Anda di halaman 1dari 10

En Hiver Espérer Sonate

“Lagu Rindu Musim Dingin”


Oleh: Amber Garcie Lovegood

“Shasta, aku suka kamu….. Tak peduli apa jawabanmu…. Aku mengutarakan hal ini tulus dari
dalam lubuk hatiku. Aku sayang kamu, mungkin sampai nanti…. Sampai aku mati.” Ctiarrr!!! Rasanya
petir menyambarku saat Leo mengatakan itu. Ya, saat itu adalah malam tahun baru, 1 Januari 2005,
saat kembang api pertama terlihat menyala di atas Eiffel yang megah – tempat yang sama kami
bertemu. Di musim dingin, saat salju-salju yang putih bersih gugur….. Saat Sungai Seine yang indah
membeku…. Saat dimana anak-anak bermain boneka salju….

Aku, Shasta Dmetria Carter, blasteran Swiss-Russia, hanya seorang gadis yang biasa-biasa saja,
seorang gadis yang hidup layaknya gadis-gadis lain. Yang ‘tidak biasa’ dari hidupku adalah aku
memiliki seorang yang special dalam hidupku selain orang tuaku. Leonardo, seorang terdekat dalam
hidupku, yang dapat membuatku merasa nyaman dengannya, merasa hangat di dekatnya, yang
membuatku merasa ‘terbang’ dengan senyumannya, dan membuatku merasa menjadi seorang yang
special bersamanya.

Tapi hal itu, kini menjadi sebuah kenangan manisku bersamanya. Dia, kini telah pergi
meninggalkanku untuk melanjutkan studinya di Aussie. Aku akan selau menunggunya….
Menunggunya di sini di tempat pertama kami bertemu, Eiffel.

Tak terasa sudah dua tahun lamanya, aku kini telah lulus sekolah menengahku, aku bisa
melanjutkan studiku. Rasa rinduku pada Leo sudah tak terbendung lagi. Sore itu, setelah
pengumuman aku langsung mangatakan niatku kepada orang tuaku. Yah, aku ingin melanjutkan
studiku di Aussie, ayahku tidak mengijinkanku sebelumnya, tetapi akhirnya dia setuju dengan syarat
aku harus mendapat beasiswa.

Setelah melakukan pakta persetujuan dengan ayahku, keesokan harinya aku langsung
menemui guruku, menanyainya dengan serentetan pertanyaan …

“Maaf, Mrs. Grace, bisakah saya berbicara dengan anda?”

“Ya, tentu. Apa yang dapat saya bantu? Mari ke kantor saya”, jawab Mrs. Grace dengan halus.

“Adakah beasiswa untuk melanjutkan sekolah menengah ke luar negeri seperti tahun lalu?”

“Hm… sebentar, akan saya lihat dulu datanya”, jawab Mrs. Grace, Mrs. Grace segera berdiri
dari tempat duduknya dan mengotak-atik jejeran dokumen di rak panjangnya. Setelah beberapa menit
menunggu, akhirnya Mrs. Grace kembali duduk di kursinya sambil membawa beberapa bendel kertas.

“Bagaimana, Ma’am?” Kataku

“Hm…. Shasta, tentu ada, tetapi hanya beberapa, tidak sebanyak dulu.”

“Benarkah? Tak apa bila hanya beberapa, kemana saja?” Tanyaku dengan antusias

“Hm…. Universitas Pennsylvania, Unversitas Oxford, Universitas Cambridge, …. Hanya itu.”

“Ma’am, tidak adakah beasiswa ke Australia?”

“Untuk tahun ini sepertinya tidak ada universitas dari Australia yang menawarkan beasiswa ke
sekolah ini. Memangnya kenapa?” Kata Mrs. Grace.
“Mmm…. Saya ingin melanjutkan studi di Aussie, Bu?” Jawabku sekenanya.

Sangat kecewa memang rasanya mendengar pernyataan dari Mrs. Grace tadi, musim gugur ini
terasa sunyi.

Aku menyusuri pinggiran Sungai Seine yang terlihat berkilau membiaskan cahaya senja fajar
dan diiringi dengan bergugurnya daun-daun Pohon Ek yang telah menguning…. Aku tercekat sejenak.

“Ya! Aku tahu! Dieu Merci! Aku bisa mencari beasiswa dari internet”, pikirku dalam hati,
segera setelah itu, aku langsung berlari, berlari tanpa henti menerobos kawanan manusia yang
menyemut, dan pulang.

Sesampai di rumah, aku segera menyalakan komputerku dan browsing di salah satu situs
pendidikan dengan format “scholarship to Australia (beasiswa ke Australia)”. Dan, hasilnya dalah
daftar-daftar situs seperti ini:

University of Sidney

University of New South Wales (UNSW)

University of Victoria

University of Melbourne

Monash University

Queensland University of Technology

University of Adelaide

“Ahh!!” Pekikku, “Dasar bodoh! Pelupa!” Aku langsung berlari menuju kamarku, mencari-
cari sesuatu yang sangat penting, surat dari Leo, sambil mengobrak-abrik seluruh isi lemari dan
kamarku,

“Surat! Surat…!! Ah, dimana kau??!! Surat!!” Dan…. “Ahhh…. Syukurlah….” Lalu, aku memilih
dan membaca kembali surat darinya yang salah satunya…adalah surat pertama dari Leo, di situ jelas
sekali tertulis bahwa dia menulis surat itu di Sidney dan pasti dia juga akan berstudi di sana, jadi
setelah aku pikir, aku akan memilih University of New South Wales.

Kulihat kembali persyaratan ujian masuk sekolah tersebut dan aku juga turut dibantu dengan
semangat keluargaku dan bantuan dari Mrs. Grace. Aku mengirim seluruh pesyaratan via email dan
mengikuti seleksi online. Beruntungnya, aku termasuk siswa yang mendapat nilai di atas rata-rata,
jadi aku tidak terlalu sulit untuk masuk di UNSW.

****

Hari itu puncak dari musim gugur. Wow, udara hari ini terasa sejuk dan matahari tersenyum
lebar. Aku berjalan seperti biasanya, menyusuri sungai Seine yang cantik menuju ke sekolah untuk
mengambil semua keperluan yang mungkin akan kubutuhkan kelak di Aussie. Tetapi, Mrs. Grace tiba-
tiba memanggilku…

“Apa kamu benar-benar serius dengan pilihanmu ini?” tanyanya dengan serius.

“Tentu saja, Ma’am. Ada apa?”

“Baca ini”, Mrs. Grace berkata sambil menyodorkan sebuah map di depanku. Aku membacanya
dengan serius, kata demi kata, alangkah terkejutnya aku…
“Ma’am, apa maksud semua ini?”

“Ya, benar. Kamu diterima di Université de Paris, di universitas yang dari dulu sudah kamu
dambakan.”

“Tapi, bagaimana dengan University of New South Wales…?”

“Saya mengerti, Shasta. Tapi Université de Paris adalah universitas paling terkenal dan
prestisius di dunia. Lagipula, Shasta, apabila di negeri sendiri ada yang lebih baik buat apa kamu
harus pergi jauh-jauh ke negeri orang? Sulit sekali dapat diterima di sekolah tersebut, Shasta….
Cobalah kau pikirkan dua kali”

“Sa….saya mengerti, Mrs. Grace…. Ta…tapi, saya tidak bias melakukan itu. Saya masih tetap
pada pendirian saya. Saya sudah susah payah berusaha untuk masuk ke sekolah itu, Ma’am.”

“Untuk apa, sayang? Untuk apa?”

“Untuk menggapai cita-cita saya.”

‘Tak tahukah kamu betapa sulitnya untuk dapat diterima di kampus itu? Bahkan, hanya kamu
satu-satunya murid dari sekolah ini yang dapat diterima tanpa jalur test.”

“Tolong, jangan menekan saya…. Saya tidak ingin merasa bimbang lagi. Saya tidak ingin
mengubah keputusan saya.”

“Kau tahu, ayahmu pernah bicara dengan saya. Dia berkata bahwa dia sangat ingin kau,
anaknya, bisa diterima di sekolah itu. Dia berharap kamu bisa menjadi anak yang berguna dan
mempunyai masa depan cerah dengan berstudi di sekolah itu. Orang tuamu menaruh harapan besar
padamu.”

“Saya sangat mengetahui bahwa sekolah itu sangat prestisius dan jujur sampai sekarang saya
masih ingin masuk ke sekolah tersbut. Tapi, bagaimana dengan mimpi-mimpi saya yang telah saya
tangguhkan di Aussie….? Akankah?” Kataku dengan mantap. Lalu, Mrs. Grace menepuk bahuku dan
tersenyum simpul, sembari berkata,

“Aku tahu apa motifmu sebenarnya ingin ke sana?”

“Anda mengetahui hal itu dari mana?” Tanyaku keheranan.

“Tentu saya tahu, saya ini gurumu kan?”

“Tapi, saya tetap tidak akan mengubah keputusan saya.”

“Oke, oke, jika memang begitu. Tapi tolong, sebelum semuanya terlambat, singkirkan dulu
egomu. Pikirkan sekali lagi, perlahan, pikirkan juga orang tua dan masa depanmu. Saya yakin, masa
depanmu akan lebih gemilang jika kau di Sorbonne. Saya tahu benar kualitas Sorbonne. Kau dapat
membanggakan sekolah dan orang tuamu di Sorbonne. Dan, untuk mengejar cintamu, kau bisa
menyusulnya nanti, setelah kau kuliah di Sorbonne. Percayalah, saya hanya menginginkan yang
terbaik untukmu.”

Di dalam hatiku berkecamuk antara dua pilihan yang sulit. Ini sangat dilematis! Aku mulai
menimbang-nimbang kembali, Sydney vs Sorbonne. Dan, sangat sulit. Tetapi, meskipun begitu, aku
harus tetap memilih walaupun mungkin pilihanku ini salah. Aku menghirup nafas dalam-dalam….

“Ma‘am, ini sangat dilematis. Tetapi, apapun yang terjadi, saya akan tetap berada pada
pendirian saya. Mungkin hal ini akan menjadi suatu keputusan yang salah, dan saya bersedia
mengambil resiko dan konsekuensinya. Ini adalah keputusan saya dan saya akan berusaha untuk
membuat hal ini tidak menjadi suatu penyesalan”, kataku dengan mantapnya.

“Baiklah, UNSW juga merupakan almamater yang cukup prestisius. Saya tidak bisa berbuat
apa-apa jika keputusanmu sudah bulat. Ku harap kamu tidak akan menyesal setelahnya dan saya
harap kamu bisa menggapai semua mimpi yang kau tangguhkan di Sidney. Dan bila kau kelak berubah
pikiran, bawalah amplop ini dan pintu gerbang Sorbonne masih terbuka untukmu”, berkata Mrs.
Grace dengan bijak

“Merci bien, Madame. Anda baik sekali. Beruntung saya memiliki guru sebijak Anda.”

Meskipun aku harus melepaskan salah satu mimpiku di Paris, tak apa, tapi aku harap aku tak
akan menyesal nantinya. Biarlah. Kan ku pegang seluruh konsekuensinya.

*****

Akhirnya aku ‘terbang’ ke Aussie dan sampailah aku di Bandara Sydney. Di sana amat sangat
ramai, menurutku keramaian di kota Sidney melebihi ramainya Paris. Di bandara itu saja sudah
sangat ramai, banyak orang yang berlalu lalang di situ, mungkin mereka ingin bepergian. Tentu saja.
Aku sempat bingung berada di tempat ini, tak tahu utara-selatan dan timur-barat karena ini adalah
perjalanan pertamaku ke Aussie seorang diri.

Setelah itu, aku menuju ke pintu keluar sembari melihat apakah ada seseorang yang
menjemputku hari ini, tetapi ku pikir, tidak ada. Tidak ada tanda-tanda keberadaan keluarga paman
Charles di sini. Hufft….. mungkin aku harus naik taksi.

BRUKKKK! “Ah!” Tiba-tiba seseorang menabrakku dari belakang hingga membuatku terjatuh.

“Maaf….maafkan saya. Saya tidak……”, kata orang itu sambil menolongku untuk bangkit, entah
mengapa ia tak melanjutkan kalimatnya. Ia terbelalak seperti kaget melihatku, tak tahu mengapa. Ia
langsung melepaskan pegangannya hingga aku terjatuh lagi. Dan lari. Aku seperti mengenal orang itu.
Hal ini terasa layaknya dia sudah tak asing lagi bagiku, tapi jika memang kami pernah bertemu
mengapa dia tadi harus lari seperti telah melihat hantu. Ah, biarlah, dasar orang aneh.

*****

Setelah bersua dan melepas rinduku dengan sepupu-sepupuku yang ada di rumah Paman
Charles, aku diajak untuk berjalan-jalan menyusuri sudut-sudut Sidney. Di sana masih musim semi
ternyata, pohon-pohon menghijau indah membentuk boulevard dan warna-warni bunga yang sedang
bermekaran berbentuk layaknya sebuah pelangi. Aku melihat, ya disana, Sidney Opera House yang
terkenal, terletak di Bennelong Point dekat Sidney Harbour, di dekat gedung itu terdapat jembatan
terbesar di dunia, Sidney Harbour Bridge, yang juga menjadi ikon pariwisata di kota terbesar di
Negara Bagian New South Wales ini.

Hingga senja hari seperti ini, kami masih belum pulang karena kami masih berkeliling Sidney,
dan aku tercenung sebentar. Aku ingin tahun baru nanti dapat menjadi tahun baru terindahku,
bersama Leo melihat pesta kembang api di dekat Opera House dengan latar belakang gemerlap kilau
Sidney. Atau, climbing (menaiki) Harbour Bridge berdua di saat sunset untuk melihat betapa indah
dan glamornya Aussie. Alangkah indahnya menurutku…..

Tiba-tiba….aku teringat dengan seseorang yang menabrakku tadi di bandara. Aku baru ingat
bahwa dia adalah MIKE! Ya, Mike, adik Leo. Bodohnya aku seharusnya aku tadi bias mendapatkan
informasi dimana Leo sekarang. Pfft….. tapi biar untuk saat ini, sekarang aku harus mempersiapkan
segala sesuatu selama di sini. Dan besok, semoga dapat menjadi hari yang lebih baik.

*****

Keesokan harinya, aku berjalan menyusuri pinggiran jalan raya. Di tengah perjalanan, aku
seperti merasa bahwa ada seseorang yang mengikutiku dari tadi. Saat aku menoleh, dia tidak ada…..
Ku mencari-cari siapa gerangan dia. Siapa? Perasaanku sangat tidak enak. Akhirnya, ku coba untuk
mengecohnya….. Akhirnya, kami bisa bertatap muka…. Ternyata! Dia Mike…. Saat ku mencoba untuk
memanggilnya, dia malah lari menjauhiku…. Kucoba untuk menahannya, tapi tak bisa dia terlalu kuat
untuk kutahan.
“Mike! Mike, tunggu! Aku ingin bicara dengamu!” Teriakku

Tetapi, dia tidak mendengarkan omonganku dan terus berlari menjauhiku.

Aku mengejarnya sekuat tenaga, mengejarnya terus….. Hingga melewati beberapa gang kecil
diantara gedung-gedung menjulang di Sidney….. Hingga kakiku terasa nyeri karena terjungkal-
jungkal. Aku berhenti sejenak menahan nafasku yang tersengal-sengal…. Aku perlu oksigen!! Aku
hampir saja kehilangannya, tetapi segera aku mengejarnya kembali hingga di tepi jalan raya……..
tanpa basa-basi, aku langsung menyeberangi jalan raya, tak peduli seberapa ramai jalan itu, aku tidak
ingin menyia-nyiakan kesempatan ini dan kehilangan jejak Mike….

Oh, tidak!!!! Sebuah bus berkecepatan tinggi mendekatiku dan,


”Aaa!!!!” Aku berteriak sekeras-kerasnya sambil memjamkan mataku, aku merasa ada sesuatu
mendorongku dengan kuat….. Aku tak bisa berbuat apa-apa…. Tak bisa melawan dan hanya pasrah
dengan apapun yang menimpaku kali ini….. Mungkin saat ini nyawaku sudah terpisah dengan
jasadku…. Dan aku mungkin tak akan pernah melihat Leo lagi….. Tuhan, sebegitu singkatnya-kah
hidupku ini…..

“Hei, hei, bangun!!! Buka matamu!” Aku mendengar seseorang berkata padaku. Apakah itu
malaikat pencabut nyawa…. Tapi kenapa malaikat harus bertanya dulu jika mau mencabut nyawaku….

“Hei, kau, Shasta! Bangunnn!” Sesaat setelahya, aku sadar…. Aku berada di sebuah rumah,
tapi ku tak tahu dimana. Saat ku sadar, barulah aku mengerti bahwa ini adalah apartemen keluarga
Mike….

“Mike, dimana aku?”

“Kau berada di apartemen keluargaku.”

“Mike, kau mengetahui dimana Leo berada sekarang kan?” Tanyaku sambil mengernyitkan
dahi.

“Dia kuliah. Kau tahu itu, kan?”

“Ya, tentu saja. Aku tahu. Dia kuliah dimana?” Tanyaku penuh selidik.

“Di University of New South Wales, ku pikir kau sudah mengetahuinya kan….?” Katanya.

“Ow, benarkah??? Aku bukan seorang yang bisa kau bohongi. Dimana Leo setahun ini, dia
vakum kuliah sejak setahun lalu kan? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?” Aku berkata dengan
penuh selidik.

“Da-dari mana kau mengetahuinya?”

“Aku studi di tempat yang sama Leo studi. Kenapa? Ceritakan! Berikan aku penjelasan”

“Tidak bisa. Aku tidak bisa memberikan penjelasan apa-apa. Aku tak tahu apa-apa.”

“Bohong!!! Kau tahu yang sebenarnya kan?”

“Tidak!! Aku tidak tahu! Sekarang lebih baik kau keluar dari tempat ini dan PULANG!!”
Bentaknya sambil mendorongku keluar dari apartemen itu. Aku tak bisa melawan. Kini hilang sudah
semua kesempatan yang ada…..

Saat menuruni lift, aku baru sadar bahwa masih ada SATU kesempatan terakhir…. Aku yakin
bahwa Mike mengetahui sesuatu…. Ku ingat kembali dimana letak apartemennya, ya di lantai tiga…
Aku kembali lagi menuju apartemen Mike. Setelah sampai, aku berteriak sekeras-kerasnya!! Sekeras
yang aku bisa. Hingga suaraku serak, tetapi tidak ada respon dari dalam apartemen Mike! Aku kesal
sekali!! Aku menendangi dan kulempar tempat sampah di sampingku ke arah pintu apartemen
tersebut! Aku berteriak lagi…

“MIKE!!! MIKE!!! KELUAR KAU!!! JANGAN MENGHINDARI AKU!! KELUARRR!!!”


“Maaf, Nona! Percuma Anda berteriak di sini. Di sini kedap suara”, berkata sesosok manusia
yang aku tak tahu siapa, sepertinya dia adalah penjaga keamanan di tempat ini – terlihat dari
kostumnya.

Jlebb!! “Apa??? Kedap suara???” Aku malu setengah mati. Aku seperti orang gila! Ah! Kenapa
bodoh sekali, buat apa aku harus berteriak sekencang itu jika tidak ada seorangpun yang
mendengarku.

“Apa yang anda lakukan di tempat ini? Tolong, Nona, jangan membuat ulah di tempat ini.
Dan…, ada apa dengan tempat sampah itu?”

“Oh, Pak! Tidak ada apa-apa. Sa….Saya sedang, hm…. Ya! Sedang latihan membaca puisi, Pak.
Ya, latihan membaca puisi. Dan, hm…, tempat sampah itu….. Tadi ada kucing lewat nabrak tempat
sampah itu, Pak! Maaf telah membuat Anda kuatir”, jawabku sambil pura-pura mengambil sampah-
sampah yang tercecer dengan senyam-senyum malu tanpa makna. Amaaan….!

*****

Huh!!! Aku harus ganti rencana. Rencana B dilaksanakan. Aku kembali ke rumah, meski hari
mulai gelap, aku harus kembali ke apartemen itu. Dengan membawa semua alat yang sederhana, yaitu
tali pengikat + kait, helm, beberapa pengaman anggota badan, plus tangga. Aku langsung menuju arah
jendela apartemen Mike!! Hari itu sudah malam, dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki aku naik
hingga lantai 2 dengan tangga yang aku bawa….! Dengan hati-hati dan keringat yang terus bercucuran
aku menaiki tangga itu. Setelah sampai di lantai dua, aku langsung melemparkan tali beserta
pengaitnya ke sasaran utama, lantai 3. Setelah terlihat aman, aku daki dinding apartemen itu layaknya
Spiderman mendaki Puncak Everest. Akhirnya, dengan nafas yang tersengal-sengal dan tanganku
yang mulai bengkak, aku pecahkan jendela apartemen mewah itu dengan palu yang kubawa, tepat saat
Mike terlihat sedang asyik meminum kopi di dapurnya! Dia terbelalak melihatku yang lusuh dan
kusam penuh keringat!! Dia jatuhkan mugnya dan berkata…

“Hei!!! NEKAT sekali kau!!! Tak tahukah kamu bahayanya perbuatanmu barusan! Nyawamu
bisa melayang sia-sia!!”

“Aku tahu!! Aku hanya ingin kau memberitahuku satu hal…”, aku berkata dengan tersengal-
sengal sambil berusaha masuk apartemen.

“Aku tak bisa.”

“Tolong…. Tak bisakah kau menghargai perjuanganku hingga detik ini! Aku hanya ingin kau
memberitahuku tempat Leo berada. Hanya itu…. Tak lebih!!! Kau pikir untuk apa aku mati-matian ke
sini kalau bukan untuk itu….. Kumohon, mengertilah aku…..” setelah kalimat terakhir yang aku
katakan tadi, aku merasa tubuhku mulai lunglai dan hilang sudah keseimbanganku. Semuanya mulai
gelap dan hilang….

*****

Aku mencoba membuka mataku perlahan…. Dunia terasa gelap saat itu, perlahan secercah
cahaya mulai menyinari…. Saatku sadar betul, aku berada di sebuah ruangan yang sangat asing
bagiku,

“Dimana aku?”

“Kau di rumah sakit, kau kecapekan hingga kau pingsan di apartemenku tadi.” Jawab Mike
yang saat itu dengan santainya membaca majalah TIMES di kursi di sudut ruangan itu.

“Jadi…..?” aku bekata sambil mengangkat sedikit alisku.

“Oke, oke! Ayolah, kau tak perlu memasang ekspresi seperti itu. Tapi, sebelumnya aku ingin
kau……”

“Ingin apa?”
“Aku ingin kau kuat menerima apapun yang terjadi dengan lapang dada….”, Mike berkata
dengan raut wajah yang tak bisa aku gambarkan dan akupun seketika itu pula tak bisa berkata apa-
apa. Dia menggendongku ke kursi roda dan mendorongku ke luar ruangan hingga aku pun tak tahu
kemana tujuannya. Sungguh, saat ini aku merasa…. Merasa tak tahu dengan apa yang aku rasakan.
Rasanya, sesuatu berkecamuk dalam diriku, tak tahu apa. Jantungku berdetak kencang, seperti akan
menghadapi sesuatu yang besar….. Aku tak tahu, aku tak tahu dengan apa yang aku rasakan saat itu
aku hanya diam, membisu, diam tanpa kata.

Kami berhenti di depan sebuah ruangan, sepi dan hanya beberapa orang yang melewatinya.
Aku dihadapkan di depan ruangan yang terlihat jelas oleh kaca bening yang membatasi kami. Di sana
terlihat seseorang, seorang yang sangat kukenal….. Raut wajahnya terlihat tenang, terlihat sedikit
penderitaan yang tertahan….. Dia…. Leo!!! Aku sangat tak percaya dengan apa yang lihat.

Dia, tidak seperti Leo yang aku kenal. Dia, tidak seperti Leo yang aku temui di Eiffel. Dia,
terlihat lebih kurus dengan guratan penderitaan di setiap sudut wajahnya. Dia terlihat pucat. Bahkan,
untuk bernafas saja, dia harus dipakaikan alat bantu pernafasan. Sungguh, membuatku semakin tidak
percaya akan hal yang aku lihat ini,

“Dia…, dia… bukan Leo, kan?” Tanyaku dengan menahan air mata yang sudah siap untuk
ditangiskan.

“Maaf, inilah salah satu alasan mengapa aku tak mau memberitahumu……”, berkata Mike
dengan nada yang… ah…. Tak dapat aku gambarkan.

“Katakan, ini bukan Leo, kan? Tolong katakan…..”

“Maaf, sekali lagi maafkan aku…. Dia memang Leo, benar-benar Leo….”

“Ti…. tidak mungkin!!!” Saat itu pula aku tangisku pecah, tak dapat dibendung lagi. Rasa
sakitnya, melebihi rasa sakitnya orang yang terinjak-injak…. Aku berdiri ke arah kaca di depanku,
berharap bahwa yang kulihat hanyalah suatu ilusi. Aku masih tidak percaya akan semua ini… aku
tidak bisa mempercayainya…. Leo yang kukenal adalah orang yang memandang hidup dengan
optimisme, tak seperti sekarang yang ia harus terbaring lemah tak berdaya di tempat itu. Leo bukan
orang mudah pasrah, tapi mengapa dia harus terdiam membisu di sana. Tidak! Aku tidak bisa
melihatnya, aku tidak bisa melihat wajah itu……

Tanda kukomando, Mike memapahku masuk ke ruangan itu… di ruangan itu terlihat beberapa
perawat dan dokter yang memeriksa pasien itu… mereka mengizinkan kami masuk… Mike
mendudukanku tepat di samping wajah sayu itu…. Aku tak kuasa melihatnya… air mataku terus
mengalir di kala itu….

“Aku tahu ini sulit. Inilah alasan mengapa kakakku tidak menginginkan kau mengetahui yang
sebenarnya. Dia tidak ingin melihatmu seperti ini, dia tidak ingin membuatmu sedih karenanya, hanya
itu. Sejak setahun lalu, Leo divonis dokter menderita kanker otak stadium akhir….. dan sejak saat itu,
dia memberitahuku bahwa aku tak boleh mengatakan apapun padamu tentang ini. Kumohon
mengertilah posisiku dan posisi kakakku yang sulit ini. Aku tahu apa yang kau rasakan…. Dan….,
hidup kakakku mungkin tidak akan bisa tertolong lagi…. Sel kankernya sudah menjalar ke seluruh
tubuhnya, operasinya pun gagal….”

“Mengapa harus seperti ini….? Orang yang kusayangi, orang yang selalu melindungiku, orang
yang selalu optimis… haruskah dia terbaring lemah di sini, di tempat ini….. Tidak adakah cara lain
untuk menolongnya?” Aku memegang tangan Leo yang dingin itu…..Aku memegangnya dengan erat,
berharap hal itu dapat meringankan rasa sakit yang dideritanya, berharap ia akan membuka matanya.

“Leo hanya butuh satu keajaiban…..”

Kurengkuhkan dahiku di tangannya yang dingin itu…. Kubisikkan sedikit kalimat di


telinganya, “Bangun, bangun Leo. Kamu pasti kuat. Bertahanlah, aku di sini bersamamu.
Menunggumu…”, ku berkata lirih menahan tangis….
Kuangkat kepalaku saat aku merasakan tangan dingin Leo bergerak pelan….

“Leo, Leo, sayang…. Buka matamu…. Ini aku….” Aku berkata penuh kepanikan sambil ku elus
rambut coklatnya…. Saat itu juga, Mike segera keluar memanggil-manggil dokter…. Dan aku pun
segera beranjak dari situ untuk memanggil dokter. Tapi, tangan Leo yang kaku dan dingin itu tidak
membiarkanKU melepaskannya….

“To….tolong kau jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendiri…..”, Leo berkata dengan terbata-
bata sambil memegangi tanganku dengan kedua tangannya…. Aku memandangi kedua matanyayang
kini terbuka.

“Ya. Ya, aku di sini. Aku akan selalu bersamamu.”

“Ma…..maafkan a…aku, y…yang tak bi…bisa bersamamu….”, Leo berkata dengan sangat
terbata-bata. Aku tidak tahu apa yang terjadi, saat itu aku merasa sesuatu yang salah. Saat Leo
melepaskan genggamannya dari genggamanku… perasaanku mulai tak keruan… Kurasakan tangannya
lebih dingin dari yang tadi…. Kumelihat matanya yang terpejam kembali…….

“DOKTER!! DOKTER!!” Aku memanggil-manggil dengan sangat keras… berharap mereka


cepat datang ke sini…….

“Ada apa?” Mike berkata. Dan dokterpun sekarang tengah menangani Leo. Aku tak dapat
berfikir apapun yang akan terjadi, saat dokter itu melepas alat bantu pernafasan dan alat-alat
lainnya… aku…aku tak dapat berkata apa-apa…. Baru setelahnya, aku sadar….. dia telah tiada….

“Dokter, dia hanya tidur kan, dok…??? Ya kan?” Aku bertanya, tetapi tidak ada yng mau
menjawab pertanyaanku ini. Aku mencoba menenangkan diriku……

“Leo, bangun…. Ayo bangun… kamu hanya tidur kan… ayo, bangun…..”, aku berkata dengan
suaraku yang semakin bergetar menahan segala emosi jiwa….. Aku mengelus wajah Leo yang terlihat
memucat, kubisikkan kembali kalimat itu perlahan di dekat telinganya…. Aku semakin tak tahan
dengan apa yang aku lihat dan rasa saat ini…. Tak ada respon darinya, dia hanya terpejam, diam….
Aku tak bisa berbuat apa-apa…. haruskah aku melepaskan seorang yang terpenting dalam hidupku…..
mengapa keadaan mengharuskanku begini….. Kenapa harus dia……..

Tangisku kembali pecah saat itu…., aku tak bisa melihat wajah pucat pasinya saat itu…. Aku
berlari…. Berlari tak tentu arah… aku hanya berlari…. Tak peduli apa yang terjadi….. keramaian kota
Sydney saat itu menjadi sangat tak berarti bagiku…… Mike mengejarku, tapi aku tak
menghiraukannya… aku berlari semakin menjauh darinya.

“Shasta!! AWASS!!!” Mike mengingatkanku…. Sebelum aku menoleh padanya…..saat itu, aku
melihat sebuah mobil melaju kencang di depanku….

BRAKKK!!! Aku tak dapat berbuat apa-apa, pasrah, bahkan bila saat itu aku harus kehilangan
segalanya aku rela…. Aku terlempar hingga di tepi jalan, hilang sudah seluruh keseimbanganku, gelap.
Aku hanya berharap saat ini ada malaikat yang mau mencabut nyawaku sekarang… Agar ku bisa
menyusul Leo….

*****

Setelah kejadian itu, hidupku berantakan…. Sudah tak ada lagi sesuatu yang dapat diharapkan
dan kuharapkan dari hidupku….. Sejak saat itu, aku divonis buta permanen…… Aku kehilangan segala-
galanya…. Jujur, aku sangat tak bisa menerima keadaan ini…. Mengapa semuanya tak adil padaku….
Keadaan sungguh membuatku menjadi seorang paling menyedihkan di dunia ini….. Lebih baik aku
mati daripada harus bergelut dengan keadaanku yang seperti ini…..

“Shasta, ini aku Mike…. Aku hanya ingin memberitahumu pesan terakhir dari mendiang
kakakku….”, suara Mike terdengar saat itu. Meski aku tak dapat melihat siapa dia, tapi aku sangat jeli
dengan suara Mike.
“Apa?” Kataku singkat. Mike menyodorkan sebuah kotak sesaat setelahnya. Dan, aku mencoba
untuk membuka kotak itu, yah, kotak itu berisi selembar kertas dan..ah… aku tak tahu yang satunya
apa…. Lalu, Mike menarik kertas itu dari genggamanku dan ia berkata dengan suara yang tenang dan
halus….

“Kertas yang barusan kau pegang adalah surat terakhir dari Leo. Dan sekarang aku akan
membacakannya untukmu… Kumohon kau mau mendengarnya….
Shasta,
Mungkin saat kau membaca surat terakhirku ini, aku sudah tiada mungkin bisa bersamamu lagi. Tapi, yang pasti,
aku ingin kita selalu bersama, tak akan lekang oleh waktu. Meskipun aku tahu bahwa kita terpisah di tempat yang berbeda,
berjauhan.
Setelah perpisahan ini, ku mohon padamu, lanjutkan hidupmu tanpa aku. Kembalikan lagi semangat hidupmu. Ku
ingin kau tetap bisa menjalani hari-harimu tanpa aku. Aku tahu ini sulit. Ku harap, kelak kau dapat menemukan seorang yang
menyayangimu lebih dari aku, yang dapat mengajakmu berdansa di tengah Sungai Seine yang beku, yang dapat
menemanimu melihat pesta kembang api di Eiffel, yang dapat menggenggammu lebih erat daripada aku, dan tentu yang
dapat melindungimu lebih lama daripada aku.
Hanya ini mungkin yang dapat aku katakan untuk terakhir kali. Maafkan aku yang tak bisa bersamamu. Maafkan diri
ini yang tak pernah bisa memelukmu…. Terima kasih pernah menjadi bagian hidupku…. Terima kasih karena kau telah
memberikan rona baru dalam elegy hidupku yang tak sempurna ini…. Te Amor…. Au revoir….

Je vous affectueux toujours…..

Salam Hangat Terakhir,


Leonardo

.... Itulah tadi pesan-pesan terakhir dari kakakkku. Kumohon mengertilah. Dan benda yang
kau sentuh itu adalah kalung pemberian dari kakakkku, berbentuk matahari yang berarti dia ingin kau
terus bercahaya layaknya matahari yang menyinari bumi bagaimanapun keadaanmu”, dia berhenti
berkata. Dan, yah, setelah aku mencoba meraba-raba kalung itu, memang benar bahwa kalung itu
berbentukl matahari. Aku sungguh terharu saat itu… tapi, kucoba untuk tetap tegar. Mike
memasangkan kalung itu di leherku sesaat setelahnya… Dan…. aku merasa ada semangat baru yang
menyelimutiku secara spontan….

Setelah hari itu, aku dan ibuku pindah ke Swiss…. Kami pindah di suatu daerah pedalaman di
lembah Pegunungan Alpen. Aku tahu bahwa orangtuaku bermaksud untuk tidak mengingatkanku
kembali akan Sydney, Paris, Eiffel, dan hal-hal yang membuatku teringat akan seluruh kenanganku
bersama Leo…. Aku mengerti itu, dan sekarang aku mencoba untuk melanjutkan hidupku di sini,
Lembah Alpen yang sejuk dan dingin, dengan orang-orang yang baru, dan dengan semangat hidup
yang baru…. Kuharap di Swiss ini, aku bisa mengukir lembaran-lembaran baru dalam kisah
hidupku…. Di sini sunyi… dan sepi…. Dan di sini, aku bisa merasakan seluruh hembusan angin
gunung, sejuknya musim panas, dan wewangian Bunga Irish yang mekar di musim seminya, meski
harus dalam duniaku yang gelap ini….

*****

1 Januari 2006, musim dingin pertamaku di Swiss. Tidak seperti setahun lalu…. Di sini, orang-
orang di sekitarku hanya bernyanyi dan menari tanpa ada pesta kembang api seperti di Paris…. Di sini
jauh lebih sunyi yang terdengar hanyalah hembusan angin yang bergabung dengan suara-suara anak
kecil yang menyanyikan lagu syukur dengan khidmat….

Saat ini, kau tahu, aku sangat merindukanmu Leo… meski kita tak dapat bersatu kembali….
Aku akan mengingatmu selalu di dalam lubuk hatiku…. Karena kau adalah belahan jiwaku dan takkan
ada seorangpun yang dapat menggantikanmu…. Untuk masa lampau, sekarang, dan masa yang akan
datang…. Lagu ini kupersembahkan untukmu…. En Hiver Espérer Sonate….

Grand comme un amour et demi

Depuis le matin du depart

Mon coeur est parti bien pulus tard.


Si de chez toi tu vois ma route

Si tu me lis, sit u m’écoutes

Je te donnerai toutes mes solitudes

Dans cotte chamber où je me trouve

Te retrouvant, je me retrouve

(Suci seperti cintaku yang utuh


Sejak pagi kepergian
Hatiku telah pergi nantinya.
Andai dari tempatmu kau melihat jalanku
Andai kau perhatikanku, andai kau mendengarku
Ku akan berikan kepadamu seluruh kesendirianku

Dalam ruang ini ku temukan,


Dalam pencarian ku temukan)

(Isabelle Boulay – Du Temps Pour Toi -Dari Waktu Untukmu-)

.:****---****:.