Anda di halaman 1dari 14

2.

2 Bantuan Hidup Lanjut


Bantuan hidup lanjut merupakan bagian dari cardiac arrest care dengan CPR
berkualitas tinggi, memonitoring fisiologi dan respon pasien terhadap bantuan hidup dasar,
mengenal dan mengintervensi untuk tatalaksana aritmia dan optimalisasi perfusi jaringan
meggunakan obat-obatan atau mechanical support. 9 Pembaruan pedoman AHA 2015 untuk
CPR dan ECC memberikan rekomendasi terhadap beberapa tindakan bantuan hidup lanjut.10
2.2.1

Terapi Oksigen
Efek langsung pemberian oksigen dengan konsentrasi lebih dari 21 % ialah

peningkatan tekanan oksigen alveolar, pengurangan usaha napas untuk mempertahankan


tekanan oksigen alveolar dan penurunan kerja miokardium untuk mempeertahankan oksigen
arteri. Oleh karena itu tujuan terapi oksigen adalah :
Mengatasi Hipoksemia
Bila tekanan oksigen alveolar menurun terjadi hipoksemia pada darah arteri, keadaan
hipoksemia dapat diperbaiki dengan meningkatkan fraksi oksigen udara yang dihisap pada

inspirasi
Meunurnkan usaha napas ( work of breathing)
Usaha napas biasanya Meningkat sebagai respon terhadap hipoksemia. Meningkatkan
konsentrasi oksigen udara inspirasi memungkinkan pertukaran gas alveolar normal untul
mempertahankan tingkat oksigen alveolar. Hasilnya kebutuhan ventilasi total akan

menurun sehingga usaha napas akan berkurang tanpa mempengaruhi tingkat okssigenasi.
Mengurangi kerja miokardium
Pemberian oksigen akan mengurangi atau mencegah peningkatan kebutuhan kerja
miokardium.
Pada anak yang bernapas spontan oksigen dapat diberikan dengan berbagai cara

tergantung dari keadaan klinik dan kebutuhan konsentrasi oksigen. Alat pemberian oksigen
dibedakan antara sistem aliran rendah (low flow) dan aliran tinggi (high flow). Pada sistem
aliran rendah udara ruangan terpakai karena aliran oksigen tidak cukup untuk memenuihi
kebutuhan aliran udara inspirasi sedang pada sistem aliran tinggi aliran oksigen

dan

kapasitas reservoir cukup untuk memenuhi seluruh kebuthan aliran darah inspirasi. Beberapa
alat bantu terapi oksigen yaitu :
Sungkup Oksigen (oxygen mask)
Sungkup oksigen biasa akan memberikan oksigen dengan konsentrasi 40-60% dengan
aliran 5-6 sampai 7-8 L/menit. Karena sistem ini akan menggunakan udara ruangan,
aliran oksigen harus diberikan paling kurang 6 L/menit untuk mendapatkan
konsentrasi oksigen yang diinginkan dan mencegah CO 2 dihisap kembali. Sungkup
dengan sistem venturi akan memberikan konsentrasi oksigen sesuai dengan
konsentrasi yang diinginkan antara 25-60%.
Sungkup terbuka (face rent)
Sungkup ini hanya memberikan konsentrasi oksigen paling tinggi 40% dengan aliran
oksigen yang tinggi ( 10-15 L/menit).
Kotak oksigen (oxygen hood)
Kotakl plastik bening ini biasanya diguanakan pada bayi baru lahir atau bayi kecil
akan tetapi memerlukan aliran oksigen yang tinggi (10-15 L/menit) yang akan
memebrikan oksigen dengn konsentrasi 80-90%.
Kanul oksigen
Kanul oksigen digunakan untuk memberikan oksigen konsentrasi yang rendah (2440%) karena aliran oksigen lebih dari 4 L/menit akan menyebabkan ketidaknyaman.
Kateter nasal
Kateter nasal adalah ujung tabung yang dimasukkan kedalam satu lubang hidung
sampai ke daerah faring. Alat ini tidak dianjurkan karena tidak lebih unggul dari kanul
oksigen dan dapat menyebabkan distensi lambung.
a. Pernapasan: oksigenasi dan ventilasi bantuan
Gunakan oksigen dengan FiO2 100% selama resusitasi.1 Monitor kadar oksigen
penderita. Berikan O2 1-2 liter/menit.3 Ketika penderita sudah stabil, hentikan pemberian
oksigen secara bertahap jika saturasi oksigen dapat dipertahankan baik.1
b. Oropharyngeal dan Nasopharyngeal
Alat

oropharyngeal

dan

nasopharyngeal

airway

adalah

tambahan

untuk

mempertahankan saluran udara tetap terbuka. Oropharyngeal digunakan pada korban tak

sadar (dengan kata lain tanpa refleks muntah). Pilih ukuran oropharyngeal airways yang
sesuai dengan cara mengukur dari bibir sampai angulus mandibularis. Ukuran yang terlalu
kecil akan mendorong lidah ke belakang, sedangkan bila terlalu besar akan menutup epiglotis
sehingga dapat menghalangi saluran udara. Nasopharyngeal airways akan lebih ditoleransi
untuk korban yang masih sadar.
c. Laryngeal Mask Airways (LMA)
Ketika intubasi endotrakea tidak memungkinkan, LMA merupakan cara tambahan
yang dapat dilakukan oleh petugas yang terlatih.

2.2.2

Terapi Cairan
Terapi cairan adalah pemberian bolus cairan secepat mungkin melalui akses intravena

(IV) atau intraoseus (IO). Tujuan terapi cairan adalah untuk menyelamatkan otak dari
gangguan hipoksik-iskemik, melalui : peningkatan preload dan curah jantung untuk
mengembalikan volum sirkulasi efektif pada syok hipovolemik, mengembalikan oxygencarrying capcity pada syok hemorogik dan mengoreksi

gangguan metabolik. Cairan

resusitasi yang digunakan adalah cairan krisatoloid dan cairan koloid. Cairan mengandung
dekstrosa tidak diberikan secara bolus karena hiperglikemia dapat menyebabkan diuresis
osmotik atau memburuk hipokalemia dan cedera otak iskemik.
Cairan krisatloid isotonik seperti Ringer Laktat (RL), garam fisiologis (NS) dan
Ringer Asetat (RA) banyak tersedia, tidak menimbulkan alergi, efektif mengisi ruang
intersisial dan mengoreksi defisit sodium, namun hanya sebentar berada di dalam ruang
intravaskular, dalam beberapa menit hanya seperempat bagian yang masih berada di ruang
intravaskular. Untuk mengembalikan volume intravaskuklar diperlukan jumlah cairan
kristaloid yang besarnya 4-5 kali defiist, sehingga dapat terjadi edema paru.

Cairan koloid lebih lama berada di ruang intravaskular dibandingkan cairan


krisataloid. Darah dan cairan koloid seperti albumin 5%, fresh frozen-plasma, dan koloid
sintetik seperti hetastarch 6% dan 10%, dextran 40, dextran 60 dan gelatin lebih efisien
mengisi ruang intravaskular dibandingkan kristaloid.
Darah, fresh frozen-plasma dan komponen darah diberikan setelah bolus kristaloid
diberikan dua kali atau sekitar 40mL/kgBB, untuk mengganti kehilangan darah akibat trauma
atau sebagai terapi paliatif koagulopati. Bila perlu dapat diberikan darah O-negatif tanpa
cross-match. Infus darah dan produk darah secara cepat dan jumlah besar dapat menimbulkan
komplikasi hipotermia dan hipokalsemia dan hipokalsemia ion.
Tiga fokus utama terapi resusitasi cairan pada anak, yaitu mengembalikan volume
sirkulasi akibat syok hipovolemia, mengembalikan kapasitas pengangkutan oksigen pada
syok hemorragik, dan menggoreksi asidosis metabolik. Penyebab utama syok pada anak
adalah hipovolemia yag disebabkan oleh kekurangan intake dan kehilangan cairan seperti
pada diare, diabetic ketoasidosis, muntah, luka bakar dan trauma, sehingga terdapat
kekurangan cairan intravaskular, ekstravaskular dan kekurangan preload. Terapi cairan sangat
dibutuhkan pada pasien dengan syok, syok merupakan suatu sindrom kllinis akibat kegagalan
sistem sirkulasi dalam mencakupi kebutuhan nutrien dan okesigen, sehingga terganggu
metabolisme seluler jaringan tubuh.:
a. Syok Hipovolemia, syok yang paling umum, terjadi akibat kehilangan cairan
tubuh yang berlebihan.
b. Syok Kardiogenik, tidak adekuatnya jantung untuk memompakan darah
c. Syok Neurogenik,
d. Syok Septik/ Syok Anafilaktik, terjadinya vasodilatasi dan peningkatan
permxeabilitas pembuluh kapiler menyebabkan kebocoran plasma dari
vaskular keruang intertitial.3
Cairan yang digunakan pada saat resusitasi

Gunakan cairan Kristaloid Isotonik Misal Ringer Laktat, atau NaCl fisiologis, Koloid,
dan Transfusi darah untuk menanggulangi syok. Terapi bolus dengan glukosa dapat dapat
menangani hipoglikemia.
a. Kristaloid
Kristaloid hanya berada sebentar didalam intravakular dan bagian cairan
intravaskular akan mengisi ruang intratisial. Terapi cairan dimulai dengan pemberian
bolus kristaloid, isotonik RL atau NS 20mL/kgBB/10mnt/IV/IO dengan bantuan
semprit 35-50ml dan three-way stopcock bila perlu dibuat akses vaskuler tambahan
dengan kateter yang besar untuk mengoptimalkan pemberian cairan resusitasi.
Sesudah pemberian bolus dilakukan penelian perfusi sitemik, seperti laju denyut
jantung, nadi, tekanan darah dan jumlah diuresis. Bila masih terdapat tanda syok
diberikan bolus kristaloid kedua 20ml/kgBB.
1. NaCl 0.9% (Normal saline, Cairan ini sedikit hipertonik karena mengandung
Natrium 154 mmol/L dan klorida 154 mmol/Lyang tidak fisiologis.
2. Ringer Laktat, Memiliki efek prokoagulan.
Indikasi pemberian Kristaloid:
- Syok Hipovolemia, dengan dosis 20 ml/kg IV kurang dari 20 menit.
b. Koloid
Sifat-Sifat koloid ideal:
- Tidak menyebabkan koagulopati, hemolisis, aglutinasi sel darah merah,
-

atau gangguan cross-match.


Mengganti kehilangan volume darah dengan cepat.
Mengembalikan keseimbangan hemodinamik.
Menormalkan aliran sirkulasi mikro.
Memperbaiki hemoreologi.
Memperbaiki penyediaan oksigen dan fungsi organ.
Cepat dimetabolisme, diekskresi, dan ditoleransi dengan baik

Jenis Koloid:
-

Koloid alami : Albumin 5%


Koloid sintetik:
a. Dekstran

Komposisi dekstran terdiri dari campuran polimer glukosa dengan BM rata-rata 40kD
(dekstran 40), 60kD (dekstran 60), dan 70kD (dekstran 70). Viskositas dan waktu paruh
meningkat dengan meningkatnya BM (untuk dekstran 40 waktu paruh 2 jam, sedangkan
dekstran 60-200 waktu paruhnya 24 jam). Dekstran 40 merupakan jenis dekstran yang paling
sering dipakai dan menyebabkan peningkatan nyata volume plasma sebesar 130-200%.
Dekstran 40 memiliki viskositas yang rendah sehingga menguntungkan bagi sirkulasi mikro.
Dekstran dapat mempengaruhi fungsi koagulasi sehingga menyebabkan perdarahan. Itulah
sebabnya dekstran jarang digunakan untuk pasien sakit kritis. Dekstran juga sering memicu
reaksi anafilaksis.
b. Gelatin
Gelatin merupakan koloid dengan inti poligelin, bersifat iso-onkotik, mengandung ion
klorida yang rendah, dan memiliki pH fisiologis. Gelatin mampu memperbaiki keadaan
hipovolemia dengan beberapa keuntungan yaitu lebih aman dibandingkan dekstran dengan
rasio cost-efficiency yang baik. Gelatin yang tersuksinilasi memiliki risiko terjadinya reaksi
anafilaksis yang lebih tinggi karena menurunkan kualitas bentukan bekuan darah. Gelatin
dapat diberikan pada keadaan hipovolemia, stabilisasi perioperatif sirkulasi ekstrakorporeal
(hemodialisis, mesin jantung paru). Indikasi kontra penggunaan gelatin adalah overhidrasi,
gagal jantung kongestif, syok normovolemik, oliguria/anuria, serta pasien yang hipersensitif
terhadap gelatin.
c. Kanji hidroksietil
Terdapat dalam beberapa bentuk, tergantung pada berat molekul dan derajat
substitusi:
-

BM kecil: Expafusin 6% (BM 40.000 Dalton /0,5-0,55) dalam pelarut seimbang,

voluven 6% (BM 130.000 Dalton /0,4) dalam NaCI 0,9%.


BM sedang: Haes-steril 6%, 10% (BM 200.000 Dalton/0,5 dalam NaCl 0,9%,

Hemohes 6% (BM 200.000 Dalton /0,5) dalam NaCI 0,9%.


BM besar: HES (450.000 Dalton /0,7).

Ekspansi volume dan lama efek intravaskular tergantung dari:

Konsentrasi. Koloid hiperonkotik (Haes-steril 10%) lebih cepat terjadi restitusi


volume intravaskular serta lebih cepat meningkatkan tekanan darah, dan

mobilisasi cairan.
Derajat substitusi molar. Pada Haes 200.000/0,5, lima dan 10 molekul glukosa di
substitusi oleh gugus hidroksietil yang melindungi HES dan degradasi cepat oleh

enzim amilase.
Letak substitusi dari hidroksietilasi. Gugus hidroksietil yang letaknya pada sisi
C2 dan molekul glukosa mampu menghambat degradasi oleh amilase.

Indikasi penggunaan Haes-steril 10% (BM 200.000, Dalton hiperonkotik) dan Haes-steril 6%
adalah:
-

Terapi keadaan hipovolemia dan syok.


Resusitasi volume pada hipovolemia dan syok karena perdarahan, trauma, sepsis,

dan luka bakar.


Normalisasi dan/atau optimalisasi volume darah/volume plasma, tekanan darah,
curah jantung, sirkulasi mikro, transpor oksigen (DO2), konsumsi oksigen (V02),
fungsi organ, dan prognosis klinis.

Kontraindikasi:
-

Gagal jantung kongestif


Gagal ginjal (serum kreatinin > 2 mg/dL dan ureum > 177 umol/L)
Gangguan koagulasi berat.
Hiperhidrasi dan dehidrasi.
Perdarahan otak

Menentukan kebutuhan cairan


Perhitungan cairan dapat berdasarkan berat badan, luas permukaan tubuh atau
kebutuhan kalori. Syarat perhitungan kebutuhan rumatan berdasarkan luas permukaan tubuh
adalah kebutuhan kalori proposional dengan permukaan tubuh, digunakan rumus 1500
mL/m2/hari.
Terapi cairan rasional
1. Pertama hitung perkiraan defisit air tiap kompartemen cairan fisiologis

2. Tentukan jenis apakah perlu cairan kristaloid atau koloid sebagai cairan resusitasi
sesuai dengan kompartemen yang memerlukan.
Terapi cairan pada beberapa keadaan
Defek Primer
IFV
ICV
IVV
IVV+IFV

Dehidrasi ECV
Dehidrasi ICV
Perdarahan baru
Perdarahan Lama

Pemilihan cairan
RL//RA
D5
Koloid
Koloid + RL

Tata laksana penggantian cairan dan elektrolit


Tujuan

utama

tata

laksana

penggantian

cairan

dan

elektrolit

adalah

mengembalikanvolume yang hilang. Volume yang diperlukan bervariasi tergantung keadaan


klinis dan perlu dilakukan evaluasi berkala.
A.

Perkiraan kehilangan cairan (status dehidrasi)


Dehidrasi terjadi akibat kehilangan air dan natrium. Bila natrium yang hilang bersama

air konsentrasinya lebih tinggi dari kadar natrium cairan ekstraseluler,maka akan terjadi
dehidrasi hipo-osmotik. Bila jumlah natrium dalam air yang hilang kurang lebih sama maka
akan terjadi dehidrasi iso-osmotik, dan bila kehilangan natrium lebih rendah dari pada air
mata akan terjadi dehidrasi hiperosmotik. Gejala klinis dehidrasi dipengaruhi oleh berat
ringannya kehilangan cairan (Tabel 2) dan kadar natrium cairan ekstraseluler. Tanda yang
dapat dijumpai antara lain, berat badan turun, turgor kulit menurun, ubun-ubun cekung, mata
cekung, mukosa kering, nadi cepat dan tekanan darah turun, serta jumlah urin sedikit dan
pekat. Laboratorium menunjukkan kenaikan hematokrit dan kenaikan berat jenis urin.

Langkah-langkah memperkirakan kehilangan cairan:


-

Perubahan berat badan

Perubahan berat badan yang cepat menggambarkan perubahan cairan tubuh total.
Berat badan diperlukan untuk menentukan banyaknya cairan pengganti yang dibutuhkan.
-

Anamnesis:
o Kehilangan cairan: muntah, diare, perdarahan, luka bakar, drainase bedah

(seberapa banyak dan/atau seberapa sering).


o Masukan cairan: jenis cairan, jumlah cairan, dan evaluasi.
o Produksi urin.
Pemeriksaan fisik: status mental, nadi, frekuensi nadi, tekanan darah, berat badan,
membran mukosa, turgor kulit, warna kulit, perabaan perifer, dan waktu pengisian

kapiler.
Laboratorium: kimia serum, hematokrit, urinalisis lengkap.

B. Pemberian cairan intravena


Pemberian cairan intravena harus memperhatikan jenis cairan, jumlah cairan, dan
kecepatan pemberian cairan.
1. Jenis cairan
Pada keadaan syok, untuk memperbaiki volume sirkulasi efektif, apapun jenis
dehidrasinya (iso-osmotik, hipo-osmotik, maupun hiperosmotik) cairan awal yang seharusnya
diberikan adalah cairan isotonis. Cairan kristaloid yang dapat digunakan adalah Ringers
Lactat, Ringers Asetat, dan NaCl 0,9%. Setelah syokteratasi, pemilihan jenis cairan
tergantung pada jenis dehidrasi.
2. Jumlah cairan
Untuk memperbaiki volume sirkulasi efektif diberikan 10-20 ml/kgBB dalam 10-30
menit. Evaluasi perbaikan klinis meliputi status mental, tanda vital, dan produksi urin. Bila
setelah pemberian cairan 60 mL/kgBB syok belum teratasi, dilanjutkan dengan melakukan
pemantauan secara invasif.
3. Pemberian cairan pada keadaan dehidrasi tanpa syok atau setelah syok teratasi.
Bila pemberian cairan peroral tidak memungkinkan, kebutuhan cairan diberikan
secara intravena dengan mempertimbangkan:

Defisit air maupun elektrolit


Kehilangan cairan yang masih berlangsung: volume dan komposisi

elektrolit.
Kebutuhan rumatan9

Sumber: pediatrics advance life support 2015 AHA guideline update

Sumber : 2015 AHA guidelines highlights update

Atropin untuk intubasi endotrakeal. Bradikardi sering timbul saat dilakukannya


intubasi emergensi pada pediatrik, maka dari itu digunakan atropin sebagai premedikasi
dalam intubasi pediatrik. Namun, tidak ada bukti yang mendukung penggunaan atropin
secara rutin sebagai pengobatan awal guna mencegah bradikardi pada intubasi pediatrik
darurat. Namun, atropin dapat digunakan dalam kondisi jika terjadi peningkatan risiko
bradikardia. AHA 2010 dosis minimum atropin yang disarankan adalah 0,1 mg IV karena
terdapat laporan tentang bradikardia paradoksal yang terjadi pada neonatus dan pernah
mendapat atropin dosis rendah. Tetapi dalam 2 penelitian dosis intubasi yang diberikan 0,02
mg/kg, tanpa dosis minimum menunjukkan efektivitas dalam mencegah aritmia.10
Pengobatan antiaritmia untuk ventikel takikardi pada anak menggunakan amiodaron
atau

lidokain.

Penggunaan

vasopresor

atau

epinefrin

sewaktu

serangan

jantung

direkomendasikan pada anak. 10


Epinefrin adalah katekolamin poten yang langsung bekerja pada reseptor adrenergik
tanpa melalui pelepasan cadangan norepinefrin. Epinefrin lebih balk dari katekolamin lain
pada pasien dengan cadangan norepinefrin miokard terbatas seperti pada bayi dan anak
dengan gagal jantung kronik. Khasiat epinefrin tergantung dosis. Rekomendasi dosis pada
anak adalah 0,1 mikrogram/kg/menit 1 mikrogram/kg/menit. Pada dosis rendah epinefrin
terutama berhubungan dengan efek -adrenergik yaitu peningkatan kontraktilitas miokard,
laju denyut jantung, tekanan darah sistolik dan tekanan nadi, sedikit penurunan pada SVR
dan peningkatan kebutuhan oksigen otot jantung.9
Infuse epinefrin diberikan pada pasien dengan perfusi sistemik buruk atau hipotensi
non-hipovolemik, yaitu bila saat resusitasi terdapat bradikardia, asistole atau nadi tidak
teraba. Infuse epinefrin dapat mengembalikan sirkulasi spontan, memperbaiki tekanan darah
dan perfusi sistemik.10

Infuse epinefrin diberikan melalui kateter vena atau kateter vena sentralis untuk
mencegah ekstravasasi. Masa paruh epinefrin sekitar 2 menit, karena itu kecepatan infuse
disesusikan setipa 5 menit dnegan memperhatikan laju denyut jantung, tekanan darah, dan
perfusi sistemik. Infus epinefrin dimulai dengan kecepatan 20 ml/jam sampai takikardia
terdeteksi, yang menandakan epinefrin sudah masuk sirkulasi pasien. Dosis kemudian
diturunkan menjadi 0,1-1,0 g/kgBB/menit sampai 5,0 g/kgBB/menit dengan pemantauan
ketat takiaritmia dan efek samping lain.9
Dopamin adalah immediate precursor dari norepineprin dan epineprin, secara
farmakodinamik memiliki variasi efek tergantung pada rentang dosis yang digunakan:

Dosis < 5 mcg/kg/menit dapat menstimulasi reseptor dopamine-1 di ginjal, mesentrika

dan koroner dengan dampak terjadi vasodilatasi.


Dosis 5-10 mcg/kg/menit dapat menstimulasi reseptor beta-1 adrenergik, dengan dampak
meningkatkan cardiac output khususnya peningkatan stroke volume dengan sedikit

pengaruh pada heart rate.


Dosis 10 mcg/kg/menit dapat menstimulasi reseptor alpha-1 dengan dampak
vasokonstriksi dengan peningkatan stroke volume rate (SVR).
Dobutamin adalah predominan beta-1 adrenergik yang menyebabkan efek inotropik

yang poten dan kronotrpik yang lemah, secara farmakodinamik efeknya adalah peningkatan
cardiac output dan penurunan SVR dengan atau tanpa penurunan tekanan darah. Dosis yang
direkomendasikan pada anak adalah 2-15 mcg/kg/menit, pada dosis < 5 mcg/kg/menit
menimbulkan dampak vasodilatasi dan pada dosis > 15 mcg/kg/menit dapat menyebabkan
takikardia dan aritmia. Dobutamin memberi efek langsung pada reseptor 1-adrenergik, tidak
tergantung pada cadangan norepinefrin. Dobutamin tidak mempunyai efek dopaminergik,
sehingga tidak berpengaruh langsung pada aliran darah ginjal dan splangnik. Pada anak
dengan syok kardiogenik dobutamin meningkatkan curah jantung dan merendahkan tekanan

kapiler paru dan resistensi vaskular sistemik. Pada syok septik dan hipotensi, dobutamin
kurang efektif dibandingkan epinefrin, karena dobutamin memperberat vasodilatasi.10
Lidokain menekan aritmia ventrikular. Lidokain juga mempunyai efek anestetik lokal
yang membantu penekanan ektopik ventrikel. Aritmia dan fibrilasi ventrikel jarang pada
anak, biasanya berhubungan dengan kelainan metabolik dan intoksikasi obat, dan pengobatan
terpilih adalah dengan mengoreksi penyebab kelainan ini, bukan dengan lidokain. Aritmia
dan fibrilasi ventrikel dapat juga disebabkan oleh miokarditis atau penyakit jantung
struktural.10
Infus lidokain diberikan pada keadaan aritmia ventrikel, takikardia dan fibrilasi
ventrikel atau gelombang ektopik ventrikel pasca resusitasi yang tidak diketahui sebabnya
atau yang diduga berhubungan dengan miokarditis atau penyakit jantung struktural.11
Dosis lidokain adalah 20-50 g/kgBB/menit. Cairan infus harus mengandung 120 mg
lidokain dalam 100 ml D5W. Lidokain diberi 1-25 ug/kgBB/menit (20-50 ug/kgBB/menit).
Karena masa paruh lidokain panjang (beberapa jam), untuk mencapai dosis terapeutik cepat,
diberikan dosis inisial 1 mg/kgBB, sebelum dilanjutkan dengan infus lidokain.9