Anda di halaman 1dari 15

Mengukur Ting Badan

SOP

No. Dokumen

No. Revisi

Tgl. Terbit

Halaman

UPTD Unit
Puskesmas Alian

Herdiyanto, S.KM

1. 1. Pengertian

Sebagai pedoman petugas dalam mengukur tinggi badan yang benar

2. 2. Tujuan

Untuk mengetahui tinggi badan

3. 3. Kebijakan

Sebagai pedoman penanganan pasien di Puskesmas Alian

4. 4. Refrensi

Buku Bagan MTBS

5. 5. Prosedur

1. Alat dan Bahan


1) Rekam medis
2) Pulpen
3) Metlin

6. 6. Langkah
langkah

1. Memberi tahu pasien tentan tindakan yang akan di lakukan


2. Menganjrkan pasien melepas alas kaki
3. Mempersilakan pasien berdiri tegak di tempat pengukuran,menghadap petugas
4. Menarik alat pengukur TB tepat di atas kepala pasien
5. Melihat skala yan ada pada alat pengukur TB
6. Pengukuan selesai pasien di persilaklan menggunakan alas kak kembali
7.Bertahu pada pasien hasil pengukurannya
8.Catat hasil penukuran pada rekam medis

7. 7. Bagan Alir
Memberi tahu pasien
tentan tindakan yang
akan di lakukan

Menganjrkan
pasien
melepas alas
kaki

Catat hasil pada


rekam medis
pasien

8. Unit Terkait

Petugas Pendaftaran
Poli MTBS

9. Dokumen Terkait

SOP Pendaftaran
SOPMTBS

Bertahu pada
pasien hasil
pengukurann
ya

Mempersilakan pasien
berdiri tegak di tempat
pengukuran,
menghadap petugas

Pengukuan
selesai pasien di
persilaklan
menggunakan
alas kaki kembali

Menarik alat
pengukur TB tepat
di atas kepala pasien

Melihat skala yan


ada pada alat
pengukur TB

IGD
RUJUK

Rekam Medik
10. Rekaman Histori
Perubahan

No. INAPYang Dirubah


RAWAT

Isi Perubahan

Tanggal
diberlakukan

PASIEN

PULANG
OBAT

KASIR

POJOKSANITASI
BATUK

LABORAT

GIZI

BP
KIA RUA
BP GIGI

LOKET

8. Rekaman Historis Perubahan

No

Isi Perubahan

Tgl. Mulai Diberlakukan

8. 9. Diagram Alir

HAK & KEWAJIBAN PASIEN DAN TENAGA KESEHATAN

http://www.indolawcenter.com

UUD 1945 yang telah diamandemen, secara jelas dalam pasal 28 H menyebutkan, bahwa setiap warga negara berhak
mendapat pelayanan kesehatan yang layak. Dan terkait hak-hak pasien sendiri sudah diatur diantaranya dalam UU No. 23
tahun 1992 tentang Kesehatan, sebagian juga diatur dalam UU Perlindungan Konsumen, UU No. 29 tahun 2004 tentang
Praktik Kedokteran, UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, dan UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

Selain itu hak-hak pasien juga diangkat dalam Surat Edaran Direktorat Jendral Pelayanan Medis Depkes RI No
YM.02.04.3.5.2504 tentang Pedoman Hak dan Kewajiban Pasien, Dokter dan RS; serta Deklarasi Muktamar IDI
mengenai Hak dan Kewajiban pasien dan Dokter. Sementara untuk kewajiban pasien diatur dalam UU Praktik Kedokteran
dan UU Perlindungan Konsumen.

Hak Pasien memang harus diatur dalam rangka melindungi kepentingan pasien yang seringkali tidak berdaya. Demikian
juga hak tenaga medis diperlukan untuk melindungi kemandirian profesi. Sementara kewajiban tenaga medis diatur untuk
mempertahankan keluhuran profesi dan melindungi masyarakat.
Hak dan Kewajiban Pasien Menurut Undang-Undang
Menurut Declaration of Lisbon (1981) : The Rights of the Patient disebutkan beberapa hak pasien, diantaranya hak
memilih dokter, hak dirawat dokter yang bebas, hak menerima atau menolak pengobatan setelah menerima informasi,

hak atas kerahasiaan, hak mati secara bermartabat, hak atas dukungan moral atau spiritual. Dalam UU No 23 tahun 1992
tentang Kesehatan, pasal 53 menyebutkan beberapa hak pasien, yakni hak atas Informasi, hak atas second opinion, hak
atas kerahasiaan, hak atas persetujuan tindakan medis, hak atas masalah spiritual, dan hak atas ganti rugi.

Menurut UU No.36 tahun 2009 tentang kesehatan, pada pasal 4-8 disebutkan setiap orang berhak atas kesehatan, akses
atas sumber daya, pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau; menentukan sendiri pelayanan kesehatan
yang diperlukan, lingkungan yang sehat, info dan edukasi kesehatan yg seimbang dan bertanggungjawab, dan informasi
tentang data kesehatan dirinya.
Hak-hak pasien dalam UU No. 36 tahun 2009 itu diantaranya meliputi:

Hak menerima atau menolak sebagian atau seluruh pertolongan (kecuali tak sadar, penyakit menular berat,
gangguan jiwa berat).

Hak atas rahasia pribadi (kecuali perintah UU, pengadilan, ijin ybs, kepentngan ybs, kepentingan masyarakat).

Hak tuntut ganti rugi akibat salah atau kelalaian (kecuali tindakan penyelamatan nyawa atau cegah cacat).

Pada UU No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran khususnya pada pasal 52 juga diatur hak-hak pasien, yang
meliputi:

Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam pasal 45 ayat 3.

Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain.

Mendapat pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis.

Menolak tindakan medis.

Mendapatkan isi rekam medis.

Terkait rekam medis, Peraturan Menteri kesehatan No.269 pasal 12 menyebutkan:

Berkas rekam medis milik sarana pelayanan kesehatan.

Isi rekam medis merupakan milik pasien.

Isi rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam bentuk ringkasan rekam medis.

Ringkasan rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diberikan, dicatat, atau dicopy oleh pasien
atau orang yang diberi kuasa atau atas persetujuan tertulis pasien atau keluarga pasien yang berhak untuk itu.

Hak Pasien dalam UU No 44 / 2009 tentang Rumah Sakit (Pasal 32 UU 44/2009) menyebutkan bahwa setiap pasien
mempunyai hak sebagai berikut:

Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit.

Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien.

Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi.

Memperoleh pelayanan kesehatan bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional.

Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi;

Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan.

Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan yang berlaku di rumah sakit.

Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain (second opinion) yang memiliki Surat
Ijin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar rumah sakit.

Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya.

Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap
penyakit yang dideritanya.

Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif
tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta
perkiraan biaya pengobatan.

Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis.

Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien
lainnya.

Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit.

Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya.

Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya.

Menggugat dan atau menuntut rumah sakit apabila rumah sakit itu diduga memberikan pelayanan yang tidak
sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana.

Mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui media cetak dan
elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sementara itu kewajiban pasien diatur diataranya dalam UU No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, terutama pasal
53 UU, yang meliputi:

Memberi informasi yg lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya.

Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter dan dokter gigi.

Mematuhi ketentuan yang berlaku di saryankes.

Memberi imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

Terkait kewajiban pasien seperti disebut di atas, sebenarnya ada pesan implisit terkait hal itu, diantaranya:

Masing-masing pihak, dalam hal ini pasien dan tenaga medis, harus selalu memberi informasi yang tepat dan
lengkap, baik sebelum maupun sesudah tindakan (preventif/diagnostik/terapeutik/rehabilitatif).

Keputusan di tangan pasien, dokter mengadvokasi prosesnya (kecuali keadaan darurat yang tak bisa ditunda).

Layanan medis harus sesuai kebutuhan medisnya.

Hak dan Kewajiban Tenaga Medis


Di dalam UU No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, pada pasal 50 disebutkan adanya hak-hak dokter, yakni:

Memperoleh perlindungan hukum sepanjang sesuai standar profesi dan SOP.

Memberikan layanan medis menurut standar profesi (SP) dan standar operasional prosedur (SOP).

Memperoleh info yg jujur & lengkap dari pasien atau keluarga pasien.

Menerima imbalan jasa.

Adanya perlindungan hukum bagi dokter ini mengingat bahwa pekerjaan dokter dianggap sah sepanjang memenuhi
ketentuan-ketentuan yang berlaku. Dan bahwa dalam bekerja seorang dokter harus bebas dari intervensi pihak lain, dan
bebas dari kekerasan. Jika pun terdapat dugaan malpraktik harus melalui proses pembuktian hukum terlebih dahulu,
termasuk diantaranya tentu saja seorang dokter bebas memperoleh pembelaan hukum.

Pada pasal 52 UU yang sama diatur pula mengenai kewajiban dokter, yang meliputi:

Memberi pelayanan medis sesuai SP & SOP, serta kebutuhan medis pasien.

Merujuk pasien bila tak mampu.

Menjamin kerahasiaan pasien.

Pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila yakin ada orang lain yg bertugas dan mampu.

Menambah / ikuti perkembangan iptek kedokteran.

Selain dokter, rumah sakit juga memiliki kewajiban dalam melayani pasiennya. Kewajiban itu dituangkan dalam UU No.
44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Kewajiban rumah sakit itu sudah tentu mengikat juga pada para tenaga medis. Dalam
pasal 29 UU No.44 menyatakan kewajiban rumah sakit, diantaranya:

Informasi yang benar tentang pelayanan rumah sakit kepada masyarakat.

Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, tidak diskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan
kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.

Memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya.

Berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana, sesuai dengan kemampuan pelayanannya.

Menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau miskin.

Melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan pasien tidak mampu/miskin,
pelayanan gawat darurat tanpa uang muka, ambulan gratis, pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa,
atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan.

Membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit sebagai acuan dalam
melayani pasien.

Menyelenggarakan rekam medis.

Menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara lain sarana ibadah, parkir, ruang tunggu, sarana untuk
orang cacat, wanita menyusui, anak-anak, lanjut usia.

Melaksanakan sistem rujukan.

Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan standar profesi dan etika serta peraturan perundangundangan.

Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai hak dan kewajiban pasien.

Menghormati dan melindungi hak-hak pasien.

Melaksanakan etika rumah sakit.

Memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana.

Melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan baik secara regional maupun nasional.

Membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau kedokteran gigi dan tenaga kesehatan
lainnya.

Menyusun dan melaksanakan peraturan internal Rumah Sakit (hospital by laws).

Melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas Rumah Sakit dalam melaksanakan tugas.

Memberlakukan seluruh lingkungan rumah sakit sebagai kawasan tanpa rokok.

Menurut Kode Etik Rumah Sakit Indonesia terdapat beberapa kewajiban bagi tenaga medis. Kewajiban itu meliputi
kewajiban umum, kewajiban kepada masyarakat dan kewajiban terhadap pasien.

Kewajiban umum rumah sakit terdiri dari menaati Kode Etik Rumah Sakit Indonesia, mengawasi dan bertanggungjawab
terhadap semua kejadian di RS (corporate liability), memberi pelayanan yang baik (duty of due care), memberi
pertolongan darurat tanpa meminta pembayaran uang muka, memelihara rekam medis pasien, memelihara peralatan
dengan baik dan siap pakai, dan merujuk kepada RS lain bila perlu.

Kewajiban rumah sakit kepada Masyarakat terdiri dari berlaku jujur dan terbuka, peka terhadap saran dan kritik
masyarakat, berusaha menjangkau pasien di luar dinding RS (extramural). Sedangkan Kewajiban rumah sakit kepada
pasien adalah mengindahkan hak-hak asasi pasien, memberikan penjelasan kepada pasien tentang derita pasien dan
tindakan medis atasnya, meminta informed consent, mengindahkan hak pribadi (privacy), menjaga rahasia pasien.
Sumber : http://www.indolawcenter.com

HAK & KEWAJIBAN PASIEN DAN TENAGA KESEHATAN

UUD 1945 yang telah diamandemen, secara jelas dalam pasal 28 H menyebutkan, bahwa setiap warga negara berhak
mendapat pelayanan kesehatan yang layak. Dan terkait hak-hak pasien sendiri sudah diatur diantaranya dalam UU No. 23
tahun 1992 tentang Kesehatan, sebagian juga diatur dalam UU Perlindungan Konsumen, UU No. 29 tahun 2004 tentang
Praktik Kedokteran, UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, dan UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

Selain itu hak-hak pasien juga diangkat dalam Surat Edaran Direktorat Jendral Pelayanan Medis Depkes RI No
YM.02.04.3.5.2504 tentang Pedoman Hak dan Kewajiban Pasien, Dokter dan RS; serta Deklarasi Muktamar IDI
mengenai Hak dan Kewajiban pasien dan Dokter. Sementara untuk kewajiban pasien diatur dalam UU Praktik Kedokteran
dan UU Perlindungan Konsumen.

Hak Pasien memang harus diatur dalam rangka melindungi kepentingan pasien yang seringkali tidak berdaya. Demikian
juga hak tenaga medis diperlukan untuk melindungi kemandirian profesi. Sementara kewajiban tenaga medis diatur untuk
mempertahankan keluhuran profesi dan melindungi masyarakat.
Hak dan Kewajiban Pasien Menurut Undang-Undang
Menurut Declaration of Lisbon (1981) : The Rights of the Patient disebutkan beberapa hak pasien, diantaranya hak
memilih dokter, hak dirawat dokter yang bebas, hak menerima atau menolak pengobatan setelah menerima informasi,
hak atas kerahasiaan, hak mati secara bermartabat, hak atas dukungan moral atau spiritual. Dalam UU No 23 tahun 1992
tentang Kesehatan, pasal 53 menyebutkan beberapa hak pasien, yakni hak atas Informasi, hak atas second opinion, hak
atas kerahasiaan, hak atas persetujuan tindakan medis, hak atas masalah spiritual, dan hak atas ganti rugi.

Menurut UU No.36 tahun 2009 tentang kesehatan, pada pasal 4-8 disebutkan setiap orang berhak atas kesehatan, akses
atas sumber daya, pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau; menentukan sendiri pelayanan kesehatan
yang diperlukan, lingkungan yang sehat, info dan edukasi kesehatan yg seimbang dan bertanggungjawab, dan informasi
tentang data kesehatan dirinya.
Hak-hak pasien dalam UU No. 36 tahun 2009 itu diantaranya meliputi:

Hak menerima atau menolak sebagian atau seluruh pertolongan (kecuali tak sadar, penyakit menular berat,
gangguan jiwa berat).

Hak atas rahasia pribadi (kecuali perintah UU, pengadilan, ijin ybs, kepentngan ybs, kepentingan masyarakat).

Hak tuntut ganti rugi akibat salah atau kelalaian (kecuali tindakan penyelamatan nyawa atau cegah cacat).

Pada UU No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran khususnya pada pasal 52 juga diatur hak-hak pasien, yang
meliputi:

Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam pasal 45 ayat 3.

Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain.

Mendapat pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis.

Menolak tindakan medis.

Mendapatkan isi rekam medis.

Terkait rekam medis, Peraturan Menteri kesehatan No.269 pasal 12 menyebutkan:

Berkas rekam medis milik sarana pelayanan kesehatan.

Isi rekam medis merupakan milik pasien.

Isi rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam bentuk ringkasan rekam medis.

Ringkasan rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diberikan, dicatat, atau dicopy oleh pasien
atau orang yang diberi kuasa atau atas persetujuan tertulis pasien atau keluarga pasien yang berhak untuk itu.

Hak Pasien dalam UU No 44 / 2009 tentang Rumah Sakit (Pasal 32 UU 44/2009) menyebutkan bahwa setiap pasien
mempunyai hak sebagai berikut:

Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit.

Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien.

Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi.

Memperoleh pelayanan kesehatan bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional.

Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi;

Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan.

Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan yang berlaku di rumah sakit.

Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain (second opinion) yang memiliki Surat
Ijin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar rumah sakit.

Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya.

Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap
penyakit yang dideritanya.

Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif
tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta
perkiraan biaya pengobatan.

Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis.

Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien
lainnya.

Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit.

Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya.

Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya.

Menggugat dan atau menuntut rumah sakit apabila rumah sakit itu diduga memberikan pelayanan yang tidak
sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana.

Mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui media cetak dan
elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sementara itu kewajiban pasien diatur diataranya dalam UU No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, terutama pasal
53 UU, yang meliputi:

Memberi informasi yg lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya.

Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter dan dokter gigi.

Mematuhi ketentuan yang berlaku di saryankes.

Memberi imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

Terkait kewajiban pasien seperti disebut di atas, sebenarnya ada pesan implisit terkait hal itu, diantaranya:

Masing-masing pihak, dalam hal ini pasien dan tenaga medis, harus selalu memberi informasi yang tepat dan
lengkap, baik sebelum maupun sesudah tindakan (preventif/diagnostik/terapeutik/rehabilitatif).

Keputusan di tangan pasien, dokter mengadvokasi prosesnya (kecuali keadaan darurat yang tak bisa ditunda).

Layanan medis harus sesuai kebutuhan medisnya.

Hak dan Kewajiban Tenaga Medis


Di dalam UU No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, pada pasal 50 disebutkan adanya hak-hak dokter, yakni:

Memperoleh perlindungan hukum sepanjang sesuai standar profesi dan SOP.

Memberikan layanan medis menurut standar profesi (SP) dan standar operasional prosedur (SOP).

Memperoleh info yg jujur & lengkap dari pasien atau keluarga pasien.

Menerima imbalan jasa.

Adanya perlindungan hukum bagi dokter ini mengingat bahwa pekerjaan dokter dianggap sah sepanjang memenuhi
ketentuan-ketentuan yang berlaku. Dan bahwa dalam bekerja seorang dokter harus bebas dari intervensi pihak lain, dan

bebas dari kekerasan. Jika pun terdapat dugaan malpraktik harus melalui proses pembuktian hukum terlebih dahulu,
termasuk diantaranya tentu saja seorang dokter bebas memperoleh pembelaan hukum.

Pada pasal 52 UU yang sama diatur pula mengenai kewajiban dokter, yang meliputi:

Memberi pelayanan medis sesuai SP & SOP, serta kebutuhan medis pasien.

Merujuk pasien bila tak mampu.

Menjamin kerahasiaan pasien.

Pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila yakin ada orang lain yg bertugas dan mampu.

Menambah / ikuti perkembangan iptek kedokteran.

Selain dokter, rumah sakit juga memiliki kewajiban dalam melayani pasiennya. Kewajiban itu dituangkan dalam UU No.
44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Kewajiban rumah sakit itu sudah tentu mengikat juga pada para tenaga medis. Dalam
pasal 29 UU No.44 menyatakan kewajiban rumah sakit, diantaranya:

Informasi yang benar tentang pelayanan rumah sakit kepada masyarakat.

Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, tidak diskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan
kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.

Memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya.

Berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana, sesuai dengan kemampuan pelayanannya.

Menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau miskin.

Melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan pasien tidak mampu/miskin,
pelayanan gawat darurat tanpa uang muka, ambulan gratis, pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa,
atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan.

Membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit sebagai acuan dalam
melayani pasien.

Menyelenggarakan rekam medis.

Menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara lain sarana ibadah, parkir, ruang tunggu, sarana untuk
orang cacat, wanita menyusui, anak-anak, lanjut usia.

Melaksanakan sistem rujukan.

Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan standar profesi dan etika serta peraturan perundangundangan.

Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai hak dan kewajiban pasien.

Menghormati dan melindungi hak-hak pasien.

Melaksanakan etika rumah sakit.

Memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana.

Melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan baik secara regional maupun nasional.

Membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau kedokteran gigi dan tenaga kesehatan
lainnya.

Menyusun dan melaksanakan peraturan internal Rumah Sakit (hospital by laws).

Melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas Rumah Sakit dalam melaksanakan tugas.

Memberlakukan seluruh lingkungan rumah sakit sebagai kawasan tanpa rokok.

Menurut Kode Etik Rumah Sakit Indonesia terdapat beberapa kewajiban bagi tenaga medis. Kewajiban itu meliputi
kewajiban umum, kewajiban kepada masyarakat dan kewajiban terhadap pasien.

Kewajiban umum rumah sakit terdiri dari menaati Kode Etik Rumah Sakit Indonesia, mengawasi dan bertanggungjawab
terhadap semua kejadian di RS (corporate liability), memberi pelayanan yang baik (duty of due care), memberi
pertolongan darurat tanpa meminta pembayaran uang muka, memelihara rekam medis pasien, memelihara peralatan
dengan baik dan siap pakai, dan merujuk kepada RS lain bila perlu.

Kewajiban rumah sakit kepada Masyarakat terdiri dari berlaku jujur dan terbuka, peka terhadap saran dan kritik
masyarakat, berusaha menjangkau pasien di luar dinding RS (extramural). Sedangkan Kewajiban rumah sakit kepada
pasien adalah mengindahkan hak-hak asasi pasien, memberikan penjelasan kepada pasien tentang derita pasien dan
tindakan medis atasnya, meminta informed consent, mengindahkan hak pribadi (privacy), menjaga rahasia pasien.
Sumber : http://www.indolawcenter.com

KOMUNIKASI HAK DAN


KEWAJIBAN SASARAN UKM
PUSKESMAS

PENANGGUNG JAWAB

No
Kode

Terbitan

: Promkes

Disiapkan :

Diperiksa :

Disahkan :

Unit Promkes

Tim Akreditasi

Ka. Puskesmas

Dr.Puspa Ayu

Dr.RM.Martanto

No.
Revisi

DAFTAR Tgl.
TILIK
Mulai
PUSKESMAS
CIPARI

Berlaku

Surati

Lestari

.B

Halama

NIP.

NIP.

NIP.

1961070119830920 1979051120090320 197103312006041


02

13

013

Tidak
No

Kegiatan

Ya

Tidak
Berlaku

Apakah :
1

Petugas Promkes menyiapkan sarana dan


prasarana untuk menyampaikan informasi berupa
hak dan kewajiban Sasaran UKM

Petugas menyampaikan informasi hak dan


kewajiban Sasaran UKM baik di dalam gedung
maupun di luar gedung Puskesmas :
a. Dalam gedung melalui pemasangan informasi
hak dan kewajiban Sasaran UKM Puskesmas
di papan informasi dan melalui komunikasi
langsung dengan Sasaran UKM Puskesmas
b. Luar gedung melalui penyampaian informasi
secara langsung kepada masyarakat dan
disampaikan pada kegiatan pertemuan lintas
sektor

Sasaran UKM Puskesmas mengetahui hak dan


kewajibannya

JUMLAH
COMPLIANCE RATE (CR)