Anda di halaman 1dari 12

Oleh :

KELOMPOK VI
Aswidy Wijaya Cipta
Ernawati R.
Abidarda
Sukmawati
Chandra Utama M.
Muh. Yusuf M.

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Segala puji bagi Allah SWT, atas limpahan berkah, rahmat dan hidayahNya. Salam dan
shalawat kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya yang telah
membimbing manusia menuju jalan yang benar.

Alhamdulillah kata yang sangat tepat untuk mewakili perasaan penulis, akhirnya makalah
ini dapat diselesaikan. Makalah ini berisikan tentang berbagai hal tentang kognitif dan teori
Gestalt.

Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih memiliki banyak kekurangan, sehingga
mengharapkan dukungan berupa saran dan kritik dari berbagai pihak guna perbaikan pada
penyusunan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua
pihak yang terkait. Amiin.

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

Makassar, 20 April 2009

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman Judul ………………………………………...................................................i
Kata Pengantar ……………………………………………………………………….…..ii
Daftar Isi …………………………………………………………………………..……..iii

Perkembangan kognitf………………………………………………………………...1
Gestalt…………………………………………………………………………............4
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................……………..9

PERKEMBANGAN KOGNITIF

Setiap pengalaman, perilaku dan individu ditanggapi dengan dua cara oleh seorang ahli

psikologi. Ia dapat menelaah pengalaman atau kelakuan secara tersendiri, sebagai suatu

pengalaman atau peristiwa unik dan aneh, yaitu sebagai suatu yang berlainan dari segala

pengalaman, perorangan atau perilaku di seluruh muka bumi. Atau ia dapat pula menanggapinya
sebagai sesuatu yang bukan unik, namun sebagai contoh atau wakil dari salah satu golongan,

kategori, atau rubric pengalaman. Artinya, ia tidak bersungguh-sungguh menyelidiki,

mengamati, mencerap atau mengalami peristiwa itu; reaksinya seperti sikap seorang juru berkas

yang hanya sekedar melayangkan pandangannya pada satu lembar saja, sudah dapat

mengelompokannya ke dalam berkas A, B, atau C dsb. Untuk pekerjaan semacam itu dapat

digunakan istilah rubrikasi atau pengelompokan. Untuk orang yang tidak menyukai istilah baru

(neologism) mungkin dapat dianjurkan penggunaan istilah “abstracting B W”. Dalam hal ini

sandi B dan W menunjuk nama Bergson dan Whitehead, dua orang ahli piker yang paling

banyak memberi sumbangan kepada tentang abstraksi.

Sebagai orang dewasa, kita menerima banyak aspek kehidupan seperti apa adanya.

Misalnya kita mengetahui, bahwa lengan kita merupakan bagian dari tubuh kita dan bahwa meja

dimana lengan itu diletakkan bukan bagian tubuh kita. Tetapi fakta itu, yang diterima apa adanya

oleh orang dewasa, merupakan masalah belajar bagi bayi. Dari hubungannya dengan benda dan

manusia lain, anak-anak belajar memahami dunia mereka. Mereka maju dengan kecepatan yang

luar biasa mulai dari pengetahuan dasar yang diperoleh dengan memanipulasi objek sampai pada

jenis pemikiran abstrak yang merupakan cirri orang dewasa.

Meskipun sebagian besar orang tua menyadari perubahan intelektual yang menyertai

pertumbuhan fisik anak-anak mereka, mereka akan memperoleh kesulitan menggambarkan ciri

perubahan tersebut. Ahli psikologi berkebangsaan Swiss, Jean Piaget (1896-1980) melaksanakan

studi paling intensif mengenai perkembangan kognitif anak-anak. Setelah observasi cermat yang

berlangsung bertahun-tahun lamanya, Piaget mengembangkan teori mengenai bagaimana

kemampuan anak-anak untuk berpikir dan mempertimbangkan kehidupan mereka secara logis

berlangsung melalui satu rangkaian tahapan yang berbeda sewaktu mereka berkembang. (lihat

tabel)

No. TAHAPAN KARAKTERISASI


1 Sensorimotor – Membedakan diri sendiri dengan setiap objek
– Mengenal diri sebagai pelaku kegiatan dan mulai bertindak
(sejak kelahiran s/d usia 2 dengan tujun tertentu: mis. Menarik seutas tali untuk
tahun) menggerakkan sebuah mobil atau menggoncangkan mainan
supaya bersuara.
– Menguasai keadaan tetap dari objek (object permanence):
menyadari bahwa benda tetap ada meskipun tidak lagi
terjangkau oleh indra.
2 Praoperasional – Belajar menggunakan bahasa dan menggambarkan objek
dengan imajinasi dan kata-kata.
(2-7 tahun) – Berpikir masih bersifat egosentris: mempunyai kesulitan
menerima pandangan orang lain.
– Mengklasifikasikan objek menurut tanda, mis.
Mengelompokkan semua balok merah tanpa memperhatikan
bentuknya atau semua balok persegi tanpa memperhatikan
warnanya.
3 Operasional (konkret) – Mampu berpikir logis mengenai objek dan kejadian
– Menguasai konservasi jumlah dan jumlah tak terbatas (usia 7
(7-12 tahun) tahun), serta berat (usia 9 tahun)
– Mengklasifikasikan objek menurut beberapa tanda dan
mampu menyusunnya dalam suatu seri berdasarkan satu
dimensi, seperti ukuran.
4 Operasional Formal – Mampu berpikir logis mengenai soal abstrak serta menguji
hipotesis secara sistematis.
12 tahun ke atas – Menaruh perhatian terhadap masalah hipotesis, masa depan,
dan maslah ideologis.

Petunjuk Pemilihan Stimulus

Semua penyelidikan ini menghasilkan kesimpulan bahwa system saraf mestinya

mempunyai semacam tempat di mana informasi sensorik yang masuk disimpan sementara dalam

bentuk yang agak kasar dan tidak teranalisis. Dari semua stimulus yang memenuhi indera kita,

yang terpilih untuk diperhatikan hanyalah stimulus yang menurut proses mental kita lebih tinggi

adalah yang relevan pada saat itu. Semacam mekanisme perhatian menyeleksi untuk pemrosesan

lebih lanjut dari berbagai masukan sensorik tersebut yang tampaknya paling penting dan

berkaitan dengan masalah. Masukan sensorik tertentu (seperti suara nama seseorang) dapat

diperkirakan selalu mempunyai peringkat kepentingan yang tinggi. Tetapi kebanyakan akan

berubah-ubah tergantung dari berbagai peristiwa yang mengait(Norman, 1976).

Factor apa yang menentukan stimulus mana yang akan terpilih sebagai perhatian?

Beberapa cirri fisik stimulus yang penting adalah: intensitas, ukuran, kontras dan gerakan.

Variable internal tertentu, seperti motif, harapan, dan minat juga menentukan stimulus yang

menarik perhatian. Para naturalis mendengar berbagai suara di hutan yang tidak didengar oleh

orang awam yang bepergian ke tempat yang sama. Seorang ibu mendengar tangis bayinya di

tengah percakapan orang banyak dalam ruang yang penuh sesak.kedua gambaran diatas

merupakan contoh minat yang tetap. Kadang-kadang minat yang sementara dapat pula
menentukan perhatian. Bila kita membuka halaman buku untuk mencari suatu diagram tertentu,

hanya pada halaman bergambarlah kita akan terhenti-henti.

GESTALT

Ketika Behaviorisme berkembang pesat di Amerika Serikat, maka di negara Jerman

muncul aliran yang dinamakan Psikologi Gestalt (arti kata Gestalt, dalam bahasa Jerman, ialah

bentuk, pola, atau struktur). Para psikolog Gestalt yakin bahwa pengalaman seseorang

mempunyai kualitas kesatuan dan struktur. Aliran Gestalt ini muncul juga karena ketidakpuasan

terhadap aliran strukturalis, khususnya karena strukturalis mengabaikan arti pengalaman

seseorang yang kompleks, bahkan dijadikan elemen yang disederhanakan. Aliran psikologi
Gestalt mempunyai banyak tokoh terkemuka, antara lain Wolfgang Kohler, Kurt Koffka, dan

Max Wertheimer. Kata Gestalt sudah ada sebelum Wertheimer dan kawan-kawan

menggunakannya sebagai nama. Palland (dari Belanda) mengatakan bahwa pengertian Gestalt

sudah pernah dikemukakan pada jaman Yunani Kuno, Menurut Palland : Plato dalam uraiannya

mengenai ilmu pasti (matematika), telah menunjukkan bahwa dalam kesatuan bentuk terdapat

bagian-bagian atau sifat-sifat yang tidak terdapat (tidak dapat terlihat) pada bagian-bagiannya.

Lalu ahli filsafat Jerman (Goethe & Shiller) sudah sering menggunakan istilah Gestalt, demikian

juga dengan Wundt sendiri menggunakan telah menggunakan Gestalt sebagai satu asas yang ia

namakan asas sintesa kreatif. Aliran psikologi Gestalt ini nampaknya merupakan aliran yang

cukup kuat dan padu. Falsafah yang dikemukakannya sangat mempengaruhi bentuk psikologi di

Jerman, yang kelak juga akan terasa pengaruhnya pada psikologi di Amerika Serikat (terutama

dalam penelitian mengenai persepsi). Hal itu nampak dari kedua aliran psikologi modern yang

sejaman, yaitu aliran Humanisme dan aliran Kognitif.

Perintis teori Gestalt ini ialah Chr. Von Ehrenfels, dengan karyanya “Uber

Gestaltqualitation“ (1890). Aliran ini menekankan pentingnya keseluruhan yaitu sesuatu yang

melebihi jumlah unsur-unsurnya dan timbul lebih dulu dari pada bagian-bagiannya. Pengikut-

pengikut aliran psikologi Gestalt mengemukakan konsepsi yang berlawanan dengan konsepsi

aliran-aliran lain . Bagi yang mengikuti aliran Gestalt perkembangan itu adalah proses

diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer ialah keseluruhan , sedangkan bagian –

bagiannya adalah sekunder; bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian dari pada

keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain ; keseluruhan ada

terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya.

Contohnya kalau kita bertemu dengan seorang teman misalnya, dari kejahuan yang kita

saksikan terlebih dahulu bukanlah bajunya yang baru , melainkan teman kita itu secara

keseluruhan selanjutnya baru kemudian kita saksikan adanya hal-hal khusus tertentu misalnya

baju yang baru. Selanjutnya Wertheimer, seorang yang di pandang pendiri aliran ini

mengemukakan eksperimennya mengenai “Scheinbewegung“ (gerak semu) memberikan

kesimpulan, bahwa pengamatan mengandung hal yang melebihi jumlah unsur-unsurnya.

Penelitian dalam bidang optik ini juga di pandang berlaku ( kesimpulan serta prinsip-prinsipnya )

di bidang lain, seperti misalnya di bidang belajar.


Teori Belajar Gestalt

Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan ( persepsi ) dan mencapai sukses

yang terbesar juga dalam lapangan ini. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan

organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan

sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah. Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari

masalah pengamatan ke masalah belajar, maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam

penelitian mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar . Karena asumsi

bahwa hukum –hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat

ditransfer kepada hal belajar, maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami

hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu.

Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized

form) dan pola persepsi manusia . Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam

kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Psikologi Gestalt ini terkenal juga

sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. Kelompok pemikiran ini

sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki

kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebuh dari pada bagian- bagiannya.

Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting, antara lain :

1. Manusia bereaksi dengan lingkunganya secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual,

tetapi juga secara fisik, emosional,sosial dan sebagainya

2. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.

3. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa, lengkap dengan

segala aspek-aspeknya.

4. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas.

5. Belajar hanya berhasil, apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.

6. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, motivasi membei dorongan

yang mengerakan seluruh organisme.

7. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan.

8. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif, bukan ibarat suatu bejana yang diisi.

Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahakan masalah. Hal ini

nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan.
Belajar memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap.

Kemudian bagaiman seseorang itu dapat memecahknan masalah mrnurut J. Dewey ada 5 upaya

pemecahannya yakni:

1. Realisasi adanya masalah. Jadi harus memehami apa masalahnya dan juga harus dapat

merumuskan

2. Mengajukan hipotesa, sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah pemecahan masalah.

3. Mengumpulkan data atau informasi, dengan bacaan atau sumber-sumber lain.

4. Menilai dan mencobakan usah pembuktian hipotesa dengan keterangan-keterangan yang

diperoleh.

5. Mengambil kesimpulan, membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil pemecahan

soal itu.

Teori medan ini mengibaratkan pengalaman manusia sebagai lagu atau melodi yang lebih

daripada kumpulan not, demikian pila pengalaman manusia tidak dapat dipersepsi sebagai

sesuatu yang terisolasi dari lingkungannya. Dengan kata lain berbeda dengan teori asosiasi maka

toeri medan ini melihat makna dari suatu fenomena yang relatif terhadap lingkungannya. Sesuatu

dipersepsi sebagai pendek jika objek lain lebih panjang. Warna abu-abu akan terlihat lebih cerah

pada bidang berlatar belakang hitam pekat. Warna abu-abu akan terliaht biru pada latar berwarna

kuning. Belajar melibatkan proses mengorganisasikan pengalaman-pengalaman kedalam pola-

pola yang sistematis dan bermakna. Belajar bukan merupakan penjumalahan (aditif), sebaliknya

belajar mulai dengan mempersepsi keseluruhan, lambat laun terjadi proses diferensiasi, yakni

menangkapbagian bagian dan detail suatu objek pengalaman.

Dengan memahami bagian / detail, maka persepsi awalakan keseluruhan objek yang

semula masih agak kabur menjadi semakin jelas. Belajar menurut paham ini merupakan bagian

dari masalah yang lebih besar yakni mengorganisasikan persepsi kedalam suatu struktur yang

lebih kompleks yang makin menambah pemahaman akan medan. Medan diartikan

sebagaikeseluruhan dunia yang bersifat psikologis.

Seseorang meraksi terhadap lingkungan seauai dengan persepsinya terhadap lingkungan

pada saat tersebut. Manusia mempersepsi lingkungan secara selektif, tidak semua objek masuk

kedalam fokus persepsi individu, sebagian berfungsi hanya sebagai latar. Tekanan ke-2 pada

psikologi medan ini adalah sifat bertujuandari prilaku manusia. Individu menetaokan tujuan
berdasarkan tilikan (insight) terhadap situasi yang dihadapinya. Prilakunya akan dinilai cerdas

atau dungu tergantung kepada memdai atau tidaknya pemahamanya akan situasi Dalam hukum-

hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok , yaitu hukum Pragnaz, dan empat hukum

tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu,yaitu hukum –hukum

keterdekatan , ketertutupan, kesamaan , dan kontinuitas.

Teori gestalt juga banyak dipakai dalam proses desain dan cabang seni rupa lainnya,

karena banyak menjelaskan bagaimana persepsi visual bisa terbentuk. Persepsi jenis ini bisa

terbentuk karena:

1. Kedekatan posisi (proximity)

2. Kesamaan bentuk (similiarity)

3. Penutupan bentuk (closure)

4. Kesinambungan pola (continuity)

5. Kesamaan arah gerak (common fate)

Faktor inilah yang menyebabkan kita sering bisa merasakan keteraturan dari pola-pola

yang sebenarnya acak. Misalnya saat seseorang melihat awan, dia dengan mudah bisa

menemukan bentuk muka seseorang. Hal ini disebut pragnan.


DAFTAR PUSTAKA

Hilgard, Ernest R. Atkinson, Richard C. Atkinson, Rita L. Pengantar Psikologi. Jakarta.


Erlangga.2008

Mappianre, Andi. Pengantar konseling dan psikoterapi. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.2006

Maslow, Abraham H. Motivasi dan Kepribadian-2. Jakarta. PT Midas Surya Grafindo. 1993.

Sahabuddin. Mengajar dan belajar. Ujung Pandang. Bagian penerbitan FIP IKIP Ujung Pandang.
1996

Sujanto, Agus. Psikologi Umum. Jakarta. PT Bumi Aksara. 2004.

http://id.wikipedia.org/wiki/teoribelajargestalt

http://psikomedia.com

http://rumahbelajarpsikologi.co.id

http://wangmuba.com