Anda di halaman 1dari 30

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 saat ini,
Indonesia tentu harus mengikuti standar internasional supaya dapat tetap
survive di era global ini. Demikian halnya dunia pendidikan, termasuk
pendidikan matematika, harus mampu berprestasi di dunia internasional.
Tetapi sayangnya dari waktu ke waktu kemampuan matematika di forum
internasional tidak segera beranjak baik. Hal ini terlihat dari beberapa hasil
survei yang dilakukan oleh lembaga-lembaga internasional seperti Trend in
International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Program for
International Student Assessment (PISA) yang menempatkan Indonesia pada
posisi yang belum menggembirakan di antara negara-negara yang di survei.
Survei TIMSS, yang dilakukan oleh The International Association for
the Evaluation and Educational Achievement (IAE) berkedudukan di
Amsterdam, mengambil fokus pada domain isi matematika dan kognitif
siswa. Domain isi meliputi Bilangan, Aljabar, Geometri, Data dan Peluang,
sedangkan domain kognitif meliputi pengetahuan, penerapan, dan penalaran.
Survei terakhir yang dilakukan yaitu tahun 2011 menempatkan Indonesia
pada posisi 36 dari 40 negara.
Sementara itu studi tiga (3) tahunan PISA, yang diselenggarakan oleh
Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) yang
berfokus pada bagaimana kemampuan siswa dalam mengidentifikasi dan
memahami serta menggunakan dasar-dasar matematika yang diperlukan
dalam kehidupan sehari-hari. Menempatkan Indonesia pada posisi 64 dari 65
negara pada tahun 2012 kemarin.
Studi TIMSS dan PISA tersebut intinya terletak pada kekuatan penalaran
matematis siswa serta kemampuan menerapkannya dalam kehidupan seharihari. Hal ini menunjukkan kelemahan siswa dalam menghubungkan konsepkonsep matematika yang bersifat formal dengan permasalahan dalam dunia
nyata.

Perlu diakui memang matematika mempunyai objek kajian yang bersifat


abstrak. Salah satu objek kajian matematika yang abstrak adalah materi
geometri. Beberapa penemuan mengindikasikan bahwa geometri merupakan
cabang matematika yang paling sulit tidak hanya bagi peserta didik tetapi
juga guru. Menurut Soedjadi (1991), sebagaimana dikutip oleh Fauzan (2002:
30), geometri tampak menjadi salah satu bagian tersulit dalam matematika
untuk dipelajari. Beliau menjumpai banyak peserta didik yang menghadapi
beberapa kesulitan dalam mengenali dan memahami objek geometri, terutama
objek geometri dimensi tiga dan sifat -sifatnya. Kondisi ini dijumpai baik
pada tingkat dasar maupun menengah.
Perkembangan pendidikan matematika khususnya kurikulum geometri
yang diterapkan di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir kurang
mengembangkan kemampuan penalaran dan komunikasi matematika peserta
didik. Materi yang diajarkan lebih banyak ditekankan kepada fakta -fakta dan
perhitungan rumus semata.
Oleh karena itu, menurut Callison (2013) menyebutkan bahwa para siswa
membutuhkan pengembangan kemampuan praktis matematika seperti
pemecahan masalah, membuat hubungan, memahami berbagai representasi
dari ide-ide matematika, mengkomunikasikan proses pemikiran mereka, dan
menjelaskan penalaran-penalaran yang mereka lakukan.
Guru perlu mengusahakan agar pembelajaran matematika khususnya
geometri turut memberikan kontribusi dalam mengembangkan kemampuan
penalaran dan komunikasi peserta didik. Karena pendekatan pembelajaran
matematika yang tepat dapat mendorong para siswa mendapatkan
pemahaman yang lebih baik tentang matematika sehingga dapat sukses dalam
belajar matematika. Pendekatan pembelajaran yang disarankan dalam
pembelajaran matematika yaitu pendekatan saintifik yang sesuai kurikulum
2013 yang sebenarnya merupakan implementasi model pembelajaran
Contextual Teaching Learning (CTL).
Prinsip pembelajaran CTL yaitu proses keterlibatan siswa secara penuh
untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan
situasi kehidupan nyata sehingga mendorong untuk dapat menerapkannya
dalam kehidupan mereka. Sedangkan pendekatan saintifik merupakan
kerangka berfikir yang sistematis dimana mengorganisasikan pengalaman

belajar dengan urutan logis meliputi: mengamati, menanya, mengumpulkan


informasi/mencoba, menalar/mengasosiasi dan mengkomunikasikan.
Dengan diimplementasikan model pembelajaran CTL maka diharapkan
dapat membentuk konsep berfikir dari siswa itu sendiri serta mereka dapat
mengkomunikasikan terhadap apa yang sudah mereka nalarkan. Lalu dengan
menggunakan pendekatan saintifik juga, maka secara tidak langsung terjadi
urutan logis dengan proses pembelajaran yang ada sehingga kemampuan
bernalar dapat dikonstruk dari proses mengamati, menanya, mengumpulkan
informasi dan mengasosiasi. Setelah kemampuan bernalar terbentuk maka
siswa dapat mengkomunikasikan bagaimana konsep Geometri itu sendiri
secara nyata.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul Efektifitas Pembelajaran Contextual Teaching and Learning
(CTL) Menggunakan Pendekatan Saintifik untuk Meningkatkan Kemampuan
Penalaran dan Komunikasi Siswa pada Materi Geometri.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut.
1. Apakah penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and
Learning (CTL) dengan pendekatan saintifik efektif untuk meningkatkan
kemampuan penalaran siswa pada materi geometri ?
2. Apakah penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and
Learning (CTL) dengan pendekatan saintifik efektif untuk meningkatkan
kemampuan komunikasi siswa pada materi geometri ?
1.3. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang diuraikan diatas, maka tujuan
penelitian ini secara umum yaitu untuk mengetahui keefektifan pembelajaran
matematika materi geometri dengan model Contextual Teaching and
Learning (CTL) menggunakan pendekatan saintifik untuk meningkatkan
kemampuan penalaran dan komunikasi siswa.
Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :
1. Apakah penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and
Learning (CTL) dengan pendekatan saintifik efektif untuk meningkatkan
kemampuan penalaran siswa pada materi geometri.

2. Apakah penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and


Learning (CTL) dengan pendekatan saintifik efektif untuk meningkatkan
kemampuan komunikasi siswa pada materi geometri.
1.4. Pembatasan Masalah
Agar penelitian dapat terarah, maka permasalahan dibatasi pada
eksperimental model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
pada materi geometri. Dalam hal ini peneliti ingin mengetahui apakah model
pembelajaran

Contextual

Teaching

and

Learning

(CTL)

dengan

menggunakan pendekatan saintifik lebih efektif untuk meningkatkan


kemampuan penalaran siswa pada materi geometri dibandingkan dengan
pembelajaran

langsung,

dengan

demikian

model

pembelajaran

dan

pendekatan yang digunakan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi


kemampuan penalaran siswa.
Selain itu, peneliti ingin mengetahui apakah model pembelajaran
Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan menggunakan pendekatan
saintifik lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa
pada materi geometri dibandingkan dengan pembelajaran langsung, dengan
demikian model pembelajaran dan pendekatan yang digunakan merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan komunikasi siswa.
Dan yang terakhir peneliti ingin mengetahui bagaimana penerapan model
pembelajaran

Contextual

Teaching

and

menggunakan

pendekatan

saintifik

untuk

Learning

(CTL)

meningkatkan

dengan

kemampuan

penalaran dan komunikasi siswa pada materi geometri.


1.5. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai
berikut :
1. Dilihat dari segi teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan
khususnya pembelajaran matematika pada materi geometri. Adapun
kegunaannya yaitu :
a. Memberikan masukan kepada guru di sekolah tempat penelitian ini
yang dapat digunakan sebagai upaya peningkatan proses pembelajaran.
b. Memberikan sumbangan penelitian dalam bidang pendidikan yang ada
kaitannya dengan masalah upaya peningkatan proses pembelajaran.

2. Dilihat dari segi praktis


Hasil penelitian ini juga bermanfaat dari segi praktis, yaitu :
a. Memberikan informasi atau gambaran bagi calon guru dan guru
matematika

dalam

menentukan

alternatif

model

pembelajaran

matematika khususnya materi geometri.


b. Memberikan masukan kepada guru matematika tentang berbagai
kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran menggunakan model
Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan pendekatan saintifik.
c. Memberikan motivasi belajar bagi peserta didik dalam kaitannya
mengembangkan kemampuan penalaran dan komunikasi.

BAB 2
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Kajian Teori


2.1.1. Pembelajaran Matematika
Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta
didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang
lebih baik. Tugas guru yang paling utama dalam pembelajaran adalah
mengondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan tingkah
laku.
Sesuai pendapat Briggs (1992), sebagaimana dikutip oleh Sugandi (2007:
10), pembelajaran adalah seperangkat peristiwa yang memengaruhi si belajar
sedemikian rupa sehingga si belajar itu memperoleh kemudahan dalam
berinteraksi berikutnya dengan lingkungan. Selain itu, menurut Suherman
(1993:25), proses pembelajaran pada dasarnya merupakan proses komunikasi
antara pembelajaran dan pembelajar, antar pembelajar, dan antara pembelajar
dengan sumber belajar yang lain.
Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang mendasari
perkembangan teknologi modern, karena matematika mempunyai peranan
penting dalam berbagai disiplin ilmu lain dan mempunyai pengaruh besar
dalam memajukan daya pikir manusia

(Depdiknas, 2006). Sedangkan

menurut

merupakan

Hudojo (2003),

matematika

suatu

ilmu

yang

berhubungan atau menelaah bentuk-bentuk atau struktur-struktur serta


hubungan-hubungan di antara hal-hal itu. Untuk dapat memahami strukturstruktur serta hubungan-hubungan, tentu saja diperlukan pemahaman tentang
konsep-konsep yang terdapat di dalam matematika itu.
Dengan demikian, belajar matematika berarti belajar tentang konsepkonsep dan struktur-struktur yang terdapat dalam bahasan yang dipelajari
serta mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur
tersebut. Selanjutnya menurut beliau, hakikat matematika berkenaan dengan
ide-ide, struktur -struktur, dan hubungan-hubungan yang diatur menurut

ketentuan yang logis. Jadi, pembelajaran matematika berkenaan dengan


konsep-konsep yang abstrak.
Berdasarkan pengertian pembelajaran dan matematika tersebut di atas
dapat dirumuskan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu kegiatan
belajar mengajar yang sengaja dilakukan dalam rangka memperoleh
perubahan tingkah laku baik berupa pengetahuan, keterampilan, dan
pemahaman tentang struktur -struktur dan hubungan-hubungan yang ada
dalam matematika.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 (Depdiknas,
2006) menyebutkan bahwa mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta
didik memiliki kemampuan (1) memahami konsep matematika, menjelaskan
keterkaitan (koneksi) antar konsep matematika dan mengaplikasikan konsep
secara luwes, akurat, efisien dan tepat dalam memecahkan masalah, (2)
menggunakan penalaran

pada pola dan sifat, melakukan manipulasi

matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan


gagasan dan pernyataan matematika, (3) komunikasi, memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi,
(4) komunikasi dan representasi gagasan untuk memperjelas keadaan dan
masalah, dan (5) memiliki sikap saling menghargai kegunaan matematika
dalam kehidupan, sikap rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam
mempelajari matematika serta sikap ulet dan percaya diri dalam komunikasi.
Hal ini sesuai dengan tujuan umum pembelajaran matematika yang
dirumuskan National Council of Teacher of Mathematics (2000) yaitu: (1)
belajar untuk berkomunikasi (mathematical communication); (2) belajar
untuk bernalar (mathematical reasoning); (3) belajar untuk memecahkan
masalah (mathematical problem solving); (4) belajar untuk mengaitkan ide
(mathematical connections); (5) pembentukan sikap positif terhadap
matematika (positive attitudes toward mathematics).
Matematika diajarkan karena dapat menumbuhkembangkan kemampuan
bernalar yaitu berpikir sistematis, logis dan kritis, mengkomunikasikan
gagasan atau ide dalam memecahkan masalah. Proses penalaran, pengambilan
keputusan, dan pemecahan masalah merupakan aktivitas mental yang

membentuk inti berpikir. Ketiga proses tersebut saling berhubungan satu


dengan yang lainnya (Priyatna, 2003:1).
2.1.2. Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
a. Pengertian Contextual Teaching and Learning (CTL)
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL)
merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi
yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat

hubungan

antara

pengetahuan

yang

dimilikinya

dengan

penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan


masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih
bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam
bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer
pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan
daripada hasil.
Dalam pendekatan kontektual, tugas guru adalah membantu siswa
mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan
strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai
sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi
anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri
bukan dari kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan
pendekatan kontekstual.
Pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang
holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi
pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan
konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural)
sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel
dapat

diterapkan

(ditransfer)

dari

satu

permasalahan

/konteks

ke

permasalahan/ konteks lainnya.


Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu
guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata
dan

mendorong

pebelajar membuat

hubungan

antara

materi

yang

diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota


keluarga dan masyarakat.
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah
konsep belajar di mana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa
memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas sedikit
demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk
memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat
(Nurhadi, 2003:13).
Pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan
pembelajaran yang menunjukkan kondisi alamiah dari pengetahuan. Melalui
hubungan di dalam dan di luar ruang kelas, suatu pendekatan pembelajaran
kontekstual menjadikan pengalaman lebih relevan dan berarti bagi siswa
dalam membangun pengetahuan yang akan mereka terapkan dalam
pembelajaran seumur hidup.
b. Komponen Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
Pembelajarn kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah
konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat

hubungan

antara

pengetahuan

yang

dimilikinya

dengan

penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh


komponen utama yaitu :
a) kontruktivisme (contructivism), merupakan landasan berpikir (filosofi)
pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia
sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas
(sempit). Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau
kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Siswa perlu dibiasakan untuk
memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan
bergelut dengan ide-ide. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan
dibenak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivisme adalah ide bahwa

siswa harus menemukan dan mentransformasikan satu informasi komplek


ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik sendiri.
b) bertanya (questioning), suatu strategi yang digunakan secara aktif oleh
siswa untuk menganalisis dan mengeksplorasi gagasan-gagasan. Bertanya
merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis kontekstual. Bertanya
dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong,
membimbing dan menilai keterampilan berpikir siswa. Hal ini merupakan
bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri,
yaitu menggali informasi, menginformasikan apa yang sudah diketahui, dan
mengarahkan pada aspek yang belum diketahuinya.
c) menemukan (inquiry), merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran
berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa
diharapkan bukan hasil mengikat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari
menemukan sendiri. Dalam inkuiri terdiri atas siklus yang mempunyai
langkah-langkah antara lain (1) merumuskan masalah, (2) mengumpulkan
data melalui observasi, (3) menganalisi dan menyajikan hasil tulisan,
gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya, (4) mengkomunikasikan
atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, atau audiens
yang lain.
d) masyarakat belajar (learning community), hasil pembelajaran diperoleh
dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing
antarteman, antarkelompok, dan antarmereka yang tahu ke mereka yang
sebelum tahu. Dalam masyarakat belajar, anggota kelompok yang terlibat
dalam kegiatan masyarakat memberi informasi yang diperlukan oleh teman
bicaranya dan juga meminta informasi yang diperlukan dari teman
bicaranya.
e) pemodelan (modeling), Pemodelan (modeling) yaitu dalam sebuah
pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa
ditiru. Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan,
mendemonstrasikan bagaiman guru menginginkan para siswanya untuk
belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswa-siswanya
melakukan. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh
tentang konsep atau aktivitas belajar.

10

f) refleksi (reflection), cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau
berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang
lalu. Refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan
yang baru saja diterima. Kunci dari itu semua adalah, bagaimana
pengetahuan mengendap dibenak siswa. Siswa mencatat apa yang sudah
dipelajari dan bagaimana merasakan ide-ide baru.
g) penilaian sebenarnya (authentic assessement), merupakan prosedur
penilaian pada pembelajaran konekstual yang memberikan gambaran
perkembangan belajar siswanya. Assessement adalah proses pengumpulan
berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa.
Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa
memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar.
c. Karakteristik dan Kriteria Pembelajaran Contextual Teaching and
Learning (CTL)
Setidaknya pembelajaran kontekstual ini memiliki 11 karakteristik, yakni
sebagai berikut:
a) Kerjasama
b) Saling menunjang
c) Menyenangkan, tidak membosankan
d) Belajar dengan bergairah
e) Pembelajaran terintegrasi
f) Menggunakan berbagai sumber
g) Siswa aktif
h) Sharing dengan teman
i) Siswa kritis guru kreatif
j) Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta,
gambar, artikel, humor dll.
k) Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa,
laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain
Kemudian dalam proses pembelajaannya juga memiliki karakteristik, sebagai
berikut:
a) Dalam Pembelajaran Kontekstual pembelajaran merupa kan proses
pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activing knowledge). Artinya, apa
yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari.
Dengan demikian, pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah
pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
b) Pembelajaran yang kontekstual adalah pembelajaran dalam rangka
memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge).

11

Pengetahuan baru itu dapat diperoleh dengan cara deduktif. Artinya,


pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan kemudian
memperhatikan detailnya.
c) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) berarti pengetahuan
yang diperoleh bukan untuk dihafal, melainkan untuk dipahami dan
diyakini.
d) Mempraktikkan

pengetahuan

dan

pengalaman

tersebut

(applying

knowledge). Artinya, pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus


dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.
e) Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan
pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan
dan penyempurnaan strategi.
Sedangkan Kriteria Pembelajaran Metode Kontekstual/CTL, sebagai berikut:
a) Siswa sebagai subjek belajar.
b) Siswa belajar melalui kegiatan kelompok.
c) Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata.
d) Kemampuan didasarkan atas pengalaman.
e) Tujuan akhir kepuasan diri.
f) Prilaku dibangun atas kesadaran.
g) Pengetahuan yang dimiliki individu berkembang sesuai dengan pengalaman
yang dialaminya.
h) Siswa bertanggungjawab

dalam

memonitor

dan

mengembangkan

pembelajaran.
i) Pembelajaran bisa terjadi dimana saja.
j) Keberhasilan pembelajaran dapat diukur dengan berbagai cara.
d. Penerapan Contextual Teaching and Learning (CTL)
Dalam menerapkan pendekatan kontekstual di kelas ataupun di luar kelas
ini pada umumnya disenangi oleh siswa. Hal ini disebabkan siswa diharapkan
pada dunia nyata, yang mungkin merupakan suatu yang baru bagi dirinya,
disamping itu siswa terlibat langsung dalam pelaksanaanya. Dengan siswa
mereka senang dihadapkan strategi pembelajaran tersebut akan membantu
proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan lancar, baik dan tercapai
tujuanya.
Dalam pembelajaran menggunakan pendekatan Contextual Teaching and
Learning (CTL) untuk proses belajar mengajar perlu disesuaikan dengan
materi pengajaran. Menurut (Nur, 2003;13) penerapan pendekatan ini akan
lebih efektif bila sesuai dengan faktor kebutuhan individual siswa ataupun
dari faktor peran guru baik dari segi proses atau tujuan yang akan dicapai.

12

Berdasarkan pernyataan di atas tentang siswa maka untuk dapat


menggunakan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) yang
harus dilakukan guru adalah sebagai berikut:
a) Merencanakan pembelajaran sesuai dengan perkembangan mental
(development approprite) siswa.
b) Membentuk independent learning groups.
c) Menyediakan self-regulated learning dengan
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)

karakterisktik

(kesadaran berpikir, penggunaan strategi dan motivasi berkelanjutan).


Memperhatikan multiple intelligences.
Menggunakan teknik questioning.
Mengembangkan pikiran dengan keterampilan baru contructivisme.
Memfasilitasi kegiatan inquiry bukan hasil mengingat sejumlah fakta.
Mengembangkan sifat ingin tahu.
Menciptakan masyarakat belajar melalui leaning community.
Mengarahkan siswa untuk merefleksikan tentang apa yang sudah

diketahui.
k) Menerapkan penilaian autentik (Authentic assessment)
Secara garis besar langkah-langkah penerapan CTL (Depdiknas, 2002:5)
dalam kelas sebagai berikut: (1) kembangkan pemikiran bahwa anak-anak
akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri,
dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya, (2)
laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik

(3)

kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya, (4) ciptakan masyarakat
belajar (belajar dalam kelompok-kelompok), (5) hadirkan model sebagai
contoh pembelajaran, (6) lakukan refleksi di akhir pertemuan, (7) lakukan
penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
2.1.3. Pendekatan Saintifik
Pendekatan saintifik merupakan suatu cara atau mekanisme pembelajaran
untuk memfasilitasi siswa agar mendapatkan pengetahuan atau keterampilan
dengan prosedur yang didasarkan pada suatu metode ilmiah. Pendekatan
saintifik atau pendekatan ilmiah ini memerlukan langkah-langkah pokok
sebagai berikut (Kemdikbud, 2013).
a. Mengamati
Objek matematika yang dipelajari dalam matematika adalah buah
pikiran manusia, sehingga bersifat abstrak. Mengamati objek matematika
dapat dikelompokkan dalam dua macam kegiatan yang masing-masing
mempunyai ciri berbeda, yaitu: (a) Mengamati fenomena dalam

13

lingkungan

kehidupan

sehari-hari

yang

berkaitan

dengan

objek

matematika tertentu, (b) Mengamati objek matematika yang abstrak.


a) Mengamati fenomena lingkungan kehidupan sehari-hari yang
berkaitan dengan topik matematika tertentu
Fenomena adalah hal-hal yang dapat

disaksikan

dengan

pancaindera dan dapat dijelaskan serta dinilai secara ilmiah. Melakukan


pengamatan terhadap fenomena dalam lingkungan kehidupan seharihari tepat dilakukan ketika siswa belajar hal-hal yang terkait dengan
topik-topik matematika yang pembahasannya dapat dikaitkan dengan
kehidupan sehari-hari secara langsung.
Fenomena yang diamati akan menghasilkan pernyataan yang
berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Selanjutnya pernyataan
tersebut dituangkan dalam bahasa matematika atau menjadi pembuka
dari pembahasan objek matematika yang abstrak.
b) Mengamati objek matematika yang abstrak
Kegiatan mengamati objek matematika yang abstrak sangat cocok
untuk siswa yang mulai menerima kebenaran logis. Siswa tidak
mempermasalahkan kebenaran pengetahuan yang diperoleh, walaupun
tidak diawali dengan pengamatan terhadap fenomena. Kegiatan
mengamati seperti ini lebih tepat dikatakan sebagai kegiatan
mengumpulkan dan memahami kebenaran objek matematika yang
abstrak. Hasil pengamatan dapat berupa definisi, aksioma, postulat,
teorema, sifat, grafik dan lain sebagainya.
b. Menanya
Menurut Bell (1978), objek kajian matematika yang dipelajari siswa
selama belajar di SMP/MTs dapat berupa fakta (matematika), konsep
(pengertian pangkal, definisi), prinsip (teorema, rumus, sifat), dan skill
(algoritma/prosedur). Fakta, konsep, prinsip, skill tersebut adalah buah
pikiran manusia, sehingga bersifat abstrak. Dalam mempelajari konsep
atau prinsip matematika yang tergolong sebagai pengetahuan, sebagaimana
disampaikan oleh Piaget (Wadsworth, 1984) sangat perlu dipertimbangkan
bahwa tingkat berpikir siswa. usia Proses pembelajaran untuk memahami
konsep dan prinsip matematika perlu dikelola dengan langkah-langkah
pedagogis yang tepat dan difasilitasi media tertentu agar buah pikiran yang
abstrak tersebut dapat dengan mudah dipahami siswa. Langkah pedagogis

14

dan penggunaan media tersebut menuntut siswa dan guru terlibat dalam
pertanyaan-pertanyaan yang menggiring pemikiran siswa secara bertahap,
dari yang mudah (konkret) menuju ke yang lebih kompleks (abstrak)
sehingga akhirnya pengetahuan diperoleh oleh siswa sendiri dengan
bimbingan guru.
Dalam hal mempelajari

keterampilan

berprosedur

matematika,

kecenderungan yang ada sekarang adalah siswa gagal menyelesaikan suatu


masalah matematika jika konteksnya berbeda, walupun hanya sedikit
perbedaannya. Ini terjadi karena siswa cenderung menghafal algoritma
atau prosedur tertentu. Pada diri siswa tidak terbangun kreativitas dalam
berprosedur. Kreativitas berprosedur dapat dibangkitkan dari pemberian
pertanyaan yang tepat. Pertanyaan-pertanyaan didesain agar siswa dapat
berpikir tentang alternatif-alternatif jawaban atau alternatif-alternatif cara
berprosedur. Dalam hal ini guru diharapkan agar menahan diri untuk tidak
memberi tahu jawaban pertanyaan. Apabila terjadi kendala dalam proses
menjawab pertanyaan, atau diprediksi terjadi kendala dalam menjawab
pertanyaan, guru dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan secara
bertahap yang mengarah pada diperolehnya jawaban pertanyaan oleh siswa
sendiri. Di sinilah peran guru dalam memberikan scaffolding atau
pengungkit untuk memaksimalkan ZPD (Zone Proximal Development)
yang ada pada siswa (Chambers, 2007).
c. Mengumpulkan informasi/mencoba
Berdasarkan hasil penalaran yang diperoleh pada tahap sebelumnya
yakni berupa konjektur atau dugaan sementara sampai diperoleh
kesimpulan, maka selanjutnya perlu dilakukan kegiatan mencoba.
Kegiatan mencoba dalam proses pembelajaran matematika di SMP/MTs
ini dimaknai sebagai menerapkan pengetahuan atau keterampilan hasil
penalaran ke dalam suatu situasi atau bahasan yang masih satu lingkup,
kemudian diperluas ke dalam situasi atau bahasan yang berbeda lingkup.
Tahap mencoba ini menjadi wahana bagi siswa untuk membiasakan diri
berkreasi dan berinovasi menerapkan dan memperdalam pengetahuan atau
keterampilan yang telah dipelajari bersama guru. Dengan memfasilitasi
kegiatan mencoba ini siswa diharapkan tidak terkendala dalam
memecahkan permasalahan matematika yang merupakan salah satu tujuan

15

penting dan mendasar dalam belajar matematika. Pengalaman mencoba


akan melatih siswa yang memuat latihan mengasah pola pikir, sikap dan
kebiasaan memecahkan masalah itulah yang akan banyak memberi
sumbangan bagi siswa dalam menuju kesuksesan mengarungi kehidupan
sehari-harinya. Kurikulum 2013 secara eksplisit menyiapkan siswa agar
terampil memecahkan masalah melalui penataan kompetensi kompetensi
dasar matematika yang dipelajari siswa.
d. Menalar/Mengasosiasi
Secara umum dapat dikatakan bahwa penalaran adalah proses berfikir
yang logis dan sistematis atas fakta-fakta yang dapat diobservasi untuk
memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Dalam proses pembelajaran
matematika, pada umumnya proses menalar terjadi secara simultan dengan
proses mengolah atau menganalisis kemudian diikuti dengan proses
menyajikan atau mengkomunikasikan hasil penalaran sampai diperoleh
suatu simpulan. Bentuk penyajian pengetahuan atau ketrampilan
matematika sebagai hasil penalaran dapat berupa konjektur atau dugaan
sementara atau hipotesis.
Ada dua cara menalar, yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif.
Penalaran induktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari
fenomena khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. Kegiatan menalar
secara induktif lebih banyak berpijak pada hasil pengamatan inderawi atau
pengalaman empirik. Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan
menarik simpulan dari pernyataan-pernyataan atau fenomena yang bersifat
umum menuju pada hal yang bersifat khusus. Cara kerja menalar secara
deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk
kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus
(Sudarwan, 2013). Penalaran yang paling dikenal dalam matematika
terkait penarikan kesimpulan adalah modus ponen, modus tolen dan
silogisme.
Sesuai dengan tingkat berpikirnya, siswa SD/MI dan SMP/MTs yang
umumnya dalam tingkat berpikir operasional konkret dan peralihan ke
tingkat operasional formal, sehingga cara memperoleh pengetahuan
matematika pada diri siswa SD/MI dan SMP/MTs banyak dilakukan

16

dengan penalaran induktif, sedangkan untuk siswa SMA/MA sudah mulai


banyak dilakukan dengan penalaran deduktif.
e. Mengomunikasikan
Kegiatan belajar mengkomunikasikan adalah menyampaikan hasil
pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis,
atau media lainnya.
2.1.4. Sintak Saintifik dan Contextual Teaching and Learning (CTL)
1) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa sesuai dengan KD
yang akan dicapai (modelling)
2) Guru mengeksplorasi, membimbing, mengarahkan kemampuan siswa
dengan mengajukan pertanyaan tetntang materi yang akan dibahas
(questioning) lalu siswa mengamati berbagai objek sekitar yang
berhubungan dengan materi yang akan dibahas (mengamati)
3) Seluruh siswa berpartisipasi dalam belajar kelompok dan individual,
mengerjakan berbagai pekerjaan (learning community : mengumpulkan
informasi/mencoba, menalar)
4) Siswa mencoba mengidentifikasi, menemukan berbagai cara untuk
menyelesaikan permasalahan (inquiri)
5) Siswa membangun pemahaman sendiri, mengkontruksi konsep-konsep
(contructivism)
6) Siswa mengkomunikasikan

tentang

permasalahan

yang

diberikan

(mengkomunikasikan)
7) Guru memfasilitasi siswa dengan merangkum, mereview, dan memberikan
penegasan pada akhir pembelajaran (reflection)
8) Guru melakukan penilaian selama proses dan setelah pembelajaran harus
dilakukan secara objektif dan dilakukan dengan berbagai cara untuk
mendapatkan hasil yang benar-benar melalui kompetensi siswa (authentic
assessment)
2.1.5. Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Siswa
Permendiknas No. 22 (Depdiknas 2006) tentang Standar Isi Mata
Pelajaran Matematika menyatakan bahwa pelajaran matematika SMA
bertujuan agar para peserta didik SMA (1) memiliki pengetahuan matematika
(konsep, keterkaitan antarkonsep, dan algoritma); (2) menggunakan
penalaran; (3) memecahkan masalah; (4) mengomunikasikan gagasan dengan

17

simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau
masalah; dan (5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika.
Demikian pula berdasarkan dokumen Peraturan Dirjen Dikdasmen No.
506/C/PP/2004 Depdiknas tahun 2004, sebagaimana dikutip oleh Shadiq
(2009: 14), penalaran dan komunikasi merupakan kompetensi yang
ditunjukkan

peserta

didik

dalam

melakukan

penalaran

dan

mengomunikasikan gagasan matematika.


Beberapa indikator yang menunjukkan kompetensi penalaran dan
komunikasi antara lain sebagai berikut.
a) Menyajikan pernyataan matematika secara lisan, tertulis, gambar, dan
diagram,
b) Mengajukan dugaan (conjectures),
c) Melakukan manipulasi matematika,
d) Menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan atau bukti
terhadap beberapa solusi,
e) Menarik kesimpulan dari pernyataan,
f) Memeriksa kesahihan suatu argument, dan
g) Menemukan pola atau sifat dari gejala matematis untuk membuat
generalisasi.
2.2. Hasil Penelitian yang Relevan
Beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah :
1) Hasil penelitian Gede Atit Narohita (2010) mengungkapkan bahwa
pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL)
berpengaruh

positif

terhadap

Kemampuan

pemecahan

kemampuan

masalah

pada

pemecahan

siswa

yang

masalah.
mengikuti

pembelajaran dengan pendekatan kontekstual lebih tinggi dibandingkan


dengan kemampuan pemecahan masalah pada siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan pendekatan konvensional.
2) Hasil penelitian Nuridawani, dkk (2015) mengungkapkan bahwa
kemampuan penalaran matematis siswa yang memperoleh pembelajaran
dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih baik
dibandingkan dengan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan
pendekatan konvensional. Siswa yang belajar dengan pendekatan
Contextual Teaching and Learning (CTL) mempunyai aktifitas dan
kreativitas yang lebih dibandingkan dengan siswa yang belajar dengan

18

pembelajaran konvensional sehingga kemampuan penalaran matematis


mereka juga lebihdibandingkan dengan siswa di kelas konvensional.
Persamaan penelitian ini dengan kedua penelitian diatas, yaitu dalam
proses pembelajaran di kelas model yang digunakan yaitu model
pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Sedangkan
perbedaan dengan penelitian Gede Atit Nurohita (2010), yaitu variabel bebas
yang lain yang berpengaruh yaitu kemampuan pemecahan masalah sedangkan
dalam penelitian ini yaitu kemampuan penalaran dan komunikasi siswa.
Dalam penelitian Nuridawani, dkk (2015) yakni variabel terikatnya yaitu
pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dan variabel bebasnya
kemampuan penalaran. Sedangkan dalam penelitian ini yaitu variabel
terikatnya model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan
pendekatan saintifik serta variabel bebasnya yaitu adanya kemampuan
penalaran dan komunikasi siswa.
2.3. Kerangka Konseptual
Ilmu geometri merupakan salah satu cabang dari matematika. Seperti kita
ketahui bahwa materi dalam geometri merupakan materi yang abstrak.
Perkembangan pendidikan matematika khususnya kurikulum geometri yang
diterapkan

di

Indonesia

dalam

beberapa

waktu

terakhir

kurang

mengembangkan kemampuan penalaran dan komunikasi matematika peserta


didik. Materi yang diajarkan lebih banyak ditekankan kepada fakta -fakta dan
perhitungan rumus semata.
Guru perlu mengusahakan agar pembelajaran matematika khususnya
geometri turut memberikan kontribusi dalam mengembangkan kemampuan
penalaran dan komunikasi peserta didik. Karena pendekatan pembelajaran
matematika yang tepat dapat mendorong para siswa mendapatkan
pemahaman yang lebih baik tentang matematika sehingga dapat sukses dalam
belajar matematika. Pendekatan pembelajaran yang disarankan dalam
pembelajaran matematika yaitu pendekatan saintifik yang sesuai kurikulum
2013 yang sebenarnya merupakan implementasi model pembelajaran
Contextual Teaching Learning (CTL).

19

Prinsip pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) yaitu proses


keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang
dipelajari dan menghubungkan dengan situasi kehidupan nyata sehingga
mendorong untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Sedangkan
pendekatan saintifik merupakan kerangka berfikir yang sistematis dimana
mengorganisasikan pengalaman belajar dengan urutan logis meliputi :
mengamati,

menanya,

mengumpulkan

informasi/mencoba,

menalar/mengasosiasi dan mengkomunikasikan.


Dengan diimplementasikan model pembelajaran Contextual Teaching
Learning (CTL) maka diharapkan dapat membentuk konsep berfikir dari
siswa itu sendiri serta mereka dapat mengkomunikasikan terhadap apa yang
sudah mereka nalarkan. Lalu dengan menggunakan pendekatan saintifik juga,
maka secara tidak langsung terjadi urutan logis dengan proses pembelajaran
yang ada sehingga kemampuan bernalar dapat dikonstruk dari proses
mengamati, menanya, mengumpulkan informasi dan mengasosiasi. Setelah
kemampuan bernalar terbentuk maka siswa dapat mengkomunikasikan
bagaimana konsep Geometri itu sendiri secara nyata.
Kerangka berpikir tersebut dapat dilihat pada skema berikut.
Proses Belajar Mengajar Matematika
materi Geometri
Model pembelajaran langsung
yakni pembelajaran konvensional

Model Pembelajaran Contextual


Teaching Learning (CTL) dengan
pendekatan saintifik
Peserta didik :

Peserta didik memperoleh


penjelasan langsung dari guru

Bekerja secara kooperatif


Meningkatkan usaha untuk
memahami materi

2.4. Hipotesis
Penelitian
Hasil
belajar peserta didik pada aspek kemampuan penalaran
komunikasi
Berdasarkan kajian teoridan
dan
kerangka berfikir di atas, hipotesis yang
diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

20

1. Penerapan model Contextual Teaching Learning (CTL) dengan pendekatan


saintifik sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan penalaran siswa
pada materi geometri.
2. Penerapan model Contextual Teaching Learning (CTL) dengan pendekatan
saintifik sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa
pada materi geometri.

21

BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu dengan pendekatan
kuantitatif, karena peneliti tidak mungkin melakukan control atau
memanipulasi pada semua variabel yang relevan kecuali, beberapa variabel
yang diteliti. Penelitian ini berdesain posttest-only control design, karena
tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui keefektifan diterapkannya
model

pembelajaran

Contextual

Teaching

Learning

(CTL)

dengan

pendekatan saintifik terhadap kemampuan penalaran dan komunikasi siswa.


Dengan desain tersebut, dalam penelitian ini terdapat dua kelompok
sampel pada penelitian ini yaitu kelompok eksperimen yang mendapatkan
pembelajaran matematika materi geometri dengan model Contextual
Teaching Learning (CTL) melalui pendekatan saintifik dan kelompok kontrol
melakukan pembelajaran secara langsung.
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian ini adalah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Malang.
Penelitian ini dilakukan secara bertahap, adapun waktu pelaksanaan
penelitian sebagai berikut:
1) Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan meliputi penyusunan dan pengajuan proposal,
mengajukan izin penelitian, serta penyusunan instrumen dan perangkat
penelitian. Tahap ini dilaksanakan pada bulan September-Desember 2016.
2) Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini, peneliti akan melaksanakan penelitian yakni pada bulan
Januari-April 2017.
3) Tahap Penyelesaian
Pada tahap ini terdiri dari proses analisis data dan peyusunan laporan
penelitian, yang dimulai bulan April 2017.

3.3. Prosedur Penelitian

22

Langkah-langkah yang akan dilakukan peneliti dalam penelitian ini


adalah sebagai berikut.
1) Tahap Persiapan
a. Peneliti menentukan populasi penelitian.
b. Peneliti melakukan observasi awal antara lain meminta daftar nama dan
data hasil belajar peserta didik pada materi sebelumnya yaitu materi
trigonometri peserta didik populasi. Data ini digunakan untuk menguji
normalitas dan homogenitas populasi yang digunakan agar dapat
dilakukan pengambilan sampel dengan teknik random sampling.
c. Peneliti menentukan dua kelas sebagai sampel penelitian.
d. Peneliti menghitung kesamaan dua rata -rata sampel.
e. Peneliti menyusun perangkat pembelajaran berupa rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) materi
geometri. Sebelum digunakan, perangkat pembelajaran ini telah
divalidasi oleh dua orang guru mata pelajaran matematika di MAN 1
Malang.
f. Peneliti menyusun instrumen penelitian dengan langkah -langkah sebagai
berikut.
Peneliti menentukan tipe soal yakni berupa soal uraian.
Penelitian menentukan alokasi waktu mengerjakan soal tes.
Peneliti menentukan banyak butir pertanyaan soal tes.
Peneliti membuat kisi-kisi soal tes.
Peneliti membuat soal tes.
Peneliti membuat kunci jawaban dan pedoman penskoran soal tes.
2) Tahap Uji Coba Instrumen
a. Peneliti melakukan uji coba instrumen berupa soal tes uraian pada kelas
uji coba instrumen.
b. Peneliti menganalisis hasil uji coba instrumen untuk mengetahui
validitas, reliabilitas, daya pembeda soal, dan tingkat kesukaran butir soal
tes.
c. Peneliti menyusun butir soal yang teruji untuk evaluasi akhir penelitian
berdasarkan hasil analisis soal tes uji coba
3) Tahap Pelaksanaan
a. Peneliti melaksanakan pembelajaran di kelas eksperimen yang meliputi:
memberikan pembelajaran dengan menerapkan model Contextual
Teaching Learning (CTL) dengan pendekatan saintifik memberikan
Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), dan

23

memberikan tes akhir untuk mengetahui hasil belajar peserta didik


pada aspek penilaian penalaran dan komunikasi setelah mendapatkan

perlakuan.
b. Peneliti melaksanakan pembelajaran di kelas kontrol yang meliputi:
memberikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran
langsung dengan memberikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD),

dan
memberikan tes akhir untuk mengetahui hasil belajar peserta didik
pada aspek penilaian penalaran dan komunikasi setelah mendapatkan

perlakuan.
4) Tahap Analisis Data
Peneliti menganalisis data yang telah dikumpulkan dengan metodemetode yang telah ditentukan dan kemudian disimpulkan.
5) Tahap Penarikan Kesimpulan
Peneliti menarik simpulan berdasarkan hasil analisis data akhir yang
telah dilakukan.
6) Tahap Penyusunan Laporan
Peneliti menyusun dan melaporkan hasil penelitian yang diperoleh.
3.4. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 2006: 130).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas X MIA di
MAN 1 Malang tahun pelajaran 2016/2017 yang terdiri dari empat kelas
yakni kelas X MIA 1, X MIA 2, X MIA 3 dan X MIA 4.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut (Sugiyono, 2007: 62). Sampel penelitian ini terdiri dari
dua kelas yang diambil secara random sampling dari empat kelas yang ada.
Setelah dilakukan perhitungan terhadap data awal populasi yakni nilai
ulangan materi bangun ruang, diperoleh hasil bahwa populasi dinyatakan
normal dan homogen. Oleh karena itu, dapat menggunakan pengambilan
sampel secara random sampling sehingga terpilih kelas X MIA 1 sebagai
kelas eksperimen dan kelas X MIA 3 sebagai kelas kontrol.
3.5. Variabel Penelitian

24

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang,
objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2007: 3).
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen (variabel bebas)
dan variabel dependen (variabel terikat).
Variabel independen merupakan variabel yang memengaruhi atau yang
menjadi sebab timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2007:4). Dalam
penelitian ini, yang merupakan variabel independen adalah model
pembelajaran yang digunakan yakni (1) model pembelajaran Contextual
Teaching Learning (CTL) dengan pendekatan saintifik dan (2) model
pembelajaran langsung.
Variabel dependen atau variabel terikat merupakan variabel respon atau
konsekuen. Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi karena
adanya variabel independen (Sugiyono, 2007:4). Variabel dependen dalam
penelitian ini adalah kemampuan penalaran dan komunikasi siswa kelas X
MIA pada materi geometri.
3.6. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini
antara lain sebagai berikut.
1) Metode Wawancara
Metode wawancara dilakukan sebagai kegiatan observasi awal untuk
mengetahui permasalahan pembelajaran materi geometri khususnya yang
terjadi di MAN 1 Malang. Wawancara dilakukan kepada beberapa guru
matematika dan peserta didik di sekolah tersebut.
2) Metode Tes
Metode tes digunakan untuk mengukur kemampuan penalaran dan
komunikasi objek yang diteliti. Dalam penelitian ini tes yang dilakukan
sebanyak satu kali masing -masing pada kelas eksperimen dan kelas
kontrol.
3) Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data
dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen
tertulis, gambar, maupun elektronik. Metode ini dilakukan untuk
memperoleh daftar nama peserta didik yang menjadi sampel penelitian

25

serta untuk memperoleh data nilai ulangan harian materi pokok


sebelumnya yakni materi bangun ruang.
3.7. Teknik Analisis Data
Analisis data penelitian yang dilakukan yaitu menggunakan perhitungan
program SPSS (Statistical Program for Social Science), sehingga hasil yang
diharapkan akan lebih akurat. Berikut beberapa uji yang digunakan yaitu :
1) Uji Normalitas
Data akhir yang diperoleh setelah sampel diberi perlakuan, diuji
kenormalannya. Uji normalitas ini digunakan untuk penentuan statistik
yang akan digunakan. Dalam hal ini menggunakan distribusi deskriptif,
prosedur ini digunakan untuk menguji kenormalan data dengan
menggunakan nilai Z score 1,96 . Data itu disebut normal jika nilai
Z score yang muncul sebagian besar terletak diantara

1,96 . Adapun

langkah-langkahnya yaitu :
Analyze Descriptive Statistics Frequencies
Adapun rumus yang digunakan adalah uji chi kuadrat sebagai berikut.
k
(Oi Ei )2
2
=
Ei
i=1
Keterangan:
2
: harga chi kuadrat
Oi : frekuensi hasil pengamatan
Ei : frekuensi yang diharapkan
2) Uji Homogenitas
Uji homogenitas ini digunakan untuk mengetahui data akhir sampel
setelah mendapat perlakuan homogen atau tidak. Dalam hal ini hipotesis
yang diuji adalah sebagai berikut.
H0:

varian data akhir kelas eksperimen dan kelas kontrol sama

(homogen).
Ha:

varian data akhir kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak sama

(tidak homogen).
Rumus yang digunakan adalah:

26

Fhitung =

varianterbesar
varianterkecil

Kriteria pengujian :

Jika

Jika

Fhitung > F tabel maka


Fhitung < F tabel maka

H 0 ditolak
H 0 diterima

3) Uji Hipotesis 1 : Uji Kemampuan Penalaran Siswa pada Kelas


Eksperimen
Uji hipotesis 1 ini dilakukan untuk mengetahui ketuntasan belajar
secara individual pembelajaran matematika pada kemampuan penalaran
peserta didik MAN 1 Malang pada materi geometri apakah efektif dengan
menerapkan model pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL)
melalui pendekatan saintifik. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji t,
yaitu Independent Sample T-test. Langkah-langkahnya yaitu :
Statistics Compare Mean Independent Sample T-test
Dalam hal ini hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut.
H0:

Penerapan model Contextual Teaching Learning (CTL) dengan

pendekatan saintifik tidak efektif untuk meningkatkan kemampuan


penalaran siswa pada materi geometri.
H a : Penerapan model Contextual Teaching Learning (CTL) dengan
pendekatan saintifik sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan
penalaran siswa pada materi geometri.
Statistik yang digunakan adalah sebagai berikut.
x 0
t=
s
n
Keterangan:
: uji t
x : rata-rata nilai kelas eksperimen
0 : besarnya batas ketuntasan belajar secara individual
: simpangan baku nilai kelas eksperimen
: banyaknya peserta didik yang mengikuti tes
Kriteria pengujian :

Jika t hitung tidak berada diantara t tabel maka

27

H 0 ditolak

Jika t hitung berada diantara t tabel

maka

H 0 diterima

4) Uji Hipotesis 2 : Uji Kemampuan Komunikasi Siswa pada Kelas


Eksperimen
Uji hipotesis 2 ini dilakukan untuk mengetahui ketuntasan belajar
secara individual pembelajaran matematika pada kemampuan komunikasi
peserta didik MAN 1 Malang pada materi geometri apakah efektif dengan
menerapkan model pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL)
melalui pendekatan saintifik. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji t,
yaitu Independent Sample T-test. Langkah-langkahnya yaitu :
Statistics Compare Mean Independent Sample T-test
Dalam hal ini hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut.
H0:

Penerapan model Contextual Teaching Learning (CTL) dengan

pendekatan saintifik tidak efektif untuk meningkatkan kemampuan


komunikasi siswa pada materi geometri.
H a : Penerapan model Contextual Teaching Learning (CTL) dengan
pendekatan saintifik sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan
komunikasi siswa pada materi geometri.
Statistik yang digunakan adalah sebagai berikut.
x 0
t=
s
n
Keterangan:
: uji t
x : rata-rata nilai kelas eksperimen
0 : besarnya batas ketuntasan belajar secara individual
: simpangan baku nilai kelas eksperimen
: banyaknya peserta didik yang mengikuti tes
Kriteria pengujian :

Jika t hitung tidak berada diantara t tabel maka H 0 ditolak


Jika t hitung berada diantara t tabel maka H 0 diterima

5) Uji Hipotesis 3 : Uji Perbedaan Dua Rata-Rata


Untuk menguji hipotesis rata-rata hasil belajar aspek penilaian
penalaran dan komunikasi peserta didik MAN 1 Malang pada materi
geometri yang diajar menggunakan model pembelajaran Contextual

28

Teaching Learning (CTL) dengan pendekatan saintifik lebih baik daripada


peserta didik yang diajar menggunakan model pembelajaran langsung
digunakan uji perbedaan dua rata-rata (uji pihak kanan). Uji hipotesis yang
digunakan adalah uji t, yaitu Paired Sample T-test. Langkah-langkahnya
yaitu :
Statistics Compare Mean Paired Sample T-test
Dalam hal ini hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut.
H0:

Penerapan model Contextual Teaching Learning (CTL) dengan

pendekatan

saintifik

pada

materi

geometri

dapat

meningkatkan

kemampuan penalaran dan komunikasi siswa tidak lebih baik daripada


siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran langsung
H a : Penerapan model Contextual Teaching Learning (CTL) dengan
pendekatan

saintifik

pada

materi

geometri

dapat

meningkatkan

kemampuan penalaran dan komunikasi siswa lebih baik daripada siswa


yang diajar menggunakan model pembelajaran langsung
Statistik yang digunakan adalah:
( n2 1 ) s 22
x x

t= 1 2
2
1 1
n
1
dengan ( 1 ) s1 +
s

n1 n 2

s=

Keterangan :
t : statistik t
x 1 : rata-rata nilai awal kelompok eksperimen
x 2 : rata-rata nilai awal kelompok kontrol
s : simpangan baku gabungan dari nilai awal
s 1 : simpangan baku nilai awal kelompok eksperimen

s 2 : simpangan baku nilai awal kelompok kontrol


n1 : banyaknya sampel kelompok eksperimen
n2 : banyaknya sampel kelompok kontrol

Kriteria pengujian :
Jika t hitung tidak berada diantara t tabel maka H 0 ditolak
Jika t hitung berada diantara t tabel maka H 0 diterima

29

30