Anda di halaman 1dari 48

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

PROPOSAL USAHA
PEMANFAATAN UMBI TALAS
MENJADI PRODUK CEMILAN BERUPA KERIPIK TALAS

Disusun Oleh:
DADANG MARYANTO
07460010
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2011
HALAMAN PENGESAHAN
USULAN PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA
1. Judul Kegiatan
: Pemanfaatan Umbi Talas Menjadi Produk Cemilan
Berupa Keripik Talas
2.

aaja
ujh
gu
Bidang Kegiatan

PKMT

PKMP

PKMM

PKMK

3.
a.
b.
c.
d.
e.

Ketua Pelaksana
Nama Lengkap
: Dadang Maryanto
NIM
: 07460010
Jurusan
: PGSD
Universitas
: PGRI Yogyakarta (UPY)
Biaya Kegiatan Total
Dikti
: Rp 354.500,Sumber Lain
: Rp 4. Jangka Waktu Pelaksanaan: Bulan Juni s/d Oktober Tahun 2011
Yogyakarta,
Menyetujui
Ketua Jurusan
Pelaksana
(Dr. Sunarti. M. Pd )
NIP.
Pembantu Rektor Bidang
Kemahasiswaan

(..)
NIP. ...

(Dadang Maryanto)
NIM. 07460010
Dosen Pendamping

(Dra. Tri Siwi Nugrahani, S.E, M.Pd)


NIP.

A. JUDUL PROGRAM
PEMANFAATAN UMBI TALAS MENJADI PRODUK CEMILAN BERUPA KERIPIK
TALAS.
B. LATAR BELAKANG
Sekarang ini banyak orang menjadi pengangguran yang diakibatkan kurang
tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai, sehingga diperlukan terobosan baru untuk
menciptakan peluang kerja. Akan tetapi bukan hal yang mudah untuk menciptakan peluang
kerja di era masa kini. Disamping minimnya skill atau ketrampilan yang dimiliki, orang juga
tersandung kendala di segi modal yang penting untuk menunjang suatu kegiatan usaha.
Alternatif lain yang dipilih masyarakat untuk meminimalisasi kendala di segi keuangan yaitu
dengan membuka usaha kecil-kecilan yang berskala rumah tangga. Sebenarnya usaha ini
dapat menjadi usaha yang menguntungkan serta memberi peluang besar untuk menciptakan
lapangan pekerjaan serta meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat. Namun yang sering
terjadi, masyarakat sering mengalami kegagalan dalam menjalankan usaha kecil ini. Hal ini
disebabkan kurangnya keterampilan mengembangkan dan membaca peluang usaha, sehingga

diperlukan ide baru dan kreatifitas agar usaha tersebut dapat berjalan lancar dan dapat
bersaing di pasaran.
Di Kabupaten Purworejo, salah satu peluang usaha yang masih terbuka lebar adalah
usaha di bidang makanan ringan. Hal ini dilihat dari tingkat tingginya minat dan tingkat
konsumsi masyarakat terhadap makanan ringan. Namun pemanfaatan umbi talas sebagai
produksi skala besar di Purworejo masih jarang, karena rendahnya harga jual talas yang
rendah sehingga kurang dimanfaatkan. Selain itu, produk olahan talas yang sudah ada
cenderung kurang inovatif serta kualitas rasa dan penyajiannya yang kurang menarik,
sehingga masyarakat menjadi jenuh dengan produk olahan talas. Untuk itu diperlukan produk
baru yang mampu memenuhi permintaan masyarakat.
Dengan adanya produk olahan dari umbi talas berupa keripik ini, diharapkan dapat
menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat sebagai produk camilan yang mengandung nilai
gizi yang tinggi baik yang berasal dari umbi talas. Selain itu juga dapat meningkatkan nilai
ekonomis dari talas dan juga menjadi salah satu alternative peluang usaha sehingga dapat
tercipta lapangan pekerjaan baru.
C. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat ditarik perumusan masalah yaitu:
1. Bagaimana cara pengolahan umbi talas menjadi keripik talas sehingga dapat meningkatkan
nilai ekonomis talas?
2. Bagaimana cara pemasaran produk camilan keripik talas sebagai produk baru di masyarakat?
D. TUJUAN PROGRAM USAHA
Adapun tujuan yang ingin dicapai yaitu:
1. Meningkatkan nilai guna dan nilai ekonomis talas terutama umbi talas.
2.

Menciptakan peluang usaha bagi masyarakat, khususnya bagi mahasiswa dan penduduk
kabupaten Purworejo.

3.

Menyediakan dan memperkenalkan produk inovasi dari talas untuk memenuhi permintaan
pasar konsumen di Kabupaten Purworejo dan sekitarnya.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN


Diharapkan melalui kegiatan ini, talas dapat dimanfaatkan secara maksimal sehingga
dapat meningkatkan nilai ekonomisnya, dengan dihasilkan barang komersial serta dapat

menjadi salah satu peluang usaha yang memiliki prospek yang baik dan dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.
F. KEGUNAAN PROGRAM
Kegunaan diadakannya kegiatan program ini adalah untuk:
1.

Membangun jiwa wirausaha bagi mahasiswa, sehingga dapat melihat peluang dan
memanfaatkannya menjadi suatu yang bernilai ekonomis.

2. Memanfaatkan talas sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.


3. Membuka peluang usaha baru bagi masyarakat yang ingin menciptakan lapangan pekerjaan.
G. TINJAUAN PUSTAKA
1. TALAS (Colocasia esculenta(L.) Schott)
Talas merupakan tanaman pangan berupa herba menahun. Termasuk dalam suku talastalasan (Araceae), berperawakan tegak, tingginya 1 cm atau lebih dan merupakan tanaman
semusim atau sepanjang tahun. Asal mula tanaman ini berasal dari daerah Asia Tenggara,
menyebar ke China dalam abad pertama, ke Jepang, ke daerah Asia Tenggara lainnya dan ke
beberapa pulau di Samudra Pasifik, terbawa oleh migrasi penduduk. Di Indonesia talas bisa
di jumpai hampir di seluruh kepulauan dan tersebar dari tepi pantai sampai pegunungan di
atas 1000 m dpl., baik liar maupun di tanam.
Di Indonesia, talas dikonsumsi sebagai makanan pokok dan makanan tambahan. Talas
mengandung karbohidrat yang tinggi, protein, lemak dan vitamin. Talas mempunyai nilai
ekonomi yang cukup tinggi. Umbi, pelepah dan daunnya banyak dimanfaatkan sebagai bahan
makanan, obat maupun pembungkus. Daun, sisa umbi dan kulit umbi dapat dimanfaatkan
sebagai pakan ternak dan ikan secara langsung maupun setelah difermentasi. Tanaman ini
mempunyai keterkaitan dengan pemanfaatan lingkungan dan penghijauan karena mampu
tumbuh di lahan yang agak berair sampai lahan kering.
2. UMBI TALAS
Umbi Talas berbentuk silinder atau lonjong sampai agak bulat. Kulitnya berwarna
kemerahan, bertekstur kasar dan terdapat bekas-bekas pertumbuhan akar. Sedangkan warna
dagingya putih keruh. Kandungan kimia dalam talas dipengaruhi oleh varietas, iklim,
kesuburan tanah, dan umur panen. Umbi talas segar sebagian besar terdiri dari air dan
karbohidrat. Kandungan gizi yang terdapat pada 100 gram umbi talas terdapat dalam tabel
berikut :
Tabel 1. Kandungan gizi talas

Kandungan gizi

Talas mentah

Talas rebus

Energi (kal)
Protein (g)
Lemak (g)
Hidrat arang total (g)
Serat (g)
Abu (g)
Kalsium (mg)
Fosfor (mg)
Besi (mg)
Karoten total
Vitamin B1 (mg)
Vitamin C (mg)
Air (g)
Bagian yang dimakan (%)

120
1,5
0,3
28,2
0,7
0,8
31
67
0,7
0
0,05
2
69,2
85

108
1,4
0,4
25,0
0,9
0,8
47
67
0,7
0
0,06
4
72,4
100

Umbi talas mengandung banyak senyawa kimia yang dihasilkan dari metabolisme
sekunder seperti alkaloid, glikosida, saponin, essensial oil, resin, gula dan asam-asam
organik. Umbi talas mengandung pati yang mudah dicerna kira-kira sebanyak 18,2% dan
sukrosa serta gula pereduksinya 1,42%.
3. Keripik Talas
Keripik merupakan salah satu makanan ringan yang memiliki peminat yang banyak.
Hampir semua orang mengenal dan menyukai keripik. Namun, selama ini keripik yang
digemari kebanyakan orang terbuat dari ketela pohon (singkong). Adapun alat dan bahan
serta cara pembuatan keripik umbi talas adalah sebagai berikut:
a.

Alat
Peralatan yang dibutuhkan dalam pembuatan keripik adalah:

Kompor gas + tabung gas

Penggorengan

Saringan penggorengan

Solet

Pengaduk

Sendok

Baskom

Pisau

Lap

Talenan

b. Bahan

Umbi talas 20 kg

Minyak goreng 3 kg

Bawang Merah 2 ons

Bawang puith 3 ons

Ketumbar 0,5 ons

Kemiri 0,25 ons

Penyedap 3 bks

Garam 1 bungkus

c.

Cara Pembuatan

1. Menyiapkan alat dan bahan


2.

Mengupas kulit umbi talas kemudian mencucinya hingga bersih dan direndam dengan air
yang ditambahkan garam dapur (NaCl) selama 30 menit agar rasa gatal dari umbi talas dapat
dihilangkan kemudian ditiriskan.

3.

Umbi talas yang sudah ditiriskan kemudian dipotong tipis-tipis lebih kurang 2-3 mm atau
sesuai ukuran yang dikehendaki.

4. Haluskan bumbu kemudian larutkan dalam air secukupnya.


5. Masukkan umbi talas ke dalam baskom yang berisi larutan bumbu kemudian campur hingga
bumbu meresap secara merata.
6. Panaskan minyak goreng.
7. Goreng umbi talas yang sudah dibumbui sampai matang dan renyah.
8.

Tiriskan keripik, setelah kering dan dingin kemudian langsung dikemas dalam plastik
kemasan yang ada dan diberi label di setiap kemasan.

d. Peluang Usaha Dan Kelayakan


1. Peluang Usaha
Produk makanan berupa keripik telah banyak dikenal dan dikonsumsi masyarakat.
Keripik disukai oleh masyarakat berbagai usia baik anak-anak maupun dewasa, karena
rasanya yang enak, gurih dan renyah. Melalui inovasi berupa keripik talas yang mengandung
gizi yang tinggi serta rasanya yang enak dan gurih diharapakan akan meningkatkan konsumsi
masyarakat terhadap keripik talas ini.

Talas yang berlimpah di Purworejo ini memudahkan dalam pencarian bahan baku
utama dari keripik talas ini. Selain itu harga bahan baku yang murah dan terjangkau karena
dalam suatu usaha memiliki prinsip mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari
modal yang sekecil-kecilnya. Jadi dengan bahan baku utama yang murah maka biaya
produksi dapat diminimalisasi namun mendapat keuntungan yang maksimal. Kelayakan
dalam suatua usaha, tidak terlepas dari berbagai faktor ketersediaan bahan baku, target
konsumen, tingkat persaingan produk sejenis, dll.
Berikut
adalah

beberapa

pertimbangan
factor SWOT yang
bisa

ditemukan

dalam
menganalisis
keberlangsungan
usaha

KERIPIK

TALAS.

Dimana

terdapat 4 faktor
yang

menjadi

Faktor SWOT

Kekuatan (Strength)

Kelemahan (Weakness)

Peluang (Opportunity)

Ancaman (Threath)

Usaha Pembuatan Keripik Talas


Harga produk yang murah
Bahan Baku yang melimpah
Keunikan produk
Kesukaan konsumen akan produk
Umur simpan Produk yang panjang
Kurangnya promosi
Kemungkinan kemasan yang kurang
menarik
Kesempatan biaya produksi murah
Peluang pasar di Purworejo
Kesempatan menguasai pasar
Standarisasi mutu
Kemungkinan pesaing skala besar
Perubahan selera masyarakat

pertimbangan yaitu
kekuatan (Strength), kelemahan (Weakness), Peluang (Opportunity), ancaman (Threath)
adalah sebagai berikut:
Tabel. Faktor SWOT usaha pembuatan Keripik Talas.

2. Analisis usaha Keripik Talas


Dalam 1 periode produksi keripik talas akan digunakan bahan baku umbi talas
sebanyak 20 kg. Dari 20 kg bahan mentah talas akan diperoleh sekitar 16 kg keripik talas
(bahan baku mengalami penyusutan sekitar 4 kg). Produk akan dikemas dalam bentuk
kemasan dengan netto: 250 gram (1/4 kg) sehingga dari 16 kg produk yang dihasilkan akan
diperoleh 64 bungkus dengan berat 250 gram.
Harga untuk 1 bungkus keripik dengan berat 250 gram adalah Rp.6.000,- sehingga
akan diperoleh pendapatan kotor di setiap periode adalah sebesar 64 bks x Rp.5.000,- =
Rp.320.000,-.
Adapun keseluruhan modal yang dikeluarkan di awal pendirian usaha, meliputi
peralatan, bahan habis pakai, transportasi, promosi, dll adalah Rp.354.500,- (lihat tabel 1).
(Jadi, jika dihitung berdasarkan keseluruhan modal awal yang meliputi bahan habis pakai,
peralatan, dan biaya lain-lain (tabel 1) sebesar Rp.354.500,- maka modal akan kembali
dalam waktu 2-3 bulan atau 3 kali produksi (3 periode produksi) dengan rincian :
pendapatan per produksi Rp.320.000 x 3 periode = Rp.960 .000,-).
Untuk modal tetap (modal yang tidak perlu dikeluarkan lagi di setiap periode
produksi) meliputi peralatan dan biaya lain-lain dengan jumlah Rp.354.500,- (lihat tabel 1).
Sedangkan modal/biaya yang perlu dikeluarkan setiap kali produksi meliputi biaya bahan
habis pakai sebesar Rp.120.500,- (lihat tabel 1) dan biaya susut peralatan per bulan sebesar
Rp 15.800,- (lihat tabel 2) sehingga biaya produksi yang dikeluarkan setiap bulannya adalah
Rp.136.300,Pendapatan per produksi = Rp.256.000,Pengeluaran per produksi = Rp.136.300,Keuntungan per produksi = Rp.119.700,-

Tabel 1 Anggaran Biaya

NO
1

URAIAN
BAHAN HABIS PAKAI
a. Umbi Talas

@ Rp 2.000,-/kg x 20 kg

b. Bawang Merah

@ Rp 3.000,-/ons x 2 ons

c. Bawang Putih

@ Rp 4.000,-/ ons x 3 ons

d. Minyak Goreng @ Rp. 10.000,-/kg x 3 kg


e. Garam

@ Rp 3.000,-/bks x 1 bks

f. Penyedap Rasa @ Rp 500,-/bks x 3 bks


Pemasukan *
Rp 256.000,g. Ketumbar
@ Rp
x 0,5 ons
Pengeluaran
* 2000,-/ons
Rp 136.300,Keuntungan *
Rp 119.700,h. Kemiri
@ Rp 4000,-/ons x 0,25 ons
i. Gas 3 Kg

JUMLA
H
Rp 50.00
0,Rp
6.000,Rp 12.00
0,Rp
30.000,Rp
3.000,Rp
1.500,Rp
1.000,Rp
1.000,Rp

@ Rp 15. 000,-/tabung x 1

Tabel

15.000,Biaya Penyusutan
Rp
Alat Per Bulan
JUMLAH
120.500,2 PERALATAN
No Nama Barang Jumlah
Harga
Usia
Biaya
Rp alat
(Rp)
Pakai
Penyusutan
a. Kompor gas
@Rp 60.000,-/kompor x 1
60.000,(Tahun) (Rp/Bulan)
1. Kompor Gas Rp 1
Rp
6
5.000,60.000,b. Lap
@Rp 3.000,-/helai x 2
6.000,2. Talenan
Rp
1
1.000,Rp 1
4.000,c. Talenan
@Rp 4.500,-/buah
2
9.000,3. xPenggorengan
1
Rp
5
3.000,Rp
30.000,4. Baskom
2
Rp
3
1.200,d. Penggorengan @Rp 30.000,-/buah
x1
30.000,5.000,Rp
5. xPisau
2
Rp
5
1.000,e. Baskom
@Rp 5.000,-/buah
2
10.000,4.000,Rp
6. Saringan
1
Rp
2
2.000,f. Pisau
@Rp 4.000,-/buah
x2
8.000,8.000,g. Saringan
@Rp 5.000,-/buah
Rp 1
7. Solet
Rp 4.000
2
1.000,penggorengan
5.000,8. Serok
1
Rp 6.000
2
1.600,Rp
JUMLAH BIAYA PENYUSUTAN PERALATAN
Rp 15.800,PER
BULAN
h. Solet
@Rp 4.000,-/buah x 1
4.000,Rp
Serok
@Rp 6.000,-/buah x 1
6.000,Rp
Plastik Kemasan 1/4kg @Rp 3.000,-/bks x 2
6.000,Rp
JUMLAH
144.000,3 BIAYA LAIN-LAIN
Rp
Transportasi
50.000,Rp
Promosi
20.000,Rp
Laporan dan Pengadaan

20.000,Rp

a. BEP

BEP volume produksi =


=136.300,-/5.000,= 28 bungkus
Maka modal akan kembali setelah diproduksi keripik talas sebanyak 27 bungkus. Jadi
apabila dalam 1 kali produksi dihasilkan 50 bungkus keripik maka akan diperoleh
keuntungan sebanyak 50 bks 27 bks = 23 bks.

BEP Harga Produksi


= 136.300,- / 50 bks
= Rp 2.726,Jadi, harga untuk 1 bungkus keripik sebesar Rp 2.726,- merupakan harga dimana
biaya/modal produksi kembali sehingga untuk mendapatkan keuntungan harga per unit/ per
kemasan harus di atas Rp 5.000,-. Jadi dengan harga per bungkus Rp.5.000,- maka diperoleh
keuntungan per bungkus sebesar Rp 5.000 - Rp 2726. = Rp 2.274,-.

b. B/C Ratio
Keuntungan (B) yang diperoleh per bulan adalah Rp. 119.700,- dan biaya produksi (C) per
bulan adalah Rp. 136.300,- sehingga diperoleh B/C Ratio = 119.700,- : 136.300,- = 0.89. Jadi
dengan B/C Ratio 0,89 (di atas nol) maka usaha ini dinyatakan layak dan keuntungan yang
diperoleh adalah 90 % dari biaya produksi.
R/C Ratio
Seluruh pemasukan/pendapatan per bulan (R) adalah Rp. 384.000,- dan biaya produksi per
bulan (C) Rp. 136.300,- sehingga diperoleh R/C Ratio = 320.000,- : 136.300,- = 2,3. Jadi
dengan R/C Ratio 2,3 (di atas 1) maka usaha ini dinyatakan layak untuk didirikan.
c.

Rencana Pencapaian
Perencanaan menajemen yang digunakan adalah general partnersip yaitu semua
anggota ikut secara aktif mengoperasikan bisnis serta bersama-sama bertanggung jawab,
termasuk tanggung jawab yang tak terbatas terhadap hutang-hutang bisnis. Namun dalam
pelaksanaan teknis ada pembagian tugas masing-masing sesuai kesepakatan bersama. Selain
itu akan diadakannya kerjasama dengan beberapa pedagang skala menengah ke bawah dan

tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan pengusaha skala atas untuk
membantu memasarkan produk keripik ini sehingga dapat dengan cepat dikenal dan diminati
oleh masyarakat.
d. Gambaran Umum Masyarakat Sasaran
Adapun masyarakat yang akan dijadikan sasaran dalam pemasaran produk keripik ini
adalah masyarakat yang ada di Purworejo terutama pada daerah :
1.

Masyarakat yang tersebar di sekitar kampus dan kompleks perumahan Universitas PGRI
Yogyakarta.

2. Mahasiswa dan dosen di kampus UPY


3. Mini Market dan warung-warung makanan yang tersebar di Kabupaten Purworejo.
4.

Para pedagang makanan khas kota Purworejo yang tersebar di pasar-pasar tradisional di
Kebupaten Purworejo, Yogyakarta dll.

H. METODE PELAKSANAAN
Pelaksanaan kegiatan usaha dilakukan di tempat usaha yang telah disewa selama 4
bulan di sekitaran kampus UPY. Kegiatan akan dilakukan selama 4 bulan dan kegiatan
diadakan 3 kali dalam seminggu yaitu hari rabu, sabtu dan minggu dimulai dari persiapan
bahan dan peralatan, pencarian bahan baku, pengolahan bahan, pengujian, pemasaran, dll
sehingga dihasilkan produk yang diinginkan. Untuk tahapan pembuatan produk dilakukan
dalam bentuk periode, jadi dalam waktu 4 bulan akan diadakan 5 periode pembuatan produk
sehingga dihasilkan produk yang diinginkan. Kegiatan akan dimulai dari jam 08.00 WIB
sampai selesai.
Umbi talas sebagai bahan baku dalam pembuatan keripik talas diperoleh dari petani
talas. Dalam pemilihan bahan baku harus sangat diperhatikan agar kualitas produk dapat
maksimal. Untuk itu perlu dilakukan seleksi terhadap talas yang akan digunakan dalam
pembuatan keripik talas ini. Umbi talas yang dapat dijadikan sebagai bahan baku produk
adalah umbi talas yang masih segar dan dagingnya berwarna putih keruh.
Langkah-langkah pelaksanaan program sebagai berikut :
a. Persiapan bahan baku

Adalah rangkaian kegiatan mulai dari pembelian bahan baku berupa umbi talas yang
baik dan segar dari semua varietas talas yang aman dikonsumsi, didapat dari petani talas
secara langsung. Selanjutnya bahan baku yang telah diperoleh kemudian di sortasi untuk
menghilangkan bahan baku yang dianggap kurang baik untuk diolah, misalnya terdapat cacat,
busuk dan sebagainya.
b. Pengolahan
Tahapan ini merupakan kegiatan mulai dari proses pengupasan bahan baku,
pencucian, pengirisan, hingga bahan baku siap untuk dilakukan pengolahan .
c.

Pembuatan Keripik Talas


Merupakan rangkaian proses pengolahan bahan mentah dari talas, selanjutnya
diolah menjadi keripik talas yang siap untuk dikonsumsi. Kemudian akan diadakan beberapa
uji untuk membuktikan apakah keripik talas ini baik untuk dikonsumsi baik penelitian di
laboratorium maupun menguji secara langsung kepada masyarakat sehingga akan diketahui
respon masyarakat terhadap produk keripik talas.

d. Paket Teknologi Produk dan Pengemasan


Dilakukan untuk mengetahui tentang teknologi produk yang dihasilkan, perkiraan
daya simpan produk yang dihasilkan dan teknologi pengemasan yang sesuai dengan produk
guna mempertahankan mutu dan kualitas produk. Teori yang diberikan berkaitan dengan sifat
fisik dan karakteristik bahan, pengetahuan tentang pengemasan dan labeling produk.
e.

Promosi dan Pemasaran


Setelah keempat paket kegiatan di atas selesai dilaksanakan maka akan dilakukan
promosi dan pemasaran yang akan dilakukan dengan beberapa cara yaitu langsung dijual
kepada konsumen dan toko-toko yang banyak dikenal masyarakat atau toko-toko yang telah
berkompeten dalam bidang pendistribusian makanan serta langsung menuju masyarakat
sasaran yang telah ditentukan.

I.

JADWAL KEGIATAN
Tabel. Jadwal Rencana Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan

Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
ke-1
ke-2
ke-3
ke-4
Mingg Minggu Minggu Mingg
u kekekeu ke1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Konsultasi Dengan Dosen


Pembimbing

Persiapan Bahan dan Peralatan


Pembuatan Produk Kerupuk
Talas Ebi
Tahap komersialisasi produk
Tahapan pengujian produk
Evaluasi secara umum kegiatan
bisnis
Pengolahan Data

Pembuatan draft laporan


akhir
DAFTAR PUSTAKA

Sumber: Slamet D.S dan Ig.Tarkotjo (1980), majalah gizi dan makanan jilid 4, hal 26, Pusat
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI.
Suyanto, Pengantar Akuntansi 1. 2002. Balai Pustaka

STUDY KELAYAKAN BISNIS KERIPIK


NANGKA "HARAHAP FAMILY"
RANTAUPRAPAT
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pembangunan pertanian harus dipandang
dari dua pilar utama secara terintegrasi dan tidak bisa dipisahkan yaitu pertama, pilar
pertanian primer (on-farm agriculture/agribusiness) yang merupakan kegiatan usahatani yang
menggunakan sarana dan prasarana produksi (input factors) untuk menghasilkan produk
pertanian primer. Kedua, pilar pertanian sekunder (down-stream agriculture/ agribusiness)
sebagai kegiatan meningkatkan nilai tambah produk pertanian primer melalui pengolahan
(agroindustri) beserta distribusi dan perdagangannya. Pengembangan agribisnis salah satu
yang harus mendapat perhatian adalah agribisnis buah-buahan, karena produk hortiloiltura ini
setelah dipanen akan mudah mengalami kerusakan yang menyebabkan kerugian bagi petani
atau pedagang. Salah satu komoditas pertanian yang mempunyai potensi untuk
dikembangkan dalam agroindustri adalah nangka. Buah nangka sudah sangat dikenal oleh
masyarakat Indonesia. Pemanfaatan buah ini sebagian besar dikonsumsi segar (buah matang),
sebagian lagi dibuat sayur dan diolah dalam berbagai bentuk olahan makanan dan minuman.
Sebagai salah satu jenis buah-buahan tropis nangka masih berpotensi untuk dikembangkan.
Hal ini terutama didukung oleh permintaan pasar luar negeri terhadap buah-buahan tropis
(termasuk nangka) yang cenderung meningkat, baik dalam bentuk segar maupun produk
olahan. Dalam rangka meningkatkan daya saing komoditas nangka Indonesia dipasaran
adalah dengan melakukan penganekaragaman produk olahan nangka, salah satunya keripik
nangka. Keripik nangka merupakan salah satu produk olahan dari buah nangka, dimana yang
digunakan dalam pembuatan keripik nangka adalah daging buah nangka yang sudah matang.
Agroindustri ini bisa membantu produsen dalam upaya meningkatkan pendapatan. Selain itu
olahan nangka juga merupakan proses pascapanen yang termasuk ke dalam pengawetan
sehingga buah nangka tidak cepat rusak dan masih bisa dinikmati dalam waktu yang cukup
lama tetapi dalam bentuk dan rasa yang berbeda tidak seperti buah nangka yang masih segar.
Potensi buah di daerah ini dapat memberikan nilai tambah apabila diolah menjadi keripik
nangka. Nilai tambah yang didapat jika buah nangka diolah menjadi keripik nangka
diantaranya adalah meningkatnya harga jual serta umur simpan produk menjadi lebih lama.
Keuntungan yang didapat dari usaha keripik nangka memberi peluang untuk didirikannya
industri pengolahan keripik nangka. Sebelum keripik nangka dipasarkan di suatu wilayah,
maka diperlukan penilaian mengenai seberapa besar permintaan konsumen yang ada serta
potensinya untuk dapat berkembang di masa mendatang. Hal tersebut perlu dilakukan untuk
mengurangi resiko kegagalan produk yang dipasarkan. Selain aspek pasar, beberapa hal yang
harus diperhatikan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan operasional industri
meliputi kelayakan jumlah dan mutu bahan-bahan yang dibutuhkan untuk proses produksi,
teknologi pengolahan yang digunakan, serta beberapa hal yang dibutuhkan untuk menunjang
pelaksanaan teknis kegiatan industri seperti lahan, bangunan, dan tenaga kerja. Dalam
langkah pendirian industri pengolahan keripik nangka juga diperlukan pertimbangan yang
berkaitan dengan seluruh biaya yang dikeluarkan serta tingkat penerimaan yang akan didapat
sehingga tingkat resiko dari biaya yang diinvestasikan dapat diukur tingkat kelayakannya.
Sebuah industri tidak dapat didirikan jika tidak mendapat izin dari pemerintah atau tidak ada
undang-undang yang mengatur tentang pendirian industri di suatu daerah. Maka dalam studi
kelayakan pendirian industri pengolahan keripik nangka juga diperlukan analisis mengenai

peraturan dan perizinan mengenai pendirian industri. Untuk menilai tingkat kelayakan
pendirian industri pengolahan keripik nangka di Rantauprapat, maka dibutuhkan studi
kelayakan yang dalam dan komprehensif sehingga hasil studi kelayakan dapat
menggambarkan tingkat kelayakan pendirian industri dengan baik. Informasi yang didapat
dari studi kelayakan pendirian industri pengolahan keripik nangka di Rantauprapat mencakup
gambaran ketersediaan pasar dan perkiraanya, kebutuhan teknis industri, kelayakan finansial,
dan study kelayaakan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan
informasi mengenai tingkat kelayakan pendirian industri kecil keripik nangka di Kabupaten
Labuhanbatu, Rantauprapat meliputi aspek pasar, teknis dan teknologis, finansial, SDM, dan
Aspek lainnya. B. MAKSUD DAN TUJUAN Manfaat penelitian ini diantaranya dapat
digunakan sebagai acuan bagi calon wirausahawan dan investor yang ingin melakukan usaha
bisnis keripik nangka di kabupaten Labuhanbatu , Rantauprapat, masukan bagi perbankan
untuk pemberian pinjaman dan masukan bagi pemerintah dalam melakukan pembinaan bagi
para petani nangka di kabupaten Labuhanbatu. BAB II LANDASAN TEORI A. NANGKA
Nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk) merupakan tanaman buah yang berasal dari India
dan menyebar ke daerah tropis termasuk Indonesia. Di Indonesia pohon ini memiliki
beberapa nama daerah antara lain nongko / nangka (Jawa, Gorontalo), langge (Gorontalo),
anane (Ambon), lumasa / malasa (Lampung), nanal atau krour (Irian Jaya), nangka (Sunda).
Menurut Rukmana (2008), kondisi optimum pertumbuhan nangka adalah pada kondisi
ketinggian 0-700 m di atas permukaan laut, curah hujan 1.500-2.400 mm/tahun, serta suhu
16-32 C. Di Indonesia terdapat lebih dari 30 kultivar. Di pulau Jawa terdapat lebih dari 20
kultivar. Berdasarkan sosok pohon dan ukuran buah nangka terbagi dua golongan yaitu pohon
nangka buah besar dan pohon nangka buah mini. Berdasarkan kondisi daging buah nangka
dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu: 1. Nangka bubur: daging buah tipis, lunak agak
berserat, beraroma keras mudah lepas dari buah. 2. Nangka salak: daging buah tebal, agak
kering aromanya kurang keras. (nangka celeng dan nangka belulang). 3. Nangka cempedak:
daging buah tipis, liat dan beraroma harum spesifik.Varietas-varietas unggul nangka yang
ditanam di Indonesia yaitu: nangka bilulang/nangka celeng, nangka cempedak, nangka
dulang, nangka kandel. B. KRIPIK NANGKA Buah nangka sudah sangat dikenal oleh
masyarakat Indonesia. Pemanfaatan buah ini sebagian besar dikonsumsi segar (buah matang),
sebagian lagi dibuat sayur dan diolah dalam berbagai bentuk olahan makanan dan minuman.
Sebagai salah satu jenis buah-buahan tropis nangka masih berpotensi untuk dikembangkan.
Hal ini terutama didukung oleh permintaan pasar luar negeri terhadap buah-buahan tropis
(termasuk nagka) yang cenderung meningkat, baik dalam bentuk segar maupun produk
olahan. Dalam rangka meningkatkan daya saing komoditas nangka Indonesia dipasaran
adalah dengan melakukan penganekaragaman produk olahan nangka, salah satunya keripik
nangka (Anonim, 2010) Keripik nangka merupakan produk olahan atau awetan yang dibuat
dengan cara digoreng. Keripik nangka ini umumnya dibuat dengan memanfaatkan buah
nangka yang sudah terlalu masak atau mengkal. Memanfaatkan nangka mengkal karena
sebab-sebab tertentu seperti jika dijual harga jualnya sangat rendah, buah cacat secara fisik
dan lain sebagainya. Buah nangka mengkal dengan diolah menjadi keripik akan menambah
nilai jual atau nilai ekonomis. Hal ini dikarenakan dalam semua proses pengolahan
kekurangannya diperbaiki. Secara fisik keripik nangka mirip dengan keripk lain, namun cita
rasanya tetap seperti nangka. Dalam proses pengolahannya diupayakan unsur yang hilang
karena perlakuan pembuatan sesedikit mungkin. Prinsip dasar pembuatan kripik nangka
adalah mengurangi kadar airnya dengan pengolahan dalam minyak goreng. Namun untuk
mempertahankan warna, aroma dan cita rasanya, diperlukan alat pemanggang hampa udara
atau biasa disebut vaccum frying (Suprapti, 2000). Vaccum frying dipergunakan untuk
menggoreng atau mengolah berbagai bahan atau aneka buah menjadi keripik secara vaccum
sehingga hasil olahan matang merata. Alat ini dilengkapi dengan penirisan minyak secara

sentrifuse yang berfungsi untuk mengurangi kadar minyak hasil gorengan. Penggorengan
vakum umumnya digunakan untuk mengeringkan buah yang berkadar air tinggi dan
beraroma khas. Penggorengan ini dilakukan dengan menggunakan suhu 8500C selama 1-2
jam. Bahan pangan buah atau sayuran yang digoreng dengan metode vaccum frying akan
dihasilkan produk dengan kandungan zat gizi seperti protein, lemak dan vitamin yang tetap
terjaga. Sistem penggorengan vaccum frying menggunakan tekanan minimum sehingga suhu
pemanasan menjadi rendah. Perlakuan suhu rendah ini tidak akan merusak struktur kimia dan
sifat bahan. Selain itu, penggunaan vaccum frying menghasilkan keripik yang renyah dan
tahan lama, aroma khas, serta warna yang menarik. Produk keripik nangka mempunyai
potensi pasar yang luas, sehingga perlu direncanakan konsep kelayakan bisnis yang tepat.
Konsep pemasaran merupakan kegiatan yang berisi dan menilai serta memilih satu atau lebih
segmen pasar yang akan dimasuki oleh suatu perusahaan. Konsep pemasarn ini sangat
bermanfaat dalam memilih pasar sasaran, sehingga pemasar dapat menghindarkan kesalahankesalahan sekecil mungkin dalam prakteknya dan sebagai pedoman atas permintaan
konsumen yang akan datang. Maka untuk tujuan tersebut perusahaan harus membagi-bagi
pasar menjadi segmen-segmen pasar utama, setiap segmen pasar kemudian dievaluasi, dipilih
dan diterapkan segmen tertentu sebagai sasaran. konsep pemasaran yang direncanakan
perusahaan. Menurut SNI-01-4269-1996, keripik nangka adalah makanan yang dibuat dari
daging buah nangka (Artocarpus integra) masak, dipotong/disayat, dan digoreng memakai
minyak secara vakum dengan atau tanpa penambahan gula serta bahan tambahan makanan
yang diizinkan. Tabel I. Syarat Mutu Keripik Nangka B. STUDY KELAYAKAN BISNIS
Kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan
suatu kegiatan usaha/proyek disebut dengan studi kelayakan bisnis. Studi kelayakan bisnis
merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, apakah menerima atau
menolak dari suatu gagasan usaha/proyek yang direncanakan (Ibrahim, 2009). Menurut
Gittinger (1986), proyek adalah kegiatan usaha yang menggunakan sumber-sumber daya
untuk memperoleh keuntungan atau manfaat. Perencanaan proyek yang baik tergantung pada
tersedianya berbagaiinformasi mengenai adanya investasi yang potensial dan informasi
mengenai pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan tujuan lainnya. Analisis proyek
menyediakan informasi proyek-proyek yang dipilih untuk dilaksanakan lalu menjadi alat agar
penggunaan sumber-sumber daya dapat menciptakan pendapatan. Dalam melaksanakan studi
kelayakan bisnis, ada beberapa tahapan studi yang hendaknya dikerjakan. Tahapan-tahapan
tersebut diantaranya adalah penemuan ide, tahap penelitian, dan tahap pengurutan usulan
yang layak (Umar, 2003). Penetuan layak atau tidaknya suatu usaha dapat dilihat dari
berbagai aspek. Ukuran kelayakan tiap proyek berbeda-beda berdasarkan jenis usahanya,
namun mengacu pada aspek-aspek yang sama. Untuk melakukan penilaian terhadap aspekaspek ini, perlu dibentuk suatu team yang terdiri dari orang-orang yang berasal dari berbagai
bidang keahlian. Study kelayakan bisnis mterdiri dari beberapa aspek yang sama sama
penting untuk diperhatikan, yaitu : 1. Aspek Pasar Pengertian pasar secara sederhana dapat
diartikan sebagai tempat bertemunya para penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi.
Pengertian lebih luas tentang pasar adalah himpunan pembeli nyata dan pembeli potensial
atas suatu produk (Kasmir dan Jakfar, 2006). Sutojo (1993) menyatakan bahwa dalam
mengkaji aspek pasar, hal yang perlu diperhatikan adalah kedudukan produk dalam pasar saat
ini, komposisi dan perkembangan permintaan produk di masa lalu dan sekarang, dan proyeksi
permintaan produk di masa yang akan datang, kemunginan adanya persaingan, dan peranan
pemerintah dalam menunjang perkembangan produk. Menurut (Umar,2003), kondisi pasar
saat ini dapat diketahui dengan melakukan identifikasi terhadap pesaing dan mengestimasi
penjualan mereka. Kegunaan dari analisis aspek pasar adalah untuk menentukan besar, sifat,
dan pertumbuhan permintaan total akan produk yang bersangkutan, serta deskripsi tentang
produk dan harga jualnya (Edris, 1983). 2. Aspek Teknik dan Teknologi Aspek teknik dan

teknologi merupakan salah satu aspek penting dalam proyek dan berkenaan dengan proses
pembangunan industri secara teknis dan operasi setelah industri tersebut dibangun (Husnan
dan Suwarsono, 1991). Analisis teknik secara spesifik mencakup analisis terhadap
ketersediaan bahan baku, proses produksi, mesin, dan peralatan, jumlah mesin dan peralatan,
keperluan tenaga kerja, dan penentuan luas pabrik (Husnan dan Suwarsono, 1994) Studi
aspek teknik dan teknologi menurut Umar (2003) meliputi rencana pengendalian persediaan
bahan baku, penentuan kapasitas produksi, serta proses pemilihan teknologi untuk produksi.
3. Aspek Finansial Analisis aspek finansial dilakukan untuk memperkirakan jumlah dana
yang diperlukan, baik untuk dana tetap maupun modal kerja awal. Analisis finansial adalah
suatu analisis yang membandingkan antara biaya-biaya dengan manfaat (keuntungan) untuk
menentukan apakah suatu proyek akan menguntungkan selama umur proyek (Sutojo, 1993).
Studi kelayakan terhadap aspek finansial perlu menganalisis bagaimana perkiraaan aliran kas
akan terjadi. Metode yang biasa dipertimbangkan untuk dipakai dalam penilaian aliran kas
dari suatu investasi, yaitu metode Break Event Point, Net Present Value, Internal Rate of
Return, dan Payback Period (Umar, 2003). Break Event Point (BEP) adalah suatu cara untuk
menetapkan tingkat produksi dimana penjualan sama dengan biaya-biaya. Untuk memperoleh
keuntungan, penerimaaan dari hasil penjualan harus berada di atas titik pulang pokok (BEP)
tersebut. Intisari pengkajian BEP adalah penyajian kenyataan bahwa bila tingkat produksi
atau penjualan tidak dapat melampaui titik ini maka proyek yang bersangkutan tidak dapat
menghasilakan laba (Kadariah et. al, 1978). NPV merupakan selisih antara harga sekarang
dari penerimaan dengan harga sekarang dari pengeluaran pada tingkat bunga tertentu (Gray et
al, 1992). IRR adalah tingkat bunga yang menghasilkan NPV sama dengan nol. IRR
digunakan untuk mencari tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang dari arus kas yang
di harapkan di masa datang, asalkan keuntungan yang diperoleh setiap satuan waktu di tanam
kembali. (Kadariah et. al, 1978). 4. Aspek Sosial, Ekonomi dan Politik Ekonomi berkaitan
dengan sifat dan arah sistem ekonomi tempat suatu perusahaan beroperasi. Karena pola
konsumsi dipengaruhi oleh kesejahteraan relatif berbagai segmen pasar, dalam perencanaan
strategiknya setiap perusahaan harus mempertimbangkan kecenderungan ekonomi di segmensegmen yang mempengaruhi industrinya. Kekuatan sosial bersifat dinamis dan selalu berubah
sebagai akibat upaya orang untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka melalui
pengendalian dan penyesuaian diri terhadap faktor-faktor lingkungan. Menerjemahkan
perubahan sosial ke dalam ramalan mengenai dampak-dampak terhadap bisnis merupakan
proses yang sukar. Namun perkiraan dampak dari perubahan seperti perubahan geografis
dalam populasi dan perubahan nilai kerja, standar etika dapat membantu perusahaan dalam
usahanya untuk tetap berjaya Kondisi politik di suatu negara akan sangat menentukan tinggi
rendahnya tingkat resiko politik yang akan mempengaruhi dunia bisnis pada negara yang
bersangkutan. Secara sederhana, resiko politik dapat diartikan sebagai suatu ketidakpastian
yang mengemuka dan dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan dalam mencapai
suatu tujuan (termasuk investasi) akibat adanya ketidakstabilan politik di suatu negara.
Kondisi politik yang tidak stabil dapat menjadi ancaman yang besar bagi kelangsungan hidup
suatu perusahaan. Karena faktor politik menentukan parameter legal dan regulasi yang
membatasi operasi perusahaan. Menurut pengakuan Mahalli (2008), konstelasi politik saat ini
tidak berpengaruh terhadap perusahaan yang dipimpinnya karena kebijakan-kebijakan yang
ada masih berpihak kepada perusahaan. 5. Aspek lingkungan Hidup Ekologi mengacu pada
hubungan antara manusia dan mahluk hidup lainnya dengan udara, tanah, dan air yang
mendukung kehidupan mereka. Ancaman terhadap ekologi, bisnis sekarang memikul
tanggungjawab untuk meniadakan hasil limbah dari proses manufaktur mereka dan untuk
membersihkan kembali lingkungan yang telah tercemar akibat ulah sebelumnya. Oleh karena
itu, untuk menjaga agar beban biaya pengendalian ekologi dapat terkurangi, maka diperlukan
perencanaan tentang pemeliharaan ekologi dalam lingkungan operasional bisnis 6. Aspek

Lingkungan Bisnis a. Pendatang baru Pendatang baru ke suatu industri membawa masuk
kapasitas baru, keinginan untuk merebut bagian pasar (market share), dan seringkali sumber
daya yang cukup besar. Besarnya ancaman masuk bergantung pada hambatan masuk yang
ada dan pada reaksi dari peserta persaingan yang sudah ada menurut perkiraan calon
pendatang baru. b. Kekuatan tawar-menawar pemasok Pemasok dapat memanfaatkan
kekuatan tawar menawarnya atas para anggota industri dengan menaikkan harga atau
menurunkan kualitas barang dan jasa yang dijualnya. Karenanya, pemasok yang kuat dapat
menekan kemampulabaan suatu industri yang tidak dapat mengimbangi kenaikan biaya
dengan menaikkan harganya sendiri. c. Produk dan jasa substitusi Penetapan batas harga
tertinggi akan membatasi potensi produk atau jasa substitusi suatu industri. Jika industri tidak
mampu meningkatkan kualitas produk atau mendefinsikannya, laba dan pertumbuhan industri
dapat terancam. Produk dan jasa substitusi tidak hanya membatasi laba dalam masa-masa
normal melainkan juga mengurangi laba maksimal yang dapat diraih industri dalam masa
keemasan. d. Kekuatan tawar menawar pembeli Pembeli memiliki kemampuan untuk
menekan harga, menuntut kualitas lebih tinggi atau layanan lebih banyak, dan mengadu
domba sesama anggota industri. Pembeli cenderung lebih peka terhadap harga jika mereka
membeli produk yang tidak terdiferensiasi, relative lebih mahal terhadap penghasilan mereka,
dan jika kualitas tidak terlalu penting bagi mereka. e. Persaingan dikalangan peserta
persaingan yang ada Perusahaan memiliki keleluasaan tertentu untuk memperbaiki keadaan
melalui perubahan strategik. Pemusatan usaha penjualan pada segmen industri yang paling
cepat tumbuh atau pada wilayah pasar yang biaya tetapnya paling rendah dapat mengurangi
dampak persaingan antar anggota industri. 7. Aspek SDM Menurut Handoko (1994:233),
sumber daya terpenting dari sautu organisasi atau perusahaan adalah sumber daya manusia
orang-orang yang memberikan tenaga, bakat, kreatifitas dan usaha mereka kepada organisasi.
Beberapa tugas-tugas kepemimpinan kritis manajer mencakup penarikan, penyeleksian,
pengembangan dan penggunaan sumber daya manusia dalam pencapaian tujuan organisasi.
Tanpa orang-orang yang cakap, organisasi dan manajemen akan gagal mencapai tujuannya.
Bagaimana manajer melaksanakan fungsi penyusunan personalia (staffing) secara efektif atau
tepat sasaran akan menentukan suktus atau kegagalan mereka sebagai manajemen. BAB III
PERENCANAAN BISNIS KERIPIK NANGKA A. PROFIL PERUSAHAAN 1. Data
Perusahaan a. Nama Perusahaan : Keripik nangka Harahap Family b. Bidang Usaha :
Industri Rumahan c. Jenis Produk / Jasa : Makanan Ringan d. Alamat Perusahaan : Jl.
H.M.Said, Gg Pendidikan No 17 e. Nomor Telepon : 0852 2733 3551 f. Alamat E-mail :
amahkyu_forever@yahoo.com g. Situs Web : www.kripiknangkaHrahapFamil.com h. Bank
Perusahaan : Bank Muamalat i. Bentuk Badan Hukum : Usaha Dagang j. Mulai Berdiri : 08
Desember 2015 2. Biodata Pemilik atau Pengurus a. Nama : Desminta Pria Hrp b. Jabatan :
Pimpinan c. Tempat dan Tanggal Lahir : sei Jawi jawi, 08 Desember 1990 d. Alamat Rumah
: Jl. H.M.Said, Gg Pendidikan No 17 e. Nomor Telepon : 0852 2733 3551 f. Alamat E-mail :
amahkyu_forever@yahoo.com g. Pendidikan Terakhir : Diploma III a. Nama : Latifa Handari
Hrp b. Jabatan : Anggota c. Tempat dan Tanggal Lahir : sei Jawi jawi, 06 oktober 1985 h.
Alamat Rumah : Jl. H.M.Said, Gg Pendidikan No 26 i. Nomor Telepon : 0813 6756 5643 j.
Alamat E-mail : - k. Pendidikan Terakhir : S-1 a. Nama : Mustika Janry Hrp b. Jabatan :
Anggota c. Tempat dan Tanggal Lahir : sei Jawi jawi, 17 Januari 1989 d. Alamat Rumah :
Jl. H.M.Said, Gg Pendidikan No 17 e. Nomor Telepon : 0813 7552 3960 f. Alamat E-mail : g. Pendidikan Terakhir : S-1 3. Struktur Organisasi Desminta P. Hrp Pimpinan Latifa Hrp
Mustyka J. Hrp Sri R. Hrp Anggota anggota anggota Struktur organisasi sangat dibutuhkan
dalam suatu organisasi. Karena dengan stuktur organisasi dapat memahami bagian dan kerja
masing-masing setiap anggota organisasi yang mana ini juga mencerminkan sikap
profesionalisme suatu perusahaan atau organisasi. Untuk saat ini dalam struktur organisasi
terdiri dari 4 orang termasuk penulis yang terlibat dalam pengelolaan rencana ini. Diharapkan

di masa mendatang tenaga kerja untuk usaha dimasa yang akan datang B. ANALISA BISNIS
1. Aspek Pasar dan Pemasaran a. Produk yang Dihasilkan Produk merupakan segala sesuatu
yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan, atau
dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan
(Tjiptono, 2002:95). Pada bagian ini menjelaskan keseluruhan produk yang dihasilkan.
Perencanaan yang perlu dilakukan menyangkut produk (output), terutama pada usaha
manufaktur dan industri pengolahan adalah: 1) Dimensi Produk Dimensi produk berkenaan
dengan sifat dan ciri-ciri produk yang meliputi bentuk, ukuran, warna serta fungsinya. Produk
yang berbahan baku buah dan sayur ini disajikan dalam bentuk keripik yang disediakan
dengan berbagai varian rasa dan harga. 2) Nilai/Manfaat Produk Produk keripik buah dan
keripik sayur yang ditawarkan memiliki manfaat yang positif bagi kesehatan konsumen yang
merupakan manfaat inti dari produk keripik buah dan keripik sayur. Buah dan sayur yang
diolah memiliki banyak kandungan gizi yang bermanfaat. Produk keripik buah dan keripik
sayur juga memiliki Potential Benefit (manfaat potensial) seperti menjaga lingkungan dan
memperdulikan kesehatan pelanggan. 3) Kegunaan/Fungsi Produk Produk konsumsi, yaitu
produk yang dibeli dan digunakan oleh konsumen akhir (pemakai akhir). Keripik buah dan
keripik sayur merupakan produk yang dapat dinikmati dengan berbagai pilihan rasa dan
harga. Selain itu kandungan gizi keripik buah dan keripik sayur yang diproses dengan alat
penggoreng sistem hampa tidak jauh berbeda dengan keadaan buah segar, karena diproses
dengan menggunakan suhu rendah. b. Keunggulan Produk Keunggulan kompetitif produk
kami antara lain : 1. Rasa yang sangat renyah dan gurih. 2. Kemasan yang ramah lingkungan.
3. Kesegaran dari buah dan sayur yang masih terasa. 4. Harga terjangkau dan sesuai dengan
kantong konsumen. c. Gambaran Pasar Pada tahap ini menceritakan gambaran pasar, mulai
dari gambaran pasar bisnis secara ringkas serta data penjualan beberapa tahun terakhir. 1.
Perkiraan / prediksi jumlah permintaan konsumen terhadap produk. 2. Proyeksi penawaran
dalam beberapa periode / tahun mendatang. Proyeksi penawaran disesuaikan dengan
permintaan seperti kenaikan x % per tahun sesuai pertumbuhan proyeksi permintaan d. Target
Pasar atau Segmen Pasar yang Dituju Target pasar adalah sekelompok pembeli yang
mempunyai sifat-sifat yang sama yang membuat pasar itu berdiri sendiri. Adanya sekelompok
orang dengan ciri-ciri yang sama belumlah berarti mereka membentuk pasar sasaran. Hanya
bila mereka mempunyai ciri-ciri yang sama sebagai pembeli, maka barulah berarti mereka
membentuk suatu pasar sasaran (Situmorang, 2008). Dalam suatu perusahaan pasti akan
memiliki target atau segmentasi pasar yang dituju untuk mengembangkan usaha yang
diproduksi oleh perusahaan. Target pasar memberikan prospek yang bagus dimana penulis
dapat memasarkan produk keripik buah dan keripik sayur ke beberapa tempat misalnya saja
di kedai/warung, di koperasi-koperasi, bahkan dapat dipasarkan di supermarket-supermarket
jika sudah memiliki izin usaha. Perusahaan yakin akan melangkah ke bisnis ini karena telah
melihat target pasar sebelumnya melalui berbagai media cetak dan elektonik. Disini penulis
juga memiliki target atau segmen pasar yang dituju yaitu penduduk dari Labuhanbatu hingga
ke provinsi. Selain dari penduduk setempat sendiri target pasar yang dituju adalah masyarakat
kota Rantauprapat yang berkunjung ke tempat usaha ini. Usaha keripik nangka ini berdekatan
dengan salah satu sekolah sehingga para pelajar menjadi salah satu target pasar. Dalam
segmentasi pasar, usaha ini tidak mengelompokkan siapa yang menjadi konsumen akan
produk yang dihasilkan. Perusahaan yakin dengan target atau segmentasi pasar yang dituju
akan membuat usaha ini menjadi lebih berkembang karena melihat dari usaha yang
menjanjikan dan demografi yang sangat baik untuk usaha ini. e. Trend Perkembangan Pasar
Masyarakat Indonesia sangat mengikuti trend suatu produk di pasar saat ini, termasuk keripik
buah . Dengan demikian, perusahaan yakin ketika usaha ini telah berjalan akan menjadi
perusahaan yang dapat berkembang cepat. Hal ini dapat dilihat dari kondisi perekonomian
Indonesia yang cukup baik dan selera masyarakat untuk mencoba suatu produk yang unik.

Dari analisis perkembangan pasar yang dilakukan, pertumbuhan ekonomi seperti inflasi dan
tingkat suku bunga mempengaruhi trend perkembangan pasar. Dari segi pertumbuhan
ekonomi dapat dilihat bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia sedang membaik
dan ini sangat mempengaruhi tingkat pendapatan masyarakat. Hal ini mempengaruhi karena
dengan tingkat pendapatan yang baik maka masyarakat akan tinggi pula untuk
mengkonsumsi suatu produk. Keinginan masyarakat untuk mengkonsumsi suatu produk
maka akan tinggi pula hasrat masyarakat untuk mengkonsumsi produk dari perusahaan. Dari
segi inflasi, faktor ini mempengaruhi dalam perkembangan perusahaan. Dikarenakan ketika
inflasi tinggi maka akan berimbas pada bahan baku penolong usaha ini. Dengan tingginya
inflasi maka tinggi pula . Namun, ketika inflasi turun maka bahan baku penolong juga akan
turun sehingga berimbas pula pada harga produk usaha penulis. Dari segi tingkat suku bunga,
faktor ini juga mempengaruhi akan perkembangan usaha ini. Namun, dapat dilihat bahwa
tingkat bunga mempengaruhi ketika usaha yang dijalankan mendapat pinjaman dari pihak
ketiga yakni bank. Dalam usaha ini, modal untuk pendirian usaha ini merupakan usaha dari
modal sendiri dan usaha ini tidak akan terpengaruh akan naik atau turunnya tingkat suku
bunga. f. Proyeksi Penjualan Perencanaan kapasitas produksi dilakukan untuk semua mesin,
peralatan, dan faktor produksi lainnya sesuai dengan rencana jumlah produk akhir yang akan
dihasilkan. Dengan sendirinya, kapasitas produksi sampai dengan tingkatan yang rinci
semuanya akan mengacu pada hasil dari perhitungan peluang pasar atas produk yang
bersangkutan. Kapasitas produksi biasa dinyatakan dalam unit per periode waktu tertentu
(tahun, bulan, minggu, hari, atau jam). Untuk perencanaan strategis, proyeksi kapasitas
penjualan dilakukan dalam jangka minimal 3 tahun ke depan, sesuai dengan rencana
produksinya. g. Analisis Pesaing Strategi Pemasaran Perusahaan dilakukan berdasarkan
analisa 7 P menurut Kotler (2000) yang terdiri atas : 1) Price (harga) Strategi mengenai
bagaimana produk kita lebih menarik konsumen dari segi harga dibandingkan pesaing.
Umumnya konsumen lebih tertarik kepada produk dengan harga yang lebih murah. Pricing
merupakan ekspresi nilai yang menyangkut kegunaan dan kualitas produk, citra yang
terbentuk melalui iklan dan promosi, ketersediaan produk melalui jaringan distribusi, dan
layanan yang menyertainya (Raymond Corey, 2001). Sehingga pricing bukan semata-mata
biaya produksi ditambah dengan marjin keuntungan yang akan diambil, melainkan sebuah
nilai yang mencerminkan value proposition. Harga yang tepat akan memiliki ikatan yang erat
antara pembeli dan produsen. Harga produk tidak lebih murah daripada produk pesaing,
karena harga tersebut merupakan harga yang sudah sesuai dengan ongkos produksi. 2)
Product (Produk) Strategi mengenai bagaimana produk usaha dapat menarik hati konsumen
untuk membelinya. Produk yang ditawarkan merupakan produk keripik buah nangka yang
memiliki kualitas terbaik dengan kadar gizi yang tinggi dan menyehatkan dan sekaligus
berkhasiat obat. 3) Promotion (Promosi) Strategi mengenai bagaimana produk dapat dikenal
oleh konsumen melalui cara Personal Selling yaitu promosi melalui penjualan langsung ke
tempat konsumen berada dengan menawarkan dan mencoba produk langsung. 4) Place
(Saluran Distribusi) Place merupakan cara untuk mendistribusikan produk untuk sampai ke
tangan konsumen. Sistem distribusi yang dilakukan secara langsung ke konsumen. 5) People
People merupakan kriteria sumber daya manusia secara umum yang dapat meningkatkan
penjualan produk ke konsumen secara langsung ataupun tidak langsung. Direncanakan, usaha
ini dilaksanakan oleh pemilik sendiri sebagai pemilik aktif. Maka sedapat mungkin pemilik
mengutamakan pelayanan dengan sikap yang ramah, sopan dan bersahabat. 6) Process Proses
yang ditampilkan kepada konsumen agar konsumen tertarik untuk membeli. Proses yang
dapat ditampilkan seperti proses produksi yang baik ataupun proses pelayanan terhadap
konsumen. Dalam proses, pelanggan dapat melihat secara langsung proses pembuatannya.
Disini operasional usaha dituntut untuk menjaga kualitas produksi seperti mengutamakan
kebersihan, langkah kerja yang efektif dan tangkas menanggapi permintaan. 7) Physical

Evidence Penampilan fisik dari fasilitas pendukung atau sarana dalam menjual produk yang
dapat dilihat langsung oleh konsumen. Logo official dari Keripik Buah nangka harahap
family terinspirasi dari warna hijau yang menggambarkan pemanfaatan akan buah-buahan
dan sayur-sayuran yang ada di alam, kemudian tulisan keripik buah nangkaa harahap family
berwarna biru karena merupakan warna kesukaan pemilik usaha. Kemasan produk berisi
nama berikut alamat usaha. Kemasan produk keripik buah nangkaa terbuat dari plastic
alumunium foil. Ini akan menghemat ongkos produksi karena tidak menggunakan plastikplastik yang tidak ramah lingkungan serta menjadi indikator kepedulian terhadap lingkungan.
Dari analisis pasar dan pesaing yang penulis lihat bahwa, pesaing dari usaha keripik buah dan
keripik sayur ini merupakan produk yang sejenis yakni pesaing yang bersifat subtitusi. Salah
satu contoh yaitu usaha kerupuk adapun keunggulan dan kelemahan dari produk kompetitor
sebagai berikut: Tabel 2. Usaha Pesaing dari Keripik Buah Nangka 2. Aspek Operasi a. Bahan
baku dan bahan penolong Perencanaan bahan baku dan bahan pembantu merupakan bagian
utama untuk perhitungan kebutuhan modal kerja. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah
suplier, kuantitas, harga beli, persyaratan pembelian, ketersediaan, dan persediaan. Bahan
baku yang digunakan adalaah Buah naangka, minyak goreng daan bumbu peelengkap. b.
Proses Produksi Perencanaan proses produksi pada dasarnya menjelaskan tahapan-tahapan
proses yang diperlukan untuk menghasilkan produk atau output yang dimaksud. Bentuk
proses produk keripik buah dan keripik sayur ini dibahas dalam bentuk resep. Resep
Pembuatan Kripik nangka - 5 Kg buah nangka yang sudah di kupas - 26 Liter minyak Goreng
Cara pembuatan - Buang dan bersihkan buah nangka dari bijinya , lalu belah jadi dua dan
pilih buah nangka sesuai dengan tekstur ketebalannya . - Cuci bersih dan masukkan buah
nangka kedalam Mesin Vaccum Frying Mesin Keripik Buah yang telah berisikan minyak
panas dan goreng selama 2 jam untuk buah nangka yang tebal dan 1 jam yang untuk
ketebalannya sedang, aduk-aduk setiap 10 menit sekali . - Angkat, angin-anginkan selama 10
menit , kemudian keripik nangka siap disajikan dan dikemas ke dalam plastic alumunium
foil. c. Peralatan yang Dibutuhkan Baik untuk perencanaan pembelian ataupun sewa, daftar
mesin dan peralatan juga harus dirinci sedetail mungkin proyeksinya. Perencanaan ini tetap
selalu berkaitan dengan kapasitas dan kompetensi teknis wirausahawan. Tabel 3. Peralatan
yang dibutuhkan d. Sarana Penunjang Instalasi sarana penunjang berkaitan dengan tata letak
(lay-out) yang termasuk dalam anggaran investasi. Pemasangan sarana penunjang ini meliputi
listrik, air, telepon, internet, dan lain-lain. Tabel 4. Sarana Penunjang 3. Aspek SDM
Kompetensi adalah ciri-ciri yang harus dimiliki oleh seseorang sehingga dapat dicapai
performansi prima dalam suatu bidang pekerjaan. Pada indikator kompetensi karyawan, kita
harus melihat tiga sisi, yaitu sisi pertumbuhan, efisiensi, dan stabilitas. Di sisi pertumbuhan,
akan memantau durasi bekerja, tingkat pendidikan, dan biaya pelatihan seorang karyawan.
Selain itu tingkat turnover karyawan dan kemampuan meraih pelanggan juga bisa termonitor.
Sementara itu, di sisi efisiensi, harus dilihat proporsi para professional (karyawan dengan
keahlian tertentu). Begitu juga dengan nilai tambah per karyawan dan professional serta
keuntungan yang dihasilkan oleh setiap karyawan atau professional. Adapun sisi stabilitas
akan terlihat dari turnover professional di sebuah perusahaan. Perencanaan tenaga kerja
langsung (TKL), juga perlu memperhatikan hal-hal mengenai kualifikasi, tarif upah, jumlah
tenaga yang dibutuhkan, dan persyaratan kerja. Karena dalam usaha ini pemilik juga
merupakan investor aktif yang berarti pemilik juga menjalankan pekerjaan operasional, maka
sistem penggajian tidak dihitung secara spesifik melainkan menerima pembagian dari laba
yang didapatkan. Sehingga untuk saat ini usaha pemilik belum memerlukan tenaga kerja
tambahan karena masih dapat mengelola sendiri usaha ini. 4. Aspek Lingkungan Bisnis Sifat
dan derajat persaingan dalam suatu industri bergantung pada lima kekuatan atau faktor;
ancaman pendatang baru, ancaman produk/jasa substitusi, daya tawar menawar pembeli
(pelanggan), daya tawar pemasok dan persaingan antara anggota industri. Untuk menyusun

rancangan strategi menghadapi kekuatan-kekuatan ini, perusahaan harus memahami


bagaimana cara kerja kekuatan tersebut dalam industri dan bagaimana pengaruhnya terhadap
perusahaan dan uraiannya sebagai berikut : a. Ancaman Masuk/ Pendatang Baru Pendatang
baru membawa masuk kapasitas baru, keinginan untuk merebut bagian pasar dan juga bagian
sumber daya yang cukup besar. Besarnya ancaman masuk tergantung dari hambatan masuk
yang ada dan dari reaksi peserta persaingan yang sudah ada menurut perkiraan calon
pendatang baru. Jika hambatan masuk tinggi, sementara calon pendatang baru sudah
memperkirakan sebelumnya, maka pendatang baru tersebut bukanlah merupakan ancaman
yang serius. Menurut Handoko (1994:63-64), pemahaman akan lingkungan persaingan yang
dihadapinya, organisasi mengetahui posisi persaingannya sehingga lebih mampu
mengoptimalkan operasi-operasinya. Misal, untuk meningkatkan bagian pasarnya dimana
produk dan harga sama dengan para pesaing, perusahaan harus menciptakan perbedaanperbedaan dalam pembungkusan, pelayanan atau promosi. Di wilayah Rantauprapat terdapat
beberapa perusahaan yang bergerak di bidang usaha kripik nangka, tetapi sebagian besar
mereka masih dalam skala kecil dan masih bersifat tradisional. Hal ini disebabkan karena
harga beli mesin Vaccum Veyer yang cukup tinggi sehingga membutuhkan modal yang cukup
besar. Mungkin yang skalanya cukup besar terdapat di daerah lain seperti Malang contohnya.
Hal ini menciptakan hambatan masuk yang cukup besar jika ada pendatang baru di industri
kripik nangka, khususnya di daerah Rantauprapat. Meskipun pendatang baru untuk hari ini
belum merupakan ancaman, akan tetapi ke depan tidak menutup kemungkinan akan menjadi
ancaman yang besar, jika di dukung oleh kekuatan modal yang kuat. b. Daya tawar Pemasok
Menurut Handoko (1994:65), setiap perusahaan sangat tergantung pada sumber-sumber dari
sumber daya-sumber dayanya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku (mentah), bahan
pembantu, pelayanan, energi dan peralatan yang digunakan untuk memproduksi. Oleh karena
itu setiap perusahaan tergantung pada para penyedia bahan-bahan dan peralatan-peralatan.
Pemasok dapat menggunakan ancaman tawar menawarnya atas para anggota industri dengan
menaikan harga atau menurunkan kualitas barang dan jasa yang di jualnya. Pemasok yang
kuat dapat menekan kemampulabaan suatu industri yang tidak dapat mengimbangi kenaikan
biaya dengan menaikan harganya sendiri. Perusahaan Keripik Nangka Hrahap Family dalam
memenuhi kebutuhan bahan bakunya yang dalam hal ini adalah nangka tidak memiliki
pemasok tetap. Biasanya pihak perusahaan terjun sendiri ke pasar ataupun ke masyarakat
langsung yang memiliki kebun nangka, meskipun kadang ada pemasok yang datang
menawarkan nangka. c. Daya Tawar Pembeli Perusahaan dalam memproduksi suatu barang
tidak bisa terlepas dari konsumen atau pelanggan sebagai sasaran produk mereka. Sementara
itu pembeli mampu mempengaruhi perusahaan dalam hal harga, terutama dalam hal
menurunkan harga produk. Sehingga perusahaan harus pandai mencari celah dalam
membidik pembeli potensial. Pembeli memiliki kemampuan untuk menekan harga, menuntut
kualitas lebih tinggi atau layanan lebih banyak, dan mengadu domba sesama anggota industri.
Pembeli cenderung lebih peka terhadap harga jika mereka membeli produk yang tidak
terdifferensiasi, relatif lebih mahal terhadap penghasilan mereka, dan jika kualitas tidak
terlalu penting bagi merekaa. Usaha Kripik Nangka harahap Family akan berusaha untuk
meraup pembeli potensial melalui sasaran pelemparan produknya, yang mana Usaha Kripik
Nangka harahap Family tidak hanya memfokuskan produknya untuk kalangan menengah
keatas tetapi juga memberikan produk yang bisa merambah pada pembeli kelas menengah
kebawah. Seperti yang dilakukan Usaha Kripik Nangka harahap Family dengan
memproduksi kripik nangka dengan kualitas tinggi ( KW I ) dan kripik nangka dengan
kualitas sedang (KW II ). Hal ini dirasa sudah tepat dilakukan sebab perusahaan masih harus
mencari pembeli yang pada akhirnya memiliki loyalitas terhadap produk tersebut. Sehingga
perusahaan berpikir untuk langkah awal penembakan pembeli yang potensial tidak hanya
membidik golongan tertentu tetapi diarahkan untuk masyarakat luas dengan harapan akan

melahirkan pembeli potensial dalam skala yang besar. Sehingga wajar kalau Handoko
(1994:64) mengatakan bahwa manajer pemasaran harus menganalisa profil langganan
sekarang dan potensial serta kondisi pasar dan mengarahkan kegiatan-kegiatan pemasaran
perusahaan berdasarkan hasil analisa itu. Dalam situasi persaingan yang ketat, melalui
pemuasan kebutuhan dan keinginan langganan, perusahaan akan dapat menjaga kelangsungan
hidupnya, berkembang dan mendapatkan keuntungan. d. Persaingan Antar Anggota dalam
Industri Menurut Handoko (1994:63-64), pemahaman akan ingkungan persaingan yang
dihadapinya, organisasi mengetahui posisi persaingannya sehingga lebih mampu
mengoptimalkan operasi-operasinya. Misal, untuk meningkatkan bagian pasarnya dimana
produk dan harga sama dengan para pesaing, perusahaan harus menciptakan perbedaanperbedaan dalam pembungkusan, pelayanan atau promosi. Perusahaan memiliki keleluasaan
tertentu untuk memperbaiki keadaan melalui perubahan strategik. Pemusatan usaha penjualan
pada segmen industri yang paling cepat tumbuh atau pada wilayah pasar yang biaya tetapnya
paling rendah dapat mengurangi dampak persaingan antar anggota industri. Untuk masalah
persaingan dalam industri, Perusahaan Keripik nangka Harahap Family perlu melakukan
identifikasi posisi pesaing yang ada. Meskipun untuk skala produksi yang sejenis Perusahaan
keeeripik nangka harahap family tidak memiliki pesaing yang tergolong besar khususnya di
wilayah rantauprapat, namun untuk produksi produk yang sejenis posisi Perusahaan sedikit
terancam dengan adanya produksi kripik nangka oleh pabrik-pabrik yang tergolong kecil
yang bisa dikatakan masih tradisional. Dengan memperhatikan berbagai peluang yang dapat
mendukung perkembangan bisnis sejenis tersebut dimungkinkan dapat menjadi pesaing yang
potensial bagi Perusahaan . Pesaing disini dapat masuk melalui kemampuan melakukan
inovasi produk maupun melalui perolehan pembeli potensial. e. Barang Subsiitusi Dalam
industri pengolahan terutama bergerak di bidang makanan dan minuman khususnya jajanan
atau camilan, produk kripik nangka sangat mudah ditemukan produk substitusinya di pasaran.
Produk substitusi seringkali masuk dengan cepat ke dalam industri yang dapat
mengakibatkan turunnya harga atau sebaliknya meningkatkan kinerja perusahaan. Produk
tersebut misalnya berupa kripik-kripik lain seperti kripik pisang, kripik apel, kripik singkong,
dan kripik lainnya. Bisa juga berbentuk jajanan lain selain jenis kripik. Penetapan batas harga
tertinggi akan membatasi potensi produk atau jasa substitusi suatu industri. Jika industri tidak
mampu meningkatkan kualitas produk atau mendefinsikannya, laba dan pertumbuhan industri
dapat terancam. Produk dan jasa substitusi tidak hanya membatasi laba dalam masa-masa
normal melainkan juga mengurangi laba maksimal yang dapat diraih industri dalam masa
keemasan. Untuk mengurangi ancaman dari produk substitusi, Perusahaan kripik nangka ini
terus menerus menjaga kualitas produk yang dihasilkan baik melalui pengawasan yang ketat
terhadap bahan baku dan tentunya tehadap proses produksi. Hal ini dilakukan agar kepuasan
konsumen tetap terjaga sehingga tidak mudah beralih ke produk substitusi. 5. Aspek Finansial
Salah satu komponen yang mendukung pembangunan nasional adalah tersedianya lembaga
intermediasi yang mempunyai fungsi menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan
kembali ke masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya. Lembaga
intermediasi yang ada dibedakan dalam 3 kategori yakni : a. Berbentuk Bank tunduk pada
Undang-Undang Pokok Perbankan b. Berbentuk Koperasi Simpan Pinjam tunduk pada
Undang-Undang Koperasi c. Lembaga Keuangan Mikro lainnya yang belum diatur undangundang Lembaga keuangan mikro yang membantu mengembangkan iklim wirausaha di
Indonesia diatur dalam Surat Edaran Menteri Keuangan No. SE-31/MK/2000 tanggal 5 Mei
2000 tentang Pelaksanaan Program PUKK. Dalam hal ini Pembinaan Usaha Kecil dan
Koperasi mengacu kepada Surat Keputusan Menteri Keuangan No.316/KMK.016/1994
tanggal 27 Juni 1994 yang menggantikan Surat Keputusan Menteri BUMN/Kepala Badan
Pembina BUMN No. Kep.216/M-PBUMN/1999 tanggal 28 September 1999. Sumber
pendanaan dari Program Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK) berasal dari

penyisihan laba BUMN termasuk saldo dana Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK)
tahun-tahun sebelumnya yang merupakan sumber pendanaan utama dalam merealisir
terwujudnya pemerataan kehidupan perekonomian masyarakat melalui kemitraan dengan
para pengusaha kecil dan koperasi serta lingkungan masyarakat sekitarnya. Pelaksanaan
Program Pembinaan Usaha Kecil, Koperasi (PUKK) dan Bina Lingkungan dilaksanakan di
dalam lingkup masyarakat yang bertujuan untuk mendorong tercapainya pertumbuhan
ekonomi rakyat, melalui pemerataan di sektor ekonomi dimana anggota masyarakat golongan
pengusaha kecil dan koperasi di beri kesempatan untuk melakukan perluasan usahanya,
berdasarkan bantuan pinjaman untuk modal kerja / pinjaman lunak yang berasal dari
penyisihan laba BUMN. Namun untuk bisnis keripik buah dan keripik sayur ini, kami
menggunakan dana dari kami sendiri, agar tanggung jawab dan pembagian hasil nantinya
jauh lebih mudah, adapun bila membutuhkan pengembangan usaha, salah satu cara
pendanaan yang tertera diatas bisa menjadi bahan pertimbangan kami. a. Proyeksi Keuangan
Aspek finansial dari proposal bisnis dapat memperlihatkan potensi dana yang dimiliki,
kebutuhan dana eksternal, perhitungan kelayakan usaha, termasuk di dalamnya 3 performa
laporan keuangan: neraca, rugi-laba, dan cash flow. Secara ringkas, dapat diberikan format
sederhana perhitungan kelayakan usaha secara finansial sebagai berikut: 1) Sumber
pendanaan Tabel 5. Sumber Pendanaan Tabel 6. PROYEKSI LAPORAN ARUS KAS 5
TAHUN KE DEPAN KERIPIK BUAH NANGKA HARAHAP FAMILY Proyeksi Aliran Kas
Usaha (Berdasarkan proyeksi peningkatan proyek penjualan sebesar 10% per tahun) 2)
Kebutuhaan pembiyaan / modal investasi 3) Keterangan Data Proyeksi Penjualan Tahun 1
(Pertama) Investasi Rp. 40.000.000 Penggunaan Dana Bahan Baku Kebutuhan Investasi
Total Penggunaan dana : Rp.1.230.000 12 Bulan = Rp. 14.760.000 Rp. 24.530.000 + Rp.
39.290.000 Arus Bas bersih (Investasi - Penggunaan dana) Rp. 40.000.000 Rp. 39.290.000
Rp. 710.000 Penjualan 1 Tahun Penjualan 60kg/Tahun Rp 40.000/kg = 72.000.000
Pendapatan (Arus Kas Bersih + Penjualan) Rp. 710.000 Rp. 72.000.000 + Rp. 72.710.000
Total Beban Gaji Pimpinan Gaji Anggota (3 Orang) Transportasi Biaya
Pemeliharaan Biaya Pemasaran Listrik, Air Biaya Administrasi Lain-lain Rp. 500.000
RP. 1500.000 Rp 150.000 Rp. 500.000 Rp. 500.000 Rp. 100.000 Rp. 50.000 + Rp. 3300.000
Kenaikan Investasi (Pendapatan Total Beban) Pendapatan Total Beban Rp. 72.710.000 Rp.
3300.000 12 Bulan = Rp. 39.600.000- Rp. 33.110.000 Keadaan Kas Awal Rp. 0 Keadaan
Kas Akhir Kenaikan Investasi + Keadaan Kas awal Rp. 33.110.000 Rp. 33.110.000 6. Aspek
Hukum Aspek Hukum meliputi perizinaan untuk melaksanakan kegiatan industri. Usaha
Kripik nangka haarahap family membutuhkan surat perizzinaan berupa : a. Pembuatan surat
perijinan ke Bappeda Pembuatan surat perijinan ke Bappeda bertujuan untuk mendapatkan
perijinan tentang usaha yang akan dikelola. Audiensnya yaitu kesekretariatan direktur beserta
jajarannya yang bertanggung jawab tentang perijinan. b. Pembuatan surat standarisasi BPOM
Pembuatan surat standarisasi BPOM bertujuan untuk meminta standarisasi produk/barang
yang dihasilkan perusahaan. Audiensnya yaitu para manager produksi, karena produksi harus
sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Saluran komunikasinya yaitu formal
dengan pembuatan surat ijin rekomendasi untuk standarisasi yang produknya telah dilakukan
pengujian sebelumnya c. Sertifikaat halal dari MUI 7. Aspek Ekonomi, sosial dan politik Para
manajer akan selalu terlibat dengan masalah-masalah biaya, sumber daya-sumber daya yang
dibutuhkan perusahaan. Biaya - biaya ini setiap waktu selalu berubah-ubah karena factorfaktor ekonomi. Karena itu menurut Handoko (1994:68), manajer senantiasa menganalisa dan
mendiagnosa faktor-faktor ekonomi seperti kecenderungan inflasi atau deflasi harga barangbarang dan jasa, kebijaksanaan-kebijaksanaan moneter, devaluasi atau revaluasi dan yang
menyangkut tingkat bunga, kebijaksanaan-kebijaksanaan fiskal, keseimbangan neraca
pembayaran dan harga-harga yang ditetapkan oleh para pesaing dan penyedia. Jadi, manajermanajer perusahaan harus mencurahkan waktu dan sumber daya-sumber daya untuk

melakukan peramalan ekonomi dan antisipasi perubahan-perubahan harga. Faktor ekonomi


berkaitan dengan sifat dan arah sistem perekonomian tempat suatu perusahaan beroperasi.
Faktor ekonomi ini merupakan faktor yang sangat rawan dan sering menjadi bahan
pertimbangan dalam upaya pengambilan keputusan oleh manajemen dalam perusahaan,
apalagi di tengah situasi yang tidak menentu seperti ini. Terdapat beberapa indikator ekonomi
yang perlu dianalisis untuk memberikan pertimbangan yang akurat dalam menentukan
strategi perusahaan seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi ataupun pendapatan nasional. Sisi
pendapatan nasional perkapita merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk
mengukur tingkat kesejahteraan penduduk. Pendapatan nasional perkapita dapat dilihat dari
daya beli masyarakat secara umum. Pada tahun-tahun terakhir ini, pendapatan perkapita
Indonesia mengalami kenaikan. Kenaikan pendapatan perkapita tersebut mengindikasikan
adanya daya beli potensi oleh masyarakat yang dapat memberi peluang bagi kegiatan bisni
ini. Aspek Ekonomi dan sosiaal usaha Keripik nangka Harahap Family aadalah sebagai
berikut : a. Pembukaan Lapangan kerja dan Pemerataan kesempatan kerja b. Peningkatan
penghasilan devisa negara/ pendapatan negara sebab berkurangnya jumlah pengangguran dan
bertambahnya pendapatan masyarakat setempat c. Penghematan devisa sebab usaha ini
menggunakan bahan baku hasil negeri sendiri, tidak mengimport d. Aspek sosial meliputi
semakin ramainya daerah tempat usaaha tersebut, sebab usaha ini akan dijadikan tempat
berkunjung untuk dijadikan oleh oleh dari Rantauprapat sehingga membuka kesempatan
bagi industry pendukung untuk beroperasi disekitar usaha ini C. RENCANA
PENGEMBANGAN PASAR 1. Segmentasi Pasar Segmentasi Pasar adalah kegiatan
membagi-bagi pasar yang bersifat heterogen dari suatu produk kedalam satuan-satuan pasar
(segmen pasar) yang bersifat homogen. Berdasarkan definisi diatas diketahui bahwa pasar
suatu produk tidaklah homogen, akan tetapi pada kenyataannya adalah heterogen. Pada
dasarnya segmentasi pasar adalah suatu strategi yang didasarkan pada falsafah manajemen
pemasaran yang orientasinya adalah konsumen. Dengan melaksanakan segmentasi pasar,
kegiatan pemasaran dapat dilakukan lebih terarah dan sumber daya yang dimiliki perusahaan
dapat digunakan secara lebih efektif dan efisien dalam rangka memberikan kepuasan bagi
konsumen. Segmentasi pasar dari produk keripik nangka terdiri dari tiga kelompok yaitu : a.
Toko pusat oleh-oleh Toko pusat oleh-oleh merupakan salah satu tempat yang menyediakan
berbagai produk khas suatu daerah, sehingga konsumen dapat membeli produk keripik
nangka dengan mudah. b. Wisatawan Wisatawan pada umumnya mencari produk khas dari
suatu daerah yang dikunjunginya. Sehingga wisatawan merupakan salah satu konsumen yang
dapat mengenalkan produk keripik nangka pada masyarakat di daerahnya. c. Masyarakat
sekitar Masyarakat sekitar memberi patokan rasa dan selera sehingga dengan adanya
masyarakat sekitar membantu perusahaan mengelola cita rasa yang diinginkan konsumen. 2.
Strategi Produksi Dalam strategi produksi, pemilik akan meningkatkan kualitas dan kuantitas
dari produk yang dihasilkan. Namun, akan tetap menstabilkan harga dari produksi tersebut.
Hal ini direncanakan untuk lebih mengembangkan dan mengekspansi usaha ini untuk lebih
berkembang. 3. Strategi Organisasi dan SDM Dalam penerapan strategi organisasi dan
sumber daya manusia (SDM) juga sangat diperhatikan karena organisasi dan SDM
mempengaruhi berkembangnya usaha ini. Strategi yang diterapkan adalah dengan
memberikan motivasi dan penghargaan kepada karyawan yang berprestasi. Dengan begitu
usaha keripik buah dan keripik sayur kj dapat berkembang lebih maju. 4. Straategi Marketing
Marketing juga mempengaruhi berkembangnya usaha ini. Strategi yang marketing yang akan
dilakukan adalah dengan lebih memasarkan usaha ini dengan membuat brosur, poster dan
flyer yang akan lebih dipasarkan kepada masyarakat umum. 5. Strategi Keuangan Dalam
mengembangkan usaha, pemilik akan menambah armada untuk mengembangkan usaha
dengan modal sendiri yang telah didapat dari keuntungan didapat. D. PEMANFAATAN
TEKNOLOGI INFORMASI Dalam persaingan bisnis yang semakin keras dan ketat saat inI,

informasi teknologi memegang peranan penting dalam pengembangan bisnis. Yang menjadi
titik point adalah bagaimana teknologi dapat digunakan dan apa yang perlu diketahui bisnis
mengenai teknologi sehingga memberi dampak terhadap stategi bisnis dan selalu terlibat
dalam berbagai perencanaan serta pengkajian strategi bisnis. Pemanfaatan sistem teknologi
informasi memberikan lima peran utama di dalam organisasi : 1. Meningkatkan efisiensi,
yaitu menggantikan manusia dengan teknologi di proses produksi. 2. Meningkatkan
efektivitas, yaitu menyediakan informasi bagi para manajer di organisasi untuk mendukung
proses pengambilan keputusan dengan lebih efektif yang didasarkan dengan informasi yang
akurat, tepat waktu, dan relevan sehingga mendapat hasil produksi yang akurat dan bebas dari
cacat produksi sesuai dengan sasaran produksi yang diinginkan. 3. Meningkatkan
komunikasi, yaitu mengintegrasikan penggunaan sistem teknologi informasi dengan
menggunakan email dan chat. 4. Meningkatkan kolaborasi. 5. Meningkatkan kompetitif, yaitu
system teknologi informasi digunakan untuk keunggulan kompetisi. Dalam pemanfaatan
informasi teknologi, Keripik Nangka Harahap Family menggunakan jaringan internet untuk
memasarkan usaha ini, yang memiliki alamat di internet dan dapat dikunjungi oleh siapapun.
E. ANALISISS RESIKO USAHA Menggambarkan hal-hal yang mungkin mengganggu
pelaksanaan investasi dan pengembalian pinjaman. 1. Adanya perubahan selera pasar yang
kemungkinan akan terjadi. 2. Kenaikan harga bahan baku diatas 25% 3. Kebijakan
pemerintah yang sewaktu-waktu akan berubah. 4. Resiko yang dihadapi ketika perekonomian
tidak stabil adalah akan terganggunya produktivitas yang akan dihasilkan. 5. Adanya
persaingan dari pihak tertentu yang mengambil keuntungan dari usaha ini. 6. Kenaikan upah
tenaga kerja sebesar 30% 7. Penurunan Daya Beli Masyarakat 8. Kerusakan mesin mesin
Peralatan Antisipasi Resiko Usaha Menggambarkan strategi / kegiatan yang dilakukan dalam
mengantisipasi dan meminimalkan resiko usaha. 1. Pembelian stock bahan baku dan bahan
penolong. 2. Membuat kontrak kerja dengan tenaga kerja. 3. Menyediakan fasilitas
pendukung untuk pekerja agar tetap loyal. 4. Memperluas saluran distribusi pemasaran.

studi kelayakan bisnis ubi barokah


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan pertanian harus dipandang dari dua pilar utama secara
terintegrasi dan tidak bisa dipisahkan yaitu pertama, pilar pertanian primer (onfarm agriculture/agribusiness) yang merupakan kegiatan usahatani yang
menggunakan sarana dan prasarana produksi (input factors) untuk
menghasilkan produk pertanian primer. Kedua, pilar pertanian sekunder (downstream agriculture/ agribusiness) sebagai kegiatan meningkatkan nilai tambah
produk pertanian primer melalui pengolahan (agroindustri) beserta distribusi dan
perdagangannya.
Pengembangan agribisnis salah satu yang harus mendapat perhatian adalah
agribisnis umbi-umbian. Salah satu komoditas pertanian yang mempunyai
potensi untuk dikembangkan dalam agroindustri adalah ubi jalar. Jenis umbiumbian sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Pemanfaatannya
sebagian besar dikonsumsi dengan cara direbus atau hanya sekedar dibakar,
sebagian lagi dibuat sayur dan diolah dalam berbagai bentuk olahan makanan
seperti pembuatan kolak.
Ubi jalar merupakan sumber karbohidrat yang kuat dapat dipanen pada umur
3 8 bulan. Ubi jalar tidak memerlukan tanah yang subur karena pada tanah
yang subur hanya daun dan batangnya yang tumbuh lebat. Ubi jalar umumnya
tumbuh baik di tanah berpasir atau kering dan dapat dibudidayakan tanpa
adanya irigasi.
Selain sebagai sumber karbohidrat, ubi jalar (Ipomoea batatas Poir.) juga
mengandung vitamin A, C, dan mineral. Ubi jalar yang daging umbinya berwarna
ungu, banyak mengandung anthocyanin yang sangat bermanfaat bagi
kesehatan, karena berfungsi mencegah penyakit kanker.
Ubi jalar yang daging umbinya berwarna kuning, banyak mengandung
vitamin A, beberapa varietas ubi jalar mengandung vitamin A setara dengan
wortel. Di Jepang, Korea, Cina, Taiwan dan Amerika Serikat, ubi jalar tidak hanya
digunakan sebagai bahan pangan pokok tetapi juga diolah menjadi pangan
olahan seperti selai, saos, juice, serta sebagai bahan baku industri dan pakan
ternak.
Selain karbohidrat, ubi jalar juga mengandung antosianin yang sangat
bermanfaat bagi kesehatan, selanjutnya kandungan ubi jalar itu sendiri adalah
protein, lemak, kalori, serat, abu, kalsium, fosfor, zat besi,karoten, vitamin B1,
B2, C, dan asam nikotinat yang bermanfaat sebagai tonik, menghentikan
perdarahan dan mengatasi kencing manis (diabetesmellitus). Disamping itu, ubi
jalar tidak hanya digunakan sebagai bahan pangan tetapi juga sebagai bahan
baku industri dan pakan ternak.

Di Indonesia, ubi jalar umumnya sebagai bahan pangan sampingan.


Sedangkan di Papua, ubi jalar adalah digunakan sebagai makanan pokok.
Komoditas ini ditanam baik pada lahan gunung maupun lahan sawa. Luas panen
ubi jalar di Indonesia sekitar 230.000 ha dengan produktivitas sekitar 10 ton/ha.
Padahal dengan teknologi maju beberapa varietas unggul ubi jalar dapat
menghasilkan lebih dari 30 ton umbi basah/ha. Ubi jalar masa panennya
dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti iklim, tingkat kesuburan tanah, varitas
dan lokasi penanaman. Apabila ditanam didataran tinggi maka masa panen akan
lebih lama antara 5 s/d 6 bulan sementara apabila ditanam didataran rendah
bisa dipanen saat berumur 3 s/d 4 bulan. Ubi jalar hasil panen sangat bervariasi
tergantung lokasi penanaman. Penanaman didataran rendah bisa dipanen ubi
jalar sebanyak 15 20 ton / hektar. Untuk dataran sedang bisa dipanen ubi
sebanyak 20 25 ton / hektar dan didataran tinggi bisa dipanen 25 30 ton /
hektar.
Keberadaan Ubi jalar dapat disimpan hingga 5 s/d 6 bulan bahkan lebih
tergantung dari cara penyimpanan. Ubi jalar yang telah disimpan rasanya lebih
manis dibandingkan dengan ubi jalar yang baru saja dipanen. Cara yang paling
praktis agar tahan lama disimpan adalah dibenamkan kedalam pasir.
Ubi jalar atau ketela rambat diduga berasal dari Benua Amerika. Para ahli
botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi jalar adalah
Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika bagian tengah. Ubi jalar mulai menyebar
keseluruh dunia, terutama negara-negara beriklim tropika, diperkirakan pada
abad ke- 16. Penyebaran ubi jalar pertama kali terjadi ke spanyol melalui Tahiti,
kepulauan Guam, Fiji, dan Selandia Baru. Pada tahun 1960-an penanaman ubi
jalar sudah meluas hampir di semua provinsi di Indonesia. Daerah sentra
produksi ubi jalar pada mulanya terpusat di Pulau Jawa, terutama Kabupaten
Bogor, Garut, Bandung, Kuningan, Serang, Sukabumi, Purwakarta dan lain-lain.
Ubi jalar sangat penting dalam tatanan penganekaragaman pangan. Jika
dilihat dari kegunaannya, maka ubi jalar memiliki peluang yang baik untuk
dikembangkan. Peningkatan produksi ubi jalar di Indonesia pada umumnya dan
di Desa Pesanggerahan pada khususnya dapat didorong melalui pengembangan
agroindustri pengolahan hasil panen menjadi produk-produk yang unggul,
menarik, dan awet sehingga laku di pasaran, baik dalam negeri maupun pasar
luar negeri (ekspor). Peran pemerintah dalam hal ini sangat penting dalam
mendorong masyarakat untuk mengembangkan ubi jalar melalui pameran dan
penyuluhan yang memberikan gambaran bahwa ubi jalar dapat diangkat menjadi
sumber bahan pangan alternatif. Pemerintah dapat juga memberikan kebijakan
harga dasar yang layak untuk merangsang minat petani mengembangkan ubi
jalar sebagai salah satu program diversifikasi pangan.
Saat ini usaha pengolahan ubi jalar di Desa Pesanggerahan relatif sedikit
dan umumnya masih diusahakan dalam skala yang relatif kecil dengan
manajemen yang sederhana. Hal ini diakibatkan masyarakat kurang mengetahui
potensi-potensi yang ada pada usaha pengolahan ubi jalar. Berdasarkan hal
tersebut di atas maka perlu adanya suatu upaya untuk menggali potensi-potensi

agroindustri atau usaha pengolahan ubi jalar agar usaha pengolahan ini dapat
dikembangkan.
Nilai tambah yang didapat jika ubi jalar diolah menjadi keripik ubi
diantaranya adalah meningkatnya harga jual serta umur simpan produk menjadi
lebih lama. Keuntungan yang didapat dari usaha keripik ubi memberi peluang
untuk didirikannya industri pengolahan keripik ubi. Sebelum keripik ubi
dipasarkan di suatu wilayah, maka diperlukan penilaian mengenai seberapa
besar permintaan konsumen yang ada serta potensinya untuk dapat
berkembang di masa mendatang. Hal tersebut perlu dilakukan untuk
mengurangi resiko kegagalan produk yang dipasarkan. Selain aspek pasar,
beberapa hal yang harus diperhatikan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi
kegiatan operasional industri meliputi kelayakan jumlah dan mutu bahan-bahan
yang dibutuhkan untuk proses produksi, teknologi pengolahan yang digunakan,
serta beberapa hal yang dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan teknis
kegiatan industri seperti lahan, bangunan, dan tenaga kerja. Dalam langkah
pendirian industri pengolahan keripik ubi juga diperlukan pertimbangan yang
berkaitan dengan seluruh biaya yang dikeluarkan serta tingkat penerimaan yang
akan didapat sehingga tingkat resiko dari biaya yang diinvestasikan dapat diukur
tingkat kelayakannya. Sebuah industri tidak dapat didirikan jika tidak mendapat
izin dari pemerintah atau tidak ada undang-undang yang mengatur tentang
pendirian industri di suatu daerah. Maka dalam studi kelayakan pendirian
industri pengolahan keripik ubi juga diperlukan analisis mengenai peraturan dan
perizinan mengenai pendirian industri. Untuk menilai tingkat kelayakan pendirian
industri pengolahan keripik ubi di Desa Pesanggrahan, maka dibutuhkan studi
kelayakan yang dalam dan komprehensif sehingga hasil studi kelayakan dapat
menggambarkan tingkat kelayakan pendirian industri dengan baik. Informasi
yang didapat dari studi kelayakan pendirian industri pengolahan keripik ubi di
Pesanggrahan mencakup gambaran ketersediaan pasar dan perkiraanya,
kebutuhan teknis industri, kelayakan finansial, dan studi kelayaakan lainnya.
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan informasi mengenai
tingkat kelayakan pendirian industri kecil keripik ubi jalar di Kabupaten Lombok
Timur meliputi aspek pasar, teknis dan teknologis, finansial, SDM, dan Aspek
lainnya.
B.

Maksud dan Tujuan


Manfaat penelitian ini diantaranya dapat digunakan sebagai acuan bagi calon
wirausahawan dan investor yang ingin melakukan usaha bisnis keripik ubi jalar di
kabupaten Lombok Timur, Desa Pesanggrahan, masukan bagi perbankan untuk
pemberian pinjaman dan masukan bagi pemerintah dalam melakukan
pembinaan bagi para petani ubi jalar di Kabupaten Lombok Timur.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Ubi Jalar (ipomea batatas)


Ubi jalar atau ketela rambat atau sweet potato diduga berasal dari
Benua Amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal
tanaman ubi jalar adalah Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika bagian tengah.
Nikolai Ivanovich Vavilov, seorang ahli botani Soviet, memastikan daerah
sentrum primer asal tanaman ubi jalar adalah Amerika Tengah. Ubi jalar mulai
menyebar ke seluruh dunia, terutama negara-negara beriklim tropika pada abad
ke-16. Orang-orang Spanyol menyebarkan ubi jalar ke kawasan Asia, terutama
Filipina, Jepang, dan Indonesia (Sarmi Julita, 2011).
Menurut ilmu taksonomi, tanaman ubi jalar berwarna violet dimasukkan
dalam klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Asteridae

Ordo

: Solanales

Famili

: Convolvulaceae (suku kangkung-kangkungan)

Genus

: Ipomoea

Spesies

: Ipomoea batatas Poir

Plasma nutfah (sumber genetik) tanaman ubi jalar yang tumbuh di dunia
diperkirakan berjumlah lebih dari 1000 jenis, namun baru 142 jenis yang
diidentifikasi oleh para peneliti. Lembaga penelitian yang menangani ubi jalar,
antara lain: International Potato centre (IPC) dan Centro International de La Papa
(CIP). Di Indonesia, penelitian dan pengembangan ubi jalar ditangani oleh Pusat
Peneliltian dan Pengembangan Tanaman Pangan atau Balai Penelitian KacangKacangan dan Umbi-Umbian (Balitkabi), Departemen Pertanian (Sarmi Julita,
2011).
Varietas atau kultivar atau klon ubi jalar yang ditanam di berbagai daerah
jumlahnya cukup banyak, antara lain: lampeneng, sawo, cilembu, rambo, SQ-27,
jahe, kleneng, gedang, tumpuk, georgia, layang-layang, karya, daya, borobudur,
prambanan, mendut, dan kalasan. Varietas yang digolongkan sebagai varietas
unggul harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Berdaya hasil tinggi, di atas 30 ton/hektar,
b. Berumur pendek (genjah) antara 3-4 bulan,
c. Rasa ubi enak dan manis,
d.

Tahan terhadap hama penggerek ubi (Cylas sp.)dan penyakit kudis oleh
cendawan Elsinoe sp,

e. Kadar karotin tinggi di atas 10 mg/100 gram.


f.

Keadaan serat ubi relatif rendah.

(Sarmi Julita, 2011)


B.

Studi Kelayakan Bisnis


Kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dalam
melaksanakan suatu kegiatan usaha/proyek disebut dengan studi kelayakan
bisnis. Studi kelayakan bisnis merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil
suatu keputusan, apakah menerima atau menolak dari suatu gagasan
usaha/proyek yang direncanakan (Ibrahim, 2009).

Menurut Gittinger (1986), proyek adalah kegiatan usaha yang menggunakan


sumber-sumber daya untuk memperoleh keuntungan atau manfaat. Perencanaan
proyek yang baik tergantung pada tersedianya berbagai informasi mengenai
adanya investasi yang potensial dan informasi mengenai pengaruhnya terhadap
pertumbuhan dan tujuan lainnya. Analisis proyek menyediakan informasi proyekproyek yang dipilih untuk dilaksanakan lalu menjadi alat agar penggunaan
sumber-sumber daya dapat menciptakan pendapatan. Dalam melaksanakan
studi kelayakan bisnis, ada beberapa tahapan studi yang hendaknya dikerjakan.
Tahapan-tahapan tersebut diantaranya adalah penemuan ide, tahap penelitian,
dan tahap pengurutan usulan yang layak (Umar, 2003).
Penentuan layak atau tidaknya suatu usaha dapat dilihat dari berbagai
aspek. Ukuran kelayakan tiap proyek berbeda-beda berdasarkan jenis usahanya,
namun mengacu pada aspek-aspek yang sama. Untuk melakukan penilaian
terhadap aspek-aspek ini, perlu dibentuk suatu tim yang terdiri dari orang-orang
yang berasal dari berbagai bidang keahlian. Studi kelayakan bisnis terdiri dari
beberapa aspek yang sama-sama penting untuk diperhatikan, yaitu :
1.

Aspek Pasar
Pengertian pasar secara sederhana dapat diartikan sebagai tempat bertemunya
para penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi. Pengertian lebih luas
tentang pasar adalah himpunan pembeli nyata dan pembeli potensial atas suatu
produk (Kasmir dan Jakfar, 2006). Sutojo (1993) menyatakan bahwa dalam
mengkaji aspek pasar, hal yang perlu diperhatikan adalah kedudukan produk
dalam pasar saat ini, komposisi dan perkembangan permintaan produk di masa
lalu dan sekarang, dan proyeksi permintaan produk di masa yang akan datang,
kemungkinan adanya persaingan, dan peranan pemerintah dalam menunjang
perkembangan produk. Menurut (Umar,2003), kondisi pasar saat ini dapat
diketahui dengan melakukan identifikasi terhadap pesaing dan mengestimasi
penjualan mereka. Kegunaan dari analisis aspek pasar adalah untuk menentukan
besar, sifat, dan pertumbuhan permintaan total akan produk yang bersangkutan,
serta deskripsi tentang produk dan harga jualnya (Edris, 1983).

2.

Aspek Teknik dan Teknologi


Aspek teknik dan teknologi merupakan salah satu aspek penting dalam proyek
dan berkenaan dengan proses pembangunan industri secara teknis dan operasi
setelah industri tersebut dibangun (Husnan dan Suwarsono, 1991). Analisis
teknik secara spesifik mencakup analisis terhadap ketersediaan bahan baku,
proses produksi, mesin, dan peralatan, jumlah mesin dan peralatan, keperluan
tenaga kerja, dan penentuan luas pabrik (Husnan dan Suwarsono, 1994) Studi
aspek teknik dan teknologi menurut Umar (2003) meliputi rencana pengendalian
persediaan bahan baku, penentuan kapasitas produksi, serta proses pemilihan
teknologi untuk produksi.

3.

Aspek Finansial

Analisis aspek finansial dilakukan untuk memperkirakan jumlah dana yang


diperlukan, baik untuk dana tetap maupun modal kerja awal. Analisis finansial
adalah suatu analisis yang membandingkan antara biaya-biaya dengan manfaat
(keuntungan) untuk menentukan apakah suatu proyek akan menguntungkan
selama umur proyek (Sutojo, 1993). Studi kelayakan terhadap aspek finansial
perlu menganalisis bagaimana perkiraaan aliran kas akan terjadi. Metode yang
biasa dipertimbangkan untuk dipakai dalam penilaian aliran kas dari suatu
investasi, yaitu metode Break Event Point, Net Present Value, Internal Rate of
Return, dan Payback Period (Umar, 2003). Break Event Point (BEP) adalah suatu
cara untuk menetapkan tingkat produksi dimana penjualan sama dengan biayabiaya. Untuk memperoleh keuntungan, penerimaaan dari hasil penjualan harus
berada di atas titik pulang pokok (BEP) tersebut. Intisari pengkajian BEP adalah
penyajian kenyataan bahwa bila tingkat produksi atau penjualan tidak dapat
melampaui titik ini maka proyek yang bersangkutan tidak dapat menghasilakan
laba (Kadariah et. al, 1978). NPV merupakan selisih antara harga sekarang dari
penerimaan dengan harga sekarang dari pengeluaran pada tingkat bunga
tertentu (Gray et al, 1992). IRR adalah tingkat bunga yang menghasilkan NPV
sama dengan nol. IRR digunakan untuk mencari tingkat bunga yang
menyamakan nilai sekarang dari arus kas yang di harapkan di masa datang,
asalkan keuntungan yang diperoleh setiap satuan waktu di tanam kembali.
(Kadariah et. al, 1978).
4.

Aspek Sosial, Ekonomi dan Politik Ekonomi


Berkaitan dengan sifat dan arah sistem ekonomi tempat suatu perusahaan
beroperasi. Karena pola konsumsi dipengaruhi oleh kesejahteraan relatif
berbagai segmen pasar, dalam perencanaan strategiknya setiap perusahaan
harus mempertimbangkan kecenderungan ekonomi di segmen-segmen yang
mempengaruhi industrinya. Kekuatan sosial bersifat dinamis dan selalu berubah
sebagai akibat upaya orang untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka
melalui pengendalian dan penyesuaian diri terhadap faktor-faktor lingkungan.
Menerjemahkan perubahan sosial ke dalam ramalan mengenai dampak-dampak
terhadap bisnis merupakan proses yang sukar. Namun perkiraan dampak dari
perubahan seperti perubahan geografis dalam populasi dan perubahan nilai
kerja, standar etika dapat membantu perusahaan dalam usahanya untuk tetap
berjaya Kondisi politik di suatu negara akan sangat menentukan tinggi
rendahnya tingkat resiko politik yang akan mempengaruhi dunia bisnis pada
negara yang bersangkutan. Secara sederhana, resiko politik dapat diartikan
sebagai suatu ketidakpastian yang mengemuka dan dapat mempengaruhi
keberhasilan atau kegagalan dalam mencapai suatu tujuan (termasuk investasi)
akibat adanya ketidakstabilan politik di suatu negara. Kondisi politik yang tidak
stabil dapat menjadi ancaman yang besar bagi kelangsungan hidup suatu
perusahaan. Karena faktor politik menentukan parameter legal dan regulasi yang
membatasi operasi perusahaan. Menurut pengakuan Mahalli (2008), konstelasi
politik saat ini tidak berpengaruh terhadap perusahaan yang dipimpinnya karena
kebijakan-kebijakan yang ada masih berpihak kepada perusahaan.

5.

6.
a.

b.

c.

d.

e.

7.

Aspek lingkungan Hidup


Ekologi mengacu pada hubungan antara manusia dan mahluk hidup lainnya
dengan udara, tanah, dan air yang mendukung kehidupan mereka. Ancaman
terhadap ekologi, bisnis sekarang memikul tanggung jawab untuk meniadakan
hasil limbah dari proses manufaktur mereka dan untuk membersihkan kembali
lingkungan yang telah tercemar akibat ulah sebelumnya. Oleh karena itu, untuk
menjaga agar beban biaya pengendalian ekologi dapat terkurangi, maka
diperlukan perencanaan tentang pemeliharaan ekologi dalam lingkungan
operasional bisnis
Aspek Lingkungan Bisnis
Pendatang baru
Pendatang baru ke suatu industri membawa masuk kapasitas baru, keinginan
untuk merebut bagian pasar (market share), dan seringkali sumber daya yang
cukup besar. Besarnya ancaman masuk bergantung pada hambatan masuk yang
ada dan pada reaksi dari peserta persaingan yang sudah ada menurut perkiraan
calon pendatang baru.
Kekuatan tawar-menawar pemasok
Pemasok dapat memanfaatkan kekuatan tawar menawarnya atas para anggota
industri dengan menaikkan harga atau menurunkan kualitas barang dan jasa
yang dijualnya. Karenanya, pemasok yang kuat dapat menekan kemampulabaan
suatu industri yang tidak dapat mengimbangi kenaikan biaya dengan menaikkan
harganya sendiri.
Produk dan jasa substitusi
Penetapan batas harga tertinggi akan membatasi potensi produk atau jasa
substitusi suatu industri. Jika industri tidak mampu meningkatkan kualitas produk
atau mendefinsikannya, laba dan pertumbuhan industri dapat terancam. Produk
dan jasa substitusi tidak hanya membatasi laba dalam masa-masa normal
melainkan juga mengurangi laba maksimal yang dapat diraih industri dalam
masa keemasan.
Kekuatan tawar menawar pembeli
Pembeli memiliki kemampuan untuk menekan harga, menuntut kualitas lebih
tinggi atau layanan lebih banyak, dan mengadu domba sesama anggota industri.
Pembeli cenderung lebih peka terhadap harga jika mereka membeli produk yang
tidak terdiferensiasi, relative lebih mahal terhadap penghasilan mereka, dan jika
kualitas tidak terlalu penting bagi mereka.
Persaingan dikalangan peserta persaingan yang ada
Perusahaan memiliki keleluasaan tertentu untuk memperbaiki keadaan melalui
perubahan strategik. Pemusatan usaha penjualan pada segmen industri yang
paling cepat tumbuh atau pada wilayah pasar yang biaya tetapnya paling rendah
dapat mengurangi dampak persaingan antar anggota industri.
Aspek SDM
Menurut Handoko (1994:233), sumber daya terpenting dari sautu organisasi atau
perusahaan adalah sumber daya manusia orang-orang yang memberikan
tenaga, bakat, kreatifitas dan usaha mereka kepada organisasi. Beberapa tugastugas kepemimpinan kritis manajer mencakup penarikan, penyeleksian,
pengembangan dan penggunaan sumber daya manusia dalam pencapaian
tujuan organisasi. Tanpa orang-orang yang cakap, organisasi dan manajemen

akan gagal mencapai tujuannya. Bagaimana manajer melaksanakan fungsi


penyusunan personalia (staffing) secara efektif atau tepat sasaran akan
menentukan suktus atau kegagalan mereka sebagai manajemen.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Profil Perusahaan
1.

Data Perusahaan

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Nama Perusahaan : Keripik Ubi Barokah


Bidang Usaha : Industri Rumahan
Jenis Produk / Jasa : Makanan Ringan
Alamat Perusahaan : Jl. Pariwisata Otak Kokok Joben
Nomor Telepon : 081 805 253 497 986
Alamat E-mail : amahkyuforever@yahoo.com

g.
h.
i.
j.

Situs Web : Bank Perusahaan : Bentuk Badan Hukum : Usaha Dagang


Mulai Berdiri : 08 Desember 2011

2.

Biodata Pemilik atau Pengurus

a. Nama : Hajjah Mustirah


b. Jabatan : Pimpinan
c. Tempat dan Tanggal Lahir : Kanjol Jawa, 31 Desember 1975
d. Alamat Rumah : Jl. Pariwisata Otak Kokok Joben
e. Nomor Telepon : 081 805 290 492
f. Alamat E-mail : amahkyuforever@yahoo.com
g. Pendidikan Terakhir : SMA
B. Analisis Bisnis
1.

Aspek Pasar dan Pemasaran

1)

Produk yang Dihasilkan


Produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk
diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi pasar sebagai
pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan (Tjiptono,
2002:95). Pada bagian ini menjelaskan keseluruhan produk yang dihasilkan.
Perencanaan yang perlu dilakukan menyangkut produk (output), terutama pada
usaha manufaktur dan industri pengolahan adalah:
a.
Dimensi Produk
Dimensi produk berkenaan dengan sifat dan ciri-ciri produk yang meliputi
bentuk, ukuran, warna serta fungsinya. Produk yang berbahan baku ubi ini
disajikan dalam bentuk keripik yang disediakan dengan berbagai varian rasa dan
harga.
b.
Nilai/Manfaat Produk
Produk keripik buah ubi yang ditawarkan memiliki manfaat yang positif bagi
kesehatan konsumen.Produk keripik ubi juga memiliki Potential Benefit (manfaat
potensial) seperti menjaga lingkungan dan memperdulikan kesehatan
pelanggan.
c.
Kegunaan/Fungsi Produk
Produk konsumsi, yaitu produk yang dibeli dan digunakan oleh konsumen akhir
(pemakai akhir). Keripik ubi merupakan produk yang dapat dinikmati dengan
berbagai pilihan rasa dan harga.
2)
Keunggulan Produk
Keunggulan kompetitif produk keripik ubi antara lain :
a)
b)
c)
d)
3)

Rasa yang sangat renyah dan gurih.


Kemasan yang ramah lingkungan.
Kesegaran dari ubi jalar yang masih terasa.
Harga terjangkau dan sesuai dengan kantong konsumen.
Gambaran Pasar
Pada tahap ini menceritakan gambaran pasar, mulai dari gambaran pasar bisnis
secara ringkas serta data penjualan beberapa tahun terakhir.

a.

Perkiraan / prediksi jumlah permintaan konsumen terhadap produk.

b.

4)

Proyeksi penawaran dalam beberapa periode/tahun mendatang. Proyeksi


penawaran disesuaikan dengan permintaan seperti kenaikan x % per tahun
sesuai pertumbuhan proyeksi permintaan.

Target Pasar atau Segmen Pasar yang Dituju


Target pasar adalah sekelompok pembeli yang mempunyai sifat-sifat yang sama
yang membuat pasar itu berdiri sendiri. Adanya sekelompok orang dengan ciriciri yang sama belumlah berarti mereka membentuk pasar sasaran. Hanya bila
mereka mempunyai ciri-ciri yang sama sebagai pembeli, maka barulah berarti
mereka membentuk suatu pasar sasaran (Situmorang, 2008). Dalam suatu
perusahaan pasti akan memiliki target atau segmentasi pasar yang dituju untuk
mengembangkan usaha yang diproduksi oleh perusahaan. Target pasar
memberikan prospek yang bagus dimana penulis dapat memasarkan produk
keripik ubi ke beberapa tempat misalnya saja di kedai/warung, di koperasikoperasi, bahkan dapat dipasarkan di supermarket-supermarket jika sudah
memiliki izin usaha. Perusahaan yakin akan melangkah ke bisnis ini karena telah
melihat target pasar sebelumnya melalui berbagai media cetak dan elektronik.
Dalam segmentasi pasar, usaha ini tidak mengelompokkan siapa yang menjadi
konsumen akan produk yang dihasilkan. Perusahaan yakin dengan target atau
segmentasi pasar yang dituju akan membuat usaha ini menjadi lebih
berkembang karena melihat dari usaha yang menjanjikan dan demografi yang
sangat baik untuk usaha ini.
5)
Trend Perkembangan Pasar
Masyarakat Indonesia sangat mengikuti trend suatu produk di pasar saat ini,
termasuk keripik ubi. Dengan demikian, perusahaan yakin ketika usaha ini telah
berjalan akan menjadi perusahaan yang dapat berkembang cepat. Hal ini dapat
dilihat dari kondisi perekonomian Indonesia yang cukup baik dan selera
masyarakat untuk mencoba suatu produk yang unik. Dari analisis perkembangan
pasar yang dilakukan, pertumbuhan ekonomi seperti inflasi dan tingkat suku
bunga mempengaruhi trend perkembangan pasar. Dari segi pertumbuhan
ekonomi dapat dilihat bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia sedang
membaik dan ini sangat mempengaruhi tingkat pendapatan masyarakat. Hal ini
mempengaruhi karena dengan tingkat pendapatan yang baik maka masyarakat
akan tinggi pula untuk mengkonsumsi suatu produk. Keinginan masyarakat
untuk mengkonsumsi suatu produk maka akan tinggi pula hasrat masyarakat
untuk mengkonsumsi produk dari perusahaan. Dari segi inflasi, faktor ini
mempengaruhi dalam perkembangan perusahaan. Dikarenakan ketika inflasi
tinggi maka akan berimbas pada bahan baku penolong usaha ini. Namun, ketika
inflasi turun maka bahan baku penolong juga akan turun sehingga berimbas pula
pada harga produk usaha penulis. Dari segi tingkat suku bunga, faktor ini juga
mempengaruhi akan perkembangan usaha ini. Namun, dapat dilihat bahwa
tingkat bunga mempengaruhi ketika usaha yang dijalankan mendapat pinjaman
dari pihak ketiga yakni bank. Dalam usaha ini, modal untuk pendirian usaha ini
merupakan usaha dari modal sendiri ditambah modal dari PNPM mandiri dan
usaha ini tidak akan terpengaruh akan naik atau turunnya tingkat suku bunga.
6)
Proyeksi Penjualan

7)

a.

b.

c.

d.

e.

f.

Perencanaan kapasitas produksi dilakukan untuk semua mesin, peralatan, dan


faktor produksi lainnya sesuai dengan rencana jumlah produk akhir yang akan
dihasilkan. Dengan sendirinya, kapasitas produksi sampai dengan tingkatan yang
rinci semuanya akan mengacu pada hasil dari perhitungan peluang pasar atas
produk yang bersangkutan. Kapasitas produksi biasa dinyatakan dalam unit per
periode waktu tertentu (tahun, bulan, minggu, hari, atau jam). Untuk
perencanaan strategis, proyeksi kapasitas penjualan dilakukan dalam jangka
minimal 3 tahun ke depan, sesuai dengan rencana produksinya. Namun dalam
usaha rumahan keripik ubi jalar ini, masih menggunakan alat-alat yang bukan
mesin untuk melakukan pengirisan dan pengolahan ubi.
Analisis Pesaing
Strategi Pemasaran Perusahaan dilakukan berdasarkan analisa 7 P menurut
Kotler (2000) yang terdiri atas :
Price (harga)
Strategi mengenai bagaimana produk lebih menarik konsumen dari segi harga
dibandingkan pesaing. Umumnya konsumen lebih tertarik kepada produk dengan
harga yang lebih murah. Pricing merupakan ekspresi nilai yang menyangkut
kegunaan dan kualitas produk, citra yang terbentuk melalui iklan dan promosi,
ketersediaan produk melalui jaringan distribusi, dan layanan yang menyertainya
(Raymond Corey, 2001). Sehingga pricing bukan semata-mata biaya produksi
ditambah dengan marjin keuntungan yang akan diambil, melainkan sebuah nilai
yang mencerminkan value proposition. Harga yang tepat akan memiliki ikatan
yang erat antara pembeli dan produsen. Harga produk tidak lebih murah
daripada produk pesaing, karena harga tersebut merupakan harga yang sudah
sesuai dengan ongkos produksi.
Product (Produk)
Strategi mengenai bagaimana produk usaha dapat menarik hati konsumen
untuk membelinya. Produk yang ditawarkan merupakan produk keripik ubi yang
memiliki kualitas terbaik dengan kadar gizi yang tinggi dan menyehatkan dan
sekaligus berkhasiat obat.
Promotion (Promosi)
Strategi mengenai bagaimana produk dapat dikenal oleh konsumen melalui cara
Personal Selling yaitu promosi melalui penjualan langsung ke tempat konsumen
berada dengan menawarkan dan mencoba produk langsung.
Place (Saluran Distribusi)
Place merupakan cara untuk mendistribusikan produk untuk sampai ke tangan
konsumen. Sistem distribusi yang dilakukan secara langsung ke konsumen.
People
People merupakan kriteria sumber daya manusia secara umum yang dapat
meningkatkan penjualan produk ke konsumen secara langsung ataupun tidak
langsung. Usaha ini dilaksanakan oleh pemilik sendiri sebagai pemilik aktif. Maka
pemilik mengutamakan pelayanan dengan sikap yang ramah, sopan dan
bersahabat.
Process
Proses yang ditampilkan kepada konsumen agar konsumen tertarik untuk
membeli. Proses yang dapat ditampilkan seperti proses produksi yang baik
ataupun proses pelayanan terhadap konsumen. Dalam proses, pelanggan dapat
melihat secara langsung proses pembuatannya. Disini operasional usaha dituntut

untuk menjaga kualitas produksi seperti mengutamakan kebersihan, langkah


kerja yang efektif dan tangkas menanggapi permintaan.
g. Physical Evidence
Penampilan fisik dari fasilitas pendukung atau sarana dalam menjual produk
yang dapat dilihat langsung oleh konsumen. Kemasan produk berisi nama berikut
alamat usaha. Dari analisis pasar dan pesaing yang penulis lihat bahwa, pesaing
dari usaha ubi ini merupakan produk yang sejenis yakni pesaing yang bersifat
subtitusi. Salah satu contoh yaitu usaha kerupuk.
2.

Aspek Operasi

a. Bahan baku dan bahan penolong


Perencanaan bahan baku dan bahan pembantu merupakan bagian utama untuk
perhitungan kebutuhan modal kerja. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah
suplier, kuantitas, harga beli, persyaratan pembelian, ketersediaan, dan
persediaan. Bahan baku yang digunakan adalaah ubi jalar, minyak goreng daan
bumbu pelengkap.
b. Proses Produksi
Proses produksi pada dasarnya menjelaskan tahapan-tahapan proses yang
diperlukan untuk menghasilkan produk atau output yang dimaksud. Bentuk
proses produk keripik ubi ini dibahas dalam bentuk resep. Keripik ubi jalar dibuat
pertama dengan mengupas kulit luar ubi, kemudian dicuci dan di iris tipis-tipis.
Setelah itu di cuci kembali sambil menyiapkan penggorengan yang berisi minyak
panas. Masukkan irisan ubi jalar tadi secukupnya. Tunggu sampai irisan ubi keras
dan mengapung di atas minyak. Kemudian angkat dan tiriskan minyaknya.
Setelah minyak kering, segera campurkan bumbu kedalam irisan ubi yang sudah
matang tadi, saat masih panas tingkat menempelnya bumbu akan lebih bagus,
jadi usahakan mencampur bumbu saat masih panas. Seteah hasil gorengan ubi
dingin, kemudian dikemas dengan plastik berbagai ukuran. Selanjutnya produk
siap dipasarkan.
c. Sarana Penunjang
Instalasi sarana penunjang berkaitan dengan tata letak (lay-out) yang termasuk
dalam anggaran investasi. Pemasangan sarana penunjang ini meliputi listrik, air,
telepon, internet, dan lain-lain.
3.

Aspek SDM
Kompetensi adalah ciri-ciri yang harus dimiliki oleh seseorang sehingga
dapat dicapai performansi prima dalam suatu bidang pekerjaan. Pada indikator
kompetensi karyawan, kita harus melihat tiga sisi, yaitu sisi pertumbuhan,
efisiensi, dan stabilitas. Di sisi pertumbuhan, akan memantau durasi bekerja,
tingkat pendidikan, dan biaya pelatihan seorang karyawan. Selain itu tingkat
turnover karyawan dan kemampuan meraih pelanggan juga bisa termonitor.
Sementara itu, di sisi efisiensi, harus dilihat proporsi para professional
(karyawan dengan keahlian tertentu). Begitu juga dengan nilai tambah per
karyawan dan professional serta keuntungan yang dihasilkan oleh setiap
karyawan atau professional. Adapun sisi stabilitas akan terlihat dari turnover
professional di sebuah perusahaan. Perencanaan tenaga kerja langsung (TKL),
juga perlu memperhatikan hal-hal mengenai kualifikasi, tarif upah, jumlah tenaga

yang dibutuhkan, dan persyaratan kerja. Karena dalam usaha ini pemilik juga
merupakan investor aktif yang berarti pemilik juga menjalankan pekerjaan
operasional, maka sistem penggajian tidak dihitung secara spesifik melainkan
menerima pembagian dari laba yang didapatkan. Sehingga untuk saat ini usaha
pemilik belum memerlukan tenaga kerja tambahan karena masih dapat
mengelola sendiri usaha ini.
4.

Aspek Lingkungan Bisnis


Sifat dan derajat persaingan dalam suatu industri bergantung pada lima
kekuatan atau faktor; ancaman pendatang baru, ancaman produk/jasa substitusi,
daya tawar menawar pembeli (pelanggan), daya tawar pemasok dan persaingan
antara anggota industri. Untuk menyusun rancangan strategi menghadapi
kekuatan-kekuatan ini, perusahaan harus memahami bagaimana cara kerja
kekuatan tersebut dalam industri dan bagaimana pengaruhnya terhadap
perusahaan dan uraiannya sebagai berikut :

a.

Ancaman Masuk/ Pendatang Baru


Pendatang baru membawa masuk kapasitas baru, keinginan untuk merebut
bagian pasar dan juga bagian sumber daya yang cukup besar. Besarnya
ancaman masuk tergantung dari hambatan masuk yang ada dan dari reaksi
peserta persaingan yang sudah ada menurut perkiraan calon pendatang baru.
Jika hambatan masuk tinggi, sementara calon pendatang baru sudah
memperkirakan sebelumnya, maka pendatang baru tersebut bukanlah
merupakan ancaman yang serius. Menurut Handoko (1994:63-64), pemahaman
akan lingkungan persaingan yang dihadapinya, organisasi mengetahui posisi
persaingannya sehingga lebih mampu mengoptimalkan operasi-operasinya.
Misal, untuk meningkatkan bagian pasarnya dimana produk dan harga sama
dengan para pesaing, perusahaan harus menciptakan perbedaan-perbedaan
dalam pembungkusan, pelayanan atau promosi. Meskipun pendatang baru untuk
hari ini belum merupakan ancaman, akan tetapi ke depan tidak menutup
kemungkinan akan menjadi ancaman yang besar, jika di dukung oleh kekuatan
modal yang kuat.
b. Daya tawar Pemasok
Menurut Handoko (1994:65), setiap perusahaan sangat tergantung pada sumbersumber dari sumber daya-sumber dayanya untuk memenuhi kebutuhan bahan
baku (mentah), bahan pembantu, pelayanan, energi dan peralatan yang
digunakan untuk memproduksi. Oleh karena itu setiap perusahaan tergantung
pada para penyedia bahan-bahan dan peralatan-peralatan. Pemasok dapat
menggunakan ancaman tawar menawarnya atas para anggota industri dengan
menaikan harga atau menurunkan kualitas barang dan jasa yang di jualnya.
Pemasok yang kuat dapat menekan kemampulabaan suatu industri yang tidak
dapat mengimbangi kenaikan biaya dengan menaikan harganya sendiri.
Perusahaan Keripik ubi barokah dalam memenuhi kebutuhan bahan bakunya
yang dalam hal ini adalah ubi tidak memiliki pemasok tetap. Biasanya pihak
perusahaan terjun sendiri ke pasar ataupun ke masyarakat langsung yang
memiliki tumbuhan ubi yang siap panen, meskipun kadang ada pemasok yang
datang menawarkan ubi.
c. Daya Tawar Pembeli

Perusahaan dalam memproduksi suatu barang tidak bisa terlepas dari konsumen
atau pelanggan sebagai sasaran produk mereka. Sementara itu pembeli mampu
mempengaruhi perusahaan dalam hal harga, terutama dalam hal menurunkan
harga produk. Sehingga perusahaan harus pandai mencari celah dalam
membidik pembeli potensial. Pembeli memiliki kemampuan untuk menekan
harga, menuntut kualitas lebih tinggi atau layanan lebih banyak, dan mengadu
domba sesama anggota industri. Pembeli cenderung lebih peka terhadap harga
jika mereka membeli produk yang tidak terdifferensiasi, relatif lebih mahal
terhadap penghasilan mereka, dan jika kualitas tidak terlalu penting bagi
merekaa. Usaha Kripik Ubi Barokah akan berusaha untuk meraup pembeli
potensial melalui sasaran pelemparan produknya, yang mana Usaha Kripik Ubi
Barokah tidak hanya memfokuskan produknya untuk kalangan menengah keatas
tetapi juga memberikan produk yang bisa merambah pada pembeli kelas
menengah kebawah. Sehingga wajar kalau Handoko (1994:64) mengatakan
bahwa manajer pemasaran harus menganalisa profil langganan sekarang dan
potensial serta kondisi pasar dan mengarahkan kegiatan-kegiatan pemasaran
perusahaan berdasarkan hasil analisa itu. Dalam situasi persaingan yang ketat,
melalui pemuasan kebutuhan dan keinginan langganan, perusahaan akan dapat
menjaga kelangsungan hidupnya, berkembang dan mendapatkan keuntungan.
d.
Persaingan Antar Anggota dalam Industri
Menurut Handoko (1994:63-64), pemahaman akan ingkungan persaingan yang
dihadapinya, organisasi mengetahui posisi persaingannya sehingga lebih mampu
mengoptimalkan operasi-operasinya. Misal, untuk meningkatkan bagian
pasarnya dimana produk dan harga sama dengan para pesaing, perusahaan
harus menciptakan perbedaan-perbedaan dalam pembungkusan, pelayanan atau
promosi. Perusahaan memiliki keleluasaan tertentu untuk memperbaiki keadaan
melalui perubahan strategik. Pemusatan usaha penjualan pada segmen industri
yang paling cepat tumbuh atau pada wilayah pasar yang biaya tetapnya paling
rendah dapat mengurangi dampak persaingan antar anggota industri. Untuk
masalah persaingan dalam industri, Perusahaan Keripik ubi Barokah perlu
melakukan identifikasi posisi pesaing yang ada. Meskipun untuk skala produksi
yang sejenis Perusahaan keripik ubi barokah tidak memiliki pesaing yang
tergolong besar khususnya di wilayah Desa Pesanggerahan. Dengan
memperhatikan berbagai peluang yang dapat mendukung perkembangan bisnis
sejenis tersebut dimungkinkan dapat menjadi pesaing yang potensial bagi
Perusahaan. Pesaing disini dapat masuk melalui kemampuan melakukan inovasi
produk maupun melalui perolehan pembeli potensial.
e.
Barang Subsitusi
Dalam industri pengolahan terutama bergerak di bidang makanan dan minuman
khususnya jajanan atau camilan, produk kripik ubi sangat mudah ditemukan
produk substitusinya di pasaran. Produk substitusi seringkali masuk dengan
cepat ke dalam industri yang dapat mengakibatkan turunnya harga atau
sebaliknya meningkatkan kinerja perusahaan. Produk tersebut misalnya berupa
kripik-kripik lain seperti kripik pisang, kripik apel, kripik singkong, dan kripik
lainnya. Bisa juga berbentuk jajanan lain selain jenis kripik. Penetapan batas
harga tertinggi akan membatasi potensi produk atau jasa substitusi suatu
industri. Jika industri tidak mampu meningkatkan kualitas produk atau
mendefinsikannya, laba dan pertumbuhan industri dapat terancam. Produk dan

jasa substitusi tidak hanya membatasi laba dalam masa-masa normal melainkan
juga mengurangi laba maksimal yang dapat diraih industri dalam masa
keemasan.
5.

Aspek Finansial
Salah satu komponen yang mendukung pembangunan nasional adalah
tersedianya lembaga intermediasi yang mempunyai fungsi menghimpun dana
dari masyarakat dan menyalurkan kembali ke masyarakat dalam bentuk kredit
dan atau bentuk-bentuk lainnya. Lembaga intermediasi yang ada dibedakan
dalam 3 kategori yakni :
a. Berbentuk Bank tunduk pada Undang-Undang Pokok Perbankan
b. Berbentuk Koperasi Simpan Pinjam tunduk pada Undang-Undang
Koperasi
c. Lembaga Keuangan Mikro lainnya yang belum diatur undang-undang
Lembaga keuangan mikro yang membantu mengembangkan iklim
wirausaha di Indonesia diatur dalam Surat Edaran Menteri Keuangan No. SE31/MK/2000 tanggal 5 Mei 2000 tentang Pelaksanaan Program PUKK. Dalam hal
ini Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi mengacu kepada Surat Keputusan
Menteri Keuangan No.316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni 1994 yang
menggantikan Surat Keputusan Menteri BUMN/Kepala Badan Pembina BUMN No.
Kep.216/M-PBUMN/1999 tanggal 28 September 1999. Sumber pendanaan dari
Program Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK) berasal dari penyisihan
laba BUMN termasuk saldo dana Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK)
tahun-tahun sebelumnya yang merupakan sumber pendanaan utama dalam
merealisir terwujudnya pemerataan kehidupan perekonomian masyarakat
melalui kemitraan dengan para pengusaha kecil dan koperasi serta lingkungan
masyarakat sekitarnya. Pelaksanaan Program Pembinaan Usaha Kecil, Koperasi
(PUKK) dan Bina Lingkungan dilaksanakan di dalam lingkup masyarakat yang
bertujuan untuk mendorong tercapainya pertumbuhan ekonomi rakyat, melalui
pemerataan di sektor ekonomi dimana anggota masyarakat golongan pengusaha
kecil dan koperasi di beri kesempatan untuk melakukan perluasan usahanya,
berdasarkan bantuan pinjaman untuk modal kerja / pinjaman lunak yang berasal
dari penyisihan laba BUMN.

6.

Aspek Hukum
Aspek Hukum meliputi perizinaan untuk melaksanakan kegiatan industri.
Usaha Kripik ubi barokah membutuhkan surat perizinaan berupa :

a. Pembuatan surat perijinan ke Bappeda


Pembuatan surat perijinan ke Bappeda bertujuan untuk mendapatkan perijinan
tentang usaha yang akan dikelola. Audiensnya yaitu kesekretariatan direktur
beserta jajarannya yang bertanggung jawab tentang perijinan.
b. Pembuatan surat standarisasi BPOM

Pembuatan surat standarisasi BPOM bertujuan untuk meminta standarisasi


produk/barang yang dihasilkan perusahaan. Audiensnya yaitu para manager
produksi, karena produksi harus sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh
pemerintah. Saluran komunikasinya yaitu formal dengan pembuatan surat ijin
rekomendasi untuk standarisasi yang produknya telah dilakukan pengujian
sebelumnya
c. Sertifikat halal dari MUI
7.

Aspek Ekonomi, Sosial dan Politik


Para manajer akan selalu terlibat dengan masalah-masalah biaya, sumber
daya-sumber daya yang dibutuhkan perusahaan. Biaya-biaya ini setiap waktu
selalu berubah-ubah karena factor-faktor ekonomi. Karena itu menurut Handoko
(1994:68), manajer senantiasa menganalisa dan mendiagnosa faktor-faktor
ekonomi seperti kecenderungan inflasi atau deflasi harga barang-barang dan
jasa, kebijaksanaan-kebijaksanaan moneter, devaluasi atau revaluasi dan yang
menyangkut tingkat bunga, kebijaksanaan-kebijaksanaan fiskal, keseimbangan
neraca pembayaran dan harga-harga yang ditetapkan oleh para pesaing dan
penyedia. Jadi, manajer-manajer perusahaan harus mencurahkan waktu dan
sumber daya-sumber daya untuk melakukan peramalan ekonomi dan antisipasi
perubahan-perubahan harga. Faktor ekonomi berkaitan dengan sifat dan arah
sistem perekonomian tempat suatu perusahaan beroperasi. Faktor ekonomi ini
merupakan faktor yang sangat rawan dan sering menjadi bahan pertimbangan
dalam upaya pengambilan keputusan oleh manajemen dalam perusahaan,
apalagi di tengah situasi yang tidak menentu seperti ini. Terdapat beberapa
indikator ekonomi yang perlu dianalisis untuk memberikan pertimbangan yang
akurat dalam menentukan strategi perusahaan seperti pertumbuhan ekonomi,
inflasi ataupun pendapatan nasional. Sisi pendapatan nasional perkapita
merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat
kesejahteraan penduduk. Pendapatan nasional perkapita dapat dilihat dari daya
beli masyarakat secara umum. Pada tahun-tahun terakhir ini, pendapatan
perkapita Indonesia mengalami kenaikan. Kenaikan pendapatan perkapita
tersebut mengindikasikan adanya daya beli potensi oleh masyarakat yang dapat
memberi peluang bagi kegiatan bisni ini. Aspek Ekonomi dan sosiaal usaha
Keripik Ubi Barokah adalah sebagai berikut :

a. Pembukaan Lapangan kerja dan Pemerataan kesempatan kerja


b.
Peningkatan penghasilan devisa negara/ pendapatan negara sebab
berkurangnya jumlah pengangguran dan bertambahnya pendapatan masyarakat
setempat
c. Penghematan devisa sebab usaha ini menggunakan bahan baku hasil negeri
sendiri, tidak mengimport.
d. Aspek sosial meliputi semakin ramainya daerah tempat usaaha tersebut, sebab
usaha ini akan dijadikan tempat berkunjung untuk dijadikan oleh-oleh dari
Pesanggerahan sehingga membuka kesempatan bagi industri pendukung untuk
beroperasi disekitar usaha ini.
C. Pemanfaatan Teknologi Informasi

Dalam persaingan bisnis yang semakin keras dan ketat saat ini, informasi
teknologi memegang peranan penting dalam pengembangan bisnis. Yang
menjadi titik point adalah bagaimana teknologi dapat digunakan dan apa yang
perlu diketahui bisnis mengenai teknologi sehingga memberi dampak terhadap
stategi bisnis dan selalu terlibat dalam berbagai perencanaan serta pengkajian
strategi bisnis. Pemanfaatan sistem teknologi informasi memberikan lima peran
utama di dalam organisasi :
a)

Meningkatkan efisiensi, yaitu menggantikan manusia dengan teknologi di


proses produksi.
b) Meningkatkan efektivitas, yaitu menyediakan informasi bagi para manajer di
organisasi untuk mendukung proses pengambilan keputusan dengan lebih efektif
yang didasarkan dengan informasi yang akurat, tepat waktu, dan relevan
sehingga mendapat hasil produksi yang akurat dan bebas dari cacat produksi
sesuai dengan sasaran produksi yang diinginkan.
c)
Meningkatkan komunikasi, yaitu mengintegrasikan penggunaan sistem
teknologi informasi dengan menggunakan email dan chat.
d) Meningkatkan kolaborasi.
e) Meningkatkan kompetitif, yaitu sistem teknologi informasi digunakan untuk
keunggulan kompetisi.

D. Analisis Resiko Usaha


Menggambarkan hal-hal yang mungkin mengganggu pelaksanaan investasi
dan pengembalian pinjaman.
a)
b)
c)
d)

Adanya perubahan selera pasar yang kemungkinan akan terjadi.


Kenaikan harga bahan baku diatas 25%
Kebijakan pemerintah yang sewaktu-waktu akan berubah.
Resiko yang dihadapi ketika perekonomian tidak stabil adalah akan
terganggunya produktivitas yang akan dihasilkan.
e)
Adanya persaingan dari pihak tertentu yang mengambil keuntungan dari usaha
ini.
f)
Kenaikan upah tenaga kerja sebesar 30%
g)
Penurunan Daya Beli Masyarakat
h)
Kerusakan mesin mesin peralatan
Antisipasi Resiko Usaha menggambarkan strategi/kegiatan yang dilakukan
dalam mengantisipasi dan meminimalkan resiko usaha.
a)
b)
c)
d)

Pembelian stock bahan baku dan bahan penolong.


Membuat kontrak kerja dengan tenaga kerja.
Menyediakan fasilitas pendukung untuk pekerja agar tetap loyal.
Memperluas saluran distribusi pemasaran.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Selain sebagai sumber karbohidrat, ubi jalar (Ipomoea batatas Poir.) juga
mengandung vitamin A, C, dan mineral. Ubi jalar yang daging umbinya berwarna
ungu, banyak mengandung anthocyanin yang sangat bermanfaat bagi
kesehatan, karena berfungsi mencegah penyakit kanker.
Dalam melakukan studi kelayakan suatu usaha, analisis bisnis yang perlu
dilakukan adalah menilai aspek-aspek seperti aspek pasar dan pemasaran, aspek
operasi, aspek SDM, aspek lingkungan bisnis, aspek finansial, aspek hukum,
aspek ekonomi sosial dan politik. Selain itu, dengan keras dan ketatnya
persaingan usaha pada era modern ini, pemanfaatan teknologi informasi juga
tidak boleh diabaikan. Tanpa melupakan resiko usaha yang mungkin datang
setiap saat, setiap pengusaha harus siap dan tanggap dengan perubahan
lingkungan yang terjadi agar usahanya tetap lancar, maju berkembang dan
mendapatkan untung yang banyak.
B.

Saran

Studi kelayakan usaha ini dilakukan dengan waktu yang cukup banyak,
namun penulis agak lalai dalam menenyelesaikannya, untuk para pembaca yang
budiman jangan lupa mengerjakan tugas tepat pada waktunya agar semua
terselesaikan tanpa-tanpa tergesa-gesa dan hasilnya memuaskan.

DAFTAR PUSTAKA

Desmintha, Teh. 2012. Studi Kelayakan Bisnis Keripik Nangka. http://abuamahteh.


blogspot.com/2012/10/studi-kelayakan-bisnis-keripik-nangka.html. Diakses pada
hari Senin 4 Nopember 2013.

Julita, Sarmi. 2011. Tanaman Ubi Jalar. http://julitasweet.blogspot.com/2011/09/


tanamanubijalar.html. diakses pada hari Senin 4 Nopember 2013.