Anda di halaman 1dari 18

RANGKUMAN

PEMAHAMAN PENGENDALIAN INTERNAL SIKLUS PEROLEHAN DAN


PEMBAYARAN, PENERAPAN PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN
PENGUJIAN TRANSAKSINYA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Auditing II


Yang dibina oleh Bapak Akie Rusaktiva Rustam, MSA., Ak.

Disusun oleh:
Vega Silvia Nur Rahmah

(135020300111001)

Arwilla Faurillie A.O

(135020300111008)

Donny Prasetyo

(135020300111017)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
Maret 2016
EXPENDITURE CYCLE (SIKLUS PENGELUARAN)
1.

AKTIVITAS PENGENDALIAN-TRANSAKSI PEMBELIAN


Dokumen Dan Catatan Yang Umum
Sejumlah dokumen dan catatan umum yang tercakup dalam siklus pengeluaran Bagi
perusahaan yang menggunakan sistem data-base, catatan transaksi akan disimpan
dalam suatu database dan auditor perlu memahami tabel-tabel utama yang
menggerakkan akses ke informasi dalam sistem ini, serta bagaimana tabel-tabel
tersebut berkaitan satu sama lain. Meskipun demikian, dokumen dan catatan berikut
akan sering ditemukan dalam sebagian besar sistem akuntansi:
Permintaan pembelian. Permintaan tertulis akan barang dan jasa yang diajukan
oleh orang atau departemen yang berwenang kepada departemen pembelian.
Pesanan pembelian. Penawaran tertulis dari departemen pembelian kepada
penjual atau pemasok untuk membeli barang atau jasa sebagaimana tertulis
dalam pesanan tersebut.
Laporan penerimaan. Laporan yang dibuat atas penerimaan barang yang
menunjukkan jenis dan kuantitas barang yang diterima dari pemasok.
Faktur penjual. Tagihan dari pemasok yang menyebutkan jenis barang yang
dikirim atau jasa yang diberikan, jumlah yang harus dibayar, termin
pembayaran, serta tanggal tagihan tersebut.
Voucher. Suatu formulir internal yang menyebutkan nama pemasok, jumlah yang
harus dibayar, dan tanggal pembayaran untuk pembelian yang telah diterima.

Formulir ini digunakan untuk mengotorisasi pencatatan dan pembayaran


kewajiban. Banyak sistem pembelian memerlukan paket voucher yang lengkap
sebelum menyetujui pembayaran. Paket voucher ini biasanya berisi salian
permintaan pembelian, pesanan pembelian, laporan penerimaan, faktur penjual,
dan voucher yang sesuaisemua dokumentasi yang mendukung transaksi
pembelian.
Laporan pengecualian. Laporan yang berisi informasi tentang transaksi-transaksi
yang diidentifikasi untuk diinvestigasi lebih lanjut dengan pengendalian aplikasi
komputer.
Ikhtisar voucher. Laporan yang berisi seluruh voucher yang diproses dalam
suatu batch atau selama hari itu.
Register voucher. Catatan akuntansi formal yang mencatat kewajiban yang telah
mendapat persetujuan untuk dibayar.
File induk pernasok yang telah disetujui. File komputer yang berisi informasi
tentang penjual dan pemasok yang telah disetujui untuk membeli jasa dan serta
melakukan pembayaran kepadanya.
File pesanan penibelian terbuka. File komputer tentang pesanan pembelian yang
telah dikirim ke para pemasok tetapi barang atau jasa belum diterima.
File penerimaan. File komputer yang berisi informasi tentang kuantitas
persediaan yang diterima dari pemasok.
File transaksi pembelian. File komputer yang berisi data mengenai voucher yang
telah disetujui atas pembelian yang telah diterima. File ini digunakan untuk
mencetak register voucher dan memutakhirkan file hutang usaha, persediaan,
serta buku besar
File induk hutang usaha. File komputer yang berisi data tentang voucher yang
belum dibayar yang telah disetujui. File ini dapat disusun oleh pemasok. File ini
harus ditambahkan ke saldo dalam akun pengendali hutang usaha.
File suspensi atau penolakan. File komputer yang menahan transaksi-transaksi
yang belum diproses karena ditolak oleh program aplikasi komputer.
Fungsi-Fungsi
Pemprosesan transaksi pembelian mencakup fungsi-fungsi pembelian berikut:

1.

Pengajuan pembelian. Permintaan yang diajukan oleh perusahaan untuk

melakukan transaksi dengan perusahaan lain, yang meliputi:

Pencantuman nama pemasok pada daftar pemasok yang telah disetujui.

Pengajuan kembali permintaan barang dan jasa.

Pembuatan pesanan pembelian.

2.

Penerimaan barang dan jasa. Penerimaan atau pengiriman fisik barang atau jasa,

yang mencakup:

Penerimaan barang

Penyimpanan barang yang diterima untuk persediaan.

Pengembalian barang ke pemasok.

3.

Pencatatan kewajiban. Pengakuan formal oleh perusahaan atas kewajiban

hukum, yang meliputi:

2.

Pembuatan voucher pembayaran dan pencatatan kewajiban.

Pertanggungjawaban atas transaksi yang telah dicatat.

AKTIVITAS PENGENDALIAN TRANSAKSI PENGELUARAN KAS (CASH


DISBURSEMENT)
Dokumen dan Catatan Yang Umum
Dokumen dan catatan penting yang digunakan dalam pemprosesan transaksi
pengeluaran kas meliputi hal-hal berikut:
Cek. Perintah resmi kepada bank untuk membayar sejumlah uang yang
ditunjukkan pada perintah tersebut kepada payee.

Ikhtisar cek. Laporan total cek yang diterbitkan dalam batch atau selama hari
bersangkutan.

File transaksi pengeluaran kas. Informasi tentang pengeluaran dengan cek


kepada pemasok dan pihak lainnya. File ini digunakan untuk pempostingan ke
file induk hutang usaha dan buku besar.
Jurnal pengeluaran kas atau register cek. Catatan akuntansi formal mengenai cek
yang diterbitkan kepada pemasok dan pihak lainnya
Fungsi dan Pengendalian Internal
Fungsi-fungsi terkait pengeluaran kas terbagi menjadi dua yaitu:

a. Pembayaran Utang
Fungsi ini bertanggungjawab terhadap semua pembayaran utang dagang.
Biasanya, pembayaran diotorisasi pejabat/atasan yang berwenang untuk
memberikan persetujuan terhadap kewajiban pelunasan. Mengingat banyaknya
kemungkinan salah saji dalam fungsi ini, perlu dilakukan pengendalian berikut
ini:

Terhadap

cek

yang

dikeluarkan

harus

ditunjuk

orang

yang

bertanggungjawab untuk menandatanganinya

Pencocokan antara cek yang ditulis dengan total voucher yang diproses
untuk dibayar dilakukan individu yang bebas

Apabila suatu cek sudah dibayarkan, semua voucher dan dokumennya


harus diberi cap lunas

Cek harus diberi nomor urut tercetak

Akses terhadap blanko cek dan stempel hanya di otorisasi untuk orang
yang sangat terbatas

Dalam memaham resiko pengendalian yang timbul dalam transaksi


pengeluaran kas harus memperhatikan kemungkinan salah saji, kendalian yang
dibutuhkan, dan kemungkinan pengujian yang harus dilakukan berikut ini:
1. Kemungkinan adanya pengeluaran cek untuk pembelian yang tidak
disetujui, harus dikendalikan dengan cara penandatanganan cek
melakukan penelaahan terhadap kelengkapan pendukung voucher dan
persetujuannya
2. Kemungkinan voucher dibayar dua kali, dikendalikan dengan
pemberian cap terhadap voucher dan dokumen pendukungnya bila telah
dibayar. Auditor dapat melakukan pengujian apakah semua pembayaran
telah diberi cap
3. Cek mungkin dibayarkan untuk jumlah yang salah, dikendalikan
dengan pengecekan oleh pihak yang bebas mengenai kesesuaian jumlah
dalam check dengan vouchernya
4. Cek mungkin dirubah setelah ditandatangani, dikendalikan dengan
pengecekan pemberian tanda cek yang dikirim. Auditor dapat

melakukan pengujian dengan melakukan wawancara tentang prosedur


pengiriman cek, dan observasi pengiriman cek
b.

Pencatatan Penggeluaran Kas


Fungsi ini berkaitan dengan pencatatan semua pelunasan utang dagang beserta
kewajiban perusahaan lainnya. Agar kecermatan proses pencatatan ini dapat
dilakukan dengan baik, maka diperlukan pengendalian langkah berikut:

Pengawasan oleh pihak yang bebas terhadap kesesuian jumlah di jurnal


dengan masukan utang dagang dengan ringkasan yang diterima oleh
bendaharawan

Pengecekan oleh pihak yang bebas mengenai ketepatan waktu


pencatatan secara periodik dibandingkan dengan tanggal pencatatan
jurnal kas pengeluaran kas

Rekonsiliasi kas oleh pihak yang bebas

Dalam memaham resiko pengendalian yang timbul dalam transaksi


pengeluaran kas harus memperhatikan kemungkinan salah saji, kendalian yang
dibutuhkan, dan kemungkinan pengujian yang harus dilakukan berikut ini:
1. Cek mungkin tidak dicatat, dikendalikan dengan cek yang bernomor
urut tercetak. Auditor melakukan pengujian terhadap penggunaan
dokumen bernomor urut tercetak
2. Kesalahan-kesalahan dalam pencatatan cek, dikendalikan dengan
pembuatan rekonsiliasi bank secara periodik oleh pihak yang bebas.
Auditor dapat melakukan pengujian terhadap bankrekonsiliasi
3. Cek yang tidak dicatat segera, dikendalingan dengan oleh pihak yang
bebas untuk mencocokkan tanggal cek dan tanggal pencatatannya.
Pengujian yang dilakukan dengan memperlihatkan kembali adanya
kebebasan dalam pengecekan
3.

AKTIVITAS PENGENDALIAN TRANSAKSI PENYESUAIAN


PEMBELIAN
Dokumen dan Catatan yang Umum
Dokumen dan catatan penting yang digunakan dalam pemprosesan transaksi

penyesuaian pembelian meliputi hal-hal berikut:

Otorisasi retur pembelian. Formulir yang menunjukkan deskripsi, kuantitas, dan


data lainnya yang berkaitan dengan barang yang vendor telah otorisasi untuk
dikembalikan. Form tersebut menyajikan dasar memulai retur pembelian

Laporan pengiriman. Laporan yang disiapkan dalam pengiriman barang ke


vendor yang menunjukkan jenis dan kuantitas dari barang yang dikirim

Memo debit. Formulir yang menyatakan keterangan-keterangan debit untuk


akun hutang, termasuk, spesifikasi item yang dikembalikan, harga, dan jumlah
kredit. Debit memo menyediakan dasar untuk pencatatan retur pembelian

Fungsi dan Pengendalian Aktivitas


a.

Retur Pembelian dan Tunjangan


Transaksi penyesuaian pembelian melibatkan pencatatan retur pembelian

dan tunjangan. Barang yang diterima dari vendor yang rusak dan harus
dikembalika, selain itu, vendor menawarkan sejumlah bujukan untuk membeli
persediaan. Dalam beberapa kasus, vendor akan setuju untuk mengurangi harga
untuk barang rusak daripada menyimpan kembali barang tersebut. Di beberapa
perusahaan, potensi salah saji bisa mencapai jumlah material.
Setiap transaksi ini mengakibatkan mengurangi hutang dan biaya dan
meningkatkan likuiditas dan laba yang dilaporkan. Pelaporan keuangan yang sehat
perlu menetapkan kontrol yang memadai atas transaksi ini untuk mencegah
penyalahgunaan dalam kegiatan manajemen laba. Dengan demikian, aktivitas
pengendalian berguna dalam mengurangi risiko salah saji fokus pada membangun
keberadaan atau terjadinya transaksi tersebut (EO3) dan termasuk berikut:
Semua pengembalian pembelian harus disahkan oleh vendor (EO3)
Barang harus dikembalikan hanya dengan otorisasi pembelian kembali yang
tepat, dan menghitung independen barang dikembalikan harus dicatat pada
dokumen pengiriman seperti slip pengepakan dan bill of lading (EO3)
Komputer harus sesuai dengan informasi memo debit dengan otorisasi untuk
pembelian kembali dan dokumen pengiriman
Komputer menghasilkan laporan dari semua pengembalian pembelian resmi

yang belum dikirim atau belum menghasilkan memo debit


Selain itu, harus ada pembagian tugas yang memadai antara mendapatkan otorisasi untuk
pengembalian pembelian, pengiriman barang, dan memo rekaman debit. Ketika ada
potensi salah saji material dari transaksi penyesuaian pembelian, auditor harus
memperoleh pemahaman tentang semua aspek yang relevan dari kontrol komponen
struktur internal dan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi risiko salah
saji tersebut. Penyesuaian pembelian diperkirakan kuartal akhir, manajemen harus
menetapkan kontrol untuk memastikan bahwa penyesuaian konsisten dari kuartal ke
kuartal. Sebuah komite pengungkapan harus meninjau perkiraan ini dari bisa agregat
dengan penyesuaian lain untuk suatu jumlah yang material terhadap laporan keuangan.
STUDI KASUS
Contoh kasus pada perusahaan PT NRS :
Dalam melakukan prosedur audit pada siklus pengeluaran PT NRS, tim audit
menjalanan prosedur sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh KAP TWR juga dengan
berpedoman pada engagement letter yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak
(manajemen perusahaan dan tim audit).
Dalam perikatan audit periode ini. Tim audit tidak melakukan prosedur test of
control, hal ini dikarenakan tim audit merasa tidak perlu melakukan hal tersebut untuk
menghemat tenaga dan waktu audit di klien. Pengujian atas pengendalian perusahaan
sebenarnya tidak sama sekali dihilangkan, akan tetapi ada beberapa yang dilakukan
bersamaan dengan test of detail. Khususnya terkait dengan siklus pengeluaran. Pengujian
atas pengendalian lebih berfokus pada kepatuhan perusahaan atas PSA 62 yang mengatur
mengenai P2P (purchase and payable process).
Berdasarkan pendekatan audit yang digunakan dalam menjelaskan proses audit siklus
pengeluaran, tim audit membagi proses audit berdasarkan 2 jenis laporan keuangan yang
akan di audit yakni :
Income Statement / Profit or Loss
Balance Sheet

PENGUJIAN SALDO: UTANG USAHA


A. Pembatasan Atas Risiko Deteksi Dalam Pengujian Rinci.
Mengevaluasi tingkat pengujian substansi yang direncanakan untuk setiap asersi
Lap.keu yang signifikan, auditor akan mempertimbangkan bukti yang diperoleh.
Auditor membandingkan tingkat aktual / final tentang keyakinan yang diperoleh dari
prosedur tersebut dengan penilaian tingkat risiko bawaan yang direcanakan, risiko
prosedur analitis dan risiko pengendalian.
Merevisi Risiko deteksi yang direncanakan. Jika penilaian risiko tidak
dikuantifikasi, risiko deteksi yang direvisi ditentukan dengan pertimbangan
(judgment) / dengan penambahan matriks risiko.
Perancangan Pengujian Subtantif :
1.

Sifat : pengujian subtantif mengarah pada jenis & efektivitas prosedur


pemeriksaan yang dilakukan dan sebaliknya. Jika tingkat risiko deteksi yang
dapat diterima tinggi, prosedur yang kurang & efektif dan murah dapat
dilakukan, terdapat 4 jenis pengujian substantif : prosedur analitis, pengujian
rincian transaksi, pengujian rincian atas saldo, & pengujian estimasi-estimasi
akuntansi,

2.

Waktu : Tingkat risiko audit dapat diterima dipengaruhi penentuan waktu


pengujian substantif, jika risiko deteksi tinggi,pengujian dapat dilakukan
beberapa bulan sebelum akhir tahun,sebaliknya,jiak risiko deteksi untuk suatu
asersi rendah, pengujian substantif dilakukan pada/ mendekati tanggal akun.

3.

Luas : auditor dapat mengubah jumlah bukti yang diperoleh dengan mengubah
luas pengujian substantif yang dilakukan untuk meratakan jumlah item / sampel
dimana pengujian substantif / prosedur tertentu diterapkan,

4.

Pemilihan staff : pengujian substantif harus ditugaskan kepada personil dengan


keahlian, kemampuan, & pengalaman yang cukup.

Menentukan Risiko Deteksi


Pengujian substantif yang dilakukan auditor akan jauh akan lebih ekstensif
dalam audit pertama atas seorang klien dibandingkan dengan penugasan yang
berulang. Dalam penugasan yang berulang, auditor akan memusatkan perhatian pada
transaksi tahun berjalan. Biasanya proporsi terbesar dari aktiva tetap adalah aktiva
yang ada pada awal tahun yang sebelumnya telah diaudit. Karena itu, akan lebih
murah untuk memusatkan perhatian pada populasi yang lebih kecil dari transaksi
tahun berjalan.
Ketika menentukan risiko deteksi, auditor harus mempertimbangkan sejauh
mana klien mempunyai aktiva konstruksi, lease modal yang signifikan, dan
penambahan serta penarikan yang signifikan dari aktiva-aktiva itu. Auditor juga perlu
mengevaluasi asumsi-asumsi kunci yang bertalian dengan estimasi akuntansi atas
beban penyusutan. Akhirnya, riisko deteksi dalam penugasan yang berulang
seringkali tergantung pada pengendalian internal atas siklus pengeluaran.
B. Merancang Pengujian Substantif Atas Saldo Utang Usaha
Tujuan Pengujian Substantif terhadap utang usaha

Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan


dengan hutang usaha.

Membuktikan keberadaan hutang usaha dan keterjadian transaksi yang berkaitan


dengan hutang usaha yang dicantumkan di neraca.

Membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatan akuntansi dan


kelengkapan saldo hutang usaha yang disajikan di neraca.

Membuktikan kewajiban klien yang dicantumkan di neraca

Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan hutang usaha di neraca.

Perancangan Pengujian Substantif

1.

Prosedur awal
Pengujian audit dimilai dengan mendapatkan pemahaman tentang bisnis dan
industri klien. Prosedur awal lainnya untuk pengujian substantif atas utang usaha
adalah menelusuri saldo awal kertas kerja tahun sebelumnya dan menggunakan
perangkat lunak audit tergeneralisasi dalam memeriksa akun buku besar untuk
melihat setiap ayat jurnal yang tidak biasa, serta untuk mengembangkan daftar
jumlah yang terutang pada tanggal neraca.

2.

Prosedur analitis
Tujuan auditor menerapkan prosedur ini adalah untuk mengembangkan
ekspektasi atas saldo akun hutang dan hubungan antara hutang usaha dengan
akun-akun kunci lainnya seperti pembelian atau persediaan. Suatu penurunan
yang abnormal atas rasio perputaran utang usaha atau kenaikan yang tidak
diharapkan atas rasio lancar dapat menjadi indicator bahwa kewajiban telah
ditetapkan terlalu rendah. Prosedur analitis akan dilakukan pada tahap akhir
penugasan untuk memastikan bahwa bukti yang dievaluasi dalam pengujian
rincian telah konsisten dengan gambaran menyeluruh yang dilaporkan dalam
laporan keuangan.

3.

Pengujian rincian transaksi


a) Menelusuri utang yang dicatat ke dokumentasi pendukung. Dalam pengujian
ini, ayat jurnal kredit pada hutang usaha akan ditelusuri ke dokumentasi
pendukung dalam file klien seperti voucher, faktur penjualan, laporan
penerimaan dan pesanan pembelian. Pendebetannya akan ditelusuri ke
dokumen transaksi pengeluaran kas seperti buku pengeluaran cek atau
memo dari penjual menyangkut retur pembelian dan pengurangan harga.
b) Melaksanakan pengujian pisah batas pembelian. Pengujian pisah batas
pembelian mencakup penentuan bahwa transaki pembelian yang terjadi
mendekati tanggal neraca telah dicatat pada periode yang tepat. Hal ini
dapat dilakukan dengan menelusuri tanggal-tanggal laporan penerimaan ke
ayat jurnal register voucher dan memvouching ayat jurnal yang dicatat ke
dokumentasi pendukungnya. Pengujian ini biasanya mencakup periode
antara 5-10 hari bisnis sebelum dan sesudah tanggal neraca. Dalam

memeriksa dokumentasi harus diberikan pertimbangan khusus atas barang


yang masih dalam perjalanan per tanggal neraca.
c) Melaksanakan pengujian pisah batas pengeluaran kas. Bukti tentang
pengujian pisah batas pengeluaran kas dapat diperoleh melalui observasi
langsung dan review atas dokumentasi internal. Pisah batas yang tepat atas
transaksi pengeluaran kas pada akhir tahun adalah sangat penting untuk
penyajian kas dan hutang usaha yang benar pada tanggal neraca.
d) Melakukan pencarian hutang yang belum tercatat. Pencarian hutang usaha
yang belum tercatat terdiri dari prosedur-prosedur yang dirancang secara
khusus untuk mendeteksi kewajiaban signifikan yang belum dicatat pada
tanggal neraca.
4.

Pengujian rincian saldo.


a) Konfirmasi utang usaha. Prosedur ini bersifat opsional karena konfirmasi ini
tidak dapat menjamin bahwa hutang yang belum dicatat akan dapat
ditemukan dan bukti eksternal berupa faktur dan laporan bulanan penjual
harus tersedia untuk mendukung saldonya. Konfirmasi hutang usaha
direkomendasikan apabila risiko deteksi rendah, terdapat kreditor individual
dengan saldo yang relative besar atau perusahaan mengalami kesulitan
dalam memenuhi kewajibannya. Konfirmasi juga harus dikirimkan kepada
pemasok utama yang telah digunakan pada tahun sebelumnya tetapi tidak
dalam tahun berjalan dan tidak mengirimkan laporan bulanan.
b) Merekonsiliasi utang yang belum dikonfirmasi dengan laporan pemasok.
Para pemasok biasanya mengirimkan laporan bulanan yang bias dijumpai
dalam file klien. Jumlah yang terhutang pada pemasok menurut daftar
hutang klien dapat direkonsiliasi dalan laporan tersebut. Bukti yang
diperoleh dari prosedur ini kurang dapat diandalkan karena laporan pemasok
telah dikirimkan kepada klien dan bukan langsung kepada auditor. Selain itu
laporan ini mungkin tidak tersedia dari pemasok tertentu.

5.

Pembandingan penyajian laporan dengan GAAP. Hutang usaha harus


diidentifikasi dan diklasifikasikan secara tepat sebagai kewajiban lancer. Jika
saldo hutang usaha mencakup pembayaran di muka yang material kepada

beberapa pemasok untuk pengiriman barang dan jasa di masa depan maka
jumlah semacam itu harus di reklasifikasi sebagai uang muka kepada pemasok
dan dicatat sebagai aktiva. Pengungkapan juga perlu dilakukan atas penjaminan
dan hutang pihak yang mempunyai hubungan istimewa, komitmen pembelian
serta kewajiban kontinjen.
C. Merancang Tes Substantif Atas Saldo Aktiva Tetap
Pengujian substantif yang mungkin dilakukan atas saldo aktiva tetap dalam
penugasan yang berulang dan tujuan audit atas saldo akun spesifik yang bertalian
dengan pengujian itu dijelaskan sebagai berikut:
1.

Prosedur Awal
Suatu prosedur awal yang penting termasuk mendapatkan pemahaman tentang
bisnis dan industri bersangkutan. Prosedur ini juga memberikan sarana untuk
mengevaluasi kelayakan bukti yang diperoleh pada tahap audit berikutnya dan
juga melaksanakan prosedur awal atas saldo dan catatan aktiva tetap yang akan
mendapat pengujian lebih lanjut.

2.

Prosedur Analitis
Suatu bagian yang penting dari siklus investasi adalah menentukan bahwa
informasi keuangan yang akan diaudit konsisten dengan ekspektasi auditor.
Ketika melaksanakan prosedur analitis, auditor harus mempertahankan tingkat
skeptisisme profesional yang layak dan menyelidiki hasil-hasil yang tidak
normal. Jika hasil prosedur analitis konsisten dengan ekspektasi auditor maka
strategi audit dapat dimodofikasi untuk mengurangi luas pengujian rincian
transaksi dan saldo.

3.

Pengujian Rincian Transaksi


Pengujian substantif ini mencakup tiga jenis transaksi yang berkaitan dengan
aktiva tetap:
a) Memvouching penambahan aktiva tetap
Semua penambahan yang normal harus didukung oleh dokumentasi berupa
otorisasi dalam notulen rapat, voucher, faktur, kontrak dan cek-cek yang
dibatalkan. Jumlah yang dicatat harus divouching untuk mendukung

dokumentasi.
b) Memvouching pelepasan aktiva tetap
Bukti-bukti tentang penjualan, penarikan, dan tukar tambahharus tersedia
bagi auditor dalam bentuk nota pembayaran kas , otorisasi tertulis, dan
perjanjian penjualan. Dokumentasi tersebut harus ditelaah secara seksama
untuk menentukan ketepatan dan kelayakan catatan akuntansi termasuk
pengakuan keuntungan atau kerugian.
c) Mereview ayat jurnal ke beban reparasi dan pemeliharaan
Tujuan auditor dalam melaksanakan pengujian ini adalahuntuk menentukan
kelayakan dan konsistensi pembebanan ke beban reparasi. Kelayakan
meliputi pertimbangan meliputi pertimbangan mengenai apakan klien telah
melakukan pembedaan yang tepat antara pengeluaran modal dan
pendapatan.
4.

Pengujian Rincian Saldo


a) Menginspeksi Aktiva Tetap
Inspeksi aktiva tetap akan memungkinkan auditor untuk mendapatkan
pengetahuan pribadi yang langsung mengenai eksistensinya. Dalam
penugasan yang berulang, inspeksi yang terinci dapat dibatasi pada pos-pos
yang tercantum pada skedul penambahan aktiva tetap. Akan tetapi, auditor
harus mengunjungi aktiva tetap lainnya sambil tetap waspada terhadap bukti
relevan lainnya tentang aktiva tetap.
b) Memeriksa Dokumen dan Kontrak Hak Kepemilikan
Kepemilikan atas kendaraan dapat ditetapkan dengan memeriksa sertifikat
hak (BPKB), sertifikat pendaftaran (STNK), dan Polis Asuransi. Untuk
peralatan, perabotan, dan furniture, faktur yang telah dibayar mungkin
merupakan bukti terbaik mengenai kepemilikan. Bukti tentang kepemilikan
dalam industri real estatedapat ditemukan dalam akte pembelian, polis
asuransi pemilikan, tagihan pajak properti, tanda terima pembeyaran
hipotek, dan polis asuransi kebakaran.

5.

Pengujian Rincian Saldo : Estimasi Akuntansi


a) Review Penyisihan Untuk Penyusutan

Dalam pengujian ini, auditor mencari bukti tentang kelayakan, konsistensi,


dan ketetapan beban penyusutan. Titik tolak yang asensial bagi auditor
dalam melakukan pengujian ini adalah memastikan metode penyusutan yang
digunakan oleh klien selama tahun yang sedang diaudit.
b) Penurunan Nilai Aktiva Tetap
Auditor harus mengevaluasi apakan klien telah memperhitungkan secara
layak penurunan nilai (impairment) aktiva tetap apabila terjadi perubahan
yang material bagaimana suatu aktiva digunakan, atau apabila terjadi
perubahan

yang

material

dalam

lingkungan

bisnis.

Bukti

untuk

mengevaluasi penurunan nilai ini didasarkan pada estimasi arus kas masa
depan yang belum didiskontokan dari aktiva itu.
6.

Perbandingan Penyajian Laporan Dengan GAAP


Persyaratan penyajian laporan aktiva tetap dalam keuangan bersifat ekstensif
(PD1,2,3). Sebagai contoh, laporan keuangan harus memperlihatkan beban
penyusutan selama tahun berjalan, biaya dan nilai buku kelas utama aktiva tetap,
serta metode penyusutan yang digunakan.
Properti yang digadaikan sebagai jaminan atas pinjaman harus diungkapkan.
Kelayakan pengungkapan klien yang berkaitan dengan aktiva menurut lease
dapat ditentukan dengan melihat kembali ke pengumuman akuntansi atoritatif
dan perjanjian lease yang berkaitan.

D. Merancang Tes Substantif Atas Saldo Akun-Akun yang Ada di Laporan Laba
Pertimbangan Khusus Dalam Merancang Uji Substantif
1.

Akun-akun laporan laba rugi


Secara tradisional, pengujian rincian atas saldo lebih berfokus pada asersi laporan

keuangan yang berkaitan dengan akun-akun neraca daripada akun laporan laba rugi.
Pendekatan ini efisien dan logis berkaitan dengan satu atau lebih akun-akun neraca.:
Akun-akun Neraca

Akun laporan laba rugi terkait

Piutang usaha
Persediaan
Beban dibayar di muka
Investasi

Penjualan
Harga Pokok Penjualan
Berbagai beban terkait
Pendapatan investasi

Aktiva tetap
Aktiva tak berwujud
Hutang akrual
Kewajiban berbunga

Beban penyusutan
Beban amortisasi
Beban bunga

Jika dibandingkan dengan uji substantive atas akun neraca, pengujian laporan laba
rugi lebih condong ke prosedur analitis dan sedikit ke pengujian rincian.
a.

Prosedur analitis untuk akun-akun laporan laba rugi


Jenis pengujian substantif ini dapat digunakan secara langsung atau tidak

langsung. Pengujian langsung terjadi ketika akun pendapatan atau akun beban
dibandingkan dengan data relevan lainnya untuk menentukan kewajaran saldo
tersebut. Pengujian ini tidak langsung terjadi apabila bukti mengenai saldo laporan
laba rugi diperoleh dari prosedur analitis yang dipakai untuk akun neraca yang
berhubungan.
Auditor mungkin memilih untuk menggunakan prosedur analitis sebagai
pengujian langsung atas beberapa saldo laporan laba rugi. Jika pengendalian terhadap
transaksi penyesuaian penjualan cukup andal, hanya prosedur analitis yang dipakai
untuk akun retur penjualan dan penyisihan.
b. Pengujian rincian atas akun-akun laporan laba rugi
Apabila bukti yang diperoleh dari prosedur analitis dan dari pengujian rincian
atas akun-akun neraca yang berkaitan tidak mengurangi risiko deteksi menjadi lebih
rendah.
Hal ini dapat terjadi pada saat :

Risiko bawaan tinggi. Hal ini terjadi dalam kasus asersi-asersi yang
dipengaruhi oleh transaksi yang tidak rutin dan pertimbangan serta estimasi
manajemen.

Risiko pengendalian tinggi. Keadaan ini dapat terjadi ketika


1.

Pengendalian intern yang berkaitan dengan transaksi rutin dan tidak


rutin tidak efektif atau

2.

Auditor memilih untuk tidak menguji pengendalian intern

Prosedur analitis menentukan adanya fluktuasi hubungan yang tidak bias


dan tidak diharapkan.

Akun memerlukan analisis. Analisis biasanya diperlukan untuk akun-akun


yang
1.

Memebutuhkan pengungkapan khusus dalam laporan laba-rugi,

2.

Beisi informasi yang diperlukan dalam mempersiapkan SPT pajak dan


laporan kepada instansi yang berwenang, seperti SEC (amerika) atau
Bapepam (Indonesia), dan

3.

Mempunyai judul akun yang kemungkinan mengandung kesalahan


klasifikasi dan kekeliruan.

2.

Akun-akun yang ada dalam transaksi pihak yang mempunyai hubungan


istimewa
Auditor harus mengidentifikasi transaksi pihak yang mempunyai hubungan istimewa

dalam perencanaan audit. jenis transaksi ini menjadi perhatian auditor karena transaksi
tersebut tidak dilakukan berdasarkan sikap yang independen dari pihak-pihak yang
bersangkutan. Tujuan auditor dalam mengaudit transaksi pihak yang mempunyai hubugan
istimewa adalah untuk memperoleh bahan bukti berkenaan dengan tujuan, sifat, dan luas
transaksi tersebut dan pengaruhnya terhadap laporan keuangan. SPAP 334.09
menunjukkan bahwa pengujian substantive harus mencakup :
1.

Memperoleh pemahaman tentang tujuan bisnis dari transaksi tersebut

2.

Memeriksa faktur, pelaksanaan persetujuan, kontrak, dan dokumen lain yang


berkaitan

3.

Menentukan apakah transaksi telah disetujui oleh dewan komisaris

4.

Menguji kewajaran kompilasi jumlah yang akan digunakan

5.

Menyusun audit atas saldo akun antarperusahaan yang dilakukan berulang pada
tanggal-tanggal berikutnya

6.

Menginspeksi dan memperoleh kepuasan berkaitan dengan transfer dan nilai


jaminan