Anda di halaman 1dari 47

CRS

Bells Palsy

Oleh :
Siti Mirza Hana Anggraini,

Dosen Pembimbing :
dr. Alfindra Tamin, Sp.S, M.si.Med

Pendahuluan
Bells palsy adalah kelumpuhan atau
paralisis otot wajah akut unilateral
Patogenesis idiopatik
Serangan kelumpuhan unilateral biasanya
tiba-tiba, sering terjadi setelah terpapar
dengan udara dingin

LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama
: Ny. M
Umur
: 38 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama
: Islam
Alamat
: lorong sehat no 56 Rt 6
Kec.Rawasari
MRS
:7 juni 2016

Data Subjektif (Anamnesis Tgl 9 September


2015)
Keluhan utama : Os datang dengan kaku wajah kiri
Riwayat Penyakit Sekarang
Lokasi
: wajah sebelah kiri
Onset
: pagi hari saat bangun tidur
Kualitas
: wajah sebelah kiri sulit digerakkan

Kuantitas
kesulitan makan dan minum karena makanan dan
minuman keluar dari sudut mulut kiri, tidak bisa
mengangkat dahi sebelah kiri, mata sebelah kiri
tidak bisa menutup sempurna, tidak bisa berkumur
saat menyikat gigi

Kronologis

pada tanggal 7 juni


2016 datang ke Poli
Saraf RSUD H Abdul
Manap Jambi
dengan keluhan
merasakan kaku
pada wajah sebelah
kiri

1 hari SMRS Pagi hari setelah


bangun tidur pasien mengeluhkan
kaku nya semakin berat, wajah
pasien terlihat miring sebelah, ia
mengalami kesulitan berkumur
karna air keluar dari sudut mulut
sebelah kiri. kesulitan makan dan
minum ,tidak bisa menutup mata
kiri dengan sempurna, tidak bisa
mengangkat dahi kiri, dan lebar
mulut
tidak simetris
saat atau
Keluhan
penurunan
pengecap
kehilangantersenyum.
pengecap disangkal.
Pasien tidak mengeluhkan Keluhan
lain seperti demam (-) merah
merah di kulit (-), telinga
berdengung (-) pusing (-),
kelemahan anggota gerak (-).
Riwayat kebiasaan pasien tidur
dengan menggunakan kipas angin
(+).

Riwayat penyakit dahulu:


Riwayat penyakit hipertensi (-)
Riwayat penyakit diabetes melitus (-)
Riwayat penyakit jantung disangkal
Riwayat merokok (-)
Riwayat sakit maag (-)

Riwayat penyakit keluarga:


Tidak ada anggota keluarga psien
yang menderita keluhan yang sama
sebelumnya.
Riwayat penyakit hipertensi disangkal
Riwayat penyakit diabetes melitus
disangkal
Riwayat penyakit jantung disangkal
Riwayat stroke disangkal

Riwayat sosial, ekonomi,


pribadi:
Pasien adalah seorang ibu
rumah tangga yang memiliki 2
orang anak dan suami yang
bekerja sebagai PNS.

Objektif
Status ( 7 Juni 2016)
Kesadaran : Composmentis, GCS: 15
E:4 M:6 V: 5
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Nadi
: 82 x/i
Suhu : 36,2 oC
Respirasi
: 20 x/i

Status Internus
Kepala :
Mata : CA-/-, SI -/-, Pupil : isokor,
refleks cahaya (+/+)
Leher :Kelenjar thyroid tidak
membesar, KGB tidak membesar,tidak
ada deviasi trakhea, kaku kuduk (-).
Dada : Simetris, tidak ada retraksi

Jantung
Inspeksi : tidak terlihat
Palpasi
: tidak teraba
Perkusi
: Batas kiri atas
:ICS II Linea parasternal
sinistra
Batas kiri bawah : ICS V L. midclavicularis sinistra
Batas kanan atas
: ICS II L.Parasternalis dextra
Batas kanan bawah : ICS IV L.Parasternal dextra
Auskultasi : BJ I/II reguler, gallop (-), murmur (-)

Paru
Inspeksi : simetris, retraksi (-/-), ketinggalan gerak
(-/-)
Palpasi : fokal fremitus kanan = kiri
Perkusi : Paru kanan sonor = paru kiri
Auskultasi : suara dasar vesikuler, suara tambahan
whezzing (-/-), ronkhi (-/-)

Abdomen
Inspeksi : Datar, luka operasi (-)
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), tak teraba
massa, hepar lien tidak teraba
Perkusi : Timpani di seluruh lapang abdomen
Auskultasi :Bising usus (+) N

Alat kelamin
Tidak diperiksa
Ekstremitas
Akral hangat, edema (-/-)

Lanjutan
Status Psikitus
Cara berpikir : Baik
Perasaan hati : Biasa
Tingkah laku : Normoaktif
Ingatan : Baik
Kecerdasan : Baik

Lanjutan...
Status neurologikus
Kepala
Bentuk
: Normochepal
Nyeri tekan
: (-)
Simetri
: (-)
Pulsasi
: (+)
Leher
Sikap
: Lurus
Pergerakan
: Baik, TAK
Kaku kuduk
: (-)

Nervus Kranialis Kanan Kiri


Nervus Kranialis
N I (Olfaktorius)
Subjektif
Objektif (dengan bahan)
N II (Optikus)
Tajam penglihatan
Lapangan pandang
Melihat warna
Funduskopi
N III (Okulomotorius)
Sela mata
Ptosis
Pergerakan bola mata
Nistagmus
Ekso/endotalmus
Pupil
bentuk
reflex cahaya
reflex konvergensi

Kanan
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Tidak dilakukan

Kiri
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Tidak dilakukan

Simetris
Tidak ada
Normal
Tidak ada
Tidak ada

Simetris
Tidak ada
Normal
Tidak ada
Tidak ada

Bulat, isokor, 3 mm
+
+

Bulat, isokor, 3 mm
+
+

N IV (Trochlearis)
Pergerakan bola mata ke Normal
bawah-dalam
Diplopia
Tidak ada
N V (Trigeminus)
Motorik
Otot Masseter
Normal
Otot Temporal
Normal
Otot Pterygoideus
Normal
Sensorik
Oftalmikus
Maksila
Mandibula
N VI (Abdusen)
Pergerakan
bola
(lateral)
Diplopia
N VII (Fasialis)
Mengerutkan dahi
Menutup mata
menyeringai
mencucu
2/3 ant lidah

Normal
Normal
Normal
mata Normal
Tidak ada

Normal
Tidak ada

Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Tidak ada

Normal
Normal
Normal
Normal

Tidak bisa
Tidak bisa
Tidak bisa
Tidak bisa

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

N VIII (Vestibularis)
Suara berbisik
Detik arloji
Rinne test
Weber test
Swabach test
Nistagmus
N IX (Glossofaringeus)
Sensasi lidah 1/3 blkg
Refleks muntah

Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Tidak ada

Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Tidak ada

Normal
+

Normal

N X (Vagus)
Arkus faring
Berbicara
Menelan
Refleks muntah
Nadi
N XI (Assesorius)
Menolehkan kepala
Mengangkat bahu
N XII (Hipoglosus)
Kedudukan
lidah
dijulurkan
Atropi papil
Disartria

Simetris
Baik
Baik
Baik
Normal
+
+
Normal
-

+
+

Lanjutan
Anggota gerak atas
Motorik
Kanan

Kiri

Pergerakan
Normal Normal
Kekuatan
5
5
Tonus
Eutoni
Eutoni
Trof
Eutrof
Eutrof
R. Fisiologis
Normal Normal
R. Patologis
(-)
Sensibilitas :
Normal Normal

(-)

Lanjutan
Anggota gerak bawah
Motorik
Pergerakan
hambatan
Kekuatan
Tonus
Klonus
Trof
R. Fisiologis
R. Patologis
Sensibilitas :

Kanan
Tidak ada hambatan
+5
Eutoni
(-)
Eutropi
Normal

Tidak ada
+5

(-)
Normal

Kiri

Eutoni
(-)
Eutropi
Normal
(-)
Normal

Status lokalis regio fasialis


Wajah asimetris
Sudut nasolabial menghilang
Kerutan dahi kiri < kanan
Lagoftalmus mata kiri 2mm

Lanjutan...
Gerakan Abnormal
Tremor
: (-)
Atetosis
: (-)
Miokloni
: (-)
Khorea
: (-)
Rigiditas
: (-)
Alat Vegetatif
Miksi
: Normal
Defekasi
: Normal

Lanjutan...
Koordinasi, gait dan keseimbangan
Cara berjalan
: dalam batas normal
Romberg Test
: dalam batas normal
Disdiadokokinesis: dalam batas normal
Ataxia
: dalam batas normal

Diagnosa
Diagnosa Klinis : Bells Palsy Sinistra
Diagnosa Topis : Nervus Cranialis VII Sinistra
Diagnosa Etiologi : Idiopatik

TERAPI
Non farmakologis
Latihan otot-otot ekspresi wajah
Tiap malam sebelum mau tidur, mata sebelah kiri
di plester gunanya melatih mata yang tidak
menutup supaya dapat melindungi mata saat
tidur.
Farmakologis
Prednisone 60 mg/ hari selama 3 hari
Asiclovir 400 mg/hari selama 10 hari

PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad fungsionam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

DEFENISI
Bells Palsy ditemukan oleh dokter dari inggris
bernama

Charles Bell.

Di defnisikan sebagai paresis yang akut dan


idiopatik akibat disfungsi dari nervus fasialis
perifer

Etiologi
adalah edema dan iskemia akibat penekanan
(kompresi) pada nervus fasialis
. Dulu, paparan suasana/suhu dingin
. Akan tetapi, sekarang mulai diyakini HSV

Anatomi Nervus Fasialis


mengandung 4 macam
serabut, yaitu :

Serabut somato
motorik
Serabut viseromotorik
Serabut viserosensorik
Serabut somatosensorik

Patofsiologi
Para ahli menyebutkan bahwa pada Bells palsy
proses inflamasi akut pada nervus fasialis

pada Bells palsy inflamasiakut pada


nervus fasialis di daerah tulang
temporal menyebabkan peningkatan
diameter nervus fasialis terjadi
kompresi dari saraf tersebut pada saat
melalui tulang temporal kanalis
facialis tulang temporal berbentuk
seperti corong yang menyempit
iskemik gangguan konduksi
impuls yg dihantarkan dapat mengalami
gangguan kelumpuhan facialis LMN.

Gambaran klinis
Gejala kelumpuhan perifer ini
tergantung dari lokalisasi kerusakan.

a.

b.

c.

d.
e.

Kerusakan setinggi
foramen
stilomastoideus
Lesi setinggi diantara
khorda tympani
dengan n.stapedeus
setinggi diantara
n.stapedeus dengan
ganglion genikulatum
. Lesi setinggi
ganglion genikulatum
. Lesi di porus
akustikus internus

Diagnosa
Diagnosis Bells palsy dapat ditegakkan dengan
melakukan anamnesis dan pemeriksaan fsis.
Pada pemeriksaan nervus kranialis akan
didapatkan adanya parese dari nervus fasialis
yang menyebabkan bibir mencong, tidak dapat
memejamkan mata dan adanya rasa nyeri pada
telinga.
Hiperakusis dan augesia juga dapat ditemukan.
Harus dibedakan antara lesi UMN dan LMN. Pada
Bells palsy lesinya bersifat LMN.9

Tatalaksana
Pemberian kortikosteroid (prednisone dengan
dosis 40 -60 mg/hari per oral atau 1 mg/kgBB/hari
selama 3 hari, diturunkan perlahan-lahan selama
7 hari kemudian)
Acyclovir (400 mg selama 10 hari) dapat
digunakan dalam penatalaksanaan Bells palsy
yang dikombinasikan dengan prednison

Komplikasi
Komplikasi yang paling banyak terjadi yaitu
disgeusia atau ageusia, spasme nervus fasialis
yang kronik dan kelemahan saraf parasimpatik
yang menyebabkan kelenjar lakrimalis tidak
berfungsi dengan baik sehingga tampak seperti
air mata buaya

Prognosis
Penderita Bells palsy dapat sembuh total atau
meninggalkan gejala sisa.
Faktor resiko yang memperburuk prognosis Bells
palsy adalah:9
(1) Usia di atas 60 tahun
(2) Paralisis komplit
(3) Menurunnya fungsi pengecapan atau aliran
saliva pada sisi yang lumpuh,
(4) Nyeri pada bagian belakang telinga dan
(5) Berkurangnya air mata.

BAB IV
ANALISA KASUS
Dari anamnesis
Seorang perempuan, berusia 38 tahun, datang ke Poli Saraf
RSUD H Abdul Manap Jambi dengan keluhan utama kaku
pada wajah kiri
2 hari yang lalu pada malam hari sebelum tidur pasien
merasakan kaku pada wajah sebelah kiri. 1 hari yang lalu
Pagi hari setelah bangun tidur pasien mengeluhkan kaku
nya semakin berat, wajah pasien terlihat miring sebelah,
pasien juga mengeluh pada saat menyikikat gigi ia
mengalami kesulitan berkumur karna air keluar dari sudut
mulut sebelah kiri, pasien juga mengalami kesulitan dalam
makan dan minum karena makananan dan minuman sering
keluar dari sudut mulut bagian kiri, pasien juga mengaku
bahwa ia tidak bisa menutup mata kiri dengan sempurna,
tidak bisa mengangkat dahi kiri, dan lebar mulut tidak
simetris saat tersenyum. Keluhan penurunan pengecap atau
kehilangan pengecap disangkal. Pasien tidak mengeluhkan

lanjutan
Dari teori
a. Kerusakan setinggi foramen stilomastoideus
Gejala : kelumpuhan otot-otot wajah pada sebelah lesi
Sudut mulut sisi lesi jatuh dan tidak dapat diangkat
Makanan berkumpul diantara pipi dan gusi pada sebelah
lesi
Tidak dapat menutup mata dan mengerutkan kening
pada sisi lesi
Kelumpuhan ini adalah berupa tipe flaksid, LMN.
Pengecapan dan sekresi air liur masih baik.
Dari hal di atas dapat di simpulkan bawha kerusakannya
setinggi foramen stilomastoideus

lanjutan
Dari pemeriksaan fsik pasien di dapatkan
Status lokalis regio fasialis
1. Wajah asimetris
2. Sudut nasolabial menghilang
3. Kerutan dahi kiri < kanan
4. Lagoftalmus mata kiri 2mm
N VII (Fasialis)
Mengerutkan dahi
Menutup mata
Menyeringai
Mencucu
2/3 anterior lidah

Normal

Normal
Normal
Normal
Normal

Tidak bisa
Tidak bisa
Tidak bisa
Tidak bisa
Normal

lanjutan
Dari terori di dapatkan :
Kelumpuhan nervus fasialis mudah terlihat hanya dengan
pemeriksaan fsik tetapi yang harus diteliti lebih lanjut
adalah apakah ada penyebab lain yang menyebabkan
kelumpuhan nervus fasialis. Pada lesi supranuklear, dimana
lokasi lesi di atas nukleus fasialis di pons, maka lesinya
bersifat UMN. Pada kelainan tersebut, sepertiga atas nervus
fasialis normal, sedangkan dua pertiga di bawahnya
mengalami paralisis. Pemeriksaan nervus kranialis yang lain
dalam batas normal

Oleh karena itu dapat di simpulkan bawha : kerusakan pada


pasien ini adalah tipe LMN

lanjutan
Dari terapi pasien di dapatkan :
Non farmakologis
Latihan otot-otot ekspresi wajah
Tiap malam sebelum mau tidur, mata sebelah
kiri di plester gunanya melatih mata yang tidak
menutup supaya dapat melindungi mata
farmakologis
Prednisone 60 mg/ hari selama 3 hari
asyclovir 400 mg/ hari selama 10 hari

BAB V
KESIMPULAN
Bells palsy adalah kelumpuhan atau
paralisis otot wajah akut unilateral,
yang disebabkan oleh disfungsi saraf
fasialis (nervus VII) perifer tanpa
diketahui penyebabnya secara pasti
(idiopatik). Etiologi dan patogenesisnya
belum jelas, diduga peran virus yang
menyebabkan inflamasi pada saraf.

- Anamnesis dan pemeriksaan fsik yang


cermat termasuk pemeriksaan
otoneurologik diperlukan untuk
menyingkirkan gangguan-gangguan,
yang awalnya diduga Bells palsy.
- Prognosis pada pasien Bells palsy
umumnya baik dan sekitar 85%
penderita Bells palsy akan sembuh
sempurna.

DAFTAR PUSTAKA
1. Vrabec JT, Coker NJ. Acute Paralysis of the Facial Nerve. In: Bailey BJ,Johnson JT (ed). Head & Neck SurgeryOtolaryngology. Vol 2. 4th. Lippincott Williams & Williams. Philadelphia. 2006. 2147-8.
2. Maisel RH, Levine SC. Gangguan saraf Fasialis. Dalam : Adams GL, BoiesLR, Higler PA (ed). BOIES Buku Ajar
Penyakit THT. Edisi 6. Penerbit EGC. Jakarta. 1997. 139-52.
3. Dhingra PL. Facial Nerve and its Disorders. In: Disease of Ear Nose and Throat. 4th ed. Elsevier. New Delhi.
2007. 90-5.
4. Schaitkin BM, May M, Podvinec et al. Idiopatic (Bells) palsy, Herpes Zoster Cephalicus, and other Facial
Nerve Disorder of Viral Origin. In: May M, Schaitkin BM (ed). The Facial Nerve. 2nd ed. Thieme. New York.
2000. 319-35.
5. Ballenger JJ. Paralisis Nervus Fasialis. Dalam: Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Jilid 2.
Edisi 13. Binarupa Aksara. Jakarta.1997. 554-65.
6. Tiemstra JD, Khathate N. Bells palsy: diagnosis and management. American Family Physician. 76. 2007. 9971002.
7. Ramalingam KK, Sreeraamamoorthy B. Facial nerve paralysis. In: A Short Practise of Otolaryngology. Revised
Reprint Madras. 1990. 125-7.
8. Maqbool M. Otologic Aspect of facial paralysis. In: Textbook of Ear Nose and Throat Diseases. Jaypee
Brothers Medical Publishers. New Delhi. 1993. 148-52.
9. Monnel, K., Zachariah, S., Khoromi, S. 2009. Bells Palsy. Available from :
http://emedicine.medscape.com/article/1146903. Accessed Jan 11, 2016.
10.Holland, J. Bells Palsy. Brithis Medical Journal. 2008;01;1204.
11. Ropper AH, Brown RH. Bells Palsy Disease Of The Cranial Nerve. Adams and Victors Principles of Neurology,
8th ed. New York : McGraw Hill, 2005. 1181-1184.
12. Mardjono, M. Sidharta, P. Nervus Fasialis dan Patologinya. Neurologi Klinis Dasar, 5th ed. Jakarta : PT Dian
Rakyat, 2005. 159-163
13.Sjahrir, Hasan. Nervus Fasialis. Medan ;Yandira Agung, 2003.
14.Rohkamm, Reinhard. Facial Nerve Lesions. Color Atlas of Neurology 2 nd ed. George Thieme Verlag: German,
2003. 98-99.

TERIMA
KASIH

Anda mungkin juga menyukai