Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH METALURGI FISIK

CACAT KRISTAL LOGAM

Disusun oleh :
1. Agil Bagus P.

15510997

2. Lucky Poriwikawa

15510990

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO
2016

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya lah makalah
metalurgi fisik dengan judul CACAT KRISTAL LOGAM ini dapat diselesaikan dan
dijalankan dengan baik. Makalah yang disusun sebagai tugas mata kuliah Metalurgi Fisik ini
membahas mengenai Imperfection atau cacat kristal logam, cacat yang terjadi pada kristal atau
zat padat dan juga macam-macam cacat yang terjadi, baik contoh dan juga penyebabnya dimana
nantinya didalam makalah ini juga akan disertakan contoh soal dari permasalahan cacat kristal
ini. Atas terselesaikannya makalah ini dengan baik dan lancar,
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua orang. Kritik dan saran yang membangun
tentang makalah ini sangat penulis perlukan demi kesempurnaan makalah ini.

Ponorogo, 16 Maret 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar.............................................................................................................................i
Daftar Isi......................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang..............................................................................................................1
1.2 Tujuan...........................................................................................................................1
1.3 Permasalahan................................................................................................................1
1.4 Sistematika Laporan......................................................................................................2
BAB II DASAR TEORI.............................................................................................................3
2.1 Pengertian Kristal..........................................................................................................3
2.2 Proses Terbentuknya Kristal.........................................................................................4
2.3 Cacat Kristal..................................................................................................................4
2.3.1 Cacat Titik (Point Defect)....................................................................................4
2.3.2 Cacat Garis (Line Defect)....................................................................................4
2.3.3 Cacat Bidang (Interfacial Defect)........................................................................6
2.3.4 Cacat Ruang (Bulk Defect)..................................................................................6
BAB III ANALISA & PEMBAHASAN...................................................................................7
3.1 Cacat Kristal dalam Padatan.........................................................................................7
3.2 Difusivitas Atom...........................................................................................................9
BAB IV KESIMPULAN............................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................12

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Istilah "kristal" memiliki makna yang sudah ditentukan dalam ilmu material dan fisika zat
padat, dalam kehidupan sehari-hari "kristal" merujuk pada benda padat yang menunjukkan
bentuk geometri tertentu, dan kerap kali sedap di mata. Berbagai bentuk kristal tersebut dapat
ditemukan di alam. Bentuk-bentuk kristal ini bergantung pada jenis ikatan molekuler antara
atom-atom untuk menentukan strukturnya, dan juga keadaan terciptanya kristal tersebut. Bunga
salju, intan, dan garam dapur adalah contoh-contoh kristal.
Susunan yang sempurna ada di keseluruhan material kristal pada skala atom tidaklah ada.
Semua bahan padat mengandung sejumlah besar cacat atau ketaksempurnaan. Beberapa
material kristalin mungkin menunjukkan sifat-sifat elektrik khas, seperti efek feroelektrik atau
efek piezoelektrik. Kebanyakan material kristalin memiliki berbagai jenis cacat kristalografis.
Jenis dan struktur cacat-cacat tersebut dapat berefek besar pada sifat-sifat material tersebut.

1.2 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah tentang Cacat Kristal Logam ini adalah :
1. Mengetahui dan memahami karakteristik material penyusun zat padat
2. Mengetahui dan memahami cacat kristal pada zat padat, dimana kristal merupakan penyusun
zat padat.

1.3 Permasalahan
Permasalahan yang mendukung disusunnya makalah tentang Cacat Kristal Logam ini
adalah menjelaskan komponen penyusun material pada zat padat yang berupa kristal, macammacam cacat kristal, dan penyebabnya.

1.4 Sistematika Laporan


Makalah metalurgi fisik dengan judul CACAT KRISTAL LOGAM ini terdiri dari empat
bab. Makalah secara garis besar berisi tentang komponen penyusun kristal, macam-macam dan
penyebab terbentuknya cacat kristal untuk lebih jelasnya maka susunan laporan adalah sebagai
berikut. Bab I pendahuluan yang di dalamnya berisi tentang latar belakang, tujuan,
permasalahan, sistematika laporan. Bab II dasar teori merupakan penjelasan dan ulasan singkat
tentang teori -teori dasar penyusun material yang berupa kristal, macam-macam dan penyebab
dari cacatnya kristal tersebut. Bab III analisa dan pembahasan, dalam penyusunan makalah ini
tentunya akan memperoleh data-data dari berbagai referensi yang ada sehingga perlu adanya
penganalisaan dan pembahasan lebih lanjut Bab IV kesimpulan, memberikan kesimpulan dari
keseluruhan makalah yang didasarkan pada tujuan.

2
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pengertian Kristal
Kristal adalah suatu padatan yang atom, molekul, atau ion penyusunnya terkemas secara
teratur dan polanya berulang melebar secara tiga dimensi. Secara umum, zat cair membentuk
kristal ketika mengalami proses pemadatan. Pada kondisi ideal, hasilnya bisa berupa kristal
tunggal, yang semua atom-atom dalam padatannya "terpasang" pada kisi atau struktur kristal

yang sama, tapi secara umum kebanyakan kristal terbentuk secara simultan sehingga
menghasilkan padatan polikristalin. Misalnya, kebanyakan logam yang kita temui sehari-hari
merupakan polikristal. Struktur kristal mana yang akan terbentuk dari suatu cairan tergantung
pada kimia cairannya sendiri, kondisi ketika terjadi pemadatan, dan tekanan ambien. Kristal
terbentuk karena proses kristalisasi. Pengertian kristalisasi sendiri yaitu proses pembentukan
kristal yang terjadi pada saat pembekuan, perubahan dari fasa cair ke fasa padat. Jika ditinjau
dari mekanismenya, kristalisasi terjadi melalui 2 tahap :
1. Tahapan Nucleation (pembentukan inti)
2. Tahapan Crystal Growth (Pertumbuhan Kristal)

Gambar 2.1 Kristal Insulin


3
2.2 Proses Terbentuknya Kristal
Adapun cara terbentuknya kristal secara sederhana bahwa dalam keadaaan cair, atom-atom
tidak memiliki susunan yang teratur (selalu mudah bergerak) dan mempunyai temperature yang
relatip tinggi serta atom-atomnya memiliki energi yang cukup banyak sehingga mudah bergerak
dan tidak ada pengaturan letak atom relatip terhadap atom lainnya. Dengan semakin turunnya
temperature maka energy atom akan semakin rendah dan semakin sulit bergerak sehingga atomatom ini mulai mencari atau mengatur kedudukan relatip terhadap atom lainnya dan mulai
membentuk lattice. Proses ini terjadi pada temperature yang relatip lebih dingin dimana
sekelompok atom menyusun diri membentuk inti Kristal. Inti-inti ini akan menjadi pusat dari
proses kristalisasi selanjutnya.
2.3 Cacat Kristal (Imperfection)
Cacat dapat terjadi karena adanya solidifikasi (pendinginan) ataupun akibat dari luar.
Cacat tersebut dapat berupa :
2.3.1 Cacat Titik (Point Defect)

1. Cacat kekosongan (Vacancy) yang terjadi karena tidak terisinya suatu posisi atom
pada lattice atau kekosongan sisi kisi, yaitu sisi yang seharusnya ditempati atom,
kehilangan atomnya. Vakansi terbentuk selama proses pembekuan, dan juga karena
getaran atom yang mengakibatkan perpindahan atom dari sisi kisi normalnya.
2. Interstitial (sisipan) adalah salah tempat, posisi yang seharusnya kosong justru
ditempati atom. Interstitial diffusion secara umum lebih cepat daripada vacancy
diffusion karena ikatan dari interstiti terhadap atom-atom sekelilingnya lebih kuat
dan terdapat beberapa posisi interstiti dibandingkan posisi kekosongan dalam hal
berdifusi.
3. Impurity (ketidakmurnian), adanya atom asing yang menggantikan tempat yang
seharusnya diisi oleh atom. Impuritas adalah atom asing yang hadir pada material.
Logam murni yang hanya terdiri dari satu jenis atom adalah tidak mungkin.
Impuritas bisa menyebabkan cacat titik pada kristal. Ada paduan dimana atom
impuritas sengaja ditambahkan untuk mendapatkan karakteristik tertentu pada
material seperti untuk meningkatkan kekuatan mekanik atau ketahanan korosi.
4
4. Cacat Schottky dan Frenkel banyak dijumpai pada kristal ionik. Cacat Schottky
adalah berupa kekosongan pada suatu titik kisi bersama-sama dengan cacat sisipan di
permukaan. Sedangkan bila kekosongan berpasangan dengan sisipan di dalam kristal
membentuk cacat Frenkel.
2.3.2

Cacat garis (line defect)


Cacat yang menimbulkan distorsi pada lattice yang berpusat pada suatu garis. Sering
pula disebut dengan dislokasi. Secara umum ada 3 jenis dislokasi, yakni : dislokasi ulir,
dislokasi sisi/pinggir, dan dislokasi campuran. Dislokasi ulir terbentuk karena gaya geser
yang diberikan menghasilkan distorsi seperti yang ditunjukkan Gambar 2.2 Daerah
depan bagian atas kristal tergeser sebesar satu atom kekanan relatif terhadap bagian
bawah. Dislokasi ini disimbolkan dengan (.).

Gambar 2.2 Dislokasi Ulir


Dislokasi sisi/pinggir adalah terdapatnya bidang atom ekstra atau setengah bidang,
dimana sisinya terputus di dalam kristal. Gambar 2.3 memperlihatkan skematik dari
dislokasi sisi. Dislokasi sisi disimbolkan dengan

Gambar 2.3 Dislokasi Sisi/Pinggir


5
Jika pada material dijumpai kedua jenis dislokasi diatas maka disebut material
mempunyai dislokasi campuran. Contoh dislokasi campuran bisa dilihat pada gambar
2.4

Gambar 2.4 Dislokasi Campuran


2.3.3

Cacat bidang (interfacial defect)


Pada bahan polikristal, zat padat tersusun oleh kristal-kristal kecil yang disebut butir
(grain). Setiap butir dapat berukuran mulai dari nanometer hingga mikrometer. Pada
setiap butir atom-atom tersusun pada arah tertentu, dan arah keteraturan atom ini
bervariasi dari satu butir ke butir lain. Batasan antara 2 buah dimensi dan umumnya
memisahkan daerah dari material yang mempunyai struktur kristal berbeda dan atau arah
kristalnya berbeda, misalnya : Batas Butir (karena bagian batas butir inilah yang
membeku paling akhir dan mempunyai orientasi serta arah atom yang tidak sama.

Semakin banyak batas butir maka akan semakin besar peluang menghentikan dislokasi.
Kemudian contoh yang berikutnya adalah Twin (Batas butir tapi special, maksudnya :
antara butiran satu dengan butiran lainnya merupakan cerminan) dan ini menimbulkan
cacat pada daerah batas butir, sehingga disebut cacat batas butir.

6
2.3.4 Cacat Ruang (Bulk defect)
Perubahan bentuk secara permanen disebut dengan Deformasi Plastis, deformasi
plastis terjadi dengan mekanisme :

a. Slip, yaitu : Perubahan dari metallic material oleh pergerakan dari luar sepanjang
Kristal. Bidang slip dan arah slip terjadi pada bidang grafik dan arah atom yang
paling padat karena dia butuh energi yang paling ringan atau kecil.
b. Twinning terjadi bila satu bagian dari butir berubah orientasinya sedemikian rupa
sehingga susunan atom di bagian tersebut akan membentuk simetri dengan bagian
kristal yang lain yang tidak mengalami twinning.

7
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Cacat Kristal dalam Padatan
Pada bab sebelumnya, selalu digunakan anggapan kristal sempurna, tanpa cacat. Ciri
kristal sempurna (perfect crystal ) adalah terdapat pengulangan posisi setimbang atom-atom
penyusun kristal. Terdapat berbagai cacat sebagai penyimpangan dari kristal sempurna, tapi
yang akan dibahas hanyalah cacad titik. Cacat paling sederhana adalah kehilangan atom pada
posisi tertentu dalam kristal (vacancy) yang sering disebut cacat Schottky. Cara memodelkan
cacad ini adalah dengan menganggap terjadi perpindahan suatu atom (atau molekul) dari suatu
titik dalam kristal ke permukaan. Perubahan ini adalah endoterm (tidak disukai) tetap diimbangi
oleh penaikan entropi akibat peningkatan ketakteraturan kristal. Kita gunakan anggapan (1)
energi yang diperlukan untuk memindahkan atom dari kisi ke permukaan adalah v dan (2)
kekosongan yang ada amatlah jarang sehingga proses ini dianggap independen. Dengan
asumsi ini, dapat dituliskan,

dengan n adalah jumlah kekosongan, dan faktor kombinatorial adalah jumlah cara
mendistribusikan kekosongan dalam kristal. Keadaan setimbang adalah keadaan dengan nilai
A(n) minimum, yaitu
dimana kita mengabaikan nilai n dibandingkan dengan N. Cacat yang lain yang dikenal adalah
acat Frenkel, dimana kekosongan diimbangi dengan interstisi di tempat lain. Anggap energi
yang dibutuhkan untuk memindahkan atom dari kisi ke interstisi adalah I , N adalah jumlah
titik dalam kisi dan N0 adalah jumlah titik yang mungkin disisipi.

Dengan cara yang sama (meminimalkan A), kita peroleh

Secara umum, entropi dapat dituliskan sebagai S = k ln (N; V;E), dengan adalah jumlah
susunan yang mungkin dari suatu sistem.
8
Angka kesetimbangan vakansi, Nv untuk material tertentu tergantung atas kenaikan temperatur
sesuai dengan persamaan:
dimana N = jumlah total sisi
Qv = energi yang diperlukan untuk membentuk vakansi
T = 11emperature mutlak, K
k = konstanta Boltzmqan = 1,38 x 10-23 J/atom-K = 8,62 x 10-5 eV/atom-K

Gambar 3.1 Cacat Kekosongan (Vacancy) dan Cacat Interstisi


Selain cacat vacancy (kekosongan), salah satu macam cacat titik adalah cacat interstisi yaitu
sebuah atom dari bahan kristal yang berdesakan ke dalam sisi interstisi, yaitu ruang kosong
kecil dimana dalam kondisi normal tidak diisi atom. Pada logam, interstisi diri mengakibatkan
distorsi yang relatif besar di sekitar kisi karena atom interstisi lebih besar dari ruang interstisi.
Karena itu pembentukan cacat ini kemungkinannya kecil, dan juga konsentrasinya kecil, dimana
konsentrasinya jauh lebih kecil dari cacat vakansi.
Contoh Soal : Hitunglah angka kesetimbangan vakansi per meter kubik untuk tembaga pada
suhu 1000 0C. Energi pembentukan vakansi adalah 0,9 eV/atom; berat atom dan kerapatannya
(pada 1000 0C) masing-masing adalah 63,5 g/mol dan 8,4 g/cm3.
Jawab
Pertama-tama tentukan harga N, jumlah sisi atom per meter kubik untuk tembaga dari berat
atomnya Acu, kerapatannya , dan bilangan Avogadro NA, sesuai dengan:

Jumlah vakansi pada 1000 0C (1273) adalah:

3.2 Difusivitas Atom


Pada suhu tertentu, tidak semua atom (molekul) mempunyai energi yang sama pada saat
tertentu, terdapat suatu spectrum energi di antara atom-atom mulai dari nilai mendekati nol
sampai nilai yang sangat tinggi (tetapi tetap mendekati harga rata-rata). Sebaliknya untuk
periode waktu tertentu, setiap atom akan dapat memiliki serangkaian nilai energi mulai dari
sekitar nol sampai nilai yang sangat tinggi (tetapi tetap mendekati harga rata-rata). Dalam dua
kondisi ini, atom kemungkinan mempunyai cukup energi untuk memutuskan ikatannya dan
melompat ke posisi baru dan mengalami suatu proses difusi. Difusivitas bergantung dari jenis
atom yang larut, struktur bahan padat dan perubahan suhu.
Tabel 3.1 Difusivitas Atom

10
Perbedaan nilai difusivitas pada beberapa bahan padatan disebabkan oleh beberapa hal :
a. suhu yang lebih tinggi menghasilkan difusivitas yang lebih tinggi pula. Atom-atom
memiliki energi termal yang lebih tinggi, oleh karena itu besar kemungkinan untuk
mencapai energi yang dapat melampaui hambatan antara atom-atom.
b. Karbon memiliki difusivitas yang lebih tinggi dari pada nikel dalam besi karena atom
karbon lebih kecil.
c. Tembaga lebih mudah berdifusi dalam aluminium daripada tembaga sendiri oleh karena
ikatan Cu-Cu lebih kuat daripada ikatan Al-Al. (berdasarkan titik cairnya).
d. Atom-atom mempunyai difusivitas yang lebih tinggi dalam besi kpr daripada dalam besi
kps karena kpr mempunyai factor tumpukan yang lebih rendah. (lubang sisipan dalam kps
lebih besar dibanding lubang sisipan dalam kpr).
e. Difusi berjalan lebih cepat melalui batas butir karena merupakan daerah dengan cacat
kristal. Hubungan difusi dengan energi aktivasi :
D D0 e E / kT
ln D ln D0 E / kT

Dalam kimia difusi berkaitan dengan Q dengan satuan kal/mol dan R (konstanta gas),
sehingga diperoleh hubungan :
ln D ln D0 Q / RT

Contoh soal :
Difusivitas aluminium dalam tembaga pada 5000C adalah 2,6x10-17m2/s dan 1,6x10-12m2/s pada
10000C. Hitung D0, Q dan E serta berapa difusivitas pada suhu 7500C.
Penyelesaian :

ln(2,6 10 17 ) ln D0 E /(13,8 10 24 )(773)


ln(1,6 10 12 ) ln D0 E /(13,8 10 24 )(1273)
D0 4 10 5 m 2 / s dan E 0,3 10 18 J / atom

Sehingga :
ln D ln D0 Q / RT Q 43000kal / mol

Untuk T=7500C maka :


ln D ln(4 10 5 ) (0,3 10 18 ) /(13,8 10 24 )(1023)
D 2,5 10 1 m 2 / s

11
BAB IV
KESIMPULAN
1. Kristal merupakan padatan yang atom, molekul, atau ion penyusunnya terkemas secara
teratur dan polanya berulang melebar secara tiga dimensi. Kristal terbentuk dari zat cair
yang mengalami proses pemadatan. Pada keadaan ideal, zat cair yang membentuk Kristal
tersebut hasilnya bias berupa Kristal tunggal, tapi secara umum kebanyakan kristal terbentuk
secara simultan sehingga menghasilkan padatan polikristalin.
2. Kristal merupakan suatu bahan penyusun zat padat, sehingga keadaan Kristal harus
diketahui. Adapun macam-macam cacat pada Kristal antara lain cacat titik, cacat garis, cacat
bidang dan cacat ruang.

12
DAFTAR PUSTAKA
A. H. Cottrell dan D. Hull, Proc. Roy. Soc. (London), Vol. A242, 1950.
Encyclopedia of Material Science and Engineering, M.I.T. Press, Cambridge, Mass., Vol. h. 6,
4760, 1986.
L. H. Van Vlack, A Textbook of Material Technology, Addison-Weslley, Reading, Mass., h. 3,
1973.
J. C. Nuese, J. Materials Education, Vol. 2, h. 140, 1980
www.okasatrianovyanto.blogspot.com
www.mechanical.petra.ac.id
www.lischer.wordpress.com