Anda di halaman 1dari 11

2/28/2014

GROUP TECHNOLOGY
Materi 2 - Sistem Produksi Lanjut

Cell Manufacturing


Definisi sel
 Kelompok

mesin atau proses yang


ditempatkan berdekatan untuk memproduksi
sekelompok produk atau komponen

Tujuan sel
 Mengurangi

waktu setup dan waktu transfer


 Mengurangi inventory dan lead time

2/28/2014

Group Technology (GT)


Metode untuk mengelompokkan entitas
yang mirip (komponen, proses, tools, dll)
untuk mengurangi kompleksitas sistem
manufaktur
 Membagi sistem manufaktur menjadi subsistem manufaktur dalam bentuk sel


Metode GT


Classification and Coding (CC)


 Visual

method

 Opitz
 Deere

Tech System
 OIR System


Analisis cluster
 Formulasi

matriks
 Formulasi graf
 Formulasi program matematis

2/28/2014

Contoh CC (1): Metode Visual

Contoh CC (2): Sistem Monocode

2/28/2014

Analisis Cluster


Mengelompokkan komponen menjadi part families (PF)


dan mesin menjadi machine cells (MC)

Metode Analisis Cluster




Formulasi matriks
 Single

linkage cluster analysis (SLCA)


 Algoritma bond energy
 Metode cost-based
 Algoritma identifikasi cluster
 Metode rank order clustering (ROC)
 dll

2/28/2014

Incidence Matrix
Penyusunan incidence matrix [aij]
merupakan tahap awal formulasi matriks
 Terdiri atas mesin dan komponen 
mesin pada baris, komponen pada kolom
 Terdiri atas dua macam entri: 0 dan 1


1

artinya komponen j diproses pada mesin i


 0 artinya komponen j tidak diproses pada
mesin i

Contoh incidence matrix

2/28/2014

Jenis sel dalam formulasi matriks




Mutually separable

Suatu pabrik belum dikatakan menerapkan GT secara


penuh sebelum seluruh sel bersifat mutually separable

Partially separable

Rank Order Clustering (ROC)


Termasuk sorting-based algorithm
 Cocok diterapkan untuk sistem flow
production
 Prosedur iteratif
 Mulai dengan menyusun incidence matrix
 Menggunakan perhitungan bilangan biner


2/28/2014

Algoritma ROC (1)


1.

Untuk setiap baris i pada incidence


matrix aij, bubuhkan nilai biner dan hitung
nilai desimalnya

2.

Urutkan baris berdasarkan nilai desimal


dari nilai terbesar hingga terkecil.

Algoritma ROC (2)


3.

Untuk setiap kolom j, bubuhkan nilai biner dan


hitung nilai desimalnya

4.

Urutkan kolom berdasarkan nilai desimal dari


nilai terbesar hingga terkecil.
Apakah urutan baris dan/atau kolom berubah?



5.

Jika ya, kembali ke langkah 1


Jika tidak, lanjutkan ke langkah 5

Stop.

2/28/2014

Contoh soal (1)




Incidence matrix

Perhitungan bilangan
biner

Iterasi 2 (optimal)

Contoh soal (2)




Iterasi 1

2/28/2014

Bottleneck dan exception




Bottleneck: satu mesin memproses


banyak komponen
 Solusi:

dekomposisi mesin (satu mesin


memproses satu part)

Exception: satu proses menghambat


terpisahnya dua sel
 Solusi:

bilangan biner 1 diganti *

Contoh exception (1)


Incidence matrix

1
1
2
3
4

1
1

1
1

1
1

1
1

Solusi optimal
(cell belum terpisah)
1

1
3

2/28/2014

Contoh exception (2)




Jalan keluar
2
4
1
3

1
1

1
1

Hasil akhir

2
4
1
MC-2
3

MC-1

1
1

1
1

1
1

1
1

2 4

5
*

1 1
1 1

Tanda * menunjukkan operasi tersebut dikerjakan di luar sel.


Kemungkinan:
Centralized process (i.e. heat treatment, painting)
Alternative routing
 Buy parts atau sub-kontrak



Contoh bottleneck (1)




Matriks yang sama


1

Jalan keluar: uraikan


mesin 1 dan 2
1

1
3


1
1

Bottleneck terjadi
pada mesin 1 dan 2

2a
2b
2c
4
1a
1b
1c
3

1
1
1
1

1
1
1
1

1
1

10

2/28/2014

Contoh bottleneck (1)




Solusi optimal

4
2a
2b
2c
1a
3
1b
1c

1
1

Hasil akhir

MC-1
1

MC-2

1
1
1
1

MC-3

4
2
1
2
3
1

1
1

1
1

2 4

1
1
1 1
1 1

11