Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
II.1.1 Korosi
Korosi dianggap proses yang merugikan karena menimbulkan
kenaikan biaya pemeliharaan peralatan proses, hambatan pada
jalannya proses, serta gangguan keselamatan kerja. Salah satu
peralatan proses yang sering mengalami korosi adalah system
kondensor dan boiler atau jalur kondensat. Korosi dalam jalur kondensat
diakibatkan oleh reaksi antara permukaan dalam pipa dan tube yang
terbuat dari baja dengan air boiler atau air kondensat, terutama yang
terkontaminasi, kontaminan yang mungkin terbawa dalam air
kondensat adalah ion tembaga (Cu2+), yang berasal dari produk korosi
alat-alat penukar panas yang terbuat dari paduan tembaga dan dilalui
air kondensat. Pengendalian korosi baja dalam air kondensat
terkontaminasi, biasanya dilakukan dengan menambahkan inhibitor
korosi dari jenis vapor phase inhibitor yang terdiri dari senyawa organic.
Karena senyawa organik umumnya tidak tahan kondisi operasi boiler
pada temperature dan tekanan tinggi maka diperlukan penelitian
tentang kemampuan natrium fosfat sebagai inhibitor korosi dalam air
kondensat yang terkontaminasi CuCl2, Natrium fosfat dalam
bentukcampuran DSP (disodium phosphate) dan TSP (trisodium
phosphate) biasa digunakan sebagai inhibitor pada boiler bertekanan
tinggi. Dalam rangka memenuhi keperluan tersebut maka penelitian ini
dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh kontaminan
CuCl2 terhadap korosi baja dalam air kondensat, serta efektivitas
inhibisi korosi DSP dan TSP (Nurdin, 2005).
Korosi disebabkan oleh reaksi logam dengan unsur yang bukan
logam dari lingkungannnya. Produknya biasanya oksida atau garamnya,
yang pada gilirannya turut mempengaruhi jalan reaksi lanjut.
Mengendalikan korosi logam dapat ditempuh berbagai cara. Reaksi
korosi dapat dikelompokkan atas berbagai jenis secara umum ada dua
amacam (sesuai peristiwanya) yakni penggabungan langsung logam
(atau ion logam) dengan unsur bukan logam, serta reaksi pelarutan
logam (biasanya dilingkungan berair) lalu bergabung dengan bahan
logam membentuk produk korosi (reaksi penggantian). Reaksi
langsung disebut juga korosi kering, reaksi penggantian disebut reaksi
basah. Reaksi langsung (korosi kering) termasuk oksidasi di udara,
reaksi dengan uap belerang hydrogen sulfide dan kandungan udara
kering lainnya, juga reaksi dengan logam cair misalnnya natrium reaksi
demikian nyatanya lazim pada suhu tinggi (Suryana, 2013).
Oksidasi logam sekilas tak tampak melibatkan mekanisme
elektrokimia, tapi sebenarnya bentuk korosi itupun tergantung pada
II- 1

Bab II Tinjauan
Pustaka

mekanisme pertuaran elektron dengan gejala arus listrik pula. Secara


sederhana oksigen molekul terserap ke permukaan logam. Lalu
mengurai menjadi atom dan mengion. Logamnya juga mengion. Ion
logam dan oksida bergabung membentuk lapisan awal oksidanya. Ion
logam terus terbentuk di permukaan, electron berdifusi lewat lapisan
oksida mengionkan oksigen di permukaan, electron berdifusi lewat
lapisan oksida mengionkan oksigen dipermukaan ion oksida berdifusi ke
lapisan oksida dan bereaksi dengan ion logam. Lapisan oksida makin
tebal. Dapat pula logam yang mengion dan bedifusi kepermukaan
hasilnya serupa. Korosi ini berlangsung tergantung pada sifat oksida
logam seberapa permeable dan berapa kuat ikatannya di permukaan
logam. Korosi dapat ditiadakan bila tidak terdapat elektrolit suatu hal
yang sulit karena korosi adalah suatu gejala galvanic korosi dapat
terjadi bila ada dua logam yang berlainan. Oleh para ahli hal ini di
biasanya akan dihindari misalnya baut kuningan cincin baja. Suatu hal
yang kadang kurang dipahami ialah kenyataan bahwa dalam suatu
bahan tertentu terdapat katoda dan anoda karena struktur mikro,
konsentrasi tegangan atau heterogenitas elektrolit (Suryana, 2013).
II.1.2 Jenis Korosi
Menurut bentuknya dibagi menjadi 8 jenis, yaitu:
1. Uniform

Gambar II.1 Uniform Corrosion


Uniform adalah bentuk korosi yang umum ditemukan, dimana
menyerang seluruh
permukaan logam sehingga
permukaan
logam/paduan yang bersentuhan dengan elektrolit dengan intensitas
sama. Korosi jenis ini mungkin paling banyak menghilangkan logam
tetapi justru yang paling tidak berbahaya karena kerusakan yang
ditimbulkan sudah dapat diperhitungkan dan diantisipasi, serta mudah
di deteksi ini adalah korosi yang sering dijumpai pada baja karbon oleh
atmosfer atau lingkungan korosif lainnya (Fontana, 1987).

LABORATORIUM TEKNIK KOROSI


PROGRAM STUDI DIII TEKNIK
KIMIA
FTI-ITS

II - 2

Bab II Tinjauan
Pustaka

2. Galvanik atau korosi dua metal

Gambar II.2 Korosi dua metal


Galvanik terjadi apabila 2 logam yang berbeda berada dalam
satu elektrolit. Dalam keadaan ini logam yang kurang mulia akan
terkorosi bahkan lebih hebat daripada ia bersama logam lain,
sedangkan logam yang lebih mulia akan terlindungi dari korosi. Atau
korosi galvanis merupakan proses pengkaratan eektrokimiawi apabila
dua macam metal yang berbeda potensial dihubungkan langsung di
dalam elektrolit yang sama. Electron mengalir dari metal yang kurang
mulia (anodik) menuju metal yang lebih mulia (katodik). Akibatnya
metal yang kurang mulia berubah menjadi ion-ion positif, karena
kehilangan elektron. Ion-ion metal positif bereaksi dengan ion negative
yang berada didalam elektrolit menjadi garam metal. Karena peristiwa
tersebut, permukaan anoda kehilangan metal, sehingga terbentuklah
sumur-sumur korosi atau jika merata disebut Surface Attack atau
serangan korosi permukaan (Fontana, 1987).
Sebagai contoh yaitu, hubungan antara pipa bawah tanah
dengan kolam rak pipa melalui clamp (penjepit pipa). Sedangkan
kolom rak pipa dilengkapi dengan arde anti petir yang terbuat dari
tembaga. Karenanya terjadilah hubungan langsung antara pipa bawah
tanah dengan arde tembaga tersebut didalam satu elektrolit yakni
tanah basah yang konduktif. Maka terjadilah proses korosi galvanis
dengan pipa bawah tanah sebagai anodanya (Fontana, 1987).
3. Crevice corrosion

LABORATORIUM TEKNIK KOROSI


PROGRAM STUDI DIII TEKNIK
KIMIA
FTI-ITS

II - 3

Bab II Tinjauan
Pustaka

Gambar II.3 Crevice Corrosion


Crevice corrosion terjadi pada celah-celah yang sempit. Korosi
celah sebenarnya adalah sel korosi yang diakibatkan oleh perbedaan
konsentrasi zat asam. Prosesnya sebagai berikut: karena celah sempit
terisi dengan elektrolit (air dengan pH-nya rendah) maka terjadilah
suatu sel korosi dengan katodanya permukaan sebelah luar celah yang
basah dengan air yang lebih banyak mengandung zat asam dari pada
bagian sebelah dalam yang sedikit mengandung zat asam sehingga
akibatnya bersifat anodic. Celah-celah ini banyak pada konstruksi
karoseri kendaraan karena fabrikasinya menggunakan pengelasan
elektrik resistance (tahanan listrik) system spot pada pelat tipis yang
disusun secara bertumpu (overlap). Overlap inilah yang menimbukan
celah-celah (Fontana, 1987).
4. Pitting (korosi sumuran)

LABORATORIUM ILMU LOGAM DAN


KOROSI
II.4 Pitting Corrosion
PROGRAM STUDI DIII TEKNIK Gambar
KIMIA
Pitting merupakan korosi yang teralokasikan pada satu atau
FTI-ITS

beberapa titik dan mengakibatkan terjadinya lubang kecil yang paling


dalam. Kerusakan yang ditimbulkan dapat terjadi secara tiba-tiba
tanpa ada tanda-tanda. Disamping itu, korosi ini justru terjadi pada
logam-logam yang dikenal tahan korosi (Fontana, 1987).
Korosi sumuran merupakan merupakan salah satu jenis korosi
yang teralokasi, korosi sumuran terjadi akibat lepasnya lapisan pasif
pada daerah tertentu akibat terkena lingkungan korosif. Korosif
sumuran sering terjadi pada logam seperti baja tahan karat maupun
II - 4

Bab II Tinjauan
Pustaka

aluminium yang terkena lingkungan korosi air laut, dimana lingkungan


air laut banyak mengandung ion Cl- yang akan mudah menyerang
lapisan pasif yang terbentuk pada material yang mengakibatkan
rusaknya lapisan pasif tersebut. Pecahnya lapian pasif mengakibatkan
gas hydrogen dan oksigen udah masuk dan mengkorosikan material
tersebut (Pandyo, 2012).

5. Intergranular corrosion

Gambar II.5 Intergranular Corrosion


Intergranular corrosion, korosi ini terjadi pada batas butir. Batas
butir-butir seringkali merupakan tempat mengumpulnya impurity atau
suatu presipitat, juga merupakan daerah yang lebih tegang karena
tidak tertutup kemungkinan untuk terjadinya korosi ini sangat
berbahaya karena sangat menurunkan kekuatan/ketangguhan dan sulit
dideteksi sehingga kerusakan dapat terjadi tanpa diketahui tandatanda akan terjadinya (Fontana, 1987).
6. Selective leaching

Gambar II.6 Selective Leaching


Selective leaching yaitu salah satu komponen saja dari suatu
paduan dan ini mengakibatkan paduan yang tersis akan menjadi
berpori dan tentunya kekuatannya akan banyak berkurang (Fontana,
1987).
7. Erotion corrosion

LABORATORIUM TEKNIK KOROSI


PROGRAM STUDI DIII TEKNIK
KIMIA
FTI-ITS

II - 5

Bab II Tinjauan
Pustaka

Gambar II.7 Erotion Corrosion


Erotion corrosion adalah korosi yang dipercepat oleh adanya
erosi yang ditimbulkan oleh gerakan cairan atau korosi permukaan
metal yang disebbakan oleh aliran fluida yang mengalir, atau oleh
adanya gelembung-gelembung gas. Dengan rusaknya permukaan
metal, rusak pula lapisan film pelindung sehingga memudahkan terjadi
korosi. Ini terjadi misalnya pada suatu pompa, pada pipa terutama
pada belokan dan bagian-bagian lain dimana ada kecepatan aliran
yang tinggi atau turbulensi (Fontana, 1987).
8. Stress corrosion

Gambar II.8 Stress Corrosion


Stress corrosion yaitu korosi yang timbul sebagai akibat
bekerjanya tegangan dan media yang terkorosif. Korosi ini
menyebabkan terjadinya keretakan. Tegangan adalah tegangan tarik
dapat berupa tegangan sisa ataupun yang bekerja. Beberapa metal
yang menjadi mudah peka terhadap korosi rengangan apabila terkena
atau berada
pada
kondisi
LABORATORIUM
ILMU
LOGAM
DAN lingkungan tertentu (Fontana, 1987).
KOROSI
PROGRAM
STUDI
DIII TEKNIK Korosi
KIMIA
II.1.3 Faktor
Penyebab
FTI-ITS

Teknik korosi adalah pengguaan ilmu pengetahuan dan seni untuk


mencegah/mengendalikan kerusakan oleh korosi secara ekonmis dan
aman. Sedangkan korosi didefinisikan sebgai pekerjaan merusak bahan
(material) yang disebabkan oleh reaksi kimia dengan lingkungannya.
Korosi juga bias berlangsung cepat ataupun lambat. Di korosi juga bias
berlangsung cepat ataupun lambat. Dikebanyakan situasi praktis
serangan ini tidak dapat dicegah, kita hanya dapat berupaya

II - 6

Bab II Tinjauan
Pustaka

mengendalikannya sehingga struktur atau komponen ini mempunyai


masa pakai yang lebih panjang (Fontana, 1987).
Dari pernyataan tersebut dapat diperoleh 2 faktor utama yang
mempengaruhi terjadinya korosi, yaitu dapat dilihat dari aspek material
dan lingkungan.
1. Aspek material
Logam dan alloy (campuran logam) berbentuk padatan-padatan Kristal
yang tersusun oleh atom-atom yang sangat rapat dengan membentuk
dan pola tertentu. Hal ini menyebabkan logam pada umumnya
merupakan penghantar listrik dan penghantar panas yang baik. Pada
saat leburan, logam dipanaskan sehingga susunan atom-atom logam
berubah dan bergerak seperti susunan atom-atom liquid. Hal ini dapat
menyebabkan sifat keras dari logam dan lebih mudah untuk dibentuk
atau dicetak. Setelah dingin atom-atom logam kembali mengeras dan
membentuk pola tertentu (Fontana, 1987).
2. Aspek lingkungan
Pengaruh dari oksigen dan oksidator
Pengaruh oksidator pada laju korosi berhubungan dengan sifatsifat pasif dari logam. Bertambahnya konsentrasi oksidator
dalam medium akan memperbesar laju korosi pada bagian 2 dan
dengan penambahan konsentrasi oksidator atau dengan
hadirnya oksigen terhadap laju korosi bergantung dari medium
dan logam yang diinginkan. Laju korosi akan naik atau tidak
terhadap penambahan konsentrasi oksidator dapat diteliti
dengan mengetahui karakteristik dari logam (Fontana, 1987).
Pengaruh kecepatan reaksi
Bertambahnya kecepatan tidak akan mempengaruhi laju korosi.
Contohnya dengan proses control polarisasi aktivasi. Dengan
hadirnya oksidator atau oksigen terlarut dalam asam atau air
akan memperbesar laju korosi, jika logam mengalami pemasifan
maka dengan demakin besar kecepatan pengadukan tidak
memperbesar laju korosi (Fontana, 1987).
Pengaruh temperature
Hampir semua reaksi kimia akan berlangsung apabila
temperature reaksi dipertinggi, semakin tinggi temperature
lingkungan maka laju korosi akan semakin besar (Fontana, 1987).
Pengaruh bahan-bahan korosif
Logam-logam yang menunjukan efek pemasifan hanya sedikit
berpengaruh dari penambahan dari konsentrasi bahan korosif,
namun dengan konsentrasi bahan korosif yang sangat tinggi
maka laju korosi dapat naik dengan cepat. Contohnya timbal
dimana timbal sulfat dapat melindungi lapisan logam dari asam
sulfat pada konsentrasi rendah (Fontana, 1987).
LABORATORIUM TEKNIK KOROSI
PROGRAM STUDI DIII TEKNIK
KIMIA
FTI-ITS

II - 7

Bab II Tinjauan
Pustaka

II.1.4 Pengendalian Korosi


Secara teoritis proses korosi tidak mungkin dicegah sepenuhnya,
karena proses tersebut lebih bersifat alamiah. Namun, bagaimanapun
juga usaha untuk menekan atau mencegah proses korosi semaksimal
mungkin perlu dilakukan. Pengendalian korosi didasarkan pada
beberapa metode, diantaranya metode yang prinsipal adalah
pengendalian korosi (Anonim, 2006).
a. Desain dan pemilihan bahan
Pemilihan material harus dilakukan dengan pertimbanganpertimbangan kondisi lingkungan sepertti komposisi fluida,
kondisi tanah atau cuaca. Pengendaliaan korosi internal pipa
penyalur gas yang mengandung gas H 2S ditujukan untuk
menghindari terjadinya retakan (hydrogen-related cracking).
Persyaratan material yang masuk dalam kondisi sour service
biasanya disesuaikan dengan spesifikasi
NACE MR0175
sebagaimana Gambar II.9 menunjukan. Material dalam region 0
tidak memerlukan persyaratan khusus, sedangkan yang berada
dalam region 1 dapat dipilih dari metrial A2 (austentic sainless
steel), A3 (Highly-alloyed austenitic stainless teel) atau A4 (solid
solution nickel based alloys), sedangkan untuk region 2 dapat
dipilih material A2 atau A3, dan untuk region 3 digunakan
material A2. Analisa tegangan, ketahanan terhadap buckling
dan collaps, dan lain-lain, juga perlu dipertimbangkan sebelum
instalasi pipa seperti melewati aliran sungai atau melintasu
perlintasan jalan (Ikhsan, 2008).

LABORATORIUM ILMU LOGAM DAN


KOROSI
PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

Gambar II.9 Batasan Sour service untuk gas yang mengandung


H2S
b. Penggunaan inhibitor(chemistry treatment)
Inhibitor
adalah
suatu
zat
kimia
yang
apabila
ditambahkan / dimasukkan dalam jumlah sedikit kedalam suatu
zat karoden ( lingkungan yang korosif), dapat secara efektif
II - 8

Bab II Tinjauan
Pustaka

memperlambat atau mengurangi laju pengkaratan yang ada


(Atmadja, 2010).
Suatu inhibitor dalam proses korosi akan membentuk
lapisan pelindung secara in-situ melalui tahapan mekanisme
reaksi ertentu antara fluida dan permukaan logam yang
terkorosi. Inhibitor korosi merupakan senyawa yang ditambahkan
dalam jumah kecil dapat menurunkan laju korosi secara
signifikan. Inhibitor korosi dibedakan menjadi dua jenis yaitu
inhibitr yang melapisi permukaan logam terhadap serangan
korosi dan inhibitor yang bereasi untuk menghilangkan spesispesi korosif dalam larutan. Secara elektrokimia, suatu inhibitor
dapat menekan reaksi katodik, anodic atau keduanya sehingga
proses korosi berlangsung lambat. Pada pipa tertentu,
diinjeksikan biosida yang merupakan inhibitor khusus untuk
menghambat pertumbuhan mikroba (Ikhsan, 2008).
c. Pelapisan(coating)
Coating organik merupakan lapisan penghalang yang
paling luas digunakan untuk memproteksi aluminium baja dan
seng dari serangan korosi atmosferik. Fungsi utamanya adalah
menghalangi masuknya air, oksigen dan ion-ion sekaligus
mencegah terjadinya reaksi katodik H2O + 1/2 O2 + 2e- 2OHdibawah coating. Sehingga kualitas coating, teknik aplikasi dan
efektifitas inspeksi merupakan parameter penting dalam system
operasi ini. Coating juga dapat berperan dalam insulasi panas,
misalnya pada pipa penyalur yang terendam dalam air laut
(Ikhsan, 2008).
d. Proteksi Katodik dan Anodik
Prinsip proteksi katodik sebenarnya sederhana, yaitu
dengan cara memperlakukan struktur logam yang diproteksi
sebagai katoda, dengan jalan mengalirkan arus listrik melalui
elektrolit ke logam yang diproteksi. Atas dasar prinsip inilah cara
pengendalian korosi dengan teknik proteksi katodik. Proteksi
katodik merupakan salah satu metoda pengendalian korosi
struktur baja dalam lingkungan elektrolit dengan cara
memperlakukan struktur logam sebagai katoda. Metoda ini
dilakukan dengan jalan mengalirkan arus listrik searah melalui
elektrolit ke logam sehingga potensial antarmuka logam-larutan
elektrolit turun menuju/mencapai daerah immunnya atau sampai
nilai
tertentu
sehingga
laju
korosi
logam
masih
diperbolehkan/minimum. Sumber arus listrik searah dapat
diperoleh dengan dua cara (Utami, 2009).
Proteksi katodik digunakan untuk mengendalikan korosi
dari logam ataupun paduan yang terpapar dalam lingkungan
elektrolit, dengan cara menurunkan potensial reduksi dari
struktur/logam yang akan dilindungi ke potensial dimana
LABORATORIUM TEKNIK KOROSI
PROGRAM STUDI DIII TEKNIK
KIMIA
FTI-ITS

II - 9

Bab II Tinjauan
Pustaka

struktur/logam tersebut imun (korosi tidak akan terjadi).


Potensial struktur diturunkan dengan cara membanjiri struktur
dengan elektron melalui konduktor metalik (membanjiri struktur
dengan arus listrik searah melalui lingkungannya) (Ikhsan, 2008).
II.1.5 Laju Korosi
Laju Korosi adalah kecepatan perambatan atau kecepatan
penurunan kualitas bahan terhadap waktu. Laju korosi sendiri dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
534 W
Laju Korosi(mpy)=
D AT
Keterangan :
W = berat yang hilang (mg)
D = density spesifik (gr/cm3)
A = luas spesifik (in2)
T = waktu spesifik (jam)
(Fontana, 1987)

II.1.6 Klasifikasi Bahan


Besi adalah logam dalam kelompok makromineral di dalam kerak
bumi, tetapi termasuk dalam kelompok mikro dalam sistem biologi.
Pada umumnya besi yang ada di dalam air dapat bersifat terlarut
sebagai Fe2+ atau Fe3+. Dalam keadaan tereduksi ion besi di dalam air
berada dalam bentuk fero ( ion besi dengan valensi II ). Apabila
terdapat bahan oksidator atau karena pengaruh oksigen dari udara
maka bentuk fero ini cepat teroksidasi menjadi ion feri (ion besi dengan
valensi III) dan dapat bereaksi lagi menjadi oksida yang tidak larut.
Dalam keadaan asam, dimana pH-nya kurang dari 3,5 maka ion feri
akan melarut. Bahan bahan suspensi seperti lumpur tanah liat dapat
mengandung besi yang akan melarut dalam asam. Besi dalam air dapat
menyebabkan noda noda pada pakaian, porselin dan sebagainya.
Berdasarkan persyaratan kualitas air minum yang dibuat oleh
Permenkes No.416/MENKES/PER/IX/199, kadar besi maksimum yang
diperbolehkan sebesar 1,0 mg/L. Besi dapat larut pada pH rendah dan
dapat menyebabkan air yang berwarna kekuningan, menimbulkan noda
pada pakaian dan tempat berkembang biaknya bakteri creonothrinx,
oleh sebab itu kadar besi tidak boleh lebih dari 1 mg/L, karena dapat
mempercepat
bakteri tersebut dan dapat menimbulkan
LABORATORIUM
ILMU pertumbuhan
LOGAM DAN
rasa serta bau (Nugroho, 2013).
KOROSI
SalahDIII
satu
metode
untuk pengujian logam besi yang tepat adalah
PROGRAM STUDI
TEKNIK
KIMIA
FTI-ITSdengan menggunakan metode spektrofotometer serapan atom. Metode
Atomic Absorbtion Spectrophotometre (AAS) atau Spektrofotometer
Serapan Atom berprinsip pada absorbs cahaya oleh atom. Atom-atom
menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu,
tergantung pada sifat unsurnya. Dengan absorbsi energi, berarti
memperoleh banyak energi suatu atom pada keadaan dasar dinaikan
tingkat energinya ketingkat eksitasi. Keberhasilan analisis ini
tergantung pada proses eksitasi dan memperoleh garis resonansi yang
tepat (Nugroho, 2013).

II - 10

Bab II Tinjauan
Pustaka

II.1.7 Pengaruh pH Terhadap Laju Korosi


Salah satu pengaruh lain yang mempengaruhi laju korosi pada
korosi CO2 adalah pH lingkungan dimana dengan perbedaan yang
sedikit saja akan dapat mempengaruhi laju korosi terutama pada korosi
CO2. Ketika hal-hal yang mempengaruhi laju korosi pada korosi CO 2
saling terkait seperti variasi pH dan laju alir tentunya akan lebih
mempengaruhi laju korosi yang terjadi pada korosi CO 2 tersebut. Selain
laju alir, korosi CO2 juga sangat dipengaruhi oleh kondisi pH lingkungan
yang digunakan, dimana dengan semakin rendahnya pH yang
digunakan maka laju korosi pada korosi CO2 juga akan meningkat.
Ketika korosi CO2 yang terjadi dipengaruhi oleh beberapa factor maka
hal tersebut akan lebih mempengaruhi laju korosi yang terjadi (Pandyo,
2012).
Penelitian mengenai pengaruh pH lingkungan terhadap laju alir
yang berbeda pada lingkungan korosif CO2 belum banyak dilakukan,
oleh sebab itu diperlukan analisis mengenai pengaruh pH lingkungan 4
dengan pengaruh laju aliran yang berbeda pada lingkungan korosif CO 2
perlu dilakukan untuk mengetahui laju korosi yang terjadi pada material
logam serta mengetahui perilaku ion karbonat yang terjadi. Berbagai
macam penelitian telah menunjukan bahwa pH memiliki pengaruh yang
sangat kuat terhadap laju korosi pada korosi CO 2. Tipikal pH pada air
murni adalah berkisar pada pH 4, sedangkan pH pada air laut berkisar
nilai 5-7. Pada korosi CO2, pada pH 4, dan lebih rendah, akan terjadi
reduksi langsung ion H+. sedangkan pada pH tinggi (>4), reaksi yang
dominan adalah reduksi langsung dari asam karbonat (Pandyo, 2012).
Selain berpengaruh secara langsung terhadap laju korosi yang
terjadi pada korosi CO2, efek pH lingkungan juga memiliki pengaruh
yang tidak langsung dan berhubungan dengan bagaimana pH
lingkungan mempengaruhi kondisi pembentukan lapisan FeCO 3. Pada
pH yang tinggi (>4) akan mengakibatkan penurunan kelarutan FeCO 3.
Dan mengarahkan pada peningkatan laju pengendapan dan
meningkatkan pembentukan scale, hal tersebut mengakibatkan
menurunnya laju korosi yang terjadi pada korosi CO2 (Pandyo, 2012).
Tingkat korosi yang terjadi pada suatu material dapat diketahui
dengan cara menghitung laju korosi dari material tersebut. Laju korosi
sendiri didefinisikan sebagai banyaknya logam yang dilepas seriap
satuan waktu pada permukaan tertentu. Ada beberapasatuan yang
biasa digunakan untuk mementukan laju korosi suatu material,
diantaranya adanya dengan satuan mils per year (mpy) ataupun
dengan satuan millimeters per year (mm/year). Pengukuran laju korosi
dapat dilakukan dengan beberapa metode, diantaranya adalah
pengukuran dengan menggunakan metode weight loss ataupun dengan
menggunakan metode ekstrapolasi kurva tafel (Pandyo, 2012).

LABORATORIUM TEKNIK KOROSI


PROGRAM STUDI DIII TEKNIK
KIMIA
FTI-ITS

II - 11

Bab II Tinjauan
Pustaka

II.2 Aplikasi Industri


Efisiensi Inhibisi Cairan Ionik Turunan Imidazolin Sebagai Inhbitor
Korosi Baja Karbon Dalam Larutan Elektrolit Jenuh Karbon Dioksida
Ali Fahrurrozie, Yayan Sunarya, Ahmad Mudzakir
Pendahuluan
Korosi merupakan fenomena kimia yang dapat menurunkan kualitas
suatu bahan akibat berinteraksi dengan lingkungan yang bersifat korosif.
Pada pertambangan minyak bumi dan gas alam, minyak mentah yang
dihasilakan masih bercampur dengan garam-garam anorganik, gas yang
bersifat asam seperti CO2 ata H2S, dan asam-asam organik yang memiliki
berat molekul rendah seperti asam format dan asam asetat. Campuran
material tersebut jika bercampur dengan air akan menjadi media yang
sangat korosif terhadap pipa baja karbon yang digunakan dalam sumur
produksi. Umumnya lingkungan korosif ini lebih terfokus pada kandungan
larutan NaCl dengan presentase tinggi dan jenuh CO2.
Penambahan inhibitor merupakan teknik pengendalian korosi yang
paling murah, mudah, dan efektif sehingga banyak diaplikasikan dalam
berbagai bidang industry. Terutama di industry pertambangan gas dan
minyakbumi inhibitor korosi yang banyak digunakan di lingkungan sumur
produksi minyak bumi adalah senyawa karbon yang mengandung atom
nitrogen sulfur, dan atau oksigen dalam strukturnya.
Penelitian ini bertujan untuk mengkaji efektifitas inhibisi cairan ionic
oleil imidazolin dalam kondisi lingkungan pertambangan minyak bumi
khususnya pH dan temperatur yang paling korosif terhadap pipa baja karbon
dalam sumur produksi minyak bumi. Pengaturan pH larutan dibuat dengan
menggunakan buffer asetat yang dicampur dengan mineral-mineral lain
untuk mendekati air garam (brine) sesungguhnya.
Metodologi Percobaan
Hal pertama yang dilakukan adalah sintesis senyawa inhibitor dengan
cara imidazolin disintesis menggunakan microwave selama 6,5 menit
dengan mereaksikan 20 mmol atau 2,06 gram DETA dengan 40 mmol atau
11,3 gram asam
oleat
dalam
LABORATORIUM
ILMU
LOGAM
DAN20 gram padatan CaO. Hasil reaksi sebelum
direfluks sampai mendidih (80oC) dengan penambahan 80 ml pelarut etil
KOROSI
PROGRAM
STUDI DIIIcampuran
TEKNIK KIMIA
asetat. Kemudian
disaring dalam kondisi panas dan dikeringkan
FTI-ITS
dengan pompa vakum serta dievaporasi sampai imidazolin mengental.
Kemudian direaksikan dengan CH3I (1:1,5 mol) selama 4 jam untuk
menghasilkan imidazolinium. Senyawa wa hasil sintesis direkristalisasi
dengan n-heksan dan methanol. Tahap selanjutnya pengukuran elektrokimia
dengan cara berikut. Larutan uji 200ml dituangkan kedalam sel elektrokimia,
dialiri gas CO2 secara terus-menerus, dan diaduk dengan menggunakan
magnetic stirrer pada kecepatan 400rpm. Elektroda kerja (baja karbon),
elektroda acuan (elektroda kalomel jenuh, SCE), dan elektroda bantu

II - 12

Bab II Tinjauan
Pustaka

(platina) yang direndam dalam larutan uji dibiarkan selama 15 menit sampai
mencapai keadaan mantap, sedangkan ditambahkan kerosin murni 50ml
dilakukan antara pengukuran terhadap larutan blanko dan larutan yang
ditambah inhibitor. Pengukuran dilakukan untuk mengetahui pH dan
temperature optimum pada saat laju korosi baja karbon mencapai
maksimum pengaruh inhibitor terhadap laju korosi baja karbon, dan
efektifitas inhibisinya yang dilakukan terhadap larutan blanko dan larutan
dengan inhibitor pada kondisi larutan dengan inhibitor pada kondisi larutan
dnegan varias pH buffer asetat (pH 3,18; 3,59; 4,01; 4,49 dan 5,20)
temperatu (298, 308, 318, 328 dan 338 K) dengan variasi konsentrasi
inhibitor (20,40,60, 80, dan 100 ppm).
Hasil Percobaan dan Pembahasan
Sejalan dengan berkurangnya tingkat keasaman media, spesi ion
asetat menjadi berkurang dan kesetimbangan bergeser kearah pembentukan
H2CO3, sehingga terjadi persaingan antara ion-ion asetat dan ion-ion
karbonat. Laju korosi dalam kondisi asam mencapai nilai tertinggi pada
pH<5, sedangkan pada pH>5 laju korosi menurun, tetapi tetap bergantung
pada kondisilarutan uji. Seiring meningkatnya pH media juga, laju korosi juga
meningkat. Laju korosi teringgi dicapai pada pH 4,01 dengan nilai laju korosi
2,4 mm th-1 dan mulai menurun pada pH 4,59 dengan laju korosi sebesar
2,37 mm th-1. Pada rentang pH 3,18-4,01 peningkatan laju korosi disebabkan
ion-ion CH3COO- dalam alrutan lebih reaktif dibandingkan ion-ion HCO 3terhadap ion-ion Fe2+, akibatnya lenih mudah bereaksi dengan Fe 2+
membentuk Fe(CH3COO)2 yang tidak bersifat protektif karena larut dalam
media.
Kesimpulan
laju korosi baja karbon API 5L X6 dalam larutan NaCl 2,5% jenuh
dengan CO2 mencapai optimum pada pH 4,01 dan temperature 328K. Laju
korosi baja karbon pada rentang pH uji dengan penambahan oleil
imidazolinium mampu menurunkan laju korosi cukup signifikan yaitu berkisar
1,29-2,4 mm th-1 untuk laju korosi tanpa inhibitor, sedangkan laju korosi
dengan adanya oleil imidazolinium 40 ppm menjadi 0,5-0,81 mm th -1. Laju
korosi naja karbon pada pH 4,01 dan rentang temperature 298 K-338K
dengan adanya oleil imidazolinium mampu menurunkan laju korosi.

LABORATORIUM TEKNIK KOROSI


PROGRAM STUDI DIII TEKNIK
KIMIA
FTI-ITS

II - 13