Anda di halaman 1dari 18

Etika Kedokteran yang Berhubungan dengan Peran Seorang

Dokter di Kepolisian
Nadia Cecilia S
E1
102012513
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
Nadia.cecilia@ymail.com

Pendahuluan
Di masyarakat, kerap terjadi peristiwa pelanggaran hukum yang menyangkut tubuh
dan nyawa manusia. Untuk pengusutan dan penyidikan serta penyelesaian masalah hukum ini
di tingkat lebih lanjut sampai akhirnya pemutusan perkara di pengadilan, diperlukan bantuan
berbagai ahli di bidang terkait untuk membuat jelas jalannya peristiwa serta keterkaitan
antara tindakan yang satu dengan yang lain dalam rangkaian peristiwa tersebut. Karena
banyaknya kasus yang ditangani pihak kepolisian, tidak jarang seorang dokter dimintai
bantuannya untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Dalam menjalankan praktik kedokterannya, seorang dokter perlu mempelajari tentang
etika yang merupakan disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar salahnya suatu
tindakan perbuatan seseorang/ institusi dilihat dari moralitas. Di dalam menentukan tindakan
di bidang medis, perlu dipertimbangkan tentang kebutuhan pasien, namun keputusan tetap
harus didasarkan pada hak-hak asasi pasien. Dimana segala tindakan yang melanggar hak-hak
asasi manusia diatur dalam undang-undang yang tentunya akan mendapatkan tindak pidana
tertentu.
Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar pembaca dapat semakin memahami
tentang etika kedokteran, aspek hukum dan medikolegal yang berhubungan dengan tindak
pidana suatu kasus tertentu, hak-hak asasi manusia, dan dampak yang akan timbul dari
keputusan yang diambil oleh seorang dokter.

Isi
1

Skenario 5.
Seorang dokter (kapten) yang bekerja di eksatuan khusus iliter dipanggil oleh atasannya
(kolonel). Sang kolonel memberitahukan tentang situasi politik dan keamanan akhir-akhir ini
yang telah dipenuhi dengan banyaknya kasus pengeboman. Saat ini kesatuannya telah
menangkap seorang tersangka pelaku pengeboman. Suatu informasi intelijen juga
menyatakan bahwa orang itu telah menempatkan bom di suatu mall, tapi tidak tahu dimana.
Tentu saja apabila bom tersebut meledak akan mengancam hidup banyak orang tak berdosa.
Sang kolonel mengatakan kepada si kapten agar membantu anak buahnya dalam melakukan
pemeriksaan terhadap tersangka yang mungkin akan cukup keras. Dokter diharapkan dapat
menilai kesehatan tersangka dan memantau jelannya pemeriksaan. Dokter tersebut tahu
bahwa dokter sebagai profesional di bidang perikemanusiaan mestinya tidak boleh
berpartisipasi dalam suatu pemeriksaan yang keras (penyiksaan untuk memperoleh
pengakuan). Tapi di sisi lain banyak orang tak berdosa bisa menjadi korban.
Etika Kedokteran
Dalam bidang kedokteran, etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk
atau benar salahnya suatu sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat
dari moralitas. Ada dua macam etika yang harus kita pahami bersama dalam menentukan baik
dan buruknya perilaku manusia terutamanya apabila menyangkut ilmu profesi kedokteran
yang berhadapan dengan pasien:1

Etika normative, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku
ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang
bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan

kerangka tindakan yang akan diputuskan.


Etika deskriptif, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap
dan prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu
yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil
keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau diambil.
Kode Etik Kedokteran Internasional terkandung kewajiban umum, kewajiban

terhadap pasien, kewajiban terhadap sesama dan kewajiban terhadap diri sendiri. Selanjutnya,
Kode Etik Kedokteran Indonesia dibuat dengan mengacu kepada Kode Etik Kedokteran
Internasional. Selain Kode Etik Profesi di atas, praktek kedokteran juga berpegang kepada
prinsip-prinsip moral kedokteran, prinsip-prinsip moral yang dijadikan arahan dalam
2

membuat keputusan dan bertindak, arahan dalam menilai baik-buruknya atau benar-salahnya
suatu keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi moral. Pengetahuan etika ini dalam
perkembangannya kemudian disebut sebagai etika biomedis. Etika biomedis memberi
pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat keputusan klinis yang etis (clinical ethics)
dan pedoman dalam melakukan penelitian di bidang medis.1
Kaidah dasar (prinsip) Etika / Bioetik adalah aksioma yang mempermudah penalaran
etik. Prinsip-prinsip itu harus spesifik. Pada praktiknya, satu prinsip dapat dibersamakan
dengan prinsip yang lain. Tetapi pada beberapa kasus, karena kondisi berbeda, satu prinsip
menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain.
Keadaan terakhir disebut dengan prima facie. Konsil Kedokteran Indonesia, dengan
mengadopsi prinsip etika kedokteran barat, menetapkan bahwa, praktik kedokteran Indonesia
mengacu kepada 4 kaidah dasar moral (sering disebut kaidah dasar etika kedokteran atau
bioetika), juga prima facie dalam penerapan praktiknya.1
Prinsip-Prinsip Etika Profesi.Beauchamp and childress (1994) menguraikan bahwa
untuk mencapai suatu keputusan etis diperlukan empat kaedah dasar moral dan beberapa
rules dibawahnya, yaitu:1
Prinsip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang
ditunjukan kepada kebaikan pasien. Dokter harus mengusahakan agar pasien yang dirawatnya
terjaga keadaan kesehatannya. Pengertian berbuat baik di sini adalah bersikap ramah atau
menolong, lebih dari sekedar memenuhi kewajibannya. Tindakan konkrit dari beneficience
meliputi mengutamakan altruisme (menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk
kepentingan orang lain), menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia dan memandang
pasien/keluarga/sesuatu tidak hanya sejauh menguntungkan dokter dan mengusahakan agar
kebaikan/manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan keburukannya. Selain itu, prinsip
ini juga meliputi paternalisme bertanggung jawab/berkasih sayang,menjamin kehidupan baik,
pembatasan goal based, maksimalisasi pemuasan kebahagiaan / preferensi pasien dan
minimalisasi akibat buruk. Prinsip ini menekankan kewajiban menolong pasien gawat
darurat, menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan, tidak menarik honorarium di luar
kepantasan, maksimalisasi kepuasan tertinggi secara keseluruhan, mengembangkan profesi
secara terus-menerus, memberikan obat berkhasiat namun murah. Paling utama, prinsip ini
menerapkan Golden Rule Principle, dimana kita harus memperlakukan orang lain seperti kita
ingin diperlakukan oleh orang lain.1
3

Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam
mendistribusikan sumber daya (distributive justice). Maksudnya adalah memperlakukan
semua pasien sama dalam kondisi yang sama.Tindakan konkrit yang termasuk justice
meliputi memberlakukan segala sesuatu secara universal, mengambil porsi terakhir dari
proses membagi yang telah ia lakukan, memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi
dalam posisi yang sama dan menghargai hak sehat pasien (affordability, equality,
accessibility, availability, quality). Prinsip ini menerapkan supaya menghargai hak hukum
pasien dan hak orang lain, menjaga kelompok yang rentan (yang paling merugikan), tidak
membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status sosial, dan tidak melakukan
penyalahgunaan,

memberikan

kontribusi

yang

relative

sama

dengan

kebutuhan

pasien.Kewajiban mendistribusi keuntungan dan kerugian (biaya, beban, sanksi) secara adil,
dan mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten.1
Prinsip non-maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang
memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai primum non nocere atau do not
harm.Tindakan konkrit dari non-maleficence meliputi menolong pasien emergensi seperti
kondisi mengobati pasien yang luka, tidak membunuh pasien (tidak melakukan euthanasia),
tidak menghina/mencaci maki/memanfaatkan pasien, tidak memandang pasien hanya sebagai
objek dan mengobati secara tidak proporsional. Prinsip ini melindungi pasien dari serangan
dan terhindar dari melakukan white collar crime dalam bidang kesehatan/ kerumah-sakitan
yang merugikan pihak pasien/ keluarganya.1
Prinsip autonomy, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien (the rights to
self determinations). Maksudnya tiap individu harus diperlakukan sebagai makhluk hidup
yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasibnya sendiri).Tindakan konkrit dari
autonomi meliputi menghargai hak menentukan nasibnya sendiri, tidak mengintervensi
pasien dalam membuat keputusan (pada kondisi elektif), berterus terang, menghargai privasi,
menjaga rahasia pasien, menghargai rasionalitas pasien dan melaksanakan informed consent.
Prinsip ini juga menekankan supaya tidak mengintervensi atau menghalangi autonomi pasien,
mencegah pihak lain ,mengintervensi pasien dalam membuat keputusan, termasuk keluarga
pasien sendiri, sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non
emergensi dan tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikan pasien.1
Etika dalam profesi diharapkan akan mempunyai tata nilai untuk mengatur kehidupan
bersama kerana nilai-nilai etika itu tidak hanya milik satu atau dua orang, atau segolongan
orang saja, tetapi milik setiap kelompok masyarakat, bahkan kelompok yang paling kecil
4

yaitu keluarga sampai pada suatu bangsa. Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai
nilai-nilai yang menjadi landasan dalam pergaulan baik dengan kelompok atau masyarakat
umumnya maupun dengan sesama anggotanya, yaitu masyarakat profesional. Sorotan
masyarakat menjadi semakin tajam manakala perilaku-perilaku sebagian para anggota profesi
yang tidak didasarkan pada nilai-nilai pergaulan yang telah disepakati bersama (tertuang
dalam kode etik profesi), sehingga terjadi kemerosotan etik pada masyarakat profesi
tersebut.2
Tujuan Kode Etik Profesi bertujuan untuk menjunjung tinggi martabat profesi, Untuk
meningkatkan pengabdian para anggota profesi, Meningkatkan layanan di atas keuntungan
pribadi ,untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota. Selain itu, untuk
meningkatkan mutu profesi, untuk meningkatkan mutu organisasi profesi dan mempunyai
organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.2
Praktek kedokteran juga berpegang kepada prinsip-prinsip moral kedokteran, prinsipprinsip moral yang dijadikan arahan dalam membuat keputusan dan bertindak, arahan dalam
menilai baik-buruknya atau benar-salahnya suatu keputusan atau tindakan medis dilihat dari
segi moral. Pengetahuan etika ini dalam perkembangannya kemudian disebut sebagai etika
biomedis. Etika biomedis memberi pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat
keputusan klinis yang etis (clinical ethics) dan pedoman dalam melakukan penelitian di
bidang medis.Nilai-nilai materialisme yang dianut masyarakat harus dapat dibendung dengan
memberikan latihan dan teladan yang menunjukkan sikap etis dan profesional dokter.2
Pembuatan keputusan etik terutama dalam situasi klinik, dapat juga dilakukan dengan
pendekatan yang berbeda dengan pendekatan kaidah dasar moral diatas. Jonsen, Siegler, dan
Winslade mengembangkan teori etik yang menggunakan 4 topik yang esensial dalam
pelayanan klinik, yaitu:3
a. Medical indication. Pada topik ini dimasukkan semua prosedur diagnostik dan terapi yang
sesuai untuk mengevaluasi keadaan pasien dan mengobatinya. Penilaian aspek indikasi
medis ini ditinjau dari sisi etiknya, terutama menggunakan kadiah beneficence dan nonmaleficence. Pertanyaan etika pada topic ini adalah serupa dengan seluruh informasi yang
selayaknya disampaikan kepada pasien pada informed consent.
b. Patient preferences. Pada topik ini kita memperhatikan nilai dan penilaian pasien tentang
manfaat dan beban yang akan diterimanya, yang berarti cerminan kaidah autonomy.
Pertanyaan etiknya meliputi pertanyaan tentang kompetensi pasien, sifat volunteer sikap
dan keputusannya, pemahaman atas informasi, siapa pembuat keputusan bila pasien tidak
kompeten, nilai dan keyakinan yang dianut pasien, dan lain-lain.
5

c. Quality of life. Topik ini merupakan aktualisasi salah satu tujuan kedokteran, yaitu,
memperbaiki, menjaga, atau meningkatkan kualitas hidup insani. Apa, siapa, dan
bagaimana melakukan penilaian kualitas hidup merupakan pertanyaan etik sekitar
prognosis, yang berkaitan dengan beneficence, non-maleficence, dan autonomy.
Contextual features. Dalam topik ini dibahas pertanyaan etik seputar aspek non medis

d.

yang mempengaruhi keputusan, seperti faktor keluarga, ekonomi, agama, budaya,


kerahasiaan, alokasi sumber daya, dan faktor hukum.
Aspek Hukum dan Medikolegal
Ada beberapa pasal yang mengatur mengenai penyidik dan penyelidik dalam
KUHAP, yakni:3

Pasal 4 KUHAP
Penyelidik adalah setiap pejabat polisi negara Republik Indonesia.

Pasal 5 KUHAP
(1) Penyidik sebagaimana dimaksudkan pasal 4:
a. Karena kewajibanya mempunyai wewenang:
1. Menerima laopran atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana;
2. Mencari keterangan dan barang bukti;
3. Menyuruh berhenti seorang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa
tanda pengenal diri;
4. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.
b. Atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa:
1. Penangkapan, larangan meninggalkan tempat, pengeledahan dan penyitssn.
2. Pemeriksaan dan penyitaan surat;
3. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang
4. Membawa dan menghadapkan seseorang pada penyidik.
(2) Penyelidik membuat dan menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tindakan
sebagaimana tersebut pada ayat (1) huruf a dan huruf b kepada penyidik.

Pasal 7 KUHAP
(1) Penyidik adalah:
a. Pejabat polisi Negara Republik Indonesia
b. Pejabat pegwai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undangundang.
6

(2) Syarat kepangkatan pejabat sebagaimanan dimaksudkan dalam ayat (1) akan diatur
lebih lanjur dalam peraturan pemerintah

Pasal 10 KUHAP
(1) Penyidik pembantu adalah pejabat kepolisian Republik Indonesia yang diangkat
oleh Kepala Kepolisian negara Republik Indonesia berdasarkan syarat kepangkatan
dalam ayat (2) pasal ini.
(2) Syarat kepangkatan sbagaimana tersebut pada ayat (1) diatur dengan peraturan
pemerintah.

Pasal 2 PP no 27/1983
(1) Penyidik adalah:
a. Pejabat polisi Negara Republik Indonesia tertentu yang sekurang-kurangnya
berpangkat Pembantu letnan Dua Polisi
b. Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang sekurang-kurangnya berpangkat
Pengatur Muda Tingkat 1 (golongan II/B) atau yang disamakan dengan itu.
(2) Dalam hal di suatu sektor kepolisian tidak ada pejabat penyidik sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) huruf a, maka Komandasn Kepolisian yang berpangkat
bintara di bawah Pembantu Letnan Dua Polisi, karena jabatanya adalah penyidik.
(3) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, ditunjuk oleh Kepala
Kepolisian Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
(4) Wewenang penunjukan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dapat dilimpahkan
kepada Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
(5) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, diangkat oeleh menteri
atas usul dari Departemen yang membawahkan pegawai negeri tersebut. Menteri
sebelum melaksanakan pengangkatan terlebih dahulu mendengan pertimbangan
Jaksa Agung dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia.
(6) Wewenang pengangkatan sebagimanan dimaksud dalam ayat (5) dapat dilimpahkan
kepada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri.

Hak Asasi Manusia


Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia atau Universal Declaration of Human
Rightsadalah sebuah deklarasi yang di adopsi oleh Majelis Umum PBB pada 10 Desember
1948 di Palais de Chaillot, Paris, Perancis melalui General Assembly Resolution 217 A (III).
7

Deklarasi ini merupakan standar umum yang menyatakan bahwa hak asasi manusia secara
internasional haruslah dilindungi.
Berbagai instrumen hak asasi manusia yang dimiliki Negara Republik Indonesia,yakni:4

Undang Undang Dasar 1945

Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia

Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

Pembagian Bidang, Jenis dan Macam Hak Asasi Manusia Dunia:4

Hak asasi pribadi / Personal Right


Hak kebebasan untuk bergerak, bepergian dan berpindah-pindah tempat
Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat
Hak kebebasan memilih dan aktif di organisasi atau perkumpulan
Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, dan menjalankan agama dan kepercayaan
yang diyakini masing-masing

Hak asasi politik / Political Right


Hak untuk memilih dan dipilih dalam suatu pemilihan
Hak ikut serta dalam kegiatan pemerintahan
Hak membuat dan mendirikan parpol / partai politik dan organisasi politik lainnya
Hak untuk membuat dan mengajukan suatu usulan petisi

Hak azasi hukum / Legal Equality Right


Hak mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan
Hak untuk menjadi pegawai negeri sipil / pns
Hak mendapat layanan dan perlindungan hukum

Hak asasi Ekonomi / Property Rigths


Hak kebebasan melakukan kegiatan jual beli
Hak kebebasan mengadakan perjanjian kontrak
Hak kebebasan menyelenggarakan sewa-menyewa, hutang-piutang, dll
Hak kebebasan untuk memiliki susuatu
Hak memiliki dan mendapatkan pekerjaan yang layak

Hak Asasi Peradilan / Procedural Rights


Hak mendapat pembelaan hukum di pengadilan

Hak persamaan atas perlakuan penggeledahan, penangkapan, penahanan dan


penyelidikan di mata hukum.

Hak asasi sosial budaya / Social Culture Right


Hak menentukan, memilih dan mendapatkan pendidikan
Hak mendapatkan pengajaran
Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat

Berdasarkan undang-undang no 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia, maka hak seorang
individu dalam bidang hukum meliputi:5

Pasal 3
(1) Setiap orang dilahirkan bebas dengan harkat dan martabat manusia yang sama dan
sederajat serta dikaruniai akal dan hati nurani untuk hidup bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara dalam semangat persaudaraan.
(2) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan perlakuan hukum
yang adil serta mendapat kepastian hukum dalam semangat di depan hukum.
(3) Setiap orang berhak atas perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan manusia,
tanpa diskriminasi.

Pasal 4
Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani,
hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan
persamaan di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku
surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh
siapapun.

Pasal 5
(1) Setiap orang diakui sebagai manusia pribadi yang berhak menuntut dan memperoleh
perlakuan serta perlindungan yang samasesuai dengan martabat kemanusiaanya di depan
hukum.
(2)

Setiap orang berhak mendapat bantuan dan perlindungan yang adil dari pengadilan

yang objektif dan tidak berpihak.


(3) Setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat yang rentan berhak memperoleh
perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya.
Pasal 9

(1) Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf
kehidupannya.
(2) Setiap orang berhak hidup tentram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin.
(3) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Pasal 17
Setiap orang, tanpa diskriminasi, berhak untuk memperoleh keadilan dengan mengajukan
permohonan, pengaduan, dan gugatan, baik dalam perkara pidana, perdata, maupun
administrasi serta diadili melalui proses peradilan yang bebas dan tidak memihak, sesuai
dengan hukum acara yang menjamin pemerikasaan yang objektif oleh hakim yang jujur
dan adil untuk memperoleh putusan yang adil dan benar.

Pasal 18
(1) Setiap orang yang ditangkap, ditahan, dan dituntut karena disangka melakukan
sesuatu tindak pidana berhak dianggap tidak bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya
secara sah dalam suatu sidang pengadilan dan diberikan segala jaminan hukum yang
diperlakukan untuk pembelaannya, sesuai dengan ketentuan peraturan perundanganundangan.
(2) Setiap orang tidak boleh dituntut untuk dihukum atau dijatuhi pidana, kecuali
berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan yang sudah ada sebelum tindak pidana
itu dilakukannya.
(3) Setiap ada perubahan dalam peraturan perudang-undangan maka beralaku ketentuan
yang paling menguntungkan bagi tersangka.
(4) Setiap orang yang diperiksa berhak mendapatkan bantuan hukum sejak saat penyidikan
sampai adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
(5) Setiap orang tidak dapat dituntut untuk kedua kalinya dalam perkara yang sama atas
suatu perbutan yang telah memperoleh putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

Pasal 29
(1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat,
dan hak miliknya.
(2) Setiap orang berhak atas pengakuan di depan hukum sebagai manusia pribadi dimana
saja ia berada.

Pasal 30
Setiap orang berhak atas rasa aman dan tenteram serta perlindungan terhadap ancaman
ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
10

Pasal 33
(1) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan yang
kejam, tidak manusiawi, merendahkan derajat dan martabat kemanusiaannya.
(2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penghilangan paksa dan penghilangan nyawa.

Pasal 34
Setiap orang tidak boleh ditangkap, dittahan, disiksa, dikucilkan, diasingkan, atau dibuang
secara sewenag-wenang.

Pasal 35
Setiap orang berhak hidup di dalam tatanan masyarakat dan kenegaraan yang damai, aman,
dan tentram, yang menghormati, melindungi dan melaksanakan sepenuhnya hak asasi
manusia dan kewajiban dasar manusia sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini.

Kewajiban
Kewajiban setiap individu menurut undang-undang no 39 tahun 1999 antara lain:5

Pasal 67
Setiap orang yang ada di wilayah negara Republik Indonesia wajib patuh pada peraturan
perundang-undangan, hukum tak tertulis, dan hukum internasional mengenai hak asasi
manusia yang telah diterima oleh negara Republik Indonesia.

Pasal 69
Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain, moral, etika, dan tata tertib
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Setiap hak asasi manusia seseorang menimbulkan kewajiban dasar dan tanggung jawab
untuk menghormati hak asasi orang lain secara timbal balik serta menjadi tugas
Pemerintah untuk menghormati, melindungi, meneggakan, dan memajukannya.

Pasal 70
Dalam menjalankan hak dan kewajiban, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan
yang ditetapkan oleh Undang-undang dengan maksud untuk menjamin pengakuan serta
penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adli
sesuai dengan pertimbangan moral, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu
masyarakat demokratis.

Hak dan Kewajiban Publik


Menurut undang-undang no 39 tahun 1999, hak publik antara lain:5

Pasal 8
11

Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia terutama menjadi
tanggung jawab Pemerintah.

Pasal 32
Kemerdekaan dan rahasia dalam hubungan surat-menyurat termasuk hubungan
komunikasi sarana elektronika tidak boleh diganggu, kecuali atas perintah hakim atau
kekuasaan lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan.

Pasal 71
Pemerintah wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakkan, dan
memajukan hak asasi manusia yang diatur dalam Undang-undang ini, peraturan
perundang-undangan lain, dan hukum internasional tentang hak asasi manusia yang
diterima oleh negara Republik Indonesia.

Pasal 72
Kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71,
meliputi langkah implementasi yang efektif dalam bidang hukum, politik, ekonomi,
sosial, budaya, pertahanan keamanan negara, dan bidang lain.

Pasal 73
Hak dan kebebasan yang diatur dalam Undang-undang ini hanya dapat dibatasi oleh dan
berdasarkan undang-undang, semata-mata untuk menjamin pengakuan dan penghormatan
terhadap hak asasi manusia serta kebebasan dasar orang lain, kesusilaan, ketertiban
umum, dan kepentingan bangsa.

Pasal 100
Setiap orang, kelompok, organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya
masyarakat, atau lembaga kemasyarakatan lainnya, berhak berpartisipasi dalam
perlindungan, penegakan, dan pemajuan hak asasi manusia.

Pasal 101
Setiap orang, kelompok, organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya
masyarakat, atau lembaga kemasyarakatan lainnya, berhak menyampaikan laporan atas
terjadinya pelanggaran hak asasi manusia kepada Komnas HAM atau lembaga lain yang
berwenang dalam rangka perlindungan, penegakkan dan pemajuan hak asasi manusia.

Pasal 103
Setiap orang, kelompok, organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya
masyarakat, perguruan tinggi, lembaga studi, atau lembaga kemasyarakatan lainnya, baik

12

secara sendiri-sendiri maupun bekerja sama dengan Komnas HAM dapat melakukan
penelitian, pendidikan, dan penyebarluasan informasi mengenai hak asasi manusia.
Kewajiban publik
Menurut undang-undang no 39 tahun 1999, hak publik antara lain:5

Pasal 68
Setiap warga negara wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Menurut UUD 1945, kewajiban publik terutama dalam bidang hukum antara lain:
1. Pasal 27 ayat (1)

Tiap-tiap warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan
wajib menjunjung hukum dan pemeritahan itu dengan tidak ada kecualinya
2. Pasal 30
Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara.
Tindak Kekerasan dan Penganiayaan

Penggunaan kekerasan pada suatu interogasi hanya boleh dilakukan apabila:6


Hanya boleh dilakukan setelah upaya persuasif tidak berhasil
Hanya untuk tujuan-tujuan perlindungan dan penegakan HAM secara proposional dengan

tujuan yang sah.


Diarahkan untuk memperkecil terjadinya kerusakan dan luka baik bagi petugas maupun bagi

masyarakat.
Digunakan hanya apabila diperlukan dan untuk penegakan hukum
Penggunaan kekerasan harus sebanding dengan pelangaran dan tujuan yang hendak dicapai.
Harus meminilasasi kerusakan dan cedera serta memelihara kehidupan manusia
Harus memastikan bahwa bantuan medisdan penunjangnya diberikan kepada orang-orang

yang terluka atau terkena dampak pada waktu sesegera mungkin.


Harus memastikan bahwa sanak keluarga atau teman terdekat yang terlukaatau terkena
dampak diberitahu sesegera mungkin.
Dampak Hukum Atas Keputusan yang Diambil
Menurut penjelasan menteri kehakiman pada waktu pembentukan pasal 351 KUHP

dirumuskan, antara lain :7


1. Setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk memberikan penderitaan badan
kepada orang lain.
2. Setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk merugikan kesehatan pada orang lain.
Berdasarkan pengertian tindak pidana diatas maka rumusan penganiayaan memuat unsurunsur sebagai berikut :7
13

i. Unsur kesengajaan.
Dalam tindak pidana penganiayaan unsur kesengajaan harus diartikan secara luas
yaitu meliputi kesengajaan sebagai maksud, kesengajaan sebagai kepastian dan
kesengajaan sebagai kemungkinan.
Dengan penafsiran bahwa unsur kesengajaan dalam tindak pidana penganiayaan
ditafsir sebagai kesengajaan sebagai maksud (opzet alsa olmergk), maka seorang baru
dikatakan melakukan tindak pidana penganiayaan, apabila orang itu mempunyai maksud
menimbulkan akibat berupa rasa sakit atau luka pada tubuh. Jadi, dalam hal ini maksud
orang itu haruslah ditujukan pada perbuatan dan rasa sakit atau luka pada tubuh.
Walaupun secara prinsip kesengajaan dalam tindak pidana penganiayaan harus
ditafsirkan sebagai kesengajaan sebagai maksud, namun dalam hal-hal tertentu
kesengajaan dalam penganiayaan juga dapat ditafsirkan sebagai kesengajaan sebagai
kemungkinan.
Namun demikian penganiayaan itu bisa ditafsirkan sebagai kesengajaan dalam sadar
akan kemungkinan, tetapi penafsiran tersebut juga terbatas pada adanya kesengajaan
sebagai kemungkinan terhadap akibat. Artinya dimungkinkan penafsiran secara luas unsur
kesengajaan itu yaitu kesengajaan sebagai maksud, kesengajaan sebagai kemungkinan
bahkan kesengajaan sebagai kepastian, hanya dimungkinkan terhadap akibatnya.
Sementara terhadap perbuatan itu haruslah pada tujuan pelaku.
ii. Unsur perbuatan.
Yang dimaksud perbuatan dalam penganiayaan adalah perbuatan dalam arti positif.
Artinya perbuatan tersebut haruslah merupakan aktivitas atau kegiatan dari manusia
dengan menggunakan (sebagaian) anggota tubuhnya sekalipun sekecil apapun perbuatan
itu.
Selain bersifat positif, unsur perbuatan dalam tindak pidana penganiayaan juga
bersifat abstrak. Artinya penganiayaan itu bisa dalam berbagai bentuk perbuatan seperti
memukul, mencubit, mengiris, membacok, dan sebagainya.
iii. Unsur akibat perbuatan (yang dituju) yaitu :
Rasa sakit, tidak enak pada tubuh;
Luka Tubuh
Rasa sakit dalam konteks penganiayaan mengandung arti sebagai terjadinya atau
timbulnya rasa sakit, rasa perih, atau tidak enak penderiataan.
Sementara yang dimaksud dengan luka adalah adanya perubahan dari tubuh, atau
terjadinya perubahan rupa pada tubuh sehingga menjadi berbeda dari keadaan tubuh
sebelum terjadinya penganiayaan. Perubahan rupa itu misalnya lecet-lecet pada kulit,
14

putusnya jari tangan, bengkak-bengkak pada anggota tubuh dan sebagainya.


Unsur akibat - baik berupa rasa sakit atau luka dengan unsur perbuatan harus ada
hubungan kausal. Artinya, harus dapat dibuktikan, bahwa akibat yang berupa rasa sakit
atau luka itu merupakan akibat langsung dari perbuatan dengan akibat ini, maka tidak akan
dapat dibuktikan dengan adanya tindak pidana penganiayaan.
iv. Akibat mana menjadi satu-satunya tujuan si pelaku.
Unsur ini mengandung pengertian, bahwa dalam tindak pidana penganiayaan akibat
berupa rasa sakit atau luka pada tubuh itu haruslah merupakan tujuan satu-satunya dari
pelaku. Artinya memang pelaku menghendaki timbulya rasa sakit atau luka dari perbuatan
(penganiayaan) yang dilakukannya. Jadi, untuk adanya penganiayaan harus dibuktikan
bahwa rasa sakit atau luka pada tubuh itu menjadi tujuan dari pelaku.
Apabila akibat yang berupa rasa sakit atau luka itu bukan menjadi tujuan dari pelaku
tetapi hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan lain yang patut, maka dalam hal ini
tidak terjadi penganiayaan.
Penganiayaan adalah tindak pidana yang menyerang kepentingan hukum berupa
tubuh manusia. Di dalam KUHP terdapat ketentuan yang mengatur berbagai perbuatan
yang menyerang kepentingan hukum yang berupa tubuh manusia.
Dalam KUHP tindak pidana penganiayaan dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Penganiayaan biasa sebagaimana diatur dalam pasal 351 KUHP


Penganiayaan ringan sebagaimana diatur dalam pasal 352 KUHP
Penganiayaan berencana sebagaimana diatur dalam pasal 353 KUHP
Penganiayaan berat sebagaimana diatur dalam pasal 354 KUHP
Penganiayaan berat berencana sebagaimana diatur dalam pasal 355 KUHP
Penganiayaan terhadap orang yang berkualitas tertentu sebagaimana diatur dalam pasal

356 KUHP
Dokter melanggar etika profesi kedokteran pada pasal :
Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)
Pasal 7d
Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi makhluk insani.

Pasal 9

Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang
lainnya serta masyarakat, haru saling mengormati.

Pasal 13

Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan,
kecuali bila ia yakin ada orang bersedia dan mampu memberikannya.
UU No 8 tahun 1981 KUHAP
Pasal 117
15

Keterangan tersangka dan atau saksi kepada penyidik diberikan tanpa tekanan dari siapapun
dan atau dalam bentuk apapun.
Penyelesaian Masalah
Menurut kasus diatas, terdapat alternative yang dapat dilakukan tanpa harus dilakukan
tindak penganiayaan terhadap tersangka, yaitu dengan penggunan obat-obatan yang biasa
digunakan untuk teknik interogasi.7
Dalam uji analisis test, imajinasi subjek dinetralkan dengan membuat orang tersebut
setengah sadar. dalam keadaan ini, tersangka akan sulit berbohong.
Para ahli atau dokter akan menyuntikan tersangka dengan Sodium Penthotal atau
Sodium Amythal. Dosis yang disuntikkan tergantung dengan jenis kelamin, kesehatan dan
kondisi fisik seseorang. Dosis yang salah dapat berakibat dengan koma atau kematian.
Sodium Amythal
Sodium Amytal mampu menurunkan hambatan, di mana orang yang disuntikkan zat
ini dapat memberikan pikiran yang jelas dan mendorong untuk memberikan keterangan
kepada interogator secara gamblang. Digunakan pertama kali pada Perang Dunia II, yaitu
ketika interogator sudah kehabisan cara untuk membuat tawanan mau berbicara untuk
menjelaskan tentang misinya.7
Sodium Amytal adalah sebuah barbiturat, yang akan memaksa tawanan untuk
menghidupkan kembali pengalaman masa perang mereka dan berbicara tentang mereka
dengan interogator.7

Skopolamin
Skopolamin paling sering dikenal sebagai serum kebenaran, memiliki kemampuan
yang luar biasa untuk membuat penjahat berbicara kebenaran. Namun, tidak terlalu banyak
orang yang tahu efek negatif dari skopolamin. Obat ini dapat membuat orang yang
meminumnya dapat melakukan apa saja yang diperintahkan oleh orang lain.7
Amfetamin
Amfetamin dan metamfetamin akan mengubah pengguna menjadi orang yang tidak
hentinya berbicara.. Ketika zat ini dimasukkan ke tubuh, korban mengalami dorongan
menarik untuk berbicara sebagaimana otak mereka dibanjiri oleh kenangan dan emosi.

16

Amfetamin akan mendorong seseorang secara sempurna untuk mengetahui kebenaran dari
seseorang yang pura-pura amnesia atau sengaja berbohong.7

Penutup
Kesimpulan
Pada pelaksanaan praktik kedokterannya, seorang dokter diharapkan dapat
menggunakan semua ilmu yang diperoleh dengan sebaik-baiknya. Seperti pada skenario
diatas, dimana seorang dokter diminta untuk melakukan tindakan keras, seorang dokter
wajib menolak apabila itu bertentangan dengan etika kedokteran yang berlaku sebagaimana
juga diatur dalam undang-undang bahwa seorang dokter harus menghargai setiap makhluk
insani dan menghargai hak asasi manusia (HAM). Sebagai gantinya, seorang dokter dapat
menggunakan obat-obatan yang tergolong aman seperti sodium amythal, skopolamin, dan
amfetamin saat akan mengintrogasi tersangka.

Daftar Pustaka
1. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan hukum kedokteran pengantar bagi
mahasiswa kedokteran dan hukum. Jakarta: Pustaka Dwipar. 2007. h. 8-12, 30-2, 535, 62-7, 77-9.
2. Budiyanto A, Widiatmaka W, dkk. Peraturan Perundang-Undangan Bidang
Kedokteran edisi 2. Jakarta. 2014. h. 20-36
3. Samil, Suprapti R. Etika kedokteran indonesia. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo. 2011.

17

4. Prayitno HA, Rahardiansah T. Pendidikan kadeham kebangsaan, demokrasi, dan hak


asasi manusia. Jakarta. Penerbit Universitas Trisakti. 2006. h.179-230.
5. Sudibyo, E. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak
Asasi Manusia.
6. Hardiman, Budi F. Terorisme, definisi, aksi dan regulasi. Jakarta. Imparsial. 2005.
7. Hanafiah MJ, Amir A. Etika kedokteran dan hukum kesehatan. Edisi ke 4. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2008. h. 54-6.

18