Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH RADIOFARMASI

Senyawa Bertanda dan KIT Radiofarmasi

Oleh
Welny Noverianti
(1301106)
S1 VI-B

Dosen Pembimbing:
Haiyul Fadhli,M.Si,Apt.

Program Studi S1
Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau
Pekanbaru
2016

1. Senyawa bertanda
1.1 Pengertian Senyawa Bertanda
Senyawa adalah zat yang terbentuk dari penggabungan unsur-unsur
dengan pembagian tertentu. Senyawa dihasilkan dari reaksi kimia antara dua
unsur atau lebih melalui reaksi pembentukan. Misalnya, karat besi (hematit)
berupa Fe2O3 dihasilkan oleh reaksi besi (Fe) dengan oksigen (O). Senyawa
dapat diuraikan menjadi unsur-unsur pembentuknya melalui reaksi penguraian.
Senyawa bertanda adalah suatu senyawa dimana satu atau lebih atomnya
atau bagian dari struktur molekulnya diganti oleh atom atau struktur yang
mengandung atom radioaktif. Senyawa bertanda adalah senyawa yang salah satu
atau ebih atom penyusunnya merupakan radioisotop dari unsur tersebut atau
radioisotop lain yang dimasukkan pada senyawa tersebut.
Contoh senyawa bertanda yang mengandung radioisotop Cr-51, P-32, I131, atau Tc-99m[4].
1.2 Syarat-syarat senyawa Bertanda
Syarat-syarat secara umum dalam penggunaan senyawa bertanda adalah
sebagai berikut:
1) Mempunyai

konsentrasi

radioaktif

yang

sangat

tinggi,

sehingga

pemakaiannya dalam jumlah kecil.


2) Radioisotop yang dipakai harus mempunyai energi yang cukuo tinggi
sehingga dapat diukur dengan mudah oleh detektor.
3) Mempunyai waktu paro yang cukup panjang sehingga tidak perlu
dilakukan koreksi terhadap waktu paro, dan cukup waktu untuk melakukan
pengukuran.
4) Dapat bercampur dengan media atau sistem yang akan diukur/diperiksa.
5) Harus murah dan mudah diperoleh.
Dalam bidang biologi dan pertanian selain persyaratan seperti diatas juga
harus mempunyai aktivitas spesifik dan kemurnian radiokimia yang cukup tinggi.
Sedangkan senyawa bertanda yang digunakan dalam bidang kesehatan/

kedokteran mempunyai persyaratan yang cukup ketat. Selain itu pemilihan


radioisotop untuk menandai sediaan radiofarmasi harus memperhatikan beberapa
kriteria sebagai berikut:
1) Unsur/radionuklida harus mempunyai waktu paro yang pendek.
2) Lebih diutamakan radionuklida pemancar gamma berenergi rendah, energi
berkisar 100-140 KeV.
3) Ekskresi sediaan dari tubuh harus cepat.
4) Prosedur penandaan sederhana.
1.3 Karakteristik sediaan radiofarmasi yang ideal
Sediaan dapat dikatakan ideal apabila dapat memenuhi selera sipemakai,
artinya dapat memberi suatu nilai klinis yang berharga tanpa adanya suatu reaksi
atau gejala sampingan.
Ada empat parameter yang mutlak harus diketahui sebelum bekerja
dengan radiofarmasi untuk tujuan klinis, antara lain:
1) Sifat biologisnya dalam tubuh.
2) Macam dan kecepatan meluruh radioaktif.
3) Sifat-sifat deteksi.
4) Faktor produksi.
Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah:
1) Zat radioaktif harus dapat memberikan suatu respon yang cukup baik pada
alat pendeteksi atau alat pengukur.
2) Dosis absorbsi harus serendah mungkin.
3) Senyawa bertanda harus mempunyai sifat kimia yang sesuai.
4)

Relatif stabil secara kimia maupun biologis dan tidak toksik.

2.

Bentuk sediaan radiofarmasi


Ada beberapa macam bentuk sediaan yang biasa digunakan dalam bidang
kedokteran:

1)

Untuk pemberian oral. Contohnya bentuk larutan (99mTc-EC).

2)

Untuk pemberian parenteral, bentuk ini yang paling bnayak digunakan.


Penyuntikan dapat dilakukan secara intra-vena (99mTc-M!B!, 99mTc-EC).

3)

Utuk pemberian inhalasi, biasanya dalam bentuk aerosol.

4)

Untuk pemberian topikal. Biasanya untuk terapi kulit, ada yang dalam
bentuk larutan, salep atau plester.

1.4 Dasar-dasar Pembuatan senyawa Bertanda


Berdasarkan bentuknya pembuatan senyawa bertanda dibagi dalam dua
kelompok, yaitu senyawa bertanda sederhana atau biasanya bentuk anorganik dan
senyawa bertanda kompleks atau biasanya berbentuk organik.
Pada dasarnya ada empat metode pembuatan senyawa bertanda yaitu :
1.

Sintesis Secara kimia


Metode ini sama dengan proses sintesis kimia biasa hanya harus

memperhatikan beberapa variabel yang agak kompleks, karena bekerja dengan zat
radioaktif.
Contohnya pada proses sintesis senyawa bertanda C-14 yang dimulai dari
Ba14CO3 yang akan diperoleh pertama adalah gas 14CO2,kemudian senyawa
bertanda sederhana seperti Ca14CO, Na14CN, Na-formiat-C14 atau juga metanolC14, yang selalu terbentuk pada proses sintesis senyawa bertanda carbon-14. ada
dua macam sintesis kimia ini, yaitu :
a.

Sintesis Total
Sintesis yang dimulai dari senyawa radioaktif yang paling dasar atau kecil.

Contohnya pada sintesis asam asetat bertanda sintesis C-14, dapat terjadi
penandaan pada dua posisi C1 dan C2.
CH3 14 COOH (C1) dan 14CH3COOH (C2)
Kedua

senyawa

ini

Metode

pembuatannya

berbeda,

sehingga

mempengaruhi harga dari keduanya.


Sintesis asetat 14C pada C1, melalui reaksi sebagai berikut :
H2O
14

CO2 +

MgI

CH3-MgI
CH3 14COOH

CH3 14COO-

Untuk mendapatkan asam asetat-14C pada posisi C2, lebih sulit melalui 4
tahap reaksi, dengan rendemen hasil yang bermacam-macam.
14

14

CO2 + H2

CH3 OH

14

CH3 -OH + PI3

metanol

14

CH3I

14

CH3I + KCN

14

Chi 3-CN + H2O

metal iodida

14

CH3-CN

nitril asetat

14

CH3-COOH

asam asetat

Hal ini menyebabkan harga asam asetat 14C pada posisi C1 lebih murah dari
posisi C2.
b.

Hemisintesis
Sintesis yang dimulai dari suatu molekul bertanda radioaktif , kemudian

menjadi molekul lain dengan struktur yang berbeda dan lebih besar.
A. pembuatan timidin bertanda fosfor-32 (32P) melalui satu tahap reaksi
fosforilasi dari gugus OH pada posisi 5 dalam media asetonitril,
H332PO4 + T-OH

T O 32PO4H2 + H2O

Timidin monofosfat 32 yang terbentuk dimunirkan melalui resin penukar


ion, dan seluruh sintesis dan pemurnian ini memerlukan waktu selama 4 hari.
Waktu ini cukup ideal bila dibandingkan dengan T1/2 P-32 yang 14 hari.
Metode ini biasanya menghasilkan senyawa bertanda dengan aktivitas
spesifik 3 Ci/mol.
B. pembuatan senyawa rose Bengal pertanda iodium radioaktif, melalui
reaksi seperti di bawah ini dengan menghasilkan efisiensi penandaan
biasanya berkisar antara 40-60 % dengan aktivitas spepesifik 200 uCi/ug.
Dan molekul diiodium lebih sedikit dari 10 %.
2.5 Biosintesis
Biosintesis disebut juga biokimia, yang secara normal dilakukan oleh
organisme hidup dalam suatu tahap proses metabolisme, biasanya secara

enzimatis dengan menghasilkan suatu molekul biologis atau metabolit, yang


secara in vitro reaksi ini sangat sulit atau tidak mungkin dilakukan.
Pembentukannya yaitu sumber radionuklida dalam bentuk kimia yang
sesuai, dimasukkan ke dalam suatu sistem biologis yang sudah dipilih untuk
membentuk senyawa bertanda yang diinginkan.
Kelebihan dan kelemahannya :

Kelebihan
Dapat diperolehnya senyawa bertanda yang mempunyai isomer optik yang
sesuai dengan bentuk alamiahnya.

Kelemahannya
Sangat sulit mendapatkan senyawa bertanda yang murni, karena selalu
diikuti oleh senyawa bertanda lain yang berada dalam satu seri.

Contoh biosintesis:
1. Pembuatan metionin dan sistein bertanda sulfur-35 (S-35)
Radionuklida S-35 dalam bentuk Na235SO4 ditambahkan ke dalam media
khusus yang digunakan untuk tumbuhnya ragi Saccharomyces cereviside,
sehingga S-35 akan tertambat (terinkorporasi) dalam protein dalam ragi
tersebut.
Melalui proses hidrolisis, isolasi dan pemurnian dengan beberapa tahap
kromatgrafi menggunakan bahan penyerap resin penukar ion, akan
diperoleh senyawa bertanda L-35S-metionin dan L-35S-sistein dalam bentuk
murni dengn aktivitas spesifik yang cukup tinggi.
2. Pembuatan karbohidrat/asam amino bertanda Carbon-14 (C-14)
Pembiakan ganggang hijau (algae) Chlorella, yang disinari dalam udara
(ambiant) yang mengandung gas 14CO12. Radionuklida C-14 akan
tertambat baik dalam protein maupun karbohidrat dari ganggang tersebut.
Setelah dihidrolisis, diisolasi dan melalui pemurnian yang rumit dan

panjang, diperoleh karbohidrat (gula) atau asam amino bertanda C-14 yang
murni.
Reaksi Pertukaran Isotonik
Reaksi pertukaran isotonik adalah pergantian suatu atom dalam suatu
molekul dengan isotop radioaktifnya. Dalam mekanisme reaksi pertukaran ini,
pada beberapa hal tertentu diperlukan suatu tambahan energi aktifasi dari luar.
Sumber energi yang dapat dipergunakan adalah:
Pengocokan dan pemanasan
Penambahan katalisator
Eksitasi vibrasi (dengan pengaduk ultrasonik)
Gelombang micro
Penyinaran dengan sinar ultraviolet
Contoh :
Pembuatan hormon triiodositoronin (T3) dan tiroksin (T4) bertanda
iodium radioaktif (l-131 atau l-125)
Rumus umumnya:
R-l

l*

R-I*

Jawab:
Penandaan T3 dan T4 dengan l-125 atau l-131. reaksi penukaran terjadi
pada atom I yang berada pada posisi 3 dari T3, dan posisi 3 dan 5 pada T4.
Dalam metode ini, umumnya rendemen penandaan agak rendah, dan ini
biasanya diperbaiki dengan penambahan bahan oksidator, yang kemudian
ditambahkan reduktor untuk menghentikan reaksi. Oksidator yang biasa di
gunakan adalah kloramin T, iodpgen, hydrogen peroksida, seperti peroksidase,
laktoperoksidase, dan glukosa peroksidase, sedangkan reduktor biasanya senyawa
sulfit atau biosulfit.
Untuk pembuatan masing-masing molekul, semua kondisi pekerjaan
harus sudah di ketahui dengan pasti, seperti:
-

sifat dari pelarut

temperatur reaksi yang harus di gunakan

penyinaran dengan ultra violet

lamanya kontak atau reaksi

hubungan konsentrasi dari pelarut dan senyawa yang akan ditandai

konsentrasi larutan perunut yang digunakan, dll.


Keuntungan metode ini adalah

Mekanisme reaksi dapat diketahui dengan mudah, karena merupakan


reaksi kimia yang umum telah di kenal.

Senyawa bertanda yang diperoleh sangat murni.

Dapat dipilih salah satu atau beberapa atom stabil diganti dengan atom
radoisotopnya.

Metode pemurnian tidak terlalu sulit.

A. Sintesis Khusus
Adalah metode pembuatan senyawa bertanda, dimana perunutnya
adalah radionuklida yang mempunyai waktu paruh pendek. Misalnya Tc-99m
(T1/2=6jam), In-113m (T1/2=1,7 jam), C-11 (T1/2=20,4 menit), F-18 (T1/2= 110
menit) dan I-123 (T1/2= 13,3 jam).
a.

Pembuatan senyawa bertanda C-11, F-18


Ketiga Radioisotop ini diproduksi dari siklotron atau akselerator
linier. Suatu inti stabil dari molekul kimia yang biasanya sederhana,
dibombardir dengan partikel bermuatan seperti elektron, proton, deuteron dan
partikel alfa. Problem utama yang timbul dalam penggunaan radioisotop ini
adalah bagaimana mengurangi waktu dari mulai radioisotope ini dibuat oleh
produsen sampai senyawa bertandanya dapat digunakan oleh pemakai, baik
untuk penggunaan medikal atau biologis, yang disebabkan oleh T1/2 yang
pendek. Untuk hal ini perlu dicari suatu metode pembuatan dan pemurnian
yang sangat cepat.

1.

Radioisotop C-11 dibuat dengan gas N2 (nitrogen) yang stabil dibombardir


dengan proton pada 50 MeV

14

N (p,) 11C

Gas 11CO2 yang diperoleh diabsorpsi oleh senyawa barium (BaO), dan dapat
diubah dengan dengan adanya gas H2 menjadi 11CN.
11

C + N2 +H2 H-11CN

H11CN yang terjadi dapat digunakan untuk pembuatan senyawa bertanda lain,
contohnya 11 C-l-dopamin.
2.

Radiosotop F-18 diperoleh dari akselerator melalui reaksi nuklir gas


oksigen atau air yang dibombardir dengan inti Helium.
16

O (5He,x) 18F atau 16O (4He, x) 18F

b. Sintesis senyawa bertanda Teknesium- 99m


Sesuai dengan perkembangan kedokteran nuklir, dan sekian banyak
radionuklida yang telah dikembangkan diantaranya radionuklida Tc-99m
yang paling banyak digunakan untuk tujuan diagnosis. Hal ini disebabkan
karena sifat dari radionuklida ini baik secara fisika maupun kimia sangat ideal
untuk keperluan bidang kesehatan. Secara fisika, teknesium-99m mempunyai
umur paro yang relative singkat yaitu 6 jam, memancarkan sinar gamma
murni dengan energi 140 KeV. Secara kimia radionuklida ini sangat mudah
berikatan dengan molekul atau bahan kimia lain, karena mempunyai tingkat
oksidasi yang bermacam-macam yaitu dari -1 sampai dengan +7, dengan
bilangan koordinasi dari 4-9 dengan membentuk ikatan koordinasi dengan
banyak atom donor. Larutan 99m Tc-perteknetat (TcV11) dapat diperoleh dari
generator 99Mo-99mTc, baik dari generator kolom, sublimator maupun dari
ekstraktor.
Umumnya

dalam

pembuatan

senyawa

bertanda Tc-99m,

melibatkan suatu tahap reduksi dari TcVll ke tingkat oksidasi yang lebih
rendah, tergantung dari ligan atau molekul yang akan bereaksi dengannya,
sehingga terbentuk senyawa bertanda berbentuk kompleks organo-logam,
dimana Tc-99m merupakan inti logamnya (Tc-Core).
Untuk menurunkan tingkat oksidasi Tc-99m inin, diperlukan bahan
reduktor. Beberapa reduktor yang dapat digunakan adalah:

Timah (ll) klorida /fluorida (SnCl2/ SnF2).

Kombinasi antara ferri klorida (FeCl3) dan asam askorbat (vit C)

Ferro klorida (FeCl2)

Na-boro hidrid

HCl pekat

NaN3 (natrium azida)

Senyawa aldehida

Secara elektrolisis
Kebanyakan dan sering digunakan adalah ion Sn11 dalam bentuk SnCl2 atau

SnF2 yang pada awal dengan penambahan asam HCl. Untuk pembuatan
radiofarmaka bertanda Tc pada suasana basa, reduktor yang dipilih adalah Snasetat atau Sn tartrat.
1.6 Kegunaan senyawa Bertanda
1.6.1 Penggunaan Radioisotop dalam Bidang Kedokteran dan Medis
Radioisotop dapat digunakan untuk radioterapi, seperti larutan iodium-131
(Na131l) untuk terapi kelainan tiroid dan fosfor-32 (Na2H32PO4) yang merupakan
radioisotop andalan dalam terapi polisitemia vera dan leukemia. Selain, itu
radioisotop juga dapat digunakan untuk radiodiagnosis seperti teknesium-99m
(Na99mTcO4) untuk diagnosis fungsi dan anatomis organ tubuh, sedangkan studi
sirkulasi dan kehilangan darah dapat dilakukan dengan radioisotop krom-51
(Na2 51CrO4).
Radiasi dalam dosis tertentu dapat mematikan mikroorganisme sehingga
dapat digunakan untuk sterilisasi alat-alat kedokteran. Sterilisasi dengan cara
radiasi mempunyai beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan sterilisasi
konvensional (menggunakan bahan kimia), yaitu: Sterilisasi radiasi lebih

sempurna

dalam

mematikan

mikroorganisme.

Sterilisasi

radiasi

tidak

meninggalkan residu bahan kimia.


Karena dikemas dulu baru disetrilkan maka alat tersebut tidak mungkin
tercemar bakteri lagi sampai kemasan terbuka. Berbeda dengan cara konvensional,
yaitu disterilkan dulu baru dikemas, maka dalam proses pengemasan masih ada
kemungkinan terkena bibit penyakit
Radiofarmaka merupakan senyawa radioaktif yang digunakan dalam
bidang kedokteran nuklir, baik untuk tujuan diagnosis maupun terapi. Dalam
aplikasinya hampir 95% dari radiofarmaka digunakan untuk keperluan diagnosis
berbagai kelainan organ tubuh
Untuk tujuan diagnosis, radioisotop yang ideal adalah Teknesium-99m
karena sifatnya yang menguntungkan sebagai penyidik organ, diantaranya :

Mempunyai umur paro fisik yang relatif pendek (6 jam)

Memancarkan sinar gamma murni dengan energi tunggal sebesar 140 keV.
Toksisitasnya rendah.

Pengadaan radioisotop Teknesium-99m dapat diperoleh dengan sistem


generator 99Mo-99mTc yang pemisahannya dapat dilakukan di rumah sakit,
sehingga radiofarmaka yang menggunakan radioisotop tersebut dapat
diformulasi dalam bentuk kit kering yaitu sediaan yang dikemas secara
terpisah dari radioisotopnya.
1.6.2 Penggunaan radiofarmaka bertanda Teknesium-99m
Saat ini, berbagai radiofarmaka bertanda Teknesium-99m untuk tujuan
diagnosis telah beredar di pasaran. Dengan menggunakan senyawa bertanda
tersebut, berbagai kelainan tubuh dan organ dapat terungkap. Secara prinsip,
radiofarmaka yang dimasukkan ke dalam tubuh akan diangkut oleh darah dan
didistribusikan ke organ tubuh secara selektif sesuai dengan radiofarmaka yang
digunakan.

1.6.3 Bidang Kardiologi dan Arteriologi


Dalam bidang ini dapat digunakan 99mTc-isonitril dan derivatnya seperti
99mTc-MIBI untuk menilai perfusi dan viabilitas miokardiak, sedangkan 99mTcpirofosfat digunakan untuk infark dan penelusuran keadaan peredaran darah.
1.6.4 Bidang Nefrologi
Dalam kasus penyakit ginjal, 99mTc-EC (etil disistein), 99mTc-MAG-3
berperan penting dalam mempelajari sekresi tubulus ginjal, sedangkan
glukoheptonat, DMSA dan DTPA bertanda Teknesium99m sangat berguna dalam
mempelajari sekresi glomerulus ginjal.
1.6.5 Bidang Neurologi
Sediaan 99mTc-HMPAO dan 99mTc-ECD merupakan radiofarmaka yang
menjadi harapan untuk menegakkan diagnosis penyakit Alzheimer, stroke dan
trensient ischemic attack.
1.6.6 Bidang Pulmonologi
Dalam diagnosis kelainan paru-paru radiofarmaka 99mTc-makro agregat
albumin (MAA) dengan ukuran partikel tertentu masih untuk digunakan sidik
perfusi paru-paru.
1.6.7 Bidang Gastroenterologi dan Hepatobiliari
Dalam bidang ini, radiofarmaka 99mTc-sulfur koloid dalam diagnosis
kelainan gastrointestin, sedangkan 99mTc-HIDA membantu dalam menemukan
kelainan hati dan saluran empedu.
1.6.8 Bidang Onkologi
Di bidang ini senyawa fosfat dan fosfonat seperti tripolifosfat dan metilen
difosfonat (MDP) sering digunakan untuk penentuan kanker tulang. Sifat
multifungsi dari radiofarmaka 99mTc-MIBI juga dapat digunakan untuk

penentuan kanker payudara. Selain itu, fungsi radiofarmaka 99mTc-sulfur koloid


dapat diandalkan dalam menelusuri kelainan sistem limfatik.
Unsur radioaktif, dalam hal ini radioisotop Teknesium-99m yang
memancarkan sinar gamma berperan sebagai perunut dan memudahkan observasi
dengan alat yang digunakan, seperti kamera gamma. Sedangkan senyawa yang
lainnya bertindak sebagai pembawa untuk mencapai sasaran yang diinginkan
sehingga diperoleh gambaran organ dan dapat memberikan informasi mengenai
morfologi serta fungsi dari organ tersebut.
2.Jenis Kit-Kering Radiofarmaka bertanda Teknesium-99m Produksi Pusat
Teknologi Nuklir bahan dan Radiometri (PTNBR)
Jenis Radiofarmaka
Cardiostan 0,5 (MIBI)
Cardiostan 1,0 (MIBI)
Glukoheptostan (GHA)
Macrostan (MAA)
Neurostan (ECD)
Pyrostan (Pirosfat)
Renocystan (EC)
Renomercapstan

Kode
Tck-01
Tck-02
Tck-03
Tck-04
Tck-05
Tck-06
Tck-07

Kegunaan
Sidik Jantung &
Kanker Payudara
Sidik Ginjal
Perfusi Paru
Saraf & Otak
Pembuluh Darah
Sidik Ginjal

(DMSA)
Sulfostan (Sulfur koloid)
Hepatostan (HIDA)

Tck-08
Tck-09
Tck-10

Sidik Ginjal
Sidik Sistem Limfatik
Hepatobiliari

2. KIT Radiofarmasi
2.1 Definisi
Kit radiofarmasi Merupakan bentuk sediaan setengah jadi yang belum
mengandung unsur radioaktif yang terdiri dari suatu senyawa dan pereaksi dalam
jumlah terukur dengan pelarut ( kit basah ) atau tanpa pelarut ( kit kering ) yang
telah diformulasi sedemikian rupa
Aspek penting dari kit
1. sederhana, hanya dengan 1 step prosedur
2. kesalahan dan kontaminasi kecil
3. waktu kadaluarsa panjang ( lyophylize)

4. efisiensi penandaan tinggi ( besar dr 95 %)


Proses pembuatan Ada 2 bentuk kit radiofarmasi, yaitu kit basah dan kit
kering.

Prosedur pembuatan antara ke dua kit tidak jauh berbeda dengan

pembuatan sediaan steril biasa. Untuk kit kering ( lyophilize kit )di formulasi dan
dikeringkan dengan proses freeze drying atau pengeringan beku
1. Prinsip freeze drying
Prinsip freeze drying Adalah proses pengeringan melalui tahap pembekuan
dan sublimasi dalam keadaan vakum. Pada keadaan ini air yang terdapat
dalam bahan yang dikeringkan akan menjadi uap air tanpa melalui fase cair.
Tiga tahapan proses freeze drying
1) Tahap pembekuan,

seluruh zat benar-benar sudah membeku, zat

organik dan anorganik akan mengalami pembekuan yang berbeda.


2) Tahap pemvakuman tekanan diusahakan mencapai 5-25 mmHg, tujuan
untuk menghilangkan seluruh gas yang tidak dapat terkondensasi
2) Tahap pemanasan,

Merupakan tahap akhir untuk mengusir air yang

terkandung dalam zat yang dikeringkan, kenaikan temperatur harus


dikontrol agar tidak terjadi kenaikan suhu dari zat yang dikeringkan, zat
yang kering harus segera ditutup, untuk mencegah masuknya kembali
uap air.
Tahap-tahap produksi kit radiofarmasi
1. Tahap persiapan
-

Formulasi, Penimbangan harus teliti, berhubungan dengan dosis

Pengaturan pH

Pengaturan temperatur

Penambahan bahan aditif,

pengawet dll
-

Peralatan, Peralatan dan ruangan harus steril, obat suntik

Personil, Harus menggunakan perlengkapan-perlengkapan steril

2. Tahap produksi Pembuatan ligand


- Pengisian ke dalam wadah/vial

3.
-

Pengeringan/freeze drying
Penutupan wadah/vial setelah dialiri gas nitrogen
Pengepakan
Penyimpanan

Tahap pemeriksaan mutu


Pemeriksaan fisika
Pemeriksaan kimia
Pemeriksaan biologis
Pemeriksaan farmakologis

2.2 Contoh-contoh kit radiofarmsi


1. DTPA ( dietilen triamin penta acetic acid )
Tiap flakon 10 ml mengandung
DTPA 10 mg Timah (2) klorida 0,2 mg
Indikasi Penyidik fungsi ginjal, ukuran ginjal, lokasi dan anatomi Evaluasi
semikuantitatif fungsi ginjal Untuk pasien yang sensitif dgn iodium Informasi
anatomi ginjal pasien dgn kadar N tinggi dlm drh
2. HEDSPA ( hydroksi ethilidene penta acetic acid )
- HEDSPA 25 mg
- timah klorida 10 mg
Indikasi: Penyidik tulang terutama patologis pembentukan tulang , Sintigrafi
utk penyidik metatase pada karsinoma
3. HIDA ( hydroxy imino di acetat )
R/ HIDA 120 mg
timah klorida 8 mg
Indikasi : Penyidik sistem hepatobiliar
4. Fitat
R/ Na Fitat setara dengan asam fitat 10 mg
timah klorida 8,005 mg
Indikasi : Penyidik sistem retikuloendotelial,
retikuloendotelial
5.
6.
7.
8.
9.

MAA
MDP ( metilen diposfonat )
Pirofosfat
Sulfur koloid
Tripolifosfat

Menggambarkan luas sel

DAFTAR PUSTAKA
Duyeh,Setiawan,M.T.2010.

Radiokimia

Teori

Dasar

Nuklir..Cet.pertama.Bandung: Widya Padjadjaran.

Aplikasi

Teknik

Anda mungkin juga menyukai