Anda di halaman 1dari 2

Hal 82-87

Setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono trpilih, dibentuk tipikor di bawah


Jaksa Agung dengan tujuan menuntaskan perkara-perkara dugaan korupsi yang
belum ditangani kejaksaan dan perkara-perkara lainnya.
Tahun 2008 KPK menggebrakdunia hukum dengan penyidikan yang disertai
penangkapanterhadap oknum Kejaksaan Agung, anggota DPR-RI dan pejabatpejabat Bank Indonesia. Hal yang menggemparkan berkaitan dengan
pemberantasan korupsi adalah penggealadahan KPK terhadap beberapa ruangan
di gedung DPR-MPR RI yang semulamenuai penolakan dan ketaksetujuan dari
unsur pimpinan DPR RI.
Pemberantasan Korupsi pada Era Reformasi :
a. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
NomorXI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
b. Masa pemerintahan Presiden B.J Habibiedengan mengeluarkan UU Nomor
28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas
dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
c. Pasal 43 Undang Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan
tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 20 tahun 2001.
d. Masa Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid membentuk Tim
Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana (TGPTPK).Namun, TGPTPK
akhirnya di bubarkan dengan logika membenturkannya ke UU Nomor 31
tahun 1999.
e. Undang- Undang NO. 30 tahun 2002 twntang Komisi Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi ( UU KPK )
4. KPK Lahir sebagai Trigger Mechanism
Korupsi merupakan salah satu kejahatan yang terorganisasi dan bersifat
lintas batas terotorial transnasional. Konvensi tahun 2000ini sudah di
tandatanganinamun belum diratifikasi oleh pemerintah indonesia,
sedangkan konvensi Anti Korupsi tahun 2003 telah diratifikasi dengan
undang- undang nomor 7tahun 2006.
Prof. Romli Atmasasmita menyatakan bahwa ditempatkannya korupsi
sebagai salah satu kejahatan terorganisasi dan bersifat transnasional.
Pertama, modus operandi korupsi telahmenyatudengan sistem birokrasi
hampir di semua negara.kedua, korupsi terbukti telah melemahkan
sistem pemerintahan dari dalam dan merupakan virus berbahaya dan
penyebab proses pembusukan dlam kinerja pemerintahan serta
melemahkan demokrasi. Ketiga , pemberantasan korupsisangat sulit
diperangi didalam sistem birokrasi yang juga koruptif sehingga
memerlukan instrument hukum yang luarbiasa untuk mencegah dan
memberantasnya. Keempat, korupsi tidak lagi merupakan masalah
dalam negeri atau masalah nasional suatu negara, melainkan sudah

merupakan masalah antarnegara atau hubungan antara dua negara atau


lebih.
Untuk menjawab tantangan yang berat ini ,KPK di lahirkan sebagai trigger
mechanism. Trigger mechanism adalah fungsi yang di amanatkan kepada
KPK untuk menjadi pemicu terhadap upaya pemberantasan korupsi yang
sebelumnya mati suri.
Pendirian kpk merupakan a temporary way-out,jalan keluar sementara.
Sejatinya,kpk bukan menjadi bagian dari sistem peradilan pidana
( criminal justice system ) di indonesia. KPK tidak di ddesain untuk
menggantikan peran kepolisian dan kejaksaan sebagai penegak hukum.
Karenanya, keberadaan KPK juga harus memperkuat keberadaan institusi
lain, yaitu melakukan koordinasi dan supervisi terhadap penegak hukum.
Tunggakan pekerjaan yang lain, adalah meredefinisikan fungsi KPK dalam
mencegah terjadinya korupsi.
Pada saat ini, yang di cerna dan di pahami oleh publik, adalah hubungan
yang kurang harmonis antara KPK dengan kepolisian dan kejaksaan. Hal
ini terefleksikan dalam kasus Masaro yang menyeret Pimpinan KPK BibitChandra sebagai tersangka.Bibit dan Chandra ditetapkan sebagai
tersangka oleh kepolisian karena di sangka menerima suap melakukan
pemerasan terhadap Direktur PT Masaro. Langkah kepolisian ini di artikan
sebagai LSM sebagai bentuk kriminalisasi terhadap KPK, sehingga
menambah daftar permusuhan publik kepada kepolisian dan kejaksaan.
Contoh lainadalah kesungkanan KPK untuk mengambil alih kasus Gayus,
walaupun itu menjadi kewenangnnya.
Untuk itu, sebagaimana uraian sebelumnya,pekerjaan rumah ( PR) bagi
KPK saat ini adalah mengoptimalisasi fungsi koordinasi dan supervisi
dengan lembaga penegak hukum lain.
Pekerjaan rumah KPK lain adalah meredefinisikan kembali fungsi
pencegahan KPK. Banyaknya koruptor yang masuk ke bui, ternyata tidak
serta merta menjadikan yang lain jera. Sehingga penghukuman tidak
menimbulkan efek jera. Untuk itu, upaya pencegahan menjadi sesuatu
yang penting. Saat ini,KPK terkesan hanya melakukan sosialisasi kepada
masyarakat tentang korupsi dan mewajibkan calon.................END