Anda di halaman 1dari 26

TUGAS PATOBIOLOGI II

MUTASI

OLEH
NAMA

: A. ULFA FERDHYANTI

NIM

: P1505214008

DOSEN

: dr. Liong Boy Kurniawan, M. Kes., Sp.PK

PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK KONSETRASI KIMIA KLINIK


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

I. LATAR BELAKANG
Cakupan biologi molekuler begitu luas dan perkembangannya begitu
cepat, sehingga tidaklah mudah untuk memberikan gambaran menyeluruh
mengenai cabang ilmu ini. Biologi molekuler muncul sebagai kelanjutan dua
cabang ilmu yang sudah ada sebelumnya, yaitu genetika dan ilmu biokimia. Pada
tahun 1953 Watson dan Crick mengemukakan bahwa kebanyakan molekul DNA
mempunyai bentuk sebagai pita spiral dobel yang saling berpilin (double helix).
Penemuan ini didahului oleh penemuan penting sebelumnya, antara lain
penemuan gen oleh Mendel 1853, pembuktian bahwa gen terdapat dalam
kromosom oleh Morgan dkk 1910-1915, dan akhirnya penemuan bahwa gen
adalah DNA oleh Avery, Mcleod dan McCarty (1944)1,2.
Genetika adalah ilmu pewarisan factor keturunan (hereditas). Ilmu
genetika ini meliputi studi tentang apa yang dimaksud dengan gen, bagaimana gen
dapat membawa informasi genetic, gen direplikasikan dan dilewatkan dari
generasi ke ganerasi, dan bagaimana gen dapat mengekspresikan informasi di
dalam organisme yang akan menentukan karakteristik organisme yang
bersangkutan2.
Informasi genetic di dalam sel disebut genom. Genom sel diorganisasi di
dalam kromosom. Kromosom adalah suatu struktur yang mengandung DNA,
dimana DNA secara fisik membawa informasi herediter. Kromosom mengandung
gen. Gen adalah segmen dari DNA (kecuali pada beberapa virus RNA), dimana
gen mengkode protein. Informasi keturunan diletakkan dalam urutan basa dari
molekul-molekul DNA. Fragmen-fragmen DNA yang informasinya diubah
menjadi molekul-molekul yang fungsional, dikenal sebagai gen2,3.
DNA adalah makromolekul yang tersusun atas unit berulang yang disebut
nukleotida. Setiap nukleotida terdiri atas basa nitrogen adenine (A), timin (T),
sitosin (cytosine,C), atau guanine (G); deoksiribosa (suatu gula pentose) dan
sebuah gugus fosfat. DNA di dalam sel terdapat sebagai rantai panjang nukleotida
yang berpasangan dan membelit menjadi satu membentuk struktur helix ganda
(double helix). Kedua rantai terkait oleh ikatan hydrogen yang terdapat di antara
Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen
A.ULFA FERDHYANTI
1

basa basa nitrogennya. Pasangan basa selalu terdapat dalam pola spesifik yaitu
adenine selalu berpasangan dengan timin, dan sitosin selalu berpasangan dengan
guanine. Akibat pasangan basa yang spesifik ini, maka sekuens basa pada satu
rantai menentukan sekuens basa pada rantai pasangannya, sehingga kedua rantai
dikatakan saling komplementer. Informasi genetic dikode oleh sekuens sekuens
basa disepanjang rantai DNA. Struktur komplementer juga memungkinkan
duplikasi presisi DNA selama proses pembelahan sel2.
Penemuan penting lainnya adalah bahwa suatu gen menentukan suatu
protein. Hal ini sebenarnya telah lama diduga, namun mekanismenya baru
ditemukan dan dirumuskan oleh Crick pada tahun 1958, yaitu bahwa urutan
nukleotida dalam DNA menentukan urutan nukleotida dalam RNA yang
selanjutnya menentukan urutan asam amino dalam protein. Berbagai penemuan
tersebut yang terjadi dalam decade ke-5 dan ke-6 abad ini (abad XX) memicu
perkembangan biologi molecular. Perkembangan biologi molekuler menjadi lebih
dipercepat

dengan

munculnya

rekayasa

genetika,

yang

memungkinkan

penggandaan, isolasi gen serta mutasi genetik2.


Mutasi adalah perubahan pada materi genetik suatu makhluk yang terjadi
secara tiba-tiba, acak, dan merupakan dasar bagi sumber variasi organisma hidup
yang bersifat terwariskan (heritable). Istilah mutasi pertama kali dipergunakan
oleh Hugo de vries, untuk mengemukakan adanya perubahan fenotip yang
mendadak pada bunga oenothera lamarckiana dan bersifat menurun. Ternyata
perubahan tersebut terjadi karena adanya penyimpangan dari kromosomnya. Seth
wright juga melaporkan peristiwa mutasi pada domba jenis Ancon yang berkaki
pendek dan bersifat menurun2.

Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen


A.ULFA FERDHYANTI
2

II.TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Pengertian
Mutasi berasal dari kata Mutatus (bahasa latin) yang artinya adalah
perubahan. Mutasi didefenisikan sebagai perubahan materi genetic (DNA) yang
dapat diwariskan secara genetis keketurunannya4.
Sejak awal tahun 1900, mutasi diartikan sebagai perubahan hereditas.
Pada tahun 1901, Hugo de Vries mengemukakan istilah mutasi pertama kali
dalam bukunya The Theory of Mutation. Vries menemukan adanya perubahan
pada

tanaman

Oenthora

lamarckina

yang

diyakini

karena

adanya

penyimpangan genotip secara tiba-tiba dan diturunkan pada keturunan


berikutnya. Selanjutnya, pada tahun 1927, Herman J. Muller (ahli genetika)
menemukan mutasi pada lalat buah (Drosophila melanogaster) oleh pengaruh
radiasi sinar X5.
Mutasi adalah perubahan pada materi genetik suatu makhluk yang
terjadi secara tiba-tiba, acak, dan merupakan dasar bagi sumber variasi organisme
hidup yang bersifat terwariskan (heritable). Mutasi juga dapat diartikan sebagai
perubahan struktural atau komposisi genom suatu jasad yang dapat terjadi karena
faktor luar (mutagen) atau karena kesalahan replikasi. Peristiwa terjadinya mutasi
disebut mutagenesis. Makhluk hidup yang mengalami mutasi disebut mutan dan
factor penyebab mutasi disebut mutagen (mutagenic agent). Perubahan urutan
nukleotida yang menyebabkan protein yang dihasilkan tidak dapat berfungsi baik
dalam sel dan sel tidak mampu mentolerir inaktifnya protein tersebut, maka akan
menyebabkan kematian (lethal mutation)4.
Mutasi dapat mempengaruhi DNA maupun kromosom. DNA dapat
dipengaruhi pada saat sintesis DNA (replikasi). Pada saat tersebut factor
mutagenic mempengarugi pasangan basa nukleutida sehingga tidak berpasangan
dengan basa nukleutida yang seharusnya (mismatch). Misalnya triplet DNA
cetakan adalah TTA. Namun karena adanya mutagen menyebabkan DNA
polymerase memasangkan A dengan C, bukan dengan T4. Untuk lebih jelasnya
mekanisme mutasi dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen
A.ULFA FERDHYANTI
3

II.2. Jenis-jenis Mutasi


II.2.1 Menurut Kejadiannya
Mutasi dapat terjadi secara spontan (spontaneous mutation) dan juga
dapat terjadi melalui induksi (induced mutation). Mutasi spontan adalah mutasi
(perubahan materi genetik) yang terjadi akibat adanya sesuatu pengaruh yang
tidak jelas, baik dari lingkungan luar maupun dari internal organisme itu sendiri.
Sedangkan mutasi terinduksi adalah mutasi yang terjadi akibat paparan dari
sesuatu yang jelas, misalnya paparan sinar UV. Secara mendasar tidak
terdapat perbedaan antara mutasi yang terjadi secara alami dan mutasi hasil
induksi4.
II.2.2 Berdasarkan Sel yang Bermutasi
Berdasarkan jenis sel yang mengalami mutasi, mutasi dibedakan atas
mutasi somatik dan mutasi gametik atau germinal. Mutasi somatik adalah mutasi
yang terjadi pada sel-sel somatik. Sedangkan mutasi gametik atau germinal adalah
mutasi yang terjadi pada sel gamet. Mutasi somatik dapat diturunkan dan dapat
pula tidak diturunkan. Sedangkan mutasi gametik, karena terjadinya di sel gamet,
maka akan diwariskan oleh keturunannya4
II.2.3 Berdasarkan Bagian yang Bermutasi
A. Mutasi gen
Mutasi gen adalah perubahan susunan basa nitrogen pada nukleotida,
disebut juga mutasi titik (point mutation). Perubahan struktur DNA (gen) yang
terjadi pada lokus tunggal kromosom dinamakan mutasi gen atau point mutation.
Bahwa fenotip pada suatu organisme ditentukan oleh susunan nukleotida dalam
molekul DNA. Perubahan pada satu atau lebih nukleotida dapat menyebabkan
kesalahan pembentukan asam amino yang akan membentuk protein (enzim)5.
Mutasi tidak selalu diwariskan kepada keturunan. Bila mutasi gen terjadi
pada sel-sel somatis (sel tubuh) maka perubahan fenotip yang terjadi tidak
diturunkan pada generasi berikutnya. Hanya mutasi gen pada sel-sel kelamin
(gamet) saja yang perubahan fenotipnya diwariskan kepada keturunan5.
Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen
A.ULFA FERDHYANTI
4

Kita dapat membuat perumpamaan untuk dapat memahami adanya mutasi


gen. Anggaplah tiap-tiap nukleotida itu sebagai huruf-huruf dalam alfabet. Hurufhuruf tersebut akan menjadi satu kelompok sebagai mesin kimia sel yang
berfungsi menginstruksikan untuk membuat protein khusus. Satu per satu huruf
akan tersusun dan membuat suatu kata yang mempunyai arti khusus. Jika terjadi
kesalahan penyusunan huruf-huruf, misalnya terbalik susunannya atau hilang
salah satu hurufnya maka kata tersebut tidak dapat diartikan lagi atau memiliki
arti lain (tak sesuai dengan yang diharapkan). Dalam keadaan tersebut, sel tidak
dapat membentuk protein karena informasi tidak jelas atau membentuk protein
lain. Dalam kasus yang lain, perubahan gen menimbulkan informasi khusus yang
baru. Selanjutnya, akan dibentuk protein sesuai dengan instruksi yang baru
tersebut.

Protein

yang

terbentuk

setelah

sel mengalami mutasi gen

berbeda dengan protein pada sel normal5.


Mutasi gen dapat terjadi melalui beberapa cara, antara lain sebagai berikut.
1. Mutasi gen akibat kesalahan selama penggandaan DNA oleh mutagen
Sebelum terjadi pembelahan sel, setiap sel harus menggandakan seluruh
urutan DNA-nya melalui proses replikasi. Proses tersebut dimulai ketika DNA
helikase akan mengopi setiap setiap pita DNA untuk menciptakan pita double
helix DNA. Pada saat itulah faktor mutagen bereaksi sehingga menyebabkan
kesalahan dalam pemasangan pasangan basa nukleotida. Satu kesalahan yang
dilakukan oleh DNA polimerase akan menyebabkan perubahan pada urutan basa
DNA10.
2. Terputusnya ikatan Oksigen-Fosfat
Mutagen mampu memutus ikatan antara oksigen dan kelompok fosfat.
Pada kejadian tersebut

bagian

pangkal

DNA yang

putus akan kembali

tersambung tetapi bukan dengan potongan semula melainkan dengan potongan


DNA lain. Akibatnya, sintesis protein menjadi berubah sehingga menimbulkan
peristiwa mutasi10.
3. Subsitusi Pasangan Basa
Substitusi pasangan basa adalah peristiwa penggantian satu pasangan
Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen
A.ULFA FERDHYANTI
5

nukleotida oleh pasangan nukleotida yang lain. Substitusi dapat berupa transisi
dan transversi. Subtitusi pasangan basa ialah pergantian satu pasang nukleotida
oleh pasangan nukleotida lainnya. Subtitusi pasangan basa ada dua macam, yaitu
transisi dan tranversi6.
Subtitusi pasangan basa ini kadang-kadang tidak menyebabkan perubahan
protein, karena adanya kodon sinonim (kodon yang terdiri atas tiga urutan basa
yang berbeda, tetapi menghasilkan asam amino yang sama). Misalnya, basa
nitrogen pada DNA adalah CGC menjadi CGA sehingga terjadi perubahan kodon
pada RNA-d dari GCG menjadi GCU. Sedangkan, asam amino yang dipanggil
sama, yaitu arginin6.
a. Mutasi transisi, yaitu suatu pergantian basa purin dengan basa purin lain atau
pergantian basa pirimidin dengan basa pirimidin lain; atau disebut juga
pergantian suatu pasangan basa purin-pirimidin dengan pasangan purinpirimidin lain. Transisi sesama basa purin, misalnya basa adenin diganti
menjadi basa guanin atau sebaliknya. Sedangkan, transisi sesama basa
pirimidin, misalnya basa timin diganti oleh basa sitosin atau sebaliknya 4,6.
Seperti pada gambar di bawah ini:

Gambar 1. Mutasi transisi (dikutip dari Mutasi Warianto. 2011)

2. Mutasi tranversi, yaitu suatu pergantian antara purin dengan pirimidin


pada posisi yang sama (Chaedar warianto). Transversi adalah penggantian
satu basa purin oleh satu basa pirimbidin atau satu basa pirimbidin oleh satu
basa purin (buku putri rahayu sekarani). Tranversi basa purin oleh basa
pirimidin, misalnya basa adenin atau guanin diganti menjadi basa timin atau
sitosin. Tranversi basa pirimidin oleh basa purin, misalnya basa timin atau
sitosin menjadi basa adenin atau guanin6. Seperti tampak pada gambar di
bawah ini
Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen
A.ULFA FERDHYANTI
6

Gambar 2. Mutasi Tranversi (dikutip dari Mutasi Warianto. 2011)

4. Perubahan Jumlah Basa


Keusakan DNA dapat terjadi akibat perubahan jumlah basa, baik melalui
peristiwa adisi, insersi, atau delesi. Jika perubahan tersebut terjadi akibat
penambahan satu atau lebih basa pada bagian ujung suatu gen maka disebut
adisi, sedangan penambahan pada bagian tengah gen disebut dengan insersi. Jika
perubahan yang terjadi akibat pengurangan satu atau lebih basa, maka disebut
dengan delesi10.
Mutasi gen yang lain adalah perubahan jumlah basa akibat penambahan
atau pengurangan basa. Penambahan atau pengurangan basa pada DNA dapat
menyebabkan perubahan sederetan kodon RNA-d yang terdapat di belakang titik
perubahan tersebut, berarti juga akan terjadi perubahan asam amino yang
disandikan melalui RNA-d tersebut. Akibat lain dari penambahan atau
pengurangan basa adalah terjadinya pergeseran kodon akhir pada RNA-d.
Pergeseran kodon akhir menyebabkan rantai polipeptida mutan menjadi lebih
panjang atau lebih pendek. Mutasi ini disebut juga mutasi ubah rangka karena
menyebabkan perubahan ukuran pada DNA maupun polipeptida6.
Mutasi karena penambahan basa, misalnya basa DNA awalnya AGC-GTC
menjadi TAG-CGT-C. Sedangkan, jika basa DNA tersebut mengalami
pengurangan basa maka urutannya menjadi GCG-TC.... Penambahan atau
pengurangan basa dapat terjadi di bagian awal, di tengah, atau di akhir7.
a. Adisi
Penambahan satu atau lebih basa pada bagian ujung suatu gen maka disebut
adisi4.
Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen
A.ULFA FERDHYANTI
7

b. Insersi
Insersi, yaitu penambahan satu atau lebih pasangan nukleotida pada suatu
gen4. seperti tampak pada gambar di bawah ini:

Gambar 3. Mutasi Insersi (dikutip dari


http://2012books.lardbucket.org/books/introduction-to-chemistry-general-organic-andbiological (accesed Oct 24 2015))

Gambar 4. Mutasi Insersi (dikutip dari Mutasi Warianto. 2011)

c. Delesi
Delesi, yaitu pengurangan satu atau lebih pasangan nukleotida pada suatu
gen4. Seperti tampak pada gambar di bawah ini:

Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen


A.ULFA FERDHYANTI
8

Gambar 5. Mutasi Insersi (dikutip dari http://2012books.lardbucket.org/books/


introduction-to-chemistry-general-organic-and-biological (accesed Oct 24 2015))

Gambar 6. Mutasi Insersi (dikutip dari Mutasi Warianto. 2011)

5. Perubahan Letak Urutan Basa


Kerusakan DNA juga dapat terjadi akibat perubahan letak urutan basa.
Pada kejadian tersebut letak urutan basa tertentu bertukar tempat dengan basa
lainnya. Pada kondisi yang demikian terjadi perubahan asam amino pada urutan
tempat basa tersebut.
Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen
A.ULFA FERDHYANTI
9

Mutasi gen adalah mutasi yang terjadi dalam lingkup gen. Peristiwa yang
terjadi pada mutasi gen adalah perubahan urutan-urutan DNA4. Adapun jenisjenis mutasi gen adalah sebagai berikut:
1. Mutasi salah arti (missens mutation), yaitu perubahan suatu kode genetic
(umumnya pada posisi 1 dan 2 pada kodon) sehingga menyebabkan asam
amino terkait (pada polipeptida) berubah. Perubahan pada asam amino dapat
menghasilkan fenotip mutan apabila asam amino yang berubah merupakan
asam amino esensial bagi protein tersebut. Jenis mutasi ini dapat disebabkan
oleh peristiwa transisi dan tranversi4.
2. Mutasi diam (silent mutation), yaitu perubahan suatu pasangan basa dalam
gen (pada posisi 3 kodon) yang menimbulkan perubahan satu kode genetik
tetapi tidak mengakibatkan perubahan atau pergantian asam amino yang
dikode. Mutasi diam biasanya disebabkan karena terjadinya mutasi transisi
dan tranversi4,.

Gambar 7. Silent Mutation (dikutip dari Variation and Mutationi Marthese Azzopardi.
2014)

3. Mutasi tanpa arti (nonsense mutation), yaitu perubahan kodon asam amino
tertentu menjadi kodon stop. Hampir semua mutasi tanpa arti mengarah
pada inaktifnya suatu protein sehingga menghasilkan fenotip mutan.
Mutasi ini dapat terjadi baik oleh tranversi, transisi, delesi, maupun insersi4.
Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen
A.ULFA FERDHYANTI
10

4. Mutasi perubahan rangka baca (frameshift mutation), yaitu mutasi yang terjadi
karena delesi atau insersi satu atau lebih pasang basa dalam satu gen sehingga
ribosom membaca kodon tidak lengkap. Akibatnya akan menghasilkan fenotip
mutan4.
B. Mutasi kromosom
Mutasi kromosom yaitu mutasi yang disebabkan karena perubahan
struktur kromosom atau perubahan jumlah kromosom. Istilah mutasi pada
umumnya digunakan untuk perubahan gen, sedangkan perubahan kromosom yang
dapat diamati dikenal sebagai variasi kromosom atau mutasi besar/ gross mutation
atau aberasi. Mutasi kromosom sering terjadi karena kesalahan pada meiosis
maupun pada mitosis. Pada prinsipnya, mutasi kromosom digolongkan rnenjadi
dua2, yaitu sebagai berikut.
1. Mutasi Komosom Akibat Perubahan Jumlah Kromosom
Mutasi kromosom yang terjadi karena perubahan jumlah kromosom (ploid)
melibatkan kehilangan atau penambahan perangkat kromosom (genom) disebut
euploid, sedang yang hanva terjadi pada salah satu kromosom dari genorn disebut
aneuploid2.
a. Euploid (eu = benar; ploid = unit), yaitu jenis mutasi dimana terjadi
perubahan

pada

jumlah

n.

Makhluk

hidup

yang

terjadi

dari

perkembangbiakan secara kawin, pada umumnya bersifat diploid, memiliki 2


perangkat kromosom atau 2 genom pada sel somatisnya (2n kromosom).
Organismee yang kehilangan I set kromosomnya sehingga memiliki satu
genom atau satu perangkat kromosom (n kromosom) dalam sel somatisnya
disebut monoploid. Sedang organisme yang memiliki lebih dari dua genom
disebut poliploid. Mutasi poliploid ada dua, yaitu (1) autopoliploid yang
terjadi akibat n-nya mengganda sendiri karena kesalahan meiosis dan
terjadi pada krornosom homolog, misalnya semangka tak berbiji; dan (2)
alopoIiploid yang terjadi karena perkawinan atau hybrid antara spesies yang
berbeda jumlah set kromosomnya dan terjadi pada kromosom non homolog,
misalnya Rhaphanobrassica (akar seperti kol, daun mirip lobak)2,5.
Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen
A.ULFA FERDHYANTI
11

b. Aneuploid (an = tidak; eu = benar; Ploid = Unit), yaitu jenis mutasi dimana
terjadi perubahan jumlah kromosom.

Mutasi

kromosom

ini

tidak

melibatkan seluruh genom yang berubah, rnelainkan hanya terjadi pada


salah satu kromosom dari genom. Mutasi ini disebut juga dengan istilah
aneusomik. Penyebab mutasi ini adalah anafase lag (peristiwa tidak
melekatnya benang-benang spindle ke sentromer) dan nondisjunction
(gagal berpisal)2,5. Macam-macam aneusomik antara lain sebagai berikut.
1) Monosomik (2n-1); yaitu mutasi karena kekurangan satu kromosom,
misalnya Sindrom Turner pada manusia dimana jumlah kromosomnya 45
dan kehilangan 1 kromosom kelamin (22AA+X0).
2) Nullisomik (2n-2); yaitu mutasi karena kekurangan dua kromosom.
3) Trisomik (2n + 1); yaitu mutasi karena kelebihan satu kromosom, misalnya
Sindrom Klinefelter pada manusia dengan kariotipe 22AA+XXY dan
Sindrom Jacobs (22AA+XYY).
4) tetrasomik (2n * 2); yaitu mutasi karena kelebihan dua kromosom.
2. Mutasi Kromosom Akibat Perubahan Struktur Kromosom
Mutasi karena perubahan struktur kromosom atau kerusakan bentuk
kromosom disebut juga dengan istilah aberasi. Macam-macam aberasi dapat
dijelaskan sebagai berikut2.
a. Delesi atau defesiensi
Delesi

adalah

mutasi

karena

kekurangan

segmen

kromosom.

Penghilangan dapat terjadi pada segmen panjang lengan kromosom seperti yang
dilaporkan pada tanaman gandum. Tergantung pada gen dan tingkat ploidi,
defisiensi dapat menyebabkan kematian, separuh kematian, atau menurunkan
viabilitas2.

Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen


A.ULFA FERDHYANTI
12

a. deletion terminal

b. Deletion interstitial

Gambar 8. Delesi terminal and delesi interstitial (dikutip dariCancer


Cytogenetics Sverre and Felix. 2008)

Delesi berarti hilangnya segmen kromosom (Gambar 8). Apakah delesi


ditafsirkan sebagai terminal atau interstitial jelas dari breakpoint sebutan. Dengan
demikian, del (I) (Q23) menunjukkan penghapusan terminal dengan istirahat di
pita lq23 dan kehilangan segmen lengan panjang distal. Kromosom yang tersisa
terdiri dari seluruh yang pendek lengan kromosom I dan bagian dari lengan
panjang yang antara sentromer dan Band lq23. Sebaliknya, del (I) (q21q31)
menunjukkan penghapusan interstitial dengan kerusakan dan reuni di band lq21
dan lq31. Macam-macam delesi antara lain2,8:
1). Delesi terminal; ialah delesi yang kehilangan ujung segmen kromosom.
2). Delesi intertitial; ialah delesi yang kehilangan bagian tengah kromosom
b. Duplikasi
Mutasi karena kelebihan segmen kromosom. Mutasi ini terjadi pada
waktu meiosis, sehingga memungkinkan adanya kromosom lain (homolognya)
yang tetap normal. Duplikasi menampilkan cara peningkatan jumlah gen pada
kondisi diploid. Dulikasi dapat terjadi melalui beberapa cara seperti: pematahan
kromosom yang kemudian diikuti dengan transposisi segmen yang patah,
Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen
A.ULFA FERDHYANTI
13

penyimpangan dari mekanisme crossing-over pada meiosis (fase pembelahan


sel), rekombinasi kromosom saat terjadi translokasi, sebagai konsekuensi
dari inversi heterosigot, dan sebagai konsekuensi dari perlakuan bahan mutagen.
Beberapa kejadian duplikasi telah dilaporkan dapat miningkatkan viabilitas
tanaman. Pengaruh radiasi terhadap duplikasi kromosom telah banyak
dipelajari pada bermacam jenis tanaman seperti jagung, kapas, dan barley2,8.

Gambar 9. Duplikasi (dikutip dariCancer Cytogenetics Sverre and Felix. 2008)

Hal diatas menunjukkan adanya tambahan salinan bagian dari kromosom


(Gambar. 3.5). Breakpoints menggambarkan segmen digandakan, misalnya,
dup( 1) (q2 1 Q3 1)8.
c. Translokasi
Translokasi

ialah

mutasi

yang

mengalami

kromosom ke kromosom non homolog2,8.

Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen


A.ULFA FERDHYANTI
14

pertukaran

segmen

Gambar 10. Translokasi (dikutip dariCancer Cytogenetics Sverre and Felix. 2008)

Translokasi, disingkat t: Ini berarti bahwa segmen kromosom bergerak


dari satu kromosom yang lain (Gambar. 10). Translokasi mungkin atau mungkin
tidak timbal balik. 46, XX,t (9; 22) (q34; ql1) sehingga menggambarkan
kariotipe perempuan dinyatakan normal mengandung translokasi antara
kromosom 9 dan 22 dengan breakpoint di kromosom 9 di pita q34 dan di
kromosom 22 pada pita ql 1. Demikian pula, t (3; 9; 22) (q13; q34; ql1)
menunjukkan

tiga-break

penataan

ulang

yang

melibatkan

Band

13 di kromosom 3, q34 band kromosom 9, dan band ql 1 di kromosom 222,8.


Macam-macam translokasi antara lain sebagai berikut.
l). Translokasi homozigot (resiprok)
Translokasi homo zigot ialah translokasi yang mengalami pertukaran segmen
kedua kromosom homolog dengan segmen kedua kromosom non homolog.
2). Translokasi heterozigot (non resiprok)
Translokasi heterozigot ialah translokasi yang hanya mengalami pertukaran satu
segmen kromosom ke satu segmen kromosom nonhomolog.
3). Translokasi Robertson
Translokasi Robertson ialah translokasi yang terjadi karena penggabungan dua
kromosom akrosentrik menjadi satu kromosom metasentrik, maka disebut juga
fusion (penggabungan).
Translokasi terjadi apabila dua benang kromosom patah setelah terkena
energi radiasi, kemudian patahan benang kromosom bergabung kembali dengan
cara baru. Patahan kromosom yang satu berpindah atau bertukar pada kromosom
yang lain sehingga terbentuk kromosom baru yang berbeda dengan kromosom
aslinya.

Translokasi

dapat

terjadi

baik

di

dalam

satu

kromosom

(intrachromosome) maupun antar kromosom (interchromosome). Translokasi


sering mengarah pada ketidakseimbangan gamet sehingga dapat menyebabkan
kemandulan (sterility) karena terbentuknya chromatids dengan duplikasi dan
penghapusan. Alhasil, pemasangan dan pemisahan gamet jadi tidak teratur
sehingga kondisi ini menyebabkan terbentuknya tanaman aneuploidi. Translokasi
Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen
A.ULFA FERDHYANTI
15

dilaporkan telah terjadi pada tanaman Aegilops umbellulata dan Triticum


aestivum yang menghasilkan mutan tanaman tahan penyakit.
d.

Inversi
Inversi ialah mutasi yang mengalami perubahan letak gen-gen, karena

selama meiosis kromosom terpilin dan terjadi kiasma. Inversi terjadi karena
kromosom patah dua kali secara simultan setelah terkena energi radiasi dan
segmen yang patah tersebut berotasi 180o dan menyatu kembali. Kejadian bila
centromere berada pada bagian kromosom yang terinversi disebut pericentric,
sedangkan bila centromere berada di luar kromosom yang terinversi disebut
paracentric. Inversi pericentric berhubungan dengan duplikasi atau penghapusan
chromatid yang dapat menyebabkan aborsi gamet atau pengurangan frequensi
rekombinasi gamet. Perubahan ini akan ditandai dengan adanya aborsi tepung sari
atau biji tanaman, seperti dilaporkan terjadi pada tanaman jagung dan barley.
Inversi dapat terjadi secara spontan atau diinduksi dengan bahan mutagen, dan
dilaporkan bahwa sterilitas biji tanaman heterosigot dijumpai lebih rendah pada
kejadian inversi daripada translokasi2,8.

Gambar 11. Inversi (dikutip dari Cancer Cytogenetics Sverre and Felix. 2008)

Inversi, disingkat inv: ini menunjuk rotasi 1800 "dari dalam segmen
kromosom. Kariotipe 46, XY, inv (16) (p 13q22), kerusakan dan penyatuan
kembali telah terjadi di band 16~13 dan 36q22. Segmen antara band-band ini
masih ada tapi terbalik pada gambar 112,8.
Macam-macam inversi antara lain sebagai berikut.
Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen
A.ULFA FERDHYANTI
16

1). Inversi parasentrik; teriadi pada kromosom yang tidak bersentromer.


2). lnversi perisentrik; terjadi pada kromosom yang bersentromer.
e. Isokromosom
lsokromosom ialah mutasi kromosom yang terjadi pada waktu
menduplikasikan diri, pembelahan sentromernya mengalami perubahan arah
pembelahan sehingga terbentuklah dua kromosom yang masing-masing
berlengan identik (sama). Dilihat dari pembelahan sentromer maka isokromosom
disebut juga fision, jadi peristiwanya berlawanan dengan translokasi Robertson
(fusion) yang mengalami penggabungan2,8.

Gambar 12. Isokromosom (dikutip dari Cancer Cytogenetics Sverre and Felix. 2008)

Isochromosomes terdiri dari lengan yang bayangan cermin satu sama lain.
Mereka hasil dari misdivision dari sentromer (kerusakan melintang). Salah satu
contohnya adalah i(12p), sebuah isochromosome untuk lengan pendek kromosom
12 (Gambar. 12). Penunjukan i(12p) dapat digunakan dalam teks, tetapi
isochromosome harus ditulis i(I2) (p10) dalam deskripsi kariotipe. "Band" 12 ~10
adalah fiktif satu; itu adalah sisi. Latar midcentromeric yang menghadap ke
lengan

pendek.

Sebuah

isochromosome

untuk

panjang

lengan

kromosom 12 ditulis dengan i(12) (q10)8.


f. Katenasi
Katenasi ialah mutasi kromosom yang terjadi pada dua kromosom non
homolog yang pada waktu membelah menjadi empat kromosom, salinq bertemu
ujung-ujungnya sehingga membentuk lingkaran2.
B.

Penyebab Mutasi (Mutagen)

Penyebab mutasi dalam lingkungan dapat bersifat fisik, kimia, dan biologis.
Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen
A.ULFA FERDHYANTI
17

1. Mutagen Fisik
Penyebab mutasi dalam lingkungan yang bersifat fisik adalah radiasi dan suhu.
Radiasi sebagai penyebab mutasi dibedakan menjadi radiasi pengion dan
radiasi bukan pengion. Radiasi pengion adalah radiasi berenergi tinggi
sedangkan radiasi bukan pengion adalah radiasi berenergi rendah. Contoh radiasi
pengion adalah radiasi sinar X, sinar gamma, radiasi sinar kosmik. Contoh
radiasi bukan pengion adalah radiasi sinar UV. Radiasi

pengion

mampu

menembus jaringan atau tubuh makhluk hidup karena berenergi tinggi.


Sementara radiasi bukan pengion hanya dapat menembus lapisan sel-sel
permukaan karena berenergi rendah. Radiasi sinar tersebut akan menyebabkan
perpindahan elektron-elektron ke tingkat energi yang lebih tinggi. Ataom-ataom
yang memiliki elektron-elektron sedemikian dinyatakan tereksitasi atau
tergiatkan. Molekul-molekul yang mengandung atom yang berada dalam keadaan
tereksitasi maupun terionisasi secara kimiawi lebih reaktif daripada molekul yang
memiliki atom-atom yang berada dalam kondisi stabil. Raktivitas yang meningkat
tersebut mengundang terjadinya sejumlah reaksi kimia, terutama mutasi.
Radiasi pengion dapat menyebabkan terjadinya mutasi gen dan pemutusan
kromosom yang berakibat delesi, duplikasi, insersi, translokasi serta fragmentasi
kromosom umumnya2,4,10.
2. Mutagen Kimiawi
Penyebab mutasi dalam lingkungan yang bersifat kimiawi disebut juga mutagen
kimiawi. Mutagen-mutagen kimiawi tersebut dapat dipilah menjadi 3 kelompok,
yaitu analog basa, agen pengubah basa dan agen penyela. Senyawa yang
merupakan contoh analog basa adalah 5-Bromourasil (5 BU). 5-BU adalah
analog timin. Dalam hubungan ini posisi karbon ke-5 ditempati oleh gugus brom
padahal posisi itu sebelumnya ditempati oleh gugus metil. Keberadaan gugus
brom mengubah distribusi muatan serta meningkatkan peluang terjadinya
tautomerik. Senyawa yang tergolong agen pengubah basa adalah mutagen yang
secara langsung mengubah struktur maupun sifat kimia dari basa, yang termasuk
kelompok ini adalah agen deaminasi, agen hidroksilasi serta agen alkilasi.
Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen
A.ULFA FERDHYANTI
18

Perlakuan dengan asam nitrit, misalnya, terhadap sitosin akan menghasilkan urasil
yang berpasangan dengan adenin sehingga terjadi mutasi dari pasangan basa S-G
menjadi T-A. Agen hidroksilasi adalah mutagen hydroxammin yang bereaksi
khusus dengan sitosin dan menguabhnya sehingga sitosisn hanya dapat
berpasangan dengan adenin. Sebagai akibatnya terjadi mutasi dari SG menjadi
TA.agen alkilasi mengintroduksi gugus alkil ke dalam basa pada sejumlah posisi
sehingga menyebabkan perubahan basa yang akibatnya akan terbentuk pasangan
basa yang tidak lazim. Senyawa yang tergolong agen interkalasi akan melakukan
insersi antara basa-basa yang berdekatan pada sati atau kedua unting DNA.
Contoh agen interkalasi adalah proflavin, aeridine, ethidium bromide, dioxin dan
ICR-702,4,10.

II.4. Contoh Penyakit yang Disebabkan Mutasi Genetik


1. Kanker
Sel kanker adalah sel normal yang mengalami mutasi/perubahan genetik dan
tumbuh tanpa terkoordinasi dengan sel-sel tubuh lain. Proses pembentukan kanker
(karsinogenesis) merupakan kejadian somatik dan sejak lama diduga disebabkan
karena akumulasi perubahan genetic dan epigenetik yang menyebabkan
perubahan pengaturan normal kontrol molekuler perkembangbiakan sel.
Perubahan genetik tersebut dapat berupa aktivasi proto-onkogen dan atau
inaktivasi gen penekan tumor yang dapat memicu tumorigenesis dan memperbesar
progresinya. Banyak sekali percobaan (bahkan sampai jutaan) telah dilakukan
untuk mempelajari karakteristika suatu kanker dengan menggunakan hewan
percobaan seperti tikus, mencit, anjing,domba, bahkan organisme bersel tunggal,
dll2.
Sel kanker yang tak mampu berinteraksi secara sinkron dengan lingkungan
dan membelah tanpa kendali bersaing dengan sel normal dalam memperoleh
bahan makanan dari tubuh dan oksigen. Tumor dapat menggantikan jaringan sehat
Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen
A.ULFA FERDHYANTI
19

dan terkadang menyebar ke bagian lain dari tubuh yakni suatu proses pemendekan
umur yang lazim disebut metastasis. Potensi metastasis ini diperbesar oleh
perubahan genetik yang lain. Jika tidak diobati, kebanyakan kanker mengarah ke
pesakitan dan bahkan kematian. Kanker muncul melalui perubahan genetik
rangkap/ganda dalam sel induk dari organ tubuh. Sebagian perubahan yang tidak
dapat dihapuskan akan terus menumpuk bersamaan dengan bertambahnya umur
dan tidak dapat dihindari, akan tetapi predisposisi genetik, faktor lingkungan dan
yang paling banyak yakni gaya hidup adalah factor-faktor yang penting. Beberapa
orang lahir dengan mutasi tertentu dalam DNA-nya yang dapat mengarah ke
kanker. Sebagai contoh, seorang wanita lahir dengan mutasi pada gen yang
disebut BRCA1akan membentuk kanker payudara atau rahim jauh lebih banyak
daripada wanita yang tidak mempunyai mutasi demikian2.
Karsinogen eksogen (dari luar) dan proses biologik endogen dapat
menyebabkan mutasi delesi, insersi atau substitusi basa baik transisi maupun
transversi. Mekanisme endogen kerusakan DNA yang telah diketahui dengan baik
adalah fenomena deaminasi 5-metilsitosin. Metilasi DNA adalah merupakan
mekanisme epigenetik yang melibatkan pengaturan ekspresi suatu gen. Residu
sitosin dan 5-metilsitosin masing-masing dapat secara spontan dideaminasi
menjadi urasil dan timin yang jika tidak diperbaiki akan menyebabkan mutasi
transisi G:CA:T. Mutasi ini paling banyak terjadi pada dinukleotida CpG
(sitosin diikuti oleh guanin) yang seringkali mengalami metilasi. Studi spektrum
mutasi menyatakan adanya corak khas perubahan DNA yang diinduksi oleh
mutagen endogen dan eksogen tertentu dalam gen yang berhubungan dengan
kanker2.
Selama masa hidupnya, sel normal senantiasa terkena pajanan berbagai
tekanan (stress) endogen dan eksogen yang dapat merubah karakter normalnya
yang melibatkan perubahan genetik. Perubahan genetik yang dapat menyebabkan
mutasi sangat membahayakan sel karena akan dapat diwariskan ke sel
keturunannya dan mengarah ke pembentukan neoplasia. Mutasi p53 adalah
perubahan genetik yang paling umum ditemukan pada kanker manusia dan
Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen
A.ULFA FERDHYANTI
20

fungsi p53 hilang secara tidak langsung baik oleh eksklusi inti, interaksi dengan
protein virus seperti pada kanker serviks, ataupun melalui interaksinya dengan
overekspresi protein mdm2. Genp53 berperan dalam pengaturan siklus sel dengan
mengontrol sejumlah gen termasuk gen untuk apoptosis jika kerusakannya berat2.
2. Albinisme
Albinism (dari bahasa latin albus berarti putih, juga disebut achroma,
achromasia atau achromatosis) adalah merupakan bentuk gangguan kongenital
hipopigmentasi, yang terciri dengan gejala partial atau total kekurangan pigmen
melanin pada mata, kulit dan rambut. Albinisme/albino/bule (Indonesia) adalah
gangguan keturunan alele resesif, kondisi ini menyebabkan penyakit keurangan
pigmen yang dapat terjadi pada makhluk mamalia (termasuk manusia), ikan,
burung, reptil dan amfibia. Kebanyakan kasus albino disebabkan oleh keturunan
biologi dari gen resesif alele, tetapi ada sebagian disebabkan oleh mutasi gen yang
menyebabkan albino. Albinisme dapat terjadi pada semua orang dari berbagai
bangsa di dunia12.
Penyakit albino tersebut disebabkan terjadinya gangguan produksi melanin
dalam tubuh, dimana albinisme dikategorikan dalam dua bentuk yaitu tyrosinase
positif (+) atau negatif (-). Pada kasus albinisme tyrosinase(+) , enzim tyrosinase
ada dalam tubuh, sel pigmen (melanosit) tidak mampu memproduksi melanin.
Sedangkan pada tyrosinase(-), enzim tyrosinase tidak berfungsi sama sekali,
pengelompokan ini berdasarkan hasil penelitian terkini. Paling tidak ada empat
gen yang berperan terhadap penyebab albinisme OCA 1-4. Oculocutaneous
albinisme 1 (OCA1) disebabkan oleh mutasi gen tyrosinase (TYR) pada
kromosom 11q14.3. Gen tersebut mengandung 5 exon berukuran sekitar 65 kb
DNA genom dan terkode pada protein dari asam amino ke 529. TYR adalah
enzim yang mengandung Cu yang mengkatalisis dua tahapan pertama alami jalur
biosintesis melanin, yang menggabungkan tyrosin pada L-dihidro-fenilalanin
(DOPA) yang menghasilkan DOPAquinone12.
Bila terjadi mutasi akan menyebabkan tidak terjadi aktivitas tyrosinase
sama sekali pada gen OCA1A, dimana mutasi tersebut juga mengganggu aktivitas
Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen
A.ULFA FERDHYANTI
21

beberapa enzim yang menyebabkan pada OCA1B, menyebabkan tidak adanya


akumulasi pigmen melanin selamanya. Mutasi gen OCA2 menyebabkan
perubahan fenotipe OCA2. Gen tersebut terdiri dari 24 exon yang berukuran 345
DNA genom pada lokasi 15q11.2-q12 dan terkode pada 838 asam amino. Protein
OCA2 sangat penting dalam biogenesis dari melanosom dan secara normal
memproses dan transport protein melanosom seperti TYR dan TYRP1.
Oculocutaneous albinisme 3 disebabkan oleh mutasi gen tyrosinase-related
protein 1 (TYRP1) pada kromosom 9p23. TYRP1 berukuran sekitar 17kb DNA
genom dan mengandung 8 exon yang terkode protein dari 536 asam amino.
Tyrosin-related protein1(TYRP1) adalah enzim yang berperan dalam proses
biosintesis melanin yang mengkatalisis oksidasi dari 5,6-dihidroxyindol-2carboxylic acid (DHICA) monomer kedalam melanin. Penelitian pada melanosit
mencit terlihat bahwa TYRP1 berfungsi untuk menstabilisasi Tyr dan terjadi
mutasi pada TRYP1 menyebabkan terjadinya penundaan masa kedewasaan dan
degradasi Tyr lebih awal. Bila terjadi mutasi pada gen membrane-associate
transporter protein (MATP) menyebabkan terjadinya albinisme tipe OCA4. Gen
MATP terdiri dari 7 exon berukuran 40 kb DNA genome dan maping pada
kromosom 5p13.3. Protein MATP adalah asam amino ke 530 terdiri dari 12
putativ transmembaran domain dan terlihat strukur dan sequen mirip dengan
transporter sukrose pada tanaman. Terjadinya mutasi pada MATP ditemukan
pertama kali pada pasien bangsa Turki yang menderita kelainan albinisme OCA12..
3. Sindrom Turner ditemukan oleh H.H Turner tahun 1938
Ciri-cirinya:
a. kariotipe : 45 X O (44 autosom + 1 kromosom X) diderita oleh
wanita
b. tinggi badan cenderung pendek
c. alat kelamin terlambat perkembangannya (infantil)
d. sisi leher tambah tumbuhan daging
e. bentuk kaki X
f. kedua puting susu berjarak melebar
Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen
A.ULFA FERDHYANTI
22

g. keterbelakanga mental
4. Sindrom Klinefelter; ditemukan oleh Klinefelter tahun 1942
Ciri-cirinya:
a. Kariotipe 47, XXY (kelebihan kromosom seks X) diderita oleh pria
b. Bulu badan tidak tumbuh
c. Testis mengecil, mandul (steril)
d. Buah dada membesar
e. Tinggi badan berlebih
f. Jika

jumlah

kromosom

lebih

dari

dua,

mengalami

keterbalakangan mental

5. Sindrom Jacob, ditemukan oleh P.A.Jacobs tahun 1965


Ciri-cirinya:
a. Kariotipe 47, XYY (kelebihan sebuah kromosom seks Y), diderita
oleh pria
b. Perawakan tinggi
c. Bersifat antisocial, agresif
d. Suka melawan hokum
6. Sindrom Down, ditemukan oleh LongdonDown tahun 1866
Ciri-cirinya:
a. Kariotipe 47, XX atau 47, XY
b. Mongolism, bertelapak tebal seperti telapak kera
c. Mata sipit miring ke samping
d. Bibir tebal, lidah menjulur, liur selalu menetes
e. Gigi kecil-kecil dan jarang
f. I. Q. rendah (kurang lebih 40)

Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen


A.ULFA FERDHYANTI
23

III. KESIMPULAN
1. Mutasi merupakan peristiwa berubahnya susunan materi genetika yang
berakibat berubahnya fenotipe suatu makhluk hidup.
2. Mutasi dapat berupa mutasi germinal dan mutasi somatis (mutasi berdasarkan
sel yang mengalaminya); mutasi alami dan mutasi buatan (berdasarkan faktor
kejadiannya); dan mutasi gen dan mutasi kromosom (berdasarkan
tingkatannya).
3. Mutasi germinal merupakan mutasi yang terjadi pada sel-sel germinal dan
bersifat heritable (dapat diwariskan kepada keturunannya). Mutasi somatis
merupakan mutassi yang terjadi pada sel-sel tubuh, tidak bersifat menurun.
4. Mutasi alami merupakan mutasi yang terjadi secara alami, tanpa dapat
diidentifikasi penyebabnya, dan terjadi secara tiba-tiba (spontan). Mutasi
buatan merupakan mutasi yang sengaja dilakukan oleh manusia.
5. Mutasi gen merupakan mutasi pada gen sehingga menyebabkan terjadinya
perubahan urutan basa pada DNA di dalam kromosom. Mutasi kromosom
merupakan mutasi pada kromsom sehingga menyebabkan terjadinya
perubahan susunan atau jumlah dari kromosom

Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen


A.ULFA FERDHYANTI
24

DAFTAR PUSTAKA
1. Suryo. Genetika Manusia. Yogyakarta, Gadjah Mada University Press,
1986; 31
2. Pagala, Hendra. Mutasi Genetik. 2010; 1-15; www.scribd.com on
(accessed Oktober 20, 2015)
3. Koolman, Jan and Klaus-Heinrich Rhm. Atlas Berwarna dan Teks
Biokimia. Jakarta, Hipokrates, 2000; 216.
4. Warianto, Chaidar. Mutasi, 2011; 1-5; www.docs-library.com on (accessed
Oktober 16, 2015)
5. Arruji, Edo. Biologi Mutasi. Jakarta, Penerbit Univesitas Islam Negeri
Jakarta, 2014; 1-19.
6. Mandelkern M, Elias J, Eden D, Crothers D (2003). "The dimensions of
DNA in solution". J Mol Biol 152 (1): 15361.
7. Anthony JF Griffiths, Jeffrey H Miller, David T Suzuki, Richard C
Lewontin, and William M Gelbart (2000). "An Introduction to Genetic
Analysis". University of British Columbia, University of California,
Harvard University (ed. 7) (W. H. Freeman). hlm. Properties of RNA.
8. Sverre Hein and Felix Mitheman. Cancer Cytogenetics. Mexico, A John
Willey & Sons, Inc Publication., 2008; 17-23.
9. Azzopardi, Marthese. Variation and Mutation. University of Malta,
Published on Dec 10, 2014, acces on 24 oktober 2015
(http://www.slideshare.net)
10. Sekarini, Putri Rahayu. Biologi Mutasi. Jakarta, Penerbit Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014: 3-12
11. http://2012books.lardbucket.org/books/introduction-to-chemistry-generalorganic-and-biological/s22-05-mutations-and-genetic-diseases.html
(accesed Oct 24 2015)
12. Drmono. Jurnal Penyakit Genetik karena Mutasi DNA Mitochondria dan
Mmultifaktor
Genetik.
(Acces
on
24
oktober
2015
(http://www.slideshare.net)).

Tugas Patobiologi II- Mutasi Gen


A.ULFA FERDHYANTI
25