Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM KIMIA V

JUDUL PERCOBAAN :
TINGKAT KELARUTAN ZAT PADAT DALAM BERBAGAI PELARUT

Disusun :
1.

Fitradhela Rachma Nadhia

24030114120015

2.

Anggiet Susilaningtyas

24030114120016

3.

Samuel

24030114120017

4.

Lia Wijayanti

24030114120019

Asisten :
Sovi Farnola

24030112140034

LABORATORIUM ANORGANIK
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
NOVEMBER, 2015

ABSTRAK
Telah dilakukan percobaan tingkat kelarutan zat padat dalam berbagai pelarut
yang bertujuan untuk menentukan secara kualitatif kelarutan zat padat di dalam
berbagai pelarut. Prinsip dari percobaan ini adalah perbedaan kelarutan, dimana suatu
senyawa hanya akan larut pada senyawa lain yang mempunyai sifat yang sama (like
dissolves like). Metode yang digunakan yaitu dengan melarutkan solute (zat terlarut)
pada berbagai jenis pelarut dengan range waktu tertentu sehingga dapat dibandingkan
tingkat kelarutan dari beberapa solute dalam berbagai jenis pelarut. Solute yang
dibandingkan adalah NaCl, CaCl2, dan NiCl2, sedangkan untuk pelarutnya adalah
aquades, HCl, NH4OH, etanol, dan kloroform. Hasil dari percobaan diperoleh bahwa
NaCl dapat larut dalam pelarut HCl dan NH4OH, namun tidak dapat larut dalam
pelarut etanol, aseton dan kloroform. CaCl2 dapat larut dalam pelarut etanol, HCl dan
NH4OH, namun tidak dapat larut dalam pelarut aseton dan terlarut sebagian dalam
kloroform. NiCl2 dapat larut dalam pelarut etanol, HCl dan NH 4OH, namun tidak
dapat larut dalam pelarut aseton dan terlarut sebagian dalam kloroform.
(disebutin to waktunya biar tau dimana yang paling cepat larut, kan parameter
pembandingnya waktu)
Keywords : like dissolves like, perbedaan kelarutan, CaCl2, solute.

ABSTRACT
Has conducted experiments solubility of solids in a variety of solvents which aims to
determine qualitatively the solubility of solids in a variety of solvents. Principle of this
experiment is the difference in solubility, where in a compound would only dissolve in
the other compounds that have the same properties (like dissolves like). The method
used is to dissolve the solute (the solute) in various types of solvents with a specific
time range that can be compared to the level of solubility of some solute in various
kinds of solvents. Solute compared are NaCl, CaCl 2 and NiCl2, while the solvent is
distilled water, HCl, NH4OH, ethanol, and chloroform. Results of the experiments
showed that NaCl is soluble in solvents HCl and NH 4OH, but not soluble in ethanol,
acetone and chloroform. CaCl2 soluble in ethanol, HCl and NH4OH, but not soluble in
acetone and partially dissolved in chloroform. NiCl2 soluble in ethanol, HCl and
NH4OH, but not soluble in acetone and partially dissolved in chloroform.
Keywords : like dissolves like, Solubility, CaCl2, solute.

PERCOBAAN V
TINGKAT KELARUTAN ZAT PADAT DALAM BERBAGAI
PELARUT

I.

TUJUAN PERCOBAAN
1.1 Menentukan secara kualitatif kelarutan zat padat didalam berbagai pelarut

II. DASAR TEORI


2.1 Larutan
Larutan adalah suatu sistem campuran homogen dari dua zat atau lebih partikel
didalam larutan memiliki ukuran atau dimensi molekuler. Perbedaan antara pelarut
dan zat terlarut sebenarnya relatif, suatu zat pada suatu saat dapat merupakan zat
terlarut (solute) dan pada saat lain merupakan pelarut (solvent), sehingga dapat
dikatakan bahwa zat terlarut (solute) adalah suatu komponen atau zat yang ada
dalam jumlah yang lebih kecil sedangkan pelarut (solvent) adalah suatu komponen
atau zat yang ada dalam jumlah yang lebih besar. Berdasarkan banyaknya zat terlarut
(solute), larutan dapat dibagi menjadi :
1.

Larutan tidak jenuh


Larutan yang mana solute dapat ditambahkan secara bebas untuk membentuk
larutan dengan berbagai konsentrasi.

2.

Larutan tepat jenuh


Larutan dimana proses penambahan solute hingga tercapai suatu kesetimbangan
dinamis antara zat dalam larutan dan zat yang tidak larut.

3.

Larutan lewat jenuh


Penambahan solute tidak lagi mempengaruhi konsentrasi larutan (Petrucci, 1992).

2.2 Kelarutan
Kelarutan atau proses melarut adalah suatu proses perubahan dari zat asal ke
dalam medium. Pengertian kelarutan dapat digunakan dalam beberapa paham yaitu
bahwa kelarutan menyatakan pengertian secara kualitatif dari proses larutan yang
dapat didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua zat atau lebih membentuk
disperse molekul hydrogen. Kelarutan juga digunakan secara kuantitatif untuk

menyatakan komposisi dari larutan yang didefinisikan sebagai konsentrasi zat


terlarut dalam larutan jenuh, serta kelarutan dapat juga diartikan sebagai banyaknya
zat terlarut yang dapat menghasilkan larutan jenuh dalam jumlah tertentu pelarut dan
temperatur konstan (Sukardjo,1985).
Kelarutan merupakan sifat suatu zat atau kemampuan suatu zat terlarut untuk
melarut dalam suatu pelarut dengan banyak tertentu menghasilkan suatu larutan.
Menurut banyaknya zat terlarut, larutan dibagi menjadi tiga macam yaitu larutan
jenuh, tidak jenuh, dan lewat jenuh (Underwood, 1996).
2.2.1 Kelarutan Endapan/ Padatan
Banyak sekali reaksi yang digunakan dalam analisis anorganik kualitatif
melibatkan pembentukan endapan. Endapan adalah zat-zat yang memisahkan
diri sebagai suatu fase padat yang keluar dari larutan. Endapan mungkin
berupa kristal atau koloid dan dapat dikeluarkan dari larutan dengan
penyaringan atau sentrifuse.
Perubahan kelarutan dengan tekanan tak mempunyai arti penting yang
praktis dalam analisis anorganik, semua pekerjaan dilakukan dalam bejana
terbuka pada tekanan atmosfer, perubahan yang sedikit dari dalam bejana
terbuka pada tekanan atmosfer. Perubahan yang sedikit dari tekanan atmosfer
tak mempunyai pengaruh yang berarti atas kelarutan. Terlebih penting adalah
perubahan kelarutan dengan suhu. Umumnya dapat dikatakan, bahwa
kelarutan kristal atau endapan bertambah besar dengan kenaikan suhu,
meskipun dalam beberapa hal istimewa (seperti kalium sulfat), terjadi yang
sebaliknya. Laju kenaikan kelarutan dengan suhu berbeda-beda dalam
beberapa hal sangat kecil sekali, dalam hal-hal lainnya sangat besar. Pada
beberapa hal perubahan kelarutan dengan berubahnya suhu dapat menjadi
dasar pemisahan (Vogel, 1990).
2.2.2 Kelarutan dari Padatan Dalam Cairan
Gaya tarikan diantara partikel zat terlarut memainkan peranan yang lebih
besar. Dalam padatan molekul atau ion tersusun dalam pola yang sangat
teratur atau gaya tariknya maksimum. Agar larutan dapat terbentuk, tarikmenarik antara partikel zat terlarut dan pelarut harus cukup besar untuk
memungkinkan dorongan alami untuk mencapai ketidakteraturan. Dalam

padatan ini, dimana gaya tarik-menarik sangat kuat, sehingga pelarut yang
sangat polar seperti air dapat melarutkannya. Pelarut dengan kepolaran besar
seperti metil alkohol atau etil alkohol tidak akan mampu melakukannya, dan
garam seperti NaCl dapat dikatakan tak larut didalamnya tetapi larut dalam
air (Bird, 1987).
2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kelarutan yaitu:
a.

Temperatur
Kebanyakan senyawa anorganik meningkat kelarutannya sejalan dengan
meningkatnya suhu.

b.

Sifat Pelarut
Kelarutan yang besar terjadi bila molekul-molekul solute mempunyai
kesamaan dalam struktur dan sifat-sifat kelistrikan dari molekul-molekul solvent.

c.

Sifat Zat Terlarut


Berdasarkan molarnya apabila konsentrasi tinggi maka kelarutannya lebih
tinggi atau besar.

d.

Efek Ion Sekutu


Sebuah endapan secara umum lebih dapat larut dalam air murni dibanding
dalam larutan yang mengandung satu dari ion-ion endapan.

e.

Efek Aktivitas
Banyaknya endapan menunjukan peningkatan kelarutan dalam larutan-larutan
yang mengandung ion-ion yang tidak bereaksi secara kimiawi dengan ion-ion dari
endapan.

f.

Pengaruh pH
Kelarutan dari garam asam lemah tergantung pada pH larutan tersebut,
sehingga meningkatkan kelarutan.

g.

Pengaruh Hidrolisis
Garam asam lemah dapat terurai di dalam air sehingga perubahan dalam
konsentrasi ion hidrogen cukup besar.

h.

Pengaruh Pembentukan Kompleks


Banyaknya endapan membentuk kompleks-kompleks larut dengan ion dari
unsur pengendapan itu sendiri karena adanya efek ion sekutu.

i.

Tekanan
Kelarutan semua gas akan naik bila tekanan parsial gas diatas larutan naik
(Underwood, 1996).
II.4Proses Melarutnya Zat Terlarut
Prinsip dasar yang digunakan untuk mengetahui proses melarutnya zat terlarut
kedalam pelarut biasa dikenal dengan istilah Like Dissolves Like artinya pelarut
sejenis akan melarutkan molekul sejenis artinya pelarut dan molekul zat terlarut
saling berinteraksi antar molekul keduanya dengan membentuk suatu ikatan tertentu
diantara keduanya, sehingga secara termodinamika zat terlarut akan larut dalam
pelarut tersbut. Ada istilah lain yang menghasilkan proses melarutnya zat terlarut
dalam molekul pelarut, yaitu istilah solvasi pelarut. Solvasi pelarut adalah proses
dimana ion-ion solute dikelilingi oleh molekul pelarut dan dengan membentuk
semacam jembatan atau ikatan antara keduanya, misalnya garam dapur (Keenan,
1990).
II.5Proses Pelarutan
Proses terbentuknya suatu larutan hampir selalu terjadi bersamaan dengan
adsorpsi atau pelepasan energi. Jumlah panas yang diadsorpsi atau dilepaskan bila
suatu zat membentuk larutan disebut panas pelarutan yang diberi lambang H
pelarutan. Panas pelarutan adalah perbedaan antara energi yang dipunyai larutan
setelah terbentuk dan energi yang dipunyai oleh komponen larutan sebelum
dicampur, jadi :
H pelarutan = H pelarutan H komponen (Brady, 1999).
II.6Hasil Kali Kelarutan (Ksp)
Keseimbangan kelarutan yaitu keseimbangan antara sepertu elektrolit yang
sedikit larut dengan larutan jenuhnya. Bila dalam suatu larutan jenuh MA
mengandung elektrolit biner (menghasikan 2 ion) yang sedikit larut, terdapat
padatan MA maka padatan keseimbangan dapat dituliskan sebagai berikut:
MA(s)

M+(aq) + A-(aq)

Untuk hal-hal yang keseimbangan larutan elektrolit yang sedikit larut biasanya
digunakan Ksp. Untuk elektrolit yang mudah larut seperti NaCl, asumsi bahwa K =

Ksp tidak berlaku, selain itu aktivitas ion-ion elektrolit yang mudah larut sama
dengan konsentrasinya. Kelarutan suatu elektrolit akan berkurang bila dilarutkan
dalam larutan yang mengandung ion senama. Akan tetapi jika ion tidak senama atau
efek garam, akan meningkatkan kelarutan.
Nilai hasil kali kelarutan juga dapat digunakan untuk menduga pengendapan
akan terjadi apabila dua elektrolit dicampurkan, bila hasil kali ion lebih kecil dari K sp
maka tidak akan terjadi pengendapan dan jika hasil kali ion lebih besar daripada K sp
maka akan mengendap (Bird, 1987).
II.7Garam Kompleks
Beberapa garam dapat mengkristal dari larutannya dengan mengikat sejumlah
molekul air sebagai hidrat. Contoh: CuSO4,5H2O, FeSO4.7H2O dan Al2(SO4)3.9H2O.
Bentuk struktur dalam kristal terdiri atas kation terhidrat dan anion terhidrat, seperti
Cu(H2O)42+ dan SO4(H2O)2- dalam CuSO4,5H2O. Selain itu banyak dijumpai ion
logam transisi dengan molekul atau ion ynag terikat lebih kuat daripada molekul air.
Contohnya, Co(NH3)63+ dan Fe(CN)63-.
Garam-garam
Heksaaminkobalt(II)

yang
Klorida,

mengandung
Co(NH3)6Cl3

ion-ion
dan

kompleks

misalnya

Kaliumheksaaminferat(III),

K3Fe(CN)5. Garam rangkap adalah garam kristalin yang mempunyai dua anion atau
kation yang berbeda. Pembentukan garam rangkap terjadi apabila dua garam
mengkristal bersama-sama dalam perbandingan tertentu. Garam rangkap memiliki
struktur sendiri dan tidak harus sama dengan struktur garam komponennya, misalnya
garam alumina KAl(SO4)2.12H2O dan Ferroaluminiumsulfat Fe(NH3)2(SO4).6H2O.
Garam rangkap dalam larutan akan terionisasi menjadi ion-ion komponennya
(biasanya terhidrat).
Garam rangkap dan garam kompleks yang dibuat dalam pelarut air dan
terionisasi menjadi ion-ion yang tidak sama persis jenisnya sehingga kedua jenis
garam tersebut mempunyai sifat yang berbeda, misalnya kelarutannya, warna
larutan, dan daya hantar listrik (Brady, 1999).

2.8 Perpindahan Elektron Hibridisasi


Pembentukan ikatan, juga sering dikatakan sebagai penataan kembali orbital
atom menjadi orbital molekul, yang merupakan hasil tumpang tindih dari kedua
orbital atom. Contoh sederhana proses penataan orbital molekul dengan model ini
dapat ditunjukkan pada proses pembentukan molekul Asam Florida (HF).
Konfigurasi atom H : 1s1 dan atom F : 1s2 2s2 2px2 2py2 2pz1, tampak kemungkinan
terjadi pasangan elektron antara 1s1 dari atom H dan 2pz1, sehingga terjadi tumpang
tindih kedua obital tersebut, dan membentuk orbital molekul sp, dan menghasilkan
bentuk molekul yang linier, perhatikan Gambar 5.14.

Gambar 5.14. Model hibridisasi dan bentuk molekul sp


Seperti yang dibahas pada pembentukan molekul BF 3, proses perpindahan
elektron dari tingkat orbital yang rendah ke yang lebih tinggi umum terjadi proses
perpindahan ini dikenal dengan proses hibridisasi. Orbital hasil hibridisasi disebut
orbital hibrid, dalam pembentukan BF3, terjadi orbital hibrid sp2, dimana ikatan akan
terjadi pada orbital tersebut.
Proses hibridisasi sp2, secara sederhana melalui tahap sebagai berikut. Elektron
yang berada pada orbital 2s dipromosikan dan berpindah pada orbital 2py.

Sehingga terbentuk orbital hibrid sp2, yang dapat bereaksi dengan atom lain
dengan membentuk ikatan yang hampir sama. Hal ini menyebabkan bentuk
molekulnya sebagai segi tiga datar, lihat Gambar 5.15.

Gambar 5.15. Bentuk molekul dengan hibridisasi sp2


Proses hibridisasi tipe lain, terjadi pada molekul gas metana CH 4, atom
memiliki konfigurasi konfigurasi atom H: 1s1 dan konfigurasi atom C: 1s2 2s2 2px1
2py1 2pz0.

Dalam mengikat 4 atom H menjadi CH4, maka 1 elektron (orbital 2s) dari atom
C akan dipromosikan ke orbital 2pz0, sehingga konfigurasi elektronnya menjadi: 1s 1
2s1 2px1 2py1 2pz1.
Perubahan yang terjadi meliputi 1 orbital 2s dan 3 orbital 2p, maka disebut
hibridisasi sp3, Kekuatan ikatan untuk keempat orbital relatif setara sehingga
membentuk molekul tetrahedron, seperti Gambar 5.16. Struktur molekul tetrahedral
cukup stabil, sehingga banyak molekul yang memiliki struktur ini.

Gambar 5.16. Bentuk molekul dengan hibridisasi sp3


Bentuk hibridisasi yang lebih kompleks jika banyak orbital yang terlibat dalam
proses promosi elektron seperti orbital s, p, dan d, seperti pada hibridisasi dsp 3
dengan bentuk molekul trigonal bipiramidal, sp2d ; dsp2 dengan bentuk molekul
segiempat datar dan d2sp3 ; sp3d2 dengan bentuk molekul octahedron (Brady, 1999).
2.9. Ikatan Ionik dan Ikatan Kovalen
Ikatan ionik mempunyai hubungan sederhana antar struktur kristal yang
dinamakan kisi antara ion positif dan ion negatif dimana gaya tarik-menarik antara
muatan-muatan yang berlawanan maksimum dan gaya tolak tolak antara ion-ion
dengan muatan sama adalah seminimal mungkin. Ikatan kovalen mempunyai interaksi
antara unit-unit molekul yang relatif rendah (ikatan van der walls, ikatan antara dipoldipol dan ikatan hidrogen). Energi yang diperlukan untuk meleburkan padatan kovalen
relatif kecil karena hanya memutus ikatan interaksi molekular dan bukan ikatan
kovalen antar molekul (Brady, 1999).
2.10. Kepolaran
Polarisasi ion dalam kristal. Polarisasi anion oleh kation menunjukan adanya
ikatan kovalen sehingga kelarutan senyawa menurun. Dalam kasus perak halida,
kelarutan menurun dari AgF ke AgS karena adanya peningkatan polarisasi anion

halida yang disebabkan oleh kecilnya ukuran Ag+. AgI adalah senyawa kovalen yang
mempunyai struktur Zinc blende (Brady, 1999).
2.11. Macam-macam Pelarut (Solven)
Solven protonik dapat diklarifikasikan sebagai berikut :
a. Asam, mempunyai kecendrungan yang kuat untuk mendonorkan proton seperti H 2SO4
dan CH3COOH.
b. Basa, mempunyai afinitas kuat terhadap proton seperti amoniak.
c. Amfoter, dapat bereaksi baik sebagai donor proton maupun akseptor proton seperti
alkohol dan air
d. Non polar, tidak terionisasi dan tidak tersolvasi seperti benzena, karbon tetra klorida
e. Polar tinggi, solven auto ionisasi seperti BrF3, yang sangat reaktif dan sulit untuk
menjaga kemurniannya (Petrucci, 1992).

2.12. Padatan Ionik


Atom-atom dengan perbedaan elektronegatifitas yang besar dominan membentuk
senyawa ionik, misalnya NaCl. Senyawa ini terdiri dari ion negatif dan positif yang
tertata bersama dalam suatu kisi. Kisi ini terikat bersama oleh gaya elektrostatik tidak
langsung antara ion-ion yang muatannya berlawanan.
Sifat Padatan Ionik
a. Stereokimia
Ikatan ionik bersifat sangat kuat, gaya ionik berkecenderungan terdapat diseluruh
ruangan dan kekuatannya setara dalam semua arah.
b. Titik leleh dan titik didih
Interaksi elektronik kation-kation adalah kuat pada senyawa ionik. Hal tersebut
menyebabkan titik leleh maupun titik didihnya.
c. Kekerasan (Hardness)
Gaya tarik-menarik elektrostatik multivalen dalam kristal ionik membuat
kristalnya keras, kekerasan meningkat dengan meningkatnya muatan ionik.
d. Kelarutan (Solubility)
Senyawa ionik larut dalam pelarut dengan konstanta dielektrikan tinggi/rendah.
e. Mudah rusak (Birttleness) (Keenan, 1990).
2.10 Analisa Bahan
2.10.1 NiCl2
Sifat kimia : Higrokopis, larut dalam air, dan amonium hidroksida.
Sifat fisik : Kristal hijau (Budavery, 1989).
2.10.2 NaCl
Sifat kimia : Larut dalam air dan sedikit larut dalam etanol, NaCl
Sifat fisik

dijumpai sebagai mineral.


: Padatan kristalin putih, densitas 2,17 g ml-1, titik leleh 801
o

C, titik didih 1413 oC (Budavery, 1989).

2.10.3 CaCl2
Sifat kimia : Senyawa putih lembab air yang larut dalam air. Larut dalam
Sifat fisik

air dan alkohol.


: Titik leleh 272 oC, titik didih 7600 oC, densitas 2,15 g ml-1
(Budavery, 1989).

2.10.4 Aseton
Sifat kimia : Cairan tidak berwarna yang mudah terbakar, memiliki bau
khas yang lemah, merupakan senyawa reaktif, larut dalam
air. Dibuat dari oksidasi propan-2-ol, atau hasil samping
pembuatan fenol dari kamera. Digunakan sebagai pelarut,
Sifat fisik

pembuat plastik, dan seluloit.


: Berat jenis 0,79 g/ml. Titik leleh -95,40C, titik didih
56,20C (Daintith, 1994 ).

2.10.5 Etanol
Sifat kimia : Merupakan zat cair tidak berwarna, bersifat semipolar.
Larut dalam air, eter, kloroform, berbau menyengat,
Sifat fisik

volatil.
: Bobot molekul 46,07 g mol-1, titik leleh -114,5 oC, titik
didih -102 oC, densitas 0,61 g ml-1 (Daintith, 1994).

2.10.6 Kloroform
Sifat kimia : Cairan atsiri, berbau manis, tidak warna. Dibuat melalui
reaksi haloform, volatil, larut dalam alkohol, eter, benzena,
Sifat fisik

sedikit larut dalam air.


: Titik leleh -63 oC, titik didih 61 oC, densitas 1,48 g ml-1.

(Budavery, 1989).
2.10.7 Asam Klorida (HCl)
Sifat kimia : Gas berasap tanpa warna, dapat dibuat dengan memanaskan
Sifat fisik

NaCl dan metana atau reaksi haloform.


: Titik leleh -114 oC, titik didih -85 oC, Bobot molekul
38,42 g mol-1, densitas 0,47 g ml-1 (Budavery, 1989).

2.10.8 NH4OH
Sifat kimia : Cairan pada temperatur -78 oC -33 oC dibawah tekanan 1
atm. Bersifat asam lemah, merupakan larutan NH 3 dalam
Sifat fisik

air.
: Titik didih 23oC, bobot molekul 325 g mol-1, konstanta
ionisasi 5.10-27 (Budavery, 1989).

2.10.9 Aquadest (H2O)


Sifat kimia : Sebagai pelarut, rumus molekul H2O
Sifat fisik : Air murni dari penyulingan, titik didih 1000C, titik bekunya
00C tidak berwarna (bening), tidak berasa, tidak berbau
(Daintith, 1994).

III.

METODE PERCOBAAN
3. 1
Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Tabung reaksi
Pengaduk gelas
Gelas arloji
Gelas ukur
Pipet tetes
Stopwatch
Neraca analitik
3.1.2 Bahan
Kloroform
Etanol
HCl 2 N
NH4OH
Aseton
Aquadest
NaCl
CaCl2
NiCl2

3.2 Skema Kerja


Aquades
10 ml Aquades

10 ml Aquades

Tabung reaksi

Tabung reaksi

Penambahan 0,25 g NaCl


Penghitungan waktu hingga larut

Hasil

Penambahan 0,25 g CaCl


Penghitungan waktu hingga larut

Hasil

10 ml Aquades
Tabung reaksi
Penambahan 0,25 g NiCl2
Penghitungan waktu hingga larut

Hasil

HCl
10 ml HCl

10 ml HCl

Tabungreaksi

Tabungreaksi

Penambahan 0,25 g NaCl


Penghitungan waktu hingga larut
Hasil

10 ml HCl
Tabungreaksi
Penambahan 0,25 g NiCl2
Penghitungan waktu hingga larut
Hasil

Penambahan 0,25 g CaCl2


Penghitungan waktu hingga larut
Hasil

NH4OH
10 ml NH4OH

10 ml NH4OH

Tabung reaksi

Tabung reaksi

Penambahan 0,25 g NiCl2


Penghitungan waktu hingga larut

Hasil

10 ml NH4OH
Tabung reaksi
Penambahan 0,25 g CaCl2
Penghitungan waktu hingga larut

Hasil

Penambahan 0,25 g NaCl


Penghitungan waktu hingga larut

Hasil

Etanol
10 ml Etanol
Tabung reaksi
Penambahan 0,25 g NaCl
Penghitungan waktu hingga larut

10 ml Etanol
Tabung reaksi
Penambahan 0,25 g CaCl2
Penghitungan waktu hingga larut
Hasil

Hasil

10 ml Etanol
Tabung reaksi
Penambahan 0,25 g NiCl2
Penghitungan waktu hingga larut
Hasil

Kloroform
10 ml Kloroform

10 ml Kloroform

Tabung reaksi

Tabung reaksi

Penambahan 0,25 g NaCl


Penghitungan waktu hingga larut

Hasil

10 ml Kloroform
Tabung reaksi
Penambahan 0,25 g NiCl2
Penghitungan waktu hingga larut

Hasil

Penambahan 0,25 g CaCl2


Penghitungan waktu hingga larut

Hasil

Aseton
10 ml Aseton
Tabung reaksi
Penambahan 0,25 g CaCl2
Penghitungan waktu hingga larut

Hasil

10 ml Aseton
Tabung reaksi
Penambahan 0,25 g NiCl2
Penghitungan waktu hingga larut

Hasil

10 ml Aseton
Tabung reaksi
Penambahan 0,25 g NaCl
Penghitungan waktu hingga larut

Hasil

IV. DATA PENGAMATAN


Solvent

Solute

H2O

HCl

Aseton

NaCl

CaCl2

Larut sempurna

Larut sempurna

(t: 1 menit 40 s)

(t: 1 menit)

Bening
Larut sempurna

Bening
Larut sempurna

NiCl2
Larut sempurna
(t: 38 s)
Warna Hijau
Larut sempurna

(t: 3 menit 46 s)

(t: 1 menit 4 s)

(t: 20 s)

Bening
Tidak larut

Bening
Tidaklarut

Warna Hijau
Tidak larut

(t : > 10 menit)

(t : > 10 menit)

(t : 8 menit 20 s )
Warna hijau

NH4OH

Larut sempurna

Larut

Larut sempurna

(t: 51 s)

(t: 1 menit 30 s)

(t: 2 menit 29 s)
Biru tua

Kloroform

Etanol

Tidak larut

Tidak larut

Larut tidak

(t: > 4 menit)

(t: > 4 menit)

sempurna

Bening

Bening

(t: > 4 menit)

Tidak larut

Larut sempurna

Warna Hijau
Larut sempurna

(t: > 4 menit)

(t: 1 menit )

(t: 1 menit 12 s)

Bening

Bening

Warna Hijau

V. HIPOTESA
Percobaan yang berjudul tingkat kelarutan zat padat dalam berbagai
pelarut yang bertujuan untuk menentukan secara kualitatif kelarutan zat padat di
dalam berbagai pelarut. Prinsip yang dilakukan pada percobaan ini adalah
perbedaan kelarutan, dimana suatu senyawa hanya akan larut pada senyawa lain
yang mempunyai sifat yang sama (like dissolves like). Metode yang digunakan
yaitu dengan melarutkan solute (zat terlarut) pada berbagai jenis pelarut dan
dilakukan pengadukan dengan range waktu tertentu sehingga dapat dibandingkan
tingkat kelarutan dari beberapa solute dalam berbagai jenis pelarut. Hasil yang
akan diperoleh pada percobaan ini adalah NaCl dapat larut dalam pelarut HCl dan
NH4OH, namun tidak dapat larut dalam pelarut etanol, aseton dan kloroform.
CaCl2 dapat larut dalam pelarut etanol, HCl dan NH 4OH, namun tidak dapat larut
dalam pelarut aseton dan kloroform. NiCl2 dapat larut dalam pelarut etanol, HCl
dan NH4OH, namun tidak dapat larut dalam pelarut aseton dan kloroform.

DAFTAR PUSTAKA
Bird, Tony. 1987. Kimia Fisik Untuk Universitas. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta
Brady, James E. 1999. Kimia Universitas-Asas dan Struktur. Erlangga : Jakarta
Budavery, Susan. 1989. The Merck Index. Merk and Corp : Railway
Daintith, John. 1994. Kamus Lengkap Kimia. Erlangga : Jakarta
Keenan. 1990. Ilmu Kimia Untuk Universitas. Erlangga : Jakarta
Petrucci, Ralph H. 1992. Kimia Dasar. Jilid 2. Erlanggan : Jakarta
Sukardjo. 1985. Kimia Anorganik. Bina Aksara : Yogyakarta
Taslimah dan Sriyanti. 2002. Reaksi Anorganik. Jurusan Kimia Undip : Semarang
Underwood. 1996. Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga : Jakarta
Vogel. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. PT Kalman
Madia Pustaka : Jakarta

VI. PEMBAHASAN
Percobaan yang berjudul tingkat kelarutan zat padat dalam berbagai pelarut
bertujuan untuk menentukan secara kualitatif kelarutan zat padat di dalam berbagai
pelarut. Prinsip dari percobaan ini adalah perbedaan kelarutan, dimana suatu senyawa
hanya akan larut pada senyawa lain yang mempunyai sifat yang sama (like dissolves like).
Metode yang digunakan yaitu dengan melarutkan solute (zat terlarut) pada berbagai jenis
pelarut dengan range waktu tertentu sehingga dapat dibandingkan tingkat kelarutan dari
beberapa solute dalam berbagai jenis pelarut. Dengan didasarkan pada prinsip tersebut,
maka reaksi pelarutan senyawa dalam berbagai pelarut yang berbeda kepolarannya ini
dapat diamati secara visual. Dalam percobaan ini pelarut yang digunakan adalah etanol,
aseton, kloroform, amonium hidroksida asam klorida dan aquadest sedangkan zat terlarut
yang digunakan adalah NaCl, CaCl2 dan NiCl2 dimana ketiga garam itu bersifat
higroskopis. Ketiga garam tersebut akan diuji daya larutnya kedalam pelarut etanol,
kloroform, NH4OH, HCl, dan aseton. Untuk mengetahui tingkat kelarutan dari garamgaram itu dengan cara mengukur waktu yang diperlukan untuk melarutkan garam dalam
masing-masnig pelarut. Dengan menggunakan zat pelarut yang berbeda-beda maka dapat
diketahui perbedaan waktu yang dibutuhkan zat terlarut untuk melarut.
6.1 Pelarut HCl (NILAI KONSTANTA DIELEKTRIKNYA BERAPA? NILAI MOMENT
DIPOLNYA BERAPA?) (PENGERTIAN KONSTANTA DIELEKTIRK, PENGERTIAN
MOMENT DIPOL)
HCl adalah pelarut yang bersifat polar sehingga mampu melarutkan zat terlarut
yang bersifat polar seperti garam-garam dari NaCl, CaCl2, dan NiCl2. Pelarut HCl
dapat melarutkan padatan ionik karena HCl merupakan pelarut protonik yang hampir
sama dengan air yaitu sangat baik untuk melarutkan zat terlarut yang bersifat ionik
meskipun konstanta dielektriknya lebih rendah daripada H2O (air). Jika konstanta
dielektrik tinggi maka kelarutan zat juga tinggi.
Hubungan konstanta dielektrik dengan kelarutan yaitu apabila semakin tinggi
konstanta dielektriknya maka kelarutan zat semakin meningkat dan begitu pula
sebaliknya. Senyawa dengan konstanta dielektrik tinggi akan lebih mudah melarutkan
zat-zat yang memiliki tetapan dielektrik yang hampir sama. Hal ini menyebabkan
pelarut polar akan lebih mudah larut pada zat-zat polar dan ionik yang memiliki
konstanta dielektrik tinggi.

Reaksi yang terjadi pada setiap zat terlarut:


NaCl(s) + H+(aq)

Na+(aq) + HCl(aq)

CaCl2(s) + 2H+(aq)

Ca2+(aq) + 2HCl(aq)

NiCl2(s) + 2H+(aq)

Ni2+(aq) + 2HCl(aq)

Proses pelarutan ini dilakukan dengan penggojogan. Hal ini dilakukan dengan
tujuan untuk mempercepat kelarutan garam dalam pelarut etanol, dimana penggojogan
ini mengakibatkan gerakan partikel yang semakin cepat serta makin banyaknya terjadi
tumbukan antar partikel sehingga reaksinya berlangsung lebih cepat (lebih cepat
melarut).
Hasil dari percobaan ini adalah kelarutan pada NaCl tercatat pada waktu 03:40
menit, pada CaCl2 tercatat pada waktu 01:00 menit dan pada NiCl2 tercatat pada waktu
20 detik. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa kelarutan pada waktu yang paling
singkat (cepat) pada zat terlarut NiCl2, kemudian CaCl2, lalu NaCl. Karena HCl
merupakan pelarut polar dan zat terlarut NaCl, CaCl 2 dan NiCl2 juga bersifat polar
sehingga keduanya dapat bereaksi secara spontan dan masing-masing zat terlarut
membentuk ion-ionnya (Keenan, 1990). NiCl2 memiliki tingkat keasaman lebih tinggi
karena jari-jari Ni2+ lebih kecil dibandingkan Ca2+ sehingga rapat muatannya besar. Hal
ini membuat NiCl2 lebih asam dari CaCl2 sehingga lebih mudah larut. Lalu pada zat
terlarut NaCl larut lebih lambat daripada CaCl2 dan NiCl2 dikarenakan pengaruh
energi kisi yang dimiliki NaCl lebih kuat sehingga sulit diputus atau diuraikan dan
khusus pada penambahan HCl, adanya pengaruh ion sekutu atau ion senama dapat
meningkatkan kelarutan suatu zat. Sedangkan pada CaCl2 dan NiCl2 telah memiliki
dua ion Cl- lebih banyak daripada NaCl karena pada NaCl hanya memiliki satu ion Cl (Keenan, 1990).
Bentuk molekul HCl :
H

Cl

HCl
6.2 Pelarut Etanol NILAI MOMENT DIPOLNYA)

Etanol merupakan pelarut yang bersifat semi polar, karena memiliki kepolaran
seperti air tetapi lebih rendah dari air dan karena memiliki gugus alkil yang bersifat
nonpolar. Etanol memiliki sifat yang mirip dengan air, maka etanol cukup baik
digunakan sebagai pelarut, walaupun konstanta dielektrik rendah yaitu sebesar 25
(Taslimah, 2002) dengan penurunan energi solvasi ion. Seperti juga air, autoionisasi
pada etanol dapat terjadi pada reaksi:
ROH2+ + RO-

ROH + ROH
(Braddy,1999)
Reaksi yang terjadi :
NaCl(s)
CaCl2(s)
NiCl2(s)

Na+(aq) + HCl(aq)
Ca2+(aq) + 2Cl-(aq)
Ni2+(aq) + 2HCl(aq)

(Vogel,1985)
Berdasarkan literature, urutan garam yang mudah larut adalah NiCl2, CaCl, dan
NaCl2. Hal ini disebabkan rapat muatan Ni yang lebih kecil sehingga dapat larut dalam
etanol yang konstanta dielektriknya lebih kecil dari air. NaCl tidak larut dalam etanol
karena NaCl adalah garam yang sangat ionik yang terbentuk dari Na dengan
elektronegatifitas rendah,sedangkan Cl mempunyai elektronegatifitas yang tinggi.
Kontanta dielektrik etanol yang kecil tidak mampu mengurangi gaya tarik-menarik ion
NaCl dan akibatnya tidak ada interaksi dipole, sehingga tidak ada energi yang cukup
untuk memutuskan kisi ionik NaCl sehingga tidak dapat larut dalam etanol
(Brady,1999).
Hasil yang diperoleh pada perlakuan ini yaitu zat yang mudah larut adalah
CaCl2,NiCl2,dan NaCl dengan rentang waktu berturut-turut yaitu CaCl2 dapat larut
pada etanol dengan waktu 01:05 menit, NiCl2 dengan waktu 02:18 menit disertai
dengan adanya perubahan warna menjadi warna hijau, dan yang terakhir NaCl dengan
waktu 03:24 menit. Perubahan warna larutan setelah penambahan NiCl dikarenakan
terjadinya pembentukan reaksi kompleks. Dalam perlakuan ini CaCl2 lebih cepat larut
daripada zat terlarut lainnya. Hal ini dimungkinkan karena ketidaktelitian praktikan
dalam menentukan waktu.

Reaksi yang terjadi :


CaCl2

Ca2+ + 2Cl-

NiCl2

Ni2+ + 2Cl-

NaCl

Na+ +

Cl-

(Vogel,1985)

Bentuk molekul Etanol :

Etanol
6.3 Pelarut NH4OH
Pelarut NH4OH memiliki sifat basa lemah, polar, memiliki konstanta
dielektrikum 22 0 at 239 K dan momen dipol 1,46. (Sriyanti, 2002) Larutan NH4OH
merupakan larutan NH3 dalam air, tergolong solvent yang baik untuk senyawa ionik.
Reaksi yang terjadi dalampelarutanialah :
NiCl2(s)+ 6NH4OH

[Ni(NH3)6]Cl2 biru + 6H2O

CaCl2(s) + 2NH4OH

Ca(OH)2 + 2NH4Cl

NaCl(s)+ NH4OH

NaOH

+ NH4Cl

(Vogel,1985)
Semua garam dapat larut dalam pelarut ini. Garam CaCl2 larut selama 49 detik.
NaCl larut dalam waktu 68 detik. Garam NiCl2 melarut tercepat dalam pelarut ini
dengan waktu 15 detik. Saat melarut, terjadi perubahan warna larutan dari bening
menjadi biru. Warna ini menunjukkan terjadinya reaksi pembentukan senyawa
kompleks antara atom pusat Ni dari garam NiCl2 dan ligan NH3 oleh NH4OH.
Penggaraman sendiri terjadi karena kulit d pada Ni memiliki orbital kosong yang akan
mengikat electron dari ammonia secara kovalen koordinasi :

3d

4s

4p

4d

Ni = [Ar] 4s2 3d8

28

Ni2+ = [Ar] 4s0 3d8

oo

oo
o

o Ooo
o

oo

NH3 NH3 NH3 NH3

NH3

NH3 NH3
(Vogel, 1985)

6.4 Pelarut Aseton (NILAI MOMENT DIPOL)

Aseton adalah pelarut yang bersifat non polar sehingga tidak dapat melarutkan
padatan polar (NaCl, CaCl2, NiCl2) Hal ini terjadi karena aseton mempunyai konstanta
dielektrik yang cukup rendah (konstanta dielektrik aseton = 21) sehingga tidak dapat
mensolvasi padatan ionik. Reaksi :
NiCl2 (s) + CH2COCH3
NaCl (s) + CH2COCH3
CaCl2 (s) + CH2COCH3
(Brady, 1999)

Pada percobaan ini didapatkan NaCl dan CaCl 2 dengan waktu > 10 menit
kedua garam tidak larut, sedangkan pada NiCl2 dengan waktu 8 menit 20 detik , garam
larut sebagian, sehingga tingkat kelarutan garam dalam aseton adalah NiCl2, CaCl,
dan NaCl2. Hal ini disebabkan rapat muatan Ni yang lebih kecil sehingga dapat larut
dalam aseton yang konstanta dielektriknya lebih kecil dari air (konstanta dielektrik
aseton = 21). NaCl tidak larut dalam aseton karena NaCl adalah garam yang sangat

ionik yang terbentuk dari Na dengan elektronegatifitas rendah, sedangkan Cl


mempunyai elektronegatifitas yang tinggi. Konstanta dielektrik aseton yang kecil tidak
mampu mengurangi gaya tarik-menarik ion NaCl dan akibatnya tidak ada interaksi
dipole, sehingga tidak ada energi yang cukup untuk memutuskan kisi ionik NaCl
sehingga tidak dapat larut dalam aseton (Brady,1999).
6.5 Pelarut Kloroform

Percobaan ini bertujuan untuk menentukan secara kualitatif kelarutan NaCl,


CaCl2 dan NiCl2 di dalam pelarut kloroform. Prinsip dari percobaan ini adalah
perbedaan kelarutan (like dissolves like).
Kloroform ini mempunyai nilai konstanta dielektrik 5,10 dan mempunyai
momen dipol 1,10 (Taslimah,2002). Kloroform adalah pelarut yang sangat reaktif dan
juga bersifat volatile. Kloroform merupakan pelarut semipolar tetapi tidak dapat
melarutkan CaCl2 dan NaCl, hal ini disebabkan karena kloroform tidak dapat
mensolvasi spesies ionik melainkan untuk senyawa-senyawa yang mempunyai ikatan
kovalen, sedangkan NaCl dan CaCl2 merupakan senyawa ionik sehingga tidak dapat
diikat oleh kloroform dan kloroform tidak dapat memutuskan ikatan NaCl dan CaCl2
yang menyebabkan solute tersebut tidak dapat larut. Sedangkan NiCl2 dapat larut
walaupun hanya sedikit dan dalam waktu yang lama. Hal ini dapat disimpulkan bahwa
kloroform adalah pelarut yang kurang baik untuk padatan garam, karena tidak dapat
melarutkan NaCl dan CaCl2.
Ni2+ + 2CHCl

NiCl2 + CHCl3
NaCl + CHCl3
CaCl2

+ CHCl3

Cl
Cl
Cl

chlorof orm

Pada percobaan ini dilakukan pengadukan yang

berfungsi untuk

mempercepat kelarutan garam dalam pelarut Kloroform, dimana pengadukan


mengakibatkan gerakan partikel yang semakin cepat serta makin banyaknya terjadi
tumbukan antar partikel sehingga reaksinya berlangsung lebih cepat (lebih cepat
melarut).
Jadi tingkat kelarutan pada NaCl, CaCl2 dan NiCl2dalam pelarut kloroform yaitu :
NiCl2 > CaCl2 > NiCl
6.6 Pelarut Aquades
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan secara kualitatif kelarutan
NaCl, CaCl2 dan NiCl2 di dalampelarut air. Prinsip dari percobaan ini adalah
perbedaan kelarutan(like dissolves like).
Molekul air (H2O) merupakan molekul yang bersifat polar karena terjadi
polarisasi antara muatan negatif dan muatan positif yang disebut dipol (dwi kutub).
Suatu padatan ionik (kristal) yang dilarutkan akan mengalami interaksi dipol. Jika
ion dipol lebih besar daripada gaya ikat padatan ionik tersebut akan melarut dan
membentuk suatu sistem ion terhidrat. Molekul air memiliki struktur yang tidak
linier dengan sudut 104,5 oC. Molekul air ini mempunyai nilai konstanta dielektrik
81,3 pd 288 K dan mempunyai momen dipol 1,84 (Taslimah,2002)
Pada palarut akuades, padatan NaCl dapat larut karena terjadi interaksi ion
dipol yang lebih kuat daripada energi ikatnya dan perbandingan momen dipol
diantara keduanya jauh sehingga molekul NaCl akan lebih mudah berikatan dengan
H2O. Molekul H2O akan lebih mudah memutus ikatan NaCl sehingga NaCl akan
terdispersi secara homogen oleh H2O. Ion-ion NaCl yang telah putus dikelilingi oleh
ion solvent yang mempunyai muatan berlawanan dimana ionisasi dari NaCl yaitu
Na+ dan Cl- . Disamping itu NaCl mempunyai kelarutan lebih tinggi didalam akuades
yang mempunyai konstanta dielektrik lebih tinggi (81.3 (Taslimah,2002)) dan NaCl
mempunyai energi kisi yang rendah sehingga menyebabkan NaCl lebih mudah larut.
Reaksi yang terjadi ialah :
NaCl(s)

Na+(Aq)

Cl-(aq)

Padatan CaCl2 dan NiCl2 juga bersifat polar sehingga kedua padatan tersebut
dapat larut didalam akuades.

CaCl2(s)

Ca2+(aq)

NiCl2(s)

Ni 2+(aq)

2Cl-(aq)
2Cl -(aq)
Na

NaCl

Cl

Cl

Ca

Cl

Cl

Ni

Cl

CaCl2

NiCl2

O
H

Aquades

Sedangkan yang digunakan sebagai pembanding adalah waktu. Perubahan dan


selisih waktu yang dicatat merupakan parameter untuk menentukan cepat atau
tidaknya padatan NaCl, CaCl2 dan NiCl2 untuk melarut. Hasil dari percobaan ini
dalam pelarut akuades yang lebih cepat melarut adalah NiCl 2 dibandingkan dengan
NaCl dan CaCl2.Dengan waktu pada NiCl2, yaitu 39 detik. Kemudian waktu yang
dibutuhkan untuk melarutkan NaCl adalah 1 menit 40 detik, sedangkan waktu yang
dibutuhkan untuk melarutkan CaCl2 adalah 1 menit. Pada percobaan ini dilakukan
pengadukan yang berfungsi untuk mempercepat kelarutan garam dalam pelarut H 2O,
dimana pengadukan mengakibatkan gerakan partikel yang semakin cepat serta makin
banyaknya terjadi tumbukan antar partikel sehingga reaksinya berlangsung lebih
cepat (lebih cepat melarut). Akan tetapi, waktu yang dibutuhkan untuk melarutkan

pada percobaan ini jauh lebih lambat daripada percobaan kelompok sebelumnya
yang dilakukan di suhu kamar. Pada suhu kamar, mobilitas ion-ion tidak menurun,
tidak seperti yang terjadi pada kelarutan di suhu rendah.
Jadi tingkat kelarutan pada NaCl, CaCl2 dan NiCl2dalam pelarut aquades yaitu :
NiCl > CaCl2 > NiCl
(PADA MASING-MASING PELARUT DISEBUTIN URUTANNYA KAYA AQUADEST
INI YA) (MAAF GEDE2 BIAR KELIATAN)

VII.

PENUTUP
7. 1 Kesimpulan
7.1.1

Tingkat kelarutan zat padat dalam pelarut bergantung pada sifat alamiah
antara keduanya yang sesuai dengan sifat Like Dissolves Like.

7.1.2

Hasil yang didapat pada percobaan, NaCl dapat larut dalam pelarut
aquadest, HCl dan NH4OH, namun tidak dapat larut dalam pelarut etanol,
aseton dan kloroform. CaCl2 dapat larut dalam pelarut etanol, HCl dan
NH4OH, namun tidak dapat larut dalam pelarut aseton dan kloroform.
NiCl2 dapat larut dalam pelarut etanol, HCl dan NH4OH, namun tidak
dapat larut dalam pelarut aseton dan kloroform.

(DISEBUTIN TO WAKTUNYA DAN URUTANNYA)

7.2

Saran
7.2.1

Kenali bahan-bahan yang akan digunakan.

7.2.2

Jangan terlalu lama membiarkan reagen dalam keadaan terbuka.

7.2.3

Praktikan harus lebih teliti pada saat proses penimbangan, pengamatan


perubahan kelarutan dan menentukan waktu suatu zat karena dapat
mempengaruhi hasil yang diperoleh.

7.2.4

Praktikan harus melakukan sesuai dengan prosedur kerja sehingga


kecelakaan laboratorium dapat dihindari

DAFTAR PUSTAKA

Bird, Tony. 1987. Kimia Fisik Untuk Universitas. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta
Brady, James E. 1999. Kimia Universitas-Asas dan Struktur. Erlangga : Jakarta
Budavery, Susan. 1989. The Merck Index. Merk and Corp : Railway
Daintith, John. 1994. Kamus Lengkap Kimia. Erlangga : Jakarta
Keenan. 1990. Ilmu Kimia Untuk Universitas. Erlangga : Jakarta
Petrucci, Ralph H. 1992. Kimia Dasar. Jilid 2. Erlanggan : Jakarta
Sukardjo. 1985. Kimia Anorganik. Bina Aksara : Yogyakarta
Taslimah dan Sriyanti. 2002. Reaksi Anorganik. Jurusan Kimia Undip : Semarang
Underwood. 1996. Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga : Jakarta
Vogel. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. PT Kalman
Madia Pustaka Jakarta

LEMBAR PENGESAHAN
PERCOBAAN V
TINGKAT KELARUTAN ZAT PADAT DALAM
BERBAGAI PELARUT

Semarang, 2 Desember 2015


Praktikan 2

Praktikan 1

Anggiet Susilaningtyas
NIM : 24030114120016

Fitradhela Rachma Nadhia


NIM : 24030114120015

Praktikan 4

Praktikan 3

Lia Wijayanti
NIM : 24030114120019

Samuel
NIM : 24030114120017
Mengetahui,
Asisten

Sovi Farnola
NIM : 24030112140034
PRAKONSENTRASI DAN PENENTUAN Cu (II) DALAM SAMPEL AIR TAWAR
MENGGUNAKAN SILIKA GEL YANG DIMODIFIKASI SEBAGAI ADSORBEN
EKSTRAKSI FASE PADAT

Judul penelitian ini adalah Prakonsentrasi dan penentuan Cu(II) dalam sampel air
tawar menggunakan silica gel yang dimodifikasi sebagai adsorben ekstraksi fase padat ,
tujuan dari penelitian adalah menentukan konsentrasi sebelum dan menentukan kadar Cu (II)
dalam air tawar menggunakan silica gel yang dimodifikasi sebagai adsorben ekstraksi fase

padat. Prinsip yang digunakan adalah adsorbsi fase padat, metode yang digunakan adalah
Atomic Absorption Spectrometry . hasil yang didapat adalah reaksi fungsionalisasi permukaan
dilakukan dengan agen silylant chloropropyltrimethoxysilane (Si-CPTS) dan produk Si- AMP,
ditandai dengan FT-IR dan unsure analisis untuk mengevaluasi modifikasi permukaan

Kata kunci : Modifikasi Silika, Medium Larutan, Copper, Prekonsentrasi


Refferensi :
Pereira, A.S, et al. 2009. Preconsentration and Determination of Cu (II) in a
Fresh Water Sample Using Modified Silica Gel as a Solid Phase
Extraction Adsorbent. Estadual Paulista University. Brazil.

Fitradhela Rachma Nadhia


24030114120015
JURINT ANGGIT MANA YA?

EKSTRAKSI FASA PADAT DARI TEMBAGA (II) DALAM AIR DAN SAMPEL
MAKANAN MEMAKAI GEL SILIKA TERMODIFIKASI BIS(3-AMINOPROPIL)
AMMIN DAN PENENTUANNYA DENGAN F-AAS

Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui keefektifitasan absorben gel silica


termodifikasi bis (3 aminopropil) ammin dalam penyerapan tembaga (II) dari air dan sampel
makanan , serta menganalisis secara kuantitatif hasil percobaan dengan F-AAS . prinsip yang
digunakan penjerapan ion tertentu /spesifik oleh absorbent tertentu, dan penentuan konsentrasi
suatu ion melalui absorbs atomic. Metode yang dipakai dalam percobaaan adalah adsorpsi
dengan absorben spesifik dan absorbs atomic spektrofotometri, hasil dari percobaan
menunjukkan metode ini sederhana, ekonomis, efisien, dan sensitif untuk separasi dan
prekonsentrasi dari ion Cu (II) dalam air dan sampel makanan. Hal ini diperkuat dengan bukti
analaisis kuantitatif ion Cu (II) hasil absorbs dengan F- AAS yang memberikan hasil yang
lebih baik dibanding metode metode sebelumnya

Kata Kunci : Tembaga II, Silika Gel Termodifikasi, Adsorbsi, Flame Atomic Absoption
Spectrometry (F -AAS)
Refferensi :
Cagirdi , et al. 2014. Solid Phase Extraction of Copper (II) Ion in Water and Food Samples
Using Silica Gel Modified With Bis (3-Aminopropyl)- Ammine and Determination by
Flame Atomic Absorption Spectrometry. Journal of AUAL Internation : Residues and
Trace Elements

Samuel
24030114120017

Niobium carbide as permanent modifier for silicon determination


in petrochemical products by emulsion-based sampling GF AAS

Jurnal ini dengan judul Niobium carbide as permanent modifier for silicon
determinationin petrochemical products by emulsion-based sampling GF AAS bertujuan
untuk mengetahui Niobium karbida sebagai pengubah permanen untuk penentuan silikon
dalam produk petrokimia sampling berbasis emulsi GF AAS. Prinsip yang digunakan dari
percobaan ini adalah pengenceran sampel

berbasis bahan emulsi. Adapun metode yang

digunakan adalah Spektrometri Serapan Atom (HR-CS FAAS) . hasil dari percobaan ini
adalah Persiapan sampel emulsi berbasis sangat cepat dan sederhana dan tidak ada masalah
apapun homogenitas selama analisa. Penggunaan NbC sebagai pengubah permanen dan
paladium sebagai co-disuntikkan pengubah untuk penentuan silikon dalam minyak mentah,
diesel dan bensin menunjukkan cukup memuaskan. Sensitivitas meningkat sekitar enam kali
dan standar deviasi relatif adalah menurun sekitar 10 kali. Dan kombinasi dari NbC dan Pd
sebagai pengubah kimia adalah fundamental bagi keberhasilan metode dan memungkinkan
kuantifikasi akurat total silikon dalam sampel dengan spesies yang berbeda dari Si.

(Maciel S. Luz, etc, 2013)

Kata Kunci : Niobium Carbide, GF AAS, Silicon, Petrochemical

Lia Wijayanti
24030114120019