Setiap
orang yang telah menerima SPT pajak dari inspeksi pajak mempunyai kewajiban :

a. Mengisi SPT pajak itu menurut keadaan yang sebenarnya

b. Menandatangani sendiri SPT itu

c. Mengembalikan SPT pajak kepada inspeksi pajak dalam jangka waktu yang telah
ditentukan.[11]

Wajib pajak harus memenuhi kewajibannya membayar pajak yang telah ditetapkan, pada
waktu yang telah ditentukan pula. Terhadap wajib pajak yang tidak memenuhi kewajibannya
membayar pajak, dapat diadakan paksaan yang bersifat langsung, yaitu penyitaan atau
pelelangan barang-barang milik wajib pajak.

Hak-hak Wajib Pajak

Wajib pajak mempunyai hak-hak sebagai berikut :

1. Mengajukan permintaan untuk membetulkan, mengurangi atau membebaskan diri dari


ketetapan pajak, apabila ada kesalahan tulis, kesalahan menghitung tarip atau kesalahan
dalam menentukan dasar penetapan pajak.

2. Mengajukan keberatan kepada kepala inspeksi pajak setempat terhadap ketentuan pajak
yang dianggap terlalu berat.

3. Mengajukan banding kepada Majelis Pertimbangan Pajak, apabila keberatan yang diajukan
kepada kepala inspeksi tidak dipenuhi.

4. Meminta mengembalikan pajak (retribusi), meminta pemindah bukuan setoran pajak ke


pajak lainnya, atau setoran tahun berikutnya.

5. Mengajukan gugatan perdata atau tuntutan pidana kalau ada petugas pajak yang
menimbulkan kerugian atau membocorkan rahasia perusahaan / pembukuan sehingga
menimbulkan kerugian pada wajib pajak.[12]

Sanksi Perpajakan

Dalam Undang-undang perpajakan dikenal dua macam sanksi, yaitu sanksi administrasi dan
sanksi pidana. Ancaman terhadap pelanggaran suatu norma perpajakan ada yang diancam
dengan sanksi administrasi saja, ada yang diancam dengan sanksi pidana saja dan ada pula
yang diancam dengan sanksi administrasi dan pidana.

Perbedaan sanksi administrasi dan sanksi pidana menurut Undang-Undang Perpajakan


adalah:
Sanksi Administrasi

Merupakan pembayaran kerugian pada negara, khususnya yang berupa bunga dan
kanaikan. Menurut ketentuan dalam Undang-undang perpajakan ada 3 macam sanksi
administrasi, yaitu : denda, bunga, kenaikan.

2. Sanksi Pidana

Merupakan siksaan dan penderitaan, menurut ketentuan dalam Undang-undang perpajakan


ada 3 macam sanksi pidana : denda pidana, kurungan, dan penjara.
Denda Pidana

Berbeda dengan sanksi berupa denda administrasi yang hanya diancam atau dikenakan
kepada wajib pajak yang melanggar ketentuan peraturan perpajakan, sanksi berupa denda
pidana selain dikenakan kepada wajib pajak ada juga yang diancam kepada pejabat pajak
atau kepada pihak ketiga yang melanggar norma. Denda pidana dikenakan kepada tindak
pidana yang bersifat pelanggaran maupun bersifat kejahatan.

2. Pidana kurungan

Pidana kurungan hanya diancam kepada tindak pidana yang bersifat pelanggaran. Dapat
ditujukan kepada wajib pajak, pihak ketiga.

3. Pidana penjara

Pidana penjara sama halnya dengan Pidana kurungan, merupakan hukuman perampasan
kemerdekaan. Pidana penjara diancam terhadap kejahatan. Ancaman pidana penjara tidak
ada yang ditujukan kepada pihak ketiga, adanya kepada pejabat dan kepada wajib pajak.