Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan pesat pada teknologi terapi inhalasi telah memberikan manfaat yang
besar bagi pasien yang menderita penyakit saluran pernapasan, tidak hanya pasien yang
menderita penyakit asma tetapi juga pasien bronkitis kronis, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif
Kronik), bronkiektasis, dan sistik fibrosis. Keuntungan utama pada terapi inhalasi bahwa obat
dihantarkan langsung ke dalam saluran pernapasan langsung masuk ke paru-paru, kemudian
menghasilkan konsentrasi lokal yang lebih tinggi dengan risiko yang jauh lebih rendah
terhadap efek samping sistemik yang ditimbulkan (GINA, 2008). Bioavailabilitas obat
meningkat pada terapi inhalasi karena obat tidak melalui metabolisme lintas pertama (firstpass metabolism) (Ikawati, 2007). Inhaler dirancang untuk meningkatkan kemudahan dalam
cara penggunaannya, namun tingkat penggunaan yang salah masih terdapat pada pasien asma
atau PPOK meskipun mereka sudah pernah mendapatkan pelatihan (NACA, 2008). Hal ini
juga ditunjukkan bahwa sejumlah besar layanan kesehatan tidak mampu menunjukkan teknik
inhaler yang tepat (Interiano, 1993).
Terapi inhalasi adalah cara pengobatan dengan cara memberi obat untuk dihirup agar
dapat langsung masuk menuju paru-paru sebagai organ sasaran obatnya. Terapi inhalasi
adalah terapi dengan memanfaatkan uap hasil dari kerja mesin Nebulizer. Uap air yang
berasal dari campuran obat dan pelarutnya dipercaya dapat langsung mencapai saluran
pernafasan, sehingga efektif untuk mengatasi masalah di daerah tersebut. Inhalasi sering
digunakan pada anak-anak dibawah usia 10 tahun. Batuk / pilek karena alergi dan asma
adalah gangguan saluran pernafasan yang paling umum terjadi.

Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.

Apakah definisi dari pengobatan secara inhalasi ?


Apakah tujuan pengobatan secara inhalasi ?
Apakah keuntungan dan kerugian pengobatan secara inhalasi ?
Apa sajakah jenis-jenis inhalasi ?
Obat-obat apa sajakah yang diberikan secara inhalasi?

Tujuan
1.
2.
3.
4.
5.

Memahami pengertian dari pengobatan secara inhalasi


Memahami tujuan pengobatan secara inhalasi
Mengetahui keuntungan dan kerugian pengobatan secara inhalasi
Mengetahui jenis-jenis inhalasi
Mengetahui obat-obat yang diberikan secara inhalasi

Bab II
Tinjaun Pustaka
A.

Pengertian Konseling
Konseling berasal dari kata counsel yang artinya saran, melakukan diskusi dan

pertukaran pendapat. Konseling adalah suatu kegiatan bertemu dan berdiskusinya seseorang
yang membutuhkan (klien) dan seseorang yang memberikan (konselor) dukungan dan
dorongan sedemikian rupa sehingga klien memperoleh keyakinan akan kemampuannya
dalam pemecahan masalah. Konseling pasien merupakan bagian tidak terpisahkan dalam
elemen kunci dari pelayanan kefarmasian, karena Apoteker sekarang ini tidak hanya
melakukan kegiatan compounding dan dispensing aja, tetapi juga harus berinteraksi dengan
pasien dan tenaga kesehatan lainnya dimana dijelaskan dalam konsep Pharmaceutical Care.
Dapat disimpulkan bahwa pelayanan konseling pasien adalah suatu pelayanan
kefarmasian yang mempunyai tanggung jawab etika serta medikasi legal untuk memberikan
informasi dan edukasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan obat. Kegiatan konseling
dapat diberikan atas inisiatif langsung dari Apoteker mengingat perlunya pemberian
konseling karena pemakaian obat-obat dengan cara penanganan khusus, obat-obat yang
membutuhkan terapi jangka panjang sehingga perlu memastikan untuk kepatuhan pasien
meminum obat. Konseling yang diberikan atas inisiatif langsung dari Apoteker disebut
konseling aktif. Selain konseling aktif dapat juga konseling terjadi jika pasien datang untuk
berkonsultasi pada apoteker untuk mendapatkan penjelasan tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan obat dan pengobatan, bentuk konseling seperti ini disebut konseling
pasif.
Konseling obat adalah suatu prosesyang memberikan kesempatan kepada pasien
untuk mengeksplorasikan diri yang dapat mengarah pada peningkatan pengetahuan,
pemahaman dan kesadaran tentang penggunaan obat yang benar.

B. Manfaat dan Tujuan Konseling


Manfaat dari Konseling yaitu :
1.

Bagi Pasien :
a. Menjamin keamanan dan efektifitas pengobatan
b. Mendapatkan penjelasan tambahan mengenai penyakitnya
c. Membantu dalam merawat atau perawatan kesehatan sendiri
d. Membantu pemecahan masalah terapi dalam situasi tertentu
e. Menurunkan kesalahan penggunaan obat
f. Meningkatkan kepatuhan dalam menjalankan terpai.
g. Menghindari reaksi obat yang tidak diinginkan
h. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi biaya kesehatan

2.

Bagi Farmasis
a. Menjaga citra profesi sebagai bagian dari tim pelayan kesehatan.
b. Mewujudkan bentuk pelayanan asuhan kefarmasian sebagai tanggung jawab
profesi Farmasis.
c. Menghindari Farmasis dari tuntutan karena kesalahan pengguanaan obat
(Medicatiaon Error)
d. Suatu pelayanan tambahan untuk menarik pelanggan sehingga menjadi
upaya dalam memasarkan jasa pelayanan.

Tujuan dari konseling pada pelayanan farmasi adalah :


1. Membian hubungan/komunikai farmasis dengan pasien dan membangun kepercayaan
pasien kepada farmasis.
2. Memberikan informasi yang sesuai kondisi dan masalah pasien.
3. Membantu pasien menggunakan obat sesuai tujuan terapi dengan memberikan
cara/metode yang memudahkan pasien menggunakan obat dengan benar.
C. Prinsip Konseling
Prinsip dasar konseling adalah terjadinya kemitraan atau korelasi antara pasien
dengan Apoteker sehingga terjadi perubahan perilaku pasien secara sukarela. Pendekatan
Apoteker dalam pelayanan konseling mengalami perubahan modela pendekatan "Medical
Model" menjadi pendekatan "Helping Model".
1)

Menentukan Kebutuhan

Konseling tidak terjadi bila pasien datang tanpa ia sadari apa yang dibutuhkannya.
Seringkali pasien datang tanpa dapat mengungkapkan kebutuhannya, walaupun sebetulnya
ada sesuatu yang dibutuhkan. Oleh karena itu dilakukan pendekatan awal dengan
mengemukakan pertanyaan terbuka dan mendengar dengan baik dan hati-hati.

2)

Perasaan
Farmasis harus dapat mengerti dan menerima perasaan pasien (berempati). Farmasis

harus mengetahui dan mengerti perasaan pasien (bagaimana perasaan menjadi orang sakit)
sehingga dapat berinteraksi dan menolong dengan lebih efektif. Beberapa bentuk perasaan
atau emosi pasien dan cara penanganannya adalah sebagai berikut :
a) Frustasi yaitu membantu menumbuhkan rasa keberanian pasien untuk mencari
alternatif jalan lain yang lebih tepat dan meminimalkan rasa ketidaknyamanan dari
aktifitas hariannya yang tertunda.
b) Takut dan cemas yaitu membantu menjernihkan situasi apa yang sebenarnya
ditakutinya dan membuat pasien menerima keadaan dengan keberanian yang ada
dalam dirinya.
c) Marah yaitu mencoba ikut terbawa suasana marahnya, dan jangan juga begitu saja
menerima kemarahannya tetapi mencari tahu kenapa pasien marah dengan jalan
mendengarkan dan berempati.
d) Depresi yaitu Usahakan membiarkan pasien mengekspresikan penderitaannya,
membiarkan privasinya, tetapi dengarkan jika pasien ingin bicara
e) Hilang kepercayaan diri
f) Merasa bersalah
D. Sasaran Konseling
Konseling Pasien Rawat Jalan
Konseling Pasien Rawat Inap
E. Kegiatan Konseling
1) Kegiatan konseling meliputi beberapa hal yaitu :
2) Persiapan dalam melakukan konseling
3) Tahap konseling
a) Pembukaan
b) Diskusi untuk mengumpulkan informasi dan identifikasi masalah
c) Diskusi untuk mencegah atau memecahkan masalah dan mempelajarinya
d) Memastikan pasien telah memahami informasi yang diperoleh

e) Menutup diskusi
f) Follow up diskusi
Aspek Konseling yang harus disampaikan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Deskripsi dan kekuatan obat


Jadwal dan cara penggunaan
Mekanisme kerja obat
Dampak gaya hidup
Penyimpanan
Efek potensial yang tidak diinginkan

Masalah dalam konseling yaitu :


1.
2.
3.
4.

Faktor penyakit
Faktor terapi
Faktor pasien
Faktor komunikasi

F. Hal-hal yang harus disiapkan dalam memberikan pelayanan Konseling pada pasien
Sebelum memberikan konseling ada beberap hal yang harus diketahuio oleh seorang apoteker
agar tujuan konseling tercapai .Hal yang Perlu diperhatikan adalah latar belakang pasien
(database pasien ) seperti biodata, riwayat penyakit, riwayat pengobatan, alergi, riwayat
keluarga ,sosial dan ekonomi.Hal kedua yang pelu diperhatikan adalah membuat daftar
masalah yang dihadapi pasien( terutama masalah yang berkaitan dengan obat ). Setelah kedua
hal tersebut dilakukan barudapat memberikan konseling berdasarkan masalah yang sudah di
susun kemudian dapat dilihatdari perubahan sikap pasien apakah konseling yang telah
diberikan sudah tepat atau belum.
G.

Kendala dalam pemberian obat dan konseling


Berbagai kendala dalam memberikan konseling dapat terjadi pada prosespengobatan dan
pemberian konseling. Kendala yang berasal dari pasien antara lain adalahperasaan marah,
malu, sedih, takut, ragu-ragu. Hal ini dapat diatasi dengan bersikap empathy,mencari sumber
timbulnya masalah tersebut, tetap bersikap terbuka dan siap membantu.Untuk kendala yang
berasal dari Latarbelakang pendidikan, budaya dan bahasa Kendala dapat diatasi dengan
Menggunakan istilah sederhana dan dapat dipahami, Berhati-hati dalam menyampaikan hal
yang sensitif , atau Menggunakan penterjemah.Untuk kendala yang berasal dari f isik dan
mental dapat diatsai dengan upaya menggunakanalat bantu yang sesuai atau Melibatkan
orang yang merawatnya.Sedangkan Kendala yang berasal dari tenaga farmasi dapat berupa m

endominasi percakapan,Menunjukkan sikap yang tidak memberikan perhatian dan tidak


mendengarkan apa yangpasien sampaikan, cara berbicara yang tidak sesuai (terlalu keras ,
sering mengulang suatukata ), Menggunakan istilah yang terlalu teknis yang tidak dipahami
pasien, sikap dan gerakanbadan yang tidak sesuai yang dapat mengganggu konsentrasi
pasien, sedikit atau terlalubanyak melakukan kontak mata dengan pasien.Bila ini terjadi pada
upaya mengatasinya adalah dengan Memberikan pasien kesempatanuntuk menyampaikan
masalahnya dengan bebas, menunjukan kepada pasien bahwa apa yangdisampaikannya
didengarkan dan diperhatikan melalui sesekali anggukan kepala, kata ya dansikap badan yang
cenderung ke arah pasien, Menyesuaikan volume suara dan mengurangikebiasaan
mengeluarkan kata-kata yang mengesankan gugup dan tidak siap, menghindaripemakaian
istilah yang tidak dipahami oleh pasien, tidak menyilangkan kedua tangan danmenghindari
gerakan berufang yang tidakk pada tempatnya dan Menjaga kontak mata dengan pasien.
Selain kendala - kendala tersebut diatas terdapat kendala lain yang kadang kurang
diperhatikanoleh tenaga farmasi . kendala tersebut adalah lingkungan pada saat konseling
dilakukan. Tempat yang terbuka, suasana yang bising, sering adanya interupsi, adanya partisi
(kacakounter ) dapat mempengaruhi pasien dalam menerima konseling. Hal ini harus
diperhatikanoleh tenaga farmasi dalam memberikan konseling. Adanya tempat khusus
ataupun tidakmenerima telepon atau tamu lain dapat memberikan rasa privasi dan nyaman
kepada pasien .Itulah sekilas pandangan tentang pelayan konseling pasien , diharapkan
dengan melakukanpelayanan konseling secara benar dan konsisten akan meningkatkan peran
dan citra tenagafarmasi di masyarakat luas

Bab III
Pembahasan
2.1 Pengertian
a. Inhaler
Inhaler adalah sebuah alat yang digunakan untuk memberikan obat ke dalam tubuh
melalui paru-paru. Sistem penghantaran obat juga berpengaruh terhadap banyaknya obat
yang dapat terdeposisi pada teknik terapi inhalasi. Ada 3 tipe penghantaran obat yang ada
hingga saat ini, yakni : Metered Dose Inhaler
(MDI), Metered Dose Inhaler (MDI) dengan Spacer, dan Dry Powder Inhaler
(DPI).
1) MDI (Metered Dose Inhaler) atau Inhaler dosis terukur
Inhaler dosis terukur merupakan cara inhalasi yang memerlukan teknik inhalasi

tertentu agar sejumlah dosis obat mencapai saluran respiratori. Propelan (zat pembawa) yang
bertekanan tinggi menjadi penggerak, menggunakan tabung aluminium (canister). Partikel
yang dihasilkan oleh MDI adalah partikel berukuran < 5 mPenggunaan. MDI membutuhkan
latihan, para dokter sebaiknya mengajarkan pasiennya cara penggunaan dengan tepat, karena
sebagian besar pasien sulit mempelajarinya hanya dengan membaca brosur atau leaflet.
Penggunaan MDI mungkin tidak praktis pada sekelompok pasien seperti pada anak kecil,
usia lanjut, cacat fisik, penderita artritis, kepatuhan pasien buruk dan pasien yang cenderung
memakai MDI secara berlebihan (Suwondo,1991).
Kesalahan yang umum terjadi pada penggunaan MDI adalah kurangnya koordinasi,
terlalu cepat inspirasi, tidak menahan napas selama 10 detik, tidak mengocok canister
sebelum digunakan, tidak berkumur-kumur setelah penggunaan dan posisi MDI yang terbalik
pada saat akan digunakan (NACA, 2008). Obat dalam MDI yang dilarutkan dalam cairan
pendorong (propelan), biasanya propelan yang digunakan adalah chlorofluorocarbons (CFC)
dan mungkin freon/asrchon. Propelan mempunyai tekanan uap tinggi sehingga didalam
tabung (canister) tetap berbentuk cairan (Yunus, 1995). Kecepatan aerosol rata-rata 30
m/detik atau 100 km/jam (Dept. Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, 2009).
Perlunya koordinasi antara penekanan canister dan inspirasi napas pada pemakaian inhaler.

2) MDI (Metered Dose Inhaler) dengan ruang antara (spacer)


Ruang antara (spacer) akan menambah jarak antara aktuator dengan mulut, sehingga
kecepatan aerosol pada saat dihirup menjadi berkurang dan akan menghasilkan partikel
berukuran kecil yang masuk ke saluran respiratori yang kecil (small airway) (Rahajoe, 2008).
Selain itu, juga dapat mengurangi pengendapan di orofaring. Ruang antara ini berupa tabung
80 ml dengan panjang 10-20 cm. Pada anak-anak dan orang dewasa pemberian bronkodilator
dengan MDI dengan spacer dapat memberikan efek bronkodilatasi yang lebih baik (Yunus,
1995). Kesalahan yang umum terjadi pada penggunaan MDI dengan spacer adalah posisi
inhaler yang salah, tidak menggocok inhaler, aktuasi yang banyak tanpa menunggu atau
mengocok alat pada saat diantara dosis, obat yang berada dalam spacer tidak dihirup secara
maksimal dan spacer yang tidak cocok untuk pasien (NACA, 2008).

canister

Mouthpiece
spacer
(a)

(b)
Gambar 1. (a) MDI (Metered Dose inhaler ), (b) MDI dengan spacer

3) DPI (Dry Powder Inhaler)


Inhaler jenis ini tidak mengandung propelan, sehingga mempunyai kelebihan
dibandingkan dengan MDI. Menurut NACA (2008), inhaler tipe ini berisi serbuk kering.
Pasien cukup melakukan hirupan yang cepat dan dalam untuk menarik obat dari dalam alat
ini. Zat aktifnya dalam bentuk serbuk kering yang akan tertarik masuk ke paru-paru saat
menarik napas (inspirasi). Kesalahan yang umum terjadi pada penggunaan turbuhaler adalah
tidak membuka tutup, tidak memutar searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam, tidak
menahan napas, dan pasien meniup turbuhaler hingga basah. Selain itu, inspirasi yang kuat
pada anak kecil (< 5 tahun) sulit dilakukan, sehingga deposisi obat dalam sistem respiratori
berkurang. Anak usia > 5 tahun, penggunaan obat serbuk ini dapat lebih mudah dilakukan,
karena kurang memerlukan koordinasi dibandingkan dengan MDI sehingga dengan cara ini
deposisi obat didalam paru lebih besar dan lebih konstan dibandingkan dengan MDI tanpa
spacer. Penggunaan inhaler jenis DPI (Dry Powder Inhaler) ini tidak memerlukan spacer
sebagai alat bantu, sehingga lebih praktis untuk pasien. Beberapa jenis inhaler bubuk kering
yang umumnya digunakan di Indonesia yaitu diskus, turbuhaler, dan handihaler.
Mouthpiece

Saluran inhalasi

Pemutar dosis
Reservoir

Pengatur dosis
Gambar
Inhaler)

2.DPI(Dry

Powder

Pemuta

4) Cara penggunaan terapi inhalasi


Tabel 1. Langkah-langkah penggunaan inhaler
MDI
MDI dengan spacer
Membuka tutup inhaler
Membuka tutup inhaler
Memegang inhaler tegak
lurus
dan mengocok

DPI (turbuhaler)
Putar dan buka tutupnya

Memegang inhaler tegak lurus Posisi inhaler tegak lurus sambil


tabung

inhaler

dan mengocok tabung inhaler

Bernapas dengan pelan

Memasang inhaler tegak


lurus dengan spacer

memutar pegangan dan putar


kembali sampai terdengar klik
Bernapas dengan pelan

Meletakkan mouthpiece
Meletakkan

mouthpieceMeletakkan

mouthpiece

diantara gigi tanpa


diantara
diantara
menutupnya tanpa menutup gigi tanpa menutupnya tanpa gigi tanpa menutupnya tanpa
menutup
bibir
hinggamenutup
bibir
hingga
bibir hingga mouthpiece
tertutup rapat
Mulai inhalasi pelan
melalui mulut dan
tekan canister
Melanjutkan inhalasi
dan menahan napas
sampai 10 detik

mouthpiece
tertutup rapat
Pertahankan posisi inhaler
dan tekan canister

mouthpiece
tertutup rapat
-

Melakukan inhalasi dan


ekshalasi secara normal
untuk 4 kali napas
Mengeluarkan inhaler

Inhalasi dengan kuat dan dalam


dariMengeluarkan

inhaler

dari

Ketika sedang menahan


mulut
mulut
napas, keluarkan inhaler
dari mulut
Ekshalasi dengan pelan dari
Ekshalasi dengan pelan dariEkshalasi dengan pelan dari
Mulut
Menutup kembali inhaler
Berkumur kumur setelah
menggunakan inhaler

mulut
Menutup kembali inhaler
Berkumur kumur setelah
menggunakan inhaler

mulut
Menutup kembali inhaler
Berkumur kumur setelah
menggunakan inhaler
(NACA, 2008)

Cara penggunaan alat terapi inhalasi yang tepat tergantung pada tipe alat terapi
yang digunakan oleh pasien, maka pasien harus mengetahui dan memahami langkahlangkah yang tepat dalam menggunakan alat terapi inhalasi yang mereka gunakan.
Tahapan cara penggunaan inhaler memiliki langkah-langkah penting untuk menilai

tepat/tidak tepat penggunaan inhaler pada pasien tersebut. Menurut,


Machira et al (2011) berikut langkah-langkah penting penggunaan MDI dengan
perangkat spacer :
1. Mengocok inhaler dan kemudian membuka tutup tabung inhaler
2. Tahan MDI pada posisi tegak dan hubungkan dengan perangkat spacer
3. Letakkan mouthpiece antara gigi dan bibir kemudian dirapatkan
4. Setelah aktuasi, bernapas dengan dalam selama 7-10 detik
Sedangkan langkah-langkah penting cara penggunaan MDI untuk menilai tepat/tidak
tepat cara penggunaan pasien ialah sebagai berikut :
1. Kocok dan buka tutup inhaler
2. Inhalasi dengan perlahan
3. Mouthpiece diletakkan diantara gigi dan bibir kemudian dirapatkan
4. Memulai menghirup napas pelan melalui mulut, dan sekaligus menekan kanister agar
obat keluar
5. Tahan napas selama 10 detik

2.2 Terapi dengan Inhalasi


a. Definisi
Terapi inhalasi adalah terapi dengan pemberian obat secara inhalasi (hirupan)
langsung masuk ke dalam saluran pernapasan. Terapi pemberian secara inhalasi pada
saat ini makin berkembang luas dan banyak di gunakan pada pengobatan penyakitpenyakit saluran pernapasan. Berbagai jenis obat seperti antibiotic, mukotik, anti
inflamasi dan bronkodilator sering digunakan pada terapi inhalasi. Obat asma inhalasi
yang memungkinkan penghantar obat langsung ke paru-paru, dimana saja dan kapan saja
akan memudahkan pasien mengatasi keluhan sesak napas penderita (Rahajoe,2008).
b. Prinsip dasar terapi Inhalasi
prinsip farmakologis terapi inhalasi yang tepat untuk penyakit sistem
respirator adalah obat dapat mencapai organ target dengan menghasilkan partikel aerosol

berukuran optimal agar terdeposisi di paru-paru dengan kerja yang cepat, dosis kecil,
efek samping yang minimal karena konsentrasi obat di dalam darah sedikit atau rendah,
mudah digunakan, dan efek terapeutik segera tercap;ai yang ditunjukkan dengan adanya
perbaikan klinis (Rahajoe,2008). Agar mendapatkan manfaat obat yang optimal, obat
yang diberikan secara inhalasi harus dapat mencapai tempat kerja di dalam saluran
napas. Oabat inhalasi di berikan dalam bentuk aerosol, yakni suspense dalam bentuk gas
(Yunus, 1995).
Menurut Suwondo (1991), keuntunngan yang lebih nyata dari terapi inhalasi
adalah efek topikalnya yakni konsentrasi yang tinggi di paru-paru, dengan dosis obat
yang kecil 10% dari dosis oral dan efek sistemik yang minimal. Terapi inhalasi
dibandingkan terapi oral mempunyai dua kelemahan, yaitu:
1) Jumlah obat yang memncapai paru-paru sulit di pastikan
2) Inhalasi obat ke dalam saluran napas dapat menjadi masalah koordinasi
efektifitas terapi inhalasi tergantung pada jumlah obat yang mencapai paruparu.
Untuk mencapai hasil yang optimal pasien harus dilatih untuk:
1)
2)
3)
4)
5)

Ekshalasi sehabis-habisnya
Bibir menutup/mrlingkari mouthpiece, tidak perlu terlalu reapat.
Semprotkan aerosol kurang lebih pada pertengahan inspirasi.
Teruskan inhalasi lambat-lambat dan sedalam mungkin
Tahan napas dalan inspirasi penuh selama beberapa detik (bila mungkin 10
detik)

2.3 Kelebihan dan kekurangan alat terapi inhalasi


Cara penggunaan alat terapi inhalasi yang tepat tergantung pada tipe alat terapi yang
digunakan oleh pasien, pasien harus memahami tahap-tahap yang tepat dalam menggunakan
alat terapi inhalasi yang mereka gunakan (NACA, 2008). Berbagai jenis alat terapi inhalasi
yang umumnya digunakan seperti inhaler MDI (Metered Dose Inhaler),MDI (Metered Dose
Inhaler) dengan spacer,DPI (Dry Powder Inhaler),

BAB III
Kesimpulan
Konseling obat adalah suatu proses yang memberikan kesempatan kepada pasien untuk
mengeksplorasikan diri yang dapat mengarah pada peningkatan pengetahuan, pemahaman
dan kesadaran tentang penggunaan obat yang benar.
Inhaler adalah sebuah alat yang digunakan untuk memberikan obat ke dalam tubuh
melalui paru-paru. Sistem penghantaran obat juga berpengaruh terhadap banyaknya obat
yang dapat terdeposisi pada teknik terapi inhalasi. Ada 3 tipe penghantaran obat yang ada

hingga saat ini, yakni : Metered Dose Inhaler


(MDI), Metered Dose Inhaler (MDI) dengan Spacer, dan Dry Powder Inhaler
(DPI).
Inhaler dosis terukur (MDI) merupakan cara inhalasi yang memerlukan teknik
inhalasi tertentu agar sejumlah dosis obat mencapai saluran respiratori.
Inhaler DPI (Dry Powder Inhaler) mengandung propelan, sehingga mempunyai
kelebihan dibandingkan dengan MDI. Menurut NACA (2008), inhaler tipe ini berisi serbuk
kering. Pasien cukup melakukan hirupan yang cepat dan dalam untuk menarik obat dari
dalam alat ini. Zat aktifnya dalam bentuk serbuk kering yang akan tertarik masuk ke paruparu saat menarik napas (inspirasi).

Anda mungkin juga menyukai