Anda di halaman 1dari 17
LAPORAN PENDAHULUAN WAHAM Disusun oleh : Anis Hidayah Destini Puji Lestari Diana Rahmawati Fahmi Sya’rani Fransisca

LAPORAN PENDAHULUAN WAHAM

Disusun oleh :

Anis Hidayah Destini Puji Lestari Diana Rahmawati Fahmi Sya’rani Fransisca Ayu S.M. Intan Cahya Alfiana Kartika Ekawati Nurul Imaroh Prima Sharah S.

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG, 2015

Laporan Pendahuluan Waham

  • A. Definisi Waham Waham adalah suatu keyakinan kokoh yang salah dan tidak sesuai dengan fakta dan keyakinan yang mungkin aneh (missal, otak saya adalah computer yang dapat mengontrol dunia) atau tidak aneh (misalnya, kopasus selalu mengikuti saya). (Tomb, 2003) Waham adalah keyakinan yang salah, tidak rasional, namun diyakini kebenarannya. (Surbakti, 2010) Waham adalah keyakinan yang salah yang dipegang dengan ketaatan absolud dan tidak dapat memberikan jawaban terhadap argumentasi (tidak dapat dikoreksi) atau penjelasan yang sesuai dengan budaya pasien, mungkin aneh dan mungkin juga tidak. (Davies, 2009) Waham menurut Depkes RI (2000) adalah keyakinan klien yang berasal dari pemikiran klien yang sudah kehilangan control dan tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi dipertahankan dan tidak dapat diubah secara logis oleh orang lain. Waham menurut Keliat (1999) adalah suatu keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah, keyakinan yang tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya, ketidakmampuan merespons stimulus internal dan eksternal melalui proses interaksi tau informasi secara akurat.

  • B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Waham

    • 1. Faktor predisposisi Menurut Direja (2011) terdapat lima faktor predisposisi waham, yaitu :

      • a. Faktor perkembangan Hambatan

perkembangan

dapat

mengganggu

hubungan

interpersonal seorang individu. Hal ini akan meningkatkan stress dan ansietas yang berakhir dengan gangguan persepsi, klien menekan perasaannya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi menjadi tidak efektif.

  • b. Faktor sosial budaya Seorang individu yang kesepian dan merasa diasingkan dari lingkungan dapat menyebabkan timbulnya waham.

  • c. Faktor psikologis Waham dapat disebabkan karena hubungan yang tidak harmonis ataupun menjalani peran ganda/bertentangan. Hal ini dapat

menimbulkan ansietas yang berakhir dengan pengingkaran

terhadap kenyataan.

  • d. Faktor biologis Waham diyakini terjadi karena adanya atrofi otak, pembesaran ventrikel pada otak, serta terdapat perubahan pada sel kortikal dan limbik.

  • e. Faktor genetik

  • 2. Faktor Presipitasi Dalam

Direja

(2011)

faktor

presepitasi

waham

dapat

dibedakan

menjadi tiga, yaitu :

  • a. Faktor sosial budaya Waham dapat dipicu karena adanya perpisahan dengan orang yang berarti. Selain itu pengasingan atau pengucilan dari kelompok masyarakat juga dapat menjadi pemicu waham.

  • b. Faktor biokimia Obat-obat farmakologis seperti dopamine, norepineprin, dan zat halusinogen lainnya diduga dapat menjadi penyebab waham.

  • c. Faktor psikologis Kecemasan serta terbatasnya kemampuan individu dalam mengatasi masalah dapat menyebabkan waham. Seseorang yang tidak mampu mengembangkan koping efektif cenderung menghindari kenyataan dan hidup dalam fantasi menyenangkan yang dibuatnya sendiri.

  • C. Jenis-Jenis Waham

    • 1. Waham kebesaran Keyakinan secara berlebihan bahwa dirinya memiliki kekuatan khusus atau kelebihan yang berbeda dengan orang lain, diucapkan berulang- ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh: “saya ini pejabat di kementrian kesehatan!” “saya punya perusahaan paling besar di dunia lho ” ...

    • 2. Waham agama Keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh: “kalau saya mau masuk syurga, saya harus memakai pakaian serba putih dan mengalungkan tasbih setiap hari.” “saya adalah Tuhan yang bisa mengendalikan makhluk.”

Keyakinan seseorang atau sekelompok orang berusaha merugikan atau mencederai dirinya, diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh:

“Saya tahu ...

semua keluarga saya ingin menghancurkan hidup saya

karena mereka semua iri dengan kesuksesan yang dialami saya.”

  • 4. Waham somatik Keyakinan seseorang bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu atau terserang penyakit, diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh: “Saya menderita kanker” (Padahal hasil pemeriksaan lab tidak ada sel kanker pada tubuhnya).

  • 5. Waham nilistik Keyakinan seseorang bahwa dirinya sudah meninggal dunia, diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh: “ini alam kubur kan ya? Semua yang ada disini adalah roh-roh.”

  • D. Tindakan Keperawatan

    • 1. Tindakan keperawatan untuk pasien

a.

Tujuan

 

1)

Pasien dapat berorientasi kepada realitas secara bertahap

2)

Pasien dapat memenuhi kebutuhan dasar

3)

Pasien mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan

4)

Pasien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar

 

b. Tindakan

 
 

1)

Bina hubungan saling percaya

 

2)

Sebelum memulai mengkaji

pasien dengan waham,

 

saudara harus membina hubungan saling percaya terlebih dahulu agar pasien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan saudara. Tindakan yang harus saudara lakukan dalam rangka membina hubungan saling percaya adalah:

  • a) Mengucapkan salam terapeutik,

 
  • b) Berjabat tangan,

 
  • c) Menjelaskan tujuan interaksi,

 
  • d) Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap

 

3)

kali bertemu pasien. Bantu orientasi realita

 
 
  • a) Tidak mendukung atau membantah waham pasien.

  • b) Yakinkan pasien berada dalam keadaan aman.

  • c) Observasi pengaruh waham terhadap aktivitas

sehari-hari.

  • d) Jika

pasien

terus

menerus

membicarakan

wahamnya dengarkan tanpa memberikan dukungan atau

menyangkal sampai pasien berhenti membicarakannya.

  • e) Berikan

pujian

bila

penampilan

dan

orientasi

 

4)

pasien sesuai dengan realitas. Diskusikan kebutuhan psikologis/emosional yang tidak terpenuhi sehingga menimbulkan kecemasan, rasa takut dan marah.

5)

Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan

 

fisik dan

emosional pasien.

 

6)

Berdikusi tentang kemampuan positif yang dimiliki.

7)

Bantu melakukan kemampuan yang dimiliki.

8)

Berdiskusi tentang obat yang diminum.

9)

Melatih minum obat yang benar.

Contoh SP :

SP 1 Pasien : Membina hubungan saling percaya; mengidentifikasi

kebutuhan yang tidak terpenuhi dan cara memenuhi

kebutuhan; mempraktekkan pemenuhan kebutuhan yang

tidak terpenuhi.

ORIENTASI:

“Selamat pagi, perkenalkan nama saya Perawat A, saya perawat Puskesmas

....

,

saya merawat Bapak dengan melakukan kunjungan rutin ke mari. Nama

Bapak siapa, senangnya dipanggil apa?”

“Bisa kita berbincang-bincang tentang apa yang Tn. P rasakan sekarang?”

“Berapa lama Tn. P mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15

menit?”

“Dimana enaknya kita berbincang-bincang, pak?”

KERJA:

“Saya mengerti Tn. P merasa bahwa Tn. P adalah suami dari Bella dan Raline,

tapi sulit bagi saya untuk mempercayainya karena setahu saya Bella dan

Raline belum menikah, bisa kita lanjutkan pembicaraan yang tadi terputus

Pak?”

“Tampaknya Tn. P gelisah sekali, bisa Tn. P ceritakan apa yang Tn. P

 

rasakan?”

“O

...

jadi Tn. P merasa sedih karena bercerai dengan istri Tn.P.” “Jadi istri

Tn.P merasa tidak bahagia karena Tn.P hanya seorang tukang parkir.”

“Lalu, apa lagi yang tuan rasakan?”

“Apakah Tn. P merasa istri Tn. P terlalu boros dan tidak bisa mengatur

pengeluaran untuk kebutuhan rumah tangga ?”

“Siapa menurut Tn. P yang pantas menjadi istri Tn. P ?”

“Kalau Tn. P sendiri inginnya istri yang seperti apa? Ciri-cirinya yang

bagaimana ?”

 

“O

...

bagus Tn. P sudah menentukan kriteria dari istri yang Tn. P inginkan”

“Coba kita tuliskan kriteria dan ciri-ciri tersebut”

“Wah

bagus

sekali, jadi setiap harinya Tn. P ingin agar istri Tn. P menuliskan

kebutuhan yang harus dipenuhi dan tidak harus dipenuhi agar bisa hemat ya “

TERMINASI

Bagaimana perasaan Tn. P setelah berbincang-bincang dengan saya?”

”Apa saja tadi yang telah kita bicarakan? Bagus”

“Bagaimana kalau jadual ini Tn. P coba lakukan, setuju Pak?”

“Bagaimana kalau saya datang kembali dua jam lagi?”

”Kita bercakap-cakap tentang kemampuan yang pernah Tn. P miliki? Mau di

mana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di sini lagi?”

SP 2 Pasien :

Mengidentifikasi kemampuan positif pasien dan membantu

mempraktekkannya.

ORIENTASI

“Selamat pagi Tn. P, bagaimana perasaannya saat ini? Bagus!”

“Apakah Tn. P sudah mengingat-ingat apa saja hobi atau kegemaran abang?”

“Bagaimana kalau kita bicarakan hobi dan kesenangan Tn. P tersebut sekarang?”

“Dimana ya enaknya kita berbincang-bincang tentang hobi Tn. P tersebut?”

“Oke, di taman ya. Berapa lama Tn. P mau kita berbincang-bincang? Bagaimana

kalau 20 menit? Setuju ya?. Baik kita mulai sekarang.”

KERJA

“Apa saja hobby Tn. P? Saya catat ya Tn. P, terus apa lagi?”

“Wah

..

,

rupanya Tn. P suka menulis ya. Menulis apa Tn. P? Ohh, cerita pendek dan

puisi. Bagus Tn. P tidak semua orang bisa menulis cerpen seperti itu lho” (atau yang

lain sesuai yang diucapkan pasien).

“Bisa Tn. P ceritakan kepada saya kapan pertama kali belajar menulis, siapa yang

dulu mengajarkannya kepada Tn. P, dimana?”

“Ooh, Tn. P belajar sewaktu sekolah ya. Tn. P masih sering menulis?”

“Begitu ya, jadi istri Tn.P sangat menyukai tulisan Tn. P ya.”

“Bisa Tn.P tuliskan puisi atau sedikit cerita untuk saya”

“Wah

..

bagus

sekali puisi buatan Tn. P ya”

“Coba kita buat jadual untuk kemampuan Tn. P ini ya, berapa kali sehari/seminggu

Tn. P mau menulis?”

“Apa yang bang Tn. P harapkan dari kemampuan menulis ini?”

“Ada tidak hobi atau kemampuan Tn. P yang lain selain menulis?”

TERMINASI

“Bagaimana perasaan Tn. P setelah kita bercakap-cakap tentang hobi dan

kemampuan Tn. P?”

“Setelah ini coba Tn. P menulis sesuai dengan jadual yang telah kita buat ya?”

“Besok kita ketemu lagi ya?”

“Bagaimana kalau besok sebelum makan siang? Di ruang tamu saja, ya setuju?”

“Nanti kita akan membicarakan tentang obat yang harus Tn. P minum, setuju?”

SP 3 Pasien :

Mengajarkan dan melatih cara minum obat yang benar

ORIENTASI

“Selamat pagi Tn P.”

“Bagaimana Tn. sudah dicoba latihan menulis cerpen dan puisinya? Wah,Bagus

sekali”

“Nah, sesuai dengan janji kita dua hari yang lalu bagaimana kalau sekarang kita

membicarakan tentang obat yang Tn. P minum?”

“Sebaiknya dimana kita akan berbincang-bincang? Oh, Di ruang tamu ini saja?”

“Kira-kira berapa lama Tn. P ingin kita berbincang-bincang? 20 atau 30 menit?

KERJA

“Tn. P ini ada berapa macam obat yang diminum/ Jam berapa saja obat diminum?”

“ Tn. P perlu minum obat ini agar pikirannya jadi tenang, tidurnya juga tenang”

“Obatnya ada tiga macam Tn., yang warnanya oranye namanya CPZ gunanya agar

tenang, yang putih ini namanya THP gunanya agar rileks, dan yang merah jambu

ini namanya HLP gunanya agar pikiran jadi teratur. Semuanya ini diminum 3 kali

sehari jam 7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7 malam”.

“Bila nanti setelah minum obat mulut Tn. P terasa kering, untuk membantu

mengatasinya Tn. P bisa minum sebanyak-banyaknya dan mengisap-isap es batu”.

“Sebelum minum obat ini, jangan lupa Tn. P dan ibu mengecek dulu label di kotak

obat apakah benar nama Tn. P tertulis disitu, berapa dosis atau butir yang harus

diminum, jam berapa saja harus diminum dan baca juga apakah nama obatnya sudah

benar”

“Obat-obat ini harus diminum secara teratur dan kemungkinan besar harus diminum

dalam waktu yang lama. Agar tidak kambuh lagi sebaiknya Tn. P tidak menghentikan

sendiri obat yang harus diminum sebelum berkonsultasi dengan dokter”.

TERMINASI

“Bagaimana perasaan Tn. P setelah kita berbincang-bincang tentang obat yang Tn. P

minum? Coba apa saja nama obatnya? Jam berapa obat diminum?”

“Mari kita masukkan pada jadwal kegiatan Tn. P. Jangan lupa minum obatnya dan

nanti saat makan minta sendiri obatnya pada suster ya”

“Jadwal yang telah kita buat kemarin dilanjutkan ya Tn.!”

“Tn. P, besok kita ketemu lagi untuk melihat jadwal kegiatan yang telah dilaksanakan.

Bagaimana kalau seperti biasa? Bagaimana kalau jam 10 dan di sini?”

“Sampai besok.”

2.

Tindakan keperawatan untuk keluarga

  • a. Tujuan :

 

1)

Keluarga mampu mengidentifikasi waham pasien.

 

2)

Keluarga

mampu

memfasilitasi

pasien

untuk

memenuhi

kebutuhan yang dipenuhi oleh wahamnya.

3)

Keluarga mampu mempertahankan program pengobatan pasien

secara optimal.

 
  • b. Tindakan :

 

1)

Diskusikan

masalah

yang dihadapi keluarga saat merawat

pasien di rumah.

2)

Diskusikan dengan keluarga tentang waham yang

dialami

pasien

3)

Diskusikan

dengan

keluarga

tentang cara merawat pasien

waham dirumah, follow up dan keteraturan pengobatan, dan

lingkungan yang tepat untuk pasien.

 

4)

Diskusikan dengan keluarga tentang obat pasien (nama obat,

dosis, frekuensi, efek samping, akibat penghentian obat).

 

5)

Diskusikan dengan keluarga kondisi pasien yang memerlukan

konsultasi segera.

 

6)

Latih cara merawat.

7)

Menyusun rencana pulang pasien bersama keluarga.

 

Contoh SP

SP 1 Keluarga : Membina hubungan saling percaya dengan keluarga,

mengidentifikasi masalah menjelaskan proses terjadinya

masalah, dan obat pasien.

FASE ORIENTASI

“Selamat pagi ibu, perkenalkan saya Perawat A, saya adalah perawat yang

dinas di Rumah Sakit Amino ini, kebetulan Saya yang merawat Tn. P selama

dirawat disini. Nama ibu siapa, senangnya dipanggil siapa?”

“Bagaimana kalau sekarang kita membicarakan tentang masalah Tn. P dan

cara merawat Tn. P ketika di rumah nanti?”

“Dimana kita mau berbicara? Bagaimana kalau di ruang tamu ini?”

“Berapa lama waktu bapak dan ibu? Bagaimana kalau 30 menit”

FASE KERJA

“Ibu, apa masalah yang Ibu rasakan dalam merawat Tn. P? Apa saja yang

sudah dilakukan di rumah?Dalam menghadapi sikap Tn. P yang selalu

mengaku-ngaku sebagai seorang suami dari seorang artis LBC dan RS tetapi

nyatanya bukan suami dari mereka berdua merupakan salah satu gangguan

proses berpikir. Untuk itu akan saya jelaskan sikap dan cara menghadapinya.

Setiap kali Tn. P berkata bahwa ia seorang suami dari LCB dan RS

mengatakan pertama:

“Ibu mengerti Tn. P merasa seorang suami dari mereka berdua, tapi sulit bagi

ibu untuk mempercayainya, karena Tn. P tidak pernah ada riwayat bertemu

mereka, dan mereka adalah seorang artis yang tinggal ditempat berbeda pula.”

“Kedua: ibu harus lebih sering memuji Tn. P jika ia melakukan hal-hal yang

baik. Misalnya ketika Tn. P selesai makan langsung membersihkan piringnya

sendiri.”

“Ketiga: hal-hal ini sebaiknya dilakukan oleh seluruh keluarga yang

berinteraksi dengan Tn. P”

“Ibu dapat bercakap-cakap dengan Tn. P tentang kebutuhan yang diinginkan

oleh Tn. P, misalnya: “Ibu percaya Tn. P punya kemampuan dan keinginan.

Coba ceritakan kepada ibu. Tn. P kan punya kemampuan

............

(kemampuan yang pernah dimiliki oleh Tn. P )

“Keempat: Bagaimana kalau dicoba lagi sekarang?”(Jika Tn. P mau mencoba

berikan pujian) “Bu, Tn. P juga perlu minum obat ini agar pikirannya jadi

tenang, tidurnya juga tenang”

“Obatnya ada tiga macam, yang warnanya oranye namanya CPZ gunanya

agar tenang, yang putih ini namanya THP guanya supaya rileks, dan yang

merah jambu ini namanya HLP gunanya agar pikiran tenang semuanya ini

harus diminum secara teratur 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7

malam, jangan dihentikan sebelum berkonsultasi dengan dokter karena dapat

menyebabkan Tn. P kambuh kembali” (Libatkan keluarga saat memberikan

penjelasan tentang obat kepada klien). Tn. P sudah mempunyai jadwal minum

obat. Jika dia minta obat sesuai jamnya, segera beri pujian.

FASE TERMINASI

“Bagaimana perasaan Ibu setelah kita bercakap-cakap tentang cara merawat

Tn. P di rumah?”

“Setelah ini coba nanti ibu lakukan apa yang sudah saya jelaskan tadi setiap

kali.”

“Baiklah bagaimana kalau dua hari lagi saya datang kembali kesini dan kita

akan mencoba melakukan langsung cara merawat Tn. P sesuai dengan

pembicaraan kita tadi”

“Jam berapa ibu bisa ?”

“Baik saya tunggu, kita ketemu lagi di tempat ini ya bu, selamat siang ibu ” ..

SP 2 Keluarga : melatih keluarga cara merawat pasien

ORIENTASI

“Selamat pagi Ibu, sesuai janji kita dua hari yang lalu, hari ini kita bertemu lagi”

“Bagaimana Bu, apakah ada pertanyaan tentang cara merawat Tn. P seperti yang kita

bicarakan dua hari yang lalu?”

“Sekarang kita akan latihan cara-cara merawat tersebut ya,Bu?”

“Kita akan coba disini terlebih dahulu, setelah itu baru kita coba langsung ke Tn. P

ya?”

“Kira-kira Ibu punya waktu berapa lama?”

KERJA

“Sekarang anggap saya Tn. P yang sedang mengaku-aku sebagai suami dari artis LCB

dan RS, coba ibu praktekkan cara bicara yang benar bila Tn. P sedang dalam keadaan

yang seperti itu”

“Bagus Bu, betul begitu caranya”

“Sekarang coba Ibu praktekkan cara memberikan pujian kepada kemampuan yang

dimiliki oleh Tn. P. Bagus Ibu.”

“Sekarang coba Ibu praktikkan cara memotivasi Tn. P untuk minum obat dan

melakukan kegiatan positifnya sesuai jadwal.”

“Bagus sekali Ibu, ternyata Ibu sudah mengerti cara merawat Tn.P”

“Ibu, bagaimana kalau sekarang kita mencobanya langsung kepada Tn. P?”

(Ulangi lagi semua cara diatas langsung kepada pasien)

TERMINASI

“Ibu A, bagaimana perasaan Ibu setelah kita berlatih cara merawat Tn. P?”

“Setelah ini coba Ibu lakukan apa yang sudah dilatih tadi setiap kali Ibu membesuk

Tn. P di rumah sakit”

“Baiklah bagaimana kalau dua hari lagi Ibu datang kembali kesini dan kita akan

mencoba lagi cara merawat Tn. P sampai Ibu lancar melakukannya”

“Jam berapa Ibu bisa kemari?”

“Baik saya tunggu, kita ketemu lagi di tempat ini ya Bu. Terima kasih, Bu”

SP 3 Keluarga : Menjelaskan perawatan lanjutan pasien

ORIENTASI

“Selamat pagi bu, berkaitan dengan jadwal kepulangan Tn. P bagaimana kalau

kita membahas rencana perawatan Tn. P?”

“Sekarang bagaimana kalau kita membahas tentang jadwal kegiatan Tn. P di

rumah? Silahkan ibu duduk disini agar lebih nyaman,”

“untuk membahas ini ibu punya waktu berapa lama? Baik 30 menit saja, sebelum

Ibu menyelesaikan administrasi di depan.”

KERJA

“Baik Bu, ini jadwal Tn. P yang sudah dibuat. Silahkan dibaca dan diperhatikan.

Apakah kira-kira yang ditulis disini dapat dilaksanakan semua? Ibu bisa

memperhatikan Tn. P, agar Tn. P tetap menjalankan jadwal yang sudah disusun

ini di rumah, dan jangan lupa memberi tanda M (mandiri), B (bantuan), atau T

(tidak mau melaksanakan) pada kolom yang tersedia.”

“Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan

oleh kakak ibu selama di rumah. Kalau misalnya Tn. P mengaku menikahi artis

secara terus menerus dan tidak memperlihatkan perbaikan, menolak minum obat

atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi

segera hubungi Suster I di Puskesmas Suka Sari, Puskesmas terdekat dari rumah

ibu, ini nomor telepon puskesmasnya: (0281) 321xxx.

Selanjutnya suster I yang akan membantu memantau perkembangan Tn. P selama

di rumah”

TERMINASI

“Bagaimana penjelasan saya bu? Apakah ada yang ditanyakan? Sudah siap

melanjutkan penjelasan di rumah?”

“Ini jadwal kegiatan hariannya. Ini rujukan untuk Suster I di Puskesmas Suka

Sari. Kalau Ibu boleh juga menghubungi kami. Sampai jumpa bu, semoga kondisi

Tn. P. Semakin membaik!”

DAFTAR PUSTAKA

Davies, Teifion. 2009. ABC kesehatan mental. Jakarta: EGC.

Direja, Ade Herman Surya. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa.

Yogyakarta: Nuha Medika.

Tomb, David A. 2003. Buku saku psikiatri, Edisi 6. Jakarta: EGC.

Surbakti. 2010. Gangguan kebahagiaan anda dan solusinya. Jakarta: PT. Elex

Media Komputindo.