Anda di halaman 1dari 22

A.

DEFINISI
Pendarahan internal (internal yang juga disebut perdarahan ) adalah
kehilangan darah yang terjadi dari sistem vaskular ke dalam rongga atau
ruang tubuh. Hal ini berpotensi dapat menyebabkan kematian dan serangan

B.

jantung jika pengobatan medis yang tepat tidak diterima dengan cepat.
PENYEBAB
1. Trauma
Perdarahan yang disebabkan oleh trauma tumpul atau dengan penetrasi
trauma.
2. Kondisi Patalogis dan Penyakit
Sejumlah kondisi patalogis dan penyakit dapat menyebabkan perdarahan
internal, pembuluh darah pecah akibat tekanan darah tinggi, varises
osofagus, tukak lambung. Penyakit lainnya seperti hepatoma, kanker hati,
trombositopenia, kehamilan ektopik, kista ovarium, defisiensi vitamin K,
hemophilia, dan malaria.
3. Iatrogenik
Perdarahan internal bisa menjadi artefak iatrogenic akibat komplikasi
setelah operasi bedah dan perawatan medis, beberapa efek obat juga dapat
menyebabkan perdarahan internal seperti obat antikoogulan, dan

antiplatelet yang digunakan untuk pengobatan jantung koroner.


C.
TANDA DAN GEJALA
1. Memar
2. Terdapat nyeri tekan pada area trauma
3. Muntah ataupun batuk darah
4. Feses berwarna hitam atau mengandung darah merah terang
D. Perdarahan Intra Abdomen
1. Pengertian
Trauma tumpul abdomen adalah cedera atau perlukaan pada
abdomen tanpa penetrasi ke dalam rongga peritoneum, dapat diakibatkan oleh
pukulan, benturan, ledakan, deselarasi (perlambatan), atau kompresi. Trauma
tumpul kadang tidak memberikan kelainan yang jelas pada permukaan tubuh
tetapi dapat mengakibatkan kontusi atau laserasi jaringan atau organ di
bawahnya. Benturan pada trauma tumpul abdomen dapat menimbulkan cedera
pada organ berongga berupa perforasi atau pada organ padat berupa
perdarahan. Cedera deselerasi sering terjadi pada kecelakaan lalu lintas karena
setelah tabrakan badan masih melaju dan tertahan suatu benda keras
sedangkan bagian tubuh yang relatif tidak terpancang bergerak terus dan
mengakibatkan robekan pada organ tersebut. Pada intraperitoneal, trauma
1

tumpul abdomen paling sering menciderai organ limpa (40-55%), hati (3545%), dan usus halus (5-10%). Sedangkan pada retroperitoneal, organ yang
paling sering cedera adalah ginjal, dan organ yang paling jarang cedera adalah
pankreas dan ureter.
2. Klasifikasi
KLASIFIKASI
Berdasaran

jenis

organ

yang

cedera

dapat

dibagi

dua

1. Pada organ padat seperti hepar dan limpa dengan gejala utama
perdarahan
2. Pada organ berongga seperti usus dan saluran empedu dengan gejala
utama adalah peritonitis
Berdasarkan daerah organ yang cedera dapat dibagi dua, yaitu :
a. Organ Intraperitoneal Intraperitoneal abdomen terdiri dari organ-organ
seperti hati, limpa, lambung, colon transversum, usus halus, dan colon
sigmoid.
Ruptur Hati
Hati dapat mengalami laserasi dikarenakan trauma tumpul ataupun
trauma tembus. Hati merupakan organ yang sering mengalami laserasi,
sedangkan empedu jarang terjadi dan sulit untuk didiagnosis. Pada trauma
tumpul abdomen dengan ruptur hati sering ditemukan adanya fraktur costa
VII IX. Pada pemeriksaan fisik sering ditemukan nyeri pada abdomen
kuadran kanan atas. Nyeri tekan dan Defans muskuler tidak akan tampak
sampai perdarahan pada abdomen dapat menyebabkan iritasi peritoneum
( 2 jam post trauma). Kecurigaan laserasi hati pada trauma tumpul
abdomen apabila terdapat nyeri pada abdomen kuadran kanan atas. Jika
keadaan umum pasien baik, dapat dilakukan CT Scan pada abdomen yang
hasilnya menunjukkan adanya laserasi. Jika kondisi pasien syok, atau
pasien trauma dengan kegawatan dapat dilakukan laparotomi untuk
melihat perdarahan intraperitoneal. Ditemukannya cairan empedu pada
lavase peritoneal menandakan adanya trauma pada saluran empedu.
Ruptur Limpa
Limpa merupakan organ yang paling sering cedera pada saat terjadi
trauma tumpul abdomen. Ruptur limpa merupakan kondisi yang
membahayakan jiwa karena adanya perdarahan yang hebat. Limpa terletak

tepat di bawah rangka thorak kiri, tempat yang rentan untuk mengalami
perlukaan.
Pada pemeriksaan fisik, gejala yang khas adanya hipotensi karena
perdarahan. Kecurigaan terjadinya ruptur limpa dengan ditemukan adanya
fraktur costa IX dan X kiri, atau saat abdomen kuadran kiri atas terasa
sakit serta ditemui takikardi. Biasanya pasien juga mengeluhkan sakit pada
bahu kiri, yang tidak termanifestasi pada jam pertama atau jam kedua
setelah terjadi trauma.
Ruptur Usus Halus
Sebagian besar, perlukaan yang merobek dinding usus halus karena
trauma tumpul menciderai usus dua belas jari. Dari pemeriksaan fisik
didapatkan gejala burning epigastric pain yang diikuti dengan nyeri
tekan dan defans muskuler pada abdomen. Perdarahan pada usus besar
dan usus halus akan diikuti dengan gejala peritonitis secara umum pada
jam berikutnya. Sedangkan perdarahan pada usus dua belas jari
biasanya bergejala adanya nyeri pada bagian punggung.
b. Organ Retroperitoneal
Retroperitoneal abdomen terdiri dari ginjal, ureter, pancreas, aorta,
dan vena cava. Trauma pada struktur ini sulit ditegakkan diagnosis
berdasarkan pemeriksaan fisik. Evaluasi regio ini memerlukan CT scan,
angiografi, dan intravenous pyelogram.

E. Perdarahan Intrakranial
Perdarahan dapat terjadi diantara tengkorak dan durameter
(jaringan fibrous penutup otak), diantara durameter dan arachnoid, atau
langsung dalam jaringan otak itu sendiri.
Berikut ini beberapa macam perdarahan pada cedera kepala :
1. Hematom epidural akut
Cedera ini sering disebabkan oleh robeknya arteri meninga media
yang berjalan disepanjang region temporal. Cedera arteri sering
disebabkan oleh fraktur tengkorak linear di region temporal atau
parietal. Akibat dari cidera arteri (walaupun mungkin juga terjadi
perdarahan vena dari salah satu sinus durameter), perdarahan dan
3

peningkatan TIK dapat berlangsung dengan cepat sehingga kematian


dapat segera terjadi. Gejala hematoma epidural akut meliputi riwayat
trauma kepala dengan kehilangan kesadaran sesaat diikuti satu periode
dimana penderita sadar dan koheren. Setelah beberapa menit hingga
beberapa jam timbul tanda-tanda peningkatan tekanan intracranial
(muntah, nyeri kepala, perubahan status kesadaran) kemudian menjadi
tidak sadar dan terjadi kelumpuhan kolateral dari tempat cedera kepala.
Sering terjadi dilatasi dan tidak ada respon terhadap cahaya dari pupil
pada sisi cedera kepala. Hal ini biasanya dengan cepat diikuti oleh
kematian.
2. Hematom Subdural Akut
Hematom subdural akut terjadi akibat perdarahan diantara
durameter dan arachnoid yang berhubungan dengan cedera jaringan
otak dibawahnya. Karena perdarahan berasal dari vena, tekanan
intracranial meningkat lebih lambat dan baru terdiagnosa beberapa jam
atau hari setelah kejadian cedera. Tanda dan gejalanya meliputi : nyeri
kepala, fluktuasi tingkat kesadaran, dan tanda neurologis fokal
(kelemahan satu sisi tubuh, penurunan reflex tondon dalam, bicara
yang tidak jelas dan melantur).
3. Perdarahan intraserebral
Merupakan perdarahan yang terjadi dalam jaringan otak.
Perdarahan intraserebral pada trauma terjadi akibat trauma tumpul atau
trauma tembus pada kepala. Disisi lain, pembedahan tidak banyak
menolong,. Tanda dan gejala tergantung lokasi kerusakan dan beratnya
F.

cedera. Gejala yang muncul mirip dengan gejala pada stroke.


Perdarahan Intrathorak
Tauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding
thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul. (Hudak, 1999).
Trauma thorak adalah trauma yang terjadi pada toraks yang menimbulkan
kelainan pada organ-organ didalam toraks.
Hemothoraks adalah adanya darah pada rongga pleura. Perdarahan
mungkin berasal dari dinding dada, parenkim paru, jantung, atau pembuluh

G.

darah besar (Mancini, 2011).


ETIOLOGI
4

Penyebab utama hematothoraks adalah trauma, seperti luka penetrasi


pada paru, jantung, pembuluh darah besar, atau dinding dada. Trauma tumpul
pada dada juga dapat menyebabkan hematothoraks karena laserasi pembuluh
darah internal (Mancini, 2011). Menurut Magerman (2010) penyebab
hematothoraks antara lain :
1. Penetrasi pada dada
2. Trauma tumpul pada dada
3. Laserasi jaringan paru
4. Laserasi otot dan pembuluh darah intercostal
5. Laserasi arteri mammaria interna
H.

KLASIFIKASI
Pada orang dewasa secara teoritis hematothoraks dibagi dalam 3
golongan, yaitu:
1. Hematothoraks ringan
Jumlah darah kurang dari 400 cc
Tampak sebagian bayangan kurang dari 15 % pada foto thoraks
Perkusi pekak sampai iga IX
2. Hematothoraks sedang
Jumlah darah 500 cc sampai 2000 cc
15% - 35% tertutup bayangan pada foto thoraks
Perkusi pekak sampai iga VI
3. Hematothoraks berat
Jumlah darah lebih dari 2000 cc
35% tertutup bayangan pada foto thoraks
Perkusi pekak sampai iga IV

Gambar 2 . Klasifikasi hemotoraks a. Ringan b. Sedang c. Berat

I.

MANIFESTASI KLINIK

Hemothorak tidak menimbulkan nyeri selain dari luka yang berdarah di


dinding dada. Secara klinis pasien menunjukan distress pernapasan berat,
agitasi, sianosis, takipnea berat, takikardia dan peningkatan awal tekanan
darah, di ikuti dengan hipotensi sesuai dengan penurunan curah jantung
(Hudak & Gallo, 1997).
Adapun tanda dan gejala adanya hemotoraks dapat bersifat simptomatik
namun dapat juga asimptomatik. Asimptomatik didapatkan pada pasien
dengan hemothoraks yang sangat minimal sedangkan kebanyakan pasien
akan menunjukan symptom, diantaranya:

Nyeri dada yang berkaitan dengan trauma dinding dada

Tanda-tanda syok, seperti hipotensi, nadi cepat dan lemah, pucat, dan akral
dingin
-

Kehilangan darah volume darah Cardiac output TD


Kehilangan banyak darah vasokonstriksi perifer pewarnaan kulit
oleh darah berkurang

Tachycardia
-

Kehilangan darah

volume darah

Cardiac output

hipoksia

kompensasi tubuh takikardia

Dyspnea
-

Adanya darah atau akumulasi cairan di dalam rongga pleura


pengembangan paru terhambat

pertukaran udara tidak adekuat

sesak napas.
Darah atau akumulasi cairan di dalam rongga pleura pengembangan
paru terhambat pertukaran udara tidak adekuat
takipneu dan peningkatan usaha bernapas

kompensasi tubuh

sesak napas.

Hypoxemia
-

Hemotoraks

paru sulit mengembang

kerja paru terganggu

kadar O2 dalam darah

Takipneu
-

Akumulasi darah pada pleura


meningkatkan usaha napas

hambatan pernapasan

reaksi tubuh

takipneu.

Kehilangan darah

volume darah

kompensasi tubuh

takipneu.

Anemia

Deviasi trakea ke sisi yang tidak terkena.


-

Akumulasi darah yang banyak

Cardiac output

hipoksia

menekan struktur sekitar

mendorong trakea ke arah kontralateral.

Gerak dan pengembangan rongga dada tidak sama (paradoxical).

Penurunan suara napas atau menghilang pada sisi yang terkena


-

Suara napas adalah suara yang terdenger akibat udara yang keluar dan
masuk paru saat bernapas. Adanya darah dalam rongga pleura
pertukaran udara tidak berjalan baik

suara napas berkurang atau

hilang.

Dullness pada perkusi (perkusi pekak)


-

Akumulasi darah pada rongga pleura

suara pekak saat diperkusi

(Suara pekak timbul akibat carian atau massa padat).

J.

Adanya krepitasi saat palpasi.


PATOFISIOLOGI
Hemothoraks adalah adanya darah yang masuk ke areal pleura (antara

pleura viseralisdan pleura parietalis). Biasanya disebabkan oleh trauma


tumpul atau trauma tajam pada dada, yang mengakibatkan robeknya
membran serosa pada dinding dada bagian dalam atau selaput pembungkus
paru. Robekan ini akan mengakibatkan darah mengalir ke dalam rongga
pleura, yang akan menyebabkan penekanan pada paru.
Sumber perdarahan umumnya berasal dari A. interkostalis atau A.
mamaria interna. Rongga hemitoraks dapat menampung 3 liter cairan,
sehingga pasien hematotoraks dapat syok berat (kegagalan sirkulasi) tanpa
terlihat adanya perdarahan yang nyata, oleh karena perdarahan masif yang
terjadi terkumpul di dalam rongga toraks.
Pendarahan di dalam rongga pleura dapat terjadi dengan hampir semua
gangguan dari jaringan dada di dinding dan pleura atau struktur intrathoracic.
Respon fisiologis terhadap perkembangan hemothorax diwujudkan dalam 2

area utama: hemodinamik dan pernafasan. Tingkat respon hemodinamik


ditentukan oleh jumlah dan kecepatan kehilangan darah.
Perubahan hemodinamik bervariasi tergantung pada jumlah perdarahan
dan kecepatan kehilangan darah. Kehilangan darah hingga 750 mL pada
seorang pria 70-kg seharusnya tidak menyebabkan perubahan hemodinamik
yang signifikan. Hilangnya 750-1500 mL pada individu yang sama akan
menyebabkan gejala awal syok (yaitu, takikardia, takipnea, dan penurunan
tekanan darah).
Tanda-tanda signifikan dari shock dengan tanda-tanda perfusi yang
buruk terjadi dengan hilangnya volume darah 30% atau lebih (1500-2000
mL). Karena rongga pleura seorang pria 70-kg dapat menampung 4 atau
lebih liter darah, perdarahan

dapat terjadi tanpa bukti eksternal dari

kehilangan darah.
Efek pendesakan dari akumulasi besar darah dalam rongga pleura dapat
menghambat gerakan pernapasan normal. Dalam kasus trauma, kelainan
ventilasi dan oksigenasi bisa terjadi, terutama jika berhubungan dengan luka
pada dinding dada. Sebuah kumpulan yang cukup besar darah menyebabkan
pasien mengalami dyspnea dan dapat menghasilkan temuan klinis takipnea.
Volume darah yang diperlukan untuk memproduksi gejala pada individu
tertentu bervariasi tergantung pada sejumlah faktor, termasuk organ cedera,
tingkat keparahan cedera, dan cadangan paru dan jantung yang mendasari.
Dispnea adalah gejala yang umum dalam kasus-kasus di mana
hemothorax berkembang dengan cara yang membahayakan, seperti yang
sekunder untuk penyakit metastasis. Kehilangan darah dalam kasus tersebut
tidak akut untuk menghasilkan respon hemodinamik terlihat, dan dispnea
sering menjadi keluhan utama.
Darah yang masuk ke rongga pleura terkena gerakan diafragma, paruparu, dan struktur intrathoracic lainnya. Hal ini menyebabkan beberapa
derajat defibrination darah sehingga pembekuan tidak lengkap terjadi. Dalam
beberapa jam penghentian perdarahan, lisis bekuan yang sudah ada dengan
enzim pleura dimulai.

Lisis sel darah merah menghasilkan peningkatan konsentrasi protein


cairan pleura dan peningkatan tekanan osmotik dalam rongga pleura. Tekanan
osmotik tinggi intrapleural menghasilkan gradien osmotik antara ruang pleura
dan jaringan sekitarnya yang menyebabkan transudasi cairan ke dalam
rongga pleura. Dengan cara ini, sebuah hemothorax kecil dan tanpa gejala
dapat berkembang menjadi besar dan gejala efusi pleura berdarah.
Dua keadaan patologis yang berhubungan dengan tahap selanjutnya dari
hemothorax adalah empiema dan fibrothorax. Empiema hasil dari
kontaminasi bakteri pada hemothorax. Jika tidak terdeteksi atau tidak
ditangani dengan benar, hal ini dapat mengakibatkan syok bakteremia dan
sepsis.
Fibrothorax terjadi ketika deposisi fibrin berkembang dalam hemothorax
yang terorganisir dan melingkupi baik parietal dan permukaan pleura viseral.
Proses adhesive ini menyebkan paru-paru tetap pada posisinya dan mencegah
dari berkembang sepenuhnya.
Hemotoraks traumatik
trauma

laserasi pembuluh darah atau struktur parenkim paru

darah berakumulasi di rongga pleura

perdarahan

hemotoraks.

Gambar 3. Skema Patofisiologi Trauma Toraks

10

K.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Sinar X dada
Menunjukkan akumulasi cairan pada area
pleura
Dapat menunjukkan penyimpangan struktur
mediastinal (jantung)
2. GDA
Tergantung dari derajat fungsi paru yang
dipengaruhi, gangguan mekanik pernapasan, dan kemampuan
mengkompensasi
PaCO2 mungkin normal atau menurun
Saturasi oksigen biasanya menurun
3. Torasentesis
Menunjukkan darah/cairan serosanguinosa (hemothoraks)
4. Full blood count
Hb menurun
Hematokrit menurun

L.

PENATALAKSANAAN
Tujuan pengobatan adalah untuk menstabilkan pasien, menghentikan
pendarahan, dan menghilangkan darah dan udara dalam rongga pleura.
Penanganan pada hemothoraks adalah:
1. Resusitasi cairan
Terapi awal hemotoraks adalah dengan penggantian volume darah
yang dilakukan bersamaan dengan dekompresi rongga pleura. Dimulai
dengan infus cairan kristaloid secara cepat dengan jarum besar dan
kemudian pemnberian darah dengan golongan spesifik secepatnya. Darah
dari rongga pleura dapat dikumpulkan dalam penampungan yang cocok
untuk autotranfusi. Bersamaan dengan pemberian infus dipasang pula
chest tube (WSD)
2. Pemasangan chest tube
Pemasangan chest tube (WSD) ukuran besar agar darah pada toraks
dapat cepat keluar sehingga tidak membeku di dalam pleura. Hemotoraks
akut yang cukup banyak sehingga terlihat pada foto toraks sebaiknya di
terapi dengan chest tube kaliber besar. Chest tube tersebut akan
mengeluarkan darah dari rongga pleura, mengurangi resiko terbentuknya

11

bekuan darah di dalam rongga pleura, dan dapat dipakai dalam memonitor
kehilangan darah selanjutnya.

WSD adalah suatu sistem drainase yang menggunakan air. Fungsi


WSD sendiri adalah untuk mempertahankan tekanan negatif intrapleural.
Diagnosa Keperawatan Trauma
Masalah keperawatan yang lazim muncul, yaitu (Bulecheck, 2012) :
1. Ketidakefektifan pola napas
2. Defisit volume cairan
3. Penurunan curah jantung
4. Nyeri akut
5. Gangguan mobilitas fisik
N.
Manajemen ABC
1. Airway
Dengan kontrol tulang belakang. Membuka jalan napas menggunakan
M.

teknik head tilt chin lift atau menengadahkan kepala dan mengangkat
dagu,periksa adakah benda asing yang dapat mengakibatkan tertutupnya
jalan napas, muntahan, makanan, darah atau benda asing lainnya.
2. Dengan ventilasi yang adekuat. Memeriksa pernapasan dengan
menggunakan cara lihat dengar rasakan tidak lebih dari 10 detik
untuk memastikan apakah ada napas atau tidak. Selanjutnya lakukan
pemeriksaan status respirasi korban (kecepatan, ritme dan adekuat
tidaknya pernapasan)
3. Sirkulasi
Dengan kontrol perdarahan hebat. Jika pernapasan korban tersengalsengal dan tidak adekuat, maka bantuan napas dapatdilakukan. Jika tidak
ada tanda-tanda sirkulasi, lakukan resusitasi jantung paru segera. Rasio
kompresi dada dan bantuan napas dalam RJP adalah 30 : 2 (30kali
kompresi dada dan 2 kali bantuan napas)

12

13

O.
No.
1.

Rencana Tindakan Keperawatan (Ackley, 2011)


Diagnosa
Ketidakefektifan

NOC
NIC
Setelah dilakukan tindakan Airway management
1. Monitor respiratory rate,
pola
nafas keperawatan selama 1x 24
kedalaman,
kenyamanan
berhubungan dengan jam diharapkan pola nafas
Deformitas dinding
bernapas.
pasien efektif.
dada,
nyeri,
NOC
gangguan
- Respiratory
status:
muskuloskeletal
ventilation
- respiratory
status:
Batasan
airway patency
2. Tentukan jika penyebab,
karakteritik
- vital sign status
- Perubahan
apakah
fisiologis
atau
kedalaman
pernapasan
- Dispneu
- Penurunan
kapasitas vital
- Pernapasan
cuping hidung
- Penggunaan otot
aksesorius untuk

Kriteria hasil:
- Menunjukkan jalan nafas

psikologis.

tidak ada suara nafas


abnormal).
- Tanda-tanda vital dalam

lebih

30x/mnt,

dilanjutkan
pengukuran
studi

dengan
fisiologis

menunjukkan

lain,
bahwa

perubahan fisiologis signifikan


terjadi
2. Studi menunjukkan penyebab
dispneu
berhubungan

psikologis
dengan

fisiologis berhubungan dengan


batuk, sputum, dan palpitasi
3. Penelitian menunjukkan duduk

pernafasan

dalam rentang normal,

meningkat

rate

kecemasan, sedangkan dispneu

yang paten (irama nafas,


frekuensi

1. Ketika

Rasional
respiratory

3. Baringkan

pasien

dalam

posisi yang nyaman, dalam


posisi duduk, dengan kepala

tegak menghasilkan volume


tidal dan menit ventilasi lebih
tinggi daripada posisi duduk
dengan kepala tempat tidur
14

bernafas
- Takipnea
- Penurunan
tekanan ekspirasi
- Penurunan
tekanan inspirasi

rentang normal (tekanan

tempat tidur ditinggikan 60-

darah, nadi, pernafasan).

90 derajat.

<45%
4. Ada gejala

yang

menjadi

signal meningkatnya kesulitan


4. Catat penggunaan otot nafas

bernafas dan hipoksia

tambahan yang digunakan,


retraksi,

konfusi,

letargy.
5. Auskultasi
catat

atau

mengindikasikan
suara

napas,

penurunan

hilangnya

suara

dan

Kolaborasi
6. Monitor saturasi oksigen
berkesinambungan

dengan menggunakan pulse


oximetry.
7. Berikan oksigen
resep.
8. Kaji seri foto thorak

patologi

respiratori yang berhubungan


dengan perubahan pola nafas

nafas,

crackles atau wheezing

secara

5. Suara nafas abnormal dapat

sesuai

6. Saturasi oksigen kurang dari


90% mengindikasikan masalah
oksigenasi yang signifikan.
7. Pemberian

oksigen

mengatasi hipoksia
8. Mengawasi

dapat

kemajuan

perbaikan
hemothorak/pneumothorak dan
ekspansi

paru.

Mengidentifikasi posisi selang

15

endotracheal

mempengaruhi

inflasi paru
9. Mengkaji status pertukaran gas
dan ventilasi.
9. Awasi

GDA

oksimetri,

2.

dan

nadi

kaji

kapasitas

vital/pengukuran

volume

tidal.
1. Catat adanya tanda dan

Penurunan curah

Setelah dilakukan

jantung berhubungan

intervensi selama 1 x 24

gejala penurunan curah

klien sehingga dapat

dengan Perubahan

jam penurunan curah

jantung

menentukan intervensi yang

kontraktilitas,
perubahan afterload,
perubahan irama.
Batasan
Karakteristik :
Perubahan irama
jantung :
Takikardi

jatung teratasi
Tanda-tanda vital dalam

2. Monitor status pernapasan

1. Mengetahui status kesehatan

tepat
2. Status pernapasan yang

rentang normal
Tidak ada distensi vena

menandakan gagal jantung

leher
AGD dalam batas normal

sehigga dapat dilakukan

dapat ditemukan secara dini


intervensi dengan cepat
3. Volume cairan tubuh yang
3. Monitor balance cairan

kurang dapat menyebabkan


penurunan curah jantung
4. Aktivitas yang berlebih dapat
16

4. Atur periode latihan dan


Perubahan
Afterload : kulit
lembab,
penurunan nadi

istirahat untuk menghindari


kelelahan
5. Monitor adanya dyspnea
dan takipnea

resistensi

Perubahan
kontraktilitas :

nadi, suhu, dan RR


7. Monitor jumlah, bunyi, dan
irama jantung

intervesi
7. Jumlah, bunyi, dan irama
jantung menunjukkan kerja
jantung dalam memompa
darah
8. Pucat menunjukkan

paroksismal

Perilaku : Gelisah

kurangnya oksigen yang

kondisi klien setelah dilakukan


6. Monitor tekanan darah,

batuk, dispnea
nokturnal

mungkin terjadi karena

penurunan curah jantung


6. Mengetahui perkembangan

penurunan

dispnea.

5. Dyspnea dan takipnea

dibawa oleh darah akibat

perifer,

vaskular paru,

meningkatkan kerja jantung

menurunnya perfusi perifer


8. Kaji kulit terhadap pucat
dan sianosis.

sekunder terhadap tidak


adekuatnya curah jantung,
vasokontriksi, dan anemia.
Sianosis dapat terjadi sebagai
refraktori GJK.
17

9. Menurunkan stasis vena dan


dapat menurunkan insiden
9. Tinggikan

kaki,

hindari

tekanan pada bawah lutut.

thrombus atau pembentukan


embolus.
10.Meningkatkan sediaan oksigen
untuk kebutuhan miokard

10.

Berikan

tambahan

untuk melawan efek hypoxia

oksigen
dengan

atau iskemia.

nasal

kanula atau masker sesuai


indikasi.

3.

Nyeri akut

Setelah dilakukan tindakan

Managemen Nyeri

berhubungan dengan

keperawatan selama 3x 60

1.

agen injury.

menit pasien menunjukkan

secara komprehensif

dalam pengkajian nyeri untuk

penurunan nyeri, dibuktikan

termasuk lokasi,

menentukan jika klien tidak

Batasan

dengan kriteria hasil:

karakteristik, durasi,

dapat mendiskripsikan

Karakteristik:

frekuensi, kualitas dan

nyerinya sendiri. Tanyakan

symbol presipitasi

kepada klien tentang intensitas

Perubahan selera
makan

Tanda vital
dalam rentang normal

Tidak

Lakukan pengkajian nyeri

1.

Langkah pertama

nyerinya kemudian memilih


18

Perubahan
frekuensi
pernapasana,

mengalami gangguan tidur

symbol yang sesuai dengan

dan tampak tenang


2.

tingkatan nyerinya.
Reaksi nonverbal
dari pasien seringkali

dari ketidaknyamanan

jantung
Laporan isyarat
Mengekspresikan
perilaku
Melaporkan nyeri

Observasi reaksi nonverbal

2.

mengungkapkan nyeri yang


tidak bias disampaikan secara
3.

Kontrol lingkungan yang

langsung.
3.

dapat mempengaruhi nyeri

secara verbal

Lingkungan yang
tidak kondusif juga merupakan

seperti suhu ruangan,

faktor yang memperparah rasa

pencahayaan dan

nyeri yang dirasakan .

kebisingan
4.

Tingkatkan istirahat

4.

Dengan beristirahat
perasaan nyeri yang dialami
pasien akan lebih bias

5.

Monitor vital sign sebelum


dan sesudah pemberian
analgesik pertama kali

5.

diminimalkan.
Dengan memonitor
vital sign sebelum dan sesudah
pemberian analgesik dapat
diketahui seberapa efektif

19

analgesik bisa mengurangi rasa


nyeri pasien. Karena nyeri
yang meningkat dicerminkan
oleh perubahan vital sign di
6.

Kolaborasi: Berikan
analgetik untuk

secara medis

mengurangi nyeri
4.

luar batas normal.


6.
Penatalaksanaan

Kekurangan volume Setelah dilakukan tindakan Managemen Cairan


cairan berhubungan keperawatan
dengan

kehilangan diharapkan

2x24
volume

jam 1. Kaji BB, penyakit yang


cairan

mendasari,

dan

prosedur

1. Informasi disediakan untuk


menjelaskan

penggantian

cairan.
bedah yang dijalani.
2. Memperlihatkan
tingkat
2. Monitor tanda kehilangan
- Keseimbangan cairan
kehilangan cairan pada klien.
- Hidrasi
cairan pada pasien.
Batasan
3. Untuk
mengetahui
- Status nutrisi: intake
3. Monitor cairan yang masuk
karakteristik:
keseimbangan cairan tubuh
makanan dan minuman
dan keluar.
4. Mencegah terjadinya dehidrasi
Penurunan status Kriteria Hasil:
4. Berikan
caiaran
sesuai
mental
- Tekanan darah, nadi,
kebutuhan
dan
yang
Penurunan
suhu tubuh dalam batas
diprograrmkan
tekanan
dan
normal.
frekuensi nadi
- Tidak ada tanda-tanda
cairan secara aktif.

klien kembali seimbang.

20

Penurunan turgor

dehidrasi,

kulit
Membran

turgor

mukosa kering
Peningkatan

lembab, tidak ada ras

hematokrit
Peningkatan suhu

membrane

elastisitas
kulit

baik,
mukosa

haus yang berlebihan.

tubuh
Penurunan berat
badan

21

DAFTAR PUSTAKA

Barbara c. long (1996), Perawatan Medikal Bedah , Suatu pendekatan Proses


Keperawatan, Yayasan Ikatan Alumni Keperawatan Pajajaran, Bandung
Bulecheck, Gloria M, et al . 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan
Klasifikasi 2012-2014 (Nanda). Jakarta : EGC.
Doengoes, Marilyn E, et al. 2010. Nursing Diagnosis Manual: Planning,
Individualizing, and Documenting Client Care 3th Edition . Philadelphia: F.
A. Davis Company
Hudak & Gallo (1997), Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik, Edisi VI Vol.1,
EGC, Jakarta
Hudak & Gallo. 1997, Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik, Edisi VI Vol.1.
Jakarta: EGC
Lestari, S. 2010. Hematothoraks. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammdiyah
Yogyakarta.

http://www.fkumyecase.net/wiki/index.php?

page=HEMATOTHORAX
Magerman, Y. 2010. Pneumothorax/Hemothorax. Lecturer notes Cape Peninsula
University of Technology Faculty of Health & Wellness Science. Paper 25.
http://dk.cput.ac.za/hw_lnotes/25
Mancini. . 2011. Hemothoraks. http://emedicine.medscape.com/article/2047916overview
Nurarif AH, Hardhi K. Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa medis
& NANDA NIC-NOC edisi revisi jilid 1. Yogyakarta: Mediaction
Publishing, 2013.
Sjasuhidajat. R (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta.
Smeltzer SC dan Bare BG. Buku Ajar keperawatan medikal-bedah Brunner &
Suddarth Edisi 8 Volume 2. Jakarta: EGC, 2002.

22