Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN TERBAIK

PRATIKUM KIMIA ORGANIK

PERCOBAAN VIII
ZAT WARNA: EKSTRAKSI, ANALISIS KUALITATIF DAN ANALISIS
KUANTITATIF PIGMEN
Disusun Oleh
1. Abu Khasan

24030114120021

2. Mohammad Zamroni

24030114130082

3. Anis Qurotul Aini

24030114130083

4. Nadela Nurdiantika

24030114140085

5. Rosydha Ulfa

24030114130087

6. Lindawati Setiadi

24030114140088

7. Vian Febiane

24030114140089

Asisten
Lailiyatin Nuriyah

24030112130106

ABSTRAK
Telah dilakukan percobaan yang berjudul Zat Warna: Ekstraksi, Analisa Kualitatif
dan Analisa Kuantitatif Pigmen bertujuan agar mahasiswa memiliki kemampuan menrapkan
aspek aspek yang berhubungan dengan metode ekstraksi, metode analisis kualitatif dengan
KLT dan spektroskopi Vis, serta aspek analisis kuantitatifdengan spektroskopi Vis, yang di
dasarkan pada penguasaan molekul yang kuat. Metode yang di gunakan adalah ekstraksi,
kromatografi lapis tipis dan spektroskopi Uv Vis. Prinsip yang digunakan yaitu berdasarkan
prinsip like disolve like untuk ekstraksi, perbedaan daya larut fase diam dan fase gerak pada
KLT dan absorpsi cahaya oleh suatu molekul pada spektoskopi UV-Vis. Kesimpulan dari nilai
Rf yaitu bahwa ketiga senyawa yang dianalisis menggunakan KLT mengandung kurkumin
dilihat dari nilai Rf ketiganya yang hampir sama. Nilai Rf untuk standard pada plat 1 dan 2
yaitu 0,77 dan 0,892, nilai Rf untuk kunyit pada plat 1 dan 2 yaitu 0,77 dan 0,892, nilai Rf
untuk temulawak pada plat 1 dan 2 yaitu 0,77 dan 0,877. Berdasarkan analisis spectrometer
UV-Vis, larutan standard memiliki = 425nm dengan A = 1,386 dan konsentrasi 8,925 ppm;
sampel kunyit memiliki = 420nm dengan A = 1,375 dan konsentrasi 8,854ppm; sampel
temulawak memiliki = 425nm dengan A = 0,826 dan konsentrasi 5,318ppm. Dari hasil
spectrum UV dapat disimpulkan bahwa larutan standard, sampel kunyit dan sampel
temulawak mengandung kurkumin.

PERCOBAAN VIII
ZAT WARNA: EKSTRAKSI, ANALISIS KUALITATIF DAN ANALISIS
KUANTITATIF PIGMEN
I.

TUJUAN PERCOBAAN
Mahasiswa memiliki kemampuan menerapkan aspek-aspek yang berhubungan dengan
metode ekstraksi, metode analisis kualitatif dengan TLC dan spektroskopi VIS, serta aspek
analisis kuantitatif dengan spektroskopi VIS, yang didasarkan pada penguasaan molekuler
yang kuat

II. TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Zat Warna
Suatu zat warna ialah senyawa organik berwarna yang digunakan untuk
memberi warna ke suatu objek atau suatu kain. Sejarah zat warna bermula pada zaman
prasejarah. Indigo merupakan zat warna tertua, zat ini digunakan oleh orang Mesir
kuno untuk mewarnai pakaian murni. Ungu Tirus yang diperoleh oleh siput Murex
dijumpai di dekat kota Tirus, digunakan oleh orang Romania untuk mewarnai jubbah
maharaja. Terdapat banyak sekali senyawa organic berwarna, namun hanya beberapa
sesuai untuk zat warna. Agar dapat digunakan sebagai pewarna senyawa itu harus
tidak luntur (tetap pada kain selama penyucian), untuk itu zat warna tersebut harus
terikat pada kain dengan satu atau lain cara. (Fessenden, 1986)
II.2 Kurkumin
Kurkumin merupakan pigmen utama yang terdapat pada tanaman kunyit
Curcuma longa. Umumnya digunakan sebagai zat aditif (pewarna) pada makanan.
Selain itu, kurkumin juga banyak digunakan secara tradisional untuk pengobatan
(Achmad,et al, 1987). Kurkumin terdapat pada berbagai genus Curcuma dalam jumlah
relative kecil, yaitu pada tanaman kunyit sekitar 3-4% yang terdiri dari kurkumin I
94%, kurkumin II 6%, kurkumin 0,3%. Kurkumin merupakan senyawa sekunder dan
secara kimia termasuk golongan fenolik. Kurkumin [1,7-bis-(4-hidroksi-3metoksifenil)-1,6-heptadien-3,5-dion] diisolasi oleh Vogel pada tahun 1818 tapi
ditemukan dalam bentuk kristal oleh David pada tahun 1819. Sintesis kurkumin
pertama kali dilakukan oleh Milobedzka dan pada tahun 1910 kurkumin memiliki
rumus molekul C21H20O6 dengan berat molekul 368,37. Kurkumin tidak larut dalam
air namun larut dalam kloroform, diklorometan, metanal, etanol, etil asetat, dimetil
sulfoksida dan aseton (Sudarsono, 1996)

Struktur kurkumin:

(Fessenden,1996)
II.3 Kromatogram
Kromatogram adalah output visual yang diperoleh dari hasil pemisahan dengan
adanya puncak karakteristik yang berbeda menunjukkan adanya senyawa yang
berbeda. Melalui metode pemisahan kimia yang didasarkan pada adanya perbedaan
partisi zat pada fasa diam dan fasa gerak.
Kelarutan hasil pemisahan dengan kromatogram bergantung pada beberapa faktor
yaitu :

Pemilihan adsorben sebagai fasa diam


Kepolaran pelarut atau pemilihan pelarut yang sesuai dengan fasa gerak
Ukuran kolom (panjang dan diameter) relatif terhadap jumlah material yang
akan dipisahkan
Laju elusi atau aliran gerak
II.4 Kunyit
Kunyit merupakan tanaman rempah yang berasal dari india. Tanaman kunyit
berupa semak memiliki tinggi kira- kira 70cm. Kunyit memiliki batang semu, akar
serabut berwarna coklat muda dan membentuk rimpang. Daun kunyit berbentuk lanset
memanjang, tulang daunnya menyirip,pangkal dan ujungnya meruncing, berwarna
hujaupucat, mempunyai tangkai yang panjang dengan panjang sekitar 40 cm.
Rimpangnya memanjang berbentuk jari,berwarna kuning, dan sedikit bersisik. Benih
yang di budidayakan adalah rimpangnya. Kunyit hidup subur di kawasan lapang dan
mendapat cahaya matahari. Bagian tanaman kunyit yang dijadikan bumbu dapur
adalah rimpang dan daunnya. Daun kunyit memberikan aroma harum pada masakan
dan rimpangnya memberikan warna kuning pada masakan. Kunyit mengandung
senyawa yang berkhasiat obat, yang disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin
sebanyak 10% dan bisdes metoksikurkumin sebanyak 1 -5% dan zat- zat bermanfaat
lainnya seperti minyak atsiri yang terdiri dari Keton sesquiterpen, turmeron 60%,
Zingiberen 25%. Kunyit juga mengandung Lemak sebanyak 1-3%,
Karbohidrat sebanyak 3%, Protein 30%, Pati 8%, Vitamin C 45-55%, dan
garam-garam mineral, yaitu zat besi, fosfor, dan kalsium. Klasifikasi Tanaman Kunyit
yaitu :
Kerajaan

: Plantae

Divisio

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotyledonae

Ordo

: Zingiberales

Famili

: Zungiberaceae

Genus

: Curcuma

Species

: Curcuma domestica Val.

(Sudarsono,1996)

II.5 Temulawak
Temulawak memiliki komposisi kimia protein pati sebesar 29-30%, kurkumin
1-2%, dan minyak atsirinya antara 6-10%. Rimpang temulawak mempunyai beberapa
kandungan senyawa kimia antara lain berupa fellandreon dan turmerol atau yang
sering disebut minyak menguap, kemudian minyak atsiri, kamfer, glukosida,
foleymestik karbinol. Rimpang temulawak juga mengandung zat warna kuning
kukumin, minyak atsiri, pati, protein, lemak, selulosa dan mineral. Klasifikasi
Tanaman Temulawak yaitu :
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Monocotyledonae

Ordo

: Zingiberales

Famili

: Zingiberaceae

Genus

: Curcuma

Spesies

: Curcuma xanthorrhiza Roxb.

(Sudarsono,1996)

II.6 Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah salah satu metode pemisahan komponen
menggunakan fasa diam berupa plat dengan lapisan bahan adsorben inert. KLT
merupakan salah satu jenis kromatografi analitik. KLT sering digunakan untuk
identifikasi awal, karena banyak keuntungan menggunakan KLT, di antaranya adalah
sederhana dan murah. KLT termasuk dalam kategori kromatografi planar, selain
kromatografi kertas. Kromatografi juga merupakan analisis cepat yang memerlukan
bahan sangat sedikit, baik penyerap maupun cuplikannya. KLT dapat digunakan untuk
memisahkan senyawa senyawa yang sifatnya hidrofobik seperti lipida lipida dan
hidrokarbon yang sukar dikerjakan dengan kromatografi kertas. KLT juga dapat
berguna untuk mencari eluen untuk kromatografi kolom, analisis fraksi yang diperoleh

dari kromatografi kolom, identifikasi senyawa secara kromatografi, dan isolasi


senyawa murni skala kecil (Fessenden,2003)
Kromatografi lapis tipis merupakan cara pemisahan campuran senyawa
menjadi senyawa murni dan mengetahui kuantitasnya yang menggunakan
kromatografi juga merupakan analisis cepat yang memerlukan bahan sangat sedikit,
baik menyerap maupun merupakan cuplikan KLT dapat digunakan untuk memisahkan
senyawa-senyawa yang sifatnya hidrofilik seperti lipid-lipid dan hidrokarbon yang
sukar dikerjakan dengan kromatografi kertas. KLT juga dapat digunakan untuk
mencari kromatografi kolom, identifikasi senyawa secara kromatografi dengan sifat
kelarutan senyawa yang dianalisis. Bahan lapis tipis seperti silika gel adalah senyawa
yang tidak bereaksi dengan pereaksi-pereaksi yang lebih reaktif seperti asam sulfat
( Fessenden, 2003)
II.7 Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses penarikan komponen / zat aktif dari suatu campuran
padatan dan atau cairan menggunakan pelarut tertentu. Pelarut yang digunakan tidak
bercampur atau hanya bercampur sebagian dengan campuran padatan atau cairan.
Dengan kontak yang intensif, komponen aktif pada campuran akan berpindah kedalam
pelarut. Pemilihan pelarut merupakan faktor yang menentukan dalam ekstraksi.
Pelarut yang digunakan harus dapat menarik komponen aktif dari campuran. Hukum
distribusi menyatakan bahwa jika pada suatu sistem terdiri dari dua lapisan cairan
yang tidak dapat bercampur, ditambah senyawa ketiga akan terdistribusi dalam dua
lapisan cairan tersebut. Misalkan salah satu pelarut disebut pelarut A dan pelarut
lainnya adalah B, maka perbandingan antara konsentrai zat ketiga yang terlarut dalam
A (CA) dengan yang terlarut dalam B (CB) dinyatakan sebagai tetapan distribusi
k=

CA
CB

(Khopkar, 1990)

II. 8 Metode Spektrometri Ultraviolet Tampak (Uv-Vis)


Spektrometri absorbsi pada daerah ultraviolet tampak dan radiasi
elektromagnetik merupakan metode kualitatif dan kuantitatif untuk zat organik
maupun anorganik. Teknik ini mengukur transparansi relatif suatu larutan sebelum dan
sesudah larutan tersebut bereaksi dengan reagen pembentuk warna. Hasilnya adalah
transparansi larutan yang menurun tersebut sebanding dengan konsentrasi senyawa
yang di analisis. Absorbansi spesies kimia ini berlangsung dalam 2 tahap, yaitu :
1. M + hv = M+
Merupakan eksitasi spesies akibat absorbansi foton dengan waktu hidup terbatas.
2. Reaksi Dengan Berubahnya M+ Menjadi Spesies Baru
Relaksasi dengan berubahnya M+ menjadi spesies baru dengan reaksi fotokimia
(M+
M + heat). Absorbsi dalam daerah Uv dan tampak menyebabkan
eksitasi elektron. Ikatan puncak absorbsi (lamda max)dapat di hubungkan dengan

jenis ikatan yang ada dalam spesies spektroskopi absorbsi berguna untuk
mengkarakterisasi gugus fungsi dalam suatu molekul dan untuk analisa kuantitatif
(Khopkar, 1990)
II.9 Absorbsi
Absorbsi sinar direkam sebagai absorbansi. Absorbansi pada
suatu panjang gelombang tertentu didefinisikan sebagai :
A= log I0/I
Dengan

A : absorbansi
I0 : intensitas berkas sinar rujukam (standar)
I : intensitas berkas sinar contoh (Khopkar, 1990)

II.9.1 Faktor yang mempengaruhi absorbansi


1. Konsentrasi Larutan (c)
Banyaknya sinar yang di serap oleh suatu larutan
sebandingdengan konsentrasi larutan, maka dapat
dinyatakan A~c.
2. Tebal larutan (b)
Banyaknya sinar yang di serap oleh suatu larutan
sebanding dengan jarak yang ditempuh oleh sinar pada
larutan tersebut, maka dapat dinyatakan A~b.
3. Sifat zat terlarut dan pelarut yang digunakan
Sifat zat terlarut dan pelarut dalam hal ini diwakili
dengan parameter koefisien ekstingsi molar () .
Banyaknya sinar yang di serap oleh suatu larutan juga
sebanding dengan koefisien ekstingsi molar larutan. Maka
dapat dinyatakan A~ .
Dan ketiga hal tersebut maka banyaknya sinar yang diserap
oleh suatu larutan berwarna dapat dinyatakan dengan persamaan
berikut :
A= .b.c
Dimana :
A = absorbansi
b = tebal dari larutan (cm)

c = konsentrasi larutan (M)


= absortivitas molar (L mol-1 cm-1)
(Khopkar, 1990)
II.10 Hukum Lambert-Beer
Hukum Lambert-Beer digunakan untuk menggambarkan
absorbsi cahaya pada panjang gelombang tertentu yang diberikan
oleh absorbsi spei dalam larutan
Log = I0.I
A = .I.c
Dimana :
A = absorbansi
b = tebal dari larutan (cm)
c = konsentrasi larutan (M)
= absortivitas molar (L mol-1 cm-1)
Menurut Lambert, serapan berbanding lurus terhadap
ketebalan sel (b) yang disinari dengan bertambahnya sel, maka
serapan akan bertambah A = k.b . Menurut Beer, yang berlaku
untuk radiasi monokromatis dalam larutan yang sangat encer,
serapan berbanding lurus dengan konsentrasi A = k.c .
Kedua persamaan ini digabungkan dalam hukum LambertBeer, maka diperoleh bahwa serapan berbanding lurus dengan
konsentrasi dan ketebalan sel.
A = k.c.b
Dengan:
c = konsentrasi zat yang menyerap g/l atau mol/l
k = nilai ketetapan

Hukum Lambert-Beer:
A = a.b c (g/l) atau A = .b.c (mol/L)
Dimana:

A = serapan
a = absortivitas
b = tebal dari larutan (cm)
c = konsentrasi larutan (M)
= absortivitas molar (L mol-1 cm-1)
Absortivitas tergantung pada suhu, pelarut, struktur molekul,
dan panjang gelombang radiasi (Underwood, 1998)
II.11 Nilai Rf
Jarak antara jalannya pelarut bersifat relatif. Oleh karena itu diperlukan suatu
perhitungan tertentu untuk memastikan spot yang terbentuk memiliki jarak yang
sama walaupun jarak ukuran platnya berbeda. Nilai perhitungan tersebut adalah nilai
Rf. Nilai ini digunakan sebagai nilai perbandingan relatif antar sampel. Nilai Rf juga
menyatakan derajat reaksi suatu komponen dalam fasa diam sehingga nilai Rf sering
juga disebut faktor refeksi. Nilai Rf dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Rf = Jarak yang ditempuh zat terlarut atau noda
Jarak yang ditempuh zat pelarut atau eluen
Semakin besar nilai Rf dari sampel maka semakin besar pula tergeraknya
senyawa tersebut pada plat kromatografi lapis tipis. Saat membandingkan dua sampel
yang berbeda dibawah kondisi kromatografi yang sama nilai Rf akan besar bila
senyawa tersebut kurang polar dan berinteraksi dengan adsorben polar dari plat
kromatografi lapis tipis. Nilai Rf dapat dijadikan bukti dalam mengidentifikasi
senyawa. Bila identifikasi nilai Rf memiliki nilai yang sama maka senyawa tersebut
dapat dikatakan memiliki krakteristik yang sama (Hendayana,1994)
II.12 Analisa Bahan
II.12.1 Etanol
Sifat fisik : tidak berwarna, titik didih 78,4 C
Sifat kimia : volatil, dapat bercampur dengan air (Basri, 2003)
II.12.2 Kurkumin
Sifat fisika : berwarna kuning
Sifat kimia : dalam suasana asam kurkumin berwarna kuning jingga, dalam
suasana basa berwarna merah, termasuk golongan fenolin, larut dalam etil
asetat, metanol dan etanol. (Pudjaatmaka,2003)
II.12.3 Bubuk kunyit

Sifat fisik: berbentuk padatan putih, berwarna kuning bunganya berwarna


pucat daun pelindungnya berwarna putih dan pangkalnya
berwarna kuning.
Sifat kimia: mengandung kurkuminoid, minyak atsiri dan oleoresis,bersifat
antioksidan dan antitoksin (Pudjaatmaka,2003)
II.12.4 Bubuk temulawak
Sifat fisik:

berbentuk padatanbubuk berwarna kuning, berbau aromatik


tajam, rasanya pahit agak pedas.

Sifat kimia : mengandung halugoga yang berfungsi meningkatkan produksi


dan sekresi empedu, terdiri dari fraksi pati, kurkuminoid, dan
minyak atsiri. (Pudjaatmaka,2003)

III.
METODE PERCOBAAN
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Spektroskopi UV-Vis
Seperangkat TLC
Cuvet
Pipet tetes
Erlenmeyer
Gelas Ukur
Kertas Saring
Gelas Beker

III.1.2 Bahan
1.
2.
3.
4.
5.

Bubuk Kunyit
Bubuk Temulawak
Etanol
Kloroform
Kurkumin Standart

III.2 Gambar Alat

Spektroskopi UV Vis

Gelas Ukur

Kertas Saring

Gelas Beker

Cuvet

Pipet Tetes

Tabung Reaksi

Chamber

Plat KLT

III.3 Skema Kerja


III.3.1 Isolasi Pigmen Kurkumin Kunyit

1 g Bubuk Kunyit
Gelas Beker

Penambahan Etanol 96%


Pendiaman Larutan
Penyaringan

Residu

Filtrat

1 mL Filtrat
Labu Takar 10 mL

Penambahan etanol sampai tanda batas


Penggojogan

0,05 mL Filtrat
Labu Takar 10 mL

Hasil

Penambahan etanol sampai tanda batas


Penggojogan

III.2.2 Isolasi Pigmen Kurkumin Temulawak

1 g Bubuk Temulawak
Gelas Beker

Penambahan Etanol 96%


Pendiaman Larutan
Penyaringan

Residu

Filtrat

1 mL Filtrat
Labu Takar 10 mL

Penambahan etanol sampai tanda batas


Penggojogan

HASIL

III.2.3 Analisis Komponen Hasil Isolasi dengan KLT


Larutan Kurkumin
Plat KLT

HASIL

Penotolan pada plat KLT dengan jarak 1 cm


dari bawah plat KLT
Pendiaman hingga kering
Pengelusian dengan etanol dan kloroform
Pengambilan plat KLT setelah mencapai 0,5
cm dari batas atas plat KLT
Pengeringan
Pengamatan bercak sinar UV

III.2.4 Analisis Komponen Hasil Isolasidengan Spektrometer UV-Vis


Larutan Etanol sebagai Blanko
Cuvet

Pemasukan ke dalam spectrometer UV-Vis


Pemasukan larutan standard
Pengukuran absorbansi

Hasil

Larutan Kurkumin Standar


Cuvet

Pemasukan dalam spectrometer UV-Vis


Pengukuran absorbansi

Hasil

Larutan Kunyit
Cuvet

Pemasukan dalam spectrometer UV-Vis


Pengukuran absorbansi

Hasil

Larutan Temulawak
Cuvet

Hasil
IV. DATA PENGAMATAN

Pemasukan dalam spectrometer UV-Vis


Pengukuran absorbansi

No
1

Perlakuan
Isolasi pigmen kurkumin kunyit
a. 1 gram bubuk kunyit + 10 ml Etanol
b. Pendiaman
c. Penyaringan

Hasil
Bubuk kunyit melarut
Bubuk kunyit terekstrak
Terpisah antara filtrate dan residu

Isolasi pigmen kurkumin temulawak


a. 1 gram bubuk temulawak + 10 ml Bubuk temulawak melarut
Etanol
b. Pendiaman
c. Penyaringan

Bubuk temulawak terekstrak


Terpisah antara filtrate dan residu

3.

Analisis hasil isolasi dengan KLT

Pengelusian dengan campuran etanol dan Standar, Plat 1 = 5cm


Plat 2 = 5,8cm

klorofoam

Kunyit, Plat 1 = 5cm


Plat 2 = 5,8cm
Temulawak, Plat 1 = 5cm
Plat 2 = 5,7cm
4.

Analisa UV

Standar
1 = 210nm, A = 0,371
2 = 260nm, A = 0,264
3 = 425nm, A = 1,386
Kunyit
1 = 235nm, A = 0,942
2 = 420nm, A = 1,375
Temulawak
1 = 215nm, A = 1,389
2 = 265nm, A = 0,483

5.

Perhitungan Konsentrasi

3 = 425nm, A = 0,826
Standar = 8,925 ppm
Kunyit = 8,854 ppm
Temulawak = 5,318 ppm

V. HIPOTESIS
Percobaan Zat Warna: Ekstraksi, Analisa Kualitatif dan Analisa Kuantitatif Pigmen
bertujuan agar mahasiswa memiliki kemampuan menrapkan aspek aspek yang berhubungan

dengan metode ekstraksi, metode analisis kualitatif dengan KLT dan spektroskopi Vis, serta
aspek analisis kuantitatifdengan spektroskopi Vis, yang di dasarkan pada penguasaan molekul
yang kuat. Metode yang di gunakan adalah ekstraksi, kromatografi lapis tipis dan
spektroskopi Uv Vis. Prinsip yang digunakan yaitu berdasarkan prinsip like disolve like
untuk ekstraksi, perbedaan daya larut fase diam dan fase gerak pada KLT dan absorpsi cahaya
oleh suatu molekul pada spektoskopi UV-Vis. Hasil yang akan diperoleh adalah diketahui
sampel mengandung kurkumin.

VI.

Pembahasan
Telah dilakukan percobaan yang berjudul Zat Warna : Ekstraksi, Analisa
Kuantitatif dan Analisa Kualitatitatif Pigmen yang bertujuan agar mahasiswa
memiliki kemampuan menerapkan aspek-asek yang berhubungan dengan metode

ekstraksi, metode analisis kualitatif dengan TLC dan spektroskopi Vis, sertaaspek
analisis kuantitatif dengan aspek spektorkopi Vis didasarkan pada penguasaan molekul
yang kuat. Metode yang digunakan pada percobaan ini adalah ekstraksi, KLT dan
spektrometri UV-Vis. Prinsip percobaan ini yaitu like dissolves likes untuk ekstraksi,
perbedaan daya larut fase diam dalam fase gerak pada KLT dan absorbsi cahaya oleh
suatu molekul pada spektrometri UV-Vis.
VI.1

Ekstraksi Pelarut

Maserasi adalah salah satu jenis metode ekstraksi tanpa pemanasan atau
dikenal dengan istilah ekstraksi dingi. Prinsip maserasi yaitu pengikatan/pelarutan zat
aktif berdasarkan sifat kelarutannya dalam suatu pelarut. Serbuk kunyit dan
temulawak direndam menggunakan pelarut etanol 96%. Cairan penyari akan masuk ke
dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adany perbedaam konsnetrasi
antara larutan zat aktif didalam sel dengan yang diluar sel. Larutan yang
konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan
konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi
kesetimbangan konsentrasi antara larutan diluar dan didalam sel (Khopkar,1990).
Hasil maserasi disaring dan filtratnya diambil. Filtrate tersebut merupakan larutan
kurkumin yang berasal dari kunyit dan temulawak. Etanol digunakan karena kurkumin
tidak larut dalam air melainkan larut dalam alcohol dan asam asetat glasial
(Sudarsono,1996)
VI.2

Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Percobaan ini bertujuan untuk mnganalisis kurkumin pada kunyit dan


temulawak. Prinsipnya yaitu distribusi senyawa yang akan dipisahkan terhadap fase
gerak dan fase diamnya. Distribusi ini sangat bergantung pada kepolaran masingmasing komponen. Sebelum analisis KLT, filtrat kurkumin yang diperoleh diencerkan
sedemikian rupa. Dalam percobaan ini digunakan plat KLT yang mengandung
adsorben silica gel yang bersifat polar. Adsorben silica ini bertindak sebagai fase diam
sedangkan fase geraknya adalah eluen campuran etanol dan kloroform dengan
perbandingan 1,96:0,04. Eluen sendiri adalah pelarut yang dipakai dalam migrasi atau
pergerakan dalam membawa komponen-komponen zat yang dianalisa dan suatu fasa
yang bergerak (eluen) menuju ke fasa lain yang diam (adsorben) yang dilaluinya
(Fessenden,1986).
Digunakan eluen yang berbeda kepolarannya karena diduga senyawa yang
dianalisis mempunyai kepolaran yang berbeda-beda. Dalam hal ini eluen terdiri dari
etanol dan kloroform dikarenakan etanol bersifat semi polar sedangkan kloroform
bersifat non polar sehingga antara komponen senyawa dalam analit yang bersifat polar
dan non polar dipisahkan akibat perbedaan dari setiap komponen. Dengan adanya
eluen campuran maka pemisahan dapat dilakukan dengan maksimal. Pada KLT diberi
tanda denganpensil yaitu 1 cm dari batas bawah dan 0,5 cm dari batas atas. Eluen
dimasukkan dalam chamber dan dijenuhkan dengan kertas saring agar eluen cepat
merambat naik. Ekstrak kurkumin standard, kunyit dan temulawak ditotolkan pada

plat KLT menggunakan pipa kapiler, penotolan dilakukan pada garis batas bawah. Plat
KLT dimasukkan ke dalam chamber dan dibiarkan sampai eluen mencapai batas atas.
Setelah sampai pada batas atas, plat KLT diambil dan dibiarkan sampai kering
kemudian plat disinari dengan lampu UV 365nm agar noda yang terbentuk dapat
terlihat jelas. Nilai Rf masing-masing spot diukur, nilai Rf adalah jarak tempuh noda
dibagi dengan jarak garis batas atas. Diperoleh nilai Rf kurkumin standard sebesar
0,77 dan 0,892 ; kunyit sebesar 0,77 dan 0,892 ; temulawak sebesar 0,77 dan 0,877.
Kedudukan totolan kunyit dan temulawak sama dengan kurkumin standard selain itu
nilai Rfnya pun hampir sama sehingga dapat disimpulkan bahwa kunyit dan
temulawak mengandung mengandung kurkumin.
VI.3 Spektrometri UV-VIS
Analisis kurkumin menggunakan spektrometri UV-Visini bertujuan untuk
menganalisa kurkumin secara kuantitatif dan mengidentifikasi senyawa kurkumin.
Prinsip kerja spektometri UV-Vis ini adalah sinar tampak (380-780nm) akan
diteruskan dalam sampel dan sampel tersebut akan mengabsorbsi sejumlah sinar
tampak yang sebanding dengan konsentrasi sampel (Khopkar, 1990). Sebelum
dilakukan analisis sampel menggunakan spektrometri UV-Vis terlebih dahulu
dimasukkan blanko ke dalam spectrometer. Blanko adalah larutan yang mempunyai
perlakuan yang sama dengan analit tetapi tidak mengandung analit (Svehla, 1985).
Blanko yang digunakan adalah etanol 96%. Etanol digunakan karena tidak menggeser
nilai absorbansi, terbukti dengan nilai absorbansinya 0. Setelah absorbansi dalam
keadaan nol, sampel dimasukkan dalam spectrometer (sampel kurkumin standar,
kunyit dan temulawak secara berurutan). Pada sampel standar didapatkan peak 425nm,
260nm, 210nm dengan absorbansi berturut-turut 1,386; 0,264; 0,371. Pada sampel
kunyit didapatkan peak 420nm, 235nm dengan absorbansi berturut-turut 1,375; 0,942.
Pada sampel temulawak didapatkan peak 425nm, 265nm, 215nm dengan absorbansi
berturut-turut 0,826; 0,483; 1,389. Selanjutnya dapat ditentukan senyawa kurkumin
apa yang ada pada sampel, menurut literature maks kurkumin sebesar 426nm,
kemudian
maks
demetoksikurkumin
sebesar
421nm
dan
maks
bisdimetoksikurkuminsebesar 417nm. Dari hasil yang diperoleh, larutan standar dan
larutan sampel temulawak mengandung kurkumin sedangkan larutan sampel kunyit
mengandung demetoksikurkumin, berdasarkan nilai -nya yang mendekati literature.
Adanya pergeseran gelombang ini, dapat dikarenakan adanya efek pelarut yang
membentuk ikatan hidrogen dan menyebabkan polarisasi dari pelarut meningkat.
Adapun rumus struktur kurkumin dan derivatnya adalah sebagai berikut :

(Rosana, et al, 2014)


Kunyit dan temulawak memiliki warna karena warna tersebut berasal dari
kandungan kurkumin yang dimilikinya. Warna khas tersebut adalah warna kuning.
Warna khas terjadi karena adanya ikatan rangkap terkonjugasi yang jumlahnya lebih
dari 5 (ikatan rangkap kurkumin jumlahnya 10 ) konsentrasi larutan standar kurkumin
dan ekstrak kunyit serta temulawak dapat dihitung menggunakan rumus A=.b.c .
Konsentrasi standar kurkumin sebesar 8,925 ppm , konsentrasi sampel kunyit sebesar
8,854 ppm dan konsentrasi sampel temulawak sebesar 5,318 ppm.
SPEKTRA KURKUMIN STANDAR

Analisa Spektra: Dari hasil spectrum UV di atas, pada larutan standard


terdapat 3 peak yaitu pada panjang gelombang 210nm, 260nm, 425nm. Dari ketiga
peak tersebut peak 425nm mendekati nilai maks kurkumin dari literature yaitu 426nm
yang berarti larutan standard mengandung kurkumin.
SPEKTRA KUNYIT

Analisa Spektra: Dari hasil spectrum UV sampel kunyit terdapat 2 peak yaitu
pada panjang gelombang 235nm dan 420nm. Dari keduanya peak 420nm mendekati
nilai maks kurkumin yaitu 426nm sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel kunyit
tersebut mengandung kurkumin.

SPEKTRA TEMULAWAK

Analisa spectra: Dari hasil spectrum UV sampel temulawak terdapat 3 peak


yaitu pada panjang gelombang 215nm, 265nm dan 425nm. Dari ketiganya peak
425nm mendekati nilai maks kurkumin yaitu 426nm sehingga dapat disimpulkan
bahwa sampel temulawak tersebut mengandung kurkumin.

VII. PENUTUP
VII.1 Kesimpulan
VII.1.1 Ekstrak kurkumin kunyit dan temulawak dapat di peroleh dengan cara
ektraksi maserasi
VII.1.2 Dari uji KLT terbukti bahwa kunyit dan temulawak mengandung
kurkumin
VII.1.3 Dengan spektroskopi UV-Vis didapatkan maks, absorbansi dan
konsentrasi sampel. maks standard , kunyit dan temulawak berturutturut adalah 425nm, 420nm dan 425nm. maks tersebut mendekati
maks kurkumin dan derivatnya sehingga terbukti bahwa standard,
kunyit dan temulawak mengandung kurkumin dan derivatnya
VII.2 Saran
VII.2.1 Senyawa campuran eluen mungkin dapat diganti dengan n-heksana dan
etil asetat
VII.2.2 Serius, teliti, dan cekatan dalam melakukan praktikum
VII.2.3 Pengekstraksian kunyit dan temulawak mungkin dapat diganti dengan
metode lain seperti soxhletasi atau dengan ekstraksi pelarut

LEMBAR PENGESAHAN

Praktikan I,

Praktikan II,

Abu Khasan
24030114120021

Mohammad Zamroni
24030114130082

Praktikan III,

Praktikan IV,

Anis Qurotul Aini

Nadela Nurdiantika

24030114130083

24030114140085

Praktikan VI,

Praktikan V,

Rosydha Ulfa
24030114130087

Praktikan VII,

Lindawati Setiadi

Vian Febiane

24030114140088

24030114140089

Mengetahui,
Asisten

Lailiyatin Nuriyah
24030112130106

DAFTAR PUSTAKA

Basri, S, 2003, Kamus Kimia, Rineka Cipta, Jakarta


Fessenden, 1986, Kimia Organik, Erlangga, Jakarta
Fessenden, 2003, Dasar-dasar Kimia Organik, Erlangga, Jakarta
Hendayana, 1994, Kimia Analitik Instrumen, IKIP Semarang Press, Semarang
Khopkar, 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI Press, Jakarta
Pudjaatmaka, 2003, Kamus Kimia Organik, Depdikbud, Jakarta
Sudarsono, 1996, Tumbuhan Obat, UGM, Yogyakarta
Svehla, 1985, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro, PT. Kalman
Media Pustaka, Jakarta
Underwood, 1998, Analisis Kimia Kurkumin, Erlangga, Jakarta

LAMPIRAN

Pengenceran
Konsentrasi awal Kunyit dan Temulawak:
1 gram
10 ml
a

1000 mg
0.01 L

= 100000 ppm

Kunyit

Pengenceran Pertama
100000ppm . X = 10000ppm . 10 mL
100000
X = 10000 mL
X = 1 mL
Pengenceran Kedua

II

10000ppm . X = 50ppm . 10 mL
X=

500
10000

mL

X = 0,05 mL
b

Temulawak
I

100000ppm. X = 100000ppm . 10 mL
100000
X = 100000 mL
X = 1 mL

Kromatografi Lapis Tipis


- Rf Kurkumin Standar
jarak tempuh noda
Plat KLT 1 = jarak lintasan noda

5 cm
6,5 cm

= 0,77

jarak tempuh noda


jarak lintasan noda

5,8 cm
6,5 cm

= 0,892

Plat KLT 1 =

jarak tempuh noda


jarak lintasan noda

5 cm
6,5 cm

= 0,77

Plat KLT 2 =

jarak tempuh noda


jarak lintasan noda

5,8 cm
6,5 cm

= 0,892

Plat KLT 2 =

Rf Kunyit

Rf Temulawak

Plat KLT 1 =

jarak tempuh noda


jarak lintasan noda

Plat KLT 2 =

jarak tempuh noda


jarak lintasan noda

Spektrometer UV-Vis
a Kurkumin Standar
Pada = 425nm nilai A=1,386
y = A dan x = konsentrasi
y = m x dimana m = 0,1553
y = 0,1553x
1,386
x = 0,1553 = 8,925 ppm
b

Kunyit
Pada = 420nm nilai A = 1,375
y = A dan x = konsentrasi
y = m x dimana m = 0,1553
y = 0,1553x
1,375
x = 0,1553 = 8,854 ppm

Temulawak
Pada = 425nm nilai A= 0,826
y = A dan x = konsentrasi
y = m x dimana m = 0,1553
y = 0,1553x
0,826
x = 0,1553 = 5,318 ppm

5 cm
6,5 cm

5,7 cm
=
0,877
6,5 cm

= 0,77

Anda mungkin juga menyukai