Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Batuan metamorf merupakan batuan hasil malihan dari batuan yang telah ada sebelumnya
yang ditunjukkan dengan adanya perubahan komposisi mineral, tekstur dan struktur batuan
yang terjadi pada fase padat (solid rate) akibat adanya perubahan temperatur, tekanan dan
kondisi kimia di kerak bumi ( Ehlers & Blatt, 1982).
Dalam hal ini kita kan lebih banyak membahas proses kimia yang terjadi dilautan. Khususnya
kita akan membahas mengenai Geokimia. Geokimia merupakan salah satu disiplin ilmu yang
ada saat ini. Geokimia berasal dari dua buah disiplin ilmu yaitu ilmu geologi dan kimia. Hal
ini bukan merupakan penggabungan ilmu, namun merupakan disiplin ilmu yang hanya
membantu menjelaskan fenomena fenomena geologi yang terjadi dan ditinjau dari sisi
kimianya. Sebelum masuk lebih dalam mempelajari Geokimia kita harus memahami ilmu
geologi terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam memahami ilmu
geokimia. Ilmu Geologi sendiri terdiri dari banyak cabang, diantaranya: mineralogi,
petrologi, sedimentologi, geomorfologi, paleontologi, geologi struktur stratigrafi dan lain
lain.

I.2 Rumusan Masalah


Batuan Sedimen Merupakan batuan yang paling terjadi karena adanya perubahan yang
disebabkan oleh proses metamorfosa. Proses metamorfosa merupakan suatu proses
pengubahan batuan akibat perubahan tekanan, temperatur dan adanya aktifitas kimia
fluida/gas atau variasi dari ketiga faktor tersebut. Proses metamorfosa merupakan proses
isokimia, dimana tidak terjadi penambahan unsur-unsur kimia pada batuan yang
mengalami metamorfosa dengan demikian batuan metamorf dapat di bagi berdasarkan
tingkat perubahannya.
I.2 Maksud dan Tujuan
Maksud
Maksud pembuatan tugas makalah ini mahasiswa dapat membedakan batuan
metamorf terutama batuan metamorf tingkat rendah berdasarkan literatur yang ada.
Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui genesa, komposisi,
struktur batuan dan karakteristik dari batuan metamorf tingkat rendah berdasar studi
terkait petrologi batuan metamorft dan komosisi mineral primer maupun sekundernya
.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Batuan Metamorf


Analisis Batuan Metamorf
Batuan asal atau batuan induk baik berupa batuan beku, batuan sedimen maupun batuan
metamorf dan telah mengalami perubahan mineralogi, tekstur serta struktur sebagai akibat
adanya perubahan temperatur (di atas proses diagenesa dan di bawah titik lebur; 200-350oC <
T < 650-800oC) dan tekanan yang tinggi (1 atm < P < 10.000 atm) disebut batuan metamorf.
Proses metamorfisme tersebut terjadi di dalam bumi pada kedalaman lebih kurang 3 km 20
km. Winkler (1989) menyatakan bahwasannya proses-proses metamorfisme itu mengubah
mineral-mineral suatu batuan pada fase padat karena pengaruh atau respons terhadap kondisi
fisika dan kimia di dalam kerak bumi yang berbeda dengan kondisi sebelumnya. Prosesproses tersebut tidak termasuk pelapukan dan diagenesa.
Pembentukan Batuan Metamorf
Berdasarkan tingkat malihannya, batuan metamorf dibagi menjadi dua yaitu (1)
metamorfisme tingkat rendah (low-grade metamorphism) dan (2) metamorfisme tingkat
tinggi (high-grade metamorphism) (Gambar 3.9). Pada batuan metamorf tingkat rendah jejak
kenampakan batuan asal masih bisa diamati dan penamaannya menggunakan awalan meta (sedimen, -beku), sedangkan pada batuan metamorf tingkat tinggi jejak batuan asal sudah
tidak nampak, malihan tertinggi membentuk migmatit (batuan yang sebagian bertekstur
malihan dan sebagian lagi bertekstur beku atau igneous).

Gambar. memperlihatkan batuan asal yang mengalami metamorfisme tingkat rendah


medium dan tingkat tinggi (ODunn dan Sill, 1986).

Pembentukan batuan metamorf selain didasarkan pada tingkat malihannya juga didasarkan
pada penyebabnya. Berdasarkan penyebabnya batuan metamorf dibagi menjadi tiga yaitu (1)
Metamorfisme kontak/ termal, pengaruh T dominan; (2) Metamorfisme dinamo/
kataklastik/dislokasi/kinematik, pengaruh P dominan; dan (3) Metamorfisme regional,
terpengaruh P & T, serta daerah luas. Metamorfisme kontak terjadi pada zona kontak atau
sentuhan langsung dengan tubuh magma (intrusi) dengan lebar antara 2 3 km (Gambar
3.10). Metamorfisme dislokasi terjadi pada daerah sesar besar/ utama yaitu pada lokasi
dimana masa batuan tersebut mengalami penggerusan. Sedangkan metamorfisme regional
terjadi pada kulit bumi bagian dalam dan lebih intensif bilamana diikuti juga oleh orogenesa
(Gambar 3.11). penyebaran tubuh batuan metamorf ini luas sekali mencapai ribuan kilometer.

Gambar. memperlihatkan kontak aureole disekitar intrusi batuan beku (Gillen, 1982).

Gambar penampang yang memperlihatkan lokasi batuan metamorf (Gillen, 1982).

Geokimia Batuan Metamorft


Fasies Metamorfisme
Fasies metamorfisme merupakan suatu pengelompokan mineral-mineral metamorfik
berdasarkan tekanan dan suhu dalam pembentukannya pada batuan metamorf. Setiap fasies
pada batuan metamorf umumnya dinamakan berdasarkan jenis batuan (kumpulan mineral),
kesamaan fisik atau kesamaan kimia.
Dalam hubungannya, tekstur dan struktur batuan metamorf sangat dipengaruhi oleh tekanan
dan temperatur dalam proses metamorfisme, dan dalam fasies metamorfisme, tekanan dan
temperatur merupakan faktor dominan dimana semakin tinggi derajat metamorfisme, maka
struktur akan semakin berfoliasi dan mineral-mineral metamorfik akan semakin kasar dan
besar.
Fasies metamorf adalah sekelompok batuan yang termetamorfosa pada kondisi yang sama
yang dicirikan oleh kumpulan mineral yang tetap. Konsep ini pertama kali diperkenalkan
oleh Eskola tahun 1915. Dalam hal ini, Eskola mengemukakan bahwa kumpulan mineral
pada batuan metamorf merupakan karakteristik genetik yang sangat penting sehingga
terdapat hubungan antara kelompok mineral dengan komposisi batuan pada tingkat
metamorfosa tertentu. Dalam hal ini berarti tiap fasies metamorfik dibatasi oleh tekanan dan
temperature tertentu serta dicirikan oleh hubungan teratur antar komposisi kimia dan
mineralogi batuan.

Fasies metamorfisme juga bisa dianggap sebagai hasil dari proses isokimia metamorfisme,
yaitu proses metamorfisme yang terjadi tanpa adanya penambahan unsur-unsur kimia yang
dalam hal ini komposisi kimianya tetap. Penentuan fasies metamorf dapat dilakukan dengan
dua cara yakni dengan cara menentukan mineral penyusun batuan atau dengan menggunakan
reaksi metamorf yang dapat diperoleh dari kondisi tekanan dan temperature tertentu dari
batuan metamorf.
Menurut Turner (1960), fasies metamorfisme secara garis besar dapat dibagi menjadi
dua bagian yakni fasies metamorfosa kontak dan fasies metamorfosa regional.
Fasies metamorfosa kontak
Turner (1960) membagi fasies dari metamorfosa kontak berdasarkan penambahan suhu (baik
tekanan air konstan maupun berkurang). Metamorfosa kontak disini berarti pengaruh suhu
sangat dominan, sedangkan tekanan tidak begitu dominan. Dibagi menjadi 4 fasies yaitu:
a.

Fasies hornfels Albit-Epidot


Fasies ini biasanya berkembang di bagian paling luar dari suatu kontak sehingga proses
rekristalisasi dan reaksi metamorfosa seringkali tidak sempurna. Pencirinya adalah
adanya struktur relict / sisa yang tidak stabil.
Fasies ini terbentuk pada tekanan dan suhu yang relatif rendah. Penamaan fasies ini
didasarkan pada dua kandungan mineral utamanya yakni albit (plagioklas) dan epidot
(garnet). Hornfels sendiri adalah nama salah satu batuan metamorf yang khas terbentuk
pada zona metamorfisme kontak, dimana batuan asal biasanya berbutir halus.
Dalam Fasies ini dicirikan oleh kemunculan mineral berikut:

1.

Dalam metabasites:
albite + epidote + actinolite + klorit + kuarsa

2.

Dalam metapelites:
Muscovite + biotite + klorit + kuarsa

b.

Fasies hornfels hornblende


Fasies ini mempunyai ciri khusus yaitu tidak ditemukan klorit dan muncul untuk pertama
kalinya mineral diopsid, andradite, kordierit, hornblende, antofilit, gedrit, dan
cumingtonit.
Fasies ini terbentuk pada tekanan yang rendah, tetapi dengan suhu yang sedikit lebih
tinggi daripada fasies hornfels albit-epidot. Walaupun penamaannya menggunakan
hornblende, namun kemunculan mineral tidak hanya dibatasi oleh mineral itu saja.
Dalam fasies ini dicirikan oleh kemunculan mineral berikut:

1.

Dalam metabasites:
hornblende + plagioclase diopside, anthophyllite / cummingtonite, kuarsa

2.

Dalam metapelites:
Muscovite + biotite + andalusite + + kuarsa + kordierit plagioclase

3.

Dalam K2O - miskin atau batuan meta-sedimen:


kordierit + anthophyllite + biotite + + kuarsa plagioclase

4.

Dalam dolostone kaya Si:


dolomit + kalsit + tremolite talk

c.

Fasies hornfels piroksen


Fasies ini oleh Winkler (1967) disebut fasies Hornfels K.Feldspar Kordierit, karena
kedua mineral tersebut muncul pertama kalinya di fasies ini.
Fasies ini terbentuk pada suhu yang tinggi dan tekanan yang rendah. Mineral pencirinya
adalah orthopiroksen.
Mineral-mineral yang banyak muncul:

1.

Dalam metabasites:
orthopyroxene + clinopyroxene + plagioclase olivin atau kuarsa

2.

Dalam metapelites:
kordierit + kuarsa + sillimanite + K-feldspar (orthoclase) biotite garnet
(Jika suhu di bawah 750 akan ada andalusite bukan sillimanite)
kordierit + orthopyroxene + plagioclase garnet, spinel

3.

Dalam batuan karbonat:


kalsit + forsterit diopside, periclase
diopside + grossular + Wollastonite vesuvianite

d.

Fasies sanadinit
Fasies sanadinit adalah salah satu fasies langka karena kondisi pembentukannya
memerlukan suhu yang sangat tinggi, tetapi tekanannya rendah. Oleh karenanya, kondisi
ini hanya bisa dicapai di sekitar daerah metamorfosa kontak tetapi dengan syarat suhu
tertentu. Karena jika suhu terlalu tinggi, maka batuan bisa melebur.
Mineral-mineral yang sering muncul:

1.

Dalam metapelites:
kordierit + mullite + sanidine + tridimit (sering diubah untuk kuarsa) + kuarsa

2.

Dalam karbonat:
Wollastonite + anorthite + diopside
monticellite + melilite kalsit, diopside (juga tilleyite, spurrite, merwinite, larnite
dan langka lainnya Ca - atau Ca - Mg-silikat.
Fasies metamorfosa regional
Fasies ini meliputi daerah yang penyebarannya sangat luas dan selalu dalam bentuk sabuk
pegunungan (orogenic).

a.

Fasies Zeolit
Fasies Zeolit adalah fasies metamorf tipe regional dengan derajat terendah, dimana jika
suhu dan tekanan berkurang maka akan terjadi proses diagenesa. Pada batas diagenesa
dan metamorfisme regional, akan terjadi pengaturan kembali mineral lempung,
kristalisasi pada kuarsa dan K-feldspar, terombaknya mineral temperature tinggi dan
pengendapan karbonat. Bila perubahan ini terjadi pada butiran yang kasar, maka akan
memasuki metamorfosa dengan fasies Zeolit.
Mineral yang sering muncul:

1.

Dalam meta-batuan dan greywackes:


heulandite + analcime + kuarsa mineral lempung
laumontite + albite + kuarsa klorit

2.

Dalam meta pelites:


Muscovite + klorit + + kuarsa albite

b.

Fasies Prehnite-pumpellyite
Fasies ini terbentuk dengan kondisi suhu dan tekanan rendah, tetapi sedikit lebih tinggi
daripada fasies Zeolit. Penamaan fasies ini berasal dari kandungan dua mineral dominan
yang muncul yakni mineral prehnite (a Ca - Al - phyllosilicate) dan pumpellyite (a
sorosilicate).
Mineral yang sering muncul:
1.

Dalam meta-batuan dan greywackes:


prehnite + pumpellyite + klorit + + kuarsa albite
pumpellyite + klorit + epidote + + kuarsa albite
pumpellyite + epidote + stilpnomelane + albite Muscovite + + kuarsa

2.

Dalam metapelites:

Muscovite + klorit + + kuarsa albite


c.

Fasies Greenschist (sekis hijau)


Terbentuk pada Tekanan dan temperatur yang menengah, tetapi temperatur lebih besar
daripada tekanan. Fasies ini merupakan salah satu fasies yang penyebarannya sangat luas.
Nama fasies ini sendiri diambil dari warna mineral dominan penyusunnya yakni ada klorit
dan epidot. Batuan yang termasuk dalam fasies ini bisa batusabak, filit, sekis.
Mineral yang sering muncul:

1.

Dalam metabasites:
albite + klorit + epidote actinolite, kuarsa

2.

Dalam metagreywackes:
albite + kuarsa + epidote + Muscovite stilpnomelane

3.

Dalam metapelites:
Muscovite + klorit + + kuarsa albite
Chloritoid + klorit + + kuarsa Muscovite paragonite
Biotite + Muscovite + klorit + + kuarsa + albite Mn - garnet (spessartine)

4.

Dalam dolostones kaya-Si:


dolomit + kuarsa

d.

Fasies Blueschist (sekis biru)


Terbentuk pada tekanan dan temperatur yang menengah, tetapi temperatur lebih kecil
daripada tekanan. Fasies ini merupakan salah satu fasies yang penyebarannya sangat luas.
Nama fasies ini sendiri diambil dari warna mineral dominan penyusunnya yakni ada
glaukofan, lawsonite, jadeite, dll
Contoh batuan asal yang bisa membentuk fasies ini ialah basal, tuf, greywacke dan rijang.
Mineral-mineral yang sering muncul:

1.

Dalam metabasites:
glaucophane + lawsonite + klorit + sphene epidote phengite paragonite,
omphacite

2.

Dalam metagreywackes:
kuarsa + jadeite + lawsonite phengite, glaucophane, klorit

3.

Dalam metapelites:


4.

phengite

paragonite

carpholite

klorit

kuarsa

Dalam karbonat-batu (kelereng):


aragonite

e.

Fasies amfibolit
Fasies amfibolit terbentuk pada tekanan menengah dan suhu yang cukup tinggi.
Penyebaran fasies ini tidak seluas dari fasies sekis hijau. Batuan yang masuk dalam fasies
ini adalah pelitik, batupasir-feldspatik, basal, andesit, batuan silikat-kapur, batupasir
kapuran dan serpih amfibolit.
Mineral yang sering muncul:

1.

Dalam Metabasites
hornblende + plagioclase epidote, garnet, cummingtonite, diopside, biotite

2.

Dalam metapelites:
biotite Muscovite + + kuarsa + plagioclase garnet, staurolite, kyanite / sillimanite

3.

Dalam Si-dolostones:
dolomit + kalsit + tremolite bedak (tekanan dan temperatur yang lebih rendah)
dolomit + kalsit + diopside forsterit (tekanan dan temperatur yang lebih tinggi)

f.

Fasies granulit
Fasies ini terbentuk pada tekanan rendah-menengah, tetapi pada suhu yang tinggi, Fasies
ini adalah hasil dari metamorfosa derajat tinggi, metamorfosa yang paling bawah dari
kelompok gneissic.
Mineral yang sering muncul:

1.

Dalam metabasites:
orthopyroxene + clinopyroxene + hornblende + plagioclase biotite
orthopyroxene + plagioclase clinopyroxene + kuarsa
clinopyroxene + plagioclase + garnet orthopyroxene (tekanan yang lebih tinggi)

2.

Dalam metapelites:
garnet + kordierit + sillimanite + K-felspar + kuarsa biotite
sapphirine + orthopyroxene + K-felspar + kuarsa osumilite (pada temperatur
sangat tinggi)

g.

Fasies eklogit

10

Fasies metamorf yang paling tinggi, terbentuk pada tekanan yang sangat tinggi dan suhu
yang besar jauh di dalam bumi. Batuan ini biasanya sangat keras karena terbentuk pada
kedalaman yang besar di dalam bumi.
Mineral yang sering muncul:
1.

Dalam metabasites:
omphacite + garnet kyanite, kuarsa, hornblende, zoisite
2.

Dalam

metagranodiorite:

kuarsa + phengite + jadeite / omphacite + garnet


3.

Dalam metapelites:
phengite + garnet + kyanite + chloritoid (Mg-kaya) + kuarsa
phengite + kyanite + bedak + kuarsa jadeite

11

II.2 Klasifikasi Batuan Metamorf

Tabel 3.14 Klasifikasi Batuan Metamorf (ODunn dan Sill, 1986).

12

Tabel Klasifikasi batuan metamorf dibagi berdasarkan tekstur dan mineral mineral
penyusunnya.

Gambar 4: Fasies metamorfisme

13

Gambar diagram fasies metamorf (suhu vs tekanan)

Gambar Diagram jenis Protolith batuan metamorf (Robertson, 1990)


Contoh gambar diagram di atass menunjukkan batuan metamorf derajat rendah hingga
transisi antara derajat menengah dan tinggi.

14

BAB III PEMBAHASAN


III.1 Metamorf Tingkat Rendah

Agen atau media yang menyebabkan proses metamorfisme adalah panas, tekanan dan
cairan kimia aktif. Ketiga media tersebut dapat bekerja bersama-sama pada batuan yang
mengalami proses metamorfisme, tetapi derajat metamorfisme dan kontribusi dari tiap agen
tersebut berbeda-beda. Pada proses metamorfisme tingkat rendah, kondisi temperatur dan
tekanan hanya sedikit diatas kondisi proses pembatuan pada batuan sedimen. Sedangkan pada
proses metamorfisme tingkat tinggi, kondisinya sedikit dibawah kondisi proses peleburan
batuan.

Perubahan Tekstur dan Komposisi Mineral


Derajat metamorfisem direfleksikan oleh kenampakan tekstur dan komposisi mineral
batuan metamorf. Pada batuan metamorf tingkat rendah, batuan akan lebih kompak dan padat
dibandingkan dengan batuan asalnya. Sebagai contoh, batuan metamorf batusabat (slate)
terbentuk dari proses kompaksi yang sudah lanjut dari serpih (shale). Pada kondisi yang lebih
ekstrim, tekanan dapat menyebabkan mineral-mineral tertentu mengalami rekristalisasi.
Seperti telah diuraikan sebelumnya, air memegang peranan yang sangat penting pada proses
rekristalisasi dengan mempercepat terjadinya perpindahan ion pada mineral. Pada umumnya
proses rekristalisasi memungkinkan pertumbuhan kristal menjadi lebih besar. Hal ini
mengakibatkan banyak batuan metamorf disusun oleh mineral-mineral yang besar seperti
pada batuan fanerik. Kristal-kristal dari beberapa mineral seperti mika mempunyai struktur
lembaran, dan hornblende yang mempunyai struktur butiran yang panjang, apabila
mengalami rekristalisasi akan membentuk penjajaran mineral. Orientasi mineral baru ini
biasanya tegak lurus terhadap arah gaya tekan yang menyebabkan rekristalisasi tersebut.
Hasil dari penjajaran mineral ini menyebabkan batuan menunjukan kenampakan seperti
perlapisan yang disebut foliasi.
Ada beberapa foliasi tergantung pada derajat metamorfismenya. Selama perubahan dari
serpih menjadi batusabak, mineral lempung yang stabil pada kondisi pemukaan, mengalami
rekristalisasi menjadi lembaran-lembaran mineral mika yang halus, yang stabil pada kondisi
tekanan dan temperatur yang tinggi. Selanjutnya selama kristalisasi, kristal-kristal mika yang

15

halus membentuk orientasi, sehingga bidangnya yang datar akan membentuk penjajaran.
Akibatnya batusabak sangat mudah dipecahkan melalui bidang lapisan dari mineral mikanya.
Sifat yang semikian disebut belahan batuan (rock cleavage). Karena kristal-kristal mika yang
menyusun batusabak sangat halus, maka foliasi pada batusabak tidak musah dilihat. Tetapi
karena batusabak menunjukkan belahan batuan dengan sangat baik yang disebabkan oleh
penjajaran dari mineral penyusunnya, maka batusabak disebut batuan metamorf berfoliasi.
Pada kondisi tekanan dan temperatur yang lebih tinggi, butiran mika yang sangat halus pada
batusabak akan berkembang beberapa kali lebih besar. Kristal-kristal mika yang besar ini
akan menyebabkan kenampakan batuan yang pipih. Kenampakan batuan yang demikian
disebut sekistositas (schistosity), dan batuan dengan kenampakan yang demikian disebut
batuan metamorf sekis (schist). Beberapa batuan sekias diberi nama sesuai dengan mineral
yang menyusunnya. Apabila mineral yang menyusun dominan mineral mika, muscovit dan
biotit, maka batuannya disebut sekis mika.
Pada proses metamorfisme tingkat tinggi, perpindahan ion-ion cukup ekstrim, sehingga
menyebabkan terjadinya segregasi mineral butiran yang memberikan kenampakan banded
pada batuan. Kenampakan ini ditunjukan oleh penjajaran mineral butiran seperti kuarsa.
Batuan metamorf dengan kenampakan yang demikian disebut genes (gneiss). Batuan
metamorf ini biasanya terbentuk dari ubahan batuan beku granit atau diorit, bahkan dapat
juga terbentuk dari gabro atau serpih yang mengalami proses metamorfisme tingkat tinggi.
Batuan metamorf yang tidak menunjukkan struktur foliasi disebut batuan metamorf
nonfoliasi. Batuan metamorf ini biasanya hanya disusun oleh satu jenis mineral dengan
bentuk kristal equidimensional, sehingga sering juga batuan ini disebut batuan metamorf
kristalin. Contoh yang baik adalah batugamping yang berbutir halus mengalami proses
metamorfisme, maka butiran mineral kalsit yang halus tersebut bergabung membentuk kristal
yang saling mengisi. Hasilnya adalah batuan metamorf yang mirip dengan batuan beku yang
berbutir kasar. Batuan metamorf yang berasal dari batugamping disebut marmer (marble).
Walaupun batuan tersebut cenderung nonfoliasi, tetapi pada kenampakan mikroskopis batuan
ini menunjukkan pemipihan dan penjajaran butiran mineral. Lapisan tipis mineral lempung
sering juga dijumpai pada batugamping, yang akan mengalami distorsi pada waktu proses
metamorfisme. Distorsi yang berwarna gelap ini memberikan tekstur yang bagus pada
marmer.

16

Pada proses metamorfisme serpih menjadi batusabak, mineral lempung mengalami


rekristalisasi menjadi mika. Dalam beberapa hal komposisi kimia dari batuan uang
mengalami rekristalisasi tidak mengalami perubahan, kecuali terjadinya penggabungan dari
mineral penyusun batuan dengan ion tertentu yang terdapat dalam air untuk membentuk
mineral baru yang lebih stabil pada kondisinya yang baru. Sebagai contoh mineral batuan
metamorf yang umum adalah wolastonit. Mineral ini terbentuk pada waktu batugamping
(CaCO3) yang banyak mengandung kuarsa (SiO2) mengalami metamorfisme kontak. Pada
temperatur yang tinggi mineral kalsit dan kuarsa akan bereaksi membentuk wolastonit
(CaSiO3) dan melepaskan karbon dioksida.
Proses metamorfisme seringkali membentuk mineral-mineral baru. Batuan samping dari
suatu tubuh magma yang besar, akan mengalami ubahan oleh ion-ion yang banyak terdapat
dalam larutan hidrotermal. Perkolasi air laut pada batuan kerak samudera yang baru terbentuk
banyak mengandung ion-ion yang aktif yang bereaksi dengan batuan yang sudah ada. Proses
ini menyebabkan banyak batuan kerak samudera kaya akan bijih tembaga.
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa proses metamorfisme dapat menyebabkan terjadinya
perubahan pada batuan termasuk peningkatan densitas batuan, pertumbuhan kristal-kristal
besar, reorientasi dari butiran mineral menjadi perlapisan atau penjajaran yang disebut foliasi,
dan transformasi dari mineral stabil pada temperatur tinggi. Juga ion-ion yang aktif dapat
membentuk mineral baru yang bersifat ekonomis.
III.2 Jenis- Jenis Batuan Metamorf Tingkat Rendah
Batusabak (slate)
merupakan batuan metamorf berfoliasi yang berbutir halus dan disusun oleh mineral
mika. Batuan ini menunjukkan cleavage batuan yang sangat bagus. Karena sifatnya, maka
batusabak sering digunakan sebagai atap, lantai, papan tulis dan meja bilyard. Batusabak
terbentuk dari shale yang mengalami metamofisme tingkat rendah. Kadang-kadang batuan ini
juga terbentuk dari batuan beku volkanik. Warna batusabak bervariasi tergantung pada
kandungan mineralnya. Batusabak yang berwarna hitam banyak mengandung material
organik, batusabak merah mengandung banyak oksida besi, dan batusabak hijau mengandung
banyak mineral klorit, mineral yang menyerupai mika terbentuk dari Fe silikat. Karena
batusabak terbentuk pada metamorfisme tingkat rendah, maka bidang perlapisan batuan asal

17

kadang masih terlihat. Tetapi orientasi cleavage batuan batusabak pada umumnya cenderung
memotong perlapisan batuan asal. Jadi tidak seperti shale yang dapat memisah melalui
bidang perlapisan, batusabak memecah memotong bidang perlapisan.

Gambar Batu metamorf Slate.


Slate merupakan batuan metamorf terbentuk dari proses metamorfosisme batuan sedimen
Shale atau Mudstone (batulempung) pada temperatur dan suhu yang rendah. Memiliki
struktur foliasi (slaty cleavage) dan tersusun atas butir-butir yang sangat halus (very fine
grained).

Asal

: Metamorfisme Shale dan Mudstone

Warna

: Abu-abu, hitam, hijau, merah

Ukuran butir

: Very fine grained

Struktur

: Foliated (Slaty Cleavage)

Mineral primer:

: Quartz, Muscovite.

Mineral sekunder

: Illite, Klorid, Oksida Besi.

Derajat metamorfisme

: Rendah

Ciri khas

: Mudah membelah menjadi lembaran tipis

Filit (phyllite)
merupakan batuan metamorf yang terbentuk pada derajat metamorfismenya lebih
tinggi dari batusabak, tetapi lebih rendah dari sekis. Batuan ini disusun oleh mineral-mineral
pipih yang lebih besar daripada mineral yang menyusun batusabak, tetapi tidak cukup besar

18

untuk dibedakan tanpa alat pembesar. Walaupun kenampakan filit hampir sama dengan
batusabak, tetapi berbeda dengan batusabak dari kenampakannya yang lebih mengkilap. Filit
biasanya menunjukan adanya cleavage dan disusun terutama oleh mineral-mineral halus
seperti klorit dan mika.

Gambar Batuan metamorf filit.


Merupakan batuan metamorf yang umumnya tersusun atas kuarsa, sericite mica dan klorit.
Terbentuk dari kelanjutan proses metamorfosisme dari Slate.

Asal

: Metamorfisme Shale

Warna

: Merah, kehijauan

Ukuran butir

: Halus

Stuktur

: Foliated (Slaty-Schistose)

Mineral primer

: Mika, kuarsa

Mineral sekunder

: Klorit (ClO2-)

Derajat metamorfisme : Rendah Intermediate

Ciri khas

: Membelah mengikuti permukaan gelombang

Sekis
merupakan batuan metamorf yang sangat mudah dikenal dan sangat umum seperti
halnya genes. Sekis merupakan batuan metamorf yang mengandung lebih dari 50% mineral
pipih umumnya biotit dan muskovit. Seperti batusabak, sekis berasal dari metamorfisme
batuan yang berbutis halus seperti shale, tetapi metamorfismenya lebih tinggi. Bila batuan
asalnya banyak mengandung silika, sekis akan mengandung lapisan tipis kuarsa atau feldspar.

19

Penamaan sekis tergantung pada komposisi mineral yang dominan. Sekis yang disusun
terutama oleh muskovit dan biotit dengan sedikit kuarsa dan feldspar disebut sekis mika.
Tergantung pada derajat metamorfismenya, sekis mika kadang-kadang mengandung mineral
yang unik sebagai mineral tambahan untuk batuan metamorf. Mineral tambahan tersebut
diantaranya garnet, staurolit dan silamanit. Ada juga sekis yang mengandung grafit, yang
banyak digunakan sebagai bahan pensil, fiber dan lubrikan. Sekis juga kadang disusun oleh
mineral klorit dan talk yang disebut sekis klorit dan sekis talk. Kedua macam batuan
metamorf ini terbentuk dari batuan yang berkomposisi basaltik yang mengalami
metamorfisme.

Gambar Batuan metamorf sekis.


Schist (sekis) adalah batuan metamorf yang mengandung lapisan mika, grafit, horndlende.
Mineral pada batuan ini umumnya terpisah menjadi berkas-berkas bergelombang yang
diperlihatkan dengan kristal yang mengkilap.

Asal

: Metamorfisme siltstone, shale, basalt

Warna

: Hitam, hijau, ungu

Ukuran butir

: Fine Medium Coarse

Struktur

: Foliated (Schistose)

Mineral primer

: Mika, hornblende, biotit, muskovit, kuarsa.

Mineral sekunder

: grafit (C), garnet Al3B2(SiO4)3, staurolit dan silamanit.

Derajat metamorfisme : Intermediate Tinggi

Ciri khas

: Foliasi yang kadang bergelombang, terkadang terdapat lapisan

tipis kuarsa atau felspar

20

Genes (geneiss)
Batuan metamorf yang terutama disusun oleh mineral butiran. Mineral yang umum
terdapat pada genes adalah kuarsa, potas feldspar, sodium feldspar. Sedang mineral tambahan
yang sering dijumpai adalah muskovit, biotit dan horblende. Segregasi dari mineral terang
dan gelap memberikan kenampakan tekstur foliasi yang khas pada genes. Kebanyakan genes
terdiri dari selang seling antara mineral yang kaya feldspar yang berwarna putih atau
kemerahan dengan lapisan mineral feromagnesian yang berwarna gelap.
Genes biasanya mempunyai komposisi yang hampir sama dengan granit dan kemungkinan
berasal dari granit atau batuan afanitik granitik. Tetapi genes kemungkinan juga berasal dari
shale yang mengalami metamorfisme derajat tinggi. Dalam hal ini, genes merupakan batuan
terakhir dari sekuen shale, batusabak, filit, sekis dan genes. Seperti halnya sekis, pada genes
kadang dijumpai juga mineral garnet dan staurolit. Apabila foliasi batuan disusun terutama
oleh mineral gelap, maka batuannya disebut amfibolit, yang berasal dari nama mineral
amfibol.

Gambar Batuan metamorf Gneiss


Merupakan batuan yang terbentuk dari hasil metamorfosisme batuan beku dalam temperatur
dan tekanan yang tinggi. Dalam Gneiss dapat diperoleh rekristalisasi dan foliasi dari kuarsa,
feldspar, mika dan amphibole.

Asal

: Metamorfisme regional siltstone, shale, granit

Warna

: Abu-abu

Ukuran butir

: Medium Coarse grained

Struktur

: Foliated (Gneissic)

Mineral primer

: Kuarsa(SiO2), feldspar(KalSiO8), amphibole, mika

21

Mineral sekunder

Derajat metamorfisme : Tinggi

Ciri khas

: muskovit(Kal2(AlSi3O10)(F1OH)2), biotit dan horblende.


: Kuarsa dan feldspar nampak berselang-seling dengan lapisan

tipis kaya amphibole dan mika.

22

KESIMPULAN

batuan metamorf tingkat rendah, batuan akan lebih kompak dan padat dibandingkan
dengan batuan asalnya. Sebagai contoh, batuan metamorf batusabat (slate) terbentuk dari
proses kompaksi yang sudah lanjut dari serpih (shale). Pada kondisi yang lebih ekstrim,
tekanan dapat menyebabkan mineral-mineral tertentu mengalami rekristalisasi. Seperti telah
diuraikan sebelumnya, air memegang peranan yang sangat penting pada proses rekristalisasi
dengan mempercepat terjadinya perpindahan ion pada mineral. Pada umumnya proses
rekristalisasi memungkinkan pertumbuhan kristal menjadi lebih besar. Hal ini mengakibatkan
banyak batuan metamorf disusun oleh mineral-mineral yang besar seperti pada batuan
fanerik. Kristal-kristal dari beberapa mineral seperti mika mempunyai struktur lembaran, dan
hornblende yang mempunyai struktur butiran yang panjang, apabila mengalami rekristalisasi
akan membentuk penjajaran mineral. Orientasi mineral baru ini biasanya tegak lurus terhadap
arah gaya tekan yang menyebabkan rekristalisasi tersebut. Hasil dari penjajaran mineral ini
menyebabkan batuan menunjukan kenampakan seperti perlapisan yang disebut foliasi.

23

DAFTAR PUSTAKA

1. http://khairdblackbeard.blogspot.co.id/2012/03/batuan-metamorf.html
2. http://muhaimin-27.blogspot.co.id/2013/06/batuan-metamorf.html
3. http://jurnal-geologi.blogspot.co.id/2010/02/klasifikasi-batuan-metamorfberdasarkan.html
4. https://geohazard009.wordpress.com/2009/12/09/batuan-metamorf/
5. http://ujiannasional9.blogspot.co.id/p/mineralofgi.html
6. https://febryirfansyah.wordpress.com/2009/08/14/petrologi-batuan-metamorf/
7. https://wingmanarrows.wordpress.com/geological/petrologi/batuan-metamorf/
8. http://martinus-fonezr.blogspot.co.id/2012/06/batuan-metamorf.html
9. https://id.wikipedia.org/wiki/Batuan_metamorf
10. http://geoenviron.blogspot.co.id/2012/10/fasies-metamorf.html

24