Anda di halaman 1dari 4

308

LEPTOSPIROSIS
ICD 9 100; ICD 10 A27
(Penyakit Weil, Demam Canicola, Ikterus Hemoragika, demam lumpur, penyakit Swinerherd)
1. Identifikasi
Kelompok penyakit zoonis yang disebabkan oleh bakteri dengan manifestasi berubahubah. Ciri-ciri yang umum adalah demam dengan serangan tiba-tiba, sakit kepala,
menggigil, mialgia berat (betis dan kaki ) dan merah pada conjuctiva. Manifestasi lain
yang mungkin muncul adalah demam diphasic, meningitis, ruam (palatal exanthem),
anemia hemolytic, pendarahan didalam kulit dan selaput lendir, gatal hepatorenol,
gangguan mental dan depresi, myocarditis dan radang paru-paru dengan atau tanpa
hemopthisis. Didaerah yang endemis leptospirosis, mayoritas infeksi tidak jelas secara
klinis atau terlalu ringan untuk didiagnosa secara pasti. Kasus sering didiagnosa salah
sebagai meningitis, ecefalitis atau influenza; buktiserologis adanya infeksi leptospira
ditemukan diantara 10 % kasus meningitis dan encephalitis yang tidak terdiagnosa. Gejala
klinis berlangsung selama beberapa hari sampai 3 minggu atau lebih. Secara umum, ada
dua fase dari penyakit; tahap leptospiremia atau febris, diikuti dengan fase pemulihan
atau kekebalan. Penyembuhan kasus yang tidak diobati akan memerlukan waktu beberapa
bulan. Infeksi dapat terjadi tanpa adanya gejala; keparahan penyakit bervariuasi sesuai
dengan serovarian bakteri yang menginfeksi. Angka kematian kasus cukup rendah tetapi
dapat meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan dapat mencapai 20 % atau lebih
pada penderita yang mengalami ikterus dan kerusakan ginjal yang tidak dilakukan
hemodialisis; kematian umumnya disebabkan oleh kerusakan hepatorenal, kelainan
pembuluh darah disertai dengan perdarahan, terjadinya sindroma gagal pernafasan pada
orang dewasa atau aritmia jantung dikarenakan miokarditis. Jenis letospira yang berbeda
ditemukan pada lokasi yang berbeda sehingga tes serologi harus menggunakan panel yang
khusus untuk mendiagnosa leptospira di suatu daerah tertentu. Kesulitan dalam
mendiagnosa penyakit ini menyulitkan upaya pemberantasan sehingga sering
menyebabkan peningkatan angka kematian karena penderita cenderung menjadi berat
karena tidak dilakukan diagnosa dan pengobatan yang tepat. Diagnosa ditegakkan dengan
adanya peningkatan titer antibody pemeriksaan serologis seperti dengan aglutinasi
mikroskopik, dengan isolasi leptospira dari darah (7 hari pertama), atau dari LCS (pada
hari ke-4 sampai ke-10) pada fase akut dari urin setelah hari ke-10 dengan menggunakan
media khusus. Inokulasi pada marmot dan tikus hamster atau gerbil sering memberikan
hasil positif. Pemeriksaan dengan teknik IF dan ELISA dipakai untuk mendeteksi
leptospira pada specimen penderita dan specimen yang daimbil pada otopsi.
2. Penyebab penyakit
Penyebab penyakit adalah Leptospira, anggota dari ordo Spirochaetales. Leptospira yang
menularkan penyakit termasuk kedalam spesies Leptospira interrogans, yang dibagi lagi
menjadi berbagai serovarian. Lebih dari 200 serovarian telah diketahui, dan semuanya
terbagi dalam 23 kelompok (serogroup) yang didasarkan pada keterkaitan serologis.
Perubahan penting dalam penamaan (nomenklatur) leptospira sedang dibuat didasarkan
atas keterkaitan DNA. Serovarian yang umum ditemukan di AS adalah
Icterohaemorrhagiae, canicola, autumnalis, hebdomidis, australis dan pomona. Di
Inggris, New Zealand dan Australia, infeksi L. interrogans serovarian hardjo paling
sering terjadi pada manusia yang kontak dekat dengan perternakan yang terinfeksi.

309

3. Distribusi Penyakit
Penyakit ini tersebar luas di seluruh dunia; muncul di daerah perkotaan dan pedesaan baik
di Negara maju maupun Negara berkembang kecuali daerah kutub. Penyakit ini dapat
terjadi sebagai risiko pekerjaan (occupational hazard) menyerang petani padi dan tebu,
pekerja tambang, dokter hewan, peternak, peternak sapi perah, pekerja yang berkerja di
pemotongan hewan, nelayan dan tentara. KLB dapat terjadi pada orang-orang yang
trepajan dengan sungai, kanal dan danau yang airnya tercemar dengan urin dari binatang
peliharaan dan binatang liar atau tercemar urin dan jaringan binatang yang terinfeksi.
Penyakit ini juga merupakan risiko rekreasi (recreational hazard). Bagi perenang, pendaki
gunung, olahrawagawan, dan mereka yang berkemah di daerah infeksi. Dengan demikian
penyakit ini terutama menyerang laki-laki terkait dengan pekerjaan, namun cenderung
terjadi peningkatan jumlah penderita pada anak-anak di daerah perkotaan. KLB yang
cukup besar di Nikaragua pada tahun 1995 dan menimbulkan banyak kematian. Dan pada
Pebruari 1997-1998 KLB terjadi di India, Singapura, Thailand dan Kazaktan.
4. Reservoir Hewan peliharaan dan binatang liar; serovarian berbeda-beda pada setiap
hewan yang terinfeksi. Khususnya tikus besar (ichterohemorrhagiae), babi
(pomona), lembu (hardjo), anjing (canicola), dan raccoon (autumnalis) di AS, babi
terbukti menjadi tempat hidup bratislava; sedangkan di Eropa badger sejenis mamalia
carnivora juga dilaporkan sebagai reservoir. Ada banyak hewan lain yang dapat menjadi
hospes alternative, biasanya berperan sebagai carrier dalam waktu singkat. Hewan-hewan
tersebut adalah binatang pengerat liar, rusa, tupai, rubah, raccoon, mamalia laut (singa
laut). Serovarian yang menginfeksi reptile dan amfibi belum terbukti dapat menginfeksi
mamalia, namun di Barbados dan Trinidad dicurigai telah menginfeksi manusia. Pada
binatang carrier terjadi infeksi asimtomatik, leptospira ada didalam tubulus renalis
binatang tersebut sehingga terjadi leptuspiruria seumur hidup binatang tersebut.
5. Cara penularan Melalui Kontak pada kulit, khususnya apabila terluka, atau kontak
selaput lendir dengan air, tanah basah atau tanaman, khususnya tanaman tebu yang
terkontaminasi dengan urin hewan yang terinfeksi, berenang, luka yang terjadi karena
kecelakaan kerja; kontak langsung dengan urin atau jaringan tubuh hewan yang terinfeksi;
kadang kadang melalui makanan yang terkontaminasi dengan urin dari tikus yang
terinfeksi; dean kadang kadang melalui terhirupnya droplet dari cairan yang
terkontaminasi.
6. Masa inkubasi biasanya 10 hari, dengan rentang 4-19 hari.
7. Masa penularan Penularan langsung dari orang ke orang sangat jarang terjadi.
Leptospira dapat dikeluarkan melalui urin, biasanya dalam waktu 1 bulan, tetapi
leptospiruria telah ditemukan pada manusia dan hewan dalam waktu 11 bulan setelah
menderita penyakit akut.
8. Kerentanan dan kekebalan Pada umumnya orang rentan; kekebalan timbul terhadap
serovarian tertentu yang disebabkan oleh infeksi alamiah atau (kadang-kadang) setelah
pemberian imunisasi tetapi kekebalan ini belum tentu dapat melindungi orang dari infeksi
serovarian yang berbeda.

310

9. Cara cara pemberantasan


A. Upaya pencegahan :
1) Beri penyuluhan kepada masyarakat tentang cara-cara penularan penyakit ini.
Jangan berenang atau menyeberangi sungai yang airnya diduga tercemar oleh
leptospira, dan gunakan alat-alat pelindung yang diperlukan apabila harus bekerja
pada perariran yang tercemar.
2) Lindungi para pekerja yang bekerja di daerah yang tercemar dengan perlindungan
secukupnya dengan menyediakan sepatu boot, sarung tangan dan apron.
3) Kenali tanah dan air yang berpotensi terkontaminasi dan keringkan air tersebut jika
memungkinkan.
4) Berantas hewan-hewan pengerat dari lingkungan pemukiman terutama di pedesaan
dan tempat-tempat rekreasi. Bakar lading tebu sebelum panen.
5) Pisahkanhewan peliharaan yang terinfeksi; cegah kontaminasi pada lingkungan
manusia, tempat kerja dan tempat rekreasioleh urin hewan yang terinfeksi.
6) Pemberian imunisasi kepada hewan ternak dan binatang peliharaan dapat
mencegah timbulnya penyakit, tetapi tidak emncegah terjadinya infeksi
leptospiruria. Vaksin harus mengandung strain domain dari leptospira di daerah
itu.
7) Imunisasi diberikan kepada orang yang karena pekerjaannya terpajan
denganleptospira jenis serovarian tertentu, hal ini dilakukan di Jepang, Cina, Itali,
Spanyol, Perancis dan Israel.
8) Doxycycline telah terbukti efektif untuk mencegah leptospirosis pada anggota
militer dengan memberikan dosis oral 200 mg seminggu sekali selama masa
penularan di Panama.
B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekiratnya :
1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat: Pelaporan kasus diwajibkan
dibanyak negara bagian ( AS) dan negara lain di dunia, Klasifikasi 2B (lihat
tentang laporan penyakit smenular)
2) Isolasi: Tindakan kewaspadan terhadap darah dan cairan tubuh.
3) Disinfeksi serentak: Dilakukan terhadap benda yang tercemar dengan urin.
4) Karantina: TIDAK DILAKUKAN.
5) Imunisasi terhadap kontak: TIDAK DILAKUKAN.
6) Investigasi orang-orang yang kontak dan sumber infeksi: Selidiki adanya hewanhewan yang terinfeksi dan air yang terkontaminasi.
7) Pengobatan spesifik: Penisilin, cephalosporin lincommycin dan erythromycin
menghambat pertumbuhan leptospira invitro. Doxycyline dan penisilin G terbukti
efektif dalam percobaan Double Blind Plasebo Controlled trials Penisilin G dan
amoksisilin terbukti masih efektif walaupun diberikan dalam 7 hari sakit. Namun
pengobatan yang tepat dan sedini mungkin sangatlah penting.
C. Penanggulangan wabah: Mencari sumber infeksi seperti kolam renang yang
terkontaminasi dan sumber air lainnya; menghilangkan kontaminasi atau melarang
penggunaannya. Menyelidiki sumber penyakit dan lingkungan pekerjaan, termasuk
mereka yang kontak langsung dengan hewan.

311

D. Implikasi bencana: Potensial untuk terjadi penularan dan KLB pada saatterjadi banjir
yang menggenagi daerah sekitarnya.
E. Tindakan internasional: Manfaatkan pusat kerjasama WHO.

LISTERIOSIS

ICD-9 027.0; ICD-10 A32

1. Identifikasi
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri biasanya berupa meningoencephalitis dan atau
septicemia pada bayi baru lahir dan orang dewasa, gejala klinis penyakit ini pada wanita
hamil adalah demam dan keguguran. Mereka yang berisiko tinggi terinfeksi adalah bayi
baru lahir, orang lanjut usia (manula), yang tidak mempunyai cukup kekebalan tubuh dan
wanita hamil. Kejadian meningoencephalitis (jarang terjadi pada wanita hamil) bisa terjadi
tiba-tiba, dengan demam, sakit kepala yang hebat, mual-mual, muntah-muntah dan tandatanda iritasi slaput otak, atau bisa sub akut, khususnya pada orang dengan kekebalan tubuh
yang kurang dan usia lanjut. Delirium dan koma dapat terjadi pada awal sakit: kadangkadang pingsan dan shock. Endokarditis, lesi granulair pada hati dan organ lain, abses
internal dan external yang terlokalisir dan lesi pustuler atau papuler pada kulit dapat
terjadi pada keadaan tertentu. Orang normal yang terjangkit penyakit ini kadang hanya
berupa serangan akut, ringan, febris. Tetapi infeksi pada wanita hamil dapat ditularkan
kepada janin. Bayi dapat mengalami kematian, lahir dengan septicemia, atau terkena
radang selaput otak pada saat dilahirkan meskipun pada ibunya tidak tampak gejala. Pada
saat masa post partum penyakit ini jarang terjadi, tetapi case fatality rate penyakit ini
bias mencapai 30 % pada bayi baru lahir dan menjadi 50 % pada usia 4 hari pertama. Pada
kejadian wabah terakhir, angka case fatality rate keseluruhan pada orang dewasa yang
tidak hamil adalah 35 %; 11 % pada usia di bawah 40 tahun dan 63 % pada usia 60 tahun
keatas.
Hasil diagnosa dipastikan dengan mengisolasi penyebab penyakit dari LCS, darah, cairan
amnion, plasenta, meconium, lochia, pencucian lambung dan tempat-tempat lain dimana
infeksi dapat terjadi. Listeria monocytogenes dapat diisolasi dari tempat yang biasanya
steril pada media rutin, tetapi harus hati-hati agar dapat dibedakan organisme ini dengan
basil gram-positif lainnya, terutama diphtheroid. Isolasi dari spesimen yang
terkontaminasi sering dilakukan dengan menggunakan media selektif yang diperkaya.
Pemeriksaan mikroskopis terhadap LCS atau meconium hanya bersifat diagnosa perkiraan
(presumtif); sedangkan pemeriksaan serologi tidak dapat dipercaya.
2. Penyebab penyakit Listeria monocytogenes, bakteri berbentuk gram positif; infeksi
pada manusia biasanya disebabkan oleh serovarian 1/2 a, 1/2b dan 4b.
3. Distribusi Penyakit
Penyakit yang jarang terdiagnosa; Di AS jumlah penderita yang sampai memerlukan
perawatan di rumah sakit sekitar 1/200.000 penduduk.