Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah. Pada
sebagian besar neonatus, ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama
kehidupannya. Dikemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60
% bayi cukup bulan dan pada 80 % bayi kurang bulan.
Di Jakarta dilaporkan 32,19 % menderita ikterus. Ikterus ini pada
sebagian penderita dapat berbentuk fisiologis dan sebagian lagi mungkin
bersifat patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau
menyebabkan kematian. Karenanya setiap bayi dengan ikterus harus
mendapatkan perhatian, terutama apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam
pertama kehidupan bayi atau bila kadar bilirubin meningkat > 5 mg/dl dalam
24 jam.
Proses hemolisis darah, infeksi berat, ikterus yang berlangsung >1
minggu serta bilirubin direct > 1 mg/dl juga merupakan keadaan yang
menunjukkan kemungkinan adanya ikterus patologik. Dalam keadaan
tersebut penatalaksanaan ikterus harus dilakuakn sebaik-baiknya agar akibat
buruk dari ikterus dapat dihindarkan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis merumuskan masalah
sebagai berikut:
1. Definisi hiperbilirubin ?
2. Etiologi hiperbilirubin ?
3. Manifestasi klinis hiperbilirubin ?
4. Komplikasi hiperbilirubin ?
5. Penanganan hiperbilirubin ?
6. Askep hiperbilirubin ?

1.3 Tujuan
1. Tujuan umum
Setelah melakukan praktek klinik mahasiswa mampu melaksanakan
asuhan pada neonatus dengan hiperbilirubinemia.
2. Tujuan khusus
1

Sebagaimana rumusan masalah diatas, penulis mempunyai tujuan sebagai


berikut:
A. untuk mengetahui Definisi hiperbilirubin
B. untuk mengetahui Etiologi hiperbilirubin
C. untuk mengetahui Manifestasi klinis hiperbilirubin
D. untuk mengetahui Komplikasi hiperbilirubin
E. untuk mengetahui Penanganan hiperbilirubin
F. untuk mengetahui askep hiperbilirubin
1.4 Manfaat Penulisan
Dengan adanya makalah seminar ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami
tentang kondisi patologis bayi baru lahir dengan hiperbilirubin dan askepnya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Hiperbilirubin


Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubindalam darah yang
kadar nilainya lebih dari normal. (asuhan keperawatan pada anak edisi 2,
suriadi :133)
Hiperbilirubinemia merupakan suatu kondisi bayi baru lahir dengan kadar
bilirubin serum total lebih dari 10mg% pada minggu pertama yang ditandai
dengan ikterus, yang dikenal dengan ikterus neonatorus patologis.
Menurut buku kedokteran Dorland hyperbilirun adalah kelebihan
bilirubin dalam darah, digolongkan sebagai konjugasi atau non konjugasi
menurut bentuk bilirubin yang predominan dalam darah. Sedangkan menurut
Wong Dounal and Whaley Lucille, 1990 : 1236 mengatakan hyperbilirubiemia (
2

joundace) pada bayi baru lahir adalah timbunan dari serum bilirubin melebihi
batas normal ( 5 7 mg/100dL).
Hiperbilirubinemia adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubinemia
mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi menimbulkan kern ikterus kalau
tidak ditanggulangi dengan baik (Sarwono, 2002: 753).Kern ikterus adalah
suatu kerusakan otak akibat perlengketan bilirubin indirek pada otak terutama
pada korpus striatum, thalamus, nucleus subtalamus, hipokampus, nucleus
merah dan nucleus pada dasar ventrikulus IV (Sarwono, 2002: 754). Sebagian
besar hiperbilirubinemia ini proses terjadinya mempunyai dasar yang patologik.
Jadi menurut kelompok kami, hiperbilirubin adalah suatu kondisi
patologis pada bayi baru lahir yang ditandai dengan meningkatnya kadar
bilirubin dalam darah dan berpotensi menimbulkan kern ikterus.
2.2 Klasifikasi hiperbilirubin
Menurut Sarwono, 2002 batasan ikterus fisiologis dan patologis adalah
sebagai berikut;
A. Ikterus Fisiologis
1. Timbul pada hari ke 2-3
2. Puncaknya terjadi pada hari ke-5
3. Hilang pada hari ke 10-15
4. Peningkatan bilirubin < 5 mg %
5. Lab :
a. Kadar bilirubin bayi aterm 10 mg %
b. Kadar bilirubin bayi premature 12,5 mg %
c. Bilirubin indirect < 1 mg %
Terjadi karena :
a. Umur erytrosit lebih pendek
b. Volume darah lebih banyak : 100 cc/kg BB
c. Albumin << transportasi menurun
d. Fungsi hati belum sempurna
B. Ikterus Patologik
1) Timbul hari pertama setelah hari ke-3
2) Menetap selama 2 minggu
3) Lab :
a.
b.
c.
d.

Peningkatan bilirubin > 5 mg % per hari


Kadar bilirubin bayi aterm > 10 mg %
Kadar bilirubin bayi premature > 12,5 mg %
Bilirubin indirect > 1 mg %

C. Hiperbilirubinemia tak terkonjugasi (indirek) :

1) kadar bilirubin serum indirek >10 mg/dL untuk bayi cukup bulan atau
> 4-5 mg/dL untuk bayi prematur.
2) Ikterus fisiologis: peningkatan konsentrasi bilirubin tak terkonjugasi
serum selama minggu pertama kehidupan yang menghilang sendiri.
3) Ikterus patologis: ikterus yang terjadi sebelum usia 24 jam dan
kecepatan peningkatannya >0,5 mg/dL/jam.
D. Hiperbilirubinemia terkonjugasi (direk) (balistreti, 2001; Basotti,
2000; Bucuvalas & Balisteri, 2003)
Definisi: bilirubin serum direk (terkonjugasi)>3mg/dL atau fraksi >
10% - 15 % bilirubin serum total. Hal ini disebabkan kegagalan bilirubin
terkonjugasi dieksresi dari hepar (hepatosit) ke duodenum karena
defisiensi sekresi atau aliran empedu sehingga menyebabkan cedera sel
hepar.

2.3 Etiologi
Penyebab ikterus pada neonatal dapat berdiri sendiri atau disebabkan
oleh beberapa faktor. Secara garis besar, etiologi ikterus neonatorum dapat
dibagi:
a. Produksi bilirubin yang berlebihan
Hal ini melebihi kemampuan bayi untuk mengeluarkannya, misalnya
pada

hemolisis

yang

meningkat

pada

inkompatibilitas

drah

Rh,ABO,golongan darah lain ,defisinsi enzim G-6-PD, perdarahan


tertutup, dan sepsis.
b. Gangguan pada proses pengambilan dan kenjugasi hepar
Gangguan ini dapat disebabkan oleh imaturasi hepar, kurangnya substrat
untuk konjugasi bilirubin, hypoksia, dan gangguan fungsi hepar dan
infeksi.
c. Gangguan dalam transportasi.
Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkut ke hepar.
Ikatan bilirubin denga albumin ini dapat dipengaruhi oleh obat misalnya
salisilat,dan sulfafurazol. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak
terdapatnay bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah
melekat ke sel otak.
d. Gangguan dalam sekresi
Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau diluar
hepar. Kelainan di luar hepar biasanya akibat infeksi atau kerusakan
hepar oleh penyebab lain.

Waktu timbulnya ikterus juga mempunyai arti penting pula dalam


diagnosis dan penatalaksanaan penderita karena saat timbulnya ikterus
mempunyai kaitan yang erat dengan penyebab ikterus.
A. Bila Timbul pada Hari I (24 jam pertama)
1) Inkompatibilitas darah Rh, ABO atau golongan darah lain
2) Infeksi intra uterine oleh Toxoplasma, Syphilis, virus atau bakteri yang
menunjukkan ikterus pada hari pertama.
3) Defisiensi enzim G6PD

B. Bila Timbul pada Hari II (24-72 jam sesudah lahir)


1) Ikterus fisiologis
2) Masih ada kemingkinan karena inkompatibilitas darah Rh, ABO atau
golongan darah lain jika kadar bilirubin cepat (melebihi 5 mg % per 24
jam)
3) Defisiensi G6PD
4) Polisitemia
5) Hemolisis perdarahan tertutup (perdarahan subaponeurosis,perdarahan
6)
7)
8)
9)

hepar subkapsuler,dll)
Hipoksia
Sferositosis, eliptosis,dll
Dehidrasi asidosis
Defisiensi enzim eritrosit lainnya

C. Bila Timbul Setelah 72 jam sampai Akhir Minggu Pertama


1) Septicaemia
2) Dehidrasi asidosis
3) Defisiensi G6PD
4) Pengaruh obat
5) Sindrom Criggler-Najja
6) Sindrom Gilbert
D. Bila Timbul pada Akhir Minggu Pertama dan Selanjutnya
1) Obstruksi
2) Hipotiroidisme
3) Breast Milk Jaundice
4) Infeksi
5) Neonatal Hepatitis
6) Galaktosemia (Sarwono, 2002)

2.4 Manifestasi Klinis


Secara klinis, ikterus pada neonatus dapat segera dilihat setelah lahir atau
beberapa hari kemudian
Ikterus yang tampak tergantung penyebab, yaitu:
A.
Gejala klinis yang tampak pada bayi dengan peningkatan kadar
B.
C.

bilirubin indirect, kulit tampak berwarna terang sampai jingga


Pada obstruksi empedu, kulit berwarna kuning terang sampai jingga
Selain warna kulit kuning, sering kali penderita hanya memperlihatkan
gejala minimal seperti:
1) Tampak lemah dan anoreksia
2) Anemia
3) Ptekie
4) Pembesaran lien dan hepar
5) Perdarahan tertutup
6) Gangguan pernapasan, sirkulasi dan saraf

2.5 Patofisiologi
Gangguan metabolisme bilirubin
Ekskresi
Produksi

Konjugasi

Transportasi

Gangguan proses

Gangguan

Gangguan

Produksi

pengambilan

transportasi

ekskresi

bilirubin

Konjugasi

bilirubin

berlebih

hepar

diakibatkan

diakibatkan

diakibtkan

diakibatkan

hemolisis,

imaturitas

pengaruh

obstruksi

sepsis

hepar

obat-obatan

dalam hepar

mengganggu

atau luar

ikatan

hepar

albumin
dengan
bilirubin
tingkatan atau tahapan metabolisme bilirubin terganggu
Produksi bilirubin abnormal (berlebihan)

Hiperbilirubin
Konjugasi

Konjugasi

Direk

indirek

Bilrubin

Bilirubin tidak

Tidak bisa

bisa berikatan

Diekskresikan

dengan albumin

Ke empedu
Usus

tahapmetabolisme
Bilirubin mjdi
terkonjugasidan
ekskresiterganggu

Bilirubin
Tidak bisa
Dihidrolisis
Menjadi bilirubin
Indirek dan
Di reabsorbsi

bilirubin
tidakdapat
Terkonjugasidan
diekskresikan
keempedu
dankemudian

Tidak terjadi
Siklus
Enterohepatik
7

Di rearbsorbsi
olehusus

Gangguan
Reabsorbsi
Bilirubin
Oleh usus
Peningktan
Suplai
Bilirubin
Ke dalam
Sirkulasi darah

peningkatan bilirubin pada plasma

Hepar pecah

fungsiimunitasbayiterganggu

ikterus pada sklera dan kulit

Dan rusak
MK
:ResikoTinggiInfe
ksi

hepatomegali
kerjahepar

Gangguan

fungsi

hepar

melakukan metabolisme
karbohidrat, protein, mineral.
kerusakan

penurunan nafsu makan

produksi
bilirubin

MK: Gangguan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

dalam
hepar

gangguanikatan hemoglobin dalam sirkulasi darah


anemis
5L
MK:
MK
:Intoleransiaktivi
Intoleransiaktivitas
tas

dalam

2.6 Komplikasi
Komplikasi yang dapat ditimbulkan penyakit ini yaitu terjadi kern ikterus
yaitu keruskan otak akibat perlangketan bilirubin indirek pada otak. Pada kern
ikterus gejala klinik pada permulaan tidak jelas antara lain :letargi, mata
berputar-putar, gerakan tidak menentu (involuntary movements), kejang tonus
otot meninggi, leher kaku, dan akhirnya opistotonus. Selain itu dapat juga
terjadi Infeksi/sepsis, peritonitis, pneumonia.
2.7 Penilaian Kadar Bilirubin
A. Secara laboratories
B. Secara klinis (secara Kramer)
Paling baik pengamatan dilakukan dalam cahaya matahari dan dengan
menekan sedikit kulit yang akan diamati untuk menghilangkan warna
karena pengaruh sirkulasi darah.
Rumus Kramer
Daerah/luas ikterus

Kadar bilirubin (mg%)

Daerah 1 (kepala dan leher)

Daerah 2 (daerah 1 + badan bagian atas)

Daerah3 (daerah 2 + badan bagian bawah

11

dan tungkai)
Daerah 4 (daerah 3 + lengan dan kaki di

12

bawah dengkul)
Daerah 5 (daerah 4 + tangan dan kaki)

16

2.8 Pemeriksaan Diagnostik


A. Pemeriksaan bilirubin serum
Pada bayi cukup bulan, bilirubin mencapai kurang lebih 6mg/dl antara 2-4
hari setelah lahir. Apabila nilainya lebih dari 10mg/dl tidak fisiologis.
B. Pada bayi premature, kadar bilirubin mencapai puncak 10-12 mg/dl antara
5-7 hari setelah lahir. Kadar bilirubin yang lebih dari 14mg/dl tidak
fisiologis.
C. Pemeriksaan radiology
Diperlukan untuk melihat adanya metastasis di paru atau peningkatan
diafragma kanan pada pembesaran hati, seperti abses hati atau hepatoma
D. Ultrasonografi
Digunakan untuk membedakan antara kolestatis intra hepatic dengan ekstra
hepatic.
E. Biopsy hati
Digunakan untuk memastikan diagnosa terutama pada kasus yang sukar
seperti untuk membedakan obstruksi ekstra hepatic dengan intra hepatic
selain itu juga untuk memastikan keadaan seperti hepatitis, serosis hati,
hepatoma
F. Peritoneoskopi
Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi
untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini.
G. Laparatomi
Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi
untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini
2.9 Penatalaksanaan
A. Fototherapi
Fototerapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan Transfusi
Pengganti untuk menurunkan Bilirubin. Memaparkan neonatus pada
cahaya dengan intensitas yang tinggi ( a bound of fluorencent light bulbs or
bulbs in the blue-light spectrum) akan menurunkan Bilirubin dalam kulit.
Fototherapi menurunkan kadar Bilirubin dengan cara memfasilitasi eksresi
Biliar Bilirubin tak terkonjugasi. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorsi
jaringan mengubah Bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang
disebut Fotobilirubin. Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh
darah melalui mekanisme difusi. Di dalam darah Fotobilirubin berikatan
dengan Albumin dan dikirim ke Hati. Fotobilirubin kemudian bergerak ke
Empedu dan diekskresi ke dalam Deodenum untuk dibuang bersama feses
tanpa proses konjugasi oleh Hati (Avery dan Taeusch, 1984). Hasil

10

Fotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi Bilirubin dapat


dikeluarkan melalui urine. Fototherapi mempunyai peranan dalam
pencegahan peningkatan kadar. Bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah
penyebab Kekuningan dan Hemolisis dapat menyebabkan Anemia. Secara
umum Fototherapi harus diberikan pada kadar Bilirubin Indirek 4 -5 mg /
dl. Neonatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus di
Fototherapi dengan konsentrasi Bilirubun 5 mg / dl. Beberapa ilmuan
mengarahkan untuk memberikan Fototherapi Propilaksis pada 24 jam
pertama pada Bayi Resiko Tinggi dan Berat Badan Lahir Rendah.
B. Tranfusi tukar
Tranfusi tukar berarti mengeluarkn sedikit darah bayi dan menggantinya
dngan darah yang cocok, sehingga mengurangi kadar bilirubin dalam darah.
Tindakan ini hanya dikerjakan ketika kadar bilirubin serum meningkat
sedemikian tingginya hingga mencapai kisaran ketika bayi sangat beresiko
mederita kerusakan saraf meski sudah mendapat terapi cahaya intensif.
C. Terapi obat.
Ada beberapa obat yang mungkin digunakan dan beberapa yang lebih lazim
digunakan dalam terapi hiperbilirubinemia :
1) Metaloporfin = Obat yang menghambat degradasi heme sehingga
mengurangi kadar bilirubin.
2) Fenobarbital = Obat yang meningkatkan konjugasi bilirubin
3) Pemberian agar-agar per oral berguna untuk menurunkan resirkulasi
entero-hepatik bilirubin.
4) Infus albumin berguna untuk memperbanyak lokasi pengikatan,
mengurangi resiko bilirubin bebas melintasi sawar darah-otak dan dapat
digunakan bila orangtua menolak tranfusi darah atau ketika tidak ada
produksi darah yang cocok.

11

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
A. Data Subjektif
1) Biodata
a.

Nama bayi

: untuk memanggil, mengenal dan

menghindari kekeliruan
b.
Umur

: penting untuk identifikasi kapan atau

usia berapa hari bayi mengalami ikterus yang dapat digunakan untuk
memprediksi apakah termasuk ikterus fisiologis atau patologis dan
mempengaruhi terapi yang akan diberikan
c.
Tanggal lahir : untuk menghitung umur
d.
Jenis Kelamin : untuk menghindari kekeliruan dan
untuk membedakan
e.
No. register : untuk hindari kekeliruan
Biodata orang tua
a. Nama
: untuk memanggil, mengenal dan menghindari
kekeliruan
b. Agama
: untuk mengetahui kepercayaan orang tua pada saat
memberikan asuhan atau bimbingan doa pada saat menghadapi
komplikasi atau kegawatan.
c. Pendidikan : untuk mengetahui tingkat pengetahuan yang penting
pada saat konseling
d. Pekerjaan : untuk mengetahui status ekonomi keluarga
e. Alamat
: untuk mengetahui alamat orang tua jika sewaktuwaktu ada masalah, bisa langsung menghubungi keluarga di rumah.
2) Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Penyakit-penyakit yang diderita klien seperti asfiksia, hipoglikemia
dan juga keadaan-keadaan yang berpengaruh terhadap kesehatan klien
seperti keadaan umum dan reflek hisap bayi.Asfiksia menurunkan
afinitas bilirubin terhadap albumin yang merupakan zat penting dalam
transportasi bilirubin dalam hati untuk menjalani proses konjugasi.Pada
hipoglikemi,

metabolisme

tubuhnya

menggunakan

metabolisme

anaerob yang memperberat kerja hati sehingga dapat timbul


hiperbilirubinemia.
Nutrisi yang kurang dapat menimbulkan ikterus pada hari 6-10
kehidupan bayi hal ini karena ASI dapat mendorong usus dan

12

menyebabkan bilirubin keluar lewat feses dan urin lebih lancar


(Sarwono, 2002)
3) Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya terkait dengan keluhan hiperbilirubinemia diantaranya:
a.
Sebagian atau seluruh tubuh bayi ikterus sejak 24 jam
b.

pertama kehidupan, 2-3 hari, 4-6 hari dan 6-10 setelah dilahirkan
Timbul gejala minimal yang menyertai ikterus seperti:
Tampak lemah dan nafsu makan menurun, anemia, ptekie, gangguan

pernapasan, gangguan sirkulasi dan gangguan saraf (Sarwono, 2002)


4) Riwayat Kesehatan Keluarga
Mengkaji anggota keluarga baik dari pihak ibu atau ayah yang
menderita penyakit seperti kencing manis dan penyakit kuning.
Kencing manis dikaji jika ibu menderita DM sewaktu hamil bisa
menyebabkan bayi terjadi hipoglikemia saat lahir yang dalam
metabolisme tubuhnya mengguankan metabolisme anaerob yang
memperberat kerja hati sehingga dapat timbul hiperbilirubinemia.
Penyakit kuning terkait dengan kemungkinan ikterusnya disebabkan
penularan perinatal seperti pada hepatitis A dan B (Sarwono, 2002).
5) Riwayat kebidanan yang lalu
Mengkaji riwayat abortus, IUFD dan bayi kuning sebelumnya
Riwayat Kebidanan yang Lalu
Kehamilan
:
Ibu dengan rhesus (-) dan ayah (+) dapat menyebabkan rhesus ibu dan
bayi tidak sesuai sehingga dapat timbul hemolisis
Ibu dengan DM kemungkinan bayinya besar dan terjadi hipoglikemia
yang menyebabkan gangguan fungsi hepar
Riwayat menggunakan obat-obatan/hormone yang mengurangi
kesanggupan hepar untuk mengadakan konjugasi bilirubin misal
penggunaan norobiosin
Ibu mempunyai penyakit rubella, hepatitis, cytomegalovirus,
syphilis, toxoplasma dan herpes yang mungkin terinfeksi intrauterine
melalui plasenta selama kehamilan.
Persalinan
:
Pada persalinan preterm produksi albumin rendah sehingga
transportasi bilirubin ke hepar terganggu sehingga kadar bilirubin
indirect tinggi
Ekstraksi vakum dan trauma persalinan menyebabkan hemolisis
sehingga kadar bilirubin indirect tinggi
Ketuban pecah dini memungkinkan timbul infeksi
Bayi asfiksia menurunkan afinitas bilirubin terhadap albumin
BBL dan UK untuk kaji adanya BBLR akibat prematuritas atau
dismaturiatas
Nifas :
13

Menyusui yang kurang dapat timbul ikterus pada hari 6-10 kehidupan
bayi (Sarwono, 2002)
Riwayat nutrisi
Seperti yang disinggung sebelumnya bahwa nutrisi yang kurang dapat
menimbulkan ikterus pada hari 6-10 kehidupan bayi hal ini karena ASI
dapat mendorong usus dan menyebabkan bilirubin keluar lewat feses
dan urin lebih lancar (Sarwono, 2002).
B. Data Obyektif
1) Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : baik/ kurang/ cukup/ jelek
Kesadaran
TTV

: compous mentis/apatis/somnolen/koma
RR

: dapat

terjadi

gangguan

pernapasan

pada

hiperbilirubinemia
Suhu : 36,5 37,5 0C ; T > 37,5 0C menunjukkan infeksi

2) Pemeriksaan Fisik
Kepala

: trauma pada persalinan atau partus tindakan seperti caput


succedaneum,

cephal

hematum

dapat

menyebabkan

hemolisis sehingga kadar bilirubin indirect tinggi.


Ubun-ubun mungkin cekung jika dehidrasi dan menonjol
jika terjadi komplikasi berupa kern ikterus (Sarwono,
2002)
Muka

: wajah pucat, ikterus dan cyanosis pada bayi hipoksia

Mata

: sklera ikterus

Hidung

: pernapasan cuping hidung (salah satu indicator RDS)

14

Mulut

: kering/tidak,
kemampuan

pecah-pecah/tidak
menghisap

dan

(kaji

menelan

dehidrasi),
turun

pada

hiperbilirubinemia (Sarwono, 2002).


Leher

: kulit leher dapat ikterus

Dada

: kulit dada dapat ikterus (Kramer derajat II), pernapasan


dapat normal, apnea dan dispnea, dapat timbul retraksi
pada RDS dan bunyi napas tambahan (Sarwono, 2002)

Perut

: perut dapat normal atau hepatomegali, bising usus


hipoaktif, distensi abdomen dengan gambaran usus yang
tampak pada dinding abdomen dan muntah campur
empedu merupakan tanda obstruksi intestinal (Sarwono,
2002).

Genetalia : identifikasi bayi aterm atau premature jika perempuan


labia mayora sudah menutupi labia minora atau belum dan
pada laki-laki testis sudah turun di skrotum atau belum.
Ekstrimitas :

ikterus/tidak
Reflek moro menurun dan terdapat aktivitas kejang
dapat terjadi pada tahap kritis.

3.2 Pemeriksaan penunjang


a. Bilirubin
b. Darah lengkap
c. Protein serum total
d. Glukosa darah
e. Retikulosit
Pemeriksaan harus ditujukan kearah sepsis neonatorum, pielonefritis,
hepatitis neonatorum, toksoplasmosis.
Kemungkinan yang lain adalah pengaruh obat (sulfa/novobiosin) dan
defisiensi enzim eritrosit (G6PD)
3.3 Diagnosa Keperawatan
A. Resiko tinggi infeksi b.d penurunan fungsi imunitas bayi
B. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan fungsi hepar
dalam metabolisme karbohidrat, protein, dan mineral
C. Intoleransi aktivitas b.d gangguan ikatan Hb dalam sirkulasi darah

15

3.4 INTERVENSI
No

Diagnosa

Tujuan, Kriteria Hasil

1.

Keperawatan
Resiko
tinggi

Tujuan : Tidakterjadi

infeksi

infeksi

b.d

penurunan
bayi

Klienbebasdaritandada
ngejalainfeksi

serum

1.

untuk menghindari

2.

peningkatan bilirubin
merubah senyawa

jam

esuai program
3. Monitor

bilirubin sehingga mudah


3.

kadarbillirubin 4

menurun,

anuntukmencegahtim

dancataT.
2. Berikanfototerapis

bilirubin

Menunjukkankemampu

Rasional

1. Kajihiperbillirubint
iap

KriteriaHasil :

fungsi imunitas

Intervensi

jam

dapat menyebabkan

sesuai

program
4. Antisipasikebutuh

4.

komplikasi yang serius


menghindari resiko
kerusakan saraf

antransfusitukar

bulnyainfeksI
Jumlahleukositdalamba

larut dalam aiir


peningkatan bilirubin

tas normal
2.

v
Gangguannutrisi

Tujuan: kebutuhan nutrisi

kurangdari

tercukupi

kebutuhan tubuh Kriteria Hasil :


b.d
fungsi

gangguan
hepar

1. Ibu lebih kooperatif


dalam pemberian nutrisi

dalam

pada bayimya

metabolisme

2.Beratbadan ideal

1. Anjurkan ibu dalam


pemberian
ASI
eksklusif
2. Timbangberatbadans

1.memenuhi kebutuhan nutrisi

etiaphari
Catat intake dan
output
4. Kolaborasi
dalam
pemberian
total
parenteral nutrition

bayi dalam batas normal (BB

3.

16

bayi
2.mengetahui tumbuh kembang
norma 2500g 4000g)
3.Menghindari output yang
berlebih

karbohidrat,
protein,

3.Tidakadatandatandamaln
dan

mineral

kalau perlu.

4. Antisipasi bila ASI ibu tidak

utrisi

bisa keluar, dan bayi tidak mau

5. TTV dalam batas normal

menyusu.

6.Protein dan albumin darah


dalam batas normal
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hiperbilirubin adalah suatu kedaaan dimana kadar bilirubin serum total yang
lebih dari 10 mg % pada minggu pertama yang ditendai dengan ikterus pada kulit,
sclera dan organ lain. Keadaan ini mempunyai potensi meningkatkan kern ikterus,
yaitu keadaan kerusakan pada otak akibat perlengketan kadar bilirubin pada otak.
Hiperbilirubin ini keadaan fisiologis (terdapat pada 25-50 % neonatus cukup bulan
dan lebih tinggi pada neonates kurang bulan).
Hiperbilirubin ini berkaitan erat dengan riwayat kehamilan ibu dan prematuritas.
Selain itu, asupan ASI pada bayi juga dapat mempengaruhi kadar bilirubin dalam
darah.

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Suriadi & Rita Yuliani, 2010. Asuhan Keperawatan pada anak.
Jakarta:EGC
2. A.Aziz Alimul Hidayat,2008. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta:Salemba
Medika
3. Rusepno Ilasan,dkk, 1985. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Percetakan
Infomedika
4. Paulette S.Haws,2008. Asuhan Neonatus Rujukan Cepat.Jakarta:EGC
5. Ns.Anik Maryunani & Nurhayati,2008. Asuhan Bayi Baru Lahir
Normal.Jakarta: Trans Info Media
6. www.askephiperbilirubin.com

18

19