Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PRESENTASI INSTRUMENTASI

Sound Level Meter

Disusun oleh :
1.Delvi Kusuma F. R.
0514040069
2.Haekal Shofwanul Qirom 0514040077
TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
presentasi tentang Sound Level Meter untuk memenuhi tugas mata kuliah
Instrumentasi ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga

kami berterima kasih pada Bapak Iimunadhif selaku Dosen Mata Kuliah
Instrumentasi di PPNS yang telah
memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai Alat Sound Level Meter beserta fungsi,
bagian
, prinsip kerja dan kelebihan dan kekurangannya. Kami juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh
sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah
yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya makalah presentasi yang telah disusun ini dapat berguna
bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf
apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik
dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.
Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar.. i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah2
1.3 Tujuan.. 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sound Level Meter.3
2.2 Fungsi Sound Level Meter...3
2.3 Bagian-bagian Sound Level Meter.. 4
Fungsi Bagian Sound Level Meter
A. Microphone... 5
B. Display.. 6
C. Alarm LED 6
D. Windscreen 6
E. Weighting key... 6
F. Fast/Slow key 6
G. Up/Save key.. 6
H. Down/Read key. 6
I. Function Key. 6
J. Max hold key.6
K. Power key.. 6
L. Delete/Menu.. 6
M. Cal adjusting.6
N. Jack for RS-232C interface... 6
O. Jack for AC 6
P. Jack for Power Adaptor. 6
2.4 Prinsip Kerja... 7
2.4.1. Cara Penggunaan Sound Level Meter. 7
2.4.2. Kalibrasi Sound Level Meter... 9
2.5 Kelebihan dan Kekurangan 9
2.5.1 Kelebihan Sound Level Meter.. 10
2.5.2 Kekurangan Sound Level Meter... 11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.. 12
3.2 Saran............ 12
Daftar Pustaka... 13

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Setiap aktifitas manusia disadari atau tidak, dapat menjadi sumber bising.

Seiring perkembangan zaman manusia pun membutuhkan industri untuk memenuhi


kebutuhan hidupnya. Namun kebanyakan aktifitas dalam suatu industri terutama
proses produksi, dapat menimbulkan kebisingan yang dapat mengganggu pekerja
maupun masyarakat sekitarnya.
Kebisingin merupakan salah satu masalah kesehatan lingkungan. Bising
adalah suara yang tidak dikehendaki yang dapat mengganggu dan atau dapat
membahayakan kesehatan (Sumamur, 1984). Pengaruh bising pada kesehatan berupa
gangguan pendengaran dan gangguan bukan pendengaran.
Kebisingan merupakan sebuah bentuk energi yang bila tidak disalurkan pada
tempatnya akan berdampak serius bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Upaya
pengawasan dan pengendalian kebisingan

menjadi faktor yang menentukan

kualifikasi suatu perusahaan dalam menangani masalah lingkungan yang muncul.


Secara umum bising adalah bunyi yang tidak diinginkan. Bising yang
intensitasnya 85 desibel ( dB ) atau lebih dapat menyebabkan kerusakan reseptor
pendengaran Corti pada telinga dalam. Sifat ketuliannya adalah tuli saraf koklea dan
biasanya terjadi pada kedua telinga

Banyak hal yang mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpapar bising
antara lain intensitas bising yang lebih tinggi, berfrekwensi tinggi, lebih lama terpapar
bising, kepekaan individu dan faktor lain yang dapat menimbulkan ketulian.
1.2
1.
2.
3.
4.
5.

Rumusan Masalah
Pengertian Sound Level Meter
Fungsi Sound Level Meter
Apa saja bagian-bagian Sound Level Meter
Bagaimana Prinsip Kerja Sound Level Meter
Kelebihan dan kekurangan Sound Level Meter

1.
2.
3.
4.
5.

Tujuan
Mengetahui secara umum apa yang dimaksud dengan Sound Level Meter
Mengetahui fungsi Sound Level Meter
Memahami bagian-bagian Sound Level Meter
Memahami prinsip kerja Sound Level Meter
Dapat menentukan kelebihan dan kekurangan Sound Level Meter

1.3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Sound Level Meter


Sound Level Meter merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur

tingkat kebisingan, suara yang tak dikehendaki, atau yang dapat menyebabkan rasa
sakit ditelinga. Sound level meter biasanya digunakan di lingkungan kerja seperti,
industri penerbangan dan sebagainya. Selain itu Sound Level Meter juga dapat
digunakan untuk memverifikasi persis berapa banyak tingkat suara telah berubah.
Semua Sound Level Meter memiliki fitur pengukuran pengukur kondensor mikrofon
omnidirectional, preamp pic, jaringan pembobotan frekuensi, rangkain detector RMS,
layar pengukuran, AC dan DC output yang digunakan untuk merekam data hasil
pengukuran.
2.2

Fungsi Sound Level Meter


Sound Level Meter berfungsi mengukur tingkat kebisingan di lingkungan

kerja, dan berfungsi untuk untuk memverifikasi persis berapa banyak tingkat suara
telah berubah. Sound Level Meter juga berfungsi untuk mengukur kebisingan antara
30-130 dB dalam satuan dBA dari frekuensi antara 20-20.000Hz.
Sound Level Meter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur tingkat
berapa frekuensi/berat suara yang akan ditampilkan pada dB-SPL. 0.0 dB-SPL adalah
ambang pendengaran, dan sama dengan 20uPa (micropascal). Dalam rangka untuk
menjamin kerataan SLM ada toleransi tambahan yang ditentukan untuk berbagai
frekuensi dan mikrofon juga.
SLM Kelas-0 bekerja untuk mengkalibrasi SLMs lain dan dapat digunakan untuk
pengukuran kebisingan presisi yang sangat tinggi di ruang kontrol dan / atau untuk
penelitian akademis.
SLM Kelas-1 dan Kelas-2 yang paling banyak digunakan oleh acousticians,
profesional sound system, desainer industri / produsen dan peneliti di akademisi dan
pemerintah. Pengukuran yang dilakukan dengan tingkat akurasi ini umumnya
diterima sebagai bukti dalam penyelesaian sengketa hukum. Sedangkan SLM Kelas-3
dibatasi untuk noise survey meters dan dosimeter.
2.3

Bagian-bagian Sound Level Meter


6

Semua Sound Level Meter (SLM) memiliki fitur pengukuran kondensor


mikrofon omnidirectional, preamp mic, jaringan pembobotan frekuensi, rangkaian
detektor RMS, layar pengukuran, AC dan DC output yang digunakan untuk merekam.
Banyak SLM memiliki set yang sama dari pengaturan pengguna, termasuk pemilihan
jangkauan SPL, filter pembobotan A dan C, respon detektor lambat dan cepat, dan
minimum atau maksimum SPL.
Kisaran SPL tergantung pada keseimbangan antara mengurangi the preamp
noise level dan mengukur berbagai tingkat tekanan suara. Sebagian besar ukuran
SLM secara umum tersedia dari sekitar 30-130 dB-SPL dan lakukan dalam rentang 34.
SLM yang lebih terdepan dan mahal memiliki fitur mikrofon yang dapat
dilepas, 1-octave and/or 1/3-octave filter sets, filter bobot tambahan termasuk B, D
dan datar atau Linear (tanpa filter), opsi tambahan respon detektor (Impulse and
Peak) dan data logging atau penyimpanan (baik on-board, sebagai file komputer atau
keduanya).
Hampir semua SLM dirancang dan ditetapkan untuk melakukan salah satu
dari empat tingkat standar internasional akurasi:
Secara umum bagian-bagian dari Sound Level Meter adalah:
A. Microphone.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.
L.
M.
N.
O.
P.

Display.
Alarm LED.
Windscreen
Weighting key.
Fast/Slow key.
Up/Save key.
Down/Read key.
Function Key.
Max hold key.
Power key.
Delete/Menu.
Cal adjusting.
Jack for RS-232C interface.
Jack for AC.
Jack for Power Adaptor.
Gambar 2.1 Sound Level

2.3.1
Fungs
i

bagian Sound Level Meter


A. Microphone
Berfungsi untuk menangkap sumber suara.
B. Display
Berfungsi untuk menampilkan data dari hasil pengukuran kebisingan berupa
angka.
C. Alarm LED / Indikator baterai
Berfungsi untuk menentukan daya baterai dalam alat Sound Level Meter
D. Windscreen
Berfungsi untuk meminimalisir kesalahan pengukuran dengan penyaring
angin.
E. Weighting Key
Berfungsi untuk mengubah signal yang terukur sesuai caranya tersendiri
seperti pada mekanisme pendengaran manusia.
F. Fast/Slow Key
Berfungsi menentukan jenis kebisingan (terputus-putus atau continue).
G.Up/Save Key
Berfungsi untuk menaikkan nilai settingan.
H.Down/Read Key
8

Berfungsi untuk menurunkan nilai settingan.


I. Function Key
Berfungsi
J. Max Hold Key
Berfungsi
K. Power Key
Berfungsi untuk menyalakan Sound Level Meter
L. Delete/Menu
Berfungsi Menghapus data yang sudah tersimpan pada display
M. Calibration Adjusment
Berfungsi untuk mengkalibrasi sebelum penggunaan Sound Level Meter
N. Jack for RS-232C interface
Berfungsi
O. Jack for AC/DC
Berfungsi untuk menyambungkan Sound Level Meter dengan perangkat lain.
P. Jack for Power Adaptor.
Berfungsi untuk menyambungkan Sound Level Meter dengan arus listrik.
2.4

Prinsip Kerja
Dalam mengukur tingkat kebisingan di lokasi instalasi, terdapat beberapa hal

yang harus diperhatikan. Jika mengukur tingkat kebisingan dari ruang rak, misalnya,
pastikan bahwa SLM diposisikan jauh dari dinding, lantai dan pembatas besar
lainnya. Level sinyal untuk kebisingan jarang menjadi masalah bagi pengukuran
sistem loudspeaker karena kita dapat mengubah suatu sistem menjadi lebih
meningkat, jauh dari tingkat kebisingan.
Prinsip kerja Sound Level Meter ialah didasarkan pada getaran yang terjadi.
Apabila ada objek atau benda yang bergetar, maka akan menimbulkan terjadinya
sebuah perubahan pada tekanan udara yang kemudian akan ditangkap oleh sistem
peralatan, Lalu selanjutnya jarum analog akan menunjukkan angka jumlah dari
tingkat kebisingan yang dinyatakan dengan nilai dB.
Pada umumnya SLM akan diarahkan ke sumber suara, setinggi telinga, agar
bisa menangkap kebisingan yang telah tercipta. Untuk keperluan mengukur nilai
kebisingan pada suatu ruang kerja, pencatatan dilaksanakan satu shift kerja penuh
dengan beberapa kali pencatatan dari SLM.

Keterangan gambar:
Tekanan suara diubah menjadi tegangan melalui mikrofon. Pada umumnya
Mikrofon menggunakan diafragma tipis untuk mengubah tekanan menjadi gerakan.
Gerakan ini selanjutnya diubah menjadi tegangan oleh tranduser yang
cocok biasanya tipe kapasitansi piezoelektrik atau tipe kumparan berputar.
Tegangan keluaran mikrofon secara umum adalah sangat kecil dan pada
suatu tingkat impedansi tinggi; sehingga pada keluaran mikrofon dipergunakan
penguat dengan impedansi masukan dan penguatan yang tinggi. Penguat ac sederhana
relative dapat digunakan, karena tidak diperlukan tanggapan terhadap tegangan yang
static (tak berubah) atau tegangan yang berubah secara perlahan.
Berikutnya setelah penguat pertama adalah jaringan imbangan. Jaringan ini
adalah suatu filter elektris yang mempunyai tanggapan frekuensi disesuaikan
sehingga mendekati tanggapan frekuensi telinga manusia rata-rata.
Jaringan timbangan adalah filter elektris yang dirancang mendekati
tanggapan pendengaran manusia pada tiga tingkat kenyaringan yang berbeda.
Sehingga pembacaan instrument akan menyatakan kenyaringan yang terasakan.
Biasanya disediakan tiga buah filter, yaitu A (mendekati tanggapan pendengaran 40
phon), B (70 phon), dan C (100 phon). Kenyataannya, banyak pengukuran praktis
dibuat dengan menggunakan skala A karena ini merupakan pendekatan sederhana
yang memberikan hasil baik dalam banyak kasus dan telah ditulis ke dalam banyak
standard dan kode. Pembacaan dilakukan pada jaringan timbangan disebut tingkat
suara.
Keluaran jaringan timbangan selanjutnya diperkuat dan suatu jack keluaran
tersedia untuk mengeluarkan sinyal ke osiloskop (jika diinginkan pengamatan bentuk
gelombangnya) atau ke penganalisis gelombang (jika akan menentukan kandungan

10

frekuensi suara). Pemfilteran dilengkapi dengan filter RC lolos rendah sederhana dan
meter dinamika lolos rendah.
Beberapa meter memiliki perpindahan tanggapan cepat maupun pelan yang
mengubah pemfilteran. Posisi pelan memberikan suatu kemantapan, memudahkan
pembacaan posisi jarum, tetapi tidak mampu membaca bila terjadi perubahan sinyal
dalam waktu yang pendek. Jika diinginkan pembacaan pada perubahan waktu
pendek, maka pengamatan pada meter dialihkan ke tanggapan cepat.
Selanjutnya pembacaan meter adalah nilai rms dan tekanan suara, ini
dikalibrasi dalam desibel ( dB ) karena desibel mendefinisikan dengan baik suatu
hubungan antara tekanan suara dalam alat.

2.4.1

Cara Penggunaan Sound Level Meter


Cara penggunaan Sound Level Meter seperti halnya alat elektronik

lainnya yaitu dengan menyalakan alat ini terlebih dahulu. Kemudian sebelum
digunakan, perlu dilakukannya pengecekan kalibrasi dari alat ini agar dapat
memastikan nilai akurasi pada alat ini sesuai dalam melakukan pengukuran
nanti. Kalibrasi yang ideal ialah 90% ke atas. Kalibrasikan alat dengan 114 dB
(A) dengan menggunakan alat kalibrasi yang dimasukkan ke microphone.
Lalu tahap selanjutnya ialah dengan menentukan range dan juga satuan yang
akan digunakan. Pada umumnya, digunakan satuan dB (decibel). Sesudah itu,
pasang wind screen pada microphone agar suara pada angin tidak ikut masuk
di dalam Sound Level Meter dan juga mencegah debu jika mengukur pada
tempat kerja yang terdapat debu debu dari kimia korosif supaya tidak
merusak microphone. Kemudian arahkan microphone ke arah dari sumber
suara yang akan di ukur. Lalu selanjutnya amati angka yang ada atau tertera
pada layar Sound Level Meter. Setiap area pengukuran dilakukan pengamatan
selama 1-2 menit dengan kurang lebih 6 kali pembacaan. Hasil pengukuran
yaitu angka yang ditunjukkan pada monitor. Setiap area pengukuran dilakukan
pengamatan selama 1-2 menit dengan kurang lebih 6 kali pembacaan. Hasil

11

pengukuran yaitu angka yang ditunjukkan pada monitor. Hasil pengukuran


dan penghitungan rata-rata kebisingan (Lek) yaitu:
{Lek = 10 log 1/n (10 L1/10+10L2/10+10L3/10+.) dBA}.
Sedangkan tingkat ketelitian pengukuran berkisar dari 26dB (A).
Analisis kebisingan Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor:Kep-48/MENLH/ 11/ 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan
Tanggal 25 Nopember 1996, maka pengukuran tingkat kebisingan dapat
dilakukan dengan dua cara:
Cara sederhana
Dengan sebuah sound level meter diukur tingkat tekanan bunyi dB (A)
selama 10 ( sepuluh ) menit untuk tiap pengukuran. Pembacaan dilakukan
setiap 5 (lima) detik.
Cara Langsung
Dengan sebuah integrating sound level meter yang mempunyai
fasilitas pengukuran LTM5, yaitu Leq dengan waktu ukur setiap 5 detik,
dilakukan pengukuran selama 10 (sepuluh) menit. Evaluasi hasil pengukuran
dengan baku mutu kebisingan yang ditetapkan dengan toleransi +3 dBA
(Sasongko dan Hadiyarto, 2000)
Cara Membaca Skala dan Hasil :
a. Tekan tombol ON untuk mengaktifkannya.
b. Sebelum pengukuran test suara, putar tombol penyetel untuk menentukan
tingkat tekanan suara. Misalnya 70-80 dB, 70 berada pada garis tebal atas
sebelah kiri (0) dan 80 pada garis tebal atas sebelah kanan ( 10 ). Pada
sound level meter tipe S2A memiliki 10 skala, dan skala terluar (0) berupa
garis skala berwarna merah.
c. Pada pembacaan meter ini, jika jarum penunjuk skala bergerak ke kanan
maka hasilnya positive (+) dan ke kiri hasilnya negative (-).
d. Baca hasil pengukuran pada sound level meter secara langsung.
e. Tulis hasil pengukuran.
f. Setelah pengukuran, matikan tombol ON ke OFF.
2.4.2

Kalibrasi Sound Level Meter


Sebelum dan sesudah pengukuran-pengukuran, perlulah untuk

mengecek bahwa bacaan yang ditayangkan adalah benar dan kalibrasikan


meteran tingkat kebisingan. Kalibrasi dapat dilakukan dengan dua cara: secara

12

internal dengan sinyal-sinyal listrik atau secara akustik dengan kalibrator


suara atau pistonphon.

Kalibrasi internal dilakukan dengan memakai referensi tegangan pada


rangkaian-rangkaian listrik dari meteran tingkat kebisingan serta
amplitude

yang

disesuaikan.

Penyesuaian

dilakukan

dengan

membandingkan nilai yang ditampilkan oleh fitur kalibrasi internal pada

nilai tertayang dari meteran tingkat kebisingan.


Kalibrasi akustik dilakukan dengan menyisipkan generator suara atau
pistonphon ke dalam mikrofon dari meteran tingkat kebisingan dan
menggunakan tekanan ssuara referensi (berbeda menurut alatnya,
misalnya 94 dB pada 1 kHz, 124 dB pada 250 Hz, dll.). Skala penuh (FS)
dari meteran tingkat kebisingan yang dipakai oleh masukan sinyal
kalibrasi disetel 6 dB lebih tinggi dari pada tingkat tekanan suara dari
sinyal kalibrasi normal. Misalnya, bila suara sinyal kalibrasi adalah 124
dB, 130 dB disetel, atau bila suara sinyal kalibrasi adalah 94 dB, 100 dB
disetel pada alat.
Cara Mengkalibrasi Sound Level Meter :
a. Hidupkan kalibrator dan sound level meter.
b. Putar tombol penyetel, dan atur tingkat tekanan suara.
c. Pastikan kalibrator berada pada sound level meter yang benar.
d. Lalu sesuaikan sound level meter untuk memperoleh hasil yang benar.

2.5

Kelebihan dan Kekurangan


2.5.1 Kelebihan Sound Level Meter
Sangat cocok digunakan untuk pada ruangan yang tertutup misalnya
lingkungan industri. Sound level meter akan memberikan solusi bagi
keselamatan tenaga kerja industri karena dengan mengetahui tingkat ukur
seberapa besar intensitas suara yang didapat maka akan mendapatkan system
proteksi ke tenaga kerja yang baik dan benar.
13

Sound Level Meter merupakan suatu perangkat alat uji untuk


mengukur tingkat kebisingan suara, hal tersebut sangat di perlukan terutama
untuk lingkungan industri, contoh pada industri penerbangan dimana
lingkungan sekitar harus diuji tingkat kebisingan suara atau tekanan suara
yang ditimbulkannya untuk mengetahui pengaruhnya terhadap lingkungan
sekitar.
2.5.2

Kekurangan Sound Level Meter


Ada beberapa faktor yang menjadi pengaruh dalam pengukuran

menggunakan sound level meter ini. Hal tersebut membuat gelombang suara
yang terukur bisa jadi tidak sama dengan nilai intensitas gelombang suara
sebenarnya. Faktor tersebut meliputi:
o Saat bunyi yang diukur bersifat komplek, terdiri atas tone yang berbedabeda, oktaf yang berbeda-beda, maka nilai yang dihasilkan di SLM tetap
berupa nilai tunggal. Untuk kondisi pengukuran yang rumit berdasarkan
frekuensi, maka alat yang digunakan adalah OBA.
o Pengaruh kecepatan angin membuat nilai intensitas suara yang terukur
tidak sesuai dengan intensitas suara dari Sound Level Meter.
o Posisi tempat pengukuran yang terbuka seperti di sekitar yang banyak
tumbuhan di mana suara yang diuji banyak diserap oleh tumbuhan
sehingga pengukuran tidak maksimal.
Dari beberapa faktor tesebut diketahui bahwa perjalanan suara berpengaruh
dengan benda sekitar yang menyerap suara.
Saat bunyi yang diukur bersifat komplek, terdiri atas tone yang
berbeda-beda, oktaf yang berbeda-beda, maka nilai yang dihasilkan di SLM
tetap berupa nilai tunggal. Hal ini tentu saja tidak representatif. Untuk kondisi
pengukuran yang rumit berdasarkan frekuensi, maka alat yang digunakan
adalah OBA. Pengukuran dapat dilakukan dalam satu oktaf dengan satu OBA.
Untuk pengukuran lebih dari satu oktaf, dapat digunakan OBA dengan tipe
lain. Oktaf standar yang ada adalah 37,5 75, 75-150, 300-600,600-1200,
1200-2400, 2400-4800, dan 4800-9600 H.

14

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Dari uraian pada bab-bab sebelumnya, maka terdapat kesimpulan-kesimpulan

yang dapat diambil, yaitu:


1. Sound Level Meter merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur
tingkat kebisingan, suara yang tak dikehendaki, atau yang dapat menyebabkan
rasa sakit ditelinga.
2. Sound Level Meter digunakan untuk dapat mengukur kebisingan antara 30
130 dB dalam satuan dBA dari frekuensi antara 20 sampai 20.000Hz.
3. Secara umum bagian-bagian dari Sound Level Meter adalah microphone,
display, alarm LED, windscreen, weighting key, fast/Slow key, up/save key,
down/read key, function key, max hold key, power key, delete/menu, cal
adjusting, jack for RS-232C interface, jack for AC, dan jack for power
adaptor.
4. Prinsip kerja Sound Level Meter ialah didasarkan pada getaran yang terjadi
yang akan menimbulkan terjadinya sebuah perubahan pada tekanan udara dan
ditangkap oleh sistem peralatan.
5. Kelebihan Sound Level Meter ini adalah sangat cocok digunakan pada
ruangan

yang

tertutup

misalnya

lingkungan

industri.

Sedangkan

kekurangannya adalah pengaruh kecepatan angin dan bila dipakai di tempat


terbuka membuat nilai intensitas suara yang terukur tidak sesuai dengan
intensitas suara dari Sound Level Meter.
3.1

Saran
Ketika menggunakan sound level meter sebaiknya suara-suara yang tidak

termasuk dalam pengukuran sebisa mungkin diminimalisir agar data yang diperoleh
benar-benar valid karena sound level meter tidak dapat me

DAFTAR PUSTAKA
Hatsuharu, Van. 2012. Makalah Bising. Online. Tersedia: http://siothe.blogspot.co.id/2012/07/makalah-bising_1861.html [09 November 2015]

15

Hikmat, 2012. Sound Level Meter: Pengertian dan Cara Menggunakannya . Online.
Tersedia: http://alatukur.web.id/sound-level-meter/ [09 November 2015]
Salya, Nur Wahyuni, 2014. Definisi & Pengertian Sound Level Meter. Online.
Tersedia: http://otakpedot.blogspot.co.id/2014/01/definisi-pengertian-soundlevel-meter.html [09 November 2015]
Ralali, Angga, 2014. Mengenal Sound Level Meter ( Alat Pengukur Intensitas
Kebisingan ). Online. Tersedia: http://news.ralali.com/mengenal-sound-levelmeter/ [09 November 2015]
Trotec, 2014. Semuanya yang Ingin Anda Ketahui Tentang Sound Level Meter.
Online. Tersedia: http://www.news.tridinamika.com/2540/semuanya-yangingin-anda-ketahui-tentang-sound-level-meter [09 November 2015]

16