Anda di halaman 1dari 88

EVALUASI KONDISI REMBESAN BENDUNGAN URUGAN TANAH

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bendungan harus didesain dan dijaga terhadap terjadinya pengendalian rembesan yang
aman. Jika tidak, bendungan akan mengalami masalah akibat rembesan yang berlebihan.
Rembesan berlebihan mungkin dapat berpengaruh terhadap keamanan bendungannya
sendiri, jika tidak dilakukan tindakan perbaikan yang tepat. Masalah dasar adalah
membedakan bagaimana rembesan berpengaruh terhadap suatu bendungan dan apa
tindakan perbaikannya, bila ada, yang harus dilakukan untuk menjamin bahwa rembesan
tidak membahayakan keamanan bendungan.
Air yang disimpan di dalam suatu waduk akan cenderung mencari jalan keluar (mengalir)
ke bagian hilirnya. Rembesan adalah air waduk yang mencari jalannya melalui material
yang porus atau suatu rekahan baik yang ada di dalam tubuh maupun fondasinya. Gaya
atau tekanan air rembesan dapat menimbulkan alur air baru atau alur eksisting hingga
bendungan rekah. Jadi, pengendalian rembesan adalah merupakan faktor sangat penting
dalam desain, pelaksanaan konstruksi dan O&P bendungan.
Untuk itu, perlu dilakukan inspeksi visual terhadap bendungan dan bangunan
pelengkapnya serta diperiksa mengenai dokumen-dokumen yang ada sebagai petunjuk
awal terhadap kemungkinan terjadinya keruntuhan akibat rembesan. Dokumen dan
informasi lain, misalnya kondisi geologi, spesifikasi konstruksi, dan catatan inspeksi yang
lalu adalah merupakan masukan yang penting. Apabila suatu masalah rembesan telah
teridentifikasi, maka dapat ditentukan penyebab dan tindakan perbaikan yang diperlukan.
Pengelola/pemilik bendungan sebaiknya memahami masalah rembesan dan memastikan
keamanan bendungan dan bangunan fasilitasnya terhadap bahaya rembesan.
Pemantauan juga penting dilakukan dan alat pengendali rembesan siap ada di tempatnya.
Modul ini berisikan mengenai latar belakang informasi terhadap evaluasi dan pemantauan
rembesan serta berbagai model keruntuhan akibat rembesan.
1.2 Sejarah Awal Desain Bendungan
Sebelum abad ke-20, pembangunan bendungan urugan tanah atau batu adalah
merupakan seni tersendiri. Bendungan didesain dengan menggunakan aturan
berdasarkan pengalaman (rule of thumb), intuisi atau perasaan atau dengan pengalaman
masa lalu. Namun, berdasarkan dari peristiwa kegagalan bendungan yang telah terjadi,
sebagian besar disebabkan oleh rembesan yang tidak terkendali.
Bahkan pada abad ke-20, desain bendungan urugan sebagian besar berdasarkan
pengalaman atau pengamatan yang telah lalu. Pada tahun 1936, suatu studi terhadap
kegagalan bendungan urugan tanah menunjukkan bahwa sekitar 80% disebabkan oleh
tidak terkendalinya rembesan yang menelan banyak korban jiwa dan harta. Salah satu

alasan keterlambatan mengenai perkembangan analisis desain untuk bendungan urugan


yang terlambat dibandingkan dengan bendungan beton graviti adalah mekanisme dari
rembesan belum difahami secara rinci, meskipun bendungan beton juga dapat runtuh
akibat rembesan yang menghasilkan tekanan angkat yang tinggi yang mengakibatkan
terjadinya retakan besar. Pengalaman banyak diambil dari gagalnya bendungan di atas
lapisan pasir dan kerikil di India, Timur Tengah dan Afrika.
Setelah dekade tahun 1920-an, desain dan konstruksi bendungan dan pengendalian
rembesan berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Namun,
pengalaman tetap memegang peranan penting; kegagalan bendungan tetap terjadi
sebagai hasil dari kondisi fondasi yang tidak dikenali, yakni :
-

desain yang buruk,


kendali mutu konstruksi yang tidak memadai,
kurangnya pemeliharaan,
krangnya sistem pemantauan.

1.3 Evolusi Cara Pengendalian Rembesan


Sejarah pembangunan bendungan adalah mulai sekitar tahun 3000 S.M di Mesir yang
kemudian dibawa ke Timur Tengah yang berkaitan dengan sungai Efrat dan Tigris. Pada
awlnya bendungan dibangun untuk menyimpan air yang dimanfaatkan sebagai air irigasi
dan air baku manusia dan binatang ternaknya saat musum kering. Bendungan dibangun
dengan menggunakan meterial yang ada di sekitarnya. Bendungan batu dibangun dengan
cara coba-coba dan disadari bahwa bendungan batu menggunakan material yang lebih
ekonomis dibandingkan urugan tanah, supaya lereng tetap stabil akibat bahaya rembesan.
Berdasarkan pengalaman menunjukkan bahwa bendungan urugan tanah dapat dibangun
pada lokasi yang batuan fondasinya tidak dapat menopang beban yang terkonsentrasi.
Pada waktu itu tidak ada pengetahuan formal mengenai cara pengendalian rembesan,
namun pengalaman menunjukkan bahwa bila sebagian bendungan dibangun
menggunakan tanah yang kedap, potensi keberhasilannya tinggi, Jadi, suatu zona kedap
air adalah merupakan metode awal dari pengendalian rembesan yang telah digunakan
sejak itu. Di India dan Srilangka telah disadari bahwa bendungan rendah dengan material
lempung, meskipun kurang kedap, namun tetap berhasil dengan membuat lereng hilir
lebih landai.
Pada kasus lain, para ahli menyadari bahwa suatu inti tanah yang ditopang oleh urugan
batu di hulu dan hilirnya adalah cukup berhasil, bila tanahnya tidak masuk ke dalam poripori lapisan tanah berbutir kasar di lapisan luarnya.
Pada beberapa kasus, suatu zona transisi ditempatkan di antara zona tanah dengan zona
urugan batu berdasarkan konsep pengendalian rembesan melalui zona filter dan cara
pematusan yang baik, mulai dikenalkan.

Gambar 1.1 Penampang melintang bendungan Sadd-el Kafara yang masih primitif
Mulai abad pertengahan, bendungan-bendungan cukup besar mulai dibangun di Eropa;
penampang melintangnya standar, lereng luar cukup curam dan lereng hilir memerlukan
pemeliharaan. Mulai tahun 1715, lapisan kedap air ditempatkan di bagian tengah
dilengkapi dengan zona filter dan transisi pada ke dua sisinya.
Pada awal 1700-an, dengan berkembangnya ilmu statistika, para ahli Perancis memilih
bendungan pasangan batu, sedangkan para ahli Inggris lebih memilih bendungan urugan
tanah. Zona inti yang tipis terbuat dari lempung puddle menjadi trdemark Inggris.

Gambar 1.2 Penampang tipikal bendungan dengan zona inti tipis yang dibangun Inggris
pada abad 19.

Gambar 1.3 Penampang standar timbunan lama dan baru bendungan Harz Mountain dan
bendungan Oder

Bendungan yang dibangun di Amerika awalnya terbuat dari lempung puddle, mengikuti
cara di Inggris. Karena sulit membuat inti yang tipis, desain dirubah dengan menggunakan
inti terbuat dari pasangan batu dan kemudian dinding beton. Inti dari dinding beton ini tidak
selamanya bersifat kedap air, karena banyak yang mengalami retak-retak, namun banyak
juga yang berhasil beroperasi sampai sekarang. Pada era ini, dari pengalamanpengalaman banyak menerbitkan berbagai peraturan-peraturan umum. Salah satu
peraturan menyebutkan bahwa inti harus terdiri dari material kedap air yang terbaik. Bila
perlu, material harus dihampar tipis dan urugan batu harus tahan terhadap pelapukan dari
udara, air dan harus dilengkapi dengan zona transisi. Sampai saat ini kriteria desain
tersebut masih digunakan dengan hasil yang cukup memuaskan.
Pada tahun 1860-an, cara penimbunan higraulis diperkenalkan; material dibawa ke posisi
akhir berbentuk lumpur suspensi (slurry suspension) di dalam air. Pada bendungan,
material yang terendapkan oleh air dikeluarkan melalui pipa yang diletakkan di sepanjang
bahu lereng hulu dan lereng hilir. Material yang lebih kasar akan terendapkan dekat
bagian luar lereng membentuk lapisan luar (shells) dan material yang lebih alus
terendapkan di bagian dalam membentuk zona inti kedap air. Material yang tersedia harus
mempunyai proporsi material kasar dan halus secara tepat ; kontrol yang seksama harus
dilakukan untuk mencapai pengendapan yang tepat. Bagian dalam dari bendungan atau
zona inti mempunyai kuat geser rendah, namun cukup padat.
Bagaimanapun, sistem pembangunan ini mempunyai beberapa kerugian. Bendungan
dengan sistem hidraulis ini dikenal sangat peka terhadap likuifaksi akibat beban seismik,
karena kepadatannya yang rendah. Beberapa kecelakaan-kecelakaan konstruksi terjadi di
mana zona inti yang bersifat semi likuid yang porsinya terlalu besar dibandingkan dengan
zona luarnya, mengalami keruntuhan. Setelah kegagalan bendungan Fort Peck, Amerika
Serikat pada tahun 1938, konstruksi menggunakan metoda hidraulis ini di hentikan.
Namun, metoda ini kadang-kadang masih digunakan di seantero dunia.
Kegagalan beberapa bendungan pada dekade 1700-an dan 1800-an menunjukkan
perlunya pendekatan-pendekatan yang lebih ilmiah dalam desain dan pelaksanaan
konstruksi bendungan. Pada tahun 1856, Henry Darcy, mempublikasikan penelitiannya,
yang menunjukkan betapa pentingnya aliran fluida melalui suatu media yang porous.
Selanjutnya beberapa ahli matematika dan fisik mengembangkan pemahaman yang logis
mengenai rembesan air melalui media tanah dan batu yang porus dan bagaimana cara
melakukan kontrol terhadap rembesan tersebut.
Dengan dikenalkannya prinsip-prinsip dasar mekanika tanah oleh Karl Terzaghi tahun
1925, desain dan pelaksanaan konstruksi bendungan urugan berkembang dengan pesat.
Dengan memahami mekanika tanah, penggunaan zonasi dan material pada konstruksi
bendungan dapat di desain dengan lebih rasional. Pengalaman masa lalu dapat difahami
dan dapat dibuat sebagai pedoman/petunjuk dalam desain masa mendatang. Banyak
desain-desain mengenai penimbunan dan pengaruh dan kontrol rembesan dibuat oleh
perguruan tinggi dan institusi lainnya pada periode 1930 1990, termasuk Bureau of
Reclamation, the U.S. Army Corps of Engineers, and the Natural Resources Conservation
Service, antara lain meliputi :

a) Membuat pedoman-pedoman mengenai lapisan saring (filter) untuk menahan


terbawanya butiran tanah akibat piping dan erosi internal.
b) Mengembangkan sistem drainasi untuk mengendalikan tekanan rembesan, memotong
alur rembesan, dan membatasi debit rembesan yang aman yang keluar dari
bendungan, fondasi dan kedua tumpuan.
c) Mengembangkan metoda-metoda konstrksi parit-parit halang (cutoff).
d) Mengembangkan instrumen-instrumen untuk memantau pengaruh rembesan.
1.4 Cara Praktis Pengendalian Rembesan
Ada tiga cara yang secara praktis digunakan dalam pengendalian rembesan, yaitu :
a) Filter untuk mencegah terbawanya butiran tanah.
b) Pembatasan terhadap debit rembesan.
c) Metoda drainasi untuk mengurangi tekanan rembesan dan mengumpulkannya melalui
konstruk si pembuang yang aman.
d) Kombinasi antara ketiga cara di atas.
Perlu diingat, bahwa pengendalian rembesan yang efektif adalah dengan memperhatikan
kondisi bendungan dan fondasinya. Meskipun desain bendungan telah memperhatikan
hal-hal di atas, beberapa bendungan tetap mengalami kegagalan akibat rembesan, antara
lain bendungan Teton pada 1976 dan Quail Creek Dike pada 1989. Kegagalan-kegalan
tersebut telah memberikan pemahaman-pemahaman baru dalam pengendalian rembesan.
1.5 Pola Kegagalan Akibat Rembesan
Air di dalam waduk selalu mencari jalan keluar melalui alur terlemah; alur tersebut dapat
melalui tubuh bendungan, fondasi atau sekitar tumpuan. Masalah rembesan yang dapat
mengakibatkan terjadinya keruntuhan dapat dikatogorikan sebagai :
a)
b)
c)
d)
e)

Tekanan angkat dan blow out,


Piping,
Erosi internal,
Teruraikannya (solutioning) material batu yang mudah terurai,
Tekanan rembesan berlebihan atau penjenuhan yang menyebabkan terjadinya
pembasahan lereng hilir (sloughing).

1.5.1 Tekanan Angkat Dan Blow Out


Tekanan angkat pada lapisan fondasi yang pervious dapat memacu terjadinya gaya
angkat yang cukup besar pada lapisan fondasi hilir yang tertekan. Tekanan angkat
tersebut terjadi bila lapisan yang lebih porus memindahkan sebagian besar persentasi
tekanan air waduk ke bagian hilir. Keruntuhan dimulai bila tekanan air pori pada bagian
dasar lapisan yang tertekan tersebut lebih besar dari tekanan overburden dari timbunan di
atasnya. Tekanan ke atas tersebut meruntuhkan lapisan tertekan yang dikenal sebagai
blowout.

Apabila Aliran air tersebut cukup kuat membawa butiran tanah, biasanya pasir diendapkan
di sekeliling mata air yang keluar membentuk suatu cincin konus yang dikenal sebagai
suatu didih pasir (sand boil). Apabila terlepasnya butiran pasir terjadi terus menerus akibat
gradient hidraulis yang berlebihan, maka hal tersebut akan mengakibatkan terjadinya
piping yang dapat meruntuhkan struktur. Pola keruntuhan dapat dibagi menjadi beberapa
tipe, yakni:
a) Tipe A adalah kondisi statis dari gradient hidraulis tertentu dan tidak menunjukkan
berkembangnya masalah. Namun, bila gradient hidraulis bertambah tinggi pada
kondisi ekstrim, tipe A ini dapat berkembang menjadi tipe B atau tipe C, tergantung dari
kondisi gradient hidraulis dan kondisi tanah tubuh atau fondasi bendungan.
b) Tipe B adalah terjadi didih pasir yang membawa material yang diawali/dimulai dari
dekat permukaan tanah. Tanah tipe ini mengindikasikan masalah yang lebih serius
yang memerlukan tindak lanjut.
c) Tipe C menunjukkan kondisi kritis, dimana gradient hidraulis yang ada mengakibatkan
terbawanya butiran tanah di bagian lebih bawah yang harus segera ditangani.
Sejumlah pisometer dapat digunakan untuk memantau tekanan angkat pada fondasi
hilir dan dapat mendeteksi kondisi yang tidak aman sebelum terjadi keruntuhan.
Petunjuk awal dari hal tersebut adalah terbawanya material halus dari didih pasir
tersebut atau air yang keluar adalah keruh dan membawa material halus.

Gambar 1.4 Tipe didih pasir (sand boiling)


1.5.2 Piping
Piping terjadi bila air waduk mengalir melalui pori-pori tanah (rembesan) yang
menhasilkan gaya tarik pada butiran tanah yang mengakibatkan terbawanya butiran tanah
pada titik keluaran rembesan di bagian hilir. Gambar di bawah menunjukkan terjadinya
keruntuhan piping akibat gradient hidraulis berlebihan pada kaki bendungan. Secara fisik,
piping tersebut diawali dengan terbentuknya kerucut yang disebut suatu pendidihan (boil)
atau suatu aliran air yang keruh keluar dari lereng hilir. Terbawanya butiran halus tersebut
terus berlangsung ke arah hulu membentuk suatu pipa di dalam tubuh atau fondasi
bendungan.

Gambar 1.5 Proses terjadinya piping


Bentuk lain dari piping adalah terbawanya butiran tanah dari batas zona inti, karena tidak
dilindungi dengan zona filter yang memadai. Hal ini sering terjadi diantara butiran halus
tanah zona inti dan material berbutir kasar di dekatnya. Terbawanya butiran tanah
timbunan ke dalam bukaan fondasi yang tidak diperbaiki adalh juga merupakan bentuk
lain dari piping.
Lima kondisi yang memicu terjadinya piping, adalah :
a) Terbentuknya alur aliran air,
b) Gradien hidraulis pada tempat keluaran telah melebihi dari nilai batas yang tergantung
dari jenis tanahnya,
c) Tempat keluaran dalam kondisi bebas dan tidak dilindungi filter secara memadai,
d) Terdapat tanah yang rawan piping pada alur aliran rembesan,
e) Telah terbentuk pipa atau tanah di atasnya telah membentuk seperti atap untuk
menjaga terbukanya pipa.
Pada keruntuhan piping, terbawanya butiran tanah awalnya terjadi debit rembesan
tertentu pada gradien hidraulis yang melebihi batas tertentu. Alur erosi atau pipa-pipa
tersebut cenderung membesar ke arah hulu yang diikuti peningkatan debit aliran. Hal ini
terjadi, karena gradien hidraulis (h/L) bertambah dan panjang aliran (L) berkurang,
sementara tinggi tekanan air (h) diantara bagian hulu dan hilir tetap sama selama level air
waduk dijaga pada level tetap, tetapi panjang alur aliran berkurang akibat terbawanya
butiran tanah dan pipa telah terbentuk. Jadi, kecepatan aliran akan meningkat secara
progresif sampai telepasnya tekanan hidraulis tersebut. Inilah sebabnya, betapa
pentingnya menghentikan proses piping sesegera mungkin.
Segera setelah pipa terbentuk, proses tersebut berlangsung denga cepat ke arah hulu
sampai mencapai waduk. Pipa dengan cepat membesar dan menggerus tanah didekat

pipa yang membentuk rongga besar yang rawan runtuh. Seluruh proses, mulai
terbentuknya pipa sampai runtuhnya bendungan, dapat terjadi dalam waktu yang relatif
singkat dalam waktu menit atau jam-jaman dibandingkan harian. Piping sering terjadi saat
pengisian pertama atau pada kondisi air tertinggi dari waduk eksisting.
Gambaran fisik yang dapat memperpendek alur aliran antara lain adalah lubang bor yang
tidak ditutup kembali, lubang-lubang lain, lubang akar-akar, lubang buatan binatang, dll.
Keruntuhan akibat piping dapat terjadi pada kecepatan ang berbeda, tergantung dari
gradien hidraulis dan jenis tanahnya, tanah kohesif lebih tahan terhadap erosi. Piping
mungkin telah berlangsung lama, bila bagian-bagian keluran penting, antara lain konduit,
riprap tidak dapat diinspeksi dengan mudah dan tidak terlihat dari luar.
Pada beberapa kasus, rembesan berlangsung secara lambat dan jernih, tetapi alirannya
mungkin meningkat secara gradual dan keruh sampai terjadi keruntuhan. Rembesan yang
terkonsentrasi yang ditandai oleh munculnya mata-mata air di bagian hilir, berpotensi
terjadinya bahaya dan harus dipantau dan dievaluasi secara hati-hati dan seksama.
Piping sering tejadi pada kondisi seperti di bawah :
a) Rembesan melalui lapisan tanah yang rawan tererosi dan tidak dilakukan upaya
pengurangan rembesan untuk mengurangi gradien hidraulis,
b) Tidak adanya filter dan upaya pengurangan tekanan rembesan pada bagian keluaran
untuk mencegah terbawanya butiran tanah,
c) Cara pengurangan rembesan tidak dilakukan dengan benar.
Tanah yang rawan piping adalah berkonsistensi urai, pasir halus bergradasi buruk; juga
berpotensi tinggi untuk piping adalah lanau dan pasir mengandung butiran halus dengan
PI < 6%, seperti pasir campur kerikil urai yang bergradasi baik yang gradasinya lebar dan
mempunyai butiran halus plastisitas rendah. Tanah lempungan dengan PI > 15% cukup
tahan terhadap piping. Meskipun demikian, tanah yang tahan piping kemungkinan rawan
terhadap erosi internal.
1.5.3 Erosi Internal
Keruntuhan akibat erosi internal tampaknya sama dengan keruntuhan akibat piping.
Setelah terjadinya keruntuhan, suatu terowongan pipa terjadi di dalam timbunan atau di
bawah timbunan. Namun, mekanisme piping dan erosi internal adalah berbeda. Pada
kedua kasus, gaya-gaya tarik dari aliran yang mempunyai gradien hidraulis tinggi
membawa butiran tanah. Pada kasus piping, gaya tarik beasal dari aliran air antar butiran
tanah. Sedangkan pada erosi internal, erosi terjadi bila aliran air :
-

di sepanjang retakan atau rekahan di dalam tanah atau batuan dasar (bedrock),
di sepanjang batas antara tanah dan batuan dasar,
di antara tanah dan strutur/bangunan beton atau metal.

Hukum fisik yang mengatur aliran air melalui retakan dan rekahan adalah sangat berbeda
dengan aliran air yang melalui pori-pori material berbutir. Aliran antar butiran pada tanah
granular adalah mengikuti hukum Darcy. Aliran air melalui retakan dan rekahan distudi

10

dengan permeabilitas dan mengikuti hukum hidraulis dari persamaan aliran saluran
terbuka atau aliran di dalam pipa terbuka. Pada kedua kasus, banyak aliran adalah
proporsional dengan gradien hidraulis yang ditunjukkan pada hukum Darcy, namun tetap
berbeda.
Tanah yang tahan piping kemungkinan sangat rawan terhadap erosi internal, contoh yang
jelas adalah tanah jenis dispersif. Jenis tanah ini adalah bersifat sangat kedap air
(impervious), dan tahan terhadap gaya rembesan antar butiran. Jenis tanah ini secara
normal tahan terhadap piping, namun apabila terjadi retakan pada tanah dispersif atau
diantara tanah dengan batuan dasar atau beton, gaya-gaya erosif dari aliran air melalui
atau terjadi disepanjang retakan atau rekahan dapat dengan cepat memperbesar alur alira
air dan mengakibatkan keruntuhan.
Keruntuhan akibat erosi internal sering terjadi pada lokasi dimana terjadi rekah hidraulis
(hydraulic fracturing). Tempat-tempat yang berpotensi terhadap rekah hidraulis adalah
pada tempat yang tidak dipadatkan secara benar di dekat bangunan/pipa outlet atau
perubahan permukaan yang mendadak (tonjolan) dari permukaan fondasi atau lereng atau
pada bidang kontak antara timbunan dengan tumpuan. Perlu pengawasan khusus pada
tempat-tempat tersebut terhadap gejala rakahan atau penurunan yang tidak normal.
Erosi internal juga dapat terjadi, bila terjadi retakan, terpisahnya sambungan atau
kerusakan dari pipa outlet yang tertekan yang mengakibatkan air yang tertekan tersebut
masuk ke dalam timbunan. Sebaliknya, material timbunan yang tererosi dapat masuk ke
dalam konduit yang tak tertekan yang dapat menyebabkan keruntuhan bendungan.
Aliran air melalui bidang kontak antara timbunan dan fondasi atau tumpuan melalui kekarkekar terbuka, rekahan atau kerusakan batuan lain yang sebelumnya tidak diperbaiki
dengan benar kemungkinan dapat memicu terjadinya erosi internal lainnya, contohnya
bendungan Teton. Banyak ahli percaya bahwa erosi internal lebih berbahaya, karena tidak
ada gejala-gejala visual terjadinya keruntuhan.
1.5.4 Solutioning
Masalah yang sering terjadi pada fondasi dan tumpuan adalah pada janis batuan yang
mudah mengalami solution oleh muka air tanah atau rembesan air waduk. Permukaan
batuan tersebut mudah hancur oleh air hujan, juga pada zona di atas muka air tanah oleh
air rembesan/perkolasi dan di bawah muka air tanahnya sendiri. Rembesan pada batuan
tersolusi tersebut dapat menghancurkan material tambahan atau membawa lapisan
pengisi dari alur yang ada yang secara gradual meningkatkan aliran rembesan dan
mempercepat proses penghancuran pada periode waktu tertentu. Erosi internal dapat
terjadi bila rembesan mengalir disepanjang alur dari batuan yang disebabkan oleh
tersolusinya batuan pada tempat dekat timbunan tanah dan fondasi. Aliran tersebut dapat
menggerus tanah didekatnya yang memperbesar alur aliran yang mengakibatkan
terjadinya lubang benam (sink holes) atau gejala keruntuhan lainnya.

11

Mineral seperti gipsum, anhydrate dan halite (rock salt) serta batuan kapur/gamping
(limestone), dapat dihancurkan dengan mudah oleh aliran rembesan waduk. Batu
gamping dihancurkan oleh air tanah dalam waktu lama. Apabila fondasi bendungan
berupa batu gamping, gua-gua atau rongga besar alur aliran air mungkin tidak terdeteksi
selama penyelidikan dan tidak diperbaiki selama konstruksi yang mengakibatkan
timbulnya masalah besar saat pengisian pertama waduk. Fondasi yang terdiri dari batuan
yang mudah hancur harus selalu diperbaiki terlebih dahulu dengan perhatian ekstra.
Sebagai tambahan, gypsum,halite dan beberapa mineral adalah mudah hancur selama
operasi bendungan.
Pada beberapa kasus tanah, terutama pada daerah kering, kemungkinan terdiri dari
sejumlah garam yang dapat menghancurkan batuan. Garam-garam ini dapat mengurangi
kepadatan, volume dan kekuatan batuan.
1.5.5 Tegangan Internal Dan Penjenuhan
Tipe keruntuhan ini disebabkan oleh aliran rembesan yang menyebabkan penjenuhan,
rembesan berlebihan dan tekanan angkat berlebih. Contoh dari keruntuhan yang
disebabkan oleh tekanan rembesan dan penjenuhan, adalah :
a) Kelongsoran lereng tumpuan disebabkan oleh gaya-gaya rembesan ekses atau
tekanan angkat berlebih.
b) Kelongsoran dinding penahan yang disebabkan oleh tekanan hidrostatik, termasuk
keruntuhan akibat guling dan geser.
c) Keruntuhan saluran luncur spillway dan ruang olak akibat tekanan angkat yang tinggi
(blowout).
d) Keruntuhan bendungan beton yang disebabkan oleh tingginya tekanan angkat pada
fondasi dan tumpuan.
Gambar di bawah menunjukkan terjadinya pembasahan lereng akibat rembesan di lereng
hilir. Pada contoh ini muka air freatik meningkat seiring dengan naiknya mka air waduk.
Bagian bendungan di bawah air freatik menjadi jenuh dan lereng hilir yang tidak dilindungi
menjadi basah dan lunak. Gaya-gaya rembesan yang bekerja pada arah aliran air
menambah tidak stabilnya lereng. Ketidak stabilan tersebut memicu terjadinya
kelongsoran lereng. Tipe kelongsoran ini biasanya terjadi pada jenis tanah yang
mengandung sedikit lempung. Peningkatan air freatik dan gaya-gaya rembesan yang
bekerja disepanjang bidang kelongsoran mengurangi tegangan efektif yang bekerja pada
bidang longsor dan mengurangi gaya-gaya penahan. Tingkat stabilitas dari suatu lereng
adalah bervariasi, tergantung dari kekuatan tanah, kemiringan lereng dan gaya-gaya
rembesan (tekanan air pori) yang bekerja pada lereng; lereng yang kering akan lebih stabil
dibandingkan lereng basah.

12

Gambar 1.6 Rembesan melalui timbunan


Pembasahan yang progresif (progressive sloughing) adalh suatu jenis kerusakan sebagai
akibat dari penjenuhan dan gaya-gaya rembesan yang mempengaruhi stabilitas lereng.
Gambar di bawah memperlihatkan pembasahan progresif yang terjadi bila sejumlah kecil
material mulai tererosi/tergerus pada kaki hilir timbunan yang menghasilkan sedikit
penurunan (slump). Hal ini menyisakan permukaan lereng yang lebih curam yang disebut
scarp dan dapat turun lagi membentuk lereng yang sangat curam dan tidak stabil. Hal
tersebut terus berlangsung yang akhirnya mengakibatkan terjadinya keruntuhan lereng.
Jenis keruntuhan ini sering terjadi pada bendungan homogin yang dibuat dari material
halus, atau lanau yang mempunyai plastisitas rendah. Beberapa persamaan pendekatan
telah disediakan untuk menghitung faktor keamanan terhadap keruntuhan akibat
pembasahan tersebut. Persamaan tersebut menggunakan tangen sudut dan sudut geser
dalam dari tanah untuk menghitung faktor keamanan dari lereng jenuh; yang dikenal
sebagai persamaan lereng tak terbatas (infinite slope) dari Lambe, et al, 1968.

13

Gambar 1.7 Keruntuhan akibat pembasahan lereng yang progresif


Dalam bab pendahuluan ini menguraikan pengaruh rembesan terhadap keamanan
bendungan dan berbagai pola keruntuhan yang diakibatkan oleh rembesan yang diringkas
seperti tabel di bawah.
Tabel-1.1 Pengaruh rembesan terhadap keamanan bendungan
POLA KERUNTUHAN

TERJADI BILA .

UPLIFT, HEAVE, ATAU Tekanan rembesan fondasi pada lapisan pervious memicu
BLOWOUT
gaya-gaya pada lapisan yang tertekan. Keruntuhan mulai
terjadi bila tekanan air pori pada dasar lapisan tertekan
melebihi tekanan overburden. Tekanan angkat yang terjadi
meruntuhkan lapisan tertekan tersebut yang dikenal sebagai
blowout yang membentuk didih pasir (sand boiling).
PIPING

Air waduk mengalir melalui pori-pori tanah dan mengakibatkan


terjadinya gaya-gaya tarik pada butiran tanah yang cukup kuat
untuk membawa butiran tanah pada tempat keluaran yang
tidak dilindungi. Terbawanya butiran tanah terjadi secara
progresif kea rah hilir membentuk pipa. Piping juga dapat
terjadi bila tekanan rembesan pada fondasi menghasilkan
tekanan angkat pada lapisan tertekan dari lapisan tanah di
hilirnya yang mempunyai permeabilitas lebih rendah yang
mengakibatkan terjadinya blowout atau heave.

14

EROSI INTERNAL

Gaya-gaya tarik aliran hidraulik menggerus butiran tanah


disepanjang retakan/rekahan dari tanah atau dasar batuan
(bedrock) pada arah melintang bendungan. Erosi juga dapat
terjadi disepanjang bidang kontak antara timbunan dan
bedrock atau antara timbunan dengan struktur beton/metal
bangunan pelengkap.

SOLUTIONING

Air tanah atau rembesan menghancurkan batuan dasar


(soluble bedrock) pada fondasi atau tumpuan.

TEKANAN REMBESAN Rembesan yang tak terkontrol menjenuhkan sebagian dari


DAN PENJENUHAN
bendungan yang menyebabkan terjadinya pembasahan
lereng (sloughing); termasuk tekanan angkat pada struktur
dan runtuhnya dinding penahan tanah.

II. KAJIAN DAN EVALUASI DATA PROYEK

15

2.1 Umum
Untuk melakukan evaluasi rembesan dengan benar, data proyek yang harus dikaji untuk
memperoleh pemahaman yang baik, adalah kita harus mendapatkan data mengenai :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Geologi dam site.


Desain dan pelaksanaan konstruksi.
Material yang digunakan.
Tindakan perbaikan untuk control rembesan yang dilakukan.
Pengaruh rembesan terhadap struktur.
Gambaran fisik bendungan.
Instrumentasi untuk memantau tekanan dan debit rembesan.

2.2 Dokumentasi
Dokumentasi bendungan meliputi banyak bidang yang dapat membantu dalam melakukan
evaluasi kondisi rembesan. Untuk itu, pencatatan dan menjaga dokumentasi dengan baik
adalah hal yang sangat penting, yang meliputi :
a) Hasil penyelidikan lapangan dan laboratorium.
b) Analisis dan laporan desain, spesifikasi dan pelaksanaan kontruksi.
c) Laporan konstruksi, pencatatan (termasuk laporan harian pengawasan), foto-foto dan
gambar purna laksana.
d) Pencatatan O&P.
e) Pencatatan/pembacaan instrumentasi dan grafik-grafik hasil pembacaan.
f) Laporan inspeksi yang telah dilakukan.
g) Laporan khusus lain berkenaan denag kejadian penting yang berpengaruh terhadap
perilakuk bendungan.
Catatan-catatan tersebut harus disimpan dan dapat diakses pada suatu tempat, misalnya
pada file keamanan bendungan. Hal tersebut penting dilakukan untuk mempermudah
evaluasi terhadap rembesan yang berpengaruh terhadap keamanan bendungan. Namun,
sayang, pencatatan desain dan konstruksi serta informasi penting lainnya untuk
bendungan-bendungan lama sulit diperoleh. Pada kasus seperti ini, data dari sumber lain
menjadi sangat penting, antara lain dari foto-foto lama, jurnal, atau wawancara dengan
pengelola atau petugas yang terlibat dalam desain dan pelaksanaan.

2.2.1 Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium


Hasil penyelidikan meliputi, antara lain :
a)
b)
c)
d)

Geologi regional dan geologi dam site, termasuk sifat teknik timbunan dan fondasinya.
Gambaran geologi fondasi, tumpuan dan rim waduk.
Gambaran geologi terhadap bagian-bagian dari bendungan.
Kecukupan data untuk melakukan evaluasi terhadap masalah spesifik yang dihadapi.

16

Evaluasi geologi harus dilakukan oleh geologis yang berpengalaman dan memahami
masalah tanah dan batuan yang menerima berbagai kondisi beban konstruksi dan air
waduk, sehingga dapat mengidentifikasi jenis kerusakan yang terjadi.

2.2.2 Analisis Desain, Spesifikasi dan Pelaksanaan Konstruksi


Analisis Desain, Spesifikasi dan Pelaksanaan Konstruksi meliputi informasi mengenai
desain awal bendungan dan bangunan pelengkapnya dan metode pelaksanaan
konstruksinya, termasuk bila ada modifikasi desainnya. Sehubungan dengan masalah
rembesan, dokumen tersebut digunakan untuk menentukan :
a) Metode apa yang digunakan untuk pengendalian rembesan, baik dalam desain
maupun pelaksanaannya.
b) Bagaimana pengendalian rembesan didesain dan apakah berhasil dengan baik dan
bila ada informasi terbaru, apakah memerlukan kajian kembali.
c) Apakah metode pengendalian rembesan tersebut telah usang (outdated), misalnya,
penggunaan sheetpiles dianggap tidak akan cukup lama sebagai tirai rembesan, perlu
dipelajari perlu tidaknya lini kedua untuk menahan rembesan.
Pemahaman terhadap berbagai cara pengendalian rembesan dan keberhasilannya adalah
sangat penting dalam hal melakukan evaluasi kualitas dan validasi desain awal dan
pelaksanaan yang telah dilakukan.

2.2.3 Laporan Konstruksi, Pencatatan, Foto-Foto dan Gambar Purnalaksana


Analisis desain dan pelaksanaan konstruksi dan spesifikasinya serta modifikasi desain
adalah merupakan informasi penting dalam melakukan evaluasi terhadap rembesan. Hal
tersebut dilakukan untuk menentukan hal-hal sebagai berikut :
a)
b)
c)
d)
e)

Persiapan fondasi dan perbaikannya.


Tempat/bagian fondasi yang grout take-nya besar, bila dilakukan groutng.
Apakah kondisi terbaru masih sesuai dan konsisten dengan desain awal.
Apakah telah dilakukan perubahan desain yang disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Apakah semua zona bendungan telah menggunakan material yang tepat, sesuai
dengan jenis dan gradasinya.
f) Metoda pelaksanaannya, sehingga tidak terjadi kontaminasi pada lapisan filter dan
zona drainasinya.
g) Masalah dan kendala selama pelaksanaan konstruksi dan cara penanganannya.
h) Cara pengendaloan rembesan yang dilakukan dan masalah yang dihadapi serta
penanganannya.
i) Apakah gambar purnalaksana cukup akurat.
Kelengkapan pencatatan berbeda dari setiap site. Pada beberapa kasus, hal tersebut
dapat merupakan petunjuk (clue) terhadap masalah rembesan yang dihadapi yang harus
ditidak lanjuti secara logis. Misalnya, bila kajian kembali menunjukkan kondisi fondasi
yang pervious, periksa pencatatan konstruksi untuk menentukan :

17

a) Apakah teknik pengendalian yang digunakan cukup emadai.


b) Apakah teknik pengendalian rembesan menggunakan sistem yang tidak digunakan
lagi (redundant).
Bila pengendalian rembesan melalui fondasi porous menggunakan metoda yang telah
usang (outdated) dan rembesan telah keluar dari kaki bendungan, kemungkinan metoda
tersebut tidak memadai lagi (gagal).

2.2.4 Pencatatan Operasi dan Pemeliharaan


Pencatatan dokumen meliputi O&P yang sedang berlangsung. Kajian terhadap catatan
O&P terhadap rembesan dan tindakan yang dilakukan untuk memantaunya. Terlampir
adalah daftar simak yang menunjukkan tindakan rutin tipikal. Periksa dan pelajari sejarah
O&P bendungan. Pemeliharaan dan pembersihan terhadap sistem drainasi, sumur
pelepas dan pencatatan lain adalah merupakan informasi penting.

2.2.5 Pencatatan Instrumentasi


Pencatatan desain konstruksi dan O&P akan meliputi pembacaan rembesan, pisometer dll
dilakukan. Kajian terhadap data-data tersebut adalah penting untuk menentukan :
a) Apakah debit rembesan dan tekanan rembesan meningkat atau menurun terhadap
waktu.
b) Apakah parameter rembesan tersebut sesuai dengan fluktuasi muka air waduk dan
kondisi musim hujan/panas.
c) Apakah rembesan yang keluar keruh dan membawa butiran tanah.
Pembacaan instrumentasi harus digrafik pada format yang mudah dievaluasi. Sejarah
pencatatan instrumentasi ini adalah penting untuk menentukan perkembangan masalah
rembesan yang dihadapi.

2.2.6 Laporan Inspeksi yang Telah Dilakukan


Kajian terhadap laporan inspeksi dilakukan untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang
berpotensi rembes saat inspeksi visual dan juga untuk menentukan telah dibuat
rekomendasi untuk mengatasi masalah rembesan. Laporan inspeksi yang lalu harus
berisikan foto-foto daerah rembesan, gambar-gambar, atau gambar/foto lokasi titik-titik
rembesan yang ada pada bendungan. Informasi lain, antara lain debit embesan,
kekeruhannya, dan level muka air waduk harus dicatat yang nantinya sanagt penting
sebagai petunjuk dan kondisi dari rembesan.

2.3 Data Yang Berkaitan Dengan Inspeksi Visual

18

Karena kondisi rembesan yang sangat berbeda dari setiap proyek, disamping sulit
memprediksi rembesan saat desain, inspeksi secara rutin setelah bendungan selesai
harus dilakukan. Dengan dilengkapi dengan informasi yang diperoleh dari hasil kajian
terhadap encatatan rembesan dan dengan pengetahuan yang cukup terhadap batasan
desain dan teknik pelaksanaan perbaikan kontrol rembesan, inspeksi dapat dilakukan
secara seksama. Misalnya, bila memahami pelaksanaan pemadatan tanah pada bidang
kontak antara timbunan dengan tumpuan atau struktur beton adalah sulit dilakukan, maka
inspeksi pada daerah ini harusdilakukan dengan seksama dan memerlukan perhatian
khusus.
Bila suatu timbunan zonasi dilengkapi dengan filter vertikal dan horisontal, gunakan
sejarah pencatatan data pengukuran aliran untuk menentukan kerusakan yang terjadi atau
bila sistem drainasi tersumbat. Pada bendungan urugan tanah homogin, amati adanya
pembasahan lereng atau wetspot atau gerusan lereng hilir.
Masalah rembesan yang berpotensi bahaya mungkin tidak terlihat secara kasat mata
selama inspeksi, misalnya rembesan air waduk melalui batuan yang mudah terlarut
(soluble rock) atau rembesan di sepanjang tumpuan yang terdiri dari rekahan batu yang
tidak diperbaiki/dibuang saat konstruksi yang dapat mengakibatkan terjadinya erosi
internal yang tidak terdeteksi. Pada masa lalu, zona rock toe digunakan sebagai salah
satu cara pengendalian rembesan atau sebagai perlindungan lereng air buri (tail water).
Piping dan erosi internal dapat terjadi di bawah atau melalui suatu zona tanpa terlihat.
Dengan melakukan kajian terhadap data/catatan rembesan dapat menjadi salah satu
petunjuk adanya potensi bahaya rembesan tanpa melakukan investigasi langsung.

2.4 Kajian Dan Evaluasi Data Perbaikan Pengendalian Rembesan


Kajian terhadap desain perlu dilakukan untuk memahami metoda yang digunakan untuk
mengendalikan rembesan dan kaitannya dengan bendungan dan bangunan
pelengkapnya. Perbaikan pengendalian rembesan tersebut meliputi :
a)
b)
c)
d)
e)

Zona filter dan transisi,


Metoda pengurangan rembesan,
Metoda drainasi,
Metoda drainase pada bendungan beton.
Metoda drainase struktural pada bangunan pelengkap.

Untuk mengetahui lebih detail dapat diuraikan seperti dibawah ini.

2.4.1 Zona Filter Dan Transisi


Lapisan filter digunakan untuk melindungi terbawanya antar butiran terhadap rembesan
melalui tubuh dan fondasi bendungan, dan pada waktu bersamaan membiarkan air
rembesan keluar tanpa menimbulkan terjadina tekanan air pori berlebih (excessive pore
water pressures). Lapisan filter tersebut didesain tersendiri atau drain tersebut juga
didesain sebagai penyaring dan sekaligus untuk drainasi. Gradasi tanah timbunan dan

19

debit rembesan yang harus diantisipasi akan menentukan suatu desain filter yang
diperlukan. Konsep dasar dari fungsu filter sebagai pelindung terbawanya butiran tana
digambarkan seperti di bawah.

Gambar 2.1 Lapisan filter sebagai pelindung terhadap piping


Lapisan filter tidak hanya digunakan untuk piping, tetapi juga untuk mengatasi masalah
erosi internal. Untuk itu, air yang keluar adalah merupakan faktor sekunder untuk
menyaring butiran tanah melalui retakan-retakan atau yang terjadi di sepanjang bidang
kontak bangunan struktur bangunan pelengkap dan timbunan atau fondasi.
Konsep dasar desain filter, adalah :
a) Persyaratan untuk piping dan erosi internal; pori-pori suatu filter atau drainasi yang
terletak dekat dengan material yang mudah tererosi, harus cukup kecil untuk
mencegah butiran tanah lapisan yang dilindungi supaya tidak tebawa.
b) Persyaratan permeabilitas; pori-pori filter atau drainasi harus cukup besar untuk
mengalirkan aliran air dengan bebas tanpa menimbulkan terjadinya tekanan air pori
berlebih. Untuk filter sebagai pelindung terhadap erosi internal, sejumlah rembesan
minimum harus dipenuhi, karena lapisan filter akan membentuk suatu lapisan pengisi
ke dalam retakan yang terjadi.
Apabila range gradasi tanah yang dilindungi terlalu besar, maka diperlukan lebih dari satu
lapisan filter/drain. Pelaksanaan konstruksi di lapangan memerlukan perhatian dan kehatihatian yang seksama untuk mencegah tercampurnya material atau terjadinya pemisahan
(segregasi). Pencatatan dan foto-foto selama pelaksanaan harus diperiksa dengan teliti
untuk memastikan bahwa lapisan filter dan drainasi telah dilaksanakan dengan merata

20

dan sesuai dengan ukuran dimensi yang benar, karena butiran tanah dapat hancur selama
pemadatan. Gradasi filter dan drainasi harus diperiksa dan diuji apakah memenuhi
spesifikasinya.
Lapisan filter yang didesain dan dikonstruksi dengan benar akan dapat menangkap
rembesan dari suatu timbunan. Air rembesan tersebut akan dapat mengalir dengan bebas
menuju suatu keluaran yang aman pada kaki hilir timbunan tanpa membawa butiran
tanah, seperti gambar di bawah. Bila rembesan melalui retakan, retakan tersebut harus
berakhir di permukaan filter dan hanya aliran rembesan melalui antar butiran tanah yang
dipertimbangkan dalam desain. Bila suatu gradasi filter memenuhi kriteria dasar, piping
tidak akan terjadi, meskipun gradien hidraulisnya besar. Asumsinya adalah lapisan filter
harus cukup lebar, sehingga retakan tidak dapat berkembang lebih lanjut serta mempunyai
kapasitas yang cukup untuk mengalirkan aliran rembesan tanpa menimbulkan terjadinya
tekanan air pori berlebih.

Gambar 2.2 Lapisan filter yang dapat menangkap air rembesan dengan baik
Lapisan filter juga dapat menurunkan muka air freatik yang memotong lereng, sehingga
dapat mengurangi potensi kerusakan akibat pembasahan lereng (sloughing) dan
kelongsoran lereng hilir.
Kriteria yang harus dipenuhi dalam kajian desain dan konstruksi filter, adalah :
a) Telah memenui spesifikasi dan mengikuti prosedur desain,
b) Gradasi filter yang digunakan telah mengikuti kurva gradasi desain,
c) Lapisan filter telah dibuat mengikuti metoda pelaksanaan konstruksi, antara lain tidak
terjadi segragasi, maksimum butiran dan pemadatannya memenuhi spesifikasinya.
d) Tidak menggunakan kadar air berlebihan yang dapat terjadinya penggumpalan.
Penjenuhan atau penggunaan material yang kering mungkin dapat meminimalkan
masalah tersebut.
e) Perlu perhatian terhadap kemungkinan terjadinya kontaminasi material lempung, lalu
lintas kendaraan, pembasahan lereng, dll. Perlu didokumentasikan bahwa
pelaksanaan filter telah memenuhi spesifikasina.
f) Lebar dan ketebalan lapisan filter selama konstruksi dikontrol dengan benar, konsisten
sesuai dengan spesifikasinya.

21

g) Perhatian khusus terhadap pemadatan material, khususnya pada bidang kontak


dengan bangunan pelengkap.
h) Lapisan filter telah dilaksanakan dengan hati-hati dan telah dilakukan inspeksi .

2.4.2 Metoda Pengurangan / Pengendalian Rembesan


Cara pengurangan rembesan dalam metoda ini adalah mengenai :
a) Material yang relatif kedap air yang dapat menangkap alur aliran rembesan dan
menurunkan tekanan akibat aliran rembesan yang berlebihan. Contohnya, adalah
zona tipis lereng hulu kedap air, zona inti kedap air, parit halang yang dipadatkan,
selimut lempung hulu, dan lain-lain.
b) Konstruksi bendungan urugan dengan lereng yang sangat landai, untuk
memperpanjang aliran rembesan dan mengurangi gradien hidraulik pada keluaran.
c) Perbaikan pengurang bahaya rembesan lain, misalnya dinding halag, grouting, dan
lain-lain.
Metoda pengendalian rembesan tidak menghilangkan perlunya filter dan drainasi, karena
pengurangan rembesan sendiri mungkin hanya sebagian yang berhasil dengan efektif
untuk mengatasi masalah piping dan erosi internal.
Metoda pengendalian rembesan adalah sangat penting dalam desain bendungan urugan
dan bendungan beton graviti.

Keterangan :
A - Impervious Core
B - Upstream Impervious Blanket
E - Compacted Impervious Cutoff Trench

C - Slurry Trench Cutoff


D - Grout Curtain

Gambar 2.3 Beberapa cara perbaikan pengendalian rembesan

1. Metoda Pengendalian Rembesan Timbunan

22

Metoda ini digunakan untuk mengurangi tinggi tekanan air waduk yang merembes melalui
timbunan. Beberapa cara tersebut adalah seperti di bawah :
a.
b.
c.
d.

e.

Konstruksi bendungan tanah homogin dengan kemiringan yang relative sangat


landai,
Konstruksi zona inti kedap yang miring ke arah hulu,
Konstruksi bendungan dengan zona inti sentral di tengah,
Konstruksi dinding inti terbuat dari beton atau tanah bentonit yang plastis,
Memasang kupingan drainase filter (filter drain collars) sekeliling konduit
(pemasangan kupingan ganda tidak direkomendasikan lagi; karena pemadatan
disekelilingnya yang sulit).

a. Kemiringan Lereng Sangat Landai


Dengan cara ini gradien hidraulik dan kecepatan rembesan apat dikurangi. Penampang
melintang yang lebar dapat mengurangi tekanan air waduk lebih baik, karena air harus
melalui alur yang lebih panjang. Kemiringan lereng yang sangat landai tersebut juga lebih
tahan terhadap masalah keruntuhan akibat pembasahan (sloughing). Meskipun relatif
lebih mahal, cara ini cocok untuk timbunan di atas tanah lunak untuk memperoleh
penampang yang aman ditinjau dari aspek stabilitas lerengna.

Gambar 2.4 Penampang bendungan dengan kemiringan lereng landai

b. Zona Inti Miring Ke Arah Hulu


Untuk bendungan yang didesain dengan cara ini, tekanan air waduk didisipasi akibat friksi
aliran air melalui zona inti yang miring, kemudian air akan mengalir ke bawah dan
mengalir disepanjang fondasi dengan gradien keluaran yang aman. Bila koefisien
permeabilitas dari zona inti tersebut sangat rendah dibandingkan dengan permeabilitas
zona didekatnya, bagian hilir dari bendungan akan bebas dari pengaruh rembesan.

23

Gambar 2.5 Bendungan dengan zona inti miring ke arah hulu


c. Bendungan dengan Zona Inti Kedap Air
Saat ini, banyak bendungan dibuat dengan menggunakan zona inti kedap air dengan
sebanyak mungkin memanfaatkan material yang terdekat dan tersedia di lapangan,
dengan tetap mempertimbangkan masalah rembesan dan stabilitas lerengnya. Untuk
memperoleh pengendalian rembesan dan stabilitas yang paling efektif, gradasi material
permeabilitas umumnya dari bertambah dari inti ke zona luar (dari material halus, berbutir
kasar hingga urugan batu). Batas antara zona inti dengan zona luar harus dilengkapi
dengan lapisan filter/transisi untuk mencegah terbawanya material serta dari fondasi ke
zona di hilirnya. Persyaratan ini sangat penting untuk di bagian hilir dibandingkan bagian
hulunya.
Tujuan dari penggunaan zona inti ini adalah untuk meminimalkan rembesan yang melalui
timbunan dan mengurangi tinggi tekanan air akibat kehilangan tekanan akibat friksi. Sifat
teknik tanah harus dievaluasi antara lain adalah permeabilitas, kuat geser, ketahanan
terhadap erosi, dan ketahanan terhadap retakan. Material tanah yang mempunyai
koefisien permeabilitas rendah diperlukan untuk menjaga kehilangan air waduk. Sifat
ketahanan terhadap eroso sangat penting sebagai kriteria potensi bahaya erosi internal,
disamping ketahanan terhadap retakan. Zona inti harus cukup lebar
Ketahanan terhadap retakan juga penting untuk untuk mengurangi gradien hidraulik.
Aturan umum yang sering digunakan adalah lebar dasar zona inti paling tidak sama
dengan seperempat tinggi tekanan air. Bagian atas inti harus berada pada elevasi lebih
atas dari muka air banjir maksimum dan mempunyai lebar minimum 3,5 m untuk
pergerakan peralatan berat yang beroperasi.

24

ZONE DESCRIPTION

1 Core
2 Filter or Drain
3 Transition
4 Fill
5 Shell
6 Upstream Transition (gravel or riprap)
7 Upstream Slope Protection (typically riprap)
8 Downstream Slope Protection
Gambar 2.6 Bendungan tipe zonasi

d. Bendungan dengan Inti Dinding Beton


Banyak bendungan dibangun dengan menggunakan inti yang terbuat dari dinding beton
yang di cor di tempat. Meskipun dinding beton tersebut dapat mengurangi rembesan,
namun dinding beton tersebut mudah mengalami keretakan.

Gambar 2.7 Dinding inti beton sebagai pengendalian rembesan

25

Timbunan biasanya terbuat dari material yang bergradasi baik yang diperoleh dari lokasi
yang dekat dengan timbunan. Metode praktis yang lebih modern adalah dengan
menggunakan teknik paritan slurry untuk membuat dinding inti beton sebagai perbaikan
fondasi dari timbunan eksisting. Teknik ini juga digunakan untukmembuat dinding bentonittanah atau bentonit-semen sebagai teknik pengendalian rembesan, seperti gambargambar di bawah yang juga dapat digunakan pada bendungan urugan eksisting.

e. Kupingan Anti-Rembesan Disekeliling Konduit


Cara ini banyak digunakan sebagai suatu cara untuk mengurangi masalah rembesan pada
konduit yang ditanam di urugan tanah yang secara teoritis untuk memperpanjang aliran air
dari waduk melalui bidang kontaknya, disamping mengurangi gradien hidraulik dibagian
kaki pengeluarannya Namun, cara ini dianggap kurang efektif, dan pada dekade tahun
1980-an, cara ini telah ditinggalkan, dengan alasan kesulitan untuk memadatkan di
bagian sempit kupingan serta kontribuasinya terhadap perbedaan penurunan. Cara ini
juga terbukti tidak berhasil untuk mengurangi keruntuhan akibat erosi internal. Namun,
sebagian ahli tetap merekomendasikan untuk membuat kupingan pencegah rembesan,
minimal 1 buah sebagai penahan rembesan akibat penetrasi akar pohon atau ronggarongga binatang. Saat ini, metoda pengendalian rembesan (piping dan erosi internal) yang
direkomendasikan untuk konduit adalah dengan memasang suatu diafragma penyaring
(filter) di sekeliling konduit.

2. Metoda Pengendalian Rembesan Pada Fondasi Dan Tumpuan


Metoda pengendalian rembesan melalui fondasi dan tumpuan ini, adalah meliputi :
a.
b.
c.
d.
e.

Paritan (cutoff);
Paritan sebagian (partial cutoff);
Selimut kedap hulu (upstream impervious blanket),
Berm rembesan hilir (downstream seepage berm),
Grouting.

a. Paritan
Paritan didesain untuk memperpanjang aliran rembesan, mengurangi tekanan air waduk
untuk mengurangi gradient hidraulik hingga ke level yang aman, dan mengurangi debit
rembesan. Suatu paritan adalah kelanjutan dari zona inti dari suatu bendungan. Suatu
paritan penuh (fully positive cutoff) dibuat sampai kedalaman mencapai suatu lapisan
tanah atau batuan dasar yang kedap air. Apabila lapisan kedap air tersebut terlalu dalam,
suatu paritan sebagian dapat dibuat yang didesain cukup untuk memperpanjang aliran
rembesan dan mengurangi gradient hidraulis sampai pada level yang aman. Paritan
tersebut biasanya dibuat di bawah dari zona inti bendungan. Di bawah adalah beberapa
jenis paritan, yaitu :
a) Paritan kedap dari material tanah yang dipadatkan,
b) Paritan slurry (dinding halang bentonit-tanah atau bentonit-semen),

26

c) Dinding halang beton,


d) Turap baja tipis (sheet piles).

1). Paritan Halang Tanah Yang Dipadatkan


Cara efektif untuk mengendalikan rembesan adalah menggali suatu paritan sampai
mencapai lapisan kedap air di bawah zona inti dari suatu bendungan urugan tanah dan
mengisinya kembali dengan menggunakan material tanah yang dipadatkan. Dengan cara
tersebut pendesain dapat melihat secara langsung kondisi actual perlapisan tanah fondasi
dan melakukan beberapa modifikasi, bila diperlukan. Metoda ini adalah merupakan satusatunya cara yang menguntungkan. Lebar dasar galian harus cukup untuk operasi alatalat berat, peralatan dewatering, aktifitas grouting, dan lain sebagainya.

Gambar 2.8 Paritan Penuh (Positif)


Paritan halang dapat dibuat sampai mencapai kedalaman yang siknifikan. Kesulitan
utaman dalam pembuatan paritan yang cukup dalam adalah cara pengeringan
(dewatering) dan biaya yang cukup besar. Muka air tanah harus dijaga pada level yang
aman sampai paritan diisi kembali.

2). Paritan Slurry (Dinding Halang Bentonit-Tanah atau Bentonit-Semen)


Cara ini digunakan sebagai cara alternative, karena cara penggalian paritan yang mahal.
Metoda ini dalakukan dengan cara menggali lapisan yang porous dengan menggunakan
campuran tanah-bentonit sodium dalam bentuk cairan slurry untuk menahan dinding
paritan yang vertikal. Paritan tersebut kemudian diisi kembali dengan tanah yan
mengandung butiran cukup halus dan kasar untuk mendesak slurry dan membuat paritan
bersifat relative kedap air, yang juga membatasi terjadinya penurunan. Sebagai alternative

27

dapat digunakan slurry dari campuran bentonit-semen yang membentuk suatu dinding
haling yang kedap air.
Umumnya, dinding halang bentonit-tanah adalah merupakan cara yang paling ekonomis,
bila material pengisi mudah diperoleh. Untuk paritan dalam yang dindingnya mudah runtuh
saat penggalian, penggunaan bentonit-semen mungkin lebih sesuai.
Gambar di bawah adalah menunjukkan prsedur konstruksi untuk parit haling terbuat dari
bentonit-tanah dan bentonit-semen. Paritan dari bentonit-tanah adalah merupakan suatu
operasi penggalian dan pengisian yang dilaksanakan secara terus menerus, sedangkan
bentonit-semen dilaksanakan dengan menggunakan suatu seri panel-panel yang terpisah.
Panel utama digunakan terlebih dahulu yang kemudian dihubungkan dengan panel
sekunder.

Gambar 2.9 Prosedur tipikal pelaksanaan konstruksi bentonit-tanah (atas) dan


pelaksanaan konstruksi bentonit-semen (bawah)

28

3). Dinding Halang Beton


Suatu dinding halang beton mungkin dapat merupakan suatu cara pengendalian
rembesan yang efektif, bila ketebalan lapisan fondasi yang pervious melebihi dari
kemampuan alat untuk mengali suatu paritan slurry (25 m 30 m). Cara tersebut juga
cocok digunakan untuk lapisan fondasi yang terdiri dari kerakal, batu bongkah, atau
batuan yang banyak mengandung rekah-rekah dan mudah larut yang bersifat porous.
Dengan menggunakan cara ini, dinding beton menerus di cor ditempat melalui tremmie
dalam suatu campuran slurry bentonit. Gambar di bawah secara umum menjelaskan
langkah-langkah dalam pelaksanaan konstruksi dinding halang beton. Metoda yang
berbeda dapat digunakan dalam penggalian paritan, tetapi tahap-tahap pelaksanaan
konstruksinya hampir sama. Pelaksanaan konstruksi dinding halang ini memerlukan
pengalaman, pengetahuan, peralatan dan kemampuan pekerja dan teknisi untuk
mencapai hasil yang memuaskan. Hal kritis yang perlu diperhatikan adalah dalam hal
membuat sambungan yang kedap air (seal) antar setiap panel untuk memastikan dinding
kedap yang menerus dan semua panel pada kondisi menerus disepanjang kedalamannya.

Gambar 2.10 Tahapan pelaksanaan konstruksi dinding halang beton

4). Turap Baja Tipis


Turap baja tipis (sheet piles) adalah merupakan statu cara penehan rembesan yang
banyak digunakan pada masa lalu. Namun, cara ini terbukti kurang efektif sebagai suatu
cara penan yang permanen; turap baja tipis ini dapat rusak selama pemancangan, sobek,
pemisahan dan lain sebagainya.
Turap baja tipis ini sering digunakan yang ada hubungannya dengan struktur beton
pengelak sungai untuk membatasi tanah fondasi dan melindungi terhadap piping. Turap
tipis ini biasanya terbuat dari baja atau beton.

29

b. Paritan Sebagian
Suatu paritan sebagian (partially cutoff) tidak sepenuhnya dimasukkan sampai ke lapisan
kedap air. Paritan sebagian ini mempaepanjang aliran rembesan dan juga mengurangi
gradient hidraulik keluaran di kaki hilir, namun tidak begitu efisien untuk mengurangi debit
rembesan. Di lapangan, dimana koefisien permeabilitas arah vertical dan horizontal
hampir sama, paritan sebagian tersebut hanya sedikit pengaruhnya terhadap debit
rembesan, meskipun dimasukkan sampai 90% kedalaman lapisan porous. Sebagian
besar tanah mempunyai lapisan pada arah horizontal dan koefisien permeabilitas arah
horizontal lebih besar dibandingakan arah vertical, jadi paritan sebagian akan lebih efektif
untuk jenis lapisan fondasi seperti ini. Paritan sebagian akan lebih efektif jika dimasukkan
ke dalam lapisan tanah yang mempunyai koefisien permeabilitas arah vertical yang lebih
rendah.
Paritan sebagian mungkin tidak efektif untuk mengurangi debit embesan, bila lapisan
tanah fondasi homogin dan mempunyai koefisien permeabilitas yang sama pada arah
horisontal dan vertikal. Dari gambar tesebut, suatu parit yang dimasukkan sampai 75%
kedalaman lapisan porous hanya dapat mengurangi 30% dan mengurangi gradient
hidraulik keluaran sebanyak 40%. Bendungan di atas fondasi tanah harus mempunyai
paling tidak paritan sebagian yang dangkal sekitar 1,5 m 3,0 m yang diisi kembali
dengan tanah lempungan yang dipadatkan, untuk membuang top soil, kerakal, rekahan
batuan, alur permukaan, retakan desikasi, lubang binatang, akar-akaran, dan lain lainnya.

c. Selimut Kedap Hulu


Selimut kedap hulu yang menyambung dengan zona inti digunakan untuk memperpanjang
aliran rembesan guna mengurangi rembesan. Cara ini digunakan, bila cara paritan vertical
terlalu mahal. Netoda pengendali hilir, seperti drainase, juga digunakan bersama-sama
selimut kedap hulu ini, untuk mengurangi pengaruh tekanan angkat dan piping. Efesiensi
dari selimut kedap hulu ini tergantung dai panjang, ketebalan dan koefisien permeabilitas
arah vertikal serta perlapisan dan permeabilitas dari material fondasinya. Selimut kedap
hulu ini dapat rusak, bila terjadi retakan pada selimut akibat penurunan fondasi atau akibat
kekeringan pada kondisi air waduk surut. Masalah lain adalah terjadinya lubang-lubang
(pipa) di dalam fondasi, bila selimut diletakkan di atas kerakal atau rekahan batu tanpa
dilengkapi filter. Bila muka air waduk berfluktuasi, di atas dan di bawah daerah selimut
kedap ini, selimut harus dilindungi terhadap gelompang dan erosi hujan, pengeringan, dan
tumbuhan yang mempunyai akar dalam.

30

Gambar 2.11 Selimut kedap hulu

d. Berm Hilir
Untuk mengimbangi tekanan angkat berlebihan melalui lapisan fondasi yang porous di
kaki hilir bendungan, dapat menggunakan suatu berm hilir. Berm hilir tersebut terbuat dari
material yang porous, supaya dapat memperpanjang aliran rembesan. Hal tersebut dapat
mengurangi gradient hidraulik keluaran dan debit rembesan. Pada kasus lain, berm yang
pervious juga dapat berfungsi sebagai filter; bila demikian berm tersebut lebih berfungsi
sebagai drainase dibandingkan pengendali tekanan angkat. Untuk itu, desain dan
konstruksi berm harus mempertimbangkan jenis material yang tersedia dan biaya yang
ada.

Gambar 2.12 Berm rembesan hilir

e. Grouting
Beberapa jenis grouting yang digunakan sebagai pengendali rembesan, antara lain adalah
grouting selimut/dental, tirai, konsolidasi, dll (Weaver, 1991). Gouting pada fondasi
dilakukan untuk mengurangi:
a) Tekanan ke atas (uplift) di bawah fondasi, hilir dari grouting.
b) Kemungkinan terbawanya butiran tanah timbunan ke dalam fondasi.
c) Terbawanya butiran tanah timbunan melalui fondasi masuk kebali me timbunan.
d) Piping butiran tanah dari kekar-kekar dan sisipan dari batuan.
e) Terbawanya material dari batuan yang hancur (soluble rock).
f) Erosi internal pada bidang kontak antara timbunan dengan fondasi (bed rock).

31

Grouting tirai sering dilaksanakan pada batuan, namun juga dapat dilakukan pada lapisan
pasir dan kerakal. Pada dasarnya, lubang-lubang bor dibuat terlebih dahulu dalam suatu
garis atau pola grid. Lubang-lubang tersebut dibersihkan terlebih dahulu dan kemudian,
tergantung dari ukuran rongga-rongga material yang digrouting, dipompakan suatu semen
atau grout kimia pada tekanan tertentu ke dalam lubang. Bila grouting dilakukan pada
batuan, material grout harus dapat mengisi retakan, rekahan, dan bukaan bukaan lain
sampai material disekeliling lubang menjadi cukup kedap air. Bila groutng dilakukan pada
lapisan pasir kasar dan kerakal, suatu campuran tipis semen atau material grout kimia
digunakan untuk mengisi rongga-rongga diantara partikel. Pada lapisan pasir halus,
material grout mendesak pasir tersebut dan memadatkannya yang akhirnya membentuk
suatu struktur penahan rembesan.
Permeabilitas zona yang telah digrouting harus relatif rendah, supaya grouting efektif,
karena pengurangan permeabilitas yang diinginkan mungkin tidak dapat tercapai;
beberapa cara drainase biasanya dilakukan sehubungan dengan grouting untuk keperluan
pengendalian rembesan.
Grouting selimut dilakukan pada daerah galian fondasi yang luas bila permukaan
batuannya banyak kekar dan rekah. Cara ini digunakan untuk menutup (seal) lapisan atas
dari kedalaman sekitar 3 10 m untuk eminimalkan terbawanya butiran tanah halus dari
zona inti masuk ke dalam bukaan-bukaan fondasi, menutup permukaan batuan terhadap
hilangnya material grout saat diberikan tekanan tinggi dan untuk mengurangi
kompresibilitas dari batu yang banyak rekah. Grouting dental dapat juga digunakan
sebagai perbaikan kelemehan-kelemahan bagian fondasi. Grouting tirai dilakukan untuk
mengurangi aliran rembesan yang dalam yang melalui fondasi dan tumpuan. Gambar di
bawah menjelaskan bagaimana grouting mengisi pori/rongga di dalam fondasi dan
berfungsi sebagai penahan rembesan.

Gambar 2.13 Grouting tirai sebagai perbaikan fondasi bendungan

32

2.4.3 Metoda Drainase


Metoda ini dilakukan pada suatu timbunan/bendungan tanah yang meliputi :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Zona luar yang pervious,


Drainase horisontal,
Drainase cerobong (chimney),
Diafragma filter sekeliling conduit,
Drainase kaki,
Sumur-sumur pelepas.

Zona filter yang didesain dengan benar dan tepat dapat membantu pengendalian
rembesan dan mengurangi potensi terhadap piping dan erosi internal material zona inti.
Drainase juga membentuk suatu zona yang bersifat lulus air pada fondasi bendungan.
Drainase harus mampu mengalirkan debit rembesan yang diantisipasi tanpa menimbulkan
tekanan yang berlebihan. Zona filter harus mampu menyaring butiran tanah dari retak
terbuka atau zona inti dan mencegah terbawanya butiran tanah ke dalam drainase.
Karena debit rembesan sulit diprediksi dan drainase kemungkinan tersumbat, maka
kapasitas drainase paling tidak harus lebih besar 2 orde dari debit rembesan yang
diantisipasi. Metoda drainase untuk bendungan beton, antara lain meliputi :
a) Galeri,
b) Drainase lateral ke dalam tumpuan,
c) Sumur-sumur pelepas.
Desain drainase yang benar pada fondasi dan tumpuan bendungan beton dapat
mengurangi potensi gerusan (undermining), meningkatkan stabilitas bendungan,
mengurangi tekanan angkat dan mencegah keruntuhan tumpuan. Sistem drainase
tersebut bervariasi, tergantung dari sifat teknis batuan fondasinya. Sistem drainase untuk
struktur dinding penahan, lantai depan (apron) dan dinding powerhouse, meliputi antara
lain :
a) Drainase vertikal,lubang pematus (weep holes), dan drainase kaki,
b) Drainase geosintetis,
c) Sistem sub-drain.

a. Zona Luar Pervious


Pada beberapa tempat, debit rembesan dari dua material yang berbeda dengan
perbedaan permeabilitas yang siknifikan cukup tersedia di lapangan sebagai material
urugan. Pada beberapa kasus, material yang porous ditempatkan pada bagian hulu dan
hilir dari material yang lebih rendah permeabilitasnya. Suatu zona transisi atau filter
biasanya ditempatkan di antara zona inti dan zona luar untuk mencegah terjadinya piping
dan erosi internal. Beberapa bendungan yang jarang surut, tidak memerlukan zona filter
hulu. Zona luar bagian hulu terdiri dari urugan pasir, kerikil, kerakal, dan batu yang

33

mempunyai permeabilitas lebih besar dari zona inti. Bila material zona luar mempunyai
gradasi yang berbeda dengan zona inti, diperlukan zona filter/transisi ganda. Pada
beberapa kasus, muka air freatik akan cukup rendah di bagian hilir dan tidak banyak
mempengaruhi stabilitas di bagian lereng hilirnya.

Gambar 2.14 Zona luar dan transisi dari bendungan urugan


b. Drainase Horisontal
Drainase horisontal atau selimut dapat digunakan untuk mengendalikan rembesan
melalui timbunan homogin atau untuk mencegah terjadinya tekanan angkat yang
berlebihan dari rembesan yang melalui fondasi. Lazimnya, drainase horisontal digunakan
untuk mencegah rembesan yang timbul di lereng hilir dari bendungan homogin. Meskipun
demikian, drainase horisontal kurang efektif untuk menurunkan muka air freatik pada
timbunan yang berlapis-lapis secara horisontal. Untuk itu, drainase horisontal harus
dievaluasi secara hati-hati, bila tujuannya untuk menurunkan muka air freatik. Drainase
horisontal tersebut dapat mengurangi tekanan angkat secara siknifikan pada fondasi di
bagian hilir, namun, juga dapat meningkatkan debit rembesan yang mengalir di bawah
bendungan.
Drainase horisontal akan efektif, bila rembesan melalui kekar-kekar batuan atau rekahrekah batuan atau lapisan tanah fondasi yang homogin dan pervious. Daerah bidang
kontak yang luas dari drainase selimut akan lebih efektif dibandingkan dengan daerah
yang lebih sempit. Drainase horisontal juga akan lebih efektif pada daerah bangunan
pengeluaran (outlet) yang mempunyai lapisan fondasi yang pervious dan homogin.
Meskipun demikian, drainase horisontal kurang efektif untuk mengendalikan rembesan
pada lapisan tanah fondasi yang berlapis-lapis, karena remesan pada lapisan pervious
yang lebih dalam akan mem-bypass drainase horisontal pada permukaan fondasi.
Drainase horisontal kadang-kadang merupakan metoda tersendiri untuk mengendalikan
rembesan melalui timbunan, karena pada timbunan yang berlapis-lapis, drainase

34

horisontal pada bagian dasar tidak mempengaruhi rembesan di bagian atas timbunan.
Pada kasus ini, drainase cerobong (chimney drain) mungkin lebih efektif.

Gambar 2.15 Drainase horisontal pada suatu bendungan urugan

c. Drainase Cerobong
Drainase cerobong (chimney/inclined drain) dapat berbentuk miring atau vertikal terbuat
dari material granular, biasanya dikonstruksi bersama-sama dengan zona filter di bagian
hulu dan hilir dari drainase. Pada beberapa kasus, drainase itu sendiri berfungsi sebagai
filter ; biasanya cara ini digunakan pada bendungan urugan. Kombinasi dari cerobong dan
drainase horisontal adalah merupakan suatu cara yang efektif untuk mengendalikan
rembesan melalui timbunan. Drainase cerobong biasanya dibuat dengan sudut 45
terhadap bidang horisontal sampai vertical, tergantung dari geometri bendungan,
pelaksanaan praktis di lapangan dan alur rembesan yang akan diantisipasi. Timbunan
tanah yang dipadatkan, biasanya akan berlapis-lapis dan permeabilitas arah horisontal
akan lebih besar dibandingkan yang vertikal. Hal ini disebabkan oleh material dari borrow
area yang bervariasi dan lapisan-lapisan tanah yang dipadatkan mempunyai perbedaanperbedaan sifat, meskipun kecil. Untuk lapisan tanah yang berlapis-lapis, drainase
horisontal tidak perlu untuk mencegah penjenuhan di bagian hilir fondasi. Drainase
horisontal juga tidak dapat mencegah terjadinya rekah hidraulis (hydraulic fracturing) dan
erosi internal dari timbunan. Jadi, drainase cerobong adalah suatu cara terbaik untuk
menangkap rembesan di sepanjang bidang horisontal melalui suatu timbunan yang
berlapis-lapis, dimana drainase horisontal cocok untuk mengurangi tekanan angkat di
sepanjang dasar struktur.
Rekomendasi praktis terbaru adalah menggunakan drainase cerobong untuk
mengendalikan rembesan dan erosi internal pada timbunan tanah dan drainase fondasi,
baik drainase horizontal maupun drainase paritan atau sumur-sumur pelepas tekanan
untuk mengendalikan rembesan pada fondasi. Untuk menambah kapasitas hidraulis,

35

drainase harus dilengkapi dengan filter yang memadai di antara zona filter dengan zona di
dekatnya, bila zona filter tidak digunakan.
Filter cerobong adalah merupakan pertahanan paling baik terhadap retakan melintang
pada zona inti akibat perbedaan penurunan atau getaran gempa. Apabila jenis tanah
dispersif atau jenis tanah lain yang mudah tererosi digunakan sebagai zona inti, zona filter
cerobong dan drainase horisontal adalah merupakan pertahanan paling baik terhadap
erosi internal, seperti gambar di bawah.

Gambar 2.16 Kombinasi drainase cerobong dan drainase horisontal

d. Diafragma filter Sekeliling Konduit


Aliran air disepanjang bidang kontak antara konduit dan timbunan tanah adalah
merupakan hal yang menarik perhatian para ahli. Banyak bendungan mengalami
keruntuhan akibat rembesan yang melalui bidang kontak tersebut, baik piping maupun
erosi internal, tergantung dari jenis tanahnya. Untuk mencegah aliran disepanjang bidang
kontak tersebut atau untuk meningkatkan panjang aliran rembesan, konstruksi kupingan
terbuat dari beton atau material lain sering digunakan pada masa lalu.
Cara praktis terkini adalah dengan menggunakan diafragma filter yang didesain dengan
tepat disekeliling konduit untuk menangkap rembesan melalui retakan-retakan yang
mungkin terjadi pada timbunan disekitarnya. Tujuan dari diafragma filter ini adalah untuk
memotong aliran rembesan melalui retakan-retakan atau aliran rembesan melalui bidang
kontak antara konduit dengan timbunan serta untuk menyaring butiran tanah yang tererosi
di sepanjang bidang kontak tersebut.

36

Gambar 2.17 Diafragma filter di sekililing konduit

e. Drainase (Paritan) Kaki


Suatu drainase atau paritan kaki dapat digunakan bersama-sama dengan cara lain
pengendalian rembesan. Metoda ini biasanya terdiri dari sebuah pipa pengumpul di dalam
suatu paritan yang kemudian diisi kembali dengan material filter di sekeliling pipa
drainase. Jika lapisan fondasi yang porous cukup dalam atau berlapis-lapis, drainase kaki
mungkin dapat menangkap sebagian kecil rembesan, Pada kasus ini, sumur-sumur
pelepas tekanan digunakan untuk melepaskan tekanan angkat dan mengumpulkan air
rembesan melalui sumur yang digali lebih dalam.

Gambar 2.18 Drainase kaki dikombinasikan dengan sumur pelepas tekanan

f. Sumur Pelepas Tekanan


Sumur pelepas tekanan (relief wells) digunakan untuk mengurangi tekanan angkat yang
terjadi pada fondasi yang pervious di hilir kaki bendungan. Sumur-sumur tersebut
menangkap rembesan dan melepaskan tekanan serta mengarahkan aliran air masuk ke
dalam konduit tanpa mempengaruhi keamanan bendungan. Cara ini juga dapat digunakan
pada fondasi batuan bendungan beton gravity. Sumur-sumur pelepas tekanan ini harus
dipasang sampai dengan lapisan yang lebih pervious dari lapisan fondasi, bila lapisan
fondasi berlapis-lapis. Sumur pelepas ini biasanya didesain sebagai penetrasi penuh atau
penetrasi sebagian.

37

Meskipun sumur-sumur pelepas tersebut mengurangi tekanan berlebihan, sumur tersebut


juga meningkatkan debit rembesan bawah (underseepage), tergantung dari kondisi
lapisan fondasi. Sumur-sumur pelepas tekanan harus ditempatkan sedemikian rupa,
sehingga mudah diukur, dibersihkan, dipompa untuk memantau debit rembesannya.
Pompa dipasang untuk meningkatkan pengaruh surut dari sumur (Lampiran .).

2.4.4 Metoda Drainase Pada Bendungan Beton


Bendungan beton yang dibangun di atas fondasi batuan mempunyai sistem drainase yang
unik. Galeri, adit, sumur pelepas tekanan, dan drainase samping sering digunakan untuk
melepas tekanan angkat dan untuk mengumpulkan dan memantau rembesan.

a. Galeri dan Sumur Pelepas Tekanan


Bendungan beton yang besar sering dilengkapi dengan suatu galeri yang berfungsi ganda
untuk jalan inspeksi dan drainase internal. Galeri mengumpulkan rembesan dari
sambungan-sambungan konstruksi melalui suatu jaringan vertikal dan horisontal yang
lebih kecil pada struktur dan mengumpulkan rembesan dari fondasi melalui jaringan
sumur-sumur pelepas tekanan. Suatu konduit dibuat di dalam galeri yang sekaligus
mengarahkan rembesan-rembesan yang kerluar ke suatu bangunan pengeluaran (outlet)
di bagian hilir yang lebih rendah. Perubahan debit aliran rembesan pada konduit atau dari
drainase individual menunjukkan adanya indikasi timbulnya masalah pada beton,
waterstops, atau sistem pengendali rembesan lain. Rembesan yang berbeda dari
biasanya mengindikasikan meningkatnya tekanan di sepanjang lapisan beton atau
sambungannya atau di sepanjang dasar bendungan yang dapat memacu ketidak stabilan
bendungan. Suatu perubahan debit embesan perlu diperhatikan, karena hal tersebut
mengindikasikan tekanan rembesan mendekati level yang melebihi batas desain dan
sistem drainase tifak berfungsi sebagaimana mestinya. Untuk itu, drainase internal dan
sumur-sumur pelepas tekanan harus diinspeksi dan dijaga secara rutin untuk mencegah
tersumbat yang biasa terjadi pada bendungan beton. Drainase atau sumur pelepas yang
tersumbat akan meningkatkan tekanan rembesan yang dapat memberikan kontribusi
mengurangi stabilias bendungannya.

b. Drainase Adit dan Drainase Samping ke Tumpuan


Bila tumpuan terdiri dari batuan yang lunak dan mudah hancur (fractured rock), perlu
dilengkapi dengan drainase. Suatu adit biasanya digunakan sebagai drainase dan jalan
inspeksi pada tumpuan. Edit ini adalah analog dengan galeri pada bendungan beton untuk
pemasangan dan pemantauan drainase samping serta untuk melakukan grouting
perbaikan yang terdiri dari suatu konduit guna mengalirkan rembesan ke bangunan
pengeluaran yang lebih rendah. Drainase samping dibuat untuk menampung rembesan
melalui rekahan atau kekar batuan dan juga untuk melepaskan tekanan rembesan. Hal ini
akan dapat meningkatkan stabilitas tumpuan secara keseluruhan. Suatu perubahan debir
rembesan di dalam konduit atau drainase samping menunjukkan adanya masalah yang
berpotensi pada tumpuan. Pemeliharaan secara rutin dan berkala harus dilakukan
terhadap drainase samping pada tumpuan.

38

2.4.5 Metoda Drainase Struktural Pada Bangunan Pelengkap


Metoda drainase untuk dinding penahan tanah, apron dan powerhouse adalah juga
merupakan hal penting terhadap kesatuan bendungan secara keseluruhan. Keruntuhan
dari bangunan pelengkap tersebut akibat tekanan rembesan yang berlebihan memacu
keruntuhan bangunan penahan air yang akhirnya juga menyebabkan terjadinya
keruntuhan bendungan. Teknik yang biasa digunakan adalah drainase vertikal, drainase
geosintetis, drainase kaki, dan sistem sub-drainase. Pengelola bendungan harus terbiasa
dengan sistem drainase dan memastikan sistem tersebut terpelihara seperti sistem
drainage lainnya.

1. Drainase Vertikal, Lubang Pematus dan Drainase Kaki


Drainase vertical biasanya digunakan dibelakang dinding penahan yang terdiri dari
material granular yang didesain untuk melepaskan tekanan hidrostatik di belakang
dinding. Drainase kaki mengalirkan rembesan di bangunan keluaran di dasar dekat suatu
drainase vertikal. Drainase yang terpelihara baik mengurangi kemungkinan terjadinya
keruntuhan dinding dan memperpanjang umur dengan cara menjaganya tetap pada
kondisi kering. Lubang-lubang pematus (weepholes) biasanya ditempatkan pada bagian
depan dinding yang merupakan suatu cara lain untuk mengurangi tekanan hidrostatik dari
belakang dinding.

Gambar 2.19 Drainase vertika, lubang pematus dan drainase kaki

39

2. Drainase Sintetis dan Filter


Drainase Sintetis dan Filter banyak digunakan pada konstruksi yang modern. Beberapa
drainase dan filter terdiri dari woven atau non-woven geosintetis. Drainase geosintetis
kebanyakan terdiri dari geogrid atau tipe papan waver yang didesain sebagai jalannya
rembesan. Produk tersebut secara tipikal terbuat dari material plastik yang mempunyai
kepadatan rendah atau kepadatan tinggi, tergantung dari kondisi yang diinginkan, yakni
lentur atau kaku. Material tersebut dipasang pada permukaan atau bidang kontak dimana
rembesan akan dikumpulkan. Tipe dan ukuran material didesain untuk mengalirkan atau
menyaring debit rembesan yang diantisipasi ke suatu pipa drainase. Kendala dari material
geosintetis ini adalah sulit dipantau dan dirawat. Namun demikian, apabila didesain
dengan benar dan tepat, cara ini adalah merupakan suatu cara alternatif pengumpul
rembesan pada daerah yang tidak kritis yang praktis.
Filter geotekstil pada sistem drainase harus digunakan dengan hati-hati untuk suatu
bangunan penahan air yang kritis. Filter geotekstil biasa digunakan dimana potensi
keruntuhan sistem drainase tidak berpotensi membahayakan di sekitarnya. Namun, cara
terkini untuk mendesain suatu bendungan atau bangunan penahan air lainnya adalah
dengan menggunakan pasir filter dibandingakan dengan filter geosintetis, sehubungan
dengan potensi penyumbatan dan kerusakan dari filter geosintetis.

3. Sistem Sub-drain
Sistem Sub-drain ini didesain untuk mengurangi gaya-gaya angkat yang bekerja di bawah
slab atau dinding beton. Biasanya, sistem ini digunakan di bawah saluran depan
bangunan pelimpah (spillway) atau fondasi dinding penahan. Sub-drain ini terdiri dari
lapisan agregat dengan pipa yang diberi celah-celah (slotted pipes) untuk mengalirkan air
menjauhi struktur. Sistem sub-drain ini harus didesain dengan benar memenuhi kriteria
filter untuk mencegah material fondasi terhadap piping atau tererosinya material halus ke
dalam drainase. Banyak dan ukuran pipa juga harus didesain sesuai dengan kapasitas
yang diperlukan untuk mengalirkan debit rembesan yang diantisipasi.

40

Gambar 2.20 Sistem sub-drain dengan filter geosintetis


Pada bab ini diuraikan beberapa tindakan pengendalian rembesan yang berkaitan dengan
bendungan dan didokumentasikan dalam data. Juga mengetahui cara pengendalian
rembesan yang telah dilakukan dan masalah-masalah rembesan yang dihadapi untik
membantu melakukan analisis dan evaluasi cara-cara yang telah dilaksanakan dan
tindakan perbaikan yang diperlukan.

41

III. INVESTIGASI LAPANGAN


3.1 Umum
Evaluasi terhadap resiko akibat rembesan adalah cukup sulit dilakukan. Pada beberapa
kasus, suatu evaluasi terhadap resiko keamanan bendungan harus dibuat berdasarkan
sifat khusus-lapangan dan judgment serta pengalaman seseorang. Hal tersebut juga tidak
terlepas dari konsiderasi non-teknis, misalnya opini masayarakat (LSM). Beberapa
indikator dari masalah keamanan bendungan akibat remesan, antara lain adalah :
a) Peningkatan debit rembesan secara progresif,
b) Terbawanya butiran tana, erosi internal, terlarutnya massa tanah, dan peningkatan
kekeruhan air rembesan yang keluar,
c) Peningkatan/penurunan tekanan hidrostatik,
d) Suatu perubahan pola rembesan,
e) Terjadinya rembesan di suatu lokasi yang kritis, misalnya di dekat konduit,
f) Pembasahan lereng (sloughing),
g) Terlihatnya lubang-lubang benam (sinkholes),
h) Kondisi basah dan lunak serta tidak stabil di daerah hilir,
i) Tumbuhan yang lebih rindang dibangdingkan di tempat lain yang kering.
Pada beberapa proyek, keputusan terhadap resiko kegagalan akibat rembesan dapat
langsung ditindak lanjuti, namun untuk proyek di tempat lain hal tersebut mungkin sulit
dilakukan. Meskipun demikian, semua potensi kerusakan akibat rembesan harus segera di
evaluasi, bila perlu dengan menambahkan beberapa instrumen untuk memastikan
pengaruh rembesan dan menentukan tindak perbaikannya.

3.2 Cakupan Investigasi


Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan investigasi terhadap
rembesan yang mencapai kondisi serious/kritis dan tindak perbaikannya, adalah :
a) Tempat terjadinya rembesan dan material yang dilaluinya.
- Alur rembesan dan perkembangannya,
- Apakah melalui timbunan atau fondasi, dekat konduit, bidang kontak tumpuan atau
di tempat lainnya,
- Apakah material yang dilalui rembesan bersifat mudah tergerus atau terlarut,
- Apakah desain telah mempertimbangkan cara pengendalian rembesan.
b) Variasi hubungan antara debit rembesan dengan musim, hujan dan fluktuasi muka air
waduk.
-

Apakah rembesan meningkat sesuai dengan meningkatnya air waduk,


Apakah peningkatan tersebut secara mendadak atau dalam peroda yang lama,
Apakah rembesan berkurang saat air waduk turun dan kembali ke posisi semula
atau tidak,

42

Apakah rembesan keluar di tempat yang berbeda,


Apakah pengukuan rembesan mempunyai siklus tahunan,
Apakah rembesan mempunyai pola atau jejak yang mengikuti dengan pola hujan.

c) Respons tekanan atau gaya-gaya rembesan terhadap variasi level muka air waduk
- Merespons dengan cepat atau lambat,
- Merespons dengan kecepatan tertentu sesuai dengan kecepatan naiknya muka air
waduk.
d) Apakah tindak perbaikan pengendalian rembesan dipelihara dengan baik.
Inspeksi rutin harus dilakukan secara berkala dan bila perlu melakukan investigasi dan
memasang tambahan instrumen, untuk menjawab pertanyaan di atas, termasuk
mempelajari informasi, gambar-gambar geometri dan jenis material timbunan dan fondasi
bendungan yang dievaluasi. Kemudian lakukan evaluasi masalah yang terjadi, evaluasi
resikonya dan tentukan tindak perbaikan yang tepat. Dokumentasikan semua foto-foto
lapangan dan hasil diskusi dengan ahli yang berpengalaman.

3.3 Sumber Data


Setelah identifikasi potensi rembesan dan penentuan
informasi yang diperlukan
dilakukan, lakukan pengumpulan informasi untuk malakukan analisis dan penilaian
terhadap masalah rembesan yang potensial menimbulkan kerusakan terhadap
bendungan. Berbagai cara untuk melakukan pengumpulan informasi tersebut akan
diuraikan di bawah. Biasanya, investigasi dan pengumpulan data dilakkan oleh seseorang
atau suatu perusahaan konsultan yang berpengalaman yang akan mengidentifikasi
informasi yang diperlukan yang dituangkan dalam bentuk perencanaan yang matang
untuk memperolehnya.

3.3.1 Bukti Visual Dari Pengamatan Lapangan


Langkah pertama adalah melakukan inspeksi lapangan ke daerah rembesan dan
sekitarnya. Lakukan pengambilan foto-foto dan lengkapi beberapa informasi, antara lain
mencakup :
a) Catatan dan laporan-laporan proyek,
b) Melakukan interpretasi dan klarifikasi terhadap laporan-laporan yang ada,
c) Pada beberapa kasus, gunakan feeling untuk mengenali masalah dan tingkat
keseriusannya,
Untuk situasi yang tidak terlalu kompleks, seorang ahli yang berpengalaman sering dapat
memastikan seberapa parah masalah yang dihadapi dan merekomendasikan tindak
perbaikan yang ekonomis.

43

3.3.2 Wawancara
Wawancara dengan orang yang familiar dan memahami proyek bersangkutan mungkin
dapat membantu banyak dalam melakukan evaluasi dan penilaian terhadap masalah
rembesan yang dihadapi, misalnya perencana awal, pengelola, petuga O&P, kontraktor,
dll. Informasi yang diperlukan, antara lain :
a) Sejarah dan kronologis terjadinya rembesan,
b) Kapan mulai timbulnya rembesan dan hubunganna dengan muka air waduk,
c) Apa yang terjadi di daerah rembesan bila terjadi hujan, termasuk pengaruh fluktuasi
muka air waduk,
d) Apakah rembesan pernah mengalami kekeruhan,
e) Apakah rembesan pernah membawa butiran tanah,
f) Apakah ada akumulasi butiran tanah disekitar rembesan,
g) Apakah rembesan terpengaruh oleh kondisi cuaca/musim,
h) Apakah lokasi rembesan dalam kondisi kering sebelum dikonstruksi,
i) Apakah rembesan terpengaruh oleh operasi pintu-pintu selama O&P,
j) Apakah perubahan rembesan mempunyai pola yang sama pada siklus harian,
musimam atau tahunan.

3.3.3 Instrumentasi
Bila masalah rembesan cukup konpleks, diperlukan data instrumentasi untuk
mengevaluasinya.
Pada kasus dimana rembesan baru terjadi, diperlukan
penambahan/pemasangan instrumentasi baru untuk menambahkan data instrumen yang
ada. Instrumen-instrumen yang perlu ditambahkan dan dipasang di dekat bendungan
untuk memanrtau rembesan, antara lain berupa :
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Pisometer,
Downhole flowmeter,
Pengukur suhu (thermal probes),
Downhole camera,
Observation well,
Alat ukur rembesan.

Sebagai pedoman dalam pemilihan instrumen dan lokasi pemasangannya, adalah sebagai
berikut :
a) Gambar lay-out dan potongan-potongan bendungan, termasuk pemasangan instrumen
yang lama. Semua jenis instrumen harus dipasang pada tempat yang sesuai, sehingga
menghasilkan data/informasi yang diperlukan. Tidak mudah untuk melakukan hal ini.
b) Perencanaan harus fleksibel, pemasangan dan data pembacaan awal dari satu
pisometer, sering menunjukkan perlunya pemasangan di tempat lain.
c) Semua masing-masing alat ukur rembesan yang harus diukur secara terpisah, harus
sedekat mungkin dengan sumbernya.

44

d) Suatu seri pisometer biasanya diperlukan untuk mencari alur rembesan dari
sumbernya ke arah keluaran di hilir, seperti halnya tekanan yang ditimbulkannya.
Pengaturan/penempatan pisometer tersebut diperlukan, terutama pada
batuan
dimana rembesan mengalir melalui kekar, rekahan, zona sesar dan zona geser.
e)
Lokasi instrumen harus dikoordinasikan dengan keperluan investigasi. Untuk
menghemat waktu dan biaya, lubang bor untuk memasang instrumen juga
dimanfaatkan untuk pengambilan contoh tanah, pengujian permeabilitas, SPT, dll.
Instrumen yang lama dan yang baru dipasang harus dipantau secar hati-hati untuk
memperoleh informasi mengenaik perilakuk bendungan dan untuk mempelajari trend
dari rembesan. Pembacaan instrumen juga harus dilakukan secara teratur dengan interval
waktu tertentu, bila perlu gunakan data logger untuk memudahkan pemantauannya.
Semua pembacaan harus dikorelasikan dengan fluktuasi muka air dan kondisi
cuaca/musim.
Banyak hasil pembacaan, antara lain sumur-sumur pelepas tekanan dan sumur pantau
juga berfungsi sebagai data muka air tanah dan sebagai pelepas tekanan. Namun, suatu
sumur pelepas tekanan atau drainase tidak digunakan sebagai pisometer dengan
memasang packer yang dilengkapi manometer tekanan. Pemasangan packer dengan
manometer akan merubah secara mendasar terhadap pola rembesan internal yang dapat
menimbulkan terjadinya tekanan air yang lebih tinggi. Hal tersebut dapat memicu
terjadinya piping dan mempengaruhi stabilitas bendungan yang dapat mempercepay
terjadinya keruntuhan.
Program pemasangan instrumen yang didesain dengan tepat dan benar akan membantu
pengelola bendungan dalam hal peringatan dini terhadap potensi bahaya dan dengan
cepat melakukan tindak perbaikannya.

3.4 Investigasi Di Lapangan


Penyelidikan lapangan tambahan mungkin diperlukan, tergantung dari kondisi khusus di
lapangan dan ketersediaan data. Pemboran, pengambilan contoh tanah dan pengujian
terhadap material
timbunan dan fondasi diperlukan untuk melakukan modifikasi
pelrencanaan konstruksi dan spesifikasi guna tindak perbaikannya. Penyelidikan dengan
geofisik dan pengujian-pengujian lapangan perlu dipertimbangkan guna menetukan lokasi
dan perluasan dari rembesan.
Investigasi lapangan sebaiknya melibatkan para ahli yang berpengalaman, antara lain
geologis, juru bor dan ahli geofisik. Investigasi tersebut cukup mahal; bila biaya
merupakan suatu faktor yang harus dipertimbangkan, biaya yang minimum tidak harus
mengurangi kualitas pekerjaan. Misalnya, pengambilan contoh melalui diameter pemboran
yang kecil tidak akan memberikan hasil yang memuaskan dibandingkan dengan
pengambilan contoh melalui diameter pemboran yang lebih besar yang lebih mahal.
Namun, tanpa melakukan pengambilan contoh anah, pemboran yang dilakukan akan
kurang berguna.

45

Berikut di bawah beberapa hal yang harus diperhatikan selama investigasi rembesan
dilakukan :
a) Pemetaan lapangan; untuk memperoleh pemetaan geologi dari tapak bendungan dan
genangan waduknya. Hal ini penting dilakukan untuk mengetahui perlapisan dan
struktur geologi, pada beberapa kasus untuk mengantisipasi sumber dan alur
rembesan dan sekaligus untuk menentukan instrumentasi dan penyelidikan bawah
tanah. Interpretasi foto udara dapat banyak membantu, terutama pencitraan panas
infra merah.
b) Pemboran dan pengambilan contoh tanah; penyelidikan bawah tanah diikuti
pengambilan contoh tanah perlu dilakukan untuk memperoleh perlapisan tanah dan
jenis tanah/batuan serta untuk mengetahui alur rembesan. Melalui lubang-lubang bor
juga dapat dilakukan pengujian-pengujian in-situ dan pemasangan pisometer.
Pekerjaan pemboran ini harus disupervisi oleh ahli yang berpengalaman dan harus
dilakukan secara hati-hati untuk mencegah terjadinya masalah yang serius, misalnya
rekah hidraulis, rusaknya lapisan filter yang tipis, terkontaminasinya filter oleh air
pemboran dan terjadinya tekanan rembesan yang tidak terkontrol. Bila memungkinkan,
selama pemboran tidak menggunakan tekanan air untuk pemboran di suatu
bendungan.
c) Pengujian lapangan; berbagai pengujian lapangan dapat dilakukan dalam investigasi
rembesan, salah satunya adalah berbagai cara pengujian permeabilitas dari
tanah/batuan. Dengan kemajuan teknologi, penggunaan kamera di dalam lubang bor
sering dilakukan untuk mengevaluasi rekahan, kekar, dan alur rembesan. Berbagai
peralatan logging melalui lubang juga digunakan untuk mengetahui temperatur air dan
profil kandungan kimuianya. Kandungan kimia di dalam air juga berguna untuk
melakukan identifikasi sumber rembesan. Arah dan kecepatan aliran rembesan, caliper
logs dan berbagai jenis logs dapat membantu dalam melakukan evaluasi material di
dalam lubang spesifik dan diantara lubang-lubang. Kadang-kadang zat pewarna atau
elemen penelusur lain diinjeksikan untuk mengetahui alur rembesan dan mengukur
waktu dari sumber ke bagian keluarannya. Pada banyak kasus, uji grouting dilakukan
untuk mengevaluasi efektifitas dan ekonomi dari grouting sebagai tindak perbaikannya.
Uji pemompaan dapat dilakukan untuk menentukan sifat hidraulis dari lapisan
fondasinya. Dengan menggunakan unit ROV dilengkapi sidescan sonar atau alat lain
dapat membantu mengevaluasi lebih lanjut masalah rembesan sehubungan dengan
kondisi di hilir dan konduit yang terendam.
d) Investigasi geofisik; teknik geofisik digunakan dalam investigasi rembesan mencakup
metoda permukaan dan downhole. Teknik ini mencakup survei dengan tahanan
elektrik (electrical resistivity), self-potential survey, seismic dan microseismic survey,
gravity dan and magnetic surveys, ground penetrating radar (GPR), acoustic emission,
gamma and neutron logging dan cross-hole thermography. Metoda geofisik ini
merupakan suatu cara yang cukup murah. Semua metoda di atas memerlukan suatu
verifikasi yang spesifik (lubang-lubang bor, contoh anah, peta geologi, elevasi muka
air, dll) disamping petugas yang berpengalaman untuk melakukan interpretasinya.

46

3.5 Pengujian Laboratorium


Pengujian di laboratorium sering dilakukan terhadap contoh-contoh tanah untuk
melengkapi dan mendukung hasil investigasi lapangan. Kuat geser dan sifat teknik lain
dari tanah dan batuan diperlukan untuk menentukan tindak perbaikan. Sebagai contoh,
penggunaan suatu rock mill untuk melakukan penggalian suatu paritan yanag dalam
memerlukan informasi kuat geser dan kekerasan batuan yang digali. Pengujian kimia di
laboratorium terhadap batuan, tanah dan air (waduk dan rembesan) dilakukan
sehubungan dengan masalah pelarutan (solutioning), garam-garam larut (terutama
gypsum) di dalam tanah atau tanah dispersif.
Pengujian laboratorium mungkin cukup teliti untuk contoh yang kecil, tetapi kurang cukup
mewakili untuk suatu material dengan volume besar di lapangan. Metoda pengujian
permeability di laboratorium dapat berupa constan head atau falling head. Cara falling
head sesuai untuk material yang mempunyai permeabilitas yang rendah.

Gambar 3.1 Constant head permeameter


Pada pengujian tinggi tekanan tetap, contoh tanah ditempatkan di dalam suatu wadah
silinder dan air dialirkan melalui suatu wadah air yang mempunyai tinggi tekanan tetap.
Volume air (V) yang mengalir dalam waktu tertentu (t) kemudian diukur. Rumus koefisien
permeabilitas (konduktifitas) ditentukan berdasarkan rumus Darcy :
k = V/iAt dan i = h/L
Pengujian ini biasanya dilakukan terhadap material yang bersifat cukup rembes air
(pervious). Pengeluaran udara saat penjenuhan perlu dilakukan secara hati-hati.
Selain pengujian laboratorium juga dalam investigasi ini dilakukan pengujian lapangan.
Pengujian lapangan umumnya dilakukan untuk memperoleh hasil yang paling baik, karena
pengujian lapangan mewakili kondisi lapangan. Pengujian lapangan ini dilakukan
berdasarkan perubahan tinggi tekanan yang terjadi di dalam suatu sumur (well), lubang

47

bor atau sumur uji (test pit). Suatu cara yang sering digunakan adalah uji pompa melalui
sumur (well).

Gambar 3.2 Pengujian pemompaan di lapangan


Koefisien permeabilitas/konduktifitas (k) dihitung sebagai berikut :
Kasus 1, Kondisi Aliran Langgeng (Steady stage), Akifer Bebas :
k = qln(r2/r1)
(h2 - h1 )
2

48

Kasus 2, Kondisi Aliran Langgeng (Steady stage), Akifer Tertekan :


k = qln(r2/r1)
2H(h2 h1)
Dimana H adalah tebal lapisan akifer yang ditinjau
Asumsi-asumsi yang digunakan adalah :
Kasus 1 :
a) Sumur pompa dibuat sampai setebal penuh dari formasi lapisan pembawa air,
b) Terjadi kondisi aliran langgeng,
c) Formasi lapisan pembawa air adalah homogin, isotropis dan jaraknya tak terbatas
pada semua arah,
d) Berlaku asumsi Dupuit.
Kasus 2 :
a) Pemompaan dalam kondisi aliran langgeng,
b) S relatif kecil dibandingkan H,
c) Perubahab kecepatan surut kecil,
d) Formasi lapisan pembawa air adalah homogin, isotropis dan jaraknya tak terbatas
pada semua arah.
Perlu diperhatikan bahwa terdapat cara-cara lapangan dan rumus-rumus sehubungan
dengan kondisi aliran yang tak langgeng (unsteady state) dan material-material yang tak
jenuh untuk mementukan koefisien permeabilitas berdasarkan daripengukuran kecepatan
rembesan, dll. (Periksa beberapa rujukan dari Harr, Todd, Cedergren, Bouwer, Power,
USBR, U.S. Army Corps).

49

IV. INVESTIGASI LAPANGAN KONDISI KHUSUS REMBESAN


Dalam evaluasi untuk mengatasi masalah-masalah rembesan, akan melibatkan :
-

Pengamatan masalah di lapangan,


Melakukan evaluasi terhadap pengamatan dan informasi/data lainnya, serta :
o Menggunakan evaluasi untuk langsung menjelaskan masalah dan menilai bahaya
yang ditimbulkan, bila ada.
o Menggunakan evaluasi dan data penamatan sebagai masukan untuk analisis yang
lebih dalam.

Apapun juga kasusnya, interpretasi dan evaluasi pengamatan harus berdasarkan pada
prinsip dan teori aliran rembesan.

4.1 Pengamatan Lapangan


Pengamatan visual lokasi, luas dan perubahan rembesan dapat memberikan informasi
terhadap batas bagian keluaran rembesan. Alur rembesan dapat dilokalisasi berdasarkan
pengalaman. Pengamatan rembesan yang keluar disekeliling suatu konduit yang dipasang
di bawah timbunan dapat mengindikasikan terjadinya alur rembesan di sepanjang konduit.
Suatu pengamatan rembesan yang keruh dapat merupakan suatu tanda terjadinya piping
atau erosi internal.
Untuk menentukan apakah sumber rembesan berasal dari waduk, lakukan pengukuran
rembesan dengan ambang pengukur atau alat lainnya, dan buat korelas/hubungan antara
rembesan, muka air waduk dan curah hujan. Apabila sumber rembesan berasal dari
waduk, tentukan apakah volume rembesan terhadap perubahan muka air waduk, tetap
atau menunjukkan tendensi berubah terhadap waktu. Hal tersebut dapat memberikan
indikasi terjadinya pelarutan (solutioning) atau terjadinya erosi internal, atau tindakan
pengendalian rembesan yang dilakukan kurang efektif. Karena debit rembesan berkorelasi
langsung dengan curah hujan, maka perlu pengamatan lebih rinci saat musim kering,
untuk menentukan komponen debit rembesan.
Evaluasi terhadap suatu baris pisometer yang dipasang dengan benar dapat memberikan
informasi mengenai muka air dan tekanannya dan tekanan ke atas (uplift) pada titik-titik
tertentu pada bendungan. Data pisometer juga dapat memberikan informasi terhadap
lokasi alur rembesan, tekanan air pori, kehilangan tekanan, dan gradien hidraulis melalui
suatu media yang lulus air (porous) serta korelasinya dengan muka air waduk terhadap
waktu. Pada umumnya, sistem awal pisometer yang telah dipasang saat konstruksi akan
diperluas atau dilakukan tambahan pemasangan pisometer untuk mencakup masalah
rembesan yang terjadi. Dengan menggunakan pengamatan atau pengujian lain di
lapangan, seperti mengunakan bahan pewarna atau menginjeksikan suatu tracer,
temperatur dan bahan kimia serta berbagai teknik geofisik dapat ditentukan lokasi tempat
keluaran dan alur dari aliran rembesan.

50

4.2 Evaluasi Terhadap Pengamatan


Pengamatan dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung dari masalah rembesan
yang dihadapi. Data pengukuran rembesan diplotkan terhadap elevasi pisometer dan
muka air waduk terhadap beberapa pisometer yang dipasang pada penampang melintang
bendungan. Penurunan gradien terhadap waktu pada level air waduk yang sama dapat
memberikan indikasi terjadinya alur rembesan yang membesar.
Pada kasus lain, data pisometer dapat diplotkan untuk berbagai elevasi muka air waduk
untuk menggambarkan valiran rembesan riasi tekanan uplift di bawah bendungan. Data
pisometer dapat diplotkan dalam penampang di sepanjang hilir kaki bendungan urugan
untuk menunjukkan daerah yang mengalami tekanan uplift berlebih pada berbagai elevasi
muka air waduk. Pada kasus yang kompleks, buat kontur elevasi tekanan pisometer
secara topografis dan interpretasikan alur aliran rembesan untuk level muka air waduk
tertentu, bila perlu lakukan pada berbagai level muka air waduk. Pada kasus tertentu,
mungkin perlu dilakukan model analisis 3-D yang menggambarkan lokasi bendungan,
batas geologis dan informasi/data rembesan.

Gambar 4.1 Pembacaan pisometer terhadap elevasi muka air waduk


4.3 Rembesan Melalui Batuan Mudah Larut
Suatu cara melakukan identifikasi terhadap batuan yang mudah larut adalah dengan
melakukan pengamatan terhadap kondisi permukaan tanah. Lubang benam (sinkholes)
adalah sering dan mudah dikenali secara mudah di lapangan yang biasanya terkait
dengan topografi karst. Lubang-lubang benam tersebut dapat berisi air atau kering.
Lubang benam tersebut merupakan hasil pelarutan batuan dasar, biasanya pada suatu
zona rekahan (fracture zone). Lubang benam yang runtuh (collaps) terbentuk dari

51

runtuhnya permukaan hingga terbentuknya bukaan (opening), seperti gua. Lubang benam
dapat terjadi di dalam waduk atau lereng hilir bendungan adalah merupakan petunjuk kuat
dari terjadinya pelarutan batuan dasar yang tidak dilakukan perbaikannya.
Pada kondisi geologi tertentu, harus diasumsikan terjadinya pelarutan, hingga tidak
terbukti, karena hal yang sama pernah terjadi pada kondisi geologi yang sama. Pelarutan
batuan dasar memerlukan studi khusus untuk mengevaluasi jenis, distribusi, dan cara
pengisian alur larutan yang terjadi. Lokasi dan distribusi batuan terlarut dan cara solusinya
harus ditentukan saat tahap desain dan konstruksi bendungan. Apabila data kurang
mencukupi, diperlukan tambahan investigasi dan instrumentasi.
4.4 Rembesan Melalui Tanah Dispersif
Tanah lempung alami mengurai (disperse) atau deflocculate di dalam air murni (pure
water). Tanah jenis ini berpotensi untuk terjadinya erosi internal seperti halnya erosi
permukaan. Keruntuhan yang berkaitan dengan tanah dispersif sering terjadi secara
mendadak dan disertai sedikit tanda-tanda. Bagaimanapun juga, keruntuhan terjadi bila air
telah mencapai muka air yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Jadi, hal penting
yang harus dilakukan adalah penentuan apakah material yang digunakan pada saat
konstruksi termasuk jenis tanah dispersif atau tidak, termasuk tanah fondasinya. Salah
satu cara terbaik untuk mengatasi tanah dispersif ini adalah dengan menggunakan
drainase cerobong (chimney drain) dengan gradasi filter yang didesain dengan benar.
Di daerah yang ditemui adanya tanah dispersif, sering ditandai dengan adanya suatu pola
erosi. Air merembes secara vertikal ke bawah beberapa meter ke dalam retakan sebelum
keluar di permukaan lereng hilir, menghasilkan bentuk seperti kendi-kendi (jugs) atau
lubang/pipa pada lereng. Alur berbentuk pipa berukuran sampai beberapa cm sering
ditemui pada lereng hilir. Erosi gully yang dalam dan sempit yang membentuk badland
adalah merupakan petunjuk adanya tanah dispersif.
Tanah dispersif secara fisik tidak dapat dibedakan dengan tanah tahan erosi dengan
menggunakan pengujian propertis rutin. Pengujian lapangan cara gumpalan (crumb test)
adalah suatu cara sederhana untuk mengidentifikasi tanah dispersif dengan cepat.
Pengujian khusus tanah dispersif juga dilakukan di laboratorium dengan hidrometer
ganda. Pengujian terbaik adalah dengan pin-hole dan pengujian dengan mengukur
jumlah relatif dari garam yang terlarutkan di dalam air pori tanah.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam unit III ini adalah sebagai berikut :
a) Lakukan kunjungan lapangan dan lakukan inspeksi visual terhadap daerah yang
mengalami masalah rembesan.
b) Lakukan wawancara dengan petugas-petugas yang familiar dengan masalah
rembesan yang dihadapi.
c) Lakukan penambahan pemasangan instrumen untuk memperoleh tambahan data dan
informasi mengenai masalah yang berkaitan dengan rembesan.

52

d) Lakukan berbagai investigasi lapangan dan laboratorium untuk memperoleh data yang
lebih baik dalam rangka penentuan spesifikasi dan tindak perbaikan yang efisien.
e) Pelajari kondisi geologi lapangan sekitar bendungan.
f) Pelajari kondisi sebelum konstruksi.
g) Kumpulkan dan pelajari data-data curah hujan, operasi waduk dan muka air waduk
serta data pembacaan instrumen terkait, antara lain pembacaan pisometer, rembesan,
pipa/sumur pantau, dll.
Dalam bab ini menguraikan identifikasi kondisi khusus rembesan, antara lain rembesan
melalui batuan yang mudah terlarutkan dan tanah dispersif.

53

V. ANALISIS
5.1 Pendahuluan
Dalam kasus rembesan yang telah teridentifikasi pada suatu bendungan, harus segera
ditentukan apakah embesan tersebut telah berkembang cukup serius atau tidak.
Penentuan tingkat keseriusan tersebut harus selalu berdasarkan suatu proses yang logis
dan metodis denan mempertimbangkan pengaruh rembesan saat sekarang dan
mendatang. Misalnya, muka air waduk yang berpengaruh terhadap rembesan secara
siknifikan dan lebih tinggi dibandingkan biasanya.
Untuk menentukan pengaruh rembesan terhadap keamanan bendungan, pertimbangkan
dan periksa alur rembesan yang terjadi dan potensi terhadap piping, erosi internal,
pelarutan batuan serta peningkatan tekanan air pori berlebih yang terjadi. Beberapa
metoda dan teknik dapat digunakan dalam penentuan tersebut. Pada beberapa kasus,
suatu kajian terhadap informasi dan data yang ada serta judgment engineering
berdasarkan pengalaman dianggap cukup memadai, tetapi pada kasus lain mungkin
diperlukan suatu investigasi dan analisis yang ekstensif dan detil.
Dalam bab ini menguraikan hal-hal sebagai berikut :
a)
b)
c)
d)
e)

Dasar teori analisis rembesan secara numerik.


Berbagai macam informasi yang diperlukan dan bagaimana cara memperolehnya.
Berbagai metoda dan teknik yang digunakan dalam analisis.
Dimana, kapan dan oleh siapa berbagai metoda tersebut digunakan.
Bagaimana hasil analisis tersebut digunakan.

Metoda yang digunakan dalam analisis rembesan bervariasi dari yang sederhana hingga
cukup kompleks. Metoda terbaik yang digunakan akan tergantung dari kondisi spesifik di
lapangan. Terdapat banyak pitfalls dalam analisis rembesan karena properti rembesan,
seperti permeabilitas yang cukup bervariasi pada jarak yang pendek serta dalam arah
yang berbeda. Analisis erosi internal dan aliran melalui batuan dasar yang mengandung
banyak rekahan (fractures) adalah berbeda dibandingkan melakukan studi terhadap aliran
rembesan melalui antar butiran tanah.
Dalam melakukan analisis rembesan harus berdasarkan pada pengetahuan dasar
mekanika fluida dan geoteknik yang mencakup mekanisme aliran air tanah. Namun, hasil
yang terpercaya dapat diperoleh dari judgment dan pengalaman. Masukan-masukan dari
ahli geogi dan geoteknik yang berpengalaman adalah sangat penting dalam melakukan
analisis. Pada semua kasus dalam melakukan analisis numerik, suatu evaluasi parametrik
harus dilakukan untuk menilai sensitifitas hasilnya berdasarkan berbagai masukan
parameter.

54

5.2 Dasar Analisis


Kegagalan-kegagalan bendungan di masa lalu, adalah disebabkan oleh kurangnya suatu
pola yang logis dan konsisten untuk melakukan analisis dan mengantisipasi masalahmasalah rembesan. Rumus-rumus empiris berdasarkan suatu pengamatan yang baik dan
kinerja yang buruk, beberapa memang membantu, sering tidak dapat diaplikasikan pada
material timbunan, fondasi, dan lingkungan yang berbeda meskipun sedikit. Analisis
rembesan yang logis, diawali oleh hukum Darcy tahun 1856 dan persamaan Laplace
untuk kondisi aliran langgeng (steady state flow) suatu fluida melalui suatu media yang
lulus air (porous).
5.2.1 Hukum Darcy
Pada tahun 1856, Henry Darcy memplubikasikan suatu formula yang mengatur aliran
melalui media lulus air, berdasarkan studi aliran air melalui filter vertikal di laboratorium.
Q = kiA
Vd = Q/A
Dimana :
Q = debit rembesan (cm3/detik),
Vd = kecepatan aliran dan = ki (cm/detik),
k
= koef permeabilitas Darcy (cm/detik),
i
= gradien hidraulis, sama dengan kehilangan tekanan (cm) dibagi dengan panjang
terjadinya kehilangan tekanan (cm),
A
= luas penampang yang dialiri air (cm2).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada hukum Darcy, adalah :
a) Kecepatan aliran Vd adalah kecepatan aliran fluida dan didefinisikan sebagai jumlah
kotor aliran yang mengalir melalui luas penampang massa tanah dalam satuan waktu
tertentu. Karena aliran hanya terjadi melalui pori-pori tanah, aliran air yang riil atau
kecepatan rembesan (Vs) untuk suatu molekul tunggal dari air yang melalui suatu alur
unik dari pori-pori tanah adalah lebih besar dibandingkan dengan kecepatan debitnya.
b) Kecepatan rembesan secara kasar adalah sama dengan kecepatan debit dibagi
dengan porositas tanah.
Gambar 5.1. Konsep alur aliran air melalui tanah xxx
c) Hukum Darcy hanya berlaku untuk aliran laminer (aliran-aliran air yang berdekatan
salin sejajar dan lurus serta kecepatan aliran V d adalah proporsional dengan gradien
hidraulis i). Hukum ini berlaku untuk kebanyakan tanah, tetapi aliran melalui kerikil
kasar dan bukaan dalam batuan dapat berubah menjadi turbulen dan V d akan
proporsional dengan akar kuadrat dari i.

55

d) Hukum Darcy dibatasi untuk aliran melalui material yang jenuh. Aliran melalui material
yang tak jenuh adalah dalam kondisi transient yang tergantung dari waktu (time
dependent).
e) Hukum Darcy tidak cocok untuk aliran melalui retakan atau rekahan dari batu atau
tanah.
Hukum Darcy mempunyai banyak aplikasi dalam analisis rembesan, termasuk :
a) Penentuan permeabilitas, baik di lapangan maupun di laboratorium.
b) Memprediksi jumah aliran laminer.
Dengan menambahkan sedikit modifikasi, hukum Darcy dapat diaplikasikan untuk aliran
turbulen, transient dan aliran jenuh sebagian.
Hukum Darcy juga digunakan untuk mengatasi masalah-masalah rembesan dan drainase
pada bendungan urugan. Contoh adalah menentukan permeabilitas yang diperlukan atau
penentuan drainase miring atau horisontal dari suatu bendungan.

Gambar 5.2 Desain chimney drain menggunakan hukum Darcy

56

5.2.2 Persamaan Laplace


Aliran air melalui media yang lulus air adalah merupakan satu dari beberapa bentuk aliran
air yang mengikuti hubungan dasar yang sama, yang ditunjukkan oleh persamaan
Laplace. Dalam 2-D, persamaan Laplace dapat diselesaikan dengan menggambarkan dua
kurva yang memotong tegak lurus membentuk pola seperti bujur sangkar, yang disebut
jaring-jaring aliran (flownet). Persamaan Laplace 3-D ditunjukkan oleh persamaan di
bawah.
2h + 2h + 2h = 0
x2 y2
z2
Metoda iterasi diperlukan untuk menyelesaikan persamaan diferensial parsial untuk aliran
3-D. Penyelesaian numerik sering dilakukan dengan menggunakan Finite Different atau
Finite Element Method 2-D dan 3-D. Metoda ini memerlukan program komputer yang
canggih dan memerlukan ahli teknik yang mempunai pengalaman cukup. Kebanyakan
masalah-masalah rembesan pada suatu bendungan dapat diselesaikan menggunakan
analisis 2-D, kadang-kadang dengan flownet yang digambar dengan tangan. Namun,
untuk masalah rembesan yang kompleks memerlukan analisis 3-D.
Asumsi-asumsi yang digunakan dalam persamaan Laplace, adalah :
a) Tanah sebagai media lulus air adalah homogin,
b) Pori-pori tanah penuh terisi air (jenuh),
c) Tanah dan air bersifat tidak termampatkan (incompressible),
d) Aliran adalah laminar dan berlaku hokum Darcy.
5.2.3 Aliran Melalui Rekahan (Fracture Flow)
Permeabilitas Darcy tidak berlaku untuk aliran air melalui rekahan terbuka, kekar-kekar,
atau retakan lain dalam batuan atau tanah. Melakukan evaluasi aliran melalui rekahan
adalah cukup kompleks, karena aliran tergantung dari bentuk geometri rekahan,
kekasaran rekahan, isi rekahan dan ukuran bukaannya. Jadi, masalah rekahan tersebut
memerlukan penyelidikan yang intensif untuk solusinya. Penyederhanaan masalah sering
digunakan, termasuk penyederhanaan masalah supaya hukum Darcy berlaku dengan
menggunakan suatu bulk konduktivitas hidraulis (bulk hydraulic conductivity) untuk
massa batuan yang banyak mengandung rekahan.
Aliran melalui rekahan tanah akan mengakibatkan terjadinya erosi internal. Melakukan
evaluasi
terhadap
potensi
erosi
internal
sering
dilakukan
berdasarkan
pengalaman/empiris, karena model matematis belum tersedia serta masalah dalam
memodelkan karakter dari rekahan itu sendiri. Evaluasi sering mempertimbangkan
apakah perbaikan yang didesain dan dilaksanakan berdasarkan asumsi bahwa erosi
internal benar-benar akan menimbulkan masalah.

57

Aliran rekahan dapat menjadi pola yang dominan dari rembesan melalui fondasi dan
tumpuan yang berupa batuan. Hal tersebut juga merupakan suatu pola utama dari
transportasi aliran terhada erosi inernal. Hukum Darcy tidak berlaku untuk aliran melalui
suatu rekahan terbuka, seperti yang diturunkan dari aliran melalui kolom pasir homogin.
Meskipun begitu, persamaan Darcy dan Laplace secara pendekatan berlaku untuk aliran
melalui suatu rekahan massa batu yang seragam, bila volume batuan yang ditinjau adalah
rekahan yang seragam dan dapat dianggap bersifat isotropis. Metoda ini digunakan untuk
menyelesaikan persamaan Laplace dan permeabilitas Darcy yang digunakan dalam
persamaan Darcy yang sensitif terhadap pengaruh skala. Rekahan bervariasi dari tingkat
anisotropis tinggi hingga ke tingkat yang relatif rendah, tergantung dari ukuran dan skala
volume batuan yang ditinjau serta spasi dari rekahan yang berhubungan. Dengan alasan
tersebut, analisis masalah aliran melalui rekahan harus dilakukan oleh seorang ahli yang
berpengalaman.
Dalam bentuk yang sederhana, aliran rekahan dapat didekati sebagai aliran melalui
bidang lempeng yang paralel. Penelitian aliran melalui lempeng paralel tersebut
menghasilkan suatu persamaan untuk menentukan konduktivitas hidraulis dari suatu
rekahan. Konduktivitas hidraulis dari suatu rekahan (kf) adalah sebagai berikut :
kf = g a
12f

Diamana :
a = ukuran rekahan
= kekentalan cairan
f = faktor kekasaran rekahan (friksi)
= kerapatan cairan
g = gravitasi
Debit aliran yang melalui rekahan (Q) adalah tergantung dari gradien hidraulis,
konduktivitas rekahan dan luas penampang bagian yang tegak lurus aliran yang
ditunjukkan oleh persamaan berikut di bawah :
Q = VA
Dimana :
V = kfi ( v adalah kecepatan aliran dan i adalah gradien hidarulik)
A = La ( L adalah panjang rekahan, a adalah lebar dan A luas penampang rekahan).
Dalam dimensi metrik (m3), persamaan tersebut menjadi :
Q=giLa
12f

58

Kekasaran permukaan kekar dan sinusitis alur kekar akan mempengaruhi aliran. Bukaan
kekar ketika dibebani oleh tekanan hidrostatis akan menambah debit aliran yang melalui
kekar-kekar. Bentuk geometri kekar dan pengaruh turbulen akibat aliran yang terpusat
akan mengurangi aliran melalui suatu jaringan kekar. Variasi di dalam material yang
mengisi kekar juga dapat mengurangi aliran. Kekar-kekar tidak tersebar dalam luas yang
tak terbatas dan biasanya mempunyai lebar yang bervariasi.
Pada saat ini ada dua metoda yang digunakan untuk menyederhanakan masalah aliran
melalui rekahan, yakni analisis pemisahan (discrete analysis) dan metoda media homogin
(equivalent homogeneous medium). Analisis discrete digunakan bila kondisi lapangan
memungkinkan untuk menyederhanakan karakter dari sistem kekar. Persamaan aliran
melalui rekahan dapat digunakan dengan mengakomodasi pengaruh kekar-kekar yang
saling memotong, kekasaran kekar dan jaringan geometrinya. Beberapa program model
aliran melalui rekahan yang tersedia di pasar dapat digunakan untuk memecahkan
masalah aliran discrete ini.
Bila jaringan rekahan terlalu kompleks dan luas untuk dijadikan model discrete, hal
tersebut dapat disederhanakan sebagai aliran ekivalen melalui media porus yang
homogin. Jadi, pengujian pemompaan (large-scale pumping test) harus digunakan untuk
menentukan parameter konduktivitas hidraulis rata-rata yang mewakili rekahan massa
batuan yang luas Persamaan standar untuk aliran melalui media porous homogin dapat
digunakan untuk menyelesaikan masalah rembesan tersebut. Hal ini adalah merupakan
suatu asumsi yang digunakan pada rekahan batuan yang seragam pada desain yang
mengandung factor-faktor ketidak tentuan yang tinggi.
5.2.4 Aliran Tidak Jenuh
Aliran air melalui suatu media porous (tanah) yang tidak jenuh telah diteliti dengan
menggunakan persamaan-persamaan yangb berbeda, termasuk persamaan Green-Ampt
dan lain-lainnya. Aliran tak jenuh tidak sering menimbulkan masalah yang mempengaruhi
keamanan bendungan. Informasi lebih jauh mengenai masalah ini diuraikan dalam bukubuku rujukan, antara lain Dynamics of fluids in porous media oleh Jacob Bear,
Grounwater oleh Freeze and Cherry, Groundwater Hidrology oleh Bouwer, dan lainlainnya.
5.3 Informasi Yang Dibutuhkan Untuk Analisis
Validitas dan kualitas dari analisis rembesan tergantung dari informasi yang ersedia
sebagai masukan ke dalam analisis, antara lain meliputi :
a) Lokasi batasan dan alur aliran,
b) Jenis aliraan,
c) Permeabilitas dari berbagai material yang dlalui aliran rembesan.
Masalah-masalah rembesan timbul, karena informasi yang tersedia saat tahap desain dan
konstruksi bendungan sering tidak mencukupi untuk memprediksi rembesan. Untuk itu,

59

diperlukan pengamatan lapangan pasca konstruksi sebagai tambahan informasi dalam


mengatasi masalah rembesan yang timbul.
5.3.1 Kondisi Batas
Kondisi batas (boundary conditions) ini menentukan batas dan kondisi aliran dari
penampang yang dianalisis. Daerah batas mencakup lapisan fondasi kedap air (tidak
terjadi rembesan), bidang masuknya aliran dan bidang keluaran rembesan, termasuk
penentuan rembesan bersifat tetap atau sementara (transient).
Kondisi dan lokasi daerah batas tersebut ditentukan oleh :
a)
b)
c)
d)

Investigasi lapangan dan geologi lapangan,


Asumsi berdasarkan engineering judgment,
Kondisi yang diingikan desain dan jenis struktur,
Geometri bendungan.

Dalam banyak kasus, diperlukan simplifikasi asumsi untuk menentukan kondisi batas.
Beberapa kondisi batas tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah.

60

Gambar 5.3 Kondisi-kondiasi batas


Bidang kontak antara media pervious yang jenuh dengan material di dekatnya berupa
tanah atau beton yang mempunyai koefisien permeabilitas rendah dianggap sebagai
kondisi batas yang kedap air dan diasumsikan bahwa aliran rembesan tidak dapat
menembus lapisan ini, sehingga aliran yang melalui lapisan yang porous di dekatnya
adalah sejajar dengan daerah batas tersebut. Garis-garis AB dan 1-8 pada gambar 5.3A di
atas adalah merupakan daerah batas.
Garis-garis yang menentukan dimana air masuk atau keluar dari massa yang porous
disebut sebagai daerah pemasukan (entrance) dan daerah keluaran (exit). Di sepanjang
garis-garis ini (garis-garis 0-1 dan 8-G di Gambar 5.3A serta garis-garis AD dan BE di
Gambar 5.3B adalah merupakan garis-garis potensial (mempunyai level pisometrik yang
sama). Aliran tegak lurus bidang pemasukan atau keluaran.
Massa pervious yang jenuh juga mempunyai suatu daerah kondisi batas yang
berhubungan dengan atmosfir dan air keluar di sepanjang bidang tersebut, seperti garis
GE di Gambar 5.3B. Tekanan di sepanjang bidang ini adalah sama dengan tekanan
atmosfir. Bidang ini disebut muka aliran atau bidang rembesan.
Garis DG Gambar 5.3B adalah garis yang terletak di antara massa pervious dimana air
pada tekanan atmosfir. Garis ini disebut sebagai garis freatik atau permukaan bebas (free
surface). Material di bawah garis freatik adalah dalam kondisi jenuh. Diasumsikan bahwa
tidak ada aliran yang memotong permukaan freatik, jadi aliran dalam massa porous di
dekatnya sejajar dengan garis freatik. Pada daerah batas kedap air serta pemasukan dan
keluaran, lokasi muka fraetik tidak diketahui, sampai distribusi aliran di dalam hassa
pervious diketahui.
Gambar 5.3 di atas juga menunjukkan 2 kasus umum rembesan, yakni aliran bebas
(confined flow) Gambar 5.3A terjadi di dalam suatu massa pervious jenuh di bawah suatu
bendungan beton yang tidak mempunyai gais freatik. Aliran tertekan (unconfined flow)
Gambar 5.3B terjadi bila massa tanah pervious mempunyai suatu garis freatik. Aliran
bebas mempunyai semua daerah batas yang pasti. Pada aliran tertekan, permukaan
rembesan dan garis freatik harus ditentukan dengan analisis (atau dari pengamatan
lapangan).
5.3.2 Jenis Aliran
Seperti dijelaskan, hukum Darcy dan koefisien permeabilitas Darcy (k) hanya berlaku
untuk aliran laminer melalui media tanah yang porous. Untuk kerikil berbutir kasar dan
batu yang mempunyai alur aliran yang besar, aliran akan bersifat turbulen, kecepatan
aliran tidak proporsional denga gradien hidraulis dan hukum Darcy tidak berlaku. Masalah
aliran turbulen ini dibahas lebih rinci dalam buku rujukan Cedergrens Seepage, Drainage
and Flownets and the US Army Corps of Engineers Manual Seepage Analysis and Control
for Dams.

61

5.3.3 Permeabilitas
Tabel di bawah adalah beberapa variasi koefisien permeabilitas dari tanah.
TABEL 5.1 Variability Of Permeability Compared With Other Typical Engineering
Properties Of Soil Or Rock
Property Typical Range of Values
Soil Permeability 0.000001 100,000 ft/day
Soil Grain Sizes 0.0001 300 mm
Rock and Soil Strength .01 35,000 lb/in2
Unit Weights of Rock and Soil 80 185 lb/ft3
Tanah yang akan dianalisis adalah bersifat homogin, sehingga tanah yang berlapis-lapis
(stratification) atau batuan yang mengalami perubahan geologi akan berpengaruh
terhadap kondisi rembesan, seperti contoh di bawah:
a) Endapan tanah alluvial selalu bersifat berlapis-lapis (stratified) sampai kedalaman
tertentu, dan bahkan fondasi pasir yang kelihatannya homogin mempunyai koefisien
permeabilitas arh horisontal beberapa kali lebih besar dibandingkan permeabilitas
vertikal.
b) Koefisien permeabilitas batuan intact (solid) umumnya rendah, tetapi permeabilitas
massa batuan yang sama dapat lebih tinggi, karena permeabilitas batuan massa
dikontrol oleh diskontinyuitas massa, seperti bedding plane, kekar, sesar dan zona
geser (shear zone).
c) Permeabilitas massa batuan yang mudah larut dapat berubah dengan cepat dengan
waktu, karena terjadinya larutan aktif akibat rembesan yang sedang berlangsung atau
akibat rembesan yang menggerus material pengisi yang lunak yang biasanya terdapat
di dalam alur pelarut yang ada.
d) Timbunan yang kelihatannya homogin mempunyai permeabilitas arah horisontal yang
besarnya antara 4 9 kali permeabilitas vertical, karena timbunan dipadatkan lapis
demi lapis arah horisontal.
e) Permeabilitas diasumsikan tidak menimbulkan masalah yang potensial, karena massa
timbunan tahan terhadap retakan dan erosi internal.
Faktor-faktor yang mempengaruhi permeabilitas pada analisis rembesan bendungan,
adalah sebagai berikut :
a)
b)
c)
d)

Derajat penjenuhan media porous,


Ukuran butir dan bentuknya (bundar atau bersudut),
Berat si tanah,
Pengaturan butiran atau struktur; termasuk stratifikasi, floculated structure dalam
lempung, lanau dan pasir halus yang porous, collapsible soil seperti loess,
e) Gradasi ukuran butir; pasir atau kerikil bergradasi buruk (seragam) jauh lebih pervious
dibandingkan yang bergradasi baik pada ukuran D50 yang sama. Banyak dan jenis

62

butiran halus (lulus saringan no.200) sangat mempengaruhi permeabilitasnya. Suatu


persentase kecil butiran halus dapat membuat pasir dan kerikil yang bergradasi baik
menjadi kedap air secara efektif.
Ada beberapa metoda untuk menentukan permeabilitas yang diklasifikasikan sebagai
metoda empiris, laboratorium dan metoda lapangan.
Metoda Empiris
Metoda tidak langsung sering digunakan untuk analisis awal, bila data lapangan cukup
teliti. Metoda ini berdasarkan korelasi antara pereabilitas dan ukuran butiran yang
dikenalkan oleh Hanzen untuk pasir filter yang seragam dan bersih :
k = 100(D10)2
dimana k dalam cm/s dan D10 adalah ukuran bukaan dalam cm dimana 10% lolos
saringan. Contoh lain adalah persamanan permeabilitas oleh NRCS untuk pasir dan kerikil
yang relative bersih :
k = 992(D15)2
dimana k dalam ft/hari dan D15 adalah ukuran bukaan dalam cm dimana 15% lolos
saringan.
5.3.4 Berdasarkan Pengamatan
Gunakan hasil pengamatan seperti yang disarankan pada Unit III untuk melakukan
evaluasi terhadap rembesan dan bila perlu hasilnya dapat digunakan untuk tindak
perbaikannya atau digunakan untuk melakukan analisis. Untuk itu, lakukan selalu evaluasi
terhadap masalah dan solusinya untuk berbagai parameter-parameter yang potensial
dapat digunakan.
Pada banyak kasus, masalah rembesan cukup sederhana dan evaluasi terhadap data
pengamatan cukup untuk menyelesaikannya. Contohnya adalah tekanan angkat yang
bekerja di bawah bendungan beton gravity. Bila tekanan angkat yang diukur dengan
pisometer meningkat terus terhadap waktu pada muka air waduk yang tetap, sementara
rembesan terus berkurang, menunjukkan bahwa drainase fondasi tidak bekerja secara
efisien dan harus dipersihkan atau dibor kembali. Contoh lain adalah masalah rembesan
yang diamati saat pengisian awal waduk melalui sumur-sumur pelepas tekanan berjarak
setiap 100 ft di sepanjang kaki bendungan yang fondasinya porous. Pengamatan
menunjukkan bahwa tekanan pisometer lebih tinggi dai desain dan didihan kecil tampak di
dalam saluran pengumpul. Masalahnya adalah bahwa sumur-sumur pelepas tekanan
tersebut dipasang terlalu jarang =; solusinya adalah dengan menambahkan sumur-sumur
pelepas diantaranya.

63

Pada kasus lain, gunakan pengamatan sebagai data masukan untuk berbagai metoda
analisis rembesan. Semua metoda memerlukan asumsi yang nalar untuk kondisi batas
dan sifat teknik materialnya; hasil pengamatan adalah merupakan sumber informasi
terbaik untuk merubah kondisi batas atau untuk menentukan alur aliran melalui lapisan
fondasi berlapis-lapis yang kompleks.
Satu contoh adalah menempatkan garis freatik dan permukaan rembesan di dalam
timbunan bendungan. Dalam desain, rasio permeabilitas vertical terhadap horisontal
mungkin salah taksir. Setelah beberapa tahun operasi, pengamatan visual dan pisometer
dapat mengoreksi lebih teliti posisi garis freatik. Model analisis rembesan menggunakan
FEM dapat dikalibrasi dan dikoreksi menggunakan tekanan-tekanan pisometer yang
diperoleh secara aktual pada lokasi grid elemennya.
Setelah masalah rembesan diklarifikasi dan telah dibuatkan proposalnya, kadang-kadang
informasi masih diperlukan untuk desain dan konstruksi selanjutnya. Pertimbangan ke
depan saat investigasi akan dapat meminimalkan waktu yang terbuang dalam tindak
perbaikannya.
5.4 Metoda Analitis
Berbagai metoda analisis rembesan dengan metoda pengamatan dijelaskan secara
singkat di bawah.
5.4.1 Penyelesaian Persamaan Laplace Dan Hukum Darcy
Penyelesaian terhadap kondisi steady seepage, aliran laminar berdasarkan persamaan
Laplace dan Darcy. Beberapa cara telah dikembangkan untuk menyelesaikan persamaanpersamaan tersebut untuk berbagai kasus rembesan yang diringkas di bawah.

64

5.4.2 Penyelesaian Matematis


Penyelesaian matematis persamaan Laplace telah lama dilakukan dan disederhanakan
untuk aliran ke dalam sumuran (well) dari sumber yang radial. Ada berbagai pendekatan
dengan menggunakan variabel yang kompleks, berbagai transformasi dan teknik
pemetaan, cara fragmentasi, dll sebagai penyelesaian masalah yang bervariasi. Pada
umumnya, cara-cara tersebut cukup kompleks. Namun, banyak masalah dan solusinya
telah dibuatkan berupa plot dan grafik, bila ada, yang dapat menemukan solusinya dengan
cepat.
Gambar di bawah adalah plot solusi yang dapat digunakan untuk menentukan aliran di
bawah suatu weir beton pada lapisan fondasi yang pervious dengan kedalaman terbatas
menggunakan cutoff sebagian (partially penetrating cutoff).
Gambar 5.4 Struktur kedap dengan cutoff sebagian xxxxxx
5.4.3 Penyelesaian Numerik Dengan Komputer
Model komputer digunakan untuk menyelesaikan persamaan Laplace untuk aliran yang
kompleks. Dua metoda utama dari model numerik tersebut adalah fine difference dan
finite element method. Keduanya dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah
rembesan 2-D dan 3-D. Masalah rembesan yang sederhana dapat diselesaikan dengan
menggunakan tangan/manual, tetapi masalah yang lebih rumit dapat diselesaikan dengan
bantuan komputer. Kedua cara di atas menggunakan sistem grid untuk membagi-bagi
daerah aliran ke dalam elemen terpisah (discrete element). Elemen yang saling
berpotongan disebut node.
Pada sistem lain, suatu seri persamaan aljabar digunakan untuk menyelesaikan
persamaan Laplace. Pada FEM, bila grid terdiri dari N elemen, terdapat N persamaan
denag N yang tak diketahui yang harus diselesaikan. Keuntungan dari cara numerik ini
adalah :

a) Masalah rembesan 2-D dan 3-D, termasuk perlapisan dan sifat stratifikasi dan
kantung-kantung material dapat dimodelkan.
b) Pada zona dimana gradien rembesan atau kecepatannya tinggi, dapat dimodel lebih
teliti dengan menggunakan berbagai ukuran elemen.
c) Tidak diperlukan transformasi dimensi atau properti.
d) Hasil dapat dicetak dalam digital untuk memudahkan plotting flownet.
e) Berbagai program mempunyai opsi-opsi dan kapasitas untuk perhitungan gaya-gaya
rembesan dan mengatasi aliran transient dan ketergantungan waktu serta berbagai
penjenuhan.
Gambar di bawah menggambarkan model finite element suatu timbunan di atas fondasi
yang pervoius yang dilengkapi dengan toe drain dan sumur-sumur pelepas tekanan.

65

Gambar 5.5 Model sumur-sumur pelepas tekanan.xxxx


Penggunaan metoda numerikal komputer dapat mempercepat perhitungan dan saat ini
banyak digunakan di banyak negara. Validitas hasil komputer tergantung dari ketelitian
dan kualitas data masukan dan pengetahuan dari pengguna komputer sendiri. Model
numerikal harus dikalibrasi terhadap kondisi lapangan untuk memastikan sesuai dengan
kondisi aktual lapangan. Saat proses kalibrasi, parameter permeabilitas diperlukan untuk
memperoleh hasil yang sesuai dengan kondisi lapangan. Pengaturan nilai permeabilitas
ini harus reasonable atau model akan salah. Pemeriksaan lain terhadap ketelitian model
adalah dengan keseimbangan massa (mass balance), yakni massa aliran dalam kondisi
batas model versus aliran keluar.
5.4.4 Penggambaran Flownet Secara Grafis
Kemampuan dalam menggambar flownet berdasarkan dari praktek dan hasil akhir flownwt
yang telah diperbaiki (cara coba-coba). Meskipun penggambaran flownet dilakukan sevara
kasar, namun masih dapat menghasilkan estimasi debit embesan yang masuk akal.
Upaya yang lebih teliti dilakukan untuk menentukan gradien keluaran (exit gradient) yang
cukup teliti. Hal ini memerlukan pengetahuan dasar flownet dan analis rembesan.
Flownet adalah salah satu metoda yang sangat bermanfaat untuk menyelesaikan
persamaan Laplace. Bila kondisi batas dan geometri daerah aliran diketahui dalam 2-D,
dari flownet dapat diperoleh tekanan dan debit aliran. Suatu flownet adalah merupakan 2
garis atau kurva yang saling berpotongan saling tegak lurus (orthogonal). Satu set
merupakan alur aliran (flowlines) melalui media porous dan lainnya yang tegak lurus garis
aliran adalah menunjukkan lokasi titik-titik yang mempunyai tekanan pisometrik yang sama
(equipotential lines).

66

Gambar 5.6 Flownet dari sheetpiles pada lapisan yang porous


Untuk menggambar suatu flownet, beberapa sifat yang harus diasumsi, adalah :
a)
b)
c)
d)

Geometri media porous.


Kondisi batas.
Asumsi yang diperlukan untuk menyelesaikan persamaan Laplace
Kondisi permeabilitas yang anisotropis.

Flownwt dapat digambarkan untuk kondisi-kondisi aliran bebas dan aliran tertekan, untuk
kondisi permeabilitas anisotropis, aliran transien dan penempang komposit, seperti fondasi
yang berlapis-lapis (stratifikasi) dan bendungan jenis zonal. Flownet juga menggambarkan
distribusi tekanan-tekanandan arah aliran. Berdasarkan pengetahuan mengenai tekanan
hidraulik dan permeabilitas media yang porous, flownet dapat memberikan informasi
penting mengenai stabilitas dan debit rembesan, gradien keluaran, gaya-gaya rembesan
dan tekanan-tekanan angkat yang bekerja di dasar bangunan. Seperti contoh pada
Gambar 36, debit rembesan adalah :
q = Kh Nf = Kh 4 = Kh
Nd
8
2
5.4.5 Penggambaran Garis Freatik Secara Grafis
Penggambaran garis freatik secara grafis dapat dilakukan berdasarkan cara Cassagrande,
seperti dijelaskan pada lampiran. Prediksi lokasi muka air freatik melalui suatu timbunan
dapat banyak membantu dalam hal menentukan lokasi rembesan.
5.5 Implementasi Analisis Rembesan

67

Kapan dan dimana menggunakan setiap metoda analisis adalah merupakan hal enting
yang harus diperhatikan. Kadang-kadang, inspeksi visual yang dilakukan cukup baik untuk
menilai suatu kondisi rembesan; pada kasus lain mungkin memerlukan analisis yang lebih
rinci.
5.5.1 Penggunaan Metoda Analisis
Beberapa pertimbangan umum dalam hal memilih metoda analisis, adalah :
a)
b)
c)
d)
e)

Masalah penting dari sejarah bendungan yang harus dipertimbangkan.


Seberapa kompleks masalah yang dihadapi.
Informasi yang tersedia.
Informasi lain yang diperlukan dan pengaruh beayanya.
Pentingnya masalah atau waktu yang diperlukan untuk analisis rinci.

Tabel di bawah adalah contoh petunjuk penggunaan beberapa metoda analisis rembesan.

Tabel 5.2 Petunjuk penggunaan beberapa metoda analisis rembesan.


Situasi
Timbunan homogin, fondasi
kedap air, kondisi steady 2-D

Investigasi Tipikal
Muka air freatik, tekanan
air pori, gaya rembesan
(stabilitas)

Timbunan zonal, fondasi


kedap air, kondisi steady 2-D

Muka air freatik, tekanan


Flownet or numerical model
air pori, gaya rembesan
(stabilitas)
Muka air freatik, tekanan
air pori, gaya rembesan Flownet
(stabilitas)

Timbunan homogin, fondasi


porius seragam, kondisi
steady 2-D

Gradien keluaran,
rembesan

Timbunan zonal, fondasi


porous, kondisi steady 2-D

Metoda Analisis
Cassagrande grafis atau
flownet

debit Metoda fragment (Lampiran


B,)

Alternatif kontrol
rembesan, variasi sifat
material

Model numerik

Sama dengan di atas

Model numerik

68

Melibatkan relief wells,


fondasi heterogin, kuasi 3-D,
kondisi steady

Muka air freatik,


tekanan air pori,
gradient keluaran, debit
rembesan, alternative
control rembesan,
variasi sifat material,
spasi relief well dan
aliran

Melibatkan relief wells,


fondasi seragam, kuasi 3-D,
kondisi steady

Spasi
relief
wells, Persamaan di Lampiran B
pengurangan tekanan dan
aliran

Tumpuan pervious, Kondisi


steady 3-D

Muka air
rembesan

Fondasi dan tumpuan


pervious heterogin, kondisi
steady 3-D

Muka air freatik, debit Model numerik


rembesan,
gradien
keluaran, material dan
alternatif kontrol rembesan

Aliran transient 2-D,


kondisi batas steady

Penjenuhan, waktu untuk Flownet transien


mencapai kondisi steady

Situasi 2-D aliran nonsteady,


zona jenuh/tak jenuh atau
timbunan homogin, fondasi
heterogin, kondisi batas
transient, kondisi transient 2D

Pengisisan pertama, siklus


banjir, siklus operasi, kadar
air dan perubahan tek air
pori, pengaruh presipitasi
dan evaporasi

freatik,

Model numerik

debit Flownet

Model
numerik
(lihat
Groundwater
modelling,
Herbert F., Anderson, Mary
P)

Tidak semua situasi yang timbul di lapangan dicakup oleh tabel di atas. Diperlukan suatu
engineering judgment dan advis seorang spesialis, jika diperlukan. Pada umumnya,
metoda analitis digunakan untuk desain. Begitu bendungan dikonstruksi, pengamatan
menjadi sangat penting dan dapat memberikan informasi penting bila terjadi masalah.
Pengamatan lapangan adalah merupakan kondisi sebenarnya dibandingkan asumsi
desain yang mungkin saja salah. Sebagai konsekuensinya, dalam hal mengatasi masalah
rembesan, pemilihan metoda pengamatan atau metoda analitis harus berdasarkan
masukan-masukan dari hasil pengamatan.

69

Pada banyak kasus, sangat logis untuk memulai dengan metoda yang paling sederhana
dan murah dan berlanjut ke metoda yang lebih kompleks dan mahal, namun lebih teliti
sesuai dengan masalah yang dihadapi. Dalam analisis rembesan, ketelitian yang tepat
jarang diperoleh dan konsekuensinya kebanyakan tindak perbaikannya didesain
konservatif. Sebagai contoh, bila rembesan minor yang dangkal timbul di sepanjang kaki
bendungan, tidak perlu didesain sumur-sumur pelepas tekanan yang dalam, suatu sistem
toe drain dangkal yang didesain berdasarkan pengamatan rembesan dan tidak
memerlukan analisis FEM, mungkin cukup sebagai tindak perbaikannya.
Bila waktu tidak menjadikan kendala, suatu kajian cepat terhadap informasi yang tersedia
dan suatu analisis berdasarkan pengalaman dapat dilakukan.
Sebagai pertimbangan terakhir, tidak ada analisis yang lebih baik dibandingkan masukanmasukan yang cukup dan berkualitas terhadap sifat teknis dan kondisi batas. Bila
informasi sangat terbatas, sketsa sederhana flownet dapat digunakan berdasarkan asumsi
yang juga masih kasar. Sebagai tambahan, biaya tindak perbaikan yang konservatif jarang
lebih kecil dibandingkan biaya perbaikan berdasarkan analisis rinci dari hasil investigasi.
5.5.2 Analisis
Masalah dan analisis rembesan umumnya berdasarkan judgment dari ahli-ahli geoteknik
dan geologi teknik yang berpengalaman. Pengalaman dan pengetahuan mengenai factorfaktor geologis, prinsip-prinsip desain dan prinsip-prinsip aliran fluida melalui media porous
adalah lebih kritis dibandingkan metoda analisis itu sendiri. Sebagai konsekuensinya,
untuk melakukan kajian-kajian harus dilakukan oleh ahli-ahli yangb berpengalaman di
bidangnya masing-masing.
5.5.3 Hasil Aplikasi
Tujuan analisis rembesan adalah untuk menentukan serius tidaknya suatu masalah yang
diamati yang dapat menimbulkan suatu resiko dan untuk mengembangkan tindak
perbaikan yang ekonomis. Filosofi keamanan bendungan terkini umumnya dihadapkan
pada idea bahwa rembesan harus dikontrol dengan penghalang untuk memastikan
keamanannya.
Penjelasan berikut meliputi masalah tindak perbaikan yang harus didesain secara rasional
yang bervariasi mulai dari aplikasi sederhana hokum Darcy hingga model numerik
computer yang kompleks. Pemilihan pendekatan yang terbaik adalah berdasarkan
pengalaman berdasarkan kondisi lapangan dan masalah yang dihadapi. Pada umumnya,
sebagai akibat dari masalah yang dihadapi dan biaya yang meningkat, mungkin
memerlukan investigasi dan analisis desain yang canggih. Meskipun demikian, data yang
akurat dari sumber yang ada atau tambahan penyelidikan adalah lebih penting
dibandingkan analisis yang canggih tersebut di atas.

70

VI. TINDAK / PELAKSANAAN PERBAIKAN


Begitu rembesan dievaluasi dan menunjukkan kondisi yang serius, tindakan perbaikan
harus segera ditentukan. Bila kondisinya tidak serius, diperlukan pengukuran rembesan
mengenai perubahan debit rembesan dan terbawanya butiran tanah. Meskipun demikian,
dalam situasi yang rembesannya serius bahkan berkembang menjadi darurat, harus
dilakukan tindak perbaikannya.
6.1 Pertimbangan Umum
Berdasarkan pengalaman dan sejarah dari kegagalan bendungan yang pernah terjadi
akibat tidak terkendalinya rembesan, kecenderungan saat ini dari desain awal dan tindak
perbaikan rembesan adalah melengkapi dengan penghalang. Kecenderungan ini
berdasarkan dari meningkatnya kewaspadaan terhadap kondisi disekeliling dan
perubahan kondisi dan kerusakan yang tersembunyi dari bendungan dan fondasinya tidak
terlihat selama beberapa tahun. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan, adalah :
a)
b)
c)

d)
e)
f)
g)

Tidak terdeteksinya anomali geologis di lapangan,


Kesalahan desain dan konstruksi yang tersembunyi,
Kejadian kegempaan dan cuaca yang tak terduga,
Kerusakan satu atau lebih dari sistem kontrol rembesan,
Perubahan tujuan proyek dan operasi waduk,
Perubahan resiko di daerah hilir,
Pengalaman-pengalaman pada jenis bendungan lain lain yang serupa.

71

Tindak pengendalian/kontrol rembesan dapat dikategorikan sebagai penghalang


rembesan atau pengendalian drainase. Tujuan dari penghalang rembesan adalah untuk
mengurangi gradien hidraulik yang menyebabkan terjadinya rembesan, sedangkan tujuan
dari keluaran dan pengendalian rembesan adalah untuk menghasilkan debit rembesan
yang aman. Penghalang embesan jarang yang sempurna dan keluaran atau pengendalian
rembesan mungkin meningkatkan aliran rembesan. Pada kebanyakan kasus, penghalang
air dan lapisan filter/transisi digunakan secara bersamaan. Sebagai contoh, suatu grouting
tirai di bawah bendungan beton graviti selalu diikuti dengan lubang-lubang drain yang
ditempatkan di hilir tirai grouting.
Tidak pengendalian rembesan biasanya didesain cukup konservatif, karena analisis
rembesan jarang yang teliti. Perkiraan volume aliran mungkin berbeda pada suatu orde
atau lebih. Desain jarang mencapai suatu faktor keamanan 2 untuk debit aliran.
Ingat, dalam desain tindak perbaikan, terjadi perubahan yang berlanjut sebagai kasus
baru yang dipublikasikan dan kondisi state of the-art, antara lain meliputi :
a)
Penggunana geotekstil (geofilter dan geomembrane) dalam perbaikan,
b)
Perkembangan teknik pemasangan dinding halang beton melalui timbunan dan
fondasinya,
c)
Perkembangan teknik grouting dan materialnya, seperti penggunaan peningkatan
tekanan, kontrol dengan komputer dan semen sangat halus ditambah bahan tambahan
pencampur grout,
d)
Sistem monitoring otomatis.

6.2 Tindak Perbaikan Rembesan Darurat Dan Sementara


Bencana akibat keruntuhan suatu bendungan terjadi, bila air waduk tiba-tiba meruntuhkan
bendungan dan menimbulkan banjir dahsyat di hilirnya. Suatu kejadian yang mendadak
dari keruntuhan bendungan yang tak terduga, umumnya tidak akan terjadi, apabila :
a)
b)
c)
d)

Bendungan didesain, dikonstruksi dan dipelihara secara benar,


Dilakukan inspeksi rutin oleh ahli yang berpengalaman,
Dipasang instrumentasi yang cukup, kemudian dimonitor dan dievaluasi,
Perbaikan dengan orientasi keamanan bendungan dibuat berdasarkan kondisi
lapangan yang terjadi.

Meskipun demikian, pada kebanyakan kasus, tidak semua kondisi di atas dilakukan dan
akan menjadi keperluan untuk melakukan tindak darurat dalam melakukan upaya untuk
mencegah terjadinya keruntuhan.
Pada situasi darurat, berbagai ahli mungkin terlibat dalam proses penentuan keputusan.
Keputusan harus dibuat dengan cepat berdasarkan masukan dari ahli yang sangat
berpengalaman. Untuk itu, disarankan untuk merencanakan bentuk dan cara dari
penentuan keputusan tersebut. Bab ini menguraikan berbagai kondisi rembesan darurat
yang dapat dideteksi dan beberapa tindak perbaikan untuk mengatasi kondisi yang kurang
baik. Pada umumnya, metoda tindak perbaikan yang dipilih tergantung dari waktu yang

72

diperlukan untuk implementasi, material yang tersedia, pengerjaannya dan biayanya. Jadi,
setiap metoda tidak selalu sesuai dan cocok untuk masalah tertentu.
6.2.1 Tanda Kerusakan Dan Perbaikannya
Ada 4 pola utama kegagalan bendungan akibat dari rembesan yang tidak terkendali, yakni
:
a) Piping,
b) Erosi internal,
c) Batuan yang mudah terlarut,
d) Instabilitas (sliding, uplift), akibat tekanan rembesan.
Biasanya, piping berkaitan dengan kondisi yang diamati, seperti air rembesan yang keruh,
lubang-lubang benam dan pasir didih. Hal yang sangat serius adalah erosi internal atau
piping yang terjadi di dalam bendungan dan fondasinya yang gejala dan tanda-tanfdanya
sering tidak terlihat sampai terjadinya keruntuhan. Pusaran air di permukaan waduk atau
lubang benam di permukaan adalah merupakan tanda-tanda telah terjadinya piping atau
erosi internal yang telah berlangsung secara cepat dan progresif.
Terlarutnya batuan yang mudah larut dapat berlangsung sejak lama dan bila lubang
benam atau tangda lain tampak, tindak perbaikan yang cepat diperlukan untuk mencegah
terjadinya bahaya keruntuhan lebih lanjut.
Masalah yang berkaitan dengan tekanan-rembesan biasanya berhubungan dengan
berkurangnya kuat geser dan tanda-tanda ketidak stabilan, antara lain daerah basah,
lunak, banyak tumbuh-tumbuhan hijau atau daerah lunak pada lereng timbunan dekat kaki
bendungan, penggelembungan permukaan, retakan, longsoran yang semuanya itu
mengindikasikan ketidak stabilan lereng. Inspeksi lapangan yang kerap serta kajian dan
analisis terhadap data instrumen dapat berguna dalam mendeteksi kondisi rembesan
secara dini yang dapat memicu terjadinya keruntuhan.
Tidak semua tanda-tanda kerusakan tersebut di atas akan mengakibatkan terjadinya
keruntuhan secara cepat. Namun, banyak tanda-tanda yang tidak siknifikan, bila tidak
dilakukan koreksi, dapat memperparah kerusakan sampai ke tingkat kritis dan
memerlukan tindak darurat. Umumnya, terdapat 2 prosedur utama untuk mengurangi
masalah rembesan, yakni :
a) Mengurangi tinggi tekanan hidraulik dan tekanan angkat yang menyebabkan timbulnya
masalah (air waduk diturunkan),
b) Mengendalikan keluaran dari rembesan (exit gradient).
1). Mengurangi Tinggi Tekanan dan Tekanan Angkat
Satu diantara pertimbangan pertama dalam situasi darurat adalah menurunkan muka air
waduk untuk menghentikan atau mengurangi pengaruh rembesan. Penurunan muka air
waduk akan mengurangi tinggi tekanan hidraulik dan tekanan angkat. Dengan alasan ini,

73

bangunan outlet dan bangunan kontrol lainnya harus selalu dan siap dioperasikan setiap
saat. Cara praktis adalah dengan mempertimbangkan keperluan untuk menurunkan muka
air waduk dengan menyesuaikan kapasitas fasilitas pengeluaran (outlet). Untuk
bendungan eksisting, kemampuan menurunkan air waduk dan konsekuensi di hilirnya
harus dipertimbangkan. Pada beberapa kasus, pemompaan atau sifon telah digunakan
untuk menurunkan muka air waduk dengan sukses.
Bila air waduk tidak dapat diturunkan dengan cepat melalui outlet atau bangunan control
lainnya, suatu timbunan tanah yang dapat diruntuhkan secara darurat dapat dibuat untuk
mempercepat turunnya muka air waduk. Timbunan tersebut ditempatkan di lokasi yang
dampak kerusakan di hilir paling kecil, akibat keluarnya air waduk. Penting diingat, bahwa
timbunan darurat tersebut adalah cukup berbahaya untuk dioperasikan dan dapat
merembet dan memicu terjadinya keruntuhan terhadap bagian bendungan di dekatnya.
Potensi resiko berkaitan dengan timbunan darurat ini termasuk banjir dan erosi yang tidak
terkendali.
Ketika memutuskan untuk menurunkan muka air waduk, faktor-faktor yang perlu
dipertimbangkan, adalah :
a) Pengaruh keluarnya air terhadap tujuan semula, untuk air baku, pembangkit listrik, dll.
b) Potensi terhadap ketidak stabilan lereng hulu terhadap air surut cepat.
c) Potensi kerusakan atau korban jiwa di daerah hilir, karena debit air keluar yang lebih
besar dari biasanya.
Meskipun demikian, faktor-faktor tersebut mungkin menjadi faktor sekunder bila
keruntuhan akan terjadi dan akan menimbulkan kerugian harta dan korban jiwa yang lebih
besar!

2). Mengendalikan Keluaran Rembesan


Konstruksi karung-karung pasir atau timbunan/tanggul jenis lain dibuat mengelilingi didih
pasir dapat digunakan untuk mengendalikan keluaran rembesan. Tanggul tersebut akan
membentuk kolam air untuk melawan tekanan didih pasir, yang berarti mengurangi
terbawanya material lebih lanjut. Keluaran rembesan sering dapat dikendalikan dengan
konstruksi filter (weighted filter) dengan menempatkan lapisan pasir filter menutup di atas
bagian keluaran rembesan dan di atasnya dilapisi oleh material kasar lainnya yang mudah
terdrainase. Lapisan filter tersebut dapat juga diganti dengan geotekstil. Apabila di
dikatnya dipasang sumur-sumur pelepas tekanan atau pisometer, air di dalam pipa/sumur
dapat dipompa untuk mengurangi tekanan angkat. Tindakan darurat ini harus terus
dimonitor sampai solusi yang permanen dan aman dikonstruksi. Personil, peralatan dan
material filter yang diperlukan harus standby di lapangan, karena keluaran rembesan
tersebut mungkin dapat berpindah ke daerah/lokasi yang tidak diproteksi. Pasir beton
adalah cukup baik untuk material filter/drain untuk tidakan darurat.
6.2.2 Situasi Darurat Dan Tindak Perbaikan

74

Di bawah adalah tanda-tanda kerusakan sehubungan dengan rembesan yang tidak


terkontrol dan potensi tindak perbaikannya. Ingat, bahwa rekomendasi atau tindakan
perbaikan aktual harus mempertimbangkan kondisi spesifik lapangan.
1). Pusaran Air Waduk Dekat Bendungan
Suatu pusaran air adalah merupakan kondisi serious yang dapat diamati, karena
diakibatkan oleh aliran yang melalui suatu lubang/alur besar di dalam atau di bawah
bendungan yang terus membesar sampai bendungan runtuh. Dalam hal ini, sesuai
dengan Rencana Tindak Darurat (RTD) yang telah dilakukan, evekuasi harus segera
dilakukan. Muka air waduk harus segera diturunkan secepat mungkin. Upaya harus untuk
menyumbat lubang pusaran air dengan rip-rap atau batu besar. Apabila upaya
penyumbatan membuat aliran air berkurang, tambahkan batuan yang lebih kecil, seperti
kerikil, pasir dan lain-lainnya. Lokalisir titik keluaran di bagian hilir dan buat suatu tanggul
cincin atau berm filter untuk mencegah terbawanya material lebih lanjut.

Gambar 6.1 Tindakan darurat untuk mengendalikan piping


2). Didih Pasir

75

Aktivitas didih pasir (sand boil) yang serius sangat bervariasi. Apabila butiran tanah
terbawa aliran air yang jernih dengan tidak menunjukkan penambahan aliran dengan
berjalannya waktu, daerah tersebut harus dimonitor dan tindakan perbaikan mungkin tidak
dilakukan, kecuali investigasi dan analisis menunjukkan hal yang sebaliknya.
Apabila kecepatan aliran dari didih pasir meningkat atau melebihi siklus tahunan untuk
muka air waduk yang sama, apabila aliran menjadi keruh, atau bila terjadi penambahan
didih pasir, tutup daerah tersebut dengan karung-karung pasir yang membentuk tanggul
cincin atau pasang berm drainase yang dilengkapi filter dan lakukan penurunan muka air
waduk. Apabila didih pasir bertambah besar, bertambah cepat dan air rembesan keruh,
bendungan dalam kondisi yang kritis dan sewaktu-waktu dapat runtuh. Dengan segera
lakukan evakuasi sesuai dengan RTD yang telah dibuat serta mualailah menurunkan
muka air waduk. Gunakan semua peralatan dan perlengkapannya untuk melakukan
konstruksi suatu tanggul cincin disekeliling daerah didih pasir atau buat berm drainase
yang dilengkapi lapisan filter pada daerah didih pasir.
Lubang-lubang Benam (sinkholes) adalah merupakan bukti dari piping yang aktif dan
muka air waduk harus segera diturunkan.
3). Lubang Benam
Bila terjadi lubang benam di hilir bendungan tanpa indikasi aliran air, daerah tersebut
harus dipantau secara rinci sampai investigasi dan analisis rinci dilakukan dimana
penyebab dan mekanismenya harus diketahui terlebih dahulu. Lubang-lubang benam
adalah suatu tanda/bukti terjadinya piping yang aktif dan muka air waduk harus segera
diturunkan.
Bila lubang benam yang terjadi disertai dengan aliran rembesan atau ukuran lubang
benam membesar, isilah lubang dengan material yang bergradasi baik. Lubang benam
yang terlihat pada lantai waduk atau rim hulu waduk menunjukkan lokasi pemasukan air
ke dalam lubang. Lubang tersebut harus diisi material kedap air untuk menyumbat lubang
masuk dan daerah tersebut harus dipantau dengan hati-hati. Investigasi dan analisis harus
dilakukan untuk menentukan perbaikan yang permanent.
4). Rembesan
Rembesan secara praktis terjadi di setiap bendungan urugan tanah. Lokasi dan deskripsi
cukup bervariasi pada setiap lapangan, sehingga tindak perbaikannya juga bervariasi.
Rembesan tidak selalu mengindikasikan akan terjadinya bahaya keruntuhan bendungan.
Meskipun demikian, semua pengamatan terhadap kondisi rembesan harus diselidiki dan
dianalisis oleh ahli yang berpengalaman. Ingat, kejadian yang tidak siknifikan, bila tidak
dikoreksi kerusakan tersebut dapat berkembang menjadi situasi yang kritis.

6.3 Perbaikan Rembesan Permanen

76

Dalam bab ini, diasumsikan bahwa masalah rembesan dengan bendungan eksisting telah
diidentifikasi, diselidiki, dan memerlukan suatu tipe perbaikan. Juga diasumsikan bahwa
masalah rembesan tidak dengan segera memperbaiki keamanan bendungannya; waktu
cukup tersedia untuk mendesain dan membuat konstruksi perbaikan yang permanent.
Karena sering menimbulkan masalah dalam melakukan analisis rembesan, lokasi yang
teliti dan perbaikan/pengendalian rembesan mungkin sulit ditentukan. Oleh karena itu,
monitoring terhadap tindak perbaikan perlu dilakukan untuk melihat apakah yang
pencapaiannya cukup objektif.
Pada kenyatannya, desain tindakan perbaikan harus cukup fleksibel untuk menerima
perubahan sesuai dengan kondisi aktualnya atau monitoringnya mengindikasikan perlunya
tambahan perbaikan.
Tindakan perbaikan dapat bervariasi dari pemantauan tambahan sampai substansi ekstrim
untuk membangun kembali atau bendungan dinyatakan dimatikan (decommissioning).
Faktor-faktor yang mempengaruhi jenis perbaikan, adalah :
a) Lingkungan geologi/geoteknik,
b) Resiko,
c) Banyak koreksi yang diperlukan,
d) Kelayakan koreksi,
e) Keruntuhan sebelum diperbaiki.
Ketika menentukan tindakan perbaikan, pertimbangkan bagaimana tindakan tersebut
dapat mempengaruhi aspek-aspek lain dari proyek. Sebagai contoh, apakah penggalian
untuk drain, parit halang, atau parit slurry menghasilkan ketidakstabilan?
Berbagai metoda pengendalian rembesan yang digunakan dalam desain dan konstruksi
bendungan baru telah diuraikan dalam Unit II. Kekurangannya dalam bab ini adalah
membahas pertimbangan utama dalam pemilihan tindakan perbaikan untuk bendungan
eksisting. Beberapa alat pengendali rembesan yang dibahas dalam Unit II tidak
diaplikasikan sebagai tindakan perbaikan untuk bendungan eksisting. Sebagai contoh,
adalah tidak praktis dan ekonomis untuk memindahkan suatu bagian besar dari timbunan
eksisting untuk membuat suatu selimut drain horisontal atau miring. Meskipun begitu,
tindak perbaikan lain dapat dihubungkan ke dalam suatu bendungan eksisting. Pemilihan
terhadap alternatif yang benar harus dikerjakan oleh suatu perusahaan yang
berpengalaman dalam perbaikan bendungan dan mempunyai pengetahuan kondisi
spesifik lapangan.
Tindakan perbaikan permanen tersebut, antara lain mencakup :
a)
b)
c)
d)
e)

Pemantauan/monitoring,
Penurunan muka air waduk,
Grouting,
Dinding Halang (beton, bentonit-tanah, dll),
Selimut kedap air hulu,

77

f) Berm hilir,
g) Drainase,
h) Kombinasi diantara cara perbaikan.
Tindak perbaikan yang permanen untuk mengendalikan rembesan harus
mempertimbangkan jenis bendungan, fondasi dan kedua tumpuan sebagai satu kesatuan.
Seperti yang dijalaskan pada tindak perbaikan sementara di atas, contoh-contoh yang
diberikan disini adalah hanya merupakan petunjuk umum saja. Perbaikan aktual yang
dilakukan tergantung dari kondisi spesifik lapangan, sifat fondasi, manfaat air waduk dan
sejarah O&P-nya. Kebanyakan dari perbaikan dapat digunakan untuk bendungan urugan
atau bendungan beton, tergantung dari kondisi spesifik di lapangan.
6.3.1 Pemantauan
Pada umumnya, pementauan rembesan perlu dilakukan dan pada beberapa kasus ditidak
lanjuti dengan perbaikan. Pemantauan rembesan dan tindak pengendalian rembesan
dapat membuat kesimpulan yang rasional dengan biaya yang minimal. Pemantauan yang
termurah dan biasa dilakukan adalah dengan pengamatan dan inspeksi visual terhadap
beberapa variasi interval level muka air waduk. Pembuatan foto dan video secara periodik
terhadap daerah yang mengalami kerusakan dapat menjadi dokumen yang berharga. Bila
nantinya digunakan metoda pemantauan, pengambilan kamera harus pada posisi yang
sama untuk memudahkan interpretasinya.
Apabila tidak dilakukan hal yang sama pada saat konstruksi, direkomendasikan untuk
memasang instrumentasi, antara lain pisometer, sumur pengamatan dan sistem
pengumpul rembesan untuk menentukan pola perilaku rembesan.
Lakukan kajian terhadap basis data untuk mendeteksi terjadinya perubahan rembesan
dan trend-nya dalam jangka panjang. Bila hasil pemantauan menunjukkan potensi bahaya
rembesan, pertimbangkan untuk melakukan perbaikan struktural yang permanen atau
suatu tindakan yang reguler (misalnya, pengaturan batasan muka air waduk).
Bila pemantauan dipilih sebagai tindak perbaikan, harus dipertimbangkan untuk
menggunakan sistem instrumen yang otomatis.
6.3.2 Penurunan Muka Air Waduk
Metoda langsung untuk mengurangi atau menghentikan rembesan adalah dengan
menurunkan muka air waduk dan membatasi level muka air waduk. Penurunan dan
pembatasan muka air waduk tidak dimaksudkan sebagai solusi permanen. Inflow banjir
dapat menyebabkan level air waduk di atas level yang ditentukan dan manfaat waduk
mungkin akan berkurang atau bahkan hilang sama sekali.
Bila alternatif ini yang dipilih, penurunan muka air waduk harus dilakukan dengan hati-hati,
sehingga kecepatan penurunannya tidak mempengaruhi kondisi banjir di hilirnya dan juga
mengurangi resiko lereng hulu terhadap pengaruh surut cepat.

78

6.3.3 Grouting
Grouting, sering kali digunakan sebagai suatu cara pengendalian rembesan yang melalui
batuan yang mudah terlarut. Namun, cara ini juga sering tidak berhasil atau berhasil
sementara, karena alur rembesan berisi lempung residual atau material lain yang mudah
tererosi bila terbebani oleh perubahan gaya-gaya rembesan. Bila satu alur tersumbat oleh
bahan grout, rembesansering mencari jalan lain sekitar sumbat. Oleh karena itu,metoda
lain perlu dipertimbangkan untuk memastikan pengendalian rembesan yang dapat
dipercaya dan permanen untuk batuan yang mudah terlarut tersebut. Metoda
pengendalian rembesan tersebut memerlukan analisis yang seksama berdasarkan kasus
per kasus. Dalam praktek, banyak digunakan tindakan perbaikan positif, seperti dinding
halang beton di as bendungan.
Tekanan grouting menggunakan suatu campuran semen dan air atau material lain adalah
metoda yang sering digunakan untuk memperbaiki fondasi atau tumpuan batuan yang
mengalami masalah rembesan secara serious. Meskipun demikian, pemilihan metoda
tersebut harus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi geologinya. Sebelum
dilakukan grouting, investigasi harus dilakukan untuk menentukan lokasi dan kondisi
rembesan. Investigasi tersebut mencakup antara lain :
1) Pemasangan alat ukur rembesan untuk mengukur debit dan terbawanya butiran
tanahnya,
2) Pemboran dan pengambilan contoh tanah untuk menentukan jenis batuan, kekarkekar serta ukuran retakan dan orientasinya,
3) Melakukan uji pemompaan atau pressure test di dalam lubang bor untuk memperoleh
data permeabilitas yang akurat,
4) Pemasangan dan pemantauan pisometer atau sumur pantau untuk mengukur muka air
tanah dan tekanannya,
5) Menggunakan zat pewarna yang ditaburkan di waduk atau lubang-lubang bor untuk
mengetahui alur rembesan,
6) Menggunakan pengujian geofisik untuk menentukan properti material dan pola aliran,
7) Melakukan grouting test untuk menentukan banyak bahan grout, campuran grout,
tekanannya dan waktu settling-nya.
Apabila perbaikan dengan grouting layak, investigasi akan membantu untuk menentukan
jenis campuran grout yang sesuai dengan kondisi lapangan. Jenis grout terdiri dari massa
yang melayang di dalam air (suspended solid), seperti semen, bentonit atau grout kimia.
Karena batasan grout semen yang dapat masuk ke dalam ruang kekar atau retakan yang
kecil atau tanah yang bergradasi halus sedang, dapat digunakan semen yang sangat
halus atau grout kimia, meskipun sangat mahal. Ketika menggunakan grout semen,
komposisi kimia air rembesan dan pengaruhnya terhadap jenis yang digunakan harus
dipertimbangkan. Sebagai contoh, air yang mengandung sulfat akan merusak semen
biasa dan tirai groutng akan mengalami kerusakan pula.

79

Ada banyak jenis material grout kimia yang berbeda-beda; pilihlah jenisnya berdasarkan
sifat material yang akan digrout, seperti permeabilitas, ukuran pori-pori, kontinuitas pori
dan pengaruhnya terhadap lingkungan sekitarnya.
Karena banyaknya variabel dalam grouting, konsultasi dengan ahlinya akan sangat
bermanfaat. Sebagai contoh, tekanan yang berlebihan dapat merusakkan fondasi
bendungan. Kemungkinan rusaknya meliputi tersumbatnya drain atau membuat retaknya
zona inti atau daerah kedap air lainnya dari bendungan, fondasi atau kedua tumpuan.
Ketika grouting melawan tekanan air waduk, grout mungkin akan mengalir ke arah hilir
yang dapat menyumbat bagian keluaran dan menyebabkan tingginya tekanan angkat.
Pemboran di dalam atau melalui suatu timbunan menggunakan tekanan berlebihan juga
akan menghasilkan rekah hidraulis (hydraulic fracturing) yang meningkatkan resiko
terjadinya erosi internal. Plotkan selalu suatu profil grout takes untuk melokalisasi zona
yang lebih lulus air untuk dilakukan grouting tambahan.
Pada banyak kasus, instrumentasi tambahan harus dilakukan untuk memantau perubahan
dan untuk menganalisis efektivitas grouting. Pemboran setelah grouting dan pengujian
diperlukan untuk menentukan bahwa grouting telah masuk menyebar keseluruh bagian
yang diinginkan dan water losses telah dikurangi dari nilai sebelum grouting. Tirai
grouting mungkin tidak permanen, terutama pada batuan yang mudah terlarut dimana
pelarutan atau penggerusan material pengisi di dalam alur yang terlarut dapat membuat
air mem-bypass tirai. Pertimbangan biaya yang permanen terhadap perbaikan ketika
melakukan pemilihan teknik perbaikan menggunakan grouting. Pemantauan secara terus
menerus terhadap efektivitas grouting perlu dilakukan untuk mengetahui kinerja grouting.
6.3.4 Dinding Halang
Dinding halang (cutoff wall) adalah suatu metoda unik yang cocok untuk memperbaiki
rembesan melalui suatu bendungan eksisting. Dinding halang ini dapat diperdalam untuk
memperbaiki masalah rembesan di fondasi dan tumpuan. Meskipun demikian, dinding
halang sangat mahal dan biasanya dipilih sebagai pertimbangan terakhir.
Perlu perhatian ketika mendesain suatu dinding halang untuk suatu bendungan. Dinding
harus diletakkan cukup jauh di hulu, karena tekanan angkat akan meningkat di bagian
hulu dinding. Apabila dipilih parit slurry untuk suatu desain cutoff tertentu, beberapa
faktor yang harus dipertimbangkan, antara lain adalah :
1) Pengaruhnya terhadap stabilitas timbunan akibat penggalian disepanjang paritan
slurry dan penggunaan lapisan lunak di dalam bendungan (tanah-bentonit). Semenbentonit atau beton berbentuk panel-panel dalam elemen-elemen
terpisah
dibandingkan dengan parit terbuka. Tanah-bentonit yang terlalu lunak juga tidak
digunakan.
2) Dinding kemungkinan menjadi retak, bila dinding yang telah selesai dikonstruksi tidak
cukup plastis.
3) Kemampuan untuk mengikat paritan slurry terhadap pengendalian rembesan yang ada
atau sedang diusulkan. Apabila telah dilengkapi dengan selimut lempung di hulu,

80

4)
5)
6)
7)
8)
9)

paritan diikatkan ke selimut lempung atau ditempatkan melalui bendungan dan


disatukan ke zona inti kedap air.
Keperluan untuk dampak penurunan muka air waduk selama konstrusi.
Kemampuan untuk mengikat dinding halang terhadap bangunan-bangunan fasilitas,
seperti bangunan outlet, penstock dan pelimpah.
Keperluan untuk memperbaiki sambungan-sambungan panel untuk memastikan
sambungan yang kedap air di antara elemen yang berdekatan.
Keperluan untuk memindahkan porsi puncak bendungan untuk menyediakan lebar
konstruksi.
Keperluan untuk penetrasi yang cukup ke dalam batas kedap air.
Pembuangan pasir. Kerikil, dan lain-lain yang jatuh ke dasar paritan atau panel.

Teknik berikut digunakan untuk mrmasang dinding slurry, tergantung dari kondisi lapangan
:
1) Metoda paritan menggunakan backhoe, dragline, clamshell atau peralatan lain yang
setara.
2) Metoda selokan (ditch) menggunakan mesin penggali cepat yang dilengkapi dengan
bucket berputar.
3) Penggunaan mesin penggiling batu untuk menggali panel ke dalam tanah atau
material batuan.
4) Metoda Jet grouting menggunakan tekanan tinggi untuk memasukkan slurry melalui
lubang pipa pemboran
5) Dinding secant menggunakan overlapping antara diamater bor dan pengisian
kembali beton.
Kebanyakan tipe slurryparitan dibangun oleh kontraktor spesialis dan tetap memerlukan
inspeksi yang kerap. Penambahan instrumen diperlukanuntuk mengevaluasi efktivitas
dinding halang. Karena dinding jenis slurry tidak terlihat saat inspeksi, Kontrol konstruksi
harus dilakukan dengan seksama untuk memastikan alignment yang benar dan kelanjutan
dari dinding halang.
Teknik lain untuk membuat dinding halang,termasuk pemboran suatu garis lubang
-lubang yang overlapping yang diisi kembali dengan beton (secant piles), konstruksi
mixed-in-place walls" menggunakan lubang-lubang bor dengan lubang-lubang bor yang
saling overlapping dan memasang tiang dari vinil, beton atau baja.
Sebagai contoh, suatu bendungan di Mexico, suatu kombinasi dari rembesan, kekar-kekar
batu pada fondasi dan kedua tumpuan serta material inti rentan tergerus yang
dipertimbangkan sebagai faktor utama yang dapat menjadikan bendungan runtuh. Suatu
dinding halang dari beton telah dipasang sampai kedalaman 410 ft, dengan menggunakan
rock-mill excavator
Gambar 6.2 Dinding halang terbuat dari beton XXXXX

81

Untuk bendungan dengan inti tanah dispersif pada fondasi batuan banyak mengandung
rekahan, untuk mencegah terbawanya tanah inti melalui rekahan, rekahan tersebut harus
diisi dengan lapisan tipis campuran lempung dan kapur. Perbaikan dengan kapur akan
membuat tanah tidak bersifat dispersif lagi. Untuk bendungan baru, harus dilakukan
perbaikan yang ketat terhadap semua rekahan dan retakan dengan slush grout dan
beton dental yang dikombinasikan dengan lapisan filter di hilir sebagai pertahanan kedua.
Hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa lapisan filter dengan D 15 rata-rata adalah
juga merupakan suatu cara pengendalian yang aman dan menyumbat rembesan yang
terkonsentrasi melalui lempung dispersif.
Bila tindakan perbaikan tidak dipertimbangkan dalam desain awal dan konstruksi, maka
rembesan melalui tanah dispersif dapat menjadikan masalah serius. Bila struktur tidak
dilengkapi dengan perbaikan fondasi dan filter, kepastian keamanan bendungan terhadap
rembesan dapat menjadi masalah yang rumit dan mahal. Penambahan drainase miring
pada bendungan eksisting adalah cukup mahal dan mungkin merupakan satu-satuna
alternatif untuk mengatasi masalah tersebut.
6.3.5 Selimut Kedap Air Hulu
Suatu selimut kedap air hulu dari bendungan dapat digunakan untuk menyumbat dasar
dan tepi waduk untuk mengurangi debit rembesan dan tekanan di bawahnya. Apabila
bendungan tersebut terdiri dari lapisan luar yang lulus air, selimut kedap tersebut harus
diperpanjang hingga ke lereng timbunan untuk mengendalikan rembesan yang efektif.
Selimut kedap air tersebut dapat juga berupa bahan sintetis, namum harus
dipertimbangkan kerugian-kerugiannya. Selain mahal, bahan tersebut memerlukan cara
pemasangan yang seksama dan harus dihindari terhadap tumbukan dan masalah
ultraviolet sinar matahari, terutama untuk nagara tropis seperti Indonesia. Perlu hati-hati
terhadap terjadinya kebocoran pada sambungan-sambungan saat pemasangan.
Bila ada bagian selimut kedap tersebut yang terbuka saat fluktuasi air waduk, maka
bagian terbuka tersebut harus dilindungi terhadap erosi dari gelombang, desikasi atau
pengeringan yang menyebabkan retakan, kerusakan mekanis dan piping dari material
berbutir kasar.
6.3.6 Berm Hilir
Suatu berm hilir dapat digunakan sebagai tindakan perbaikan melawan gaya-gaya
rembesan dan tekanan uplift pada bagian hilir bendungan. Suatu berm dapat mencegah
blowout meningkatkan berat isi material yang digunakan untuk melawan tekanan uplift.
Bila berm mempunyai koefisien permeabilitas rendah, rembesan akan dipaksa keluar
melalui bagian keluaran di hilir.
Desain berm yang lulus air harus dipastikan bahwa tidak ada material fondasi yang
terbawa ke atas. Keuntungan lain dari berm hilir adalah untuk meningkatkan stabilitas
lereng, karena adanya gaya melawan dari berm (sebagai berm pemberat).

82

Pada beberapa kasus, pada bagian hilir bendungan juga ditambahkan elemen kedap air,
filter dan drainase cerobong dan selimut kedap serta suatu lapisan luar. Kasus-kasus
tersebut antara lain :
a) Lereng hilir yang curam dan tidak stabil akibat aliran air rembesan melalui tubuh
timbunan.
b) Bendungan mempunyai retakan-retakan melintang yang serius.
c) Material timbunan menggunakan jenis tanah dispersif.
d) Zonasi timbunan tidak dibuat dengan benar.
Perbaikan-perbaikan tersebut mungkin cukup mahal, namun masih relatif murah
diubandingkan membangun bendungan baru.

6.3.7 Drainase
Drainase dapat juga digunakan sebagai perbaikan untuk mengendalikan rembesan. Pada
umumnya, pekerjaan perbaikan dimulai dari bagian hilir. Untuk bendungan beton graviti
yang dilengkapi dengan galeri, pekerjaan dapat dimulai dari bagian dalam bendungan dan
sering dilaksanakan pada kondisi air waduk penuh. Metoda drainase , biasanya berupa :
-

Paritan,
Selimut lulus air atau berm,
Sumur-sumur pantau,
Lubang-lubang drainase,
Terowongan atau adit .

Bila rembesan atau tekanan uplift membuat menjadi masalah pada bendunan graviti,
penambahan drainase mungkin diperlukan dari terowongan eksisting dan galeri. Lubanglubang drain sering digunakan pada fondasi bendungan beton yang ditempatkan ke
bagian hilir dari tirai grouting yang dibor dari galeri atau di bor melalui tumpuan.
Sumur-sumur pelepas tekanan yang dipasang pada bagian hilir toe dam mempunyai
efektifitas yang tinggi dalam mengurangi tekanan uplift dan gaya-gaya yang menyebabkan
potensi piping meningkat. Dibandingkan dengan parit halang, sumur-sumur pelepas dan
sistem drainase lainnya dapat meningkatkan terjadinya kehilangan air waduk. Sumursumur pelepas tekanan ini memerlukan perlakuan yang benar.
Ketika mendesain sistem drainase, prinsip penting yang harus diingat, adalah :
a) Drainase harus dapat mengeluarkan rembesan dengan mudah, sehingga tekanan
dapat terlepaskan dan tidak menekan kemana-mana.
b) Drainase harus disaring dengan benar, sehingga tidak terjadi piping.

83

c) Drainase harus mempunyai kapasitas yang cukup untuk mengantisipasi debit


rembesan yang keluar dari muka air waduk maksimum.
d) Drainase harus mempunyai jarak (spasi) yang benar dan kedalaman yang cukup untuk
melepaskan tekanan dari daerah dan volume material yang ditinjau.
e) Drainase mempunyai butiran halus yang cukup untuk menyaring material yang tererosi
melalui retakan-retakan dan menjadi tersumbat dengan material halus atau material
endapan.
f) Drainase harus cukup dalam untuk menembus lapisan akifer yang tertekan.
Pada kasus terkini, terowongan drainase atau adits telah digali hingga ke tumpuan hilir
dari bendungan untuk mengendalikan rembesan melalui tumpuan. Rembesan kemudian
keluar dari terowongan atau adits dibandingkan ke drainase hilir. Cara lain adalah dengan
mengalihkan rembesan menjauhi bidang kontak yang buruk antara batuan fondasi yang
rekah dengan material timbunan yang mudah tererosi. Pada setiap kasus, sejumlah
lubang-lubang drain pada arah yang berbeda-beda di bor dengan teliti telah dipasang di
dalam terowongan untuk meningkatkan efektivitas pengendalian rembesan.
Beberapa batasan dari beberapa metoda drainase adalah sebagai berikut :

1) Bila toe drain cukup efektif dalam mengeringkan daerah permukaan yang basah,
sering digunakan cara praktis untuk membuat paritan yang cukup dalam untuk
mengendalikan rembesan atau rembesan dalam suatu lapisan tanah fondasi yang
berlapis-lapis.
2) Sumur pelepas tekanan adalah cara efektif untuk mengendalikan rembesan pada
lapisan tanah fondasi yang berlapis-lapis (stratified foundation), tetapi tidak efektif
untuk mengatasi rembesan dangkal.
3) Drainase miring pada lereng atau tumpuan atau di samping bendungan atau berm
cenderung akan terkontaminasi material akibat aktifitas konstruksi atau longsoran
lereng yang menyebabkan terjadinya pencampuran yang mengurangi kapasitas
drainase. Rembesan tersebut harus mengalir miring ke bawah dari muka air freatik
tinggi ke muka air freatik rendah.
4) Selimut kedap horisontal, karena gradien hidraulis yang rendah, harus relatif pervious
untuk menampung kapasitas aliran. Konsekuensinya, selimut horisontal tersebut harus
dibuat berlapis-lapis untuk menampung aliran ke dalam filter dan kapasitasnya. Untuk
itu dapat ditambahkan dengan pipa perforasi untuk menampung kapasitas
rembesannya.
Semua sistem drainase rawan terhadap kerusakan ; untuk itu perlu dilakukan pemantauan
terhadap sistem drainase dan perbaikan atau penggantiannya, untuk mempertahankan
efisiensinya.
6.3.8 Tindak Perbaikan Kombinasi
Pada banyak kasus, lebih dari satu metoda yang digunakan dalam pengendalian
rembesan. Untuk itu, sering digunakan berlapis-lapis metoda untuk pengendalian
rembesan untuk memastikan keamanan bendungan ditinjau dari aspek rembesan.

84

6.4 Analisis Desain


6.4.1 Umum
Metoda analisis rembesan yang diuraikan adalah metoda-metoda yang digunakan dalam
desain perbaikan pengendalian rembesan. Prinsipnya adalah sama, yakni menggunakan
hukum Darcy dan persamaan Laplace. Sebagai tambahan, ketelitian dan kecukupan data
masukan sehubungan dengan kondisi batas, alur aliran dan properti material adalah
sangat penting untuk desain perbaikan yang ekonomis. Pada beberapa kasus, desain
memerlukan tambahan investigasi dan pengamatan untuk melakukan analisis masalah
rembesan.
6.4.2 Pertimbangan Umum Dan Khusus
Seperti dijelaskan, pengendalian rembesan harus mencakup tindakan pertahanan ganda.
Konsekuaensinya, model yang digunakan dalam analisis masalah rembesan dapat
dimodifikasi untuk memudahkan penilaian terhadap berbagai tindakan perbaikan, baik
metoda tunggal maupun kombinasi (ganda). Pada umumnya, metoda grafis flownet dan
model numerik komputer dapat dimodifikasi untuk mengevaluasi berbagai alternatif. Model
numerik komputer cukup cepat untuk mengevaluasi pengaruh dari metoda kombinasi.
Metoda pengamatan dikombinasikan dengan pengalaman sering digunakan dalam desain
tindak perbaikan. Kendala utama, adalah pengamatan tidak menunjukkan pengaruh tindak
perbaikan sampai tindakan dilaksanakan. Meskipun demikian, pada kasus yang cukup
kompleks, seperti lapisan tanah fondasi yang berlapis-lapis, tindak perbaikan sering
dilakukan secara bertahap atau berdasarkan hasil pengamatan dalam rangka menentukan
jarak/spasi sumur-sumur pelepas tekanan dan arah laubang-lubang drain dalam grouting
tirai.
Hukum Darcy, dengan modifikasi yang cukup dapat digunakan secara efektif untuk
mendesain drain miring, selimut kedap air atau drain lainnya untuk penentuan dimensi dan
permeabilitasnya.

85

DAFTAR SIMAK O&P


O&P RUTIN
1. Kegiatan Sering/Rutin
1) Ukur, catat dan evaluasi data instrumentasi. Data harus digrafik dengan sebera setelah
melakukan pembacaan untuk memudahkan interpretasi dan evaluasi dengan teliti.
2) Pelihara dan rawat semua instrumen sesuai dengan rekomendasi pembuat/pabrik.
Kalibrasi alat ukur rembesan (misalnya weir, V-Notch, dll) untuk memastikan
pengukuran/pembacaan yang menerus dan teliti.
3) Pelihara dan rawat lerng hulu dan hilir bendungan terhadap erosi untuk mencegah alur
rembesan memotong lereng.
4) Potong pepohonan/tumbuh-tumbuhan dan isi lubang-lubang/retakan yang terjadi untuk
mencegah rembesan memotong lereng.
5) Jaga kemiringan lereng da bersihkan terhadap semak belukar yang dapat
menghalangi inspeksi terhadap rembesan, termasuk di daerah hilir kaki bendungan
dan kedua tumpuan.
6) Lakukan inspeksi visual terhadap kedua lereng hulu dan hilir, dan daerah hilir
bendungan terhadap rembesan dan daerah yang lunak.
2. Kegiatan Berkala
1) Lakukan survey hydrographic atau side-scan sonar. Survey ini bermanfaat untuk
mendeteksi formasi lubang benam, pembasahan atau pergerakan di bawah elevasi
waduk yang tidak mudah dideteksi secara visual. Survey yang sama harus dilakukan
di daerah kolam hilir untuk mendeteksi formasi dari lubang-lubang gerusan yang dapat
mengakibatkan alur rembesan menjadi lebih pendek.
2) Lakukan inspeksi visual terhadap bangunan pelengkap dan bangunan lainnya. Bila
memungkinkan, keringkan kolam pelimpah dan kolam lainnya. Gunakan penyelam
atau alat kamera bawah air untuk mengetahui gerusan lokal yang terjadi yang dapat
memperpendek alur rembesan yang dapat memicu terjadinya erosi internal/piping.

86

3) Lakukan pengurasan/pengeringan konduit dan lakukan inspeksi, termasuk manholes.


Pembuangan lanau dan endapan lumpur lainnya penting dilakukan untuk
mempertahankan fungsinya. Pekerjaan tersebut memerlukan pengurasan racun dan
bakteri, termasuk penggunaan kamera video.
4) Kuras dan perbaiki sumur-sumur pelepas tekanan, terutama bila aliran berkurang
seiring waktu.
5) Lakukan uji tual (slug test) terhadap pisometer dan sumur pantau. Periksa responnya
untuk memastikan instrumen tidak tersumbat.
6) Lakukan inspeksi terhadap konduit di bawah bendungan untuk menentukan apakah
terjadi retakan-retakan dan terbawanya material tanah akibat erosi internal atau piping,
bila perlu gunakan alat video yang dikendalikan dari jauh.

O&P DARURAT
Kegiatan ini berhubungan dengan Rencana Tindak Darurat (RTD)
Lubang-Lubang Benam
1) Untuk lubang benam yang aktif, siapkan stckpile material untuk perbaikan darurat di
lapangan. Material tersebut harus mempunyai gradasi yang bervariasi sebagai
inverted filter sebagai yang dimasukkan ke dalam lubang-lubang benam yang terjadi.
2) Siapkan peralatan untuk menempatkan/mengkonstruksi inverted filter di lapangan.
3) Siapkan daftar kontraktor yang berpengalaman dan jaga material untuk membuat
sumuran sebagai perbakan kondisi darurat.
Didih Pasir
1) Siapkan stockpile karung-karung pasir atau peralatan yang dengan cepat dapat
mengisi karung-karung pasir untuk digunakan membuat tanggul di sekeliling titik didih
pasir di daerah hilir.
2) Siapkan stockpile material filter untuk konstruksi inverted filter. Pasir beton adalah
material yang baik.
3) Siapkan daftar kontraktor yang berpengalaman dan jaga material untuk membuat
sumuran sebagai perbakan kondisi darurat.
Daerah Basah di Lereng Hilir
1) Pantau dan ukur daerah yang basah tersebut. Tingkatkan interval pengukuran dan
pemantauan, bila ukurannya bertambah.
2) Lakukan investigasi untuk menentukan sejarah, penyebab dan mekanisme terjadinya
rembesan.
3) Buat foto dan survey pembasahan untuk menentukan masalahnya cukup aktif atau
statis.
Bocoran di Sekeliling Konduit

87

1) Tentukan sumber kebocoran, apakah dari dalam konduitnya sendiri atau dari air waduk
atau dari sumber lain dari luar. Gunakan alat video remote control untuk memeriksa
sambungan-sambungan konduit. Periksa juga terhadap kerusakan-kerusakan lainnya
termasuk spalling dari konduit.
2) Pengeringan konduit dapat membantu untuk menentukan aliran dari dalam konduit
sebagai sumber rembesan atau rembesan dari waduk dengan mengetahui adanya alur
aliran di luar konduit.
3) Bila aliran rembesan meningkat dengan cepat dan membawa butiran tanah,
pertimbangkan untuk membuat suatu cofferdam hilir yang dapat mencegah terjadinya
aliran balik dan mengurangi gradien hidraulik yang menyebabkan adanya aliran.
Turunkan muka air dengan segera melalui bangunan outlet atau sifon yang ada.

88