Anda di halaman 1dari 30

Gangguan Pendengaran Pada Bayi

dan Anak
Dr. Nirza Warto, Sp. THT-KL

Pendahuluan
Proses belajar mendengar kompleks dan bervariasi

Pemeriksaan diharapkan dapat mendeteksi gangguan


pendengaran sedini mungkin

Gangguan pendengaran pada bayi dan anak kadang-kadang


disertai keterbelakangan mental , gangguan emosional
maupun afasia perkembangan

Perkembangan Auditorik
Erat hubungan
dengan
perkembangan
otak.

3 tahun pertama
neuron
dibagian korteks
mengalami
pematangan
12 bulan pertama

perkembangan
otak sangat cepat

Berdasarkan
pertimbangan tsb
deteksi
gangguan
pendengaran
harus dilakukan
secara dini

Perkembangan wicara

Kemahiran wicara dan


berbahasa dapat tercapai
jika input sensorik
(auditorik) dan motorik
dalam keadaan normal

Tahap perkembangan bicara

Perkiraan adanya gangguan pendengaran pada bayi dan


anak

Penyebab gangguan pendengaran pada bayi


dan anak

Pranatal

Genetik herediter
Non genetik : ggn pada saat hamil, kel
struktur anatomik, dan kekurangan gizi

Perinatal

BBLR (<2500gr), hiperbilirubinemia,


asfiksia

Post natal

Infeksi bakteri/virus, perdarahan pada


telinga tengah, trauma temporal,

Pemeriksaan pendengaran pada bayi


dan anak

Prinsip ggn
pendengaran harus
diketahui sedini
mungkin

Pemeriksaan
pendengaran pada
bayi dan anak jauh
lebih sulit

Pemeriksa harus
mengetahui hubungan
usia bayi dan taraf
perkembangan
motorik & auditorik

Pemeriksaan pendengaran pada bayi dan


anak

Behavioral
Observation
Audiometry (BOA)

Timpanometri

Otoacoustic
emission (OAE)

Audiometri
Bermain (play
audiometri)

Brainstem Evoked
Response
Audiometri
(BERA)

Behavioral Observation Audiometry (BOA)

Berdasarkan respon aktif pasien terhadap stimulus yang diberikan

BOA

Manfaat

Untuk mengetahui respons subyektif sistem auditori bayi/anak


Untuk penilaian habilitasi pendengaran yaitu pada pengukuran ABD

Ruangan cukup tenang (bising lingkungan <60dB)


Sumber bunyi tepukan tangan, bola plastik berisi pasir, remasan kertas minyak, bel,
terompet karet, dll kalibrasi
Pemeriksaan Nilai kemampuan anak dalam memberikan respon terhadap sumber bunyi tersebut

BOA dibedakan menjadi


Behavioral Reflex
Audiometry
Behavioral Response
Audiometry
Play Audiometry

Timpanometri
Diperlukan untuk menilai kondisi telinga
tengah adanya gangguan pendengaran
konduktif

Bayi >7bln & dewasa probe tone frek


226 Hz
Bayi <6bln probe tone frekuensi tinggi

Merupakan pemeriksaan pendahuluan


sebelum tes OAE

Visual Reinforcement Audiometry (VRA)


Anak lebih besar
Prinsip memberikan penghargaan
Boneka

TIMPANOGRAM

Audiometri nada murni


Alat : audiometer
Hasil pencatatan : audiogram
Dapat dilakukan pada anak >4 th yang
kooperatif
Sumber suara nada murni (pure tone)
Dilakukan pada ruang kedap suara

Menilai hantaran suara melalui udara (air


conduction) frek 125,250, 500, 1000, 2000,
4000, 8000 Hz
Menilai hantaran suara melalui tulang (bone
conduction) frek 500, 1000, 2000, 4000Hz
Intensitas 10-100 dB
Suara dengan intensitas terendah yang dapat
didengar Jenis dan derajat ketulian

Otoacoustic Emission (OAE)


Mekanisme
respon OAE

Jenis OAE :

- Spontaneous OAE (SPOAE)


mekanisme
aktif
koklea
memproduksi OAE, tanpa stimulus
- Evoked OAE (EOAE) diberi
stimulus

EOAE terbagi menjadi :


- Transient Evoked OAE (TEOAE),
stimulus click
- Distortion Product OAE (DPOAE),
stimulus 2 buah nada murni,
berbeda
frekuensi
dan
intensitasnya

OAE
Menggunakan kriteria pass/lulus dan refer/ tidak
lulus
Tidak invasif
Mudah
Tidak membutuhkan waktu lama
Praktis
Tidak harus di ruang kedap, cukup diruang yang
tenang
Pemilihan probe sesuai ukuran liang telinga

Kegunaan
Program skrining pendengaran bayi baru lahir (Universal Newborn Hearing
Screening)

Monitor efek negatif dari obat ototoksik

Diagnosis neuropati auditorik

Membantu pemilihan alat bantu dengar

Skrining pemaparan bising (NIHL)

Pemeriksaan penunjang kasus yang berkaitan dengan gangguan koklea

Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA)


Pemeriksaan elektrofisiologik untuk menilai
integritas sistem auditorik , bersifat obyektif, tidak
invasif
Dapat memeriksa bayi,anak, dewasa, penderita
koma

Direkam melalui elektroda permukaaan (surface


electrode)
Gelombang defleksi positif ( gelombang I sampai
V)

Analisa Gelombang, berdasarkan parameter :


Masa laten ( ms )
Morfologi gelombang
Amplitudo

Masa laten : waktu yang dibutuhkan sejak


stimulus diberikan sampai terjadi evoked
potensial untuk masing2 gelombang.
3 jenis masa laten
Masa laten absolut
Masa laten antar gelombang (interwave latensi)
Masa laten antar telinga

Jenis pemeriksaan BERA lainnya


BERA tone burst

BERA hantaran
tulang
Automated
Auditory
Brainstem
response

Menggunakan stimulus tone burst


Dapat memeperoleh frekuensi spesifik

Stimulus hantaran tulang diberikan melalui bone


vibrator pada prosesus mastoid
Dilakukan bila terdapat pemanjangan masa laten pada
pemeriksaan BERA click atau tone burst. Dan pada
stenosis atau atresia LT

Kriteria pass dan refer


Gold standard untuk skrining pendengaran pada bayi

Neuropati Auditorik
Gambaran kelainan BERA sedangkan OAE normal
Fungsi sel sel rambut luar kohlea normal
Sinyal sinyal auditorik yang keluar dari kohlea diduga
mengalami disorganisasi
Penyebab anoksia saat lahir, hiperbilirubinemia
yang membutuhkan transfusi tukar pada bayi baru
lahir, infeksi , penyakit autoimun, penyakit neurologi
Terdapat gambaran cochlear microphonic

Faktor Risiko menurut American Join Committee


on Infant (AJCIH) 2000
Usia 0 28 hari :
Kondisi / penyakit yang memerlukan perawatan NICU selama 48 jam/lebih
Keadaan atau stigmata yang berhubungan dengan sindroma tertentu yang
diketahui mempunyai hubungan dengan tuli sensorineural atau konduktif
Riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran sensorineural yang
menetap sejak masa anak-anak
Anomali kraniofasial (kelainan morfologi pinna atau liang telinga)
Infeksi intra uterin (TORCHS)
BBLR
Hiperbilirubinemia yang memerlukan transfusi tukar
Obat ototoksik
Meningitis bakterialis
Apgar score 0-4 pada menit pertama, 0-6 pada 5 menit

Usia 29 hari 2 tahun


Kecurigaan orang tua / pengasuh tentang gangguan pendengaran ,
keterlambatan bicara, afasia atau keterlambatan perkembangan
Riwayat keluarga dgn gangguan pendengaran yg menetap
Keadaan atau stigmata yang berhubungan dengan sindroma
tertentu yang diketahui mempunyai hubungan dengan tuli
sensorineural, konduktif atau gangguan fungsi tuba eustachius
Infeksi postnatal yang menyebabkan gangguan pendengaran
sensorineural termasuk meningitis bakterialis
Infeksi intrauterin seperti TORCHS

Hiperbilirubinemia yang memerlukan transfusi tukar, hipertensi


pulmonal yang membutuhkan ventilator serta kondisi lainnya yang
membutuhkan ECMO ( extra corporeal membrana oxygenation )
Adanya kelainan neurodegeneratif seperti Hunter sindrom dan kelainan
neuropathi sensomotorik misalnya Friederichs ataxia, Charrot - Marie
Tooth sindrom
Trauma kapitis
OM berulang atau menetap disertai efusi telinga tengah minimal 3
bulan

Newborn hearing screening


Universal
Newborn Hearing
Screening (UNHS)

Targeted
Newborn Hearing
Screening

Deteksi dini pada semua BBL


Pada usia 2 hari atau sebelum
meninggalkan RS
Bayi lahir pada fasilitas kesehatan
tidak ada UNHS paling lambat 1 bln

Terbatas pada bayi yang memiliki


faktor risiko terhadap gangguan
pendengaran

Alur Skrining Pendengaran Bayi


Di Indonesia tahun 2006
Bayi baru lahir(usia >24 jam & sblm keluar RS)
REFER

Pass
OAE

FAKTOR
RISIKO

Pass

3 bulan
Evaluasi otoskopi
Timpanometri
DPOAE
AABR

REFER

Audiologic assessment
ABR click + tone burst 500 Hz
dan atau ASSR

TIDAK PERLU
TINDAK LANJUT

Pemantauan speech development


Pemantauan audiologi
tiap 6 bulan selama 3 tahun

Habilitasi
usia < 6 bulan