Anda di halaman 1dari 6

PENGARUH MEROKOK TERHADAP TERJADINYA PENYAKIT JANTUNG

KORONER (PJK) DI RSUP DR.WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR


Ficha Fezi Savia1, Suarnianti2, Rusni Mato3
1

STIKES Nani Hasanuddin Makassar


STIKES Nani Hasanuddin Makassar
3
STIKES Nani Hasanuddin Makassar
2

ABSTRAK
Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyakit yang terjadi sebagai manifestasi dari
penurunan suplai oksigen ke otot jantung akibat dari penyempitan atau pnyumbatan aliran darah
arteri koronaria yang manifestasi kliniknya tergantung pada berat ringannya penyumbatan arteri
koronaria Selain itu, penyakit jantung koroner juga membawa arti penyakit kompleks yang
disebabkan oleh menurun atau terhambatnya aliran darah pada satu atau lebih arteri yang
mengelilingi dan mengsuplai darah ke jantung (Kasiman, 2006). Menurut Depkes 2009 penyakit
jantung koroner Indonesia sosok penyakit yang sangat menakutkan dan masih menjadi masalah, baik
di Negara maju maupun berkembang.Beberapa penelitian klinik dan epidemiologi menunjukkan
peningkatan prevalensi setiap tahun . Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh merokok
terhadap terjadinya penyakit jantun koroner di RSUP. dr. wahidin sudirohusodo makassar. Penelitian
ini menggunakan metode pendekatan deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional .
Penelitian ini mengambil sampel dari data primer selama bulan Mei 2012, dengan cara accidental
sampling . Hasilnya diolah menggunakan tabel 2x2 dengan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan
= 0,05. Hasil bivariat menunjukkan bahwa jumlah batang per hari (p = 0,002), dan lama merokok (p
= 0,003).Kesimpulan dalam penelitian ini adalah adanya pengaruh antara jumlah batang per hari ,
dan lama merokok dengan terjadinya penyaki jantung koroner.
Kata kunci : Jumlah batang per hari, Lama merokok, Penyakit jantung koroner
PENDAHULUAN
Penyakit jantung koroner (PJK) adalah
penyakit yang terjadi sebagai manifestasi dari
penurunan suplai oksigen ke otot jantung
akibat dari penyempitan atau pnyumbatan
aliran darah arteri koronaria yang manifestasi
kliniknya tergantung pada berat ringannya
penyumbatan arteri koronaria Selain itu,
penyakit jantung koroner juga membawa arti
penyakit kompleks yang disebabkan oleh
menurun atau terhambatnya aliran darah pada
satu atau lebih arteri yang mengelilingi dan
mengsuplai darah ke jantung (Kasiman, 2006).
Saat ini, di masyarakat Indonesia
bukan hanya orang tua saja yang
mengkomsumsi rokok, tetapi sudah ada pada
remaja, bahkan anak-anak. Pemuda perokok
mempunyai resiko menggunakan zat lain
dikemudian hari. Pada kenyataannya banyak
anak mulai merokok pada usia sekolah dasar.
Sebanyak 18 % siswa sekolah lanjut merokok
setiap hari dengan rata-rata komsumsi 10
batang per hari. Perbandingan merokok setiap
hari laki-laki dengan anak perempuan adalah
12:1 (Efendi, 2007).
Pada orang yang merokok, sistem
kekebalan tubuhnya juga menurun. Sebanyak
Volume 1 Nomor 6 Tahun 2013 ISSN : 2302-1721

25-30% kasus penyakit kardiovaskuler, 70%


penyakit jantung koroner meningkat lebih
tinggi pada perokok dari pada non perokok.
Dua kali resiko serangan jantung dan lima kali
serangan stroke (Pajeriaty, 2008).
Di belahan negara dunia, penyakit
jantung merupakan penyebab kematian nomor
satu pada orang Amerika dewasa. Setiap
tahunnya, di Amerika serikat 478.000 orang
meninggal karena penyakit jantung koroner,
1,5 juta orang mengalami serangan jantung,
407.000 orang mengalami operasi peralihan,
300.000 orang mengalami angioplasti. Di
Eropa di perhitungkan 20.000-40.000 orang
dari satu juta penduduk menderita penyakit
jantung koroner (PJK). Di seluruh dunia,
penyakit jantung koroner merupakan kuasa
utama kematian. Menurut estimasi para ahli
badan kesehatan sedunia (WHO), setiap
tahun sekitar 50% penduduk sedunia
meninggal akibat penyakit jantung dan
pembuluh darah. Berdasarkan laporan world
health statistic 2008, tercatat 17,1 juta orang
meninggal di dunia akibat penyakit jantung
koroner dan di perkirakan angka ini akan terus
meningkat hingga 2030 menjadi 23,4 juta
kematian di dunia atau merupakan 43%

penyebab kematian di Negara tersebut


(Cristoper, 2010).
Menurut data angka penyakit jantung
koroner Indonesia, Penyakit jantung koroner
(PJK) merupakan angka penyakit jantung
koroner Indonesia sosok penyakit yang sangat
menakutkan dan masih menjadi masalah, baik
di Negara maju maupun berkembang.
Beberapa penelitian klinik dan epidemiologi
menunjukkan peningkatan prevalensi setiap
tahun (Depkes, 2009).
Budiarso dkk, (1989) melaporkan
prevalensi penyakit jantung koroner di
Indonesia adalah 18,3/100.000 penduduk
pada golongan usia 15-24, meningkat menjadi
174,6/100.000 penduduk pada golongan usia
45-54, dan meningkat tajam menjadi
461,9/100.000 penduduk pada usia lebih dari
55 tahun (Kabo, 2008).
Pada tahun 2010 penyakit jantung dan
pembuluh darah yang ada di bagian
pencatatan rawat inap rumah sakit di Sulawesi
selatan sebanyak 565 orang dengan
presentase antara 11,56%. Untuk rawat jaln
penyakit jantung dan pembuluh darah
sebanyak 792 orang dengan presentase
antara 8,23%.
Data penyakit jantung koroner di
RSUP DR. Wahidin Sudirohusodo Makassar
tahun 2009 adalah sebanyak 190 kasus, tahun
2010 adalah sebanyak 141 kasus, dan pada
tahun 2011 adalah sebanyak 99 kasus.
BAHAN DAN METODE
Lokasi, Populasi, dan Sampel Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang
diteliti, maka jenis penelitian ini adalah non
eksperimen dengan metode pendekatan cross
sectional. Penelitian ini lakukan di RSUP Dr
Wahidin Sudirohusodo Makassar pada tanggal
01 Mei-01 Juni 2012.
Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh penderita Penyakit Jantung Koroner
(PJK) yang di rawat di RSUP DR. Wahidin
Sudirohusodo Makassar.
Pengumpulan data
Pengumpulan data dengan data
sekunder yaitu data yang diperoleh dari
tempat penelitian, yaitu Medical Record di
RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar,
data primer dari wawancara. Pengolahan data
dilakukan dengan:
a. Editing
Setelah
data
terkumpul
maka
dilakukan pemeriksaan kelengkapan
data,
kesinambungan
data
dan
keseragaman data.

Volume 1 Nomor 6 Tahun 2013 ISSN : 2302-1721

b.

c.

d.

Koding
Dilakukan
untuk
memudahkan
pengolahan data yaitu memberikan
simbol-simbol dari setiap jawaban
responden.
Tabulasi data
Setelah selesai pembuatan kode
dilanjutkan dengan pengelompokan data
ke dalam suatu tabel menurut sifat-sifat
yang dimiliki yang mana sesuai dengan
tujuan penelitian ini. Dalam hal ini dipakai
tabel
untuk
mempermudah
penganalisaan
data
berupa
tabel
sederhana.
Pembersihan data
Data yang telah di entry diperiksa
kembali untuk memastikan bahwa data
telah bersih dari kesalahan baik pada
waktu pengkodean maupun dalam
membaca kode sehingga siap dianalisa.

Analisis data
Setelah data terkumpul kemudian
ditabulasi dalam tabel dengan variabel yang
hendak diukur.Analisa data dilakukan melalui
tahap editing, koding, tabulasi dan uji statistik.
Analisis
univariat
dilakukan
dengan
menggunakan analisis distribusi frekuensi.
Menggunakan bantuan program SPSS
for windows 16,0. Melalui tahapan-tahapan,
kemudian
data
dianalisis
dengan
menggunakan metode uji statistik univariat
dilakukan untuk variabel tunggal yang
dianggap terkait dengan penelitian dan
analisis bivariat untuk melihatdistribusi atau
hubungan beberapa variabel yang dianggap
terkait dengan menggunakan uji chi-square.
Analisis data dilakukan dengan
pengujian hipotesis Nol (Ho) atau hipotesis
yang akan ditolak. Dengan menggunakan uji
chi-square. Batas kemaknaan = 0,05, Ho
ditolak jika p < 0,05 dan Ho diterima jika p >
0,05.
Jika p < (0,05) maka hipotesis nol
ditolak dan hipotesis alternatif diterima yang
berarti ada hubungan antara variabel
independen dengan dependen.
Sedangkan jika p > (0,05) maka
hipotesis nol diterima dan hipotesis alternatif
ditolak yang berarti tidak ada hubungan antara
variabel
independen
dengan
variabel
dependen.

HASIL PENELITIAN
1. Diskripsi karakter umum responden
Tabel 5.1 : Distribusi Pasien berdasarkan
Kelompok Umur
Kelompok
Frekuensi Persentase
Umur
30-40 thn
2
3.6 %
41-51 thn

30

54.5 %

> 51 thn

23

41.8 %

Total

55

100.0 %

Sumber : Data Primer, 2012.

Dari tabel 5.1 ,Tampak penderita


Penyakit jantung koroner yang dirawat di
RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo selama
bulan Mei yang terbanyak adalah pada
kelompok umur 41-51 tahun yaitu
sebanyak 30 (54,5 %) pasien,kemudian
disusul kelompok umur >51 tahun
sebanyak 23 ( 41,8 % ) pasien dan
kelompok umur yang terkecil yaitu umur
30-40 tahun sebanyak 2 (3,6% ).
2. Distribusi Frekuensi Variabel-variabel
Penelitian
Tabel 5.2 : Distribusi Pasien Menurut
Jumlah Batang
Jumlah
Batang
Frekuensi
Persentase
Banyak
41
74.5%
Kurang
14
25.5%
Total
55
100.0%
Sumber : Data Primer, 2012.

Dari
tabel 5.3 ,menunjukkan
bahwa dari 55 penderita Penyakit Jantung
Koroner yang dirawat di RSUP Dr. Wahidin
Sudirohusodo selama Bulan Mei 2012 yang
terbanyak menderita penyakit jantung
koroner adalah pasien yang banyak
merokok yaitu sebesar 41 (74,5%) dan
yang Kurang merokok sebanyak 14 (
25,5% ).
Tabel 5.3 : Distribusi Pasien berdasarkan
Lama Merokok
Lama
Merokok
Frekuensi
Persentase
38
69.1%
Lama
17
30.9%
Baru
Total

55

100.0 %

Sumber : Data Primer, 2012.

Dari
tabel 5.2 ,menunjukkan
bahwa dari 55 penderita Penyakit Jantung
Koroner yang dirawat di RSUP Dr. Wahidin

Volume 1 Nomor 6 Tahun 2013 ISSN : 2302-1721

Sudirohusodo selama Bulan Mei 2012 yang


terbanyak menderita penyakit jantung
koroner adalah pasien yang lama merokok
yaitu sebanyak 38 ( 69,1 % ) dan yang baru
merokok sebanyak 17 ( 30,9 % ).
Tabel 5.4 : Distribusi Pasien berdasarkan
penyakit Jantung Koroner
PJK
Merokok
Tidak
merokok
Total

Frekuensi
35

Persentase
63.6%

20

36.4%

55

100.0%

Sumber : Data Primer, 2012.

Dari
tabel 5.4 ,menunjukkan
bahwa dari 55 penderita Penyakit Jantung
Koroner yang dirawat di RSUP Dr. Wahidin
Sudirohusodo selama Bulan Mei 2012 yang
terbanyak menderita penyakit jantung
koroner adalah pasien yang merokok yaitu
sebesar 35 (63,6%) dan yang tidak
merokok sebanyak 20( 36,4,%).
3. Analisis Bivariat Variabel yang Diteliti
a. Hubungan Antara Jumlah Batang
Dengan Penyakit Jantung Koroner
Tabel 5.5 : Analisis hubungan antara
Jumlah batang dengan
Penyakit Jantung Koroner
di RSUP Dr. Wahidin
Sudirohusodo Makassar
Penyakit jantung
Koroner
Jumlah
Jumlah
Tidak
Batang Menderita
Menderita
N
%
n
%
n
%
Banyak 31 56,37 10 18,18 41 74,55
Kurang
4 7,27 10 18,18 14 25,45
Total
35 66,67 20 356,37 55 100
=0,002
= 0,05
Sumber : Data Primer 2012.

Tabel 5.6 menunjukkan bahwa


dari 55 pasien yang menderita Penyakit
Jantung Koroner yang dirawat di RSUP
Dr.
Wahidin
Sudirohusodo
Makassar,dimana pasien yang banyak
merokok sebnayk 41 (74,55% ) orang
,yang menderita Penyakit jantung
koroner sebanyak 31 (56,37% ) dan
yang tidak menderita sebanyak 10 (
18,18 % ) orang.Sedangkan yang
jumlah batangnya kurang sebanyak 14 (
25,45 % ),yang menderiat PJK
sebanyak 4 ( 7,27% ) dan yang tidak

menderita sebanyak 10 ( 18,18 % )


pasien.
Dari hasil uji statistik dengan
menggunakan program SPSS Versi
16.0 diperoleh nilai p = 0,002 dengan
tingkat kemaknaan = 0,05. hal ini
menunjukkan bahwa nilai p > ,
berartiada hubungan antara jumlah
batang rokok dengan penyakit jantung
Koroner
b. Hubungan Antara Lama Merokok
Dengan Penyakit Jantung Koroner
Tabel 5.6 : Analisis hubungan antara
Lama Merokok dengan
Penyakit Jantung Koroner
di RSUP Dr. Wahidin
Sudirohusodo Makassar
Penyakit Jantung
Koroner
Lama
Tidak
merokok Menderita
Menderita
n
%
n
%
Lama 29 52,73 9 16,37
Baru
6 10,90 11
20
Total
35 63.63 20 36,37
= 003
= 0,05
Sumber : Data Primer 2012.

Jumlah
n
%
38 69,10
17 30,90
55 100

Tabel 5.6 menunjukkan bahwa


dari 55 pasien yang menderita Penyakit
Jantung Koroner yang dirawat di RSUP
Dr.
Wahidin
Sudirohusodo
Makassar,dimana pasien yang lama
merokok sebanyak 38 (69,1% ) orang ,
yang menderita sebanyak 29 (52,73% )
orang dan yang tidak menderita
penyakit jantung koroner sebanyak 9 (
16,37 % ) orang.Sedangkan yang baru
merokok sebanyak 17 (30,9% ) pasien
,yang menderita penyakit jantung
koroner sebanyak 6 (10,90 % ) orang
dan yang tidak menderita sebanyak 17 (
30,9 % ) orang.
Dari hasil uji statistik dengan
menggunakan program SPSS Versi
16.0 diperoleh nilai p = 0,003 dengan
tingkat kemaknaan = 0,05. hal ini
menunjukkan bahwa nilai p > ,
berartiada hubungan antara lama
merokok dengan penyakit jantung
Koroner
PEMBAHASAN
Berdasarkan analisis yang dilakukan
terhadap 55 responden di Rumah Sakit Dr.
Wahidin Sudirohusodo Makassar, terdapat 35
responden yang merokok menderita Penyakit
jantung koronerdan sebanyak 20 responden
yang tidak merokok dan mengalami Penyakit
Volume 1 Nomor 6 Tahun 2013 ISSN : 2302-1721

jantung koroner dengan hasil analisis sebagai


berikut :
1. Hubungan Antara lama merokok dengan
terjadinya penyakit jantung koroner
Berdasarkan hasil penelitian pada
tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 55
pasien yang menderita Penyakit Jantung
Koroner yang dirawat
di RSUP Dr.
Wahidin Sudirohusodo Makassar,dimana
pasien yang lama merokok sebanyak 38
(69,1% ) orang , yang menderita sebanyak
29 (52,73% ) orang dan yang tidak
menderita penyakit
jantung koroner
sebanyak 9 ( 16,37 % ) orang.Sedangkan
yang baru merokok sebanyak 17 (30,9% )
pasien ,yang menderita penyakit jantung
koroner sebanyak 6 (10,90 % ) orang dan
yang tidak menderita sebanyak 17 ( 30,9 %
) orang.
Berdasarkan dari hasil uji statistik
dengan menggunakan chi-square diperoleh
nilai p = 0,003 dengan tingkat kemaknaan
= 0,05. hal ini menunjukkan bahwa nilai p
< , berartiada hubungan antara lama
merokok dengan penyakit jantung Koroner.
Resiko kematian akibat penyakit
jantung koroner berkurang sebanyak 50%
pada tahun pertama sesudah rokok
dihentikan dan kembali seperti tidak
merokok setelah berhenti merokok 10
tahun. Akibat penggumpalan (trombosis)
dan pengapuran (aterosklerosis) dinding
pembuluh darah, merokok akan merusak
pembuluh darah perifer.
Menurut (Bustan, 2009) lama
seseorang merokok dapat di klasifikasikan
menjadi kurang dari 10 tahun atau lebih
dari 10 tahun. Semakin awal seseorang
merokok, maka semakin sulit untuk
berhenti merokok. Rokok juga punya doseresponse effect,artinya semakin muda usia
orang merokok, akan semakin besar
pengaruhnya, apa bila perilaku merokok
dimulai sejak usia remaja (Peparsi, 2003).
Jika seseorang terus merokok
sesudah serangan jantung pertama,
kesempatan anda untuk mendapatkan
serangan kedua meningkat tajam (kira-kitra
dua sampai tiga kali). Angka kematian
meningkat sekitar dua kali lipat ketika siapa
pun terus merokok sesudah serangan
jantung pertama. Lagi pula, merokok itu
meningkatkan resiko serangan jantung
tiba-tiba
dan
juga
kesempatan
penyumbatan kembali arteri ( Bayu, 2007).
Berdasarkan
penelitian
yang
dilkukan oleh Perparsi ( 2003 ) ,dimana
dikatakan
bahwa resiko kematian
bertambah sehubungan dengan banyaknya

2.

merokok dan umur awal merokok yang


lebih dini. Merokok sebatang setiap hari
akan meningkatkan tekanan sistolik 10-25
mmHg dan menambah detak jantung 5-20
kali per menit. Dampak rokok akan terasa
setelah 10-20 tahun digunakan . damapak
rokok bukan hanya untuk perokok aktif
tetapi juga untuk perokok pasif. Walaupun
dibutuhkan waktu 10-20 tahun, tetapi
terbukti merokok, mengakibatkan 80 %
kanker paru dan 50% terjadinya serangan
jantung,Impotensi
dan
gangguan
kesuburan (Peparsi, 2003).
Resiko
kematian
bertambah
sehubungan dengan banyaknya merokok
dan umur awal merokok yang lebih dini
atau lamanya seseorang merokok akibat
penggumpalan
(trombosis)
dan
pengapuran
(aterosklerosis)
dinding
pembuluh darah, merokok akan merusak
pembuluh darah perifer. Lamanyanya
merokok sangat mempengaruhi terjadinya
penyakit jantung koroner.
Hubungan Antara Jumlah Batang Perhari
Dengan Terjadinya Penyakit Jantung
Koroner.
Berdasarkan hasil penelitian pada
tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 55
pasien yang menderita Penyakit Jantung
Koroner yang dirawat
di RSUP Dr.
Wahidin Sudirohusodo Makassar,dimana
pasien yang banyak merokok sebnayk 41
(74,55% ) orang ,yang menderita Penyakit
jantung koroner sebanyak 31 (56,37% )
dan yang tidak menderita sebanyak 10 (
18,18 % ) orang.Sedangkan yang jumlah
batangnya kurang sebanyak 14 ( 25,45 %
),yang menderiat PJK sebanyak 4 ( 7,27% )
dan yang tidak menderita sebanyak 10 (
18,18 % ) pasien.
Namun Berdasarkan dari hasil uji
statistik dengan menggunakan chi-square
diperoleh nilai p = 0,002 dengan tingkat
kemaknaan = 0,05. hal ini menunjukkan
bahwa nilai p < , berartiada hubungan
antara jumlah batang rokok dengan
penyakit jantung Koroner.
Faktor terbesar yang menyumbang
terjadinya serangan jantung koroner, para
perokok mempunyai resiko dua sampai
tiga kali meninggal karena serangan
jantung koroner di bandingkan dengan
orang yang tidak merokok, resiko
tergantung jumlah rokok yang dihisap
setiap harinya. Lebih sering merokok resiko
terkena penyakit jantung koroner lebih
tinggi, individu yang meninggalkan rokok
lebih rendah terserang.

Volume 1 Nomor 6 Tahun 2013 ISSN : 2302-1721

Hubungan antara merokok dengan


peningkatan resiko terjadinya penyakit
kardiovaskuler telah banyak di buktikan.
Selain lama merokok resiko akibat merokok
terbesar tergantung pada jumlah rokok
yang dihisap perhari, seseorang yang
merokok lebih dari satu pak (15 batang)
rokok sehari menjadi 2 kali lebih rentan
untuk menderita penyakit jantung koroner
dan penyakit kardiovaskuler dari pada
mereka yang tidak merokok (Dian, 2007).
Menurut
penelitian
(Elisabeth,
2009) resiko terjadinya penyakit jantung
koroner meningkat 2-4 kali pada perokok di
bandingkan dengan bukan perokok. Resiko
ini meningkat dengan bertambahnya usia
dan jumlah rokok yang dihisap. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa factor
resiko merokok bekerja sinergis dengan
faktor-faktor lain seperti hipertensi dan
kadar lemak yang tertinggi terhadap
tercetusnya penyakit jantung koroner.
Hasil penelitian ini sejalan dengan
dengan penelitian Dian ( 2007 ) yang
menyatakan
resiko
akibat
merokok
terbesar tergantung pada jumlah rokok
yang dihisap perhari, seseorang yang
merokok lebih dari satu pak (15 batang)
rokok sehari menjadi 2 kali lebih rentan
untuk menderita penyakit jantung koroner
dan penyakit kardiovaskuler dari pada
mereka yang tidak merokok (Dian, 2007).
Resiko akibat merokok terbesar
tergantung pada jumlah rokok yang dihisap
perhari, seseorang yang merokok lebih dari
satu pak (15 batang) rokok sehari menjadi
2 kali lebih rentan untuk menderita penyakit
jantung koroner. Jumlah batang rokok yang
dihisap
setiap
harinya
sangat
mempengaruhi terjadinya penyakit jantung
koroner.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan di Rumah Sakit Dr. Wahidin
SudiroHusodo Makassar mengenai pengaruh
merokok dengan terjadinya penyakit jantung
koroner pada penderita rawat inap dan rawat
jalan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut :
1. Ada pengaruh antara jumlah batang per
hari terhadap terjadinya penyakit jantung
koroner.
2. Ada pengaruh antara lama
merokok
terhadap
terjadinya penyakit jantung
koroner.
SARAN
1. Diharapkan bagi institusi kesehatan
khususnyan
rumah
sakit
untuk

meningkatan mutu pelayanan keperawatan


sesuai dengan karakteristik penyakit
khususnya penyakit jantung koroner.
2. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk
meneliti lebih lanjut tentang pengaruh

merokok terhadap terjadinya penyakit


jantung koroner.
3. Diharapkan bagi masyarakat sebagai
bahan informasi agar tidak merokok
sehingga mengurangi resiko terjadinya
penyakit jantung koroner.

DAFTAR PUSTAKA
Bustam M. N, 2006, Penyakit Tidak Menular, Diklat, Jurusan Epidemiologi FKM UNHAS Makassar.
Davidson Chripstopher, 2010, Bimbingan Dokter Pada Penyakit Jantung Koroner, Penerbit Dian Rakyat :
Jakarta.
Dian K, Avin F. FaktorFaktor Penyebab Perilaku Merokok pada Remaja.SKRIPSI UGM dan UII Yogakarta.
Website :http://www.google.com/perilaku merokok/pdf. Diakses 19 Maret 2012.
Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan ., 2010. Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi selatan 2009, Makassar
: Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.
Depkes RI 2009 Faktor Risiko Utama Penyakit Jantung KOroner. (on-Line) (www.depkes.go.id, diakses 19 Maret
2012 ).
Efendi, M. Kebiasaan Merokok di Kalangan Siswa (Studi Kasus Tiga SMK di Kota Malang). Jurnal Ilmu
Pendidikan, tahun 30, 2, Juli 2007, hal. 136144. http://www.google.google.com/cognitive behavior
therapy/htm. Diakses pada tanggal 19 Maret 2012.
Ghanie Ali. 2006. Gagal Jantung Kronik. Dalam: Aru W, Bambang S, Idrus A, Siti S. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jilid 3. Edisi 4. FK UI: halaman, 1511-14.
Handriani Kristanti, 2009, Waspada!! Penyakit Berbahaya, Citra Pustaka : Jakarta
Kabo Peter, 2008, Mengungkapkan Pengobatan Penyakit Jantung Koroner, Pt Gramedia Pustaka Utama:
Jakarta.
Kasiman, 2006 Faktor Resiko utama Penyakit Jantung Koroner. Kumpulan makalah Rehabilitasi dan Kualitas
Hidup. Simposium rehabilitasi Jantung Indonesia 11 Perki, Jakarta.
Lisa Ellizabet, 2010, Stop Merokok, Garailmu : Jogjakarta.
Mahannad Shandine, 2010, Mengenal Penyakit Hipertensi, Diabetes, Strok & Serangan Jantung : Keenbook
Manurung Daulat. 2006. Gagal Jantung Akut . Dalam: Aru W, Bambang S, Idrus A, Siti S. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Jilid 3. Edisi 4. FK UI: halaman, 1505-10.
Notoadmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Nursalam, 2008. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan : Pedoman Skripsi, Tesis Dan
Instrument Penelitian Keperawatan,edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Pajeriaty, 2008, Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Merokok Pada Siswa SMU PGRI Disamakan,
Skripsi tidak diterbitkan, Makassar : STIKES Nani Hasanuddin Makassar.
Peparsi, 2003, Ada Apa Dengan Rokok (online). http//www.red.bondowoso.or.id. diakses 19 Maret 2012.
Ruli A. Mustofa, 2005, Waspadai Bahaya Merokok. ( http//www.combat.2005.glodrive.com, di akses 19 Maret
2012).
Sitorus Ronald, 2008, 3 Jenis Pembunuh Utama Manusia, Yrama Widya. Bandung. Yogyakarta.
Soekidjo Notoatmodjo, 2007, Promosi Kesehatan Dan Ilmu Prilaku, Rineke Cipta : Jakarta.
Suryo Sukendro, 2007, Filosofi Rokok, Cetakan I, Pinus Book Publisher : Yogyakarta.
Tandra Hans, 2003, Merokok Ddan Kesehatan (on line) (www.antirokok.or.id/berita/berita_rokok_kesehatan .htm,
diakses 19 Maret 2012 ) .
Utomo Prayogo, 2006, Apresiasi Penyakit Secara Trandisional dan Modern. PT. rineke cipta. Jakarta
Wirawan Bayu, 2007, Stop Smoking Revolution, Jakarta selatan : Penerbit Hikmah (PT. Misan Publika).

Volume 1 Nomor 6 Tahun 2013 ISSN : 2302-1721