Anda di halaman 1dari 16

2.

1 Hematologi Klinis
2.1.1 Definisi
Hematologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sel-sel darah dan faktorfaktor yang memengaruhi fungsinya.Volume darah dalm tubuh manusia, pada
orang dewasa yang berat badannya 60 kg adalah sekitar 4,5liter. Pengambilan
0,5 liter darah untuk transfusi sebenarnya tidak berbahaya. Jadi, pengambilan
darah sebanyak dua tabung (masing-masing 10 ml atau lebih) tidak akan
beresiko. Hal ini perlu dijelakan kepada pasien untuk menghilangkan
kecemasannya sewaktu akan diambil darahnya.1
2.1.2 Pengambilan Darah Vena (venipucture)
pengambilan darah vena (venipucture) disebut juga pungsi vena( flebotomi)
adalah pungsi yang dilakukan pada vena untuk mendapatkan sampel darah vena
untuk dianalisis.
2.1.2.1 Alat dan Bahan
1. Torniket (dapat diganti dengan drain Penrose 1 inci [4 cm] atau
manset pengukur tekanan darah)
2. Alkohol, kasa, dan plester perekat
3. Tabung spesimen yang sesuai untuk pemeriksaan yang diingankan
(tabel halaman 380)
4. Tabung suntik dengan ukuran yang sesuai dengan volume darah yang
dibutuhkan (5 ml, 10 ml, dan lain-lain), atau tabung Vacutainer dan
jarum yang sesuai dan alat pemegang vacutainer. Sistem pengumpulan
darah BD Eclipse termasuk pelindung jarum yang diaktifkan secara
manual.
5. Jarum gauge 20-22 (jarum yang lebih besar menyebabkan rasa tidak
nyaman bagi pasien, dan jarum yang lebih kecil dapat menyebabkan
hemolisis atau bekuan darah; semakin besar gauge jarum, semakin kecil
jarumnya.
2.1.2.2 Prosedur
1. Kumpulkan peralatan dan bahan yang diperlukan sebelum memulai
prosedur, termasuk cadangannya untuk berjaga-jaga jika muncul

masalah.
2. Tempat pemungsian vena yang biasa dipakai adalah vena-vena pada
fosa antekubiti. Tempat alternatif meliputi punggung tangan, lengan
bawah, vena safena yang dekat dengan maleolus medialis dan vena
jugularis eksterna. Jika tempat-tempat perifer ini tidak memungkinkan,
gunakan vena femoralis. Jangan pernah mengambil darah di proksimal
tempat pemasangan jalur IV karena tingginnya konsentrasi cairan IV
pada vena tersebut.
3. Pasang torniket minimal 2-3 inci (5-8 cm) di atas temaoat pungsi.
Minta pasien mengepalkan tangannya untuk membantu memunculkan
vena terlebih dahulu. Jika lokasi vena sulit ditentukan, coba menepuk
atau menjentikkan vena dengan lembut agar terjadi reflek dilatasi,
menggantungkan ekstremitas dengan bebas, membungkus ekstremitas
dengan handuk basah yang hangat, mengganti torniket standar dengan
manset pengukur TD, atau mengoleskan pasta nitrogliserin di bawah
atau di atas daerah pungsi untuk mendilatasikan vena.
4. Bersihkan tempat penyuntikan dengan swab alkohol, dan biarkan
alkohol mengering.
5. Sistem vacutainer telah menjadi standar pengambilan darah untuk
analisis. Pasang jarum Vacutainer gauge 22-20 mangkok Vacutainer, dan
putar pelindung pengaman ke belakang. Pada sistem jarum eclipse (BD
Bio sciences), pelindung yang menutupi jarum diaktifkan secara manual
setelah sampel didapatkan. Bukalah tutup pelindung jarum.
6. Pertahankan posisi bevel jarum emnghadap ke atas, dan pungsikan
kulit di sepanjang vena. Setelah jarum menembus kulit, guankan ibu jari
tangan yang ebbas anda untuk menstabilkan vena dan mencegahnya
bergeser. Tusuk vena dari samping dengan sudut 30 derjat. Teknik
alternatif adalah dengan menusuk kulit dan vena sekaligus pada satu
tusukan. Manuver ini membutuhkan latihan karena vena seringkali
tertembus.
7. Pasanglah tabuung yang sesuai ke atas jarumdi dalam mangkok

Vacutainer. Vakum di dalam tabung secara otomatis akan menarik


sampel darah. Jika anda memegang vacutainer dengan stabil, beberapa
tabung akan dapat terkumpul melalui cara ini.
8. Setelah darah berhasil dikumpulkan, lepaskan torniket, tarik jarum,
dan tekan dengan swab alkohol atau kasa steril selama 2-3 menit. Pada
jarum BD Eclipse, ujung jarum dapat segera situtup kembali dengan
satu tangan. Evaluasi ekstermitas yang disuntik bermanfaat untuk
mengurangi hematoma. Menekuk lengan justru menigkatkan ukuran
bekas penyuntikan dan sebaiknya tidak dilakukan.
9. Jika darah perifer sulit ditemukan, coba lakukan pungsi dengan vena
femoralis. Tentukan vena femoralis dengan menggunakan NAVEL
(palpasi vena femoralis tepat di bawah ligamentum inguinale. Dari
lateral ke medial, struktur-strukturnya Nerve (saraf), Arteri, Vena,
Empty space, limfatik. Vena femoralis tepat ditemukan di medial arteri
femoralis. Setlah membersihkan kulit , tusukkan jarum tegak lurus
terhadap kulit, dan aspirasi perlahan-lahan. Vena ini berada sekitar 1-1
inci (2,5-4 cm) di bawah kulit berikan tekanan kuat setelah sample
darah berhasil ditemukan. Hematoma adalah komplikasi yang sering
pada vena femoralis. Jika artri tertusuk sampel darah tetap dapat
diperiksa. Tekan lebih lama (5 menit) apabila yang tertususk adalah
arteri femoralis.
10. Pada anak-anak dan orang tua venanya rapuh. Untuk mengambil
sampel darah dapat mneggunakan jarum kupu-kupu gauge 21-15.
Sambungkan pada tabung sedangkan pada tabung suntik atau guanakan
sistem vacutainer tanpa jarum.
2.1.3 Pengambilan Sampel Darah Kapiler (Heelstick dan Fingerstick)
Indikasi pengambilan darah pada bayi, fingerstick juga dapat digunakan untuk
pengambilan sampel yang sedikit pada anak yang lebih besar dan orang dewasa.

2.1.3.1 Alat dan Bahan


1. Alkohol swab
2. Lanset (BD Quikheel Lancet, BD Genie Lancet untuk fingerstick
yang membutuhkan volume darah yang cukup banyak. Lanset jarum
BD Genie untuk pemeriksaan glukosa)
3. Wadah pengumpul: tabung kapiler, Tabung BD Microtainer (dengan
penutup Micro-Guard) atau tabung caraway
4. Lempung atau penutup tabung kapiler lainnya.
2.1.3.2 Teknik Heelstick
Untuk mencegah penusukan vena berulang kali, terutama pada bayi,
berbagai pemeriksaan kini telah dikembangkan sehingga hanya memrlukan
sedikit sampeldarah saja. Meskipun disebut fingerstick atau heelstick.
Pembuluh kapiler darah manapun yang sangat vaskular dpat digunakan
(ujung jari, daun telinga, dan ibu jari kaki)
1. Tumit dapat dihangatkan selama 5-10 menit dapat dengan
membungkusnya dengan kain hangat. Bersihkan daerah yang disuntik
dengan swab alkkohol.(gambar hal 337) pada tempat penyuntikan ini
risiko terjadinya osteomielitis dapat dikurangi.
2. Gunakanlah lanset, buatlah tusukan yang cepat dan dalam sehingga
darah mengalir bebas. Lanset dengan pengaman otomatis (BD QuikHeel
Lancet dengan ukuran neonatus dan bayi) untuk heelstcik dipegang di
atas tempat penusukan dengan sudut 90 derajat terhadap kaki. Sebuah
tombol akan mengaktifkan bilah lanset dan setelahnya bilah tersebut
kembali kedalam tempatnya.
3. Hapus tetesan darah pertama.remas tumit dengan lembut dan
tempelkan tabun pengumpul pada tetsan darah. Tabung akan terisi
akibat gaya kapiler dan ditutup rapat.
4.laboratorium dapat melakukan pemeriksaan pada sampel yang sedikit
pada pasien anak. Tabung Caraway dapat menampung darah sebanyak
0,3 ml. Satu sampai tiga tabung Caraway dapat digunakan untnk
sebagian besar pemeriksaan rutin. Untuk analisa gas darah kapiler,

darah biasanya dimasukkan ke tabung suntik 1 mlyang sudah diberi


heparin dan disimpan bersama es. Tabung microtainer BD dengan
penutup microguard tersedia dengan jenis yang sudah diberi kode warna
untuk pemeriksaan darah yang spesifik menyerupai tabung vacutrainer
yang lebih besar.
5. Sampel darah harus mengalir cukup bebas sehingga spesimen dapat
dikumpulkan dalam waktu kurang dari 2 menit. Waktu yang lebih lama
dapat menyebabkan pembekuan mikro sampel darah.
6. Tutup tempat penusukan dnegan kasa ukuran 4x4, atau tempelkan
plester perekat.
2.1.3.3 Teknik Fingerstcik
1. Bersihkan tempat penusukan dengan alkohol, dan biarkan mengering
2. Lepaskan penutupnya dari alat penagaman lanset (lanset BD Genie)
dan letakkan lanset di atas bantalan jari.
3. Tekan tombol pengaktif yang bewarna putih dengan ibu jari. Baung
alatnya.
4. Pijat jari perlahan-lahan dari dasar jari sampel ke tempat penusukan
untuk mengumpulkan sampel. Penempatan tangan pasien di bawah level
siku akan meningkatkan aliran darah. Untuk pemeriksaan kadar glukosa
dengan alat seperti lanset jarum genie, hanya dibutuhkan satu tets darah
yang diteteskan pada strip reagen penentuan kadar glukosa. Alat
pengaman lancet tidak dibutuhkan karena jumlah darah yang
dibutuhkan hanya sedikit.
5. Ikuti langkah 3-6 seperti pada heelstick
2.1.3.4 Komplikasi
Selulitis pada tempat penusukan, osteomielitis untuk prosedur heelstick
pada bayi.
2.1.4 Diagnostik Complete Blood Count (CBC)
2.1.4.1 Sel darah putih (Leukosit)
Meningkat: infeksi, proses peradangan,( artritis reumathoid, alergi),

leukemia, stres berat (fisik dan emosional), pasca operasi (stres fisiologi),
kerusakan jaringan yang parah( misalnya luka bakar), dan steroid.
Menurun: kegagalan sumsum tulang (anemia aplastik, infeksi, tumor,
fibrosis, kerusakan akibat radiasi), bahan atau obat-oabatn sitotoksik
(misalnya kloramfenikol, linezolid, bahan kemoterapeutik), penyakit
kolagen-vaskular seperti lupus, penyakit hati atau limpa, defisiensi vitamin
B12 atau folat.
Basofil 0-1%
Meningkat:

leukemia

mieloid

kronik,

pascasplenektomi,

polisitemia, penyakit hodgkin, dan kadang dalam masa


penyembuhan setelah infeksi atau hippotiroidisme.
Menurun :

Demam reumatik akut, kahamilan, pasca terapi

radiasi, terapi tiroid, tirotoksikosis, stres.


Eosinofil 1-3%
Meningkat : Alergi, Parasit, penyakit kulit, keganasan, obatobatan, asma, penyakit addison, penyakit kolagen-vaskular (singkatan
NAACP : Neoplasma, Alergi/asma, penyakit Addison, penyakit
Collagen(kolagen)-vaskular, Parasit), penyakit paru, termasuk
sindrom loffler, dan PIE ( pulmonary infiltrate with eosinofilia)
Menurun : steroid, ACTH, akibat stress (infeksi, trauma, luka
bakar) sindrom Cushing.
Limfosit 24-44%
Meningkat : infeksi virus ( AIDS, campak, rubela, mumps
[penyakit gondong], pertusis, variola, varisela, influenza, hepatitis,
mononukleus infeksiosa), limfositosis infeksius akut pada

anak-

anak, leukimia limfositik akut dan kronik.


Menurun : (normal pada 22% populasi) stres, luka bakar, trauma,
uremia beberapa infeksi virus, HIV dan AIDS, supresi sumsum
tulang pascakemoterapi, steroid, MS.
Limfosit Atipik > 20%; mononukleosis infeksiosa, infeksi CMV,

hepatits infeksiosa, toksoplasmosis, keganasan <20%; infeksi virus


(mumps, rubeola, varisela, infeksi riketsia, TB
Monosit 3-7%
Meningkat : Infeksi bakteri (TB, SBE [subacute bacterial
endocarditis], bruselosis, tifoid, penyembuhan setelah infeksi
akut),infeksi protozoa, mononukleosis infeksiosa, leukimia,
penyakit hodgkin, kolitis ulseratif, enteritis regional
Menurun : Leukimia limfositik, anemia aplastik, pengguanaan
steroid
PMN (polymorphonuclear Neutrophil, Neutrofil) 40-76%
Derajat lobulasi inti PMN menunjukkan usia sel. Dominasi sel
imatur dengan 1 atau 2 lobus inti yang dipisahkan oleh pita kromatin
tebal disebut pergeseran ke kiri (shift to the lift). Sebaliknya,
dominasi sel denagan empat lobus inti disebut pergeseran ke kanan
(shift to the right) . Sebagai aturan 55-80% PMN memiliki dua hingga
empat lobus. Lebih dari 20 sel berlobus lima/100 leukosit menunjukkan
anemia megaloblastik, PMN berlobus enam atau tujuh bersifat
diagnostik.
pita atau Batang bentuk PMN yang lebih imatur (bentuk yang
lebih matur segmen) Pergeseran ke kiri terjadi pada CBC jika
ditemukan batang > 10-12% atau jika jumlah PMN total (segmen
ditambah batang) >80
Pergeseran ke kiri : infeksi bakteri, toksemia, perdarahn,
ganggaun mieloproliferatif. (akut)
Pergeseran ke kanan : penyakit hati, anemia megaloblastik,
anemia defisiensi besi, pengguanaan glukokortikoid, reaksi stress.
(kronis)
Meningkat :
Fisiologis

(normal) : olahraga berat, bulan-bulan terakhir

kehamilan, persalinan, pembedahan, bayi baru lahir, terapi steroid.


Patologis; infeksi bakteri, kerusakan jaringan noninfektif (MI,

infark paru, pankreatitis, remuk atau cedera, luka bakar), gangguan


metabolik (ekslamsia, KAD, uremia, gout akut), leukimia
Menurun

Pansitopenia,

anemia

aplastik,

depresi

PMN

(penurunan ringan disebut neutropenia; penurunan yang banyak disebut


agranulositosis) kerusakan sumsum tulang (sinar-x, keracunan benzen,
obat antitumor), infeksi yang sangat berat ( TB disseminata, septikimia),
malaria akut, osteomielitis berat, mononukleosis infeksiosa, pneumonia
atipik, beberapa infeksi virus, obliiterasi sumsum tulang (osteosklerosis,
mielofibrosis, infiltrasi ganas), obat-obatan (lebih dari 70, termasuk
kloramfenikol, fenilbutazon, klorpromazin, kuinin), defisiensi vit B 12
dan folat, hipoadrenalisme, hipopuititarisme, dialisis, penurunan
familial, penyebab idiopatik.
2.1.4.2 Sel Darah Merah
Hematokrit
Laki-laki 40-54%; Perempuan 37-47%
Dihitung dari MCV dan jumlah sel darah merah; presentase
volume sel darah merah di dalam darah dengan volume tertentu
Meningkat: Polisitemia primer, (polisitemia vera), polisitemia
sekunder( penurunan asupan cairanatau kehilangan cairan
berlebihan), penyakit jantung, dan paru kongenital atau
didapat, dataran tinggi, perokok berat, tumor (karsinoma sel renal,
hepatoma)
Menurun: Anemia megalobalstik (defisiensi folat atau B12),
anemia defisiensi besi, anemia sel sabit atau hemoglobinopati
lain; kehilangan darah akut atau kronik, anemia sideroblastik,
hemolisis, anemia akibat penyakit kronik, dilusi, alkohol atau
obat-obatan

MCH( Mean Celullar [corpuscular]Hemoglobin) 27-31 pg


Meningkat : Makrositosis ( anemia megaloblastik, jumlah
retikulosit banyak
Menurun : Mikrositosis (defisiensi besi, anemia sideroblastik,
talasemia)
MCHC

(Mean

Cellular

[corpuscular]

Hemoglobin

Concentration) 33-37 g/dL


Meningkat : Dehidrasi sangat berat dan lama, sferositosis
Menurun : Anemia Defisiensi besi, overhidrasi, talasemia,
anemia sideroblastik
MCV ( Mean Cell [corpuscular] volume) 78-98 m
Meningkat / Makrositosis : Anemia megaloblastik (defisiensi
B12, folat), anemia makrositik (normoblastik), retikulosis,
mielodisplasia, sindrom down, penyakit hati kronik,
pengobatan AIDS dengan AZT, alkoholisme kronik,
kemoterapi sitotoksik, terapi radiasi, pengguanaan fenitoin
(dilantin), hipotiroidisme, bayi baru lahir.
Menurun / Mikrositosis : defisiensi besi, talesemia, beberapa
kasus keracunan timbal, atau polisitemia
Normal : Anemia dengan penyakit kronik, kehilangan darah
akut, kegagalan sumsum tulang primer
RDW ( Red Cell Distribution Width) 11,5-14,5%
RDW merupakan pengukuran derajat anisositosis (variasi
ukuran eritrosit) dan ditentukan dengan alat penghitung
otomatis.
Meningkat : Berbagai tipe anemia (defisiensi besi, pernisiosa,
defisiensi folat, talasemia), penyakit hati.

Trombosit 150.000-450.000 L
Jumlah trombosit dapat normal dalam jumlah tetapi abnormal
dalam fungsinya, seperti yang terjadi pada terapi aspirin. Kelainan
fungsi trombosit dinilai dengan pemeriksaan waktu perdarahan dan
agregasi trombosit.
Meningkat : Olahraga tiba-tiba, trauma, fraktur, akibat asfiksia,
akibat pembedahan (terutama splenektomi) perdarahan akut, gangguan
mieloproliferatif, leukimia, akibat persalinan, karsinoma, sirosis,
defisiensi besi.
Menurun : DIC (dissaminated intravascular diseminata), ITP, TTP
(trombotic thrombocytopenic purpura), HUS (hemolytic uremic
syndrom), penyakit kongenital. Penekanan sumsum tulang (kemoterapi,
alkohol, radiasi), luka bakar, gigitan ular dan serangga, leukimia,
anemia aplastik, hipersplenisme, mononukleosis infeksiosa, infeksi
virus, sirosis , tranfusi masif, sindrom HELLP (bentuk parah dari
preeklamsi disertai hemolisis, mikroangiopatik, peningkatan hasil uji
fungsi hati, dan jumlah trombosit yang rendah), preeklamsia, dan
eklamsia, katup jantung prostetik, lebih dari 30 obat (OAINS,
Antikonvulsan, aspirin, tiazid, dll)
2.1.4.3 Subset Limfosit
Antibodi monoklonal spesifik digunakan untuk mengidentifikasi sel
T dan B spesifik. Subset limfosit berguna dalam diagnosis AIDS dan
berbagai jenis leukimia dan limfoma. Penandaan CD (clusters of
differentiation) telah menggantikan oenandaaan antibodi yang lebih tua.
Hasilnya lebih terpercaya di laporkan dalam jumlah mutlak sel/L
daripada dalam presentase. Rasio CD4/CD8 <1 ditemukan pada AIDS.
Jumlah CD4 absolut digunakan untuk menentukan waktu untuk
memulai terapi dengan agen antiretrovirus atau untuk memberikan
profilaksis terhadap beberapa infeksi misalnya PCP (pneumocystis
carinii pneumonia). Seorang pasien positif HIV dianggap menderita

AIDS jika jumlah CD4 <200.


Subset Limfosit Normal
1. Limfosit total 660-4600 /L
2. Sel T 644-2201 L (60-88%)
3. Sel B 82-392 L (3-20%)
4. Sel T helper/inducer (CD4) 493-1191 L (34-6 L 7%)
5. Sel T supressor/sitotoksik (CD8) 182-785 L (10-42%)
6. Rasio CD4/CD8 >1
2.1.4.4 Diagnosis Banding Morfologi Eritrosit
Berikut ini adalah berbagai kelainan eritrosit dan kondisi-komdisi
yang terkait. Beberapa istilah umum antara lain poikilositosis ( bentuk
ertrosit iregular seperti sabit atau burr) dan anisositosis (ukuran eritrosit
iregular seperti mikrosit dan makrosit)
Basophilic Stippling : keracunan timbal atau logam berat, talasemia,
anemia berat.
Sel Burr (akantosit) : penyakit hati berat; kadar empedu, asam lemak,
atau racun yang tinggi.
Badan Heinz : Hemolisis karena obat
Sel Helmet : hemolisis mikroangiopatik (TTP, HUS HELLP sindrom),
reaksi tranfusi hemolitik, penolakan transplan.
Badan Howell-Jolly : Asplenia
eritrosit berinti (nucleated) : Stres sumsum tulang berat ( misalnya
perdarahan, hemolisis, hipoksia) penggantian sumsum tulang oleh tumor,
hematopoeisis ekstramedula
Polikromasia : Eritrosit bewarna kebiruan pada pewarnaan Wright
rutin menunjukkan retikulosit
Sickling : Anemia sel sabit
Schistosit : Sferositosis herediter, hemolisis imun, luka bakar yang
parah, reaksi transfusi ABO
sferosit sel target (leptosit) : Talasemia, hemoglobulinopati, penyakit
hati, anemia hipokromik, akibat splenektomi

2.1.4.5 Diagnosis Banding Morfologi Leukosit


Berikut adalah berbagai kondisi yang menyebabkan perubahan
morfologi normal leukosit.
Auer Rods : AML (acute myelocytic leukimia)
Badan Inklusi Dohle : infeksi berat, luka bakar, keganasan,
kehamilan
Hipersegmentasi : anemia megaloblastik
Granulasi Toksik : sakit berat (sepsis, luka bakar , demam tinggi)
2.1.4.6 Koagulasi dan Uji Hematologik Lain
Uji Anti-Xa (anti-faktor Xa, anti-faktor Xa teraktivasi)
Heparin anti-Xa unit per militer plasma
Wadah : Tabung bertutup biru
Digunakan untuk memantau terapi heparin bila PTT (partial
thromboplastin time) tidak dapat digunakan (misalnya pasien dengan
antikoagulan lupus), satu-satunya uji untuk memantau heparin dengan
berat molekul rendah [LMW]= low molecular weight misalnya lovenox
Terapeutik : LMW heparin 0,5-0,1 anti- Xa unit/mL
Profilaksis : LMW heparin 0,2-0,4 anti-Xa unit/mL
Activated clotting Time (ACT) 114-186 s
Wadah: tabung bertutup hitam dari pabrik pembuat instrumen
Suatu uji bedside yang digunakan dikamar operasi, unit dialisis, atau
fasilitas lain untuk mendokumentasikan netralisasi heparin (misalnya
sesudah CABG[coronary artery bypass graft], pembalikkan heparin) atau
memantau inhibitor antitrombin (bivalirudin)
Meningkat : heparin, beberapa gangguan trombosit, defisiensi faktor
pembekuan berat
Antrombin III (AT-III) 17-30 mg/dL atau 80-120% nilai kontrol
Wadah : tabung bertutup biru, pasien harus berhenti diberikan heparin
selama 6 jam
Digunakan untuk mengevaluasi trombosis
Menurun : Defisiensi AT-III familial dominan autosomal, PE

(pulmonary embolus), penyakit hati berat, kehamilan lanjut kontrasepsi oral,


sindroma nefrotik (hilang dalam urine sehingga terjadi peningkatan aktivitas
faktor II dan X), DIC (dissaminated intravscular coagulation), terapi heparin
(>3 hari)
Meningkat : Warfarin (koumadin) pasca MI (miocard infraction)
Waktu Perdarahan
Duke, Ivy <6 menit, Template <10 menit
Wadah : uji bedside dilakukan oleh teknisi. Sesudah dibuat insisi kecil, luka
diserap dengan kertas saring setiap 30 detik sampai cairan jernih
Uji in vivo hemostasis, fungsi trombosit, faktor jaringan lokal, dan faktor
pembekuan. Obat-obatan nonsteroid harus dihentiakn 5-7 hari sebelum uji di
lakukan, karena obat ini dapat mempengaruhi fungsi trombosit.
Meningkat : Trombositopenia, penyakit von willbrand, fungsi trombosit
terganggu, obat-obatan seperti OAINS, uremia
Uji Coombs, Direk (Uji Antiglobulin Direk)
Normal = negatif
Wadah : Tabung tutup Ungu
Eritrosit pasien ; uji keberadaaan antibodi pada sel pasien dan untuk
penapisan anemia hemolitik autoimun
Positif : anemia hemolitik autoimun, reaksi tranfusi hemolitik, beberapa
sensitisasi obat (metildopa, levodopa, sefalosporin, penisilin, kuinidin), penyakit
hemolitik pada bayi baru lahir (eritroblastosis fetalis)
Uji Coombs, Indirek ( Uji Antiglobulin Indirek/ Uji Autoantibodi
Normal = negatif
Wadah : Tabung bertutup ungu
Serum pasien ; lakukan cross-match sebelum tranfusi darah. Uji untuk
antibodi terhadap antigen eritrosit di dalam serum pasien.
Positif : Isoimunisasi dari transfusi sebelumnya, anemia hemolitik
autoimun, ketidakcocokkan darah atau obat-oabatan (misalnya metildopa
Mutasi Faktor V (Leiden)
Normal=Negatif

Wadah : tabung bertutup lavender atau biru


Faktor V Leiden (resitensi activated protein C [APC] adalah
gangguan koagulasi darah herediter yang paling sering sering dijumpai di
Amerika (5-7%) Heterozigot memiliki risiko trombosis (trombofilia) tiga
sampai depalan populasi umum. Risiko pada homozigot 140 kali populasi
umum. PRC dan Uji genetik Reserve dot blot.
Positif : Mutasi faktor V
D-Dimer Fibrin
D-Dimer adalah protein yang dilepaskan saat terjadi pemecahan
fibrinolitik dari fibrin , digunakan untuk mngevalusi kecurigaan adanya
DVT ( Deep Venous Trombosis) dan emboli paru ; kadarnya kembali normal
jika kadarnya di stabilkan ( misalnya diobati dengan heparin) dan tidak
mengalami pengendapan fibrin lebih lanjut atau aktivasi palsmin.
Ini juga untuk bukti pembentukan fibrin, taut silang fibrin, dan
fibrinolisis.
Meningkat : DIC, penyakit tromboemboli (PE, trombosis vena atau
arteri), CVA ( cerebro vascular accident), krisis sel sabit, kanker, gagal
ginjal, CHF, infeksi yang mengancam nyawa.
Negatif atau < 0,25 mcg/mL
Wadah : tabung bertutup biru , hiaju atau ungu
Produk Degradasi Fibrin ( Fibrin Degradation Products, FDP), Produk
Pembelahan Fibrin (Fibrin Split Products, FSP)
< 10 mcg/mL
Wadah Tabung bertutup biru
Umumnya digantikan oleh D-Dimer fibrin sebagai pemeriksaan penapisan
untuk DIC( disseminated Intravascular coagulation)
Meningkat : DIC (biasanya > 40 mcg/mL), setiap kondisi tromboemboli
(PE [pulmonary embolus], Miocard infraction, DVT), disfungsi hati
Fibrinogen 123-370 mg/dL (SI: 1,23- 3,7 g/L)
Kadar panik <100 atau >500
Wadah : Tabung bertutup biru

Paling berguna pada penatalaksanaan DIC dan hipofibrinogenemia


kongenital
Meningkat : Reaksi Inflamasi, kontrasepsi oral, kehamilan , kanker
(ginjal,lambung,payudara)
Menurun : DIC (sepsis, embolisme cairan amnion, abrupsio plasenta),
pembedahan (prostat, jantung terbuka), kondisi neoplastik dan hematologik,
perdarahan berat akut, luka bakar, gigitan ular berbisa, gangguan kongenital
Pemeriksaan Campuran (Penapisan Antikoagulan dalam Darah)
Wadah : tabung bertutup biru
Digunakan untuk mengvaluasi PT atau PTT yang memanjang. Plasma
normal dicampur dengan plasma pasien dan waktu pembekuan
abnormal diukur kembali dalam campuran . Jika waktu pembekun
benar, terdapt defisiensi faktor pembekuan. Periksa faktor VIII, IX, XI
dan XII untuk mengidentifikasi faktor spesifik (catatn warfarin juga
dapat memberikan hasil seperti ini) jika waktu pembekuan tidak benar,
terdapat suatu inhibitor(misalnya antikoagulan lupus[terjadi pada
trombosis dan absorbsi habitual], heparin, argatroban, danaparoid dosis
tinggi, inhibitor faktor spesifik) RVVT (Russel Viper Venom Time)
memanjang digunakan untuk mendiagnosis antikoagulan lupus) (RVV
mengaktifkan faktor X)
Waktu Tromboplastin Parsial (Partial Thromboplastin Time,PTT, Activated
Partial Thromboplastin Time aPTT) 27-38 detik
Wadah tabung bertutup biru
Digunakan untuk megevaluasi sistem koagulasi instrintsik ,paling sering
untuk mantau heaparin.
Meningkat : Heparin, defek pada sistem koagulasi instrinstik (kecuali faktor
VII dan XIII), pemasangan torniut yang terlalu lama sebelum mengambil
sampel, hemofilia A dan B, penyakit von Willbrand (kadang normal),
antikoagulan lupus (antibodi antifosfolipid), DIC

Waktu Protombin (Prothombin Time, PT) 11,5-13,5 detik (INR, normal =


0,8-1,4)
Wadah : Tabung bertutup biru
Digunakan untuk mengevaluasi sistem koagulasi ekstrinsik, yang meliputi faktor
I,II,V, dan X. Penggunaan INR sebagai pengganti rasio pasien/ kontrol untuk
memandu terapi warfarin saat ini merupakan standar. INR (international
Normolaized ratio) memberikan hasil yang lebih tersandarisasi : mengukur
kontrol terhadap terhadap reagen standar WHO. INR terapeutik adalah 2-3
untuk DVT, PE, TIA dan fibrilasi atrium. Katup jantung mekanis memerlukan
INR 2,3-3,5. Tidak di

pengaruhi heparin.

Meningkat : obat-obatan (warfarin), defisiensi vitamin K, malabsorspsi lemak,


penyakit hati, pemasangan torniket yang terlalu lama sebelum mengambil
sampel DIC, tranfusi masif
Laju Endap Darah (LED)
Wadah bertutup lavender
Uji nonspesifikasi: sensitivitas tinggi dan spesifitas rendah. Paling berguna
dalam pengukuran serial untuk memantau perjalanan penyakit ( misalnya
polimialgia reumatika atau artritis temporal)
Skala Wintrobe : laki-laki 0-9 mm/jam, wanita 0-20mm/jam
Meningkat : setiap jenis infeksi, inflamasi, demam reumatik, endokarditis,
neoplasma, AMI, mieloma multipe
Thrombin Time (waktu thrombin) 10-14 detik
Wadah tabung tutup biru
Meningkat : heparin sistemik, DIC, defisiensi fibrinogen, molekul fibrinogen
abnormal kongenital