Anda di halaman 1dari 22

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU POST

PARTUM SC

MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas Makalah
pada Mata Kuliah Keperawatan Maternitas
yang diampu oleh Ns. Nurani Hari Murti, S.Kep

Disusun Oleh:
Antika Fitri Lestariyani

(14.1322)

Dewi Sulistyaningsih

(14.1332)

Febri Ariawan

(14.1341)

Much. Zaid Ubaidillah

(14.1352)

Rulistyana Cita Sari

(14.1361)

Yusi Citra Putri

(14.1373)

PRODI DIII
AKADEMI KEPERAWATAN
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH
SEMARANG
2016

A. Pengertian
Sectio Caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan insisi pada abdomen dan
uterus (Joy, 2010).
Operasi Caesar atau sering disebut dengan seksio sesarea adalah melahirkan janin
melalui sayatan dinding perut (abdomen) dan dinding rahim (uterus)
Seksio sesaria adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu
insisi pada dinding perut dan dinding rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas
500 gram.
Seksio sesaria adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat badan
diatas 500gram, melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh.
Jenis-jenis seksio sesare:
1. Seksio sesare klasik (korporal)
Dengan sayatan memanjang paada korpus uteri kira-kira sepanjang 10cm.
2. Seksio sesare ismika (profunda)
Dengan sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10cm
(Jitowiyono, 2010: 72).

B. Etiologi
Peningkatan angka sectio caesarea terus terjadi di Indonesia. Meskipun dictum Once
a Caesarean always a Caesarean di Indonesia tidak dianut, tetapi sejak dua dekade
terakhir ini telah terjadi perubahan tren sectio caesarea di Indonesia. Dalam 20 tahun
terakhir ini terjadi kenaikan proporsi sectio caesarea dari 5% menjadi 20%. Menurut
Depkes RI (2010) secara umum jumlah persalinan sectio caesarea di rumah sakit
pemerintah adalah sekitar 20 25% dari total persalinan, sedangkan di rumah sakit
swasta jumlahnya sangat tinggi, yaitu sekitar 30 80% dari total persalinan.
Peningkatan ini disebabkan oleh teknik dan fasilitas operasi bertambah baik, operasi
berlangsung lebih asepsis, teknik anestesi bertambah baik, kenyamanan pasca operasi
dan lama perawatan yang menjadi lebih singkat. Di samping itu morbiditas dan mortalitas
maternal dan perinatal dapat diturunkan secara bermakna (Nugroho, 2011).

Indikasi yang berasal dari ibu (etiologi), Yaitu pada primigravida dengan kelainan letak,
primi para tua disertai kelainan letak ada, disproporsi sefalo pervik (disporporsi
janin/panggul) ada, sejarah kelahiran dan persalinan yang buruk, teiordapat kesempitan
panggul, plasenta pervia teritama pada tingkat primigravida, solutsio plasenta tingkat I-II,
komplikasi kehamilan yaitu preeklampsia-eklampsia, atas permintaan, kehamilan yang
disertai penyakit (jantung,DM), gangguan perjalanan persalinan.
C. Komplikasi
1. Infeksi puerperal
Komplikasi ini bisa bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama beberapa hari dalam
masa nifas, bersifat berat seperti peritonitis, sepsis dan sebagainya.
2. Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang-cabang arteri
akut ikut terbuka, atau karena atonia uteri
3. Komplikasi-komplikasi lain seperti luka kandung kemih, embolisme paru-paru, dan
sebagainya sangat jarang terjadi.
4. Suatu komplikasi yang baru ekmudian tampak, ialah kurang kuatnya parut pada
dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi rupture uteri.
Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak ditemukan sesuada section caesura klasik.
D. Penatalaksanaan
1. Perawatan pre operasis section caesarea
a. Persiapan kamar operasi
1) Kamar operasi telah dibersihkan dan siap untuk dipakai
2) Peralatan dan obat-obatan telah siap semua termasuk kain operasi
b. Persiapan pasien
1) Pasien telah dijelaskan tentang prosedur operasi
2) Informed consent telah ditanda tangani oleh pihak keluarga pasien.
3) Perawat memberi support kepada pasien
4) Daerah yang akan di insisi telah dibersihkan (rambut pubis dicukur dan sekitar
abdomen telah dibersihkan)
5) Pemeriksaan tanda-tanda vital dan pengkajian untuk mengetehui penyakit
yang pernah di derita oleh pasien
6) Pemeriksaan laboraturium (darah,urine)
7) Pasien puasa selama 6 jam sebelum dilakukan operasi

2. Perawatan post operasi section caesarea


a. Analgesia
Wanita dengan ukuran tubuh rata-rata dapat disuntik 75 mg Meperidin (intra
muscular) setiap 3 jam sekali, bila diperlukan untuk mengatasi rasa sakit atau
dapat disuntikkan dengan cara serupa 10 mg morfin.
1) Wanita dengan ukuran tubuh kecil, dosis meperidin yang diberikan adalah 50
mg.
2) Wanita dengan ukuran besar, dosis yang lebih tepat adalah 100 mg meperidin.
3) Obat-obatan antiemetic, misalnya protasin 25 mg biasanya diberikan bersamasama dengan pemeberian preparat narkotik.
b. Tanda-tanda vital
Tanda-tanda vital harus diperiksa 4 jam sekali, perhatikan tekanan darah, nadi
jumlah urine serta jumlah darah yang hilang dan keadaan fundus harus diperiksa.

c. Terapi cairan dan diet


Untuk pedoman umum, pemberian 3 liter larutan RL, terbukti sudah cukup
selama pembedahan dan dalam 24 jam berikutnya, meskipun demikian, jika output
urine jauh dibawah 30 ml/jam, pasien harus segera di evaluasi kembali paling
lambat pada hari kedua
d. Vesika urinarius dan usus
Kateter dapat dilepaskan setelah 12 jam post operasi atau pada keesokan
paginya setelah operasi. Biasanya bising usus belum terdengar pada ahri pertama
setelah pembedahan, pada hari kedua bising usus masih lemah, dan usus baru
aktif kembali pada hari ketiga.
e. Ambulasi
Pada hari pertama setelah pembedahan, pasien dengan bantuan perawat
dapat bangun dari tempat tidur sebentar, sekurang-kurangnya dua kali pada hari
kedua pasien dapat berjalan dengan bantuan
f.

Perawatan luka
Luka insisi di inspeksi setiap hari, sehingga pembalut luka yang alternative
ringan tanpa banyak plester sangan menguntungkan, secara normal jahitan kukit
dapat diangkat setelah hari ke empat setelah pembedahan. Paling lambat hari ke
tiga post partum, pasien dapat mandi tanpa membahayakan luka insisi.

g. Laboraturium
Secara rutin hematokrit diukur pada oagi setelah operasi, hematokrit tersebut
harus dicek kembali bula terdapat kehilangan darah yang tidak biasa atau keadaan
lain yang menunjukkan hipovolemia.

h. Perawatan payudara
Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu memutuskan tidak
menyusui, pemasangan pembalutpayudara yang mengencangkan payudara tanpa
banyak menimbulkan kompesi, biasanya mengurangi rasa nyeri.
i.

Memulangkan pasien dari rumah sakit


Seorang pasien yang baru melahirkan mungkin lebih aman bila diperbolehkan
pulang dari rymah sakit pada hari ke empat dank e lima post operasi, aktivitas ibu
seminggunya harus dibatasi hanya untuk perawatan bayinya dengan bantuan
orang lain
(Jitowiyono, 2010).

Asuhan Keperawatan Pada Ibu Post Partum SC


1. Pengkajian
a. Identitas pasien
Meliputi nama, umur, pendidikan, suku bangsa, pekerjaan, agama, alamat, status
perkawinan, ruang rawat, nomor medikal record, diagnosa medik, yang mengirim,
cara masuk, alasan masuk, keadaan umum, tanda vital.
b. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang
Meliputi keluhan atau yang berhubungan dengan gangguan atau penyakit di
rasakan setelah pasien operasi
2) Riwayat kesehatan dahulu
Meliputi penyakit lain yang dapat mempengaruhi penyakit yang sekarang
maksudnya apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama (plasenta
previa)
3) Riwayat kesehatan keluarga
Meliputi penyakit yang diderita pasien dan apakah dari anggota keluarga
pasien ada juga mempunyai riwayat persalinan plasenta previa
c. Data sosial ekonomi
Penyakit ini dapat terjadi pada siapa saja akan tetapi kemungkinan dapat lebih
sering tejadi pada penderita malnutrisi dengan sosial ekonomi rendah
d. Data psikologi
1) Pasien biasanya dalam keadaan labil
2) Cemas akan keadaan seksualitasnya
3) Harga diri pasien terganggu
e. Pemeriksaan penunjang
1) USG untuk menentukan letak impiantasi plasenta
2) Pemeriksaan hemoglobin
3) Pemeriksaan hematokrit
2. Diagnosa
a. Transisi perubahan proses keluarga berhubungan dengan perkembangan atau
adanya peningkatan anggota keluarga
b. Gangguan nyaman: nyeri akut berhubungan dengan trauma pembedahan
c. Ansietas

berhubungan

dengan

situasi,

ancaman,

pada

konsep

diri,

transmisi,/kontak interpersonal, kebutuhan tidak terpenuhi.


d. Hargta diri rendah berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa kehidupan
e. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan fungsi biokimia atau regulasi

f.

Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan

g. Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot


h. Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan bayi berhubungan dengan
kurang pemajanan mengingat kesalahan interpretasi, tidak mengenal sumber
sumber
i.

Perubahan eliminasi urine berhubungan trauma atau diversi mekanisme efek efek
hormonal/anastesi

j.

Kurang perawatan diri berhubungan dengan efek efek anestesi penurunan


kekuatan dan ketahanan, ketidaknyamanan fisik

3. Intervensi
a. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan perkembangan transisi
1) Tujuan : dapat menerima perubahan dalam keluarga dengan anggota barunya
2) Kriteria hasil :
a) Menggendong bayi, bila kondisi memungkinkan
b) Mendemontrasikan perilaku kedekatan dan ikatan yang tepat
c) Mulai secara aktif mengikuti perawatan bayi baru lahir dengan cepat
3) Intervensi
a) Anjurkan pasien untuk menggendong menyentuh dan memeriksa bayi,
tergantung pada kondisi pasien dan bayi bantu sesuai kebutuhan
Rasional : jam pertama setelah kelahiran memberikan kesempatan unik
untuk ikatan keluarga terjadi karena ibu dan bayi secara emosional dan
menerima isyarat satu sama lain yang memulai kedekatan dan proses
pengenalan
b) Berikan

kesempatan

untuk

ayah/pasangan

untuk

menyentuh

dan

mengendong bayi
Rasional : membantu memudahkan ikatan/ kedekatan diantara ayah dan
bayi.
c) Observasi dan catat interaksi keluarga bayi, perhatikan perilaku yang
dianggap menggandakan dan kedekatan dalam bbudaya tertentu.
Rasional : pada kontak pertama dengan bayi ibu menunjukan pada
progresif dari perilaku dengan cara menggunakan ujung jari
d) Diskusikan kebutuhan kemajuan dan sifat interaksi yang lazim dari ikatan.
Rasional : membantu pasien dan pasangan memahami makna pentingnya
proses dan memberikan keyakinan bahwa perbedaan di perkirakan
e) Sambut keluarga dan sibling untuk kunjungan sifat segera bila kondisi ibu
dan bayi memungkinkan

Rasional : meningkatkan kesatuan keluarga dan membantu sibling memulai


proses adaptasi positif terhadap peran baru dan memasukan anggota baru
kedalam struktur keluarga

f)

Berikan informasi, sesuai kebutuhan, keamanan dan kondisi bayi.


Rasional : membantu pasangan untuk memproses dan mengevaluasi
informasi yang diperlukan khususnya bila periode pengenalan awal telah
terlambat

g) Jawab pertanyaan pasien menghenai protokol, perawatan selama periode


kelahiran.
Rasional : informasi menghilangkan ansietas yang dapat mengganggu
ikatan atau mengakibatkan absorbsi dari pada perhatian terhadap bayi baru
lahir
b. Ketidaknyamanan : nyeri, akut berhubungan dengan trauma pembedahan.
1) Tujuan : ketidaknyamanan, nyeri berkurang atau hilang
2) Kriteria hasil :
a) Mengungkapkan kekurangan rasa nyeri
b) Tampak rileks mampu tidur
3) Intervensi
a) Tentukan lokasi dan karakteristik ketidaknyamanan perhatikan isyarat
verbal dan non verbal seperti meringis
Rasional : pasien mungkin tidak secara verbal melaporkan nyeri dan
ketidaknyamanannya secara langsung
b) Berikan

informasi

dan

petunjuk

antisipasi

mengenai

penyebab

ketidaknyamanan dan intervensi yang tepat


Rasional : meningkatkan pemecahan masalah, membantu mengurangi
nyeri berkenaan dengan ansietas
c) Evaluasi tekanan darah dan nadi, perhatikan perubahan perilaku
Rasional : pada banyak pasien, nyeri dapat menyebabkan gelisah, serta
tekanan darah dan nadi meningkat. Analgesia dapt menurunkan tekanan
darah.
d) Perhatikan nyeri tekan uterus dan adanya atau karateristik nyeri.
Rasional : selama 12 jam pertama pasca partum , kontraksi uterus kuat dan
teratur dan ini berlanjut 2-3 hari nerikutnya meskipun frekuensi dan
intensitasnya dikurangi faktor faktor yang memperberat nyeri penyerta
meliputi multipatra , overdistensi uterus.

e) Ubah posisi pasien kurangi rangsangan berbahaya dan berikan gosokan


punggung dan gunakan teknik pernafasan dan relaksasi dan distraksi.
Rasional : merilekskan otot dan mengalihkan perhatian dari sensasi nyeri.
Meningkatkan kenyamana dan menurunkan distraksi tidak menyenangkan
meningkatkan rasa sejahtera.
f)

Lakukan nafas dalam dengan menggunakan prosedur pembebasan


dengan tepat 30 menit setelah pemberian analgesik.
Rasional : nafas dalam meningkatkan upaya penafasan pembebasan
menurunkan regangan dan tegangan area insisi dan mengurangi nyeri dan
ketidaknyamanan berkenaan dengan gerakan otot abdomen.

g) Anjurkan ambulasi dini. Anjurkan menghindari makanan atau cairan


berbentuk gas misal : kacang kacangan, kol, minuman karbonat.
Rasional :menurunkan pembentukan gas dan meningkatkan peristaltik
untuk menghilangkan ketidaknyamanan karena akumulasi gas.
h) Anjurkan penggunaan posisi recumbent lateralkiri.
Rasional : memungkinkan gas meningkat dari kolon desenden ke sigmoid
memudahkan pengeluaran.
i)

Infeksi hemoroid pada prineum. Anjurkan penggunaan es secara 20 menit


setiap 24 jam penggunaan bantal untuk peninggi pelvis sesuai kebutuhan.
Rasional :membantu regresi hemoroid dan varises vulva dengan
meningkatkan vasokontriksi menurunkan ketidaknyamanan dan gatal dan
meningkatkan fungsi usus normal.

j)

Palpasi kandung kemih perhatikan adanya rasa penuh. Memudahkan


berkemih periodik setelah pengangkatan kateter indwelling.
Rasional : kembali fungsi kandung kemih normal memerlukan 4-7 hari dan
overdistensi kandung kemih menciptakan perasaan dan ketidaknyamanan.

c. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi ancaman pada konsep diri, tranmisi/
kontak interpersonal kebutuhan tidak terpenuhi.
1) Tujuan : ansietas dapat berkurang atau hilang
2) Kriteria hasil :
a) Mengungkapkan perasaan ansietas
b)

Melaporkan bahwa ansietas sudah menurun

c) Keliahatan rileks, dapat tidur / istirahat dengan benar.


3) Intervensi :
a) Dorong keberadaan atau partisipasi pasangan
Rasional : memberikan dukungan emosional; dapat mendorong
mengungkapkan masalah.

b) Tentukan tingkat ansietas pasien dan sumber dari masalah. Mendorong


pasien atau pasangan untuk mengungkapkan keluhan atau harapan yang
tidak terpenuhi dalam proses ikatan/ menjadi ortu.
c) Bantu pasien atau pasangan dalam mengidentifikasi mekanisme koping
baru yang lazim dan perkembangan strategi koping baru jika dibutuhkan.
Rasional : membantu memfasilitasi adaptasi yang positif terhadap
peran baru, mengurangi perasaan ansietas.
d) Memberikan informasi yang akurat tentang keadaan pasien dan bayi.
Rasional : khayalan yang disebabkan informasi atau kesalahpahaman
dapat meningkatkan tingkat ansietas.
e) Mulai kontak antara pasien/pasangan dengan baik sesegera mungkin.
Rasional : mengurangi ansietas yang mungkin b.d penanganan bayi,
takut terhadap sesuatu yang tidak diketahui, atau menganggap hal
yang buruk berkenaan dengan keadaan bayi.
d. Harga diri rendah b.d merasa gagal dalam peristiwa kehidupan.
1) Tujuan : tidak lagi mengungkapkan perasaan negative diri dan situasi
2) Kriteria hasil :
a) Mengungkapkan pemahaman mengenai factor individu yang mencetus
situasi saat ini.
b) Mengekspresikan diri yang positif
3) Intervensi :
a) Tentukan respon emosional pasien / pasangan terhadap kelahiran sesarea
Rasional : kedua anggota pasangan mungkin mengalami reaksi emosi
negative terhadap kelahiran sesarea meskipun bayi sehat, ortu sering
berduka dan merasa kehilangan karena tidak mengalami kelahiran
pervagina sesuai yang diperkirakan.
b) Tinjau ulang partisipasi pasien/pasangan dan peran dalam pengalaman
kelahiran. Identifikasi perilaku positif selama proses prenatal dan
antepartal.
Rasional : respon berduka dapat berkurang bila ibu dan ayah mampu saling
membagi

akan

pengalaman

kelahiran,

sebagai

dapat

membantu

menghindari rasa bersalah.


c) Tekankan kemiripan antara kelahiran sesarea dan vagina. Sampaikan sifat
positif terhadap kelahiran sesarea. Dan atur perawatan pasca patum
sedekat mungkin pada perawatan yang diberikan pada pasien setelah
kelahiran vagina.

Rasional : pasien dapat merubah persepdinya tentang pengalaman


kelahiran

sesarea

sebagaimana

persepdinya

tentang

kesehatanny/

penyakutnya berdasarkan pada sikap professional.


e. Resiko tinggi terhadap infeksi b.d trauma jaringan / kulit rusak.
1) Tujuan : infeksi tidak terjadi
2) Kriteria hasil :
a) Luka bekas dari drainase purulent dengan tanda awal penyembuhan.
b) Bebas dari infeksi, tidak demam, urin jernih kuning pucat
3) Intervensi :
a) Anjurkan dan gunakan teknik mencuci tangan dengan cermat dan
pembuangan pengalas kotoran, pembalut perineal dan linen terkontaminasi
dengan tepat.
Rasional : membantu mencegah atau membatasi panyebaran infeksi.
b) Tinjau ulang hemoglobin / hematocrit prenatal; perhatikan adanya kondisi
yang mempredisposisikan pasien pada infeksi pasca operasi.
Rasional : anemia, diabetes dan persalinan yang lama sebelum kelahiran
sesarea meningkat resiko infeksi dan memperlambat penyembuhan.
c) Kaji status nutrisi pasien. Perhatikan penampilan rambut, kuku jari, kulit dan
sebagainya. Perhatikan berat badan sebelum hamil dan penambahan berat
badan prenatal.
Rasional : pasien yang BB 20% dibawah BB normal atau yang anemia atau
yang malnutrisi, lebih rentan terhadap infeksi pascapartum dan dapat
memerlukan diet khusus.
d) Dorong masukan cairan oral dan diet tinggi protein, vitamin c dan zat besi
Rasional :mencegah dehidrasi; memaksimalkan volume, sirkulasi dan aliran
urin, protein dan vitamin c dperlukan untuk pembentukan kolagen, besi
diperlukan untuk sintesi hemoglobin.
e) Inspeksi balutan abdominal terhadap eksudat atau rembesan. Lepasnya
balutan sesuai indikasi.
Rasional : balutan steril menutupi luka pada 24 jam pertama kelahiran
sesarea membantu melindungi luka dari cedera atau kontaminasi.
Rembesan dapat menandakan hematoma.
f)

Inspeksi insisi terhadap proses penyembuhan, perhatikan kemerahan


udem, nyeri, eksudat atau gangguan penyatuan.
Rasional : tanda-tanda ini menandakan infeksi luka biasanya disebabkan
oleh steptococus.

g) Bantu sesuai kebutuhan pada pengangkatan jahitan kulit, atau klips.

Rasional : insisi biasanya sudah cukup membaik untuk dilakukan


pengangkatan jahitan pada hari 4/5.
h) Dorong pasien untuk mandi shower dengan menggunakan iar hangat
setiap hari.
Rasional : mandi shower biasanya diizinkan setelah hari kedua setelah
kelahiran sesarea, meningkatkan hygiene dan dapat merangsang sirkulasi
atau penyembuhan luka.
i)

Kaji suhu, nadi dan jumlah sel darah putih.


Rasional : demam paska operasi hari ketiga, leucositosis dan tachycardia
menunjukan infeksi. Peningkatan suhu sampai 38,3 derajat celcius dalam
24 jam pertama sangat mengidentifikasikan infeksi.

j)

Kaji lokasi dan kontraktilitas uterus ; perhatikan perubahan involusi atau


adanya nyeri tekan uterus yang ekstrem.
Rasional : setelah kelahiran sesarea fundus tetap pada ketingian umbilicus
selama sampai 5 hari, bila involusi lokhea, perlambatan involusi
meningkatkan resiko endometritis. Perkembangan nyeri tekan ekstrem
menandakan kemungkinan jaringan plasenta tertahan atau infeksi.

KASUS IBU POST PARTUM SC


Seorang perempuan post partum SC hari 1, klien mengeluh sakit pada luka jahitan dan tidak
berani menggerakkan tubuhnya, ASI belum keluar dan ibu belum menyusui bayinya. Ibu
merasa sedih karena tidak bisa beraktivitas seperti sedia kala.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU POST PARTUM SC


A. PENGKAJIAN
1. Identitas pasien
Tanggal Pengkajian : 22 maret 2016
Jam Pengkajian

: 08.00

Ruang

: Rajawali IB

a. Identitas Pasien
Nama

: Ny. K

Umur

: 35 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Suku/Bangsa

: Jawa/Indonesia

Agama

: Islam

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Alamat

: Desa X

Tanggal Masuk RS

: 18 maret 2016

Jam Masuk RS

: 15.00

b. Identitas Penanggung Jawab


Nama

: Tn. N

Umur

: 37 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Suku/Bangsa

: Jawa/Indonesia

Agama

: Islam

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Buruh

Hubungan dengan pasien: Suami


Alamat

: Desa X

2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan Utama
Pasien mengeluh sakit pada bekas jahitan setelah hamil. Pasien merasakan
sakit pada bekas jahitan setelah melahirkan.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Klien mengeluh nyeri pada luka operasi SC (Sectio Caesarea). Nyeri yang
dirasakan seperti disayat benda tajam. Nyeri bertambah bila bergerak dan
berkurang jika beristirahat. Skala nyeri 3.
c. Riwayat kesehatan dahulu
Pasien sebelumnya pernah melakukan tindakan SC (Sectio Caesarea) pada
anak pertamanya. Pasien tidak mempunyai riwayat alergi dan riwayat penyakit
berat.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang pernah mengalami operasi
SC. Keluarga klien juga tidak mempunyai penyakit menurun.
3. Data sosial ekonomi
Karena kondidi ekonomi yang kurang sehingga asupan nutrisi dari klien tidak
maksimal.
4. Data psikologi
Pasien cemas karena merasa takut untuk bergerak. ASI klien juga belum keluar
sehingga klien tidak bisa memberikan ASI kepada bayinya.
5. Pemeriksaan Fisik
a. Abdomen:
Tinggi fundus uteri 1 jari di bawah pusar, kontraksi uterus kuat/baik. Pada
abdomen terdapat luka operasi SC tsepanjang 15cm. Kondisi luka terlihat
kemerahan.
b. Genitalia:
Terdapat lochea rubra, warna merah, berbau amis, jumlah perdarahan 90 cc,
terpasang kateter.
c. Ekstermitas:
Atas

: terpasang infus RL pada lengan kanan. Pasien mengeluh nyeri bila


digerakkan.

Bawah : tidak terdapat varises, tidak terdapat oedema, tidak terdapat tanda
homans, refleks patela baik.

6. Pengetahuan tentang perawatan diri/liuka/penyakit

Klien mengatakan belum mengetahui cara perawatan luka operasi, klien


mengatakan takut bergerak.
7. Pemeriksaan penunjang
4) Dari pemriksaan laboratorium :
Hb

: 11,3 gr/dl

Leukosit

: 14.700/mm3

Hematokrit

: 34 %

B. ANALISIS DATA, DIAGNOSA, DAN INTERVENSI


No

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria hasil

Intervensi Keperawatan

Keperawatan
1

Nyeri b.d agen


cidera fisik

NOC:

NIC : Paint management


(1400)

Pain level

1. Lakukan

Pain contol

pengkajian

nyeri

secara

komperhensif

Comfort level

2. Gunakan
Tujuan dan K. H:

komunikasi terapeutik

1. Mampu mengontrol nyeri,


penyebab

nyeri,

menggunakan teknik non


farmakologi

untuk

3. Kontral lingkungan yang


dapat

2. Melaporkan bahwa nyeri

mempengaruhi

nyeri
4. Tingkatkan istirahat
5. Ajarkan

mengurangi nyeri

berkurang

teknik

teknik

non

farmakologi

dengan

manajemen nyeri
3. Mampu mengenali nyeri

Anagesic

administration

(2210)

4. Menyatakan rasa nyaman


setelah nyeri berkurang

1. Berikan analgesic
2. Evaluasi
analgesic
gejala

efektifitas
tanda

dan

Kelemahan
mobilisasi
fisikb.d
kelemahan

NOC:

NIC:Bed Rest Care (0740)

Ambulation

1. Beritahu

alasan

melakukan bed rest.

Mobility

2. Posisikan

muskuloskeletal

tubuh

senyaman mungkin.

Activitiy tolerance

3. Gunakan
Tujuan dan K. H:
1. Mampu

tempat tidur.

meningkatakan

4. Dampingi

pasien

melakukan

pergerakan otot
2. Mampu

pengaman

aktivitas

sehari-hari.

mengkoordinasi

tubuh
3. Mampu

meningkatkan

pergerakan sendi
4. Mampu

Exercise

Therapy

Ambulation (0221)

mekakukan

perubahan posisi

1. Dampingi

pasien

melakukan

ambulasi

jika perlu.
2. Dorong pasien untuk
melakukan ambulasi
3. Konsultasi

dengan

psioterapi

tentang

ambulasi.
3

Resiko
b.d

Infeksi NOC:
prosedur

invasive

NIC:

Kontrol resiko infeksi


Pemulihan tindakan bedah
Penyembuhan luka

Infection

(6540)
1. Ajarkan cara mencuci
tangan
2. Ajarkan
keluarga

Tujuan dan K.H:


a. Mampu

Control

pasien

dan

mengetahui

tanda infeksi

mengidentifikasi

3. Jaga

kebersihan

lingkungan pasien.

faktor resiko
b. Mampu mengurangi faktor
resiko
c. Mampu

Wound Care (3660)


mengontrol

pengeluaran dari luka

1. Monitor

karakteristik

luka

(pengeluaran,

warna, ukuran, bau)


2. Bersihkan dari material
lain.
3. Gunakan balutan yang
sesuai.

Defisiensi

NOC :

pengetahuan
b.d

kurang

informasi

NIC : Teaching: disease


Process (5602)

Knowledge :
1. Disease process

1. Berikan

penialaian

tentang

tingkat

2. Health behavior

pengetahuan pasien

Tujuan dan criteria Hasil:


1. Pasien

dan

2. Jelaskan
dan

keluarga

anatomi

tentang penyakit, kondisi, 3. Jelaskan

mampu

melaksanakan 4. Identifikasi kemungkinan


penyebab
5. Edukasi tentang kondisi

secara benar

mampu
kembali

dan

keluarga

pasien

menjelaskan 6. Diskusikan pilihan terapi


apa

yang 7. Dukung

dan

motivasi

pasien

dijelaskan perawat

C. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
No

Waktu

22

Dx

maret 1

2016

Implementasi

Evaluasi

TTD

1. Melakukan

S:

Kel 5

pengkajian

dan

penyakit

keluarga

prosedur yang dilakukan

3. Pasien

tanda

gejala proses terjadinya

program pengobatan
dan

dengan

tepat

menyatakan pemahaman

2. Pasien

patofisiologi

nyeri

secara komperhensif

Pasien

mengatakan

dan
08.20

tingkatkan nyeri berkurang saat

istirahat

istirahat
P : nyeri muncul ketika
bergerak
Q:

nyeri

seperti

tersayat
R: pada bagian bekas
operasi
S: skala 2
T: hilang timbul

O:
Pasien merasa lebih
nyaman dan rileks
2. Mengajarkan teknik
non farmakologi

S:
Pasien

mengatakan

nyeri mulai berkurang


kembali
O:
Pasien

dapat

mengontrol

nyeri

apabila timbul kembali

3. memberikan
analgesik
melihat respon

S:
dan
Pasien

mengatakan

semakin nyaman

O:
Pasien tiduran tanpa
menahan nyeri
2

22

maret 2

2016

1. Memposisikan
tubuh

senyaman

mungkin, gunakan
pengaman tempat
09.00

tidur.

S:

Kel 5

Pasien

nyaman

dengan posisi saat ini


O:
Pasien
tempat

berada
tidur

di

dengan

pengaman

yang

terpasang.

2. Memberitahu
alasan melakukan
bed rest.

S:
Pasien

memahami

alasan bed rest.


O:
Pasien
melakukan

berusaha
koordinasi

tubuh.

3. Mendampingi
pasien melakukan
ambulasi jika perlu.

S:
Pasien

berani

melakukan pergerakan
sedikit demi sedikit.
O:
Pasien
mengkoordinasikan
otot dan tubuhnya.

22

maret 3

2016

1. Mengajarkan pasien S:
dan

keluarga

menegetahui tanda
infeksi, mengajarkan
10.00

cuci tangan.

Kel 5

Pasien paham tanda


infeksi
O:
Pasien
tanda

mengetahui
resiko

dan

mengetahui

faktor

resiko.

2. Memonitor
karakteristik

luka

(pengeluaran,

S:
Pasien

mengatakan

warna, ukuran, bau) luka mulai bersih.


dan bersihkan dari
O:

material lain.

Cairan
dapat

yang

keluar

terkontrol

dan

berkurang.

22

maret 4

2016

1. Mengedukasi
tentang

kondisi

pasien

S:
O:
Pasien

10.30

Kel 5

memahami

kondisinya saat ini.

2. Menjelaskan tanda

S:

dan gejala proses Pasien paham proses


terjadinya penyakit

terjadinya penyakit.
O:

Pasien

dapat

menjelaskan kembali.

DAFTAR PUSTAKA

Jitowiyono, Sugeng Dkk. 2010. Asuhan Keperawatan Post Operasi Pendekata Nanda,
NIC, NOC. Yogyakarta: Nuha Medika.
Joy, Saju. 2010. Postpartum Depression. Available from: ww. Medscape.com.
Nugroho, Taufan. 2011. Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Medikal, Bedah.
Yogyakarta: Nuhamed.