Anda di halaman 1dari 18

Modul

Gelombang Panjang
Fluktuasi muka air laut tidak hanya disebabkan oleh gelombang yang dapat dengan
mudah dilihat mata. Gelombang gelombang yang terlihat mata tersebut disebabkan
oleh angin dengan ciri perioda gelombangnya yang relatip pendek. Gelombang
angina berperioda beberapa detik saja. Gelombang lain yang tak tampak secara
bersama-sama puncak dan lembahnya adalah gelombang pasang-surut. Gelombang
ini disebabkan oleh gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi. Gelombang
pasang surut berperioda panjang dengan perioda terpendeknya sekitar 12 jam.
Selain gelombang pasang surut ada beberapa gelombang panjang (lebih tepatnya :
berperioda panjang) yang disebabkan oleh hal-hal lain. Secara singkat beberapa
gelombang panjang tersebut meliputi :
gelombang pasang surut
gelombang tsunami
gelombang badai
gelombang oskilasi
dll
Gelombang pasang surut, kejadiannya relatip teratur sesuai dengan pembangkitnya
yaitu bulan dan matahari. Perputaran bulan dan bumi yang teratur menyebabkan
gelombang pasang surut yang teratur pula. Keteraturan inilah yang menyebabkan
gelombang pasang surut lebih mudah diprediksi dibanding gelombang yang lain.
Gelombang tsunami dapat dibangkitkan oleh banyak hal misalnya tanah longsor,
letusan gunung berapi bawah laut, dislokasi atau gerakan tanah dasar perairan.
Sedemikan besarnya longsoran, letusan maupun gerakan tanah dasar tersebut
sehingga membangkitkan gelombang panjang yang menjalar ke pantai. Gelombang
tsunami ini mempunyai perioda antara beberapa menit hingga satu jam. Gelombang
oskilasi dalam kolam pelabuhan misalnya terjadi karena adanya ketidakseimbangan
muka air. Hal ini dapat disebabkan misalnya oleh gempa bumi, hembusan angin.
Perioda gelombang ini tergantung pada pembangkitnya dan maksimum tergantung
pada panjang daerah untuk terjadinya osilasi. Gelombang badai disebabkan oleh
badai.

3.1

Teori Pasang Surut


Pasang surut adalah fenomena naik dan turunnya muka air laut secara berulang
(periodik) dengan perioda tertentu, akibat adanya gaya tarik menarik bumi dan
benda-benda langit lainnya. Dua benda langit yang sangat berpengaruh pada
pasang surut bumi adalah matahari, yang memberikan pengaruh signifikan karena
masa-nya yang besar, dan bulan, yang memberikan pengaruh signifikan karena
jaraknya yang dekat dengan bumi. Benda-benda langit yang lain tidak
diperhitungakan.
Untuk menggambarkan fenomena pasang surut, suatu teori keseimbangan digagas
oleh George H. Darwin (1898). Dalam teori ini diasumsikan bahwa bumi benar-benar
bulat dan semua permukaan bumi diasumsikan tertutup oleh lapisan air dengan
kedalaman yang sama. Karena adanya gaya tarik menarik, masa air akan bergerak
hingga mencapai suatu keseimbangan. Gaya pasang surut ditentukan oleh besar
Modul 3. Psang Surut

3-1

massa dan juga jarak antara massa tersebut seperti yang diterangkan melalui
persamaan gaya tarik gravitasi berikut ini:
Gm1 m 2
F=
r2
Pada persamaan di atas, r adalah jarak antar pusat benda dengan masa m1 dan m2,
dan G adalah suatu konstanta gravitasi yaitu 6.6x10-6m2N/kg2.
Keadaan seimbang ini akan terjadi bila permukaan air tegak lurus terhadap resultan
gaya gravitas dan gaya pembangkit pasang surut. Keseimbangan ini diasumsikan
terjadi setiap saat. Matahari dan bulan yang posisinya selalu berubah terhadap bumi
akan menyebabkan permukaan air dalam keadaan setimbang akan selalu bergerak
pada setiap titik di permukaan bumi.
Pada keadaan sebenarnya, bumi terdiri dari daratan dan lautan dengan kedalaman
yang berbeda sehingga teori keseimbangan tidak akan dapat diterapkan secara
langsung tanpa memperhitungkan pengaruh geografi. Tetapi ada beberapa hal yang
ternyata dapat dipakai untuk memperhitungkan karakteristik dari pasang surut yang
terjadi di suatu tempat tertentu. Pada teori keseimbangan didapatkan komponen
yang berpengaruh pada pasang surut akiba dari gerakan bulan dan matahari ralatif
terhadap bumi. Komponen tersebut mempunyai kecepatan sudut tertentu yang selalu
tetap. Doodson (1921) telah menemukan 396 komponen pasang surut yang memiliki
frekuensi berbeda,menampilkan konstituen pasang surut penting yang biasa
digunakan.
Adanya pengaruh daratan dan kedalaman yang berbeda sehingga menimbulkan
pemantulan, peredaman dan distorsi, menyebabkan adanya perbedaan fasa dan
amplitudo untuk suatu tempat tertentu dibandingkan dengan keadaan pada teori
keseimbangan.

3.2

Gelombang pasang surut antara teori kesetimbangan dan kenyataan.

Gelombang pasang surut dalam pendekatan teoritis


Perlu dipahami sekali lagi bahwa teori tentang gaya yang bekerja yang dapat
membangkitkan gelombang pasang surut didasarkan pada beberapa asumsi. Secara
singkat asumsi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Seluruh muka bumi diselimuti oleh air
Asumsi ini berarti mengabaikan pengaruh adanya daratan, pulau, benua dengan
bentuk dan karakter yang berbeda. Pengaruh daratan sangat besar dalam
pembangkitan gelombang pasang surut. Misalnya, massa air yang seharusnya ditarik
ke arah tertentu karena terhalang pulau atau benua, terpaksa terhenti. Bentuk pulau
atau benua juga berpengaruh terhadap berkumpulnya massa air.
2. Kondisi setimbang
Hal ini berarti seolah-olah air tidak mengalir dan tidak perlu waktu untuk mencapai
posisi setimbang. Pada waktu bumi berotasi gaya tarik untuk tiap lokasi berubah.
Perubahan tonjolan berarti gerakan massa air untuk membuat tonjolan di lokasi
seperti yang ditunjukkan pada gambar. Gerakan air ini membutuhkan waktu. Hal ini
terabaikan karena asumsi setimbang ini. Selain itu pada waktu bumi berotasi, bulan
walaupun sedikit telah bergerak sehingga berubah lokasinya. Ini juga terabaikan.
Akibat asumsi setimbang, padahal hal ini tak pernah terjadi, mengakibatkan semua
akibat hidrodinamika (misalnya pengaruh kedalaman air, momentum, resonansi,
refraksi, pendangkalan, dll) terabaikan.
Modul 3. Psang Surut

3-2

3. Gaya Corioli diabaikan


Gaya Corioli adalah gaya pada partikel yang bergerak dipermukaan benda berbentuk
mirip bola (misalnya bumi) yang berotasi. Karena kecepatan rotasi linier yang tak
sama di katulistiwa dan di kutub, maka gaya sentrifugalnya di kedua lokasi tersebut
juga berbeda, yang berakibat pada perbedaan tinggi tonjolan atau elevasi muka air
dari daratan. Air di kutub utara cenderung ditarik ke selatan. Semakin cepat rotasi,
semakin besar gaya tarik ke selatan tersebut. Demikian pula sebaliknya air di kutub
selatan akan di tarik ke utara. Dengan demikian jika bumi bergerak searah rotasi,
maka seolah olah benda tersebut berada pada bumi yang rotasinya lebih cepat.
Sebaliknya jika materi bergerak berlawanan dengan rotasi. Dengan demikian jika di
sebelah utara katulistiwa materi bergerak searah rotasi akan ditarik ke selatan.
Sebaliknya jika bergerak berlawanan arah dengan rotasi akan ditarik ke utara.
Pada sebuah garis bujur (misalnya xo) jika di sebelah utara katulistiwa, materi
bergerak ke utara, kecepatan linier rotasinya diperlambat. Namun demikian benda
tersebut tetap tidak jatuh di lokasi garis bujur xo di lintang yang lebih tinggi, karena
pernah mengalami kecepatan ke arah rotasi yang lebih besar saat berada di
lokasilintang yang lebih rendah.
Dengan demikian partikel tersebut akan terdorong ke arah kanan. Sebaliknya jika
disebelah utara partikel bergerak ke selatan akan didorong ke kiri
Dari bahasan di atas, partikel di sebelah utara katulistiwa, jika bergerak akan
cenderung berputar searah jarum jam. Sebaliknya di sebelah selatan katuilstiwa
akan dibelokkan berkebalikan dengan arah jarum jam.
Pada permukaan air di bumi, gaya Corioli berpengaruh terhadap tinggi rendahnya
muka air. Pada suatu selat yang mengarah ke arah utara selatan, jika gelombang
pasang ke arah utara dan surut mengarah ke selatan, gaya Corioli akan
mengakibatkan elevasi di sebelah kanan selat lebih tinggi saat pasang dan lebih
rendah saat surut jika dibandingkan dengan di sebelah timur.
Besaran Gaya Corioli adalah fc=2 sin
dengan dan berturut turut adalah kecepatan rotasi radial dan sudut garis lintang.
Dari bahasan di atas tampak bahwa secara teoritis pengaruh gaya-gaya matahari
bumi bulan dapat dihitung sehingga fluktuasi muka air dapat diperkirakan. Tipe
pasang surut, misalnya semi diurnal dan diurnal, dapat ditentukan lokasinya.
Misalnya di sekitar katulistiwa, jenis pasang surut adalah semi diurnal.
Namun karena pada saat menurunkan persamaan gaya pembangkit gelombang
pasang surut telah dilakukan asumsi yang cukup berpengaruh, maka gelombang
pasang surut yang terjadi di bumi ternyata jauh dari teori. Oleh karenanya perlu dicari
cara untuk memprediksi gelombang pasang surut dengan lebih akurat.
Gelombang pasang surut dalam kenyataan
Akibat beberapa asumsi di atas, gelombang pasang surut yang terjadi di bumi
berbeda dengan teorinya. Perbedaan itu terjadi diantaranya pada amplitudo
gelombang pasang surut. Walaupun demikian karena perioda pembangkit
gelombang pasang surut (system bumi-bulan -matahari) mempunyai perioda yang
konstan maka perioda gelombang pasang
surut yang terjadi juga konstan. Gelombang pasang surut terjadi dari ratusan
gelombang sinusoidal yang tercampur jadi satu. Tetapi karena tiap gelombang
mempunyai perioda dan amplitudo konstan maka gelombang pasang surut dari
ratusan gelombang sinusoidal tersebut menjadi ritmik. Gelombang sinusoidal
pembentuk gelombang pasang surut tersebut disebut sebagai konstanta pasang
Modul 3. Psang Surut
3-3

surut. Gelombang pasang surut akan terulang dengan hampir tepat setelah sekitar
19 tahun. Gelombang pasang surut mengalami pasang spring tiap dua minggu
sekali. Atau dapat dikatakan gelombang pasang surut terulang tiap dua minggu.
Karena sifat terulang tersebut gelombang pasang surut dapat diprediksi tingginya
dengan tepat kalau diketahui gelombang pasang surut tersebut selama waktu
tertentu sebelum saat yang diprediksi. Untuk maksud tersebut (prediksi gelombang
pasang surut) maka gelombang pasang surut perlu diamati selama waktu tertentu.
Pengamatan dilakukan dengan mengukur tinggi muka air tiap tiap jam. Dari hasil
pengukuran tinggi muka air laut ini elemen (amplitudo, perioda dan phasenya saat
itu) dapat ditentukan. Selanjutnya jika elemen pasang surut telah diketahui beserta
dengan phasenya saat itu maka gelombang pasang surut dapat diprediksi dengan
penjumlahan gelombang pasang surut dari tiap-tiap konstanta.
Tabel 3.1

Konstituen Penting yang Biasa Dipakai dalam Analisa Pasang Surut


No.
Konstituen
Keterangan
Perioda
pasang surut
(jam)
1
M2
Principal lunar
12.24
2
S2
Principal solar
12.00
3
N2
Larger lunar elliptic
12.66
4
K2
Luni-solar semi diurnal
11.97
5
K1
Luni-solar diurnal
23.93
6
O1
Principal lunar diurnal
25.82
7
P1
Principal solar diurnal
24.07
8
M4
6.21
9
MS4
6.10
Karena masing-masing benda langit yang mempengaruhi pasang surut beredar
menurut orbitnya masing-masing, posisi bumi-bulan-matahari selalu berbeda-beda.
Hal itu menyebabkan berubahnya gaya pembangkit pasang surut pada tiap waktu,
dan menyebabkan berubahnya tinggi pasang surut di suatu daerah pada waktu ke
waktu. Pada saat posisi bumi-bulan-matahari berada dalam satu garis lurus, gaya
pembangkit pasang surut menjadi besar dan menghasilkan pasang surut yang besar
pula. Kejadian ini disebut dengan spring. Pada saat posisi bumi-bulan-matahari
membentuk sudut 90 derajat, maka gaya pembangkit pasang surut di suatu tempat
akan menjadi kecil. Kejadian ini disebut dengan neap. Gambar 3.1 menampilkan
data pasang surut yang menggambarkan kondisi spring dan neap.
Karena pengaruh adanya sudut sumbu putar bumi, dengan bidang edar bulan,
kondisi pasang surut di tiap titik di bumi berbeda menurut jumlah pasang surut yang
dapat terjadi tiap harinya. Ada beberapa tipe pasang surut yang mungkin terjadi
yaitu:
Pasang surut diurnal, yaitu pasang surut yang terjadi satu kali pada tiap
harinya.
Pasang surut semidiurnal, yaitu pasang surut yang terjadi dua kali pada tiap
harinya.
Pasang surut campuran, yaitu pasang surut yang terjadi dua kali namun
besarnya berbeda pada tiap harinya.
Bilangan Formsal berikut ini dipakai untuk mengetahui tipe pasang surut dari nilai
amplitudo komponen utamanya.

Modul 3. Psang Surut

3-4

F=

K1 + O1
M 2 + S2

Tipe pasang surut, berdasarkan nilai F, diklasifikasikan sebagai berikut:


0 - 0,25
= semi diurnal
0,25 - 1,5 = campuran (semi diurnal dominant)
1,5 - 3,0
= campuran (diurnal dominant)
>3,0
= diurnal
Gambar 3.2 menampilkan jenis-jensi pasang surut.

Spring

Neap

Spring

Gambar 3.1 menampilkan jenis-jensi pasang surut.

Modul 3. Psang Surut

3-5

]
Gambar 3.2 Jenis-jenis pasang surut yang mungkin terjadi.

3.3

Analisa Pasang Surut


3.3.1 Persamaan Pasang Surut
Analisa pasang surut dilakukan terhadap data pasang surut untuk mengetahui
karakteristik pasang surut di lokasi kajian yang akan sangat berguna untuk keperluan
desain.
Seperti yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, bahwa pasang surut
dipengarui oleh beberpa macam gaya yang disebut gaya pembangkit pasang surut.
Masing-masing gaya akan merupakan komponen yang menentukan karakteristik dari
pasang surut pada tempat tertentu.
Tiap-tiap komponen akan berulang untuk suatu periode tertentu dan mempuyai
kecepatan sudut tertentu yang selalu tetap untuk setiap tempat di bumi ini, karena
gaya pembentuk pasang surut berasal dari gerakan bumi, bulan dan matahari yang
mengikuti suatu aturan yang tetap. Tiap-tiap komponen akan menghasilkan
amplitudo dan perbedaan fasa masing-masing dan untuk tempat tertentu hal tersebut
akan selalu tetap.
Pada tempat yang berbeda, komponen tersebut akan menghasilkan amplitudo dan
beda fasa yang berbeda, bergantung pada lokasi dan keadaan geografisnya.
Besarnya amplitudo dan beda fasa pada tempat tertentu disebut dengan konstanta
Modul 3. Psang Surut

3-6

pasang surut untuk tempat tersebut. Konstanta pasang surut akan menentukan
karakteristik dari pasang surut yang terjadi pada suatu tempat dan besarnya akan
dapat diketahui dengan pengamatan pasang surut dan analisanya.
Analisa pasang surut dilakukan berdasarkan persamaan di bawah ini:
k

Z t = Z 0 + Z i cos(i t ai )
i =1

Keterangan:
Zt :
Z0 :
k :
Zi :
i :
t :
ai :

Tinggi muka air pada waktu t


Tinggi muka air rata-rata
Jumlah komponen pasang surut
Amplitdo dari komponen ke-i
Kecepatan sudut dari komponen ke i
Waktu
Beda fasa dari komponen ke-i

3.3.2 Metoda Kuadrat Terkecil


Salah satu metoda untuk memecahkan persamaan pasang surut adalah metoda
kuadrat terkecil. Prinsip dari metoda ini adalah mencari model pasang surut yang
mempunyai jumlah kuadrat error terkecil.
Definisi error yang digunakan adalah selisih dari data pengamatan dan model
sebagai berikut:
= Yt Z t
Dengan Yt adalah data pengamatan dan Zt adalah hasil keluaran model.
Untuk memudahkan pemahaman, diambil persamaan pasang surut untuk 1
komponen saja sebagai berikut:
Z t = Z 0 + Z cos(t a )
Maka fungsi jumlah kuadrat error adalah:
N

i =1

i =1

J = 2 = (Yi Z 0 Z cos(t a) )

, dengan N adalah jumlah data

pengamantan
Untuk penyederhanaan masalah suku Z cos(t a) diubah bentuknya menjadi
B
A cos t + B sin t dengan Z = A 2 + B 2 dan a = tan 1 , sehingga fungsi jumlah
A
kuadrat error menjadi:
N

i =i

i =1

J = 2 = (Yi Z 0 A cos t i B sin t i )

Pada persamaan di atas variabel yang harus dicari (unknown variable) adalah Z0, A
dan B.
Untuk mendapatkan nilai J yang minimum, persamaan di atas harus diturunkan
secara parsial terhadap masing-masing variable dan hasilnya harus sama dengan
nol, sebagai berikut:
N
J
= 2 (Yi Z 0 A cos t i B sin t i ) = 0
Z 0
i =1
N
J
= 2 (Yi Z 0 A cos t i B sin t i )cos t i = 0
A
i =1
N
J
= 2 (Yi Z 0 A cos t i B sin t i )sin t i = 0
B
i =1
Modul 3. Psang Surut
3-7

Tiga persamaan di atas dapat ditulis dalam bentuk matriks sebagai berikut:
N
N
N

N
cos

t
sin

i
i

Yi

i =1
i =1
i =1
Z

0
N
N
N

2
cos t

cos t i
sin t1 cos t1 A = Yi cos t i

i =1

i =1
i =1
i =1
N
N
N
B N

sin t i sin t i cos t i


Yi sin t
sin 2 t i

i =1

i =1

i =1
i =1
Dengan penurunan di atas maka didapatkan tiga persamaan dengan tiga variabel
yang tidak diketahui. Sistem seperti ini adalah sistem persamaan simultan sehingga
semua variabel yang tidak diketahui dapat dihitung.
Pada analisa sesungguhnya, perhitungan di atas dilakukan terhadap jumlah
komponen yang lebih dari satu.

3.3.3

Peramalan Pasang Surut


Setalah seluruh komponen pasang surut diketahui, secara matematis muka air
pasang surut dapat diketahui kapanpun dengan persamaan pasang berikut ini.
k

Z t = Z 0 + Z i cos(i t ai )
i =1

3.4

Elevasi Penting Pasang Surut


Tujuan utama dari analisa pasang surut adalah untuk mengetahui elevasi-elevasi
penting pasang surut yang akan digunakan sebagai acuan elevasi pada kegiatan
desain. Secara teoritis, pasang surut akan berulang selama 18.6 tahun sekali. Oleh
karena itu untuk mendapatkan elevasi acuan pasang surut, terlebih dahulu harus
didapatkan data selama rentang waktu tersebut dengan cara menghitung (meramal)
berdasarkan komponen pasang surut yang telah diketahui.
Elevasi-elevasi pasang surut yang biasa digunakan adalah sebagai berikut:
HHWL (Highest High Water Level): Tinggi muka air maksimum dalam rentang waktu
yang ditinjau.
MHWS (Mean High Water Spring) : Rata-rata dari tinggi muka air maksimum tiap
spring dalam rentang waktu yang ditinjau
MHWL (Mean High Water Level) : Rata-rata dari tinggi muka air maksimum tiap kali
pasang dalam rentang waktu yang ditinjau
MSL (Mean Sea Level)
: Rata-rata muka air dalam rentang muka air yang
ditinjau
MLWL (Mean Low Water Level): Rata-rata dari tinggi muka air minimum tiap kali
surut dalam rentang waktu yang ditinjau
MLWS (Mean Low Water Spring) : Rata-rata dari tinggi muka air minimum pada
saat spring dalam rentang waktu yang ditinjau
LLWL (Lowest Low Water Level) : Tinggi muka air terendah dalam rentang waktu
yang ditinjau.

3.5

Bagan Alir Analisa Pasang Surut dalam Suatu Proses Desain


Dalam suatu pekerjaan yang memerlukan analisa pasang surut, seperti pekerjaan
pengamanan pantai, hal pertama yang perlu dilakukan untuk analisa pasang surut
adalah mendapatkan data lapangan dengan cara survei langsung.
Setelah data lapangan tersebut didapatkan, analisa selanjutnya adalah melakukan
penguraian komponen, melakukan peramalan pasang surut berdasarkan komponen
Modul 3. Psang Surut

3-8

tersebut, dan menghitung elevasi pasang surut acuan berdasarkan data ramalan
periode panjang (18.6 tahun).
Bagan alir dari analisa pasang surut tersebut disampaikan dalam bagan alir berikut:
Data Pasut
Least Square
Komponen Pasang
Surut

Peramalan Pasang
Surut 15 Hari

Perbandingan Hasil
Ramalan dengan
Pengukuran Lapangan

Jenis Pasang Surut

Peramalan Pasang
Surut 20 Tahun
18.6 tahun
Elevasi Penting
Pasang Surut

Probabilitas Kejadian
Terlampaui Elevasi
Pasang Surut

Gambar 3.3 Bagan alir dari analisa pasang surut.

3.6 Perangkat Lunak Analisa Pasang Surut


Untuk memudahkan analisa pasang surut, suatu paket program komputer dapat
dibuat. Salah satu paket program komputer untuk analisa pasang surut dengan
metoda least square yaitu DINATIDE. Paket program ini terdiri dari tiga program
yaitu:
Progarm1.exe : untuk mengolah data pengamatan pasut menjadi komponen
pasang surut
Program2.exe : untuk meramal pasang surut berdasarkan komponen pasang
surut
Program3.exe : untuk menghitung elevasi penting pasang surut berdasarkan
data ramalan periode panjang (18.6 tahun).

Modul 3. Psang Surut

3-9

3.7 Gelombang Tsunami.


Gelombang jenis ini biasanya termasuk gelombang dengan perioda panjang.
Gelombang tsunami dibangkitkan oleh dislokasi dasar perairan, atau tanah longsor
ke dalam perairan (Gambar 3.4). Dislokasi dasar perairan biasanya diikuti dengan
gempa bumi tektonik.
Namun demikian tidak semua gempa tektonik dapat menimbulkan gelombang
tsunami. Karena panjangnya, gelombang ini biasanya dapat dikatagorikan sebagai
gelombang panjang di daerah yang dilewatinya. Karena sifatnya sebagai gelombang
panjang maka kecepatan jalar energi sama dengan kecepatan jalar gelombang.
Dengan demikian tinggi gelombang cenderung tidak menurun bahkan mungkin
bertambah karena proses shoaling.
Oleh karenanya gelombang tsunami yang terjadi jauh di tengah laut tetap berbahaya
bagi pantai yang akan diserangnya.

Gambar 3.4. Kemungkinan urutan terjadinya gelombang tsunami karena dislokasi


dasar laut

Modul 3. Psang Surut

3-10

Gambar 3.5. Kemungkinan urutan terjadinya gelombang tsunami karena longsoran

Gambar. Kemungkinan urutan terjadinya gelombang tsunami karena letusan gunung


berapi di laut
Kejadian gelombang tsunami telah menewaskan beribu-ribu orang. Hal ini karena
kejadian gelombang tsunami tidak mudah diramalkan. Selain itu manusia cenderung
melupakan kejadian bencana gelombang tsunami yang pernah menimpa daerah
bahaya tsunami dan membangun permukiman di daerah tersebut. Kesulitan
peramalan gelombang tsunami disebabkan oleh sulitnya meramalkan kejadian alam
seperti misalnya gempa tektonik. Kapan, dimana, berapa besarannya, berapa lama
terjadinya merupakan besaran yang sangat sulit diramalkan oleh geolog. Dengan
demikian gelombang tsunami hanya dapat dipelajari setelah atau pada saat terjadi
dan perambatannya ke pantai.
Modul 3. Psang Surut

3-11

Penjalaran gelombang tsunami maupun perkiraan besaran tinggi gelombangnya


dapat dihitung apabila besaran dislokasi dan lokasi dislokasi tersebut diketahui.
Banyak model - model penjalaran gelombang tsunami telah dibuat dengan hasil yang
memuaskan. Di Jepang, tsunami sering terjadi. Jepang sering diserang gelombang
tsunami yang terjadi di perairan Jepang maupun perairan negara lain bahkan yang
jauh dari Jepang, misalnya Chili. Gelombang tsunami dapat menjalar melintasi
samudra dan menghantam daratan Jepang. Oleh karenanya Jepang berusaha
melakukan tindakan preventip dengan bangunan tembokpengaman pantai dari
serangan gelombang tsunami serta membangun jaringan informasi dini. Jaringan
informasi dini tersebut berusaha memprediksi dan tinggi gelombang tsunami yang
terjadi sebelum gelombang tersebut mencapai pantai. Dengan proses hitungan yang
cepat, maka informasi tentang gelombang tsunami dapat diterima masyarakat
dengan lebih cepat untuk tindakan penyelamatan.

3.7.1. Pendekatan Analitis Gelombang Tsunami


Pendekatan analitis telah dilakukan oleh beberapa orang seperti Wiegel (1970),
Noda (1970) dan Hunt (1988). Pendekatan analitis tersebut didasarkan pada
permasalahan gelombang tsunami atau lebih tepatnya gelombang akibat perubahan
massa dalam badan air, yang relatip sederhana.
Noda memberikan rumus tinggi gelombang maksimum yang dibangkitkan oleh
gerakan tembok (dapat diumpamakan sebagai tebing yang longsor hampir
horizontal) ke dalam air dalam sebuah saluran (dua dimensi) sebagai berikut:

dengan Vm : kecepatan tembok dan d : kedalaman air


Hal serupa dikemukakan oleh Bakhmeteff yang menunjukkan tinggi gelombang bore
akibat gerakan dinding secara horisontal. Persamaan yang dikemukakan adalah :

Untuk masalah yang sama yaitu gelombang tsunami yang dibangkitkan oleh dinding
vertikal yang bergerak horisontal dikemukakan oleh Townson (1990) yang
didasarkan pada metoda karakteristika dengan hasil mendekati kedua persamaan di
atas. Jika dibandingkan dengan hasil model fisik, kedua persamaan di atas ternyata
akurat.

Modul 3. Psang Surut

3-12

3.7.2. Pendekatan Empirik Gelombang Tsunami


Permasalahan tsunami juga didekati dengan memberikan tambahan massa dari
dasar perairan misalnya oleh Hammax dan Raichlen (1980). Mereka menunjukkan
bahwa apabila kecepatan tambahan massa di dasar perairan cukup cepat, maka
tinggi gelombang yang dihasilkan tidak lagi terpengaruh oleh kecepatan
pertambahan massa atau dislokasi dasar saluran, melainkan hanya pada volume
dislokasi dan tinggi dislokasi dasar. Tipe disolaksi disebut impulsive dengan syarat

Dengan o adalahdislokasi total (tebal perubahan dasar) dan b adalah lebar


dislokasi.

Gambar: Notasi untuk analisis gelombang tsunami akibat dislokasi dasar


perairan.
Hammax dan Raichlen menunjukkan bahwa max di tepi dinding (x=0) mendekati o
dan mendekati 0.5o di x=b untuk tipe impulsip.

Modul 3. Psang Surut

3-13

Slingerland dan Voight (1982) meminimalkan informasi yang diperlukan guna


prediksi tinggi gelombang tsunami saat dibangkitkan dan setelah menjalar beberapa
kali kedalaman dalam tiga dimensi. Gelombang tsunami tersebut dibangkitkan oleh
material yang meluncur atau longsor ke dalam perairan. Mereka memberikan
persamaan sebagai berikut:

L : panjang daerah longsor


b : lebar daerah longsor
: tebal longsoran
Vs : kecepatan longsor maksimum
r : jarak radial
s : massa jenis longsoran
Huber (1984) mensoba memperbaiki persamaan Slingerland di atas untuk
memberikan pengaruh panjang pantai pada tinggi gelombang dengan menggunakan

dengan Vi volume longsoran


Triatmadja (1990) menunjukkan dengan sebuah kasus gelombang akibat longsoran
tanah di danau Rissa, bahwa argumentasi Huber memberikan hasil yang lebih
mendekati model fisik maupun numerik. Tetapi pada peta batimetri yang lebih rumit,
pendekatan analitik yang disederhanakan maupun empirik tidak akurat.

3.7.3. Usaha usaha menanggulangi bahaya Tsunami


Seperti disebutkan sebelumnya, gelombang tsunami sering merupakan gelombang
panjang yang mampu menjalar hingga relatip jauh. Banyak gelombang tsunami yang
mencapai pantai dalam keadaan yang masih tinggi sehingga mempunyai sifat yang
sangat merusakkan. Oleh karenanya perlu diupayakan penanggulangan bahaya
tsunami tersebut. Hal yang paling dasar, yang mungkin tidak banyak memakan biaya
Modul 3. Psang Surut
3-14

adalah memberikan pendidikan tentang bahaya gelombang tsunami tersebut bagi


masyarakat terutama mereka yang hidup di daerah pantai baik secara formal atau
non formal. Pendidikan ini mencakup misalnya adanya kaitan antara gelombang
tektonik dengan kemungkinan terjadinya gelombang tsunami, bentuk gelombang
tsunami, tinggi run-up yang mungkin terjadi di suatu lokasi, kecepatan jalar
gelombang tsunami, serta hal hal yang mungkin atau kemungkinan dapat terjadi jika
timbul gelombang tsunami di suatau daerah.
Bentuk gelombang tsunami secara sepintas tidak tampak penting, namun hal ini
sebenarnya amat sangat penting. Perhatikan gelombang tsunami yang diakibatkan
oleh dislokasi dasar seperti pada gambar berikut. Pada Gambar tersebut, gelombang
tsunami bergerak ke kanan dengan lembah berada di depan. Panjang gelombang
tsunami tersebut dapat mencapai beberapa kilometer. Pada saat mencapai pantai,
yang terjadi adalah pantai akan kering atau turun sekali airnya beberapa saat,
kemudian disusul dengan puncak gelombang tsunami yang sangat tinggi di
belakangnya. Pada saat kering tersebut, masyarakat yang tidak mempunyai
pengetahuan sama sekali, mungkin akan bergembira ria turun ke laut mengambil
ikan, ataupun menikmati dasar yang kering luas, atau mengikuti garis pantai yang
mendadak mundur tanpa sadar bahwa dibelakangnya mengancam puncak
gelombang tsunami yang sangat dahsyat.

Gambar: Salah satu bentuk gelombang tsunami menuju pantai

Tidak menggunakan daerah bahaya tsunami untuk pemukiman juga merupakan


tindakan yang bijaksana. Tetapi hal ini sulit dilakukan karena bahaya tsunami sendiri
hampir tidak mungkin diramalkan, sehingga tidak mungkin diperoleh prediksi yang
tepat tentang daerah bahaya tsunami.
Modul 3. Psang Surut

3-15

Beberapa hal yang dapat dilakukan, jika pemukiman akan dibangun di dekat pantai
adalah, a) memberikan daerah sempadan pantai yang cukup, b), memberikan
perlindungan awal di daerah sempadan pantai tersebut dengan pohon-pohon yang
akan berfungsi menghambat serta mereduksi tinggi gelombang, c) membuat sirene
tanda bahaya otomatis yang dipasang beberapa kilometer dari pantai di laut yang
mendeteksi gelombang tsunami jika datang, d) melengkapi daerah pemukiman
dengan daerah tinggi (bukit) sebagai lokasi evakuasi apabila terjadi gelombang
tsunami.

Gambar: Skema pemukiman di daerah bahaya tsunami

3.7.4. Daerah yang pernah terserang gelombang Tsunami di Indonesia


Catatan tentang gelombang tsunami besar kecil di Indonesia, sebenarnya cukup
panjang. Beberapa gelombang tsunami yang tercatat diberikan pada Gambar berikut
(Takemura, 1999). Menurut Takemura, tinggi run-up di pulau Flores mencapai 26,2
m dengan gempa tektonik tercatat 7,5 skala Richter. Gelombang tsunami di Sulawesi
tengah memberikan run-up setinggi lebih dari 5 m, sedangkan gempa tektonik yang
tercatat adalah 7,2 skala richter. Di Biak, walaupun gempa tektonik mencapai 8,2
skala Richter namun tinggi run-up hanya 7.7 m. Sejak tahun 1965 hingga tahun 1996
Modul 3. Psang Surut

3-16

tercatat 10 gelombang tsunami yang berarti rerata kejadian gelombang tsunami 3


tahun sekali.

3.8. Gelombang Badai


Gelombang badai diterjemahkan secara harafiah dari bahasa aslinya Storm Surge.
Yang dimaksud adalah gelombang yang terjadi karena angin (badai) yang terus
menerus pada suatu area laut. Angin yang bergerak terus menerus tersebut
memberikan energinya sehingga partikel air secara keseluruhan ikut bergerak karena
mendapatkan energi. Jika angin terus berhembus kearah daratan, maka air pun terus
menyesuaikan diri bergerak ke daratan hingga mencapai kesetimbangan. Pada saat
setimbang tersebut air tidak lagi dapat bergerak, karena gaya gesek oleh angin sama
dengan gaya gravitasi yang harus dilawan oleh angin, karena semakin ke darat
elevasi muka air naik.

Gambar: gelombang badai

Dean dan Dalrymple (1984) menunjukkan kenaikan elevasi muka air akibat angin
pada dasar horisontal sebagai berikut

Modul 3. Psang Surut

3-17

Harga n berkisar antara 1,15 hingga 1,3 (SPM,1984).


Harga tegangan gesek angin zx telah banyak diteliti dan berikut ini diberikan sesuai
dengan Van Dorn (1953) yang dimuat dalam Dean dan Dalrymple (1984).

dengan
W : kecepatan angin (m/detik) yang diukur pada ketinggian 10 m di atas permukaan
air laut
k : koefisien gesek yang besarnya

Kecepatan angin yang kurang dari 5,6 m/detik atau sekitar 11,2 knot sangat sering
dijumpai di laut. Kecepatan sebesar ini tidak terlalu diperhatikan dalam peramalan
gelombang angin karena biasanya tidak akan membangkitkan gelombang yang
besar. Namun demikian dalam hal surge, angin sebesar kurang dari 10 knot mungkin
saja membangkitkan elevasi muka air yang cukup signifikan. Hal lain yang tampak
dari faktor k di atas adalah bahwa k berkisar antara 1,2x10-6 hingga 3,45x10-6.
Gelombang surge ini perlu diperhitungkan dalam perencanaan struktur pantai
terutama struktur yang tidak boleh dilimpasi air misalnya (tanggul untuk tambak,
dermaga, pemecah gelombang jenis tak terlimpasi, jalan dll).

Modul 3. Psang Surut

3-18