Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Dermatitis adalah istilah kedokteran untuk kelainan kulit yang mana kulit

tampak meradang dan iritasi. Peradangan ini bisa terjadi dimana saja namun yang
paling sering terkena adalah tangan dan kaki.
Dermatitis adalah penyakit kulit gatal-gatal, kering, dan kemerahan. Dematitis
juga dapat didefinisikan sebagai peradangan pada kulit, baik karena kontak
langsung dengan zat kimia yang mengakibatkan iritasi, atau reaksi alergi.
Dengan kata lain, dermatitis adalah jenis alergi kulit. Selain penyebab bahanbahan kimia, sering kali dermatitis terjadi ketika kulit sensitive kontak langsung
dengan perhiasan logam biasanya emas dengan kadar rendah atau perhiasan perak
dan kuningan.
Biasanya rasa gatal timbul karena area kulit tersebut kering maka gunakan
pelembab untuk mengurangi rasa gatal. Gunakan obat kulit untuk dermatitis, juga
akan membantu mengurangi rasa gatal.
Dermatitis mencakup semua jenis lesi kulit yang berwarna merah,melepuh,
basah, berskuama, menebal, dan gatal.Dermatitis akut terjadi dengan vesikel, bula,
eritema, basah, dan membentuk krusta, sedangkan Dermatitis kronik dengan plak
dan bercak gatal, berskuama, dan menebal.
Dermatitis tidak hanya terjadi pada orang dewasa tetapi juga pada anak-anak.
Tipe dermatitis yang sering terjadi pada anak-anak yaitu dermatitis atopik yang
merupakan suatu gejala eksim terutama timbul pada masa kanak-kanak. Gejala ini
biasanya timbul pada usia sekitar 2 bulan sampai 1 tahun den sekitar 85% pada
usia kurang dari 5 tahun. Pada keadaan akut, gejalanya berupa kulit kemerahan,

kulit melenting berisi cairan, basah dan sangat gatal. Kadang-kadang disertai
infeksi sekunder yang menimbulkan nanah.
B.

Rumusan Masalah
Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah untuk menjelaskan konsep

dasar dari penyakit dermatitis yang terjadi pada anak yaitu mulai dari apa definisi
dari dermatitis, etiologi, bagaimana patofisiologinya, manifestasi klinis,
komplikasi, pemeriksaan penunjang serta penatalaksanaan sehingga masyarakat
Vatutela dapat memahami tentang penyakit dermatitis
C.

Tujuan
Tujuan dari pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini adalah untuk memberikan

gambaran yang nyata tentang penyakit dermatitis pada anak serta penanganan dan
pencegahannya.
1. Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini untuk menambah pengetahuan pembaca khususnya
masyarakat Labuan Induk mengenai penyakit dermatitis.
2. Tujuan Khusus
Untuk menganalisis kejadian penyakit dermatitis di Desa Labuan Induk
Kec.Labuan Induk

BAB 2
METODE PENELITIAN

1. Teknik Pengumpulan Data


Data yang dikumpulkan dalam penulisan karya tulis ilmiah ini terdiri
dari data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang
digunakan untuk penulisan karya tulis ilmiah ini adalah studi literatur (deskstudy) dan review laporan-laporan yang ada. Literatur, dokumen dan
laporan-laporan sejenis yang terkait dengan topik yang akan dikaji baik
yang menyajikan fakta-fakta dan data-data yang maka berhubungan dengan
judul yang akan dibahas dalam karya tulis ilmiah ini, yakni Penyakit
Dermatitis Pada Masyarakat Di Desa Labuan Induk, Kecamatan
Labuan

2. Rancangan Analisis Data


Data kuantitatif dan data kualitatif yang berhasil dikumpulkan akan
dianalisis secara deskriptif. Dasar pemikirannya berdasarkan pada

berbagai bahan pustaka yang kami peroleh, maka tidak ada data yang
dianalisis secara statistik.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
DERMATITIS
1.

Definisi

Dermatitis berasal dari kata dermo- (kulit) -itis (radang/inflamasi), sehingga


dermatitis dapat diterjemahkan sebagai suatu keadaan di mana kulit mengalami
inflamasi.
Dermatitis adalah suatu peradangan pada dermis dan epidermis yang dalam
perkembangannya memberikan gambaran klinik berupa efloresensi polimorf dan
pada umumnya memberikan gejala subjektif gatal. (Mulyono :1986)
Dermatitis adalah peradangan epidermis dan dermis yang memberikan gejala
subjektif gatal dan dalam perkembangannya memberikan efloresensi yang
polimorf. (Junaidi Purnawan : 1982).
2.

Etiologi
Penyebab dermatitis dapat berasal dari luar (eksogen), misalnya bahan kimia,

fisik (contoh : sinar), mikroorganisme (bakteri, jamur); dapat pula dari dalam
(endogen), misalnya dermatitis atopik. Sebagian lain tidak diketahui pasti. Banyak
macam dermatitis yang belum diketahui patogenesisnya, terutama yang
penyebabnya fakktor endogen. Yang telah banyak dipelajari adalah tentang
dermatitis kontak, baik yang tipe alergik maupun iritan primer.
Berdasarkan etiologinya dermatitis dibagi dalam tipe :
a) Dermatitis kontak

1. Dermatitis kontak toksis akut. Suatu dermatitis yang disebabkan oleh iritan
primer kuat / absolut. Contok : H2SO4 , KOH, racun serangga.
2. Dermatitis Kontak Toksis Kronik. Suatu dermatitis yang disebabkan oleh
iritan primer lemah / relatif. Contoh : sabun , detergen.
3. Dermatitis Kontak Alergi. Suatu dermatitis yang disebabkan oleh alergen .
Contoh : logam (Ag, Hg), karet, plastik, popok atau diaper pada anakanak, dll.
b) Dermatitis Atopik. Suatu peradangan menahun pada lapisan epidermis yang
disebabkan zat-zat yang bersifat alergen. Contoh : inhalan (debu, bulu).
c) Dermatitis Perioral. Suatu penyakit kulit yang ditandai adanya beruntusberuntus merah disekitar mulut. Penyebabnya tidak diketahui dan bisa muncul
pemakaian salep kortikosteroid diwajah untuk mengobati suatu penyakit.
D) Dermatitis Statis. Suatu peradangan menahun pada tungkai bawah yang sering
meninggalkan bekas, yang disebabkan penimbunan darah dan cairan dibawah
kulit, sehingga cenderung terjadi varises dan edema.

3. Klasifikasi
Pembagian berdasarkan tatanama atau nomenklatur, morfolofi ataupun stadium
masih menjadi kontroversial dimana belum terjadi kesepakatan. Maka dari itu,
akan dipaparkan pembagian berdasarkan etiologi :
a) Eksogen
Dermatitis kontak; Jenis eksim ini disebabkan karena faktor di luar tubuh
penderita, seperti terpapar bahan kimia, iritasi karena sabun, kosmetik,
parfum dan logam. Dermatitis kontak adalah jenis eksim yang paling
banyak diderita manusia, diperkirakan 70% penyakit eksim merupakan

jenis ini. Secara klinis jenis eksim ini memiliki gejala terasa panas,
kemudian muncul benjolan, dan disertai adanya cairan. Bagian kulit yang
terserang jenis eksim ini memiliki batas tepi yang jelas, sehingga yang
mengalami gejala tersebut hanya pada bagian yang terserang. Tetapi jenis
eksim ini dapat menjadi kronis yang ditandai dengan kulit semakin
mengering, pigmentasi, terjadi penebalan kulit sehingga tampak garisgaris pada permukaan kulit dan kemudian terjadi retak-retak seperti teriris
pada kulit.
b) Endogen:
1. Dermatitis atopik; jenis eksim yang memiliki ciri khas yang berbeda
dengan jenis eksim dermatitis kontak yaitu adanya rasa gatal, memiliki
bentuk yang khas terrutama pada kulit wajah dan lipatan-lipatan tubuh,
serta adanya riwayat atopik yaitu alergi atau asma. Jenis eksim ini banyak
menyerang anak-anak dan bayi, dan biasanya merupakan penyakit eksim
kambuhan.
2. Dermatitis numularis; Jenis eksim ini pada umunya berhubungan dengan
kulit kering dan sering menyerang pada orang yang berusia lanjut. Gejala
penyakit eksim jenis ini berupa kulit mengering, merah, gatal, dan muncul
dalam bentuk bulatan-bulatan pipih seperti koin logam, biasanya terdapat
pada kulit kaki dan tangan.
3. Neurodermatitis; peradangan kronik pada kulit yang tidak diketahui
penyebabnya, lebih sering ditemukan pada wanita daripada pria dan
puncak insidennya adalah umur paruh baya.

4. Dermatitis stasis; jenis eksim kulit yang berkaitan dengan adanya varises
pada bagian kaki. Jenis eksim ini terdapat pada kaki ditandai dengan rasa
gatal, penebalan kulit serta berubahnya warna kulit menjadi memerah
bahkan kecoklatan.

4.

Patofisiologi
Dermatitis merupakan peradangan pada kulit, baik pada bagian dermis

ataupun epidermis yang disebabkan oleh beberapa zat alergen ataupun zat iritan.
Zat tersebut masuk kedalam kulit yang kemudian menyebabkan
hipersensitifitas pada kulit yang terkena tersebut. Masa inkubasi sesudah terjadi
sensitisasi permulaan terhadap suatu antigen adalah 5-12 hari, sedangkan masa
reaksi setelah terkena yang berikutnya adalah 12-48 jam. Bahan iritan ataupun
allergen yang masuk ke dalam kulit merusak lapisan tanduk, denaturasi keratin,
menyingkirkan lemak lapisan tanduk, dan mengubah daya ikat air kulit. Keadaan
ini akan merusak sel dermis maupun sel epidermis sehingga menimbulkan
kelainan kulit atau dermatitis.
Adapun faktor-faktor yang ikut mendorong perkembangan dermatitis adalah
gesekan, tekanan, balutan, macerasi, panas dan dingin, tempat dan luas daerah
yang terkena dan adanya penyakit kulit lain.
5.

Manifestasi Klinis
Secara umum manifestasi klinis dari dermatitis yaitu secara Subyektif ada

tandatanda radang akut terutama pruritus ( sebagai pengganti dolor). Selain itu
terdapat pula kenaikan suhu (kalor), kemerahan (rubor), edema atau
pembengkakan dan gangguan fungsi kulit (function less). Sedangkan secara

Obyektif, biasanya batas kelainan tidak tegas dan terdapat lesi polimorfi yang
dapat timbul secara serentak atau beturut-turut.
Gejala eksim akan mulai muncul pada masa anak anak terutama saat
mereka berumur diatas 2 tahun. Pada beberapa kasus, eksim akan menghilang
dengan bertambahnya usia, namun tidak sedikit pula yang akan menderita seumur
hidupnya. Dengan pengobatan yang tepat, penyakit ini dapat dikendalikan dengan
baik sehingga mengurangi angka kekambuhan.
Harus diperhatikan juga tentang gejala lainnya yang mungkin dapat
membantu mengenali dermatitis bila seseorang mengalaminya. Adapun gejalagejalanya sebagai berikut :
1) Terdapat tanda-tanda infeksi, meliputi area yang besah atau adanya pus.
2) Kulit terbuka, meradang atau sangat merah disertai rasa terbakar atau
panas disekitar daerah yang terinfeksi.
3) Ruam menyebar dan mengakibatkan rasa tidak nyaman yang berlangsung
4)
5)
6)
7)

lebih dari 3 minggu.


Timbul vesikel (tonjolan kecil berisih cairan jernih).
Terdapat bagian bersisik putih diarea terebut, atau sangat mengelupas.
Kulit menjadi sangat kering, keras dan kaku.
Pasien adalah anak-anak atau usia lanjut.

Secara klasifikasinya manifestasi klinis dermatitis dapat di bagi menjadi :


a) Dermatitis Kontak. Gatal-gatal , rasa tidak enak karena kering, kulit
berwarna coklat dan menebal.
b) Dermatitis Atopik. Gatal-gatal, muncul pada beberapa bulan pertama
setelah bayi lahir, yang mengenai wajah, daerah yang tertutup popok, tangan,
lengan dan kaki.
c) Dermatitis Perioral. Gatal-gatal bahkan menyengat, disekitar bibir tampak
beruntus-beruntus kecil kemerahan.

d) Dermatitis Statis. Awalnya kulit merah dan bersisik, setelah beberapa


minggu / bulan , warna menjadi coklat.
6.

Komplikasi
Komplikasi dengan penyakit lain yang dapat terjadi adalah sindrom

pernapasan akut, gangguan ginjal, Infeksi kulit oleh bakteri-bakteri yang lazim
dijumpai terutama staphylococcus aureus, jamur, atau oleh virus misalnya herpes
simpleks.
7.

Pemeriksaan Penunjang
Kulit harus diperiksa diruangan yang penerangannya cukup sebaiknya
dengan cahaya sinar matahari. Warna kulit harus dicatat. Pada palpasi kulit
terasa elastis dan mempunyai turgor. Kekeringan yang berlebihan
menyebabkan kulit bersisik dan berkerut.
Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain adalah :
a) Darah; Hb, leoukosit, hitung jenis, trombosit, elektrolit, protein total,
albumin, globulin.
b) Urin; pemeriksaan Hispatologi
c) Uji kulit, alergen, uji IgE spesifik, pada dermatitis atopic
d) Pemeriksaan kultur bakteri apabila ada komplikasi infeksi sekunder
bakteri, pada dermatitis kontak iritan.

8.

Penatalaksanaan
Tujuan utama dari pengobatan adalah menghilangkan rasa gatal untuk

mencegah terjadinya infeksi. Ketika kulit terasa sangat kering dan gatal, lotion
dan krim pelembab sangat dianjurkan untuk membuat kulit menjadi lebih lembab.
Tindakan ini biasanya dilakukan saat kulit masih sedikit basah, seperti saat habis

mandi sehingga lotion yang dioleskan akan mempertahankan kelembaban kulit.


Kompres dingin juga diduga dapat mengurangi rasa gatal yang terjadi.
Salep atau krim yang mengandung kortikosteroid seperti hydrokortison
diberikan untuk mengurangi proses inflamasi atau keradangan. Untuk kasus-kasus
yang berat, dokter akan memberikan tablet kortikosteroid dan apabila pada daerah
eksim telah terinfeksi maka bisa diberikan antibiotika untuk membunuh bakteri
penyebab infeksi. Obat lain yang dibutuhkan adalah antihistamin untuk
mengurangi rasa gatal yang terlalu berat, dan cyclosporin untuk penderita yang
tidak berespon terhadap semua jenis pengobatan yang diberikan.
Pada terapi ada beberapa anjuran yang harus dilakukuan guna
penyembuhan dermatitis itu sendiri dalam hal ini terdapat penjelasan dari setiap
terapi, yaitu :
1) Antihistamin dan Anti alergi
a) Antihistamin meredakan dermatitis yang diinduksikan oleh alergi,
bekerja terutama pada reseptor histamin H.
b) Perhatikan bahwa beberapa antihistamin menyebabkan mengantuk.
Tidak boleh diberikan pada pasien yang mengemudi atau beroperasi
mesin.
2) Antihistamin/Antipruritus Topikal
a) Memberi tahu kepada pasien untuk menggunakan preparat anti gatal
dengan tepat. Beberapa produk harus digosokkan secara topikal,
sedangkan yang lain digunakan sewaktu mandi.
b) Hindari kontak dengan mata atau puting susu bila sedang masa
menyusui. Anti-Infeksi Topikal.

10

c) Beberapa anti-infeksi topikal mengandung antibiotik sehingga dapat


digunakan untuk mengobati dermatitis yang terinfeksi.
3) Anti-infeksi Topikal dengan korfikosteroid
Kortikosteroid yang terkandung dalam preparat mi digunakan untuk menekan
peradangan akibat dermatitis. Obat tersebut berguna pada berbagai tipe dermatitis
yang terinfeksi.
4) Kortikosteroid topikal
a) Obat-obat seperti steroid sebaiknya digunakan hanya pada daerah yang
meradang.
b) Tidak dianjurkan untuk menggunakan preparat mi pada luka terbuka
atau pada wajah.
5) Pelindung kulit
a) Beberapa bahan yang terkandung dalam pelembab dan emolien dapat
memperburuk kondisi kulit.
b) Pelembab sebaiknya dioleskan sesering mungkin untuk menghindari
kekeringan kulit yang meluas.
6) Preparat Psoriasis, Seboroik dan Iktiosis
Obat-obat yang termasuk dalam kelompok ini digunakan untuk mengobati kondisi
dermatitis seboroik.
7) Suplemen
The Marigold, Minyak Evening, Primrose Marine E, Latio Calamin, Baking
Soda, Multivitamin dan Mineral, Vitamin A, C, dan E dan Zing, Ekstrak Kulit
Kayu Cemara.
Pengobatan yang tepat didasarkan atas kausa, yaitu menyingkirkan
penyebabnya. Tetapi, seperti diketahui penyebab dermatitis multi faktor, kadang
juga tidak diketahui pasti, maka pengobatan bersifat simtomatis, yaitu dengan
menghilangkan/mengurangi keluhan dan menekan peradangan.

11

Tujuan utama dari pengobatan adalah menghilangkan rasa gatal untuk


mencegah terjadinya infeksi. Ketika kulit terasa sangat kering dan gatal, lotion
dan krim pelembab sangat dianjurkan untuk membuat kulit menjadi lebih lembab.
Tindakan ini biasanya dilakukan saat kulit masih sedikit basah, seperti saat habis
mandi sehingga lotion yang dioleskan akan mempertahankan kelembaban kulit.
Kompres dingin juga diduga dapat mengurangi rasa gatal yang terjadi.
Salep atau krim yang mengandung kortikosteroid seperti hydrokortison
diberikan untuk mengurangi proses inflamasi atau keradangan. Untuk kasus kasus
yang berat, dokter akan memberikan tablet kortikosteroid dan apabila pada daerah
eksim telah terinfeksi maka bisa diberikan antibiotika untuk membunuh bakteri
penyebab infeksi. Obat lain yang dibutuhkan adalah antihistamin untuk
mengurangi rasa gatal yang terlalu berat, dan cyclosporin untuk penderita yang
tidak berespon terhadap semua jenis pengobatan yang diberikan.
Pada kasus ringan dapat diberikan antihistamin, atau antihistamin
dikombinasi dengan antiserotonin, antibradikinin, anti-SRA, dan sebagainya.
Pada kasus akut dan berat dapat diberi kortikosteroid. Prinsip umum terapi
topikal diuraikan di bawah ini:
1) Dermatitis akut/basah (medidans) harus diobati secara basah (kompres
terbuka). Bila subakut, diberi losio (bedak kocok), krim, pasta, atau
linimentum (pasta pendingin). Krim diberikan pada daerah yang berambut,
sedang pasta pada daerah yang tidak berambut. Bila kronik, diberi salap.
2) Makin berat atau akut penyakitnya, makin rendah persentase obat spesifik.
Ada juga cara lain yaitu mencegah terjadinya dermatitis, seperti yang
dijelaskan di atas yaitu terapi dan pengobatan. Salah satu cara tersebut

12

dengan mencegah dan mempunyai tahap-tahapnya. Munculnya eksim


dapat dihindari dengan melakukan beberapa tips dibawah ini :
a)
b)
c)
d)
e)

Jaga kelembaban kulit.


Hindari perubahan suhu dan kelembaban yang mendadak.
Hindari berkeringat terlalu banyak atau kepanasan.
Kurangi Stress.
Hindari pakaian yang menggunakan bahan yang menggaruk

seperti wool dan lain lain.


f) Hindari sabun dengan bahan yang terlalu keras, deterjen dan
larutan lainnya.
g) Hindari faktor lingkungan lain yang dapat mencetuskan alergi
seperti serbuk bunga, debu, bulu binatang dan lain lain.
h) Hati-hati dalam memilih makanan yang bisa menyebabkan
alergi.

9.

Pencegahan
Hal-hal yang harus diperhatikan oleh para penderita penyakit eksim adalah :
a) Jangan terlalu sering mandi (karena kalau terlalu sering basah maka akan
susah keringnya) atau bila perlu di lap saja.
b) Bila akan mandi gunakan air hangat-hangat (jangan terlalu panas).
c) Hindari pengunaan sabun pada daerah yang terserang dermatitis karena
bila daerah yang terserang dermatitis terkena sabun maka akan teriritasi.
d) Hindari kontak dengan kain atau selimut yang terbuat dengan wol,
pakailah pakaian yang bersih, tidak ketat dan meyerap keringat.
e) Bila dermatitis dikarenakan alergi terhadap makanan tertentu, maka
hindari makanan tersebut.
f) Jangan menggunakan sabun atau deterjen yang keras.
g) Hindari penggunaan zat-zat kimia seperti kosmetik dan obat-obatan yang
terlalu keras terhadap kulit.

13

h) Jaga keseimbangan berat badan, orang yang mempunyai berat badan lebih,
apalagi sangat gemuk lebih banyak berkeringat dan mempunyai gesekan
pada lipatan kulit yang memicu jamur kulit.
i) Dan yang paling penting jangan menggaruk. Menggaruk dermatitis hanya
akan memperburuk keadaan, karena kulit akan terinfeksi oleh bakteribakteri yang ada di dalam kuku, dan bila lukanya sudah mengering maka
warna kulit akan tampak berbeda. Sebaiknya guntinglah kuku pada orang
yang mempunyai penyakit eksim agar luka tidak terinfeksi oleh kuman.

14

3.2 HASIL

a. Berdasarkan analisis dan observasi yang telah dilakukan selama hampir 2


bulan di Desa Labuan Induk bahwa dermatitis merupakan penyakit ke-3
terbanyak setelah penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) dan
Hipertensi,dimana penyakit ini sudah menduduki peringkat ke-3 semenjak
tahun 2009.
b. Tidak dapat dipastikan secara pasti penyebab dari terjadinya dermatitis
secara langsung namun berdasarkan observasi didapati faktor lingkungan
yang menjadi faktor utama pencetus terjadinya dermatitis.
c. Penggunaan air secara bersamaan dalam kehidupan sehari hari seperti
mandi,menyikat gigi, dan mencuci pakaian di tempat yang bersamaan
dapat memicu terjadinya dermatitis yang disebabkan oleh pertumbuhan
mikroorganisme.

15

BAB VI
KESIMPULAN
1.Kesimpulan
Dermatitis adalah suatu peradangan pada lapisan dermis dan epidermis yang
dalam perkembangannya memberikan gambaran klinik berupa efloresensi
polimorf dan pada umumnya memberikan gejala subjektif gatal.
Secara umum penyebab dari dermatitis yaitu respon kulit terhadap agen-agen
yang beraneka ragam misalnya ; zat kimia, protein, bakteri adanya respon alergi.
Secara umum manifestasi klinis dari dermatitis yaitu secara Subyektif ada
tandatanda radang akut terutama pruritus ( sebagai pengganti dolor). Selain itu
terdapat pula kenaikan suhu (kalor), kemerahan (rubor), edema atau
pembengkakan dan gangguan fungsi kulit (function laisa). Sedangkan secara
Obyektif, biasanya batas kelainan tidak tegas dan terdapat lesi polimorfi yang
dapat timbul secara serentak atau beturut-turut.
Komplikasi dengan penyakit lain yang dapat terjadi adalah sindrom
pernapasan akut, gangguan ginjal, Infeksi kulit oleh bakteri-bakteri yang lazim
dijumpai terutama staphylococcus aureus, jamur, atau oleh virus misalnya herpes
simpleks.

2.

Saran

16

Kepada masyarakat Desa Labuan Induk atau pembaca disarankan agar dapat
mengambil pelajaran dari Karya Tulis Ilmiah ini sehingga apabila terdapat tanda
dan gejala penyakit dermatitis pada maka kita dapat melakukan tindakan yang
tepat agar penyakit tersebut tidak berlanjut ke arah yang lebih buruk. Dan
disarankan kepada orang tua agar menjaga/menghindarkan anak-anak dari bahanbahan yang dapat menyebabkan dermatitis.

DAFTAR PUSTAKA

17

1.

Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah

Edisi 8 Vol. 3. Jakarta : EGC


2. Doenges, Marilyn E. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman
Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi III.
Jakarta : EGC
3. Mansjoer, Arief. 1998. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jakarta : EGC
4. http://www.klikdokter.com/illness/detail/216. Di akses : Kamis, 26/11/2014
5. http://www/medicastore.com/med/detail_pyk_php?
idktg:14&iUD:200509161940052002159.126.194. Di akses : Kamis,
26/11/2014

6. Carpenito, Linda Juall. 2001. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.


7. Closkey, Mc, et all. 2007. Diagnosa Keperawatan NOC-NIC. St-Louis
Harahap. M, 2000. Ilmu penyakit kulit. Hipokrates. Jakarta.
8. Santosa, Budi. Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta : Prima Medikal.
2005-2006

18