Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang
berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk
perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia,
kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri (Kaplan dkk,
2010). Gangguan depresi merupakan gangguan yang banyak kita jumpai dalam
praktik sehari-hari dan dapat mengenai semua usia.1
Prevalensi kejadian depresi cukup tinggi hampir lebih dari 350 juta
penduduk dunia mengalami depresi. Survey yang dilakukan di 17 negara eropa,
rata-rata 1 dari 20 orang pernah mengalami depresi (Marcus, 2012). Prevalensi
gangguan mental emosional penduduk di atas 15 tahun di Indonesia berdasarkan
data Riskesdas tahun 2007 mencapai 11,6% atau diderita sekitar 19 juta orang
(RISKESDAS, 2007).
Depresi lebih sering terjadi pada wanita dari pada laki-laki dengan risiko 2
kali lebih besar. Sekitar 50% dari semua pasien mempunyai onset antara 20-50
tahun. Pada umumnya, depresi paling sering terjadi pada orang yang tidak
memiliki hubungan interpersonal yang erat atau yang bercerai atau berpisah.
Depresi dihubungkan dengan faktor biologi, genetik, dan psikososial. (Kaplan
dkk, 2010). Neurotransmitter yang mungkin berkurang pada gangguan depresi
adalah norepineprin, dopamin, dan serotonin. 1
Gangguan depresi paling sering terjadi dengan prevalensi seumur hidup
sekitar 15%. Perempuan dua kali lipat lebih besar dibandingkan laki-laki. Hal ini
diduga adanya perbedaan hormon. Rata-rata usia penderita sekitar 40 tahun. Data
terkini menunjukkan, gangguan depress berat diusia kurang dari 20 tahun, yang
mungkin

berhubungan

dengan

meningkatnya

pengguna

alkohol

dan

penyalahgunaan zat. 1
Pengobatan yang diberikan adalah terapi farmakologis, yaitu obat
antidepresan, seperti obat trisiklik, tetrasiklik, Monoamine oxidase inhibitors
(MAOIs) atau Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRIs), perawatan di
rumah sakit, dan terapi psikososial, termasuk terapi kognitif, terapi interpersonal,
terapi keluarga, terapi perilaku, dan terapi berorientasi psikoanalitis. 1

BAB II
STATUS PASIEN

I. IDENTIFIKASI PASIEN
a. Nama
b. Jenis kelamin
c. Umur
d. Status perkawinan
e. Agama
f. Tingkat pendidikan
g. Warga negara
h. Suku bangsa
i.

: Tn.YM
: Laki-laki
: 45 tahun
: Sudah Menikah
: Islam
: S1
: Indonesia
: Jawa
Alamat: Perum Villa Kenari Blok P1 Mayang

Mangurai Kota Baru Jambi


j. Pekerjaan
: Swasta
II. ANAMNESIS
A. AUTOANAMNESIS
a. Keluhan Utama
: Os sering berpikiran buruk.
b. Riwayat Perjalanan Penyakit
Sejak 8 bulan yang lalu, os ering memikirkan hal-hal buruk. Os
mengaku mengalami banyak tekanan di lingkungan pekerjaannya, os
merasa tidak puas dengan jabatan yang dimilikinya saat ini dan merasa
iri dengan rekan kerjanya yang mempunyai jabatan yang lebih tinggi.
Disamping itu, os mengaku bahwa memiliki banyak hutang sehingga os
takut dengan pekerjaannya yang sekarang tidak dapat melunasi
hutangnya. Os sering merasa bahwa kehidupan orang lain jauh lebih baik
dari kehidupan yang dijalaninya.
Sejak 3 minggu yang lalu, os sering marah-marah dan sangat
mudah tersinggung serta merasa cepat lelah ketika melakukan aktivitas
sehari-hari. Os tidak pernah memukul atau menyakiti orang lain ketika
os marah. Os juga mengeluh jadi malas bekerja, susah tidur dan tidak
nafsu makan, os kemudian berobat ke psikolog dan sempat mengalami
perubahan.
Sejak 1 minggu yang lalu os merasa semakin mudah gelisah, os
semakin malas untuk bekerja, os merasa pesimis dengan hidupnya,
sehingga os berpikir bahwa salah satu cara untuk menyelesaikan

masalahnya adalah dengan cara bunuh diri. Os sudah melakukan


percobaan untuk bunuh diri sebanyak 2 kali dalam 2 minggu terakhir.
Menurut pengakuan dari istri os, os tidak terlihat sering berbicara sendiri
dan os tidak mengatakan adanya bisikan-bisikan ataupun melihat
sesuatu.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Darah tinggi (-), DM (-), Asma (-), Kejang (-), trauma kepala (-)
d. Riwayat Premorbid
- Perinatal
: os mengatakan ibu os tidak pernah menderita sakit
-

pada saat hamil.


Lahir
: lahir cukup bulan,spontan, langsung menangis
Bayi
: tumbuh kembang baik
Anak-anak
: interaksi sosial baik, pasien memiliki banyak teman
Remaja
: interaksi sosial baik, pasien memiliki banyak teman
- Dewasa : interaksi sosial kurang. Os cenderung
memiliki kepribadian tertutup, tidak banyak bercerita
kepada orang lain ketika mempunyai masalah.
- Sekarang :
pemurung, menarik diri, cemas,
mudah tersinggung, tidak berminat untuk melakukan
apapun.

e. Riwayat perkembangan organobiologi


- Riwayat kejang (-)
- Riwayat demam tinggi yang lama (-)
- Riwayat trauma kepala (-)
- Riwayat asma (-)
f. Riwayat penggunaan alkohol dan obat-obatan
Riwayat mengonsumsi alkohol dan NAPZA tidak ada.
g. Riwayat pendidikan
Pasien merupakan lulusan sarjana ekonomi dari sebuah universitas
swasta.

h. Riwayat pekerjaan

Pasien bekerja sebagai staf di bagian keuangan di suatu perkantoran dan


pasien mengaku mengalami banyak tekanan di pekerjaannya. Pasien
mengaku sudah cukup lama bekerja di tempat kerja yang sekarang.
Pasien merasa tidak puas dengan jabatan yang dimilikinya sekarang dan
sering merasa iri dengan teman-teman yang mempunyai jabatan yang
lebih tinggi.
i. Riwayat perkawinan
Pasien menikah satu kali, istri pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga.
j. Keadaan sosial ekonomi
Pasien tinggal bersama keluarga dengan keadaan sosial ekonomi
menengah ke bawah. Os mengaku memliki banyak hutang.
k. Riwayat keluarga
- Riwayat keluarga dengan gangguan jiwa tidak ada.
- Pasien mengaku dekat dengan ayah dan ibu pasien.
- Ayah pasien memiliki kepribadian yang tegas dan penyayang
sedangkan Ibu os memiliki kepribadian yang penyabar dan lembut.
Pedigree:
Pasien merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara.

B. WAWANCARA DAN OBSERVASI


Wawancara dan observasi dilakukan pada Rabu, 06 April 2016 pukul 11.00 s.d.
11.35 WIB di Bagian Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi.
Penampilan pasien cukup rapi. Pemeriksa dan pasien duduk saling berhadapan.
Wawancara dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

Pemeriksa

Pasien

Selamat pagi, Pak. Saya

Pagi, dok (menjabat tangan

dokter muda Nuri

pemeriksa)

Interpretasi
Kontak (+) adekuat
Perhatian (+)
Konsentrasi cukup

(tersenyum dan
mengulurkan tangan)

Kooperatif

Iya boleh
Pak saya mau ngobrol
sebentar dengan bapak,
boleh ya?

Daya ingat baik


S

Ibu bapak namanya siapa


pak?

Discriminative insight baik


Iya boleh silahkan dok.

Ada beberapa hal yang saya

Daya ingat baik

ingin tanyakan mengenai

Iya dok saya sering sulit tidur,

kondisi bapak.

mudah gelisah dan sering

Kenapa bapak dibawa ke


sini, apa yang bisa dibantu?

memikirkan hal-hal buruk.


Kira-kira sudah sekitar 8 bulan.

Sejak kapan bapak mulai


mudah gelisah dan sering
memikirkan hal-hal buruk ?

Daya ingat baik

Banyak masalah dok di

Daya ingat baik


Afek depresif
Preokupasi

pekerjaan. Saya merasa kurang


puas dengan jabatan saya saat

Mengapa bapak sering


gelisah dan memikirkan halhal buruk?

ini, sedangkan rekan kerja saya


jabatannya lebih tinggi dari
saya. Selain itu, keluarga saya
punya banyak hutanng juga dok.

Afek depresif
Preokupasi
Perasaan inferior

(pasien bercerita sambil


menunduk dan tampak sedih)
Iya dok saya takut tidak bisa
Bisa bapak ceritakan pikiran
buruknya gimana?

Irritable (+)

melunasi hutang saya nanti harta


saya habis dengan pekerjaan
saya yang gini-gini saja.

Selain keluhan susah tidur

Akhir-akhir ini saya merasa

ada keluhan lain pak?

mudah marah, cepat tersinggung

Perasaan inferior (+)


Afek depresif
Ingatan baik.

dengan orang lain.


Tersinggung karena apa pak?

Kalo lihat orang, saya merasa

Afek depresif

orang-orang itu lebih beruntung


Beruntung gimana pak?

dari saya.
Beruntung ekonominyo cukup,

Afek depresif
Kehilangan minat (+)
Mudah lelah (+)

tidak ada hutang, pekerjaannya


Menurut bapak, kondisi

lancar kayak gitu lah dok.

bapak gimana sekarang?


Rasanya semuanya jadi berat,
Bagaimana perasaan bapak
sekarang?

susah dek (wajah pasien tampak


sedih dan melihat ke bawah).
Kayak itulah dok, rasanya
kurang semangat, jadi malas
bekerja, cepet lesu.

Nafsu makan bapak gimana?

Makan jadi gak nafsu dok, tidur

Insomnia (+)

juga jadi susah.


Bapak pernah gak merasa

Gak pernah dok

Delusion of control (-)

ada yang merasuki atau


mengendalikan badan
bapak?
Gak pernah dok.

Halusinasi visual (-)

Bapak pernah melihat


sesuatu gak yang orang lain
gak bisa liat?

Gak pernah juga dok.

Bapak pernah mendengar

Halusinasi auditorik (-)

bisikan-bisikan yang
menyuruh bapak atau yang
membuat bapak ingin
marah?

Saya sekarang merasa jadi


mudah tersinggung, mudah
marah.

Gimana hubungan bapak


dengan anak-anak dan teman
di lingkungan bapak?

Iya kadang saya merasa pengen


nyudahin semua ini dengan

Irritable (+)

bunuh diri.
Bapak pernah gak punya ide
bunuh diri, atau mau
menyakiti diri sendiri?
Baiklah, sekian. terima kasih
pak atas bincangbincangnya.

Ide bunuh diri (+)

III.PEMERIKSAAN
A. STATUS INTERNUS
1) Keadaan Umum
Sensorium
: Compos mentis
Frekuensi nadi : 88x/menit
Tekanan darah :110/70 mmHg
Suhu
: 36,7 0C
Frekuensi napas : 20 x/menit

B. STATUS NEUROLOGIKUS
1)
2)
3)
4)

Nervus kranialis
: tidak ada kelainan
Gejala rangsang meningeal
: tidak ada
Gejala peningkatan tekanan intracranial : tidak ada
Mata
Gerakan
: baik ke segala arah
Persepsi mata
: baik, visus normal
Pupil
: bentuk bulat, sentral, isokor, 3mm/3mm
Refleks cahaya
: +/+
Refleks kornea
: +/+
Pemeriksaan oftalmoskopi : tidak dilakukan

5) Motorik
Fungsi Motorik

Lengan

Tungkai

Kanan

Kiri

Kanan

Kiri

Gerakan

Luas

Luas

luas

luas

Kekuatan

Tonus

Eutoni

Eutoni

eutoni

eutoni

Klonus

Refleks fisiologis

Refleks patologis

6) Sensibilitas
7) Susunan syaraf vegetatif

: normal
: tidak ada kelainan

8) Fungsi luhur
9) Kelainan khusus

: tidak ada kelainan


: tidak ada

C. STATUS PSIKIATRIKUS
KEADAAN UMUM
a. Sensorium
: Compos Mentis
b. Perhatian
: adekuat
c. Sikap
: kooperatif
d. Inisiatif
: ada
e. Tingkah laku motorik : normoaktif
f. Ekspresi fasial
: sedih
g. Verbalisasi
: lancar dan jelas
h. Cara bicara
: lancar
i. Kontak psikis
Kontak fisik
Kontak mata
Kontak verbal

: ada, adekuat
: ada, adekuat
: ada, adekuat

KEADAAN KHUSUS (SPESIFIK)

a. Keadaan afektif
Afek
Mood

: depresif
: hipotimik, depresi

b. Hidup emosi
Stabilitas

: stabil

Skala diferensiasi

Dalam-dangkal

: dalam

Einfuhlung

Pengendalian

:terkendali Arus emosi

Adekuat-Inadekuat

: adekuat

c. Keadaan dan fungsi intelektual


Daya ingat

: baik

Daya konsentrasi

: baik

Orientasi orang/waktu/tempat : baik


Luas pengetahuan umum

: sesuai

Discriminative judgement

: baik

Discriminative insight

: baik

Dugaan taraf intelegensi

: baik

Depersonalisasi dan derealisasi : tidak ada

: menyempit
: bisa diraba rasa
:cepat

d. Kelainan sensasi dan persepsi


Ilusi

: tidak ada

Halusinasi : tidak ada

e. Keadaan proses berpikir


Psikomotilitas : cepat
Mutu

: baik

Arus pikiran
- Flight of ideas
- Inkoherensi
- Sirkumstansial
- Tangensial
- Terhalang(blocking)

: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada

Terhambat (inhibition)

ada
Perseverasi
Verbigerasi

: tidak ada
: tidak ada

-Rasa permusuhan/dendam
-Perasaan berdosa/salah
- Hipokondria
- Ide bunuh diri
- Ide melukai diri
- Lain-lain

: tidak ada
: tidakada
: tidak ada
: ada
: ada
: tidak ada

: tidak

Isi pikiran
-Waham
-Pola Sentral
-Fobia
-Konfabulasi
-Perasaan inferior
-Kecurigaan

: tidak ada
: ada
: tidak ada
: tidak ada
: ada
: tidak ada

Obsesi
Preokupasi

Bentuk pikiran
- Autistik
- Simbolik
- Dereistik
- Simetrik
- Paralogik
- Konkritisasi
- Overinklusif

: tidak ada
: ada

- Aliensi

:tidak ada

: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada

f. Keadaan dorongan instinktual dan perbuatan


- Hipobulia
: ada
- Vagabondage
: tidak ada
- Stupor
: tidak ada
- Pyromania
: tidak ada
- Raptus/Impulsivitas
: tidak ada
- Mannerisme
: tidak ada
- Kegaduhan umum
: tidak ada
- Autisme
: tidak ada
- Deviasi seksual
: tidak ada
- Logore
: tidak ada
- Ekopraksi
: tidak ada
- Mutisme
: tidak ada
- Ekolalia
: tidak ada
- Lain-lain
: tidak ada
g. Kecemasan
h. Dekorum
- Kebersihan
- Cara berpakaian
- Sopan santun

: ada
: baik
: baik
: baik

i. Reality testing ability


RTA tidak terganggu
D. PEMERIKSAAN LAIN
a.
b.
c.
d.

Pemeriksaan elektroensefalogram
Pemeriksaan radiologi/ CT scan
Pemeriksaan laboratorium
Skoring depresi

: tidak dilakukan
: tidak dilakukan
: tidak dilakukan
: tidak dilakukan
12

IV. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL


Aksis I
: F.32.2 Episode Depresi Berat tanpa gejala psikotik
Aksis II
: Ciri kepribadian skizoid
Aksis III
: Tidak ada diagnosis
Aksis IV
: Masalah dengan pekerjaan
Aksis V
: GAF scale saat ini 70-61
V. DIAGNOSIS BANDING
VI. TERAPI
a. Psikofarmaka
Fluoxetine cap 10 mg, 1x1 (1 0 0)
Alprazolam cap 0,25 mg 3x1 (1 1 1 )
b. Psikoterapi
Suportif
-

Memberi dukungan dan perhatian kepada pasien dalam menghadapi

masalah.
Memotivasi pasien agar minum obat secara teratur

Kognitif
Menerangkan tentang gejala penyakit pasien yang timbul akibat
cara berpikir yang salah, mengatasi perasaan, dan sikapnya terhadap
masalah yang dihadapi.
Religius
Bimbingan keagamaan agar pasien selalu menjalankan ibadah
sesuai ajaran agama yang dianutnya, yaitu menjalankan solat lima waktu,
menegakkan amalan sunah seperti mengaji, berzikir, dan berdoa kepada
Allah SWT.
II. PROGNOSIS
Quo ad vitam: Bonam
Quo ad fungsionam: Dubia ad bonam
Quo ad sanationam: Dubia ad bonam

13

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1

DEPRESI

3.1.1 Definisi Depresi


Depresi merupakan salah satu gangguan mood. Gangguan mood dianggap
sebagai sindrom, yang terdiri atas sekelompok tanda dan gejala bertahan
selama berminggu-minggu, serta kecenderungan untuk kambuh, sering dalam
bentuk periodik atau siklik.1 Pasien dengan mood terdepresi (yaitu, depresi)
merasakan hilangnya energi dan minat, perasan bersalah, sulit berkonsentrasi,
hilang nafsu makan, dan pikiran tentang kematian atau bunuh diri.2
Episode depresi merupakan suatu mood depresi dan hilangnya minat atau
kesenangan, dimana pasien mungkin mengatakan bahwa mereka merasa
murung, putus asam dalam kesedihan, atau tidak berguna. Episode depresi
berat harus harus ada setidaknya 2 minggu. Seseorang yang didiagnosis
memiliki episode depresif berat harus mengalami empat gejala dari daftar yang
mencakup adanya perubahan berat badan dan nafsu makan, perubahan tidur
dan aktivitas, tidak ada energi, rasa bersalah, masalah dalam berpikir dan

14

membuat keputusan, serta pikiran berulang mengenai kematian dan bunuh


diri.1
3.1.2 Epidemiologi
Gangguan depresif berat adalah suat gangguan yang sering, dengan
prevalensi seumur hidup adalah kira-kira 15 persen, kemungkinan setinggi 25
persen pada wanita. Prevalensi gangguan depresif pada wanita dua kali lebih
besar dibandingkan laki-laki.2 Alasan perbedaan ini yang telah di hipotesiskan
antara lain perbedaan hormonal, pengaruh kelahiran anak, stressor psikososial
yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, serta model perilaku
ketergantungan yang dipelajari.1
Rata-rata usia onset untuk gangguan depresi berat kira-kira 40 tahun, 50 %
dari semua pasien mempunyai onset antara 20 dan 50 tahun. 2 Beberapa data
epidemiologi baru-baru ini menyatakan bahwa insidensi gangguan depresi
berat mungkin meningkat pada orang-orang yang berusia kurang dari 20 tahun.
Jika pengamatan tersebut benar, mungkin berhubungan dengan meningkatnya
penggunaan alkohol dan zat-zat lain pada kelompok usia tersebut. 2 Depresi
ditemukan lebih seirng terjadi pada lanjut usia dibandingkan pada populasi
umum. Berbagai penelitian telah melaporkan angka prevalensi terentang dari
25% hingga hampir 50%, walaupun pada persentasi kasus tersebut tidak
diketahui secara pasti persentase pasien dengan gangguan depresif berat.
Sejumlah penelitian melaporkan data yang menyatakan bahwa depresi pada
lanjut usia mungkin berhubungan dengan status sosioekonomi rendah,
kematian pasangan, penyakit fisik yang menyertai, dan isolasi sosial. Pada
beberapa penelitian, kesulitan dalam menegakkan diagnosis depresi pada usia
lanjut cenderung diakibatkan karena lebih menonjolnya gejala somatik pada
usia lanjut dibandingkan pada usia muda.1
3.1.3 Etiologi dan Patofisiologi
a. Faktor Biologis
Dari amin biogenik, norepinefrin dan serotonin merupakan dua
neurotransmiter yang paling berperan dalam patofisiologi gangguan mood.

15

Pada model binatang, hampir semua terapi antidepresan somatik yang efektif
adalah disertai dengan penurunan kepekaan reseptor pascasinaptik adrenergikbeta dan 5-hydroxytryptamine tipe 2 (5-HT2) setelah terapi jangka panjang.
Noreprinefrin. Dalam beberapa penelitian diduga adanya peranan
langsung sistem noradrenergik dalam depresi. Jenis bukti lain juga melibatkan
reseptor adrenergik alfa-2 dalam depresi, karena aktivasi reseptor tersebut
menyebabkan penurunan jumlah noreprinefrin yang dilepaskan. Reseptor
adrenergik-alfa2 juga berlokasi pada neuron serotonergik dan mengatur jumlah
serotonin yang dilepaskan.
Serotonin. Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi, dan
beberapa pasien yang bunuh diri memliki konsentrasi metabolit serotonin di
dalam cairan serebrospinalis yang rendah dan konsentrasi tempat ambilan
serotonin yang rendah di trombosit, beberapa pasien depresi juga memiliki
respons neuroendokrin yang abnormal, sebagai contoh hormon pertumbuhan,
prolaktin, dan hormon adrenokortikotropin (ACTH) terhadap provokasi dengan
agen serotonerik.
Dopamin. Walaupun noreprinefrin dan serotonin adalah amin
biogenik adalah amin biogenik yang paling sering dihubungkan dengan
patofisiologi depresi, dopamin juga telah diperkirakan memiliki peranan dalam
depresi. Data menyakan bahwa aktvitas dopamin mungkin menurun pada
depresi dan meningkat pada mania.
Regulasi neuroendokrin. Hipotalamus adalah pusat regulasi sumbu
neurohormonal dan hipotalamus sendiri menerima banyak masukan (input)
neuronal yang menggunakan transmiter amin biogenik. Berbagai disregulasi
telah dilaporkan pada pasien dengan gangguan mood.Kelainan neuroendokrin
yang telah digambarkan pada pasien dengan gangguan mood adalah penurunan
sekresi nokturnal melantonin, penurunan pelepasan prolaktin, penurunan kadar
FSH dan LH, dan penurunan kadar testosteron pada laki-laki.
Sumbu adrenal. Hubungan antara hipersekresi kortisol dan depresi
adalah salah satu pengamatan paling tua dalam psikiatri biologi. Neuron di
nukleus

paraventrikular

(PVN;

paraventricular

nucleus)

melepaskan

corticotropin-releasing hormon (CRH), yang menstimulasi pelepasan hormon

16

adrenokortikotropik (ACTH) dari hipofisis anterior. ACTH selanjutnya


menstimulasi pelepasan kortisol dari korteks adrenal. Kortisol memberikan
umpan balik (feed back) pada jaringan kerja melalui reseptor kortisol di
hipokampus dan menyebabkan penurunan pelepasan ACTH. Suatu penelitian
menemukan bahwa pasien depresi mungkin memiliki fungsi reseptor kortisol
yang abnormal di hipokampus. Banyak peneliti menemukan bahwa
hiperkortisolemia dapat merusak neuron hipokampus, suatu siklus yang
melibatkan stres, stimulasi pelepasan kortisol, dan ketidakmampuan untuk
menghentikan pelepasan kortisol dapat menyebabkan bertambahnya kerusakan
pada hipokampus yang telah mengalami kerusakan.1 Beberpa penelitian
mengatakan bahwa stres kronik merupakan faktor pemicu terjadinya depresi,
dimana stres itu sendiri tidak hanya berdampak pada perilaku namun juga pada
sistem endokrin, imunitas, dan sistem neurotransmiter. Ditemukan adanaya
hubungan erat antara stres dan perubahan pada axis HPA dan sistem pusat
noreprinefrin. Depresi dapat terjadi akibat dari adanya disfungsi pada area otak
yang dimodulasi oleh axis HPA seperti pada korteks frontalis, hipokampus,
amygdala, dan basal ganglia. Ditemukan juga bahwa area-area pada otak
tersebut mempunyai sensitivitas yang tinggi terhadap efek stres yang
dikarenakan kejadian pada masa lampa di kehidupan.1
c. Faktor genetik
Genetik merupakan faktor penting dalam perkembangan gangguan
mood, tetapi jalur penurunan sangat kompleks. Tidak hanya sulit untuk
mengabaikan

efek

psikososial,

tetapi

juga,

factor

nongenetik

kemungkinan juga berperan sebagai penyebab berkembangnya gangguan


mood setidak-tidaknya pada beberapa orang.3
Penelitian menunjukkan anak biologis dari orang tua yang terkena
gangguan mood berisiko mengalami gangguan mood walaupun anak
tersebut dibesarkan oleh keluarga angkat. Penelitian pada anak kembar
menunjukkan anak kembar monozigot lebih besar kemungkinan
mengalami gangguan depresi daripada anak kembar dizigot.3
d. Faktor Psikososial
Peristiwa kehidupan dan stress lingkungan, suatu pengamatan klinis
yang

telah

lama

direplikasi

bahwa

peristiwa

kehidupan

yang

menyebabkan stress lebih sering mendahului episode pertama gangguan


17

mood daripada episode selanjutnya, hubungan tersebut telah dilaporkan


untuk pasien dengan gangguan depresi berat.2 teori yang diajukan untuk
menjelaskan pengamatan tersebut adalah bahwa stres yang menyertai
episode pertama menyebabkan perubahan biologi otak yang bertahan
lama. Beberapa klinisi mempercayai bahwa peristiwa kehidupan
memainkan peranan primer atau utama dalam depresi.
Satu data yang paling mendukung menyatakan bahwa peristiwa
kehidupan

paling

berhubungan

dengan

perkembangan

depresi

selanjutnya adalah kehilangan orang tua sebelum usia 11 tahun. Stressor


lingkungan yang paling berhubungan dengan onset satu episode depresi
adalah kehilangan pasangan.2
Beberapa
artikel
teoritik

dan

dari

banyak

laporan,

mempermasalahkan hubungan fungsi keluarga dan onset dalam


perjalanan gangguan depresi berat. Selain itu, derajat psikopatologi
didalam keluarga mungkin mempengaruhi kecepatan pemulihan,
kembalinya gejala dan penyesuaian pasca pemulihan.2
3.1.4 Manifestasi Klinik
Mood terdepresi, kehilangan minat dan berkurangnya energy adalah gejala
utama dari depresi.Pasien mungkin mengatakan perasaannya sedih, tidak
mempunyai harapan, dicampakkan, dan tidak berharga. Emosi pada mood
depresi kualitasnya berbeda dengan emosi duka cita atau kesedihan yang
normal.3
Pikiran untuk melakukan bunuh diri dapat timbul pada sekitar dua pertiga
pasien depresi, dan 10 sampai 15 persen diantaranya melakukan bunuh
diri.Mereka yang dirawat di rumah sakit dengan percobaan bunuh diri
mempunyai umur hidup lebih panjang dibandingkan yang tidak dirawat.
Beberapa pasien depresi terkadang tidak menyadiari ia mengalami depresi dan
tidak mengeluh tentang gangguan mood meskipun mereka menarik diri dari
keluarga, teman dan aktivitas yang sebelumnya menarik bagi dirinya.3
Hampir semua pasien depresi (97%) mengeluh tentang penurunan energi
dimana mereka mengalami kesulitan menyelesaikan tugas, mengalami hendaya
di sekolah dan pekerjaan, dan meurunnya motivasi untuk terlibat dalam

18

kegiatan baru. Sekitar 80 persen pasien mengeluh masalah tidur, khususnya


terjada dini hari (terminal insomsia) dan sering terbangun di malam hari karena
memikirkan masalah yang dihadapi. Kebanyakan pasien menunjukkan
peningkatan atau penurunan nafsu makan demikian pula dengan bertambah dan
menurunnya berat badannya serta mengalami tidur lebih lama dari biasanya.3
Kecemasan adalah gejala tersering dari depresi dan menyerang 90 persen
pasien depresi. Berbagai perubahan asupan makanan dan istirahat dapat
menyebabkan timbulnya penyakit lain secara bersamaa, seperti diabetes,
hipertensi, penyakit paru obstruksi kronik, dan penyakit jantung. Gejala lain
termasuk haid yang tidak normal dan meurunnya minat serta aktivitas seksual.3
Pada pemeriksaan status mental, episode depresi memperlihatkan retardasi
psikomotor menyeluruh merupakan gejala yang paling umum, walaupun
agitasi psikomotor juga sering ditemukan, khususnya pada pasien usia lanjut.
Menggenggamkan tangan dan menarik-narik rambut merupakan gejala agitasi
yang paling umum.Secara klasik, seorang pasien depresi memiiki postur yang
membungkuk, tidak terdapat pergerakan yang sponta, dan pandangan mata
yang putus asa dan memalingkan pandangan.Pasien depresi seringkali dibawa
oleh keluarga atau teman kerjanya karenan penarikan sosial dan penurunan
aktivitas secara menyeluruh.2
Banyak pasien terdepresi menunjukkan suatu kecepatn dan volume bicara
yang menurun, berespons terhadap pertanyaan dengan kata tunggal dan
menunjukkan respons yang melambat terhadapt pertanyaan. Secara sederhana,
pemeriksa mungkin harus menunggu dua atau tiga menit untuk mendapatkan
suatu respons terhadap suatu pertanyaan.2
Pasien terdepresi dengan waham atau halusinasi dikatakan menderita
episode depresif berat dengan ciri psikotik.Waham atau halusinasi yang sesuai
dengan mood terdepresi dikatan sesuai mood (mood-congruent).Waham sesuai
mood pada seorang pasien terdepresi adalah waham bersalah, memalukan,
tidak berguna, kemiskinan, kegagalan, kejar dan penyakit somatic terminal
(sevagai contoh, kanker dan otak yang membusuk).Isi waham atau halusinasi
yang tidak sesuai mood (mood-incongruent) adalah tidak sesuai dengan mood

19

terdepresi. Pasien depresi juga memiliki pandangan negatif tentang dunia dan
dirinya sendiri.2
3.1.5 Diagnosis
a. Pedoman diagnosis menurut PPDGJ-III.4
Pedoman diagnostik pada depresi dibagi menjadi :

Semua gejala utama depresi :


o afek depresif
o kehilangan minat dan kegembiraan
o berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah.

Gejala lainnya:
o
o
o
o
o
o
o

konsentrasi dan perhatian berkurang


harga diri dan kepercayaan diri berkurang
gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
pandangan masa depan yang suram dan pesimis
gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
tidur terganggu
nafsu makan berkurang

Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, akan


tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk
menegakkan diagnosis dalam kurun waktu dari 2 minggu.
Episode depresif ringan menurut PPDGJ III
(1) Sekurang-kurangnya harus ada 2 dan 3 gejala utama depresi seperti tersebut di
atas
(2) Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya
(3) Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya lamanya seluruh episode
berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu
(4) Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa
dilakukannya.
Episode depresif sedang menurut PPADAGJ III
(1)
(2)
(3)
(4)

Sekurang-kurangnya harus ada 2 dan 3 gejala utama


Ditambah sekurang-kurangnya 3 atau 4 dari gejala lainnya
Lamanya seluruh episode berlangsung minimum 2 minggu
Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan, dan
urusanrumah tangga.

Episode Depresif Berat dengan Tanpa Gejala Psikotik menurut PPADAGJ III :

20

(1) Semua 3 gejala utama depresi harus ada


(2) Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya dan beberapa diantaranya
harus berintensitas berat
(3) Bila ada gejala penting (misalnya retardasi psikomotor) yang menyolok, maka
pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak
gejalanya secara rinci. Dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh
terhadap episode depresi berat masih dapat dibenarkan.
(4) Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial,
pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik menurut PPDGJ III :
Episode depresi berat yang memenuhi kriteria menurut No. 3 di atas (F.32.2)
tersebut di atas, disertai waham, halusinasi atau stupor depresi.
Waham biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka
yang mengancam dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi
auditorik atau alfatorik biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh, atau
bau kotoran.Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor.
b. Pedoman Diagnostik menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorders IV)
A. Lima (atau lebih) gejala berikut yang telah berlangsung dalam 2 minggu yang
sama dan mewakili perubahan dari fungsi sebelumnya; dimana salah satu
sekurangnya satu dari gejala adalah salah satu dari (1) mood depresif atau (2)
kehilangan minat atau kesenangan.
Catatan: Jangan memasukan gejala yang jelas karena suatu kondisi medis
umum atau waham dan atau halusinasi yang tidak sesuai dengan mood.
1. Mood terdepresi berlangsung sepanjang hari pada hampir setiap hari
sebagaimana dikeluhkan secara subjektif (merasa sedih atau kosong) atau
pengamatan yang dilakukan orang lain (terlihat sedih).
Catatan: pada anak dan remaja dapat berupa mood yang mudah tersinggung.
2. Kehilangan minat atau kesenangan secara jelas dalam semua atau hampir
semua, aktifitas sepanjang hari, hampir setiap hari (seperti yang ditunjukkan
oleh keterangan subjektif atau pengamatan yang dilakukan orang lain).

21

3. Penurunan berat badan yang bermakna jika tidak melakukan diet atau
penambahan berat badan (misalnya, perubahan berat badan lebih dari 5% dalam
satu bulan) atau peningkatan atau penurunan nafsu makan hampir setiap hari.
Catatan: pada anak-anak pertimbangkan kegagalan untuk mencapai berat badan
yang diharapkan.
4. Insomnia atau hipersomnia pada hampir setiap hari.
5. Agitasi atau retardasi psikomotor pada hampir tiap hari (dapat dilihat oleh
orang lain, tidak semata-mata perasaan subjektif adanya kegelisahan atau
menjadi lamban).
6. Kelelahan atau hilangnya energi hampir setiap hari.
7. Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan atau tidak tepat
(mungkin bersifat waham) hampir setiap hari.(tidak semata-mata mencela diri
sendiri atau menyalahkan karena sakit).
8. Kehilangan kemampuan berpikir atau memusatkan perhatian, atau tidak dapat
mengambil keputusa hampir setiap hari (baik oleh keterangan subjektif atau
seperti yang dilihat oleh orang lain).
9. Pikiran akan kematian yang rekuren (bukan hanya takut mati), ide bunuh diri
yang rekuren tanpa rencana spesifik atau usaha bunuh diri atau rencana khusus
untuk melakukan bunuh diri.
B. Gejala tidak memenuhi kriteri episode campuran.
C. Gejala menyebabkan penderitaaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting penting lain.
D. Gejala bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat
yang disalah gunakan, suatu medikasi) atau kondisi medis umum (misal,
hipotiroidisme).
E. Gejala tidak lebih baik diterangkan oleh Dukacita, yaitu, setelah kehilangan
orang yang dicintai, gejala menetap lebih dari 2 bulan atau dengan rasa tidak
berharga, ide bunuh diri, gejala psikotik, atau retardasi psikomotor.
3.1.6 Tatalaksana
Berbagai obat dan teknik psikoterapi telah dikembangkan untuk
memulihkan penderita depresi. Pada sebagian besar kasus, pengobatan

22

penderita depresi akan paling efektif dengan mengkombinasikan pemberian


obat-obatan oleh psikiater dengan pemberian psikoterapi oleh psikolog.5
Semua pasien depresi harus mendapatkan psikoterapi dan beberapa
memerlukan tambahan terapi fisik. Kebutuhan terapi khusus bergantung pada
diagnosis, berat penyakit, umur pasien, dan respon terhadap terapi sebelumnya.
Bila seseorang menderita depresi berat, maka diperlukan seorang yang dekat
dan yang dipercayainya untuk membantunya selama menjalani pemeriksaan
dan pengobatan depresi tersebut.Kadang seorang penderita depresi berat perlu
rawat inap di rumah sakit, kadang cukup dengan pengobatan rawat jalan.5
1. Terapi psikologi
Psikoterapi suportif selalu diindikasikan. Berikan kehangatan, empati,
pengertian,

dan

optimistik.

Bantu

pasien

mengindentifikasi

dan

mengekspresikan hal-hal yang membuatnya prihatin dan melontarkannya.


Identifikasi faktor pencetus dan bantulah untuk mengoreksinya. Bantulah
memecahkan problem eksternal (misal pekerjaan) arahkan pasien terutama
selama episode akut dan bila pasien tidak aktif bergerak.
Terapi kognitif-perilaku dapat sangat bermanfaat pada pasien depresi
ringan dan sedang. Diyakini oleh sebagian orang ketidak berdayaan yang
dipelajari, depresi diterapi dengan memberikan pasien latihan keterampilan
dan memberikan pengalaman-pengalaman sukses. Dari perpektif kognitif
pasien dilatih untuk mengenal dan menghilangkan pikiran-pikiran negatif dan
harapan-harapan negatif. Terapi ini mencegah kekambuhan.5
2. Farmakoterapi
Untuk melakukan pengobatan farmakoterapi pada pasien dengan
gangguan depresi sedang dan berat, ada 3 tahapan yang harus dipertimbangkan
antara lain :
a. Fase akut, fase ini berlangsung 6 sampai 10 minggu. pada fase ini bertujuan
untuk mencapai masa remisi ( tidak ada gejala ).
b. Fase lanjutan, fase ini berlangsung selama 4 sampai 9 bulan setelah mencapai
remisi. pada fase ini bertujuan untuk menghilangkan gejala sisa atau mencegah
kekambuhan kembali.
c. Fase pemeliharaan, fase ini berlangsung 12 sampai 36 bulan. Pada fase ini
tujuannya untuk mencegah kekambuhan kembali.

23

Obat antidepresan terdiri dari beberapa golongan, yaitu golongan ikatan


trisiklik dan tetrasiklik, golongan Mono Amine Oxidase Inhibitor (MAOI)
Reversible, golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor, golongan antidepresan
atipikal.
Golongan Ikatan Trisiklik dan Tetrasiklik
Semua trisiklik memiliki inti tiga cincin dalam struktur molekulernya sedangkan
tetrasiklik memiliki inti empat cicin dalam struktur molekulernya. Obat trisiklik
memiliki banyak sifat farmakokinetik dan farmakodinamik yang mirip dan memiliki
sfat reaksi merugikan yang mirip. Obat tetrasiklik awalnya diperkenalkan berbeda
secara bermakan dengan trisiklik , tetapi penelitian lebih lanjut dan pemaikain klinis
telah menunjukkan bahwa kedua-duanya paling baik dipandang sebagai anggota
keluarga besar obat (Kaplan dkk, 2010).
Efek jangka pendek obat trisiklik dan tetrasiklin adalah untuk menurunkan
ambilan kembali norepinefrin dan serotonin, dan menghambat reseptor asetilkolin
muskarinik dan histamin (Ciraulo dkk, 2011).
Pemberian jangka panjang obat trisiklik dan tetrasiklik menyebabkan penurunan
jumlah reseptor beta adrenergik dan kemungkinan yang serupa dalam jumlah
reseptor serotonin tipe 2 (Kaplan dkk, 2010).
Efek samping obat trisiklik dan tetrasiklik, yaitu mampu merangsang aktivitas
antikolinergik (antimuskarinik) yang dapat menyebabkan sembelit, mulut kering,
retensi urin dan dispepsia. Pada pasien usia lanjut, efek samping yang lebih berat
seperti takikardia, kebingungan, agitasi bahkan delirium dapat terjadi. Sementara
reaksi antagonis alfa1-adrenergik dan reaksi antihistamin masing-masing dapat
menyebabkan hipotensi ortostatik dan peningkatan berat badan (Ciraulo dkk, 2011).

24

Tabel 1. Dosis Obat Trisiklik dan Tetrasiklik pada Orang Dewasa

Dikutip dari Ciraulo, D. A., Shader, R. I. & Greenblatt, D. J. 2011. Clinical


Pharmacology and Therapeutics of Antidepressants. Department of Psychiatry,
Boston University School of Medicine. England. Hal: 33-100.

Golongan Mono Amine Oxidase Inhibitor (MAOI)


Penghambat monoamine oksidase merupakan terpilih untuk gangguan depresi
sebagai indikasi utamanya dan biasanya memiliki kemanjuran yang sama jika

25

dibandingkan dengan obat antidepresan lainnya. MAOI sekarang jarang digunakan


dikarenakan pembatasan diet yang harus diikuti untuk menghindari krisis hipertensi
akibat konsumsi tyramine. Empat jenis MAOI yang sering digunakan di Amerika
Serikat, yaitu Isocarboxazid, Phenelzine, Tranylccypromine dan Selegiline (Kaplan
dkk, 2010).
Golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI)

Farmakokinetik. Perbedaan utama antara SSRI terletak terutama pada sifat


farmakokinetiknya, terutama waktu paruhnya. Fluoxetine memiliki waktu paruh
terpanjang, 2 sampai 3 hari; metabolit aktifnya memiliki waktu paruh 7 sampai 9
hari. Waktu paruh SSRI lain adalah jauh lebih pendek, kira-kira 20 jam, dan SSRI
tersebut tidak memiliki metabolit aktif yang penting. Semua SSRI diabsorpsi baik
setelah pemberian oral dan memiliki efek puncaknya dalam rentang 4 sampai 8
jam.Semua SSRI dimetabolisme dalam hati. Pada umunya, makanan tiak memiliki
efek yang besar pada absorpsi SSRI; pada kenyataannya, pemberian SSRI dengan
makanan sering menurunkan insidensi gejala mual dan diare yang sering
berhubungan dengan pemakaian SSRI. Beberapa efek samping SSRI yang sering

adalah: sakit kepala, sulit tidur, gangguan pencernaan, dan resah/ gelisah.5
Farmakodinamik. SSRI memiliki 2 ciri yang sama yaitu, pertama, semua SSRI
memiliki aktivitas spesisfik dalam hal inhibisi ambilan kembali serotonin tanpa efek
pada ambilan noreprinefrin atau dan dopamin. SSRI tidak memiliki sama sekali
aktivitas agonis dan antagonis pada tiap reseptor neurotransmiter. Tidak adanya
aktivitas pada reseptor antikolinergik, antihistaminergik, dan anti- adrenergik-,
adalah dasar farmakologis untuk rendahnya insidensi efek samping yang terlihat
pada pemberian SSRI.
Fluoxetine. Pada pasien dengan depresi, dosis awal pemberian depresi biasanya 20
mg peroral tiap hari, biasanya diberikan di pagi hari, karena insomnia adalah suatu
efek merugikan yang potensial dari obat. Fluoxetine harus dimakan bersama dengan
makanan untuk menekan kemungkinan muntah. Waktu paruh obat yang lama dan
metabolitnya menyebabkan diperlukannya waktu 4 minggu untuk mencapai kadar
stabil. Seperti semua antidepresan yang lainnya, efek samping fluoxetine dapat
terlihat dalam 1 sampai 3 minggu pertama, tetapi klinisi harus menunggu sampai
pasien telah menggunakan obat selama 4 sampai 6 minggu sebelum menilai aktivitas

26

antidepresannya. Dosis harian maksimum yang dianjurkan adalah 80 mg sehari.


Strategi yang cukup baik adalah mempertahankan pasien dengan 20 mg sehari
selama 3 minggu. Jika pasien tidak menunjukkan tanda perbaikan klinis pada waktu
tersebut, peningkatan 20 mg dua kali sehari mungkin diperlukan. Untuk menekan
efek samping awal kecemasan dan kegelisahan, beberapa klinisi memulai fluoxetine
pada sosis 5 sampai 10 mg sehari. Jika pasien depresi tidak berespons dengan terapi
fluoxetine, klinisi dapat memperkuat fluoxetine dengan obat lain, termasuk obat
trisiklik.
Tabel 2. Dosis Obat Selective Serotonin Reuptake Inhibitor pada Orang Dewasa

Dikutip dari Ciraulo, D. A., Shader, R. I. & Greenblatt, D. J. 2011. Clinical


Pharmacology and Therapeutics of Antidepressants. Department of Psychiatry,
Boston University School of Medicine. England. Hal: 33-100.

Golongan Antidepresan Atipikal


Golongan antidepresan atipikal adalah obat antidepresan yang tidak cocok jika
dimasukkan dalam klasifikasi obat antidepresan lainnya (trisiklik, MAOI, dan SSRI).
Jenis obat antidepresan atipikal, yaitu bupropion, venlafaxine, mirtazapine, dan
Trazodone.

Venlafaxine
Venlafaxine termasuk golongan Serotonin and Norepinephrine Reuptake
Inhibitors (SNRI). SNRI pada dasarnya perkembangan dari obat SSRI dan
memiliki efikasi lebih tinggi dari pada SSRI karena SNRI mempunyai
mekanisme ganda, yaitu menghambat transporter serotonin dan norepinefrin.
Obat golongan SNRI yang digunakan adalah venlafaxine.

27

Venlafaxine adalah inhibitor nonselektif ambilan kembali 3 amin


biogenic, yaitu serotonin, norepiefrin, dan dopamin. Obat ini paling kuat
sebagai inhibitor ambilan kembali serotonin, tetapi potensinya sebagai
inhibitor ambilan kembali norepinefrin juga tinggi, dan potensinya sebagai
inhibitor ambilan kembali dopamine cukup bermakna.
Bila venlafaxin tersedia dalam bentuk tablet 37,5 mg dan 75 mg. dosis
awal lazimnya pada pasien depresi rawat jalan adalah 75 mg sehari, diberikan
dalam 2 sampai 3 dosis terbagi. Pada populasi pasien tersebut dosis dapat
ditingkatkan sampai 150 mg sehari, diberikan dalam 2 atau 3 dosis terbagi
setelah periode pemeriksaan klinis yang cukup dengan dosis lebih rendah.
Dosis maksimum venlafaxine adalah 375 mg sehari. 5

Bupropion
Bupropion termasuk golongan

Norepinephrine and Dopamine

Reuptaking Inhibitors (NDRI), NDRI bekerja pada transporter norepineprin


dan dopamine sehingga meningkatkan jumlah kedua neurotransmitter
tersebut pada postsynaptic cell. Bupropion juga tidak menyebabkan disfungsi
seksual dan penambahan berat badan sehingga diindikasikan pada orang yang
mengalami disfungsi seksual akibat SSRI.
Bupropion tersedia dalam bentuk tablet 75 mg dan 100 mg. awal terapi
pada pasien dewasa rata-rata harus 100 mg per oral 2kali sehari. Pada hari ke
empat terapi dosis dapat ditingkatkan 100 mg per oral 3 kali sehari. Dosis
tunggal bupropion tidak boleh melebih 150 mg dan dosis harian total tidak
boleh melebih 450 mg. 5

Mirtazapine
Mirtazapine

termasuk

golongan

Noradrenergic

and

specific

antidepressants (NaSSA). Cara kerja NaSSA adalah dengan menghambat


reseptor alfa-2 adrenergik pada presinaptik dan postsinaptik tetapi juga
memiliki afinitas yang rendah pada reseptor alfa-1 adrenergik. NaSSA juga
menghambat reseptor serotonin 5HT2 dan 5HT3. Dosis awal yang harus

28

diberikan adalah 15 mg dan maksimal 45 mg dikonsumsi setiap malam


sebelum tidur (Halverson, 2015).

Trazodone
Trazodone efektif dalam penanganan depresi mayor dengan cara
menghambat ambilan semula serotonin dan modulasi neurotransmisi
serotonergik.

Trazodone

juga

mempunyai

peran

signifikan

dalam

menghambat reseptor histamine (H1). Trazodone dapat memperbaiki kualitas


tidur hingga menurunkan jumlah dan lama terjaga di malam hari. Trazodone
sering diberikan pada dosis rendah yaitu antara 25 mg hingga 50mg sebagai
pelengkap SSRI dalam merawat masalah insomnia.
Algoritma pengobatan farmakoterapi episode depresi sedang atau berat tanpa ada
kontrindikasi terhadap antidepresan.
Gambar 1. Algoritma Pengobatan Farmakoterapi Episode Depresi Sedang/ Berat
Pasien depresi yang secra fisik sehat tanpa ada kontraindikasi terhadap antidepresan
SSRI (dipilih tergantung beberapa faktor)

Terapi gagal, tidak ada respon

Respon parsial

Remisi penuh

atau timbul efek samping


Dipastikan kepatuhan
pengobatan
Diganti dengan alternatif lain
( SSRI yang lain,

Tingkatkan dosis, ganti


dengan antidepresan
lainnya atau terapi
kombinasi (dengan
Lithium)

Menjaga 4 9
bulan untuk terapi
lanjutan, jika perlu
12 36 bulan

Remisi penuh

Menjaga 4 9
bulan untuk terapi
lanjutan, jika perlu
12 36 bulan

29

Dikutip dari Yuniastuti. 2013. Evaluasi Terapi Obat Antidepresan pada Pasien
Depresi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta Tahun 2011-2012. Universitas
Muhammadiyah Surakarta. Indonesia. Hal: 1-10.

Jika obat yang diberikan kepada pasien tidak berespon setelah pemakaian 2
minggu atau 3 minggu maka periksa apakah obat memang benar dikonsumsi secara
teratur atau ada disposisi farmakokinetik (NICE, 2009)
Jika obat antidepresan pertama telah digunakan secara adekuat dan
konsentrasi plasma yang adekuat telah dicapai tetapi tidak memberikan respon yang
maksimal maka dapat dilakukan dua pilihan, yaitu memperkuat obat dengan lithium,
liothyronine atau L-tryptophan atau mengganti agen primer alternatif.
Jika pengobatan 2 atau 3 minggu pertama memiliki respon maka dokter wajib
meyakinkan pasien depresi untuk melanjutkan pengobatan minimal 6 bulan.
Sarankan pasien depresi untuk melanjutkan pengobatan paling sedikit 2 tahun untuk
pasien yang berisiko relaps. Pasien yang berisiko relaps, yaitu pasien yang memiliki
riwayat depresi lebih atau sama dengan 2 episode, pasien yang memiliki gangguan
fungsional yang berat, pasien yang memiliki riwayat pengobatan yang lama.
Terapi alternatif terhadap terapi obat, yaitu elektrokonvulsif dan fototerapi.
Terapi elektrokonvulsif biasanya digunakan jika pasien tidak respon terhadap
farmakoterapi, pasien tidak menoleransi farmakoterapi, situasi klinis sangat parah
sehingga diperlukan perbaikan cepat yang terlihat pada elektrokonvulsif. Fototerapi
adalah suatu pengobatan baru yang telah digunakan pada pasien yang menderita
gangguan mood dengan pola musiman.5

30

BAB IV
ANALISIS KASUS

Seorang laki-laki berusia 45 tahun, sudah menikah dan bekerja. Dibawa ke


rumah sakit oleh keluarga dengan kondisi pasien compos mentis, dengan sebab
utama os semakin sering gelisah sejak 1 minggu yang lalu. Sejak 8 bulan yang lalu,
os mengaku mengalami banyak tekanan di lingkungan pekerjaannya, os merasa tidak
puas dengan jabatan yang dimilikinya saat ini dan merasa iri dengan rekan kerjanya
yang mempunyai jabatan yang lebih tinggi. Disamping itu, os mengaku bahwa
memiliki banyak hutang sehingga os takut dengan pekerjaannya yang sekarang tidak
dapat melunasi hutangnya. Os sering merasa bahwa kehidupan orang lain jauh lebih
baik dari kehidupan yang dijalaninya dan os mulai merasa mudah gelisah dan sering
memikirkan hal-hal buruk.
Sejak 3 minggu yang lalu, os sering marah-marah dan sangat mudah
tersinggung serta merasa cepat lelah ketika melakukan aktivitas sehari-hari. Os tidak
pernah memukul atau menyakiti orang lain ketika os marah. Os juga mengeluh jadi
malas bekerja, susah tidur dan tidak nafsu makan, os kemudian berobat ke psikolog
dan sempat mengalami perubahan.
Sejak 1 minggu yang lalu os merasa semakin mudah gelisah, os semakin malas
untuk bekerja, os merasa pesimis dengan hidupnya, sehingga os berpikir bahwa salah
satu cara untuk menyelesaikan masalahnya adalah dengan cara bunuh diri. Os sudah
melakukan percobaan untuk bunuh diri sebanyak 2 kali dalam 2 minggu terakhir.
Menurut pengakuan dari istri os, os tidak terlihat sering berbicara sendiri dan os tidak
mengatakan adanya bisikan-bisikan ataupun melihat sesuatu.
Berdasarkan autoanamnesis dan pemeriksaan status mental, didapatkan gejala
klinis bermakna berupa pasien sering menyendiri, nafsu makan menurun, aktivitas
psikomotor menurun, susah memulai tidur dan jika terbangun susah untuk tidur
kembali, dan pasien seing gelisah. Pada pemeriksaan status mental tidak ditemukan
adanya berat dalam menilai realita, sehingga didiagnosis gangguan jiwa non psikotik.
Pada status internus tidak ditemukan adanya kelainan dan pada pemeriksaan status
neurologi juga tidak ditemukan adanya kelainan, sehingga gangguan mental organik
dapat disingkirkan dan didiagnosis gangguan jiwa non psikotik non organik. Dari
autoanamnesis dan pemeriksaan status mental didapatkan 3 gejala utama depresi
31

yang dialami sejak beberapa bulan ini berupa kehilangan minat dan kegembiraan,
mudah lelah, dan mood hipotimik, disertai gejala tambahan berupa, perasaan putus
asa dan pesimis tentang masa depan, tidur terganggu dimana ketika terbangun sulit
untuk tidur lagi, nafsu makan berkurang dan adanya usaha untuk bunuh diri dalam 2
minggu terakhir.
Pada pasien ini berdasarkan PPADAGJ III dapat ditegakkan diagnosis aksis I
sebagai Episode depresif berat tanpa gejala psikotik (F32.2). Pada aksis I ditegakkan
bahwa pasien mengalami episode depresif berat karena memenuhi 3 gejala utama
depresi yaitu adanya afek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, dan
berkurangnya energi yang menuju pada meningkatnya rasa mudah lelah dan
menurunnya aktivitas. Pada pasien juga terdapat 4 gejala lainnya yang mendukung
diagnosis episode depresif berat, yaitu adanya pandangan tentang masa depan yang
suram, ide untuk bunuh diri, tidur terganggu, dan nafsu makan berkurang. Dari
alloanamnesis dan autoanamnesis juga tidak didapatkan gejala yang mengarah pada
gangguan psikotik seperti delusi, halusinasi visual, halusinasi auditorik, atau waham.
Pada diagnosis aksis II, didapatkan pasien mempunyai ciri kepribadian skizoid,
dimana pasien cenderung tertutup dengan orang lain dan tidak banyak cerita apabila
mempunyai masalah, baik dengan keluarganya atau teman pasien, dan pasien selalu
berusaha untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Pada aksis III tidak ada diagnosis
oleh karena pasien mengaku tidak menderita penyakit tertentu seperti sejak dulu
maupun akhir-akhir ini. Pada aksis IV dipilih stresor masalah pekerjaan karena
pasien mengaku mengalami banyak tekanan di lingkungan pekerjaannya, pasien
merasa tidak puas dengan jabatan yang dimilikinya saat ini dan merasa iri dengan
rekan kerjanya yang mempunyai jabatan yang lebih tinggi. Disamping itu, pasien
mengaku bahwa memiliki banyak hutang sehingga pasien takut dengan pekerjaannya
yang sekarang tidak dapat melunasi hutangnya. Pada aksis V GAF scale adalah 7061 yaitu beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara
umum masih baik. Sedangkan menurut DSM-IV, pada pasien ini sudah terdapat lima
gejala berikut yang telah berlangsung dalam 2 minggu yang sama dan mewakili
perubahan dari fungsi sebelumnya; dimana salah satu sekurangnya satu dari gejala
adalah salah satu dari (1) mood depresif atau (2) kehilangan minat atau kesenangan,
dan disertai dengan gejala lainnya seperti insomnia , kelelahan atau hilangnya energi,
dan ide bunuh diri.
32

Depresi merupakan salah satu gangguan mood. Pasien dengan mood


terdepresi (yaitu, depresi) merasakan hilangnya energi dan minat, perasaan bersalah,
sulit berkonsentrasi, hilang nafsu makan, dan pikiran tentang kematian atau bunuh
diri. Gangguan depresi berat merupakan suatu masa terganggunya fungsi manusia
yang berkaitan dengan perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk
perubahan pada psikomotor, kemampuan kognitif, pembicaraan dan fungsi vegetatif.
Penyebab dari gangguan depresi terdiri dari faktor biologis, faktor genetika dan
faktor psikososial. Pada hipotesis timbulnya depresi dihubungkan dengan peran
beberapa neurotransmiter aminergik. Hipotesis tersebut menjadi dasar penggunaan
dan pengembangan obat-obat anti depresan.
Pada gangguan depresi yang sering terdapat pikiran-pikiran atau rancangan
bunuh diri, maka sebaiknya diberikan terapi psikoterapi dan obat anti depresan.
Pemberian anti depresan diberikan melalui tahapan-tahapan, yaitu dosis initial,
titrasi, stabilisasi, maintenance dan dosis tapering. Dimana dosis dan lama
pemberiannya berbeda-beda. Pada kasus ini diberi anti depresan Fluoxetine cap 10
mg, 1x1 (1 0 0). Fluoxetine merupakan golongan SSRI (selective serotonin
reuptake inhibitor) yang merupakan obat antidepresan dengan manfaat yang sama
dibandingkan golongan trisiklik dalam terapi depresi dan memiliki sifat efek
sampinng yang lebih unggul dibandingkan obat antidepresan lainnya. Fluoxetin
diberikan pada pagi hari untuk menghindari insomnia sebagai efek samping dari
obat, juga disarankan memakan fluoxetin bersamaan dengan makanan untuk
menekan kemungkinan muntah. Untuk menekan efek samping awal kecemasan dan
kegelisahan, diberikan dosis awal fluoxetin 10 mg per hari. Pada pasien ini juga
diberikan alprazolam yang merupakan obat dari golongan benzodiazepine.
Benzodiazepine diklasifikasikan sebagai obat sedatif-hipnotik dimana obat hipnotik
merupakan obat yang menghasilkan efek mengantuk dan mempermudah onset dan
pemeliharaan tidur. Benzodiazepine menjadi obat sedatif-hipnotik pilihan pertama
karena memiliki indeks terapetik yang lebih tinggi dan potensial penyalahgunaan
obat yang lebih rendah dibandingkan obat lainnya seperti barbiturat. Kombinasi
psikoterapi dan farmakoterapi adalah pengobatan yang paling efektif untuk gangguan
depresi berat.

33

DAFTAR PUSTAKA
1. Kaplan HI, BJ Sadock, JA Grebb. Sinopsis Psikiatri. Jilid 1, Jakarta Barat:
Bina Rupa Aksara,2012. Hal: 791-815.
2. Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III.
Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa FK-Unika Atmajaya: Jakarta; 2001.
3. Tomb DA, Buku Saku Psikiatri.Edisi 6, Cetakan 1. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 2004. Hal : 47-63
4. Junaldi I. Anomali Jiwa. Dalam: Gangguan Kecemasan. Edisi 1.
Yogyakarta:Percetakan Andi, 2012. Hal:124-141
5. Kaplan HI, BJ Sadock, JA Grebb. Sinopsis Psikiatri. Jilid 1, Jakarta Barat:
Bina Rupa Aksara,2012.
6. Ciraulo, D. A., Shader, R. I. & Greenblatt, D. J. 2011. Clinical Pharmacology
and Therapeutics of Antidepressants. Department of Psychiatry, Boston
University School of Medicine. England.

34