Anda di halaman 1dari 28

REFERAT

PENDEKATAN DIAGNOSTIK DIARE KRONIS

dr. Ruswhandi, SpPD-KGEH


Twindy Rarasati Pringgoredjo
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM

PENDAHULUAN
Diare kronis merupakan salah satu keluhan utama yang lazim
ditemukan pada pasien dengan estimasi prevalensi 5%. Diare
adalah buang air besar lebih dari 200 gram/hari dengan penurunan
konsistensi, sedangkan diare kronis merupakan diare yang menetap
hingga lebih dari 4 minggu. (1)
Data dari Riskesdas oleh KEMENKES 2007 menunjukkan
prevalensi diare di Indonesia sebanyak 9 % dan merupakan
penyebab kematian ke 13 dengan proporsi 3,5% dari seluruh usia.
Data sebuah penelitian di RS Cipto Mangunkusumo menunjukkan
207 pasien dengan diare kronis pada tahun 1999 2000
disebabkan oleh infeksi sebanyak 100 pasien (48,3%), non-infeksi
sebanyak 69 pasien (33,3%) dan keduanya pada 38 pasien (18,4%).
1.
2.

(2)

Sandhu, Davinder K dan Surawicz, Christina. Update on Chronic Diarrhea: A Run-Through for the Clinician Current Gastroenterology Rep
Volume 14, hal 421 427. Springer Science. 2012.
Abdullah, Murdani dan Firmansyah M. Adi. Clinical Approach and Management of Chronic Diarrhea Acta Medica Indonesiana The
Indonesian Journal of Internal Medicine Volume 45, No. 2. 2013

DEFINISI
Diare : BAB dengan tinja cair / setengah cair,
kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya, >
200 gram atau 200 ml/24 jam. Buang air besar
encer lebih dari 3 kali per hari, dapat/tanpa
disertai lendir & darah (2)
Diare kronis : diare > 15 hari, sedangkan pakar
atau pusat studi lain mengusulkan > 2 minggu
atau 3 minggu atau 1 bulan.(1)(2)
1.
2.

Sandhu, Davinder K dan Surawicz, Christina. Update on Chronic Diarrhea: A Run-Through for the Clinician Current Gastroenterology Rep
Volume 14, hal 421 427. Springer Science. 2012.
Abdullah, Murdani dan Firmansyah M. Adi. Clinical Approach and Management of Chronic Diarrhea Acta Medica Indonesiana The
Indonesian Journal of Internal Medicine Volume 45, No. 2. 2013

KLASIFIKASI DAN ETIOLOGI

Berdasarkan Bentuk Tinja


Steatore (berlemak)
Tinja berdarah (diare inflamatorik)
Tinja cair (watery) diare tinja tidak berdarah tidak
steatore
Osmotik (retensi cairan karena buruknya absporpsi beberapa
substansi tertentu)
Fungsional (disebabkan oleh hipermotilitas usus)

Tidak semua diare kronis hanya tinja cair atau lemak saja,
karena terkadang beberapa kategori saling tumpang
tindih

PATOFISIOLOGI

PENDEKATAN DIAGNOSTIK

Anamnesis
Pemeriksaan Fisis
Pemeriksaan Penunjang

Anamnesis

Waktu & frekuensi diare


Bentuk tinja
Keluhan lain yang menyertai
Obat-obatan
Makanan dan minuman
Lain-lain

Waktu dan Frekuensi Diare


Gejala diare yang menetap selama 3 bulan dengan
pola nokturnal disertai penurunan berat badan
signifikan mengarah ke penyakit organik. (2) Tidak
intermiten atau diare timbul mendadak menunjukkan
adanya penyakit organik. Perasaan ingin buang air
besar yang tak bisa ditahan mengarah ke penyakit
inflamatorik. Diare yang terjadi pagi hari lebih banyak
berhubungan dengan stress, biasanya mengarah ke
sindrom usus iritatif (IBS). Keluhan diare yang lama
1 tahun mengarah pada diare fungsional. (3)

Bentuk Tinja
Bila terdapat minyak dalam tinja dan pucat
menunjukkan insufisiensi pankreas dan
kelainan proksimal ileosekal. Diare seperti air
dapat terjadi akibat kelaina pada semua tingkat
sistem pencernaan tetapi terutama dari usus
halus. Adanya makanan yang tidak tercerna
merupakan terlalu cepatnya waktu transit usus.
Bau asam menunjukkan penyerapan
karbohidrat yang tidak sempurna.(3)

Keluhan Penyerta
Beberapa manifestasi ekstraintestinal
perlu dievaluasi seperti perubahan
kulit, artralgia atau ulkus apthous oral
(5)

Obat-obatan
Sekitar 4% kasus diare kronis
berhubungan dengan obat-obatan
(terutama obat yang mengandung
magnesium, obat antibiotik,
antihipertensi, OAINS, antibiotik,
antiaritmia, teofilin dan agen
kemoterapi) (2)

Makanan dan Minuman


Diare kronis sering terjadi pada pasien
dengan penyalahgunaan alkohol. Hal
ini mungkin disebabkan oleh
mekanisme peningkatan waktu transit
di usus, penurunan aktivitas disakarida
intestinal dan penurunan fungsi
pankreas. (2)

Lain-lain

Riwayat tumor di keluarga, Inflammatory bowel disease atau penyakit celiac.


Riwayat operasi sebelumnya. Reseksi ileum dan kolon dekstra dapat
menyebabkan diare karena berkurangnya permukaan absoprtif, mengurangi
waktu transit atau malabsorpsi garam empedu. Pertumbuhan berlebih
bakteri juga seringkali berhubungan dengan riwayat operasi bypass, seperti
bypass gaster dan jejunoileal pada pasien obesitas. Diare kronik dapat
terjadi hingga 10% pasien setelah kolesistektomi melalui mekanisme
peningkatan waktu transit, malabsorpsi garam empedu dan peningkatan
siklus enterohepatik garam empedu.
Riwayat penyakit pankreas sebelumnya
Adanya penyakit sistemik seperti tirotoksikosis, diabetes melitus, penyakit
paratiroid dan adrenal dapat menyebabkan diare kronis melalui beberapa
mekanisme seperti efek endokrin, disfungsi autonom, pertumbuhan bakteri
berlebih pada usus halus atau penggunaan obat-obatan.

Pemeriksaan
Pemeriksaan
Pemeriksaan
Pemeriksaan
pankreas
Pemeriksaan

tinja
darah
urin
fungsi usus dan
tambahan

Pemeriksaan Tinja
Pemeriksaan tinja rutin 3 x (evaluasi adanya
darah dan leukosit pada tinja), pemeriksaan darah
samar tinja bila dicurigai malignansi, tes kultur
parasitologi dan mikrobiologi untuk mengidentifikasi
mikroorganisme penyebab diare kronis, selain itu
untuk mengevaluasi sensitivitas dan resistensi
antibiotik. (2)
Pemeriksaan pH tinja dilakukan untuk
menyingkirkan intoleransi laktosa (pH<5.5) hanya
bila pasien belum diberikan pengobatan antibiotik. (4)

Pemeriksaan Darah
Biasanya mencakup tes rutin seperti pemeriksaan
darah perifer lengkap, albumin, LED, SGOT, SGPT,
ureum, kreatinin, glukosa darah dan elektrolit. (2)
Anemia menunjukkan perdarahan maupun defisiensi
nutrisi.(5)
Leukositosis, peningkatan LED atau peningkatan
CRP mengarahkan diagnosa diare inflamatorik
sedangkan eosinofilia dapat terjadi pada infeksi
parasit, neoplasia, penyakit kolagen vaskular,
gastroenteritis eosinofil dan alergi. (4)(5)

PEMERIKSAAN URIN
Pemeriksaan urin dilakukan untuk menunjang
diagnosis sindrom/tumor karsinoid, dapat
dilakukan pemeriksaan akdar 5-HIAA urin 24
jam. VMA atau metanephrine urine untuk
pheochromocytoma. Histamin urin untuk
penyakit sell mast dan karsinoid usus
proksimal. Untuk penggunaan laksan golongan
antrhaquinone dapat diperiksa urin dengan
pemeriksaan kromatografi dan kimia. (3)

Fungsi Usus & Pankreas


Tes fungsi ileum dan jejenum : tes C cholyl glycine breath tes ini
juga penting untuk menilai fungsi ileum.
Tes fungsi pankreas : tes sekretin kolesistokinin yaitu tes
menggunakan infus terus menerus dengan hormon-hormon
tersebut, lalu diukur pengeluaran bikarbonat dan enzim. Tes ini
membantu menilai fungsi pankreas pada diare berlemak (steatora)
Tes Schilling : Untuk mendiagnosis defisiensi vitamin B12 dan
infeksi usus halus yang luas
Tes bile acid breath : mengukur kadar CO2 napas setelah
pemberian sejumlah dosis C-xylose. Pemeriksaan ini dapat
menunjukkan perkembangan bakteri pada usus halus
Tes permeabilitas usus dan tes small and large bowell transit time

Pemeriksaan Tambahan
Diare asam empedu dapat dikonfirmasi
dengan pemeriksaan scintigraphic
radiolabeled bile acid retention test namun
belum tersedia di semua negera sehingga
alternatifnya dapat diperiksa serum C4 atau
FGF-19, pengukuran asam empedu tinja atau
terapi diagnostik dengan sekuestran asam
empedu (contohnya kolestiramin atau
kolesevelam). (4)

PEMERIKSAA
N
PENUNJANG

Evaluasi Pasien Diare Osmotik

Evaluasi Pasien
Diare