Anda di halaman 1dari 3

GLIKOSIDA SAPONIN

Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat yang menimbulkan busa jika
dikocok dalam air dan pada konsentrasi yang rendah sering menyebabkan hemolisis dalam air
dan pada konsentrasi yang rendah sering menyebabkan hemolisis sel darah merah. Dalam larutan
yang sangat encer saponin sangat beracun untuk ikan, dan tumbuhan yang mengandung saponin
telah digunakan sebagai racun ikan selama beratus-ratus tahun. Beberapa saponin bekerja
sebagai antimikroba (Robinson, 1995)
Saponin adalah glikosida, yaitu metabolisme sekunder yang banyak terdapat di alam
terdiri dari gugus gula yang berikatan dengan aglikon atau sapogenin.
Sifat-sifat saponin: berasa pahit, berbusa dalam air, mempunyai sifat detergen yang baik,
beracun bagi binatang berdarah dingin, mempunyai aktivitas haemolisis, merusan sel darah
merah, tidak beracun bagi binatang berdarah panas, mempunyai sifat antiinflamasi.
Beberapa daya kerja dan pemakaian dari saponin adalah sebagai berikut:
1. Semua saponin menyebabkan haemolisa, Karena itu beracun untuk semua organisme.
Bila diberikan secara parenteral setangah sampai beberapa mg per kg berat badan, dapat
mematikan pada pemberian intravena
2. Pengaruh terhadap alat pernafasan dapat dibuktikan dengan kenyataan dengan
digunakannya obat yang mengandung saponin untuk mencari ikan oleh rakyat yang
primitife. Kadar saponin yang sangat kecil melumpuhkan fungsi pernafasan dari insang.
3. Kegunaan saponin dalam pengobatan nampaknya terutama oleh sifatnya yang
berpengaruh terhadap absorpsi zat aktif secara farmakologi. Beberapa contoh untuk
menggambarkan sifat tersebut antara lain: penggunaaan secara simultan digitoksin dan
saponin digitonin, meningkatkan efek digitoksin sampai kurang lebih 50 kali bila
diberikan secara oral terhadap katak.
4. Saponin juga menaikkan permeabilitas kertas saring. Filter dengan pori yang cukup kecil
untuk menahan partikel yang berukuran tertentu akan dapat meloloskan partikel tersebut
karena adanya saponin
5. Secara teknik saponin digunakan sebagai emulsifier
6. Saponin menimbulkan iritasi berbagai tingkat terhadap selaput lendir mulut, perut, dan
usus bergantung dari sifat masing-masing saponin

7. Saponin merangsang keluarnya secret dari bronchial, hal ini diterangkan dengan begitu
banyak penggunaan obat semacam senega dan liquiritse sebagai ekspektoran dan bahan
sekreteolitik dalam pengobatan penyakit alat pernafasan
8. Saponin juga meningkatkan absorbsi zat diuretika ( garam-garam) dan nampaknya juga
merangsang ginjal untuk lebih aktif. Hal ini mungkin menerangkan kenyataan mengapa
obat saponin sangat sering digunakan untuk rematik dalam pengobatan rakyat.
9. Dalam industri saponin digunakan dalam jumlah bsar sebagai emulsifier terutama dalam
pemadaman kebakaran, pekerjaan pencucian, dan lain- lain ( Brotosisworo. 1979)
Adanya saponin dalam tanaman juga dapat ditunjukkan dengan beberapa antara lain:
a. Indeks buih menunjukkan angka pengenceran dari zat atau obat yang diperiksa yang akan
memberikan suatu lapisan buih yang tingginya 1 cm sampai 10 cm, bila larutan digojok
dalam gelas ukur selama 15 detik dan selanjutnya dibiarkan dulu selama 10 menit
sebelum dilakukan pembacaan. (Anonym, 1995)
b. Haemolisa
Campur bahan yang akan diperiksa dengan larutan dapar fosfat pH 7,4, panaskan,
dinginkan, saring. Ambil filtrat campur dengan suspensi darah. Diamkan selama 30
menit, terjadi haemolisa total berarti menunjukkan adanya saponin ( Anonym, 1995)
c. Reaksi warna
Reaksi warna dapat digunakan untuk menggolongkan saponin (sapogenin) yang
digunakan untuk membuktikan identitas dari suatu obat, dan jika perlu untuk memonitor
pada waktu pemisahan. Tidak ada reaksi warna yang secara spesifik untuk tiap jenis
saponin. Reaksi berikut ini dapat digunakan yaitu:
1) Dengan mengunakan asam asetat anhidrat dan asam sulfat ( disebut reaksi
Liebermann-Buchard). Hasilnya ditunjukkan dengan adanya perubahan warna yang
bergantung

dari aglikonnya yaitu merah muda sampai merah berarti termasuk

golongan triterpenoid. Sedangkan jika warnanya biru hijau maka menunjukkan


adanya senyawa golongan steroid ( Bruneton 1999)
2) Dengan mengunakan vanillin, anisaldehid dan aldeid lainnya yang ditambah dengan
asam mineral kuat, yang kemungkinan hasil reaksi antara aldeid dan aglikon
( Bruneton 1999)
Dikenal dua jenis saponin yaitu, glikosida triterpenoid alcohol dan glikosida struktur
steroid tertentu yang mempunyai rantai samping spiroketal. Kedua jenis saponin ini larut
dalam air dan etanol tetapi tidak larut dalam eter ( Robinson, 1995)

Sumber : skripsi puspita ayu kristianti, isolasi dan identifikasi saponin pada herbakrokot
(Portulaca oleacea L) universitas sanata darma Yogyakarta 2007