Anda di halaman 1dari 5

TUGAS POKOK DAN FUNGSI LABORATORIUM RUMAH SAKIT UMUM

Tugas pokok dan fungsi laboratorium rumah sakit tidak dapat dipisahkan dari
tugas pokok dan fungsi rumah sakit umum dimana laboratorium itu berada.
Adapun tugas pokok rumah sakit umum adalah ; melaksanakan upaya kesehatan
secara berrdayaguna dan berhasilguna dengan mengutamakan upaya penyembuhan
dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya
peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan.
Untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut, rumah sakit umum mempunyai fungsi
a. Menyelenggarakan pelayanan medis.
b. Menyelenggarakan pelayanan penunjang medis dan non medis.
c. Menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan.
d. Menyelenggarakan pelayanan rujukan.
e. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan.
f. Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan.
g. Menyelenggarakan administrasi umum dan keuangan.
Laboratorium rumah sakit merupakan bagian dari pelayanan penunjang medis yang
menyelenggarakan pelayanan medis berupa pemeriksaan laboratorium kepada pasien,
maka tugas pokok dan fungsi laboratorium rumah sakit umum sama dengan tugas
pokok dan fungsi rumah sakit umum dimana laboratorium itu berada.
Sebagai komponen penting dalam pelayanan kesehatan, hasil pemeriksaan
laboratorium digunakan untuk penetapan diagnosis, pemberian pengobatan dan
pemantauan hasil pengobatan, serta penentuan prognosis. Oleh karena itu hasil
pemeriksaan laboratorium harus selalu terjamin mutunya.
Untuk meningkatkan mutu hasi pemeriksaan laboratorium, mutlak perlu dilaksanakan
kegiatan pemamntapan mutu, yang mencakup semua kegiatan pemerikasaan
laboratorium.
Pemantapan mutu laboratorium kesehatan adalah semua kegiatan yang ditujukan
untuk menjamin ketelitian dan ketepatan hasil pemeriksaan laboratorium. Kegiatan
pemantapan mutu meliputi pemantapan mutu internal dan pemantapan mutu eksternal.
A. PEMANTAPAN MUTU INTERNAL.
Pemantapan mutu internal adalah kegiatan pencegahan dan pengawasan yang
dilaksanakan oleh masing masing laboratorium secara terus menerus agar diperoleh
hasil pemeriksaan yang tepat.
Cakupan obyek pemantapan mutu internal meliputi aktivitas : tahap praanalitik, tahap
analitik dan tahap pasca analitik.
Tujuan :
1. Pemantapan dan penyempurnaan metode pemeriksaan dengan mempertimbangkan
aspek analitik dan klinis.
2. Mempertinggi kesiagaan tenaga, sehingga pengeluaran hasil yang salah tidak terjadi dan perbaikan kesalahan dapat dilakukan segera.
3. Memastikan bahwa semua proses mulai dari persiapan pasien, pengambilan, pengiriman, penyimpanan dan pengolahan spesimen sampai dengan pencatatan dan
pelaporan telah dilakukan dengan brnar.
4. Mendeteksi kesalahan dan mengetahui sumbernya.
5. Membantu perbaikan pelayanan penderita melalui peningkatan mutu peneriksaan
laboratorium.

Kegiatan pemantapan mutu internal meliputi :


1. Persiapan pasien.
Sebelum spesimen diambil, pasien harus dipersiapkan terlebih dahulu dengan baik
sesuai dengan persyaratan pengambilan spesimen.
2. Pengambilan dan pengolahan spesimen.
Spesimen harus diambil secara benar dengan memperhatikan waktu, lokasi, volume
, cara, peralatan, wadah spesimen, pengawet/anticoagulan sesuai dengan persyratan
pengambilan spesimen
3. Kalibrasi peralatan
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium adalah
peralatan laboratorium, oleh karena itu alat perlu dipelihara dan dikalibrasi secara
berkala.
4. Uji kualitas air.
Air didalam laboratorium digunakan untuk bebagai keperluan, antara lain untuk
pengenceran reagen, analisa blanko, pencucian dan lain lain.
Kebutuhan mutu air berbeda beda tergantung dari tujuan air tersebut akan digunakan, misal air derajat reagen harus bebas dari zat zat yang mengganggu analisa,
sedangkan bila untuk pencucian hanya dibutuhkan air yang bersih saja.
Laboratorium harus memeriksa apakah telah terjadi perubahan selama pembuatan
sampai penggunaannya, untuk itu perlu dilakukan pengujian kualitas air.
Untuk air yang dibuat sendiri, uji kualitas dilakukan setiap kali pembuatan, sedangkan untuk air yang dibeli, uji kualitas dilakukan setiap kemasan.
Apa bila hasil pengujian tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, maka
dilakukan destilasi atau demineralisasi ulang.
5. Uji kualitas reagen.
Reagen yang digunakan dilaboratorium ada yang dapat dibuat sendiri dan ada yang
sudah jadi/komersial.
Baik reagen yang dibuat sendiri maupun yang komersial mempunyai persyaratan
persyaratan tertentu.
Uji kualitas reagen harus dilakukan :
a. Setiap kali batch larutan kerja dibuat.
b. Setiap minggu.
c. Bila sudah mendekati masa daluwarsa.
d. Bila ditemukan/terlihat tanda tanda kerusakan.
e. Bila terdapat kecurigaan terhadap hasil pemeriksaan.
Pengujian kualitas dapat dilakukan dengan :
a. Melakukan pemeriksaan bahan kontrol assayed yang telah diketahui nilainya
Dengan menggunakan reagen tersebut.
b. Menggunakan strai kuman.
6. Uji kualitas media.
Kalitas media harus diperiksa dahulu sebelum media digunakan.
Cara cara cara menguji mutu media ;
a. Secara visual.
Dengan memperhatikan atau melihat warna, kekeruhan dan lain lain.
b. Uji sterilitas.
Uji sterilitas merupakan suatu keharusan terutama pada media yang diperkaya
dengan bahan bahan tertentu seperti agar darah atau agar coklat.
c. Penanaman kuman kontrol positif dan kontrol negatif.
d. Uji kualitas pemeriksaan kepekaan kuman.
Pemeriksaan kepekaan kuman dengan metode cakram, dianjurkan oleh W.H.O.

dengan menggunakan metode modifikasi Kirby-Bauer.


7. Pemeliharaan strain kuman.
Strain kuman dapat diperoleh dari :
a. Isolasi dari spesimen klinik.
b. Koleksi kultur kuman yang resmi.
c. Komersial.
d. Laboratorium rujukan.
Strain kuman yang ada dilaboratorium harus dipelihara dengan baik agar kuman
Kuman tersebut tidak mati.
8. Uji kualitas Antigen-Antisera.
Hal hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan antigen dan antisera ;
a. Penggunaannya harus mengikuti petunjuk pabrik.
b. Setiap akan digunakan , antigen atau anti bodi dalam botol harus dikocok
dahulu dan sesuaikan suhunya dengan suhu kamar.
c. Simpan pada suhu yang dianjurkan.
d. Ada beberapa reagen serologik yang tidak boleh dibekukan.
e. Hindari pembekuan dan pencairan yang berulang ulang.
f. Jangan memakai antigen-antisera yang sudah kedalu warsa.
g. Pemeriksaan selalu dilakukan dengan mengikut sertakan beberapa serum
kontrol yang sudah diketahui reaktivitasnya.
9. Uji ketelitian uji ketepatan.
Hasil laboratorium digunakan untuk menentukan diagnosis, pemantauan pengobatan dan meramalkan prognosis, maka amatlah perlu untuk selalu menjaga mutu
hasil pemeriksaan, dalam arti mempunyai tingkat akurasi dan presisi yang dapat di
pertanggung jawabkan.
10. Pencatatan dan pelaporan.
Kegiatan pencatatan dan pelaporan dilaboratorium harus dilaksanakan dengan
cermat dan teliti karena dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan dan dapat mengakibatkan kesalahan dalam penyampaian hasil pemeriksaan.
B. PEMENTAPAN MUTU EKSTERNAL
Pemantapan mutu eksternal adalah kegiatan yang diselenggarakan secara periodik
oleh pihak lain diluar laboratorium yang bersangkutan untuk memantau dan menilai
penampilan suatu laboratorium dalam bidang pemeriksaan tertentu.
Penyelenggaraan kegiatan pemantapan mutu eksternal dilaksanakan oleh pihak
pemerintah, swasta atau internasional.
Dalam pelaksanaanya, kegiatan pemantapan mutu eksternal ini mengikutsertakan
semua laboratorium, baik milik pemerintah maupun swasta dan dikaitkan dengan
akreditasi laboratorium kesehatan serta perizinan laboratorium kesehatan swasta.
Pemerintah menyelenggarakan pemantapan mutu eksternal untuk berbagai bidang
pemeriksaan dan diselenggarakan pada bebagai tingkatan yaitu :
1. Tingkat nasional/tingkat pusat ; dengan peserta dari R.S. kelas A, B, C dan yang
setaraf Balai Laboratorium Ksehatan dan laboratorium kesehatan swasta yang
setaraf. Penyelenggara kegiatan ini adalah Pusat Laboratorium Kesehatan yang
bekerja sama dengan organisasi profesi dan instansi lain.
2. Tingkat propinsi/wilayah ; dengan peserta dari R. S. kelas C, D dan yang setaraf
Laboratorium kesehatan Dati II, laboratorium kesehatan swasta yang setaraf dan
Laboratorium Puskesmas di propinsi/wilayah yang bersangkutan.
Penyelenggara kegiatan ini adalah Balai Laboratorium Kesehatan propinsi yang

bersangkutan.
Kegiatan pementapan mutu eksternal ini sangat bermamfaat bagi suatu
laboratorium sebab dari hasil evaluasi yang diperolehnya dsapat menunjukkan
performance ( penampilan/proficiency ) laboratorium yang bersangkutan dalam
bidang pemeriksaan yang ditentukan. Untuk itu pada waktu melaksanakan kegiatan
ini tidak boleh diperlakukan secara khusus, jadi pada waktu melakukan pemeriksaan
harus dilaksanakan oleh petugas yang biasa melaksanakan pemeriksaan tersebut serta
menggunakan peralatan/reagen/metoda yang biasa dipakainya sehingga hasil
pemantapan mutu eksternal tersebut benar benar dapat mencerminkan penampilan
laboratorium tersebut yang sebenarnya. Setiap nilai yang diterima dari laboratorium
penyelenggara dicatat dan dievaluasi untuk mencari penyebab-penyebab dan
mengambil langkah-langkah perbaikan.
C. VERIFIKASI.
Verifikasi merupakan tindakan pencegahan terjadinya kesalahan dalam melakukan
kegiatan laboratrorium mulai dari tahap praanalitik sampai dengan melakukan
pencegahan ulang setiap tindakan/proses pemeriksaan.
Adapun verifikasi yang harus dilakukan sebagai berikut :
1. Tahap praanalitik, meliputi ;
a. Formulir permintaan pemeriksaan.
b. Persiapan pasien.
c. Pengambilan dan penerimaan spesimen.
d. Penanganan spesimen.
e. Persiapan sampel untuk analisa.
2. Tahap analitik, meliputi :
a. Persiapan reagen/media.
b. Pipetasi reagen dan sampel.
c. Inkubasi.
d. Pemeriksaan.
3. Tahap pascaanalitik, meliputi ;
a. Pembacaan hasil.
b. Pelaporan hsil.
D. AUDIT.
Audit adalah proses menilai atau memeriksa kembali secara kritis berbagai
kegiatan yang dilaksanakan didalam laboratorium.
Audit dibagi dalam audit internal dan audit eksternal.
Audit internal dilakukan oleh tenaga laboratorium yang sudah senior.
Penilaian yang dilakukan haruslah dapat mengukur berbagai indikator penampilan
laboratorium misalnya kecepatan pelayanan, ketelitian laporan hasil pemeriksaan
laboratorium dan mengidentifikasi titik lemah dalam kegiatan laboratorium yang
menyebabkan kesalahan sering terjadi.
Audit eksternal bertujuan untuk memperoleh masukan dari pihak lain diluar
laboratorium atau pemakai jasa laboratorium terhadap pelayanan dan mutu
laboratorium.
Pertemuan antara kepala kepala laboratorium untuk membahas dan membandingkan

Berbagai metode, prosedur kerja, biaya dan lain lain merupakan salah satu bentuk dari
audit eksternal.
E. VALIDASI HASIL.
Validasi hasil pemeriksaan merupakan upaya untuk memantapkan kualitas hasil
pemeriksaan yang telah diperoleh melalui pemeriksaan ulang oleh laboratorium
rujukan.
Pemeriksaan ulang ini dapat dilakukan dengan cara :
1. Laboratorium mengirim spesimen dan hasil pemeriksaan kelaboratorium rujukan
untuk diperiksa dan hasilnya dibandingkan terhadap hasil pemeriksaan laboratorium pengirim.
2. Persentase tertentu dari hasil pemeriksaan positip dan negatip dikirim kelaboratorium rujukan untuk dipeiksa ulang.
F. PENDIDIKAN DAN LATIHAN
Pendidikan dan latihan tenaga laboratorium merupakan hal yang sangat penting
dalam program pemantapan mutu.
Pendidikan dan latihan tenaga harus direncanakan secara berkelanjutan dan
berkesinambungan, serta dilaksanakan dan dipantau.

Menurut pendapat kami evaluasi kinerja laboratorium rumah sakit tersebut dari A
sampai dengan F sudah memenuhi kriteria reliability, relevansi, sensitivity dan
practcally.