Anda di halaman 1dari 13

CASE REPORT

Gangguan Mental dan Perilaku Akibat


Penggunaan Zat Multipel dan Penggunaan Zat
Psikoaktif Lainnya

Disusun oleh :
Ginatri Florinda Gultom
Elisabeth
Jefry Hanensi

Dokter Pembimbing :
dr. Imelda Indriyani, Sp.KJ

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa


Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Periode 21 Maret - 11 April 2016

Nomor rekam medis

: 0401XX

Nama pasien

: Tn. F

Nama dokter yang merawat

: dr. Herni, Sp.KJ

Masuk RS pada tanggal

: 10 Maret 2016

Rujukan / datang sendiri / keluarga

: Rujukan

I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama
Tempat, Tanggal Lahir
Jenis Kelamin
Suku Bangsa
Agama
Pendidikan Terakhir
Pekerjaan
Status Perkawinan
Alamat

: Tn. F
: Jakarta, 08 Maret 1989
: Laki-laki
: Betawi
: Islam
: SMA
: Pegawai Swasta
: Belum menikah
: Jl. Sumali Ujung, Kalibata Selatan, Kecamatan Pancoran

RIWAYAT PSIKIATRI
Autoanamnesis
: 30 Maret 2016, pukul 11:30 WIB
Alloanamnesis
: 30 Maret 2016, pukul 11:30 WIB
A. Keluhan Utama
Pasien mengalami perubahan perilaku akibat penggunaan shabu satu bulan SMRS.
B. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien laki-laki berusia 28 tahun datang ke RSKO atas rujukan dari kepolisian
sekitar 2 minggu yang lalu, karena pasien diketahui menggunakan shabu. Pasien
diharuskan menjalani program rehabilitasi di RSKO agar dapat mengubah
perilakunya dan melepaskan ketergantungannya terhadap shabu. Pasien ditangkap
saat sedang berada di rumahnya. Pasien sempat bertanya-tanya alasan polisi bisa
menangkap pasien saat itu padahal pasien mengatakan tidak pernah menggunakan
shabu dirumahnya. Menurut orang tua pasien, polisi dapat menangkap pasien oleh
karena pengaduan dari orang tua pasien. Orang tua pasien menyadari adanya
perubahan perilaku pasien satu bulan terakhir sehingga orang tua pasien curiga bahwa
pasien kembali menggunakan shabu dikarenakan pasien memiliki riwayat
penggunaan shabu sejak tamat SMA. Pasien juga memiliki riwayat perawatan di RS

Budi Asih atas rujukan dari BNN dengan alasan penggunaan shabu dan adanya
gangguan psikiatri.
Menurut orangtua pasien, perubahan perilaku pasien mulai terlihat 1 bulan
sebelum pasien ditangkap. Pasien tidak mau berangkat kerja dan hanya berada di
rumah saja. Pasien terlihat lemah dan sehari-hari hanya melakukan aktivitas seperti
makan, tidur, menonton tivi dan sesekali keluar rumah untuk bertemu temannya.
Pasien sebelumnya memiliki tubuh yang berisi. Semenjak pasien tidak berangkat
kerja lagi lama-lama kelamaan pasien tampak semakin kurus. Orangtua pasien mulamula mengira pasien sedang sakit, pasien dibiarkan beristirahat di rumah dan
orangtua tidak curiga. Tetapi pasien tidak kunjung membaik hingga pasien semakin
menunjukan tingkah laku yang aneh, seperti pasien menonton televisi dengan volume
yang tinggi dan sering memarahi ibunya saat ibunya menonton televisi dengan alasan
suara yang berisik sehingga pasien tidak bisa tidur. Orangtua pasien juga sering
memperhatikan pasien saat sedang berada di kamar mandi pasien sering membuangbuang air hingga bak mandi kering tetapi saat pasien keluar pasien menyangkal telah
membuang-buang air. Pasien tidak pernah tampak berbicara sendiri tetapi pasien
beberapa kali tampak tertawa sendiri. Pasien tampak lebih pendiam dan tertutup saat
ditanya apakah ada masalah atau adakah rasa sakit atau tidak nyaman. Pasien juga
tampak tidak pernah tidur saat malam hari, dan baru tidur saat pagi hari. Seminggu
sebelum diadukan ke pihak kepolisian pasien saat diajak berbicara sering tidak
nyambung dengan apa yang sedang dibicarakan. Dikarenakan adanya tingkah laku
aneh tersebut, orangtua curiga pasien kembali menggunakan shabu seperti dulu dan
segera melaporkan pasien kepada pihak kepolisian.
Pasien bercerita dirinya tiba-tiba ditangkap oleh pihak polisi saat sedang berada
di rumah dengan alasan penggunaan shabu. Pasien mengatakan bahwa pasien telah
menggunakan shabu kembali setelah sempat berhenti beberapa bulan semenjak pasien
menjalani rehabilitasi oleh rujukan BNN. Pasien telah menggunakan shabu sejak
lulus SMA yaitu tahun 2007 hingga pasien ditangkap pihak kepolisian tahun 2014 dan
menjalani rehabilitasi selama 1 tahun hingga tahun 2015. Pasien mengatakan kembali
menggunakan shabu 2 bulan sebelum ditangkap oleh polisi. Pasien mendapat tekanan
dari teman-temannya untuk menggunakan shabu kembali sehingga pasien tidak dapat
menolak ajakan tersebut dan kembali menggunakan shabu. Sejak kembali
2

menggunakan shabu pasien sering merasa gelisah dan murung. Pasien kembali
menggunakan shabu untuk menghilangkan perasaan tersebut dan merasa tenang saat
selesai menggunakan shabu. Keluhan berulang-ulang sehingga pasien secara kontinyu
menggunakan shabu. Selama periode penggunaan shabu, pasien tidak memiliki
keinginan untuk bekerja dan tidak suka nongkrong lagi bersama teman-temannya.
Pasien beberapa kali memiliki pemikiran untuk bunuh diri tetapi pasien mendengar
bisikan bahwa belum saatnya pasien mengakhiri hidupnya sehingga pasien tidak
melakukan niatnya tersebut. Pasien juga menceritakan bahwa pasien sering melihat
bayangan berbentuk bulat dan garis. Pasien menyangkal mendengar bisikan-bisikan
ataupun adanya pemikiran yang lain dari biasanya. Pasien terakhir kali menggunakan
shabu 7 hari sebelum masuk ke RSKO. Penggunaan shabu setengah sampai 1 batang
setiap sekali penggunaan. Pasien menggunakan shabu kira-kira 1-2 kali seminggu.
Menurut orangtua pasien saat berkunjung, pasien mengalami banyak kemajuan.
Sebelum dirawat di RSKO pasien sering tidak nyambung saat diajak bicara dan
sekarang pasien sudah dapat diajak berbicara dengan baik. Pasien tampak lebih segar
dan tidak tampak pucat lagi. Pasien juga tampak lebih berisi setelah 2 minggu
menjalani perawatan. Orangtua mengatakan bahwa pasien sudah dapat menerima
keadaannya saat itu dan berharap segera sembuh. Selama 2 minggu perawatan pasien
masih merasa gelisah dan murung. Pasien sering bangun siang selama di RSKO.
Pasien jarang bicara cenderung menyendiri dan menjawab seadanya saat ditanya.
Pasien juga masih sering melihat bayangan berbentuk bulat dan garis. Pasien
mengatakan keadaannya sudah baik-baik saja dan berharap dapat segera keluar dari
RSKO.
C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien memiliki riwayat dirawat di RS Budi Asih tahun 2014-2015 kirakira selama 9 bulan atas rujukan BNN untuk mendapatkan pengobatan karena
adanya halusinasi akibat penggunaan shabu dan perubahan perilaku berupa pasien
sering terlihat berbicara sendiri dan tertawa sendiri. Menurut orang tua pasien,
pasien juga sering tidak nyambung saat diajak berbicara. Pasien juga pernah
memukul ayahnya tiba-tiba dengan alasan adanya bisikan untuk memukul

ayahnya. Pasien juga mengatakan bahwa pasien sering melihat bayangan dan
bisikan hingga pasien sulit tidur dan menggunakan guling untuk menutupi
telinganya.
Menurut pasien, sejak tahun 2014 pasien sering melihat bayangan dan
mendengar

bisikan suara orang lain. Pasien juga merasa bahwa orang lain

dapat mengetahui

isi pikirannya beberapa bulan sebelum dirawat di BNN.

Setelah menjalankan perawatan dan pengobatan dengan rutin, kondisi fisik


pasien terlihat membaik dilihat dari berat badan pasien yang sudah ideal dan
perilaku aneh sudah tidak timbul.
2. Riwayat Gangguan Medis
Pasien tidak memiliki riwayat gangguan medis ataupun penyakit berat
yang memerlukan perawatan di rumah sakit.
3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif
Menurut pasien, sejak tahun 2007 hingga tahun 2016 pasien menggunakan
shabu dengan dosis meningkat dari 20 mg hingga 1 gram. Penggunaan kira-kira 12 kali dalam seminggu. Pasien juga mengatakan pernah mencoba ganja, tetapi
lebih sering menggunakan shabu. Pasien mulai menggunakan ganja sejak tahun
2003, penggunaan jarang kira-kira 1 kali dalam sebulan. Pasien mengatakan
penggunaan shabu dan ganja dikarenakan pengaruh dari teman-teman SMA.
Pasien awalnya ingin coba-coba hingga adanya ketergantungan dengan zat
tersebut yaitu pasien menjadi merasa gelisah dan badan terasa tidak nyaman.
Pasien mengatakan sejak SMP sudah merokok hingga sekarang. Pasien
menyangkal meminum minuman beralkohol.
D. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat Perkembangan Fisik
Pasien lahir spontan, cukup bulan dengan berat badan normal. Saat lahir pasien
langsung menangis, tidak ada riwayat kesulitan persalinan setelah kelahiran.
Pasien tidak pernah mengalami masalah pertumbuhan dan perkembangan.
2. Riwayat Perkembangan Pribadi
a. Masak anak-kanak : tidak ada masalah dalam keluarga dan hubungan sosial
b. Masa remaja
: tidak ada masalah dalam keluarga dan hubungan sosial

c. Masa dewasa

: pasien lebih sering menghabiskan waktu dengan teman

sekolah dibandingkan dengan keluarga, pasien tidak terbuka dengan keluarga.


3. Riwayat Pendidikan
Pasien tamat SMK jurusan bisnis. Prestasi pasien dari SD hingga lulus
SMK baik. Pasien tidak melanjutkan kuliah karena ingin langsung bekerja dan
keterbatasan biaya.
4. Riwayat Pekerjaan
Setelah lulus SMK pasien bekerja hingga tahun 2016, pasien sudah 5x
berpindah-pindah pekerjaan karena bosan dan ingin mencari suasana yang baru.
5. Kehidupan Beragama
Pasien rajin beribadah sebelum mengalami perubahan perilaku akibat
penggunaaan zat psikoaktif sejak 1 bulan SMRS.
6. Riwayat Psikoseksual dan Perkawinan
Pasien belum menikah dan pasien mengatakan belum pernah melakukan
hubungan seksual dengan wanita, pasien tertarik dengan lawan jenis tapi sulit
berinteraksi dengan wanita
E. Riwayat Keluarga
Pohon Keluarga

Keterangan:
Laki-laki hidup
Perempuan
hidup
Pasien

F. Situasi Kehidupan Sosial Sekarang


Meninggal
Pasien mengatakan tinggal di rumah bersama orang tua dan adiknya.
Hubungan
antara keluarga baik, sering berkomunikasi, kondisi keuangan menengah kebawah.
Ayah bekerja sebagai seorang sopir pribadi dan Ibu sebagai ibu rumah tangga. Pasien
dan keluarga tinggal di kontrakan dengan lingkungan padat penduduk.
III.

STATUS MENTAL

Didapatkan dari autoanamnesis pada tanggal 31 Maret 2016 pukul 12.10 WIB RS
Ketergantungan Obat Jakarta
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Seorang laki-laki berusia 28 tahun dengan penampilan fisik sesuai usianya.
Rambut pendek keriting berwarna hitam, kulit berwarna kuning langsat,
perawakan agak kurus. Pada saat wawancara pasien memakai kaos dan celana
setinggi lutut. Kebersihan diri dan kerapihan baik. Terdapat tatto gambar tentara
pada betis kanan pasien. Ekspresi wajah pasien tenang.
2. Kesadaran
Kesadaran Neurologis
: Compos mentis
Kesadaran Psikiatrik
: Tampak tidak terganggu
3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Pasien duduk tenang selama wawancara berlangsung. Ada kontak mata antara
pemeriksa dan pasien.
4. Sikap Terhadap Pemeriksa
Pasien kooperatif dalam menjawab pemeriksa.
5. Pembicaraan
Pasien berbicara spontan, menjawab sesuai pertanyaan,volume cukup, intonasi
baik, artikulasi cukup jelas.
B. Alam Perasaan
1. Mood
2. Afek

: Hipotim
: - Terbatas
- Serasi

C. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi
:
- Halusinasi visual berupa bayangan berbentuk bulat dan garis
- Halusinasi auditorik berupa larangan untuk bunuh diri
2. Ilusi
3. Depersonalisasi
4. Derealisasi

: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada

D. Sensorium dan Kognitif (Fungsi Intelektual)


1. Taraf Pendidikan
: Lulus SMK
2. Pengetahuan Umum
: Baik
3. Kecerdasan
: Baik
4. Konsentrasi
: Baik
5. Perhatian
: Baik
6

6. Daya Orentasi Waktu


: Baik
Daya Orentasi Tempat: Baik
Daya Orentasi Personal
7. Daya Ingat Jangka Panjang
Daya Ingat Jangka Pendek
Daya Ingat Sesaat
8. Pikiran Abstrak
9. Visuo spasial
10. Bakat Kreatif
11. Kemampuan Menolong Diri
E. Proses Pikir
1. Arus Pikir
a. Produktivitas

: Pasien menjawab sesuai pertanyaan, ide-ide pikir

cukup.
b. Kontinuitas Pikir
c. Hendaya Berbahasa
2. Isi Pikir
a. Preokupasi

b.
c.
d.
e.
f.

: Baik
: Baik
: Baik
: Baik
: Baik
: Baik
: Belum diketahui
: Baik

Waham
Obsesi
Fobia
Gagasan pengaruh
Gagasan rujukan

: Inkoheren
: Tidak ada
: keingininan untuk bunuh diri (sebelum perawatan)
keinginan untuk dapat segera sembuh dan pulang
(setelah menjalani perawatan)
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada

F. Pengendalian Impuls
Terkendali. Selama wawancara pasien dapat berlaku dengan tenang dan tidak
menunjukkan gejala agresif.

IV.

G. Daya Nilai

: Baik

H. Tilikan

: Derajat 2

I. Reabilitas

: Dapat dipercaya

PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Internus
1. Keadaan Umum
2. Kesadaran
3. Tekanan Darah

: Baik
: Composmentis
: 110/70 mmHg
7

4.
5.
6.
7.

Nadi
Suhu
Frekuensi Pernafasan
Bentuk Tubuh
Kepala
Mata
Mulut
Leher
Thoraks
Abdomen
Ekstremitas
8. Sistem Kardiovaskular
9. Sistem Respirasi
10. Sistem Gastrointestinal
11. Sistem Musculoskeletal
12. Sistem Urogenital

: 78 x/menit
: 36,20C
: 18 x/menit
: Dalam batas normal
: Dalam batas normal
: Dalam batas normal
: Dalam batas normal
: Dalam batas normal
: Dalam batas normal
: Dalam batas normal
: Dalam batas normal
: Dalam batas normal
: Dalam batas normal
: Dalam batas normal
: Dalam batas normal

B. Status Neurologis
a. Saraf Kranial (I-XIII)
: Tidak dilakukan
b. Gejala Rangsang Meningeal : Tidak dilakukan
c. Mata
: Tidak dilakukan
d. Pupil
: Tidak dilakukan
e. Ofthalmoscopy
: Tidak dilakukan
f. Motorik
: Tidak dilakukan
g. Sensibilitas
: Tidak dilakukan
h. Sistem Saraf Vegetatif: Tidak dilakukan
i. Fungsi Luhur
: Tidak dilakukan
j. Gangguan Khusus
: Tidak dilakukan
V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan Laboratorium
i.
Dilakukan pada tanggal
ii.
Hasil

: 10 Maret 2016
: Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Trombosit
Eritrosit
SGOT
SGPT
GDS
Ureum
Kreatinin
Urinalisa
Benzodiazepine
Cannabis
Opiate
8

: 15,66 gr/dL
: 8800 sel/uL
: 45 %
: 335 ribu sel/uL
: 5,2 juta sel/uL
: 37 U/L
: 40 U/L
: 87 mg/dL
: 25 mg/dL
: 1,04 mg/dL
: dalam batas normal
: negatif
: negatif
: negatif

Meth-amphetamine : negatif
MDMA
: negatif
VI.

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Telah diperiksa seorang laki-laki berusia 28 tahun, berpenampilan rapi dan
tampak sesuai usianya dirawat di RSKO dengan rujukan dari pihak kepolisian karena
penggunaan shabu. Pasien memiliki riwayat gangguan psikiatri tahun 2014 dan riwayat
penggunaan narkotika sejak tahun 2007.
Pasien mengalami perubahan sikap sejak 1 bulan SMRS. Pasien tidak mau
berangkat kerja dan hanya berada di rumah saja. Pasien terlihat lemah dan sehari-hari
hanya melakukan aktivitas seperti makan, tidur, menonton tivi dan sesekali keluar rumah
untuk bertemu temannya. Perawakan pasien tampak semakin kurus. Pasien menonton
televisi dengan volume yang tinggi dan sering memarahi ibunya saat ibunya menonton
televisi dengan alasan suara yang berisik sehingga pasien tidak bisa tidur. Pasien saat
sedang berada di kamar mandi pasien sering membuang-buang air hingga bak mandi
kering tetapi saat pasien keluar pasien menyangkal telah membuang-buang air. Pasien
tidak pernah tampak berbicara sendiri tetapi pasien beberapa kali tampak tertawa sendiri.
Pasien tampak lebih pendiam dan tertutup. Pasien juga tampak tidak pernah tidur saat
malam hari, dan baru tidur saat pagi hari. Pasien saat diajak berbicara sering tidak
nyambung dengan apa yang sedang dibicarakan. Pasien sudah pernah menggunakan
ganja sejak tahun 2003 dan shabu sejak tahun 2007, tetapi yang paling sering digunakan
adalah pasien adalah shabu.
Penampilan pasien dan sikapnya terhadap pemeriksa baik. Mood pasien hipotim
dengan afek yang terbatas. Gangguan persepsi yang ditemukan adanya halusinasi visual
berupa bayangan berbentuk bulat dan garis, halusinasi auditorik berupa larangan untuk
bunuh diri. Proses pikir inkoheren dan adanya pemikiran untuk bunuh diri. Setelah
menjalani perawatan pasien mengalami perubahan. Gangguan persepsi masih ada yaitu
halusinasi visual, halusinasi auditorik dan preokupasi untuk bunuh diri sudah tidak ada.
Kognitif, proses pikir, pengendalian impuls dan daya nilai cukup baik. Tilikan pasien
derajat 2. Penyakit sistemik lainnya yang berhubungan dengan gangguan jiwanya tidak
ditemukan. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan.

VII.

FORMULASI DIAGNOSTIK
Aksis I
9

Berdasarkan hasil pemeriksaan psikiatrik kepada pasien ditemukan adanya


gangguan pada perilaku dan pikiran pasien yang bermakna, yang mengakibatkan
penderitaan dan diikuti hendaya sosial yang nyata. Maka berdasarkan kriteria diagnosis
dari PPDGJ-III, pasien ini disimpulkan mengalami gangguan jiwa.
Pasien tidak pernah mengalami kelainan organik yang secara bermakna
mempengaruhi susunan saraf pusat. Pasien juga tidak pernah mengalami gangguan medis
atau penyakit berat hingga dirawat di rumah sakit. Dengan demikian kemungkinan
etiologi disebabkan oleh etiologi organik (F0) dapat disingkirkan.
Pada pasien ditemukan adanya riwayat penggunaan ganja dan shabu. Saat ini
pasien aktif memakai shabu. Penggunaan shabu oleh pasien telah dianggap sebagai
kondisi ketergantungan, berdasarkan adanya keinginan yang kuat untuk menggunakan
zat, adanya kesulitan untuk mengendalikan perilaku penggunaan zat, adanya keadaan
putus zat secara fisiologis yang membuat pasien menggunakan zat kembali untuk
menghilangkan gejala putus zat. Kondisi ini telah terjadi dalam waktu sekitar 2 bulan.
Jadi diagnosis aksis I pada pasien ini adalah gangguan mental dan perilaku akibat
penggunaan zat multipel dan penggunaan zat psikoaktif lainnya dengan sindrom
ketergantungan kini abstinen dalam lingkungan terlindung (F19.2.21)
Pada pasien ditemukan adanya riwayat gejala-gejala halusinasi visual berupa
melihat bayangan berbentuk bulat dan garis, halusinasi auditorik berupa bisikan larangan
untuk bunuh diri, pasien cenderung menyendiri, berkurangnya minat untuk beraktivitas,
adanya gagasan untuk bunuh diri, tidur terganggu, konsentrasi dan perhatian berkurang.
Kondisi ini telah terjadi dalam waktu sekitar 1 bulan terakhir. Tahun 2014 orang tua
pasien mengatakan pasien sering terlihat berbicara sendiri, tertawa sendiri dan sering
tidak nyambung saat diajak bicara. Terdapat halusinasi auditorik yang menyuruh pasien
untuk memukul ayahnya sampai pasien sulit tidur dan menutupi telinganya menggunakan
bantal, terdapat halusinasi visual berupa bayangan. Pasien juga pernah merasa bahwa
orang lain mengetahui pikirannya. Sejak dirawat di RS Budi Asih selama kira-kira 9
bulan atas rujukan dari BNN, orang tua pasien mengatakan kondisi pasien membaik.
Pasien dapat kembali bekerja, dapat berkomunikasi dengan baik, halusinasi dan waham
tidak timbul lagi sekitar kurang lebih 1 tahun. Sekitar 1 bulan SMRS, orang tua pasien
melihat perubahan perilaku pada pasien. Perubahan perilaku pasien seperti mulai malas
bekerja, tampak tertawa sendiri, pasien tampak lebih tertutup, orang tua pasien melihat
10

pasien membuang-buang air dalam bak mandi sampai kering tetapi pasien
menyangkalnya, dan pasien juga mulai tidak nyambung saat diajak berbicara. Jadi
diagnosis aksis I yang kedua pada pasien ini adalah skizofrenia residual (F20.5).
Aksis II
:
Tidak ditemukan adanya gangguan kepribadian dan retardasi mental
Aksis III
: Kondisi Medik Umum
Pasien tidak pernah mengalami gangguan medis ataupun penyakit berat hingga dirawat di
rumah sakit.
Aksis IV
: Masalah Psikososial dan Lingkungan
Pasien mempunyai masalah pergaulan dengan sesama pengguna narkoba.
Aksis V
: Global Assessment of Functioning (GAF)
Pasien tidak memiliki keinginan bekerja, cenderung menyendiri dan terlihat murung.
Gangguan persepsi yang ditemukan adanya halusinasi visual berupa bayangan berbentuk
bulat dan garis, halusinasi auditorik berupa larangan untuk bunuh diri. Proses pikir
inkoheren dan adanya pemikiran untuk bunuh diri.
GAF scale 51-60 = gejala sedang (moderate), disabilitas sedang
VIII. EVALUASI MULTIAKSIAL
1. Aksis I : gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat multipel dan
penggunaan zat psikoaktif lainnya dengan sindrom ketergantungan kini abstinen
dalam lingkungan terlindung (F19.2.21) , Skizofrenia Residual (F20.5)
Diagnosa Banding : - skizofrenia paranoid (F20.0)
- skizofrenia tak terinci (F20.3)
2. Aksis II : Gangguan kepribadian emosional tak stabil (F60.3)
3. Aksis III : Tidak ada
4. Aksis IV : Masalah pergaulan dengan sesama pengguna narkoba
5. Aksis V : GAF scale 51-60 = gejala sedang (moderate), disabilitas sedang
IX.

X.

PROGNOSIS
Ad vitam
Ad fungsionam
Ad sanactionam

: bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

DAFTAR PROBLEM
1. Organobiologi
2. Psikiatri / psikologi

: tidak ada
: mood hipotim, afek terbatas, halusinasi visual, halusinasi

auditorik
11

3. Sosial / keluarga
XI.

: masalah pergaulan dengan sesame pengguna narkoba

TERAPI
1. Farmakoterapi
Risperidon 2 x 2 mg
THP 1 x 0,5 mg
Clozapine 1 x 12,5 mg (kalau perlu)
2. Psikoterapi dan Edukasi
Psikoedukasi kepada pasien dan keluarga mengenai zat yang digunakan, dampak,

efek dan resiko terhadap kesehatan


Edukasi untuk membantu pasien supaya dapat mengerti keadaan yang sekarang
dan mengatasi permasalahannya yang ada dan menyesuaikan diri dengan

lingkungannya.
Edukasi terhadap keluarga pasien tentang keadaan pasien, dan memberi edukasi
kepada keluarga untuk ikut serta dalam proses pemulihan pasien, sehingga pasien

mendapat dukungan dari keluarga.


Melibatkan pasien dalam kegiatan-kegiatan di rumah sakit
Memberitahukan pentingnya keteraturan pasien dalam melakukan kontrol dan
mengkonsumsi obat secara teratur dan berlanjut.

12