Anda di halaman 1dari 30

ASKEP HIV pada ANAK

Nuzul Q

PENDAHULUAN

Kasus HIV pada anak pertama kali dilaporkan di


Amerika pada tahun 1982.
Human immunodeficiency virus merupakan
golongan retrovirus subkelompok lentivirus. Saat
ini dikenal 2 serotipe virus HIV, yaitu (1) HIV-1
dan (2) HIV-2. Serotipe virus HIV-1 dikenal
sebagai penyebab utama AIDS di seluruh dunia;
sedangkan HIV-2 lebih berhubungan dengan
simian immunodeficiency virus (SIV) pada
simpanse.
Dapat diobati sehingga dapat tumbuh dan
berkembang hingga dewasa

Dinamika Penularan HIV di Indonesia


Jumlah Penduduk Indonesia: 240 juta

105.000

penasun

3,1 Juta Pria


membeli Sex
(2-20% dari Pria Dewasa)

230,000
Wanita
Pekerja seks

1,6 Juta
menikah
dg pria risiko
tinggi

800,000
GWL
Anak-anak

Laki-laki

Perempuan
Commission on AIDS in Asia Projections and
Implications 3

I. PENGKAJIAN
1.1 Lakukan pengkajian fisik
1.2 Kaji riwayat imunisasi
1.3 Kaji riwayat yang berhubungan dengan
faktor resiko terhadap AIDS pada anakanak
1.4 Observasi adanya manifestasi AIDS
pada anak (lihat tabel)
1.5 Bantu dengan prosedur diagnostik
misal; tes antibodi serum.
1.6 Observasi pemeriksaan laboratorium

1.2

Anak dengan infeksi HIV sebaiknya


diberi imunisasi sesegera mungkin
dengan
vaksin
inactivated
sedangkan imunisasi dengan vaksin
hidup attenuated perlu diberikan
secara hati-hati dan sebaiknya tidak
diberikan
apabila
didapatkan
penekanan sistem imun atau gejala
klinis infeksi HIV

....1.3

Pada awal terjadinya epidemi HIV, transfusi produk


darah (faktor pembekuan, trombosit dan plasma)
merupakan penyebab tersering infeksi HIV pada
anak.
Dengan berkembangnya skrining terhadap produk
darah, maka penularan virus secara perinatal
menjadi mekanisme penularan HIV pada anak yang
tersering.
Bayi yang lahir dari ibu dengan HIV dapat terinfeksi
melalui transplasenta pada saat dalam kandungan
(20%), infeksi perinatal pada saat melahirkan (60
70%) atau infeksi pasca natal melalui air susu ibu
(15-20%).

...1.4
Pada tahun 1994 Centers for Disease
Control and Prevention membuat
revisi klasifikasi infeksi HIV pada
anak kurang dari 13 tahun
berdasarkan 3 kategori:
a. Status infeksi HIV
b. Status klinis
c. Status imun

...1.5

Tes PCR DNA HIV merupakan pemeriksaan yang direkomendasikan


untuk skrining bayi yang lahir dari ibu HIV (+), pemeriksaan ini
mempunyai sensitivitas sebesar 83% jika pemeriksaan dilakukan
pada usia 48 jam, sensitivitas ini tidak banyak berubah selama usia
satu minggu tapi kemudian sensitivitas menjadi 93% pada usia dua
minggu. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan sebelum bayi berusia
48 jam dan pemeriksaan diulang ketika bayi berusia 1-2 bulan dan
usia 4-6 bulan jika hasil pemeriksaan awal memberikan hasil
negatif.
Diagnosis pasti infeksi HIV ditegakkan apabila dua kali pemeriksaan
virologi positif dengan selang waktu 1 bulan. Bayi dikatakan 95%
tidak menderita infeksi HIV jika didapatkan hasil negatif pada tiga
kali pemeriksaan virologi (saat lahir, usia satu bulan dan usia 4
bulan) didapatkan hasil negatif. Secara pasti dapat dikatakan bayi
tidak terinfeksi HIV jika pemeriksaan HIV specific IgG assay (ELISA)
pada usia 18 bulan memberikan hasil negatif.

1.5 (a) Klasifikasi berdasar status


infeksi HIV
Infeksi HIV

-Anak usia <18 bln lahir dari HIV(+) dan


terbukti positif dua kali pemeriksaan yang
berbeda dengan HIV kultur, HIV PCR atau
dijumpai kriteria AIDS
- Anak usia >18 bulan lahir dari ibu HIV(+)
atau anak terinfeksi oleh darah, produk darah
dimana HIV antibodi positif dengan ELISA dan
Western blot atau dijumpai AIDS

Perinatally
exposed

Anak yang tidak termasuk dalam kriteria diatas,


HIV (+) secara ELISA pada anak <18 bulan atau
tidak diketahui status antibodi tetapi lahir dari ibu
HIV(+)

Serroreverte Anak yang lahir dari HIV(+), antibodi negatif


setelah dua kali pemeriksaan pada usia 6-18 bulan
r
atau satu kali negatif secara ELISA pada usia>18

1.5 (b)Klasifikasi HIV berdasarkan


gambaran klinis
Kategori
Asimtomatik

Anak tanpa gejala infeksi HIV atau hanya 1 gejala pada


kategori A

Kategori A:
Gejala Ringan

Anak dengan 2 gejala atau lebih dibawah ini tetapi tanpa gejala
kategori B dan C
-Limfadenopati - dermatitis - parotitis
-Hepatomegali - splenomegali
- infeksi saluran napas atas rekuren, sinusitis, otitis media

Kategori B:
Gejala Sedang

-anemia, netropenia, trombositopenia menetap >30hari


-Meningitis bakteri, pneumonia, sepsis
-Kandidiasis orofaring >2bulan, anak>6bulan
-Kardiomiopati - nefropati
-Infeksi CMV sebelum usia 1 bulan - demam lebih dari 1 bulan
-Diare kronik atau rekuren - toksoplasmosis sebelum 1 bulan
-Hepatitis herpes zooster> 2 episodedalam 1 tahun
-HSV stomatitis rekuren lebih dari 2 episode dalam 1 tahun
-Varisela LIP(lymphoid interstitial pneumonia)

Kategori C:
Gejala berat

Sesuai dengan definisi AIDS kecuali LIP

1.5 (c) Klasifikasi infeksi HIV


berdasar status imun (CD4)
Kategori
Imun

<12bulan
No/mm3

1-5tahun
No/mm3

Kategori I
Tanpa
supresi
Kategori II
Supresi
sedang
Kategori III

1.500
(25%)

1000
(25%)

612tahun
No/mm3
500
(25%)

750-1,499

500-999

200-499

<750

<500

<200

CATATAN: Anak yang telah diklasifikasikan dalam satu


kategori
tidak
dapat
diklasifikasikan
kembali
kekategori yang lebih ringan meskipun gejala klinis
dan status imun mengalami perbaikan

II. DIAGNOSA dan INTERVENSI


KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi infeksi
Intervensi:

Anjurkan untuk cuci tangan yang benar beserta


penggunaan UP sebelum kontak pasien
Batasi kontak dengan individu yang mengalami infeksi
Berikan pencegahan terhadap infeksi opportunistik
(pencegahan primer: mencegah terjadinya infeksi dan
pencegahan sekunder: pemberian obat setelah infeksi
terjadi)
Berikan nutrisi yang baik dan istirahat yang cukup
Berikan imunisasi yang tepat sesuai ketentuan untuk
mencegah infeksi khusus
Kolaborasi antibiotik sesuai ketentuan
Kolaborasi pemberian ARV

ARV
Tujuan pemberian:
menekan replikasi virus
memperbaiki dan memulihkan sistim
imun
mencegah resistensi
mengurangi morbiditas dan
mortalitas
pertumbuhan dan perkembangan
optimal

Indikasi berdasar stadium klinik


(Panduan WHO 2010)
Stadium
klinis
< 24 bulan

Semua diterapi

> 24 bulan

Stadium 3 dan
4*

Stadium
Imunologis/C
D4
Semua diterapi

Stadium 1 dan 2 Terapi bila CD4 <


25%
Jangan diterapi
bila tidak ada
pemeriksaan CD4
* Tangani dulu Infeksi Oportunistik

PEMILIHAN ARV LINI


PERTAMA
KELOMPOK UMUR

LINI PERTAMA STANDAR

Bayi
< 24 bulan, nave

NVP + 2 NRTI

< 24 bulan, pernah terpapar NVP

LPV/r + 2 NRTI

< 24 bulan, paparan terhadap ARV


?

NVP + 2 NRTI

Anak

24 36 bulan
> 36 bulan (3 tahun)

NVP + 2 NRTI
NVP atau EFV + 2 NRTI

2. Perubahan nutrisi kurang dari


kebutuhan
Intervensi:
Beri makanan TKTP dengan tambahan suplemen
nutrisi sesuai usia dan kemampuan
Beri makanan yang disukai anak
Gunakan kreativitas untuk mendorong anak makan
misal makan sedikit porsi sering, buat waktu makan
menyenangkan, minta anak makan di meja secara
berkelompok, berikan finger food untuk anak
kecil,buat makanan yang menarik dan berbeda
Monitor berat badan dan pertumbuhan
Berikan perawatan mulut: oral hygiene, sikat gigi
lembab/swab lembab, emolien pada bibir
Kolaborasi anti jamur sesuai ketentuan

GIZI dan HIV


Gizi memburuk
(BB<, atrofi otot)

Kebutuhan
zat gizi
meningkat
(malabsorbsi
)

HI
V
Resiko terhadap
penyakit infeksi
meningkat

Merusak
sistem
imun

Kebutuhan Nutrisi
Pada anak kebutuhan nutrisi meningkat 50-100%
Nutrisi yang dibutuhkan:
1. Makronutrien: karbohidrat, protein dan lemak
(kebutuhan energi meningkat 10-15%, protein 50%)
2. Vitamin: terutama beta karoten, vit C, E, A, B-12
3. Minerals:
- makrominerals: Ca, P, Mg, Na, K, Cl, S
- microminerals (trace elements): Fe, Zn, Fl,
Copper
- ultratrace elements: Iodine, Se, Mn, Chr,
Molybdenum, Boron, Cobalt

Asuhan Gizi
Penatalaksanaan nutrisi penting
untuk mencegah progresivitas
infeksi. Pemberiannya disesuaikan
berdasar usia anak:
1. Bayi 0-6 bulan
2. Anak 6-24 bulan
3. Anak 2-12 tahun
4. Remaja 12-18 tahun

Bayi 0-6 bulan

Makanan terbaik untuk anak usia 0-6 bulan adalah ASI, karena itu bayi yang lahir
dari seorang ibu dengan HIV positif, harus diberikan pendampingan dan konseling
mengenai pemilihan cara pemberian makanan untuk bayinya dan dijelaskan
mengenai risiko dan manfaat masing-masing pilihan tersebut.
Ibu yang menyusui dapat menularkan infeksi HIV pada bayinya. Oleh karena itu, ibu
sebaiknya dilarang menyusui bayinya. Di negara yang sudah maju seperti Amerika
Serikat dan juga di Thailand, ibu terinfeksi HIV dilarang memberi ASI atau menyusui
bayi untuk menghidari terjadi penularan. Di negara miskin masalah ini masih
menjadi perdebatan karena kesulitan untuk memperoleh pengganti ASI. Untuk
mengatasi hal ini maka perlu alternatif lain. Salah satu alternatif adalah dengan
memanaskan ASI sebelum diberikan kepada bayi (flash heating). Tetapi cara ini
belum dilakukan secara luas. Alternatif lain adalah dengan memberikan profilaksis
antiretrovirus kepada bayi yang mendapat ASI, tetapi harus dipertimbangkan
dengan matang, karena biayanya cukup mahal.
Apabila ibu memutuskan untuk tetap menyusui bayinya, maka harus diberikan
secara eksklusif 0-6 bulan. Artinya hanya diberikan ASI saja, bukan mixed feeding
(ASI dan susu formula bergantian).
Bagi ibu dengan HIV positif yang memilih untuk tidak memberikan ASI dapat
memberikan susu formula sepanjang memenuhi kriteria AFASS (acceptable, feasible,
aff ordable, sustainable, and safe).

Kandungan ASI dalam Konteks


Penularan HIV

ASI mengandung partikel nutrisi, vitamin, sel-sel


utuh, bakteri komensal, antibodi, komplemen,
komponen kimiawi yang berperan dalam
komunikasi antar sel, dan kuman penyakit dalam
bentuk bakteri atau virus.
Sel yang berada dalam ASI memiliki konsentrasi
10.000-1.000.000 sel/ml yang meliputi sel epitel
saluran ASI, makrofag dan limfosit.
ASI
yang ditanam di media tertentu belum
terbukti mampu memproduksi koloni virus HIV,
akan tetapi DNA proviral pada ASI dapat
dideteksi dengan pemeriksaan PCR.

Anak 6-24 bulan

Setelah bayi berusia 6 bulan, pemberian ASI


atau susu saja tidak dapat memenuhi kebutuhan
bayi, oleh karena itu makanan padat harus
segera diberikan.
Pada usia 6- 12 bulan, susu paling banyak
memenuhi setengah kebutuhan bayi, sedangkan
pada usia 12-24 bulan hanya memenuhi
sepertiga kebutuhan per harinya.
Pada usia usia diatas 24 bulan, makanan yang
diberikan sama dengan makanan keluarga,
usahakan untuk menghindari makanan jajanan
dan memperhatikan kebersihan.

Anak 2-12 tahun

Sekitar 90% dari anak dengan HIV positif mengalami kurang


gizi.
Pemilihan bentuk dan cara makan dilakukan berdasarkan
kemampuan oral dan adanya faktor lain yang mungkin
menghambat, seperti misalnya adanya oral trush, atau
ulserasi pada mulut atau adanya perdarahan saluran cerna.
Diusahakan untuk senantiasa memberi makanan melalui oral,
bila tidak dapat dipenuhi melalui oral dapat digunakan pipa
oro/ nasogastrik (nutrisi enteral).
Apabila terdapat infeksi kronis saluran cerna serta sindrom
malabsorpsi yang berat dapat dipertimbangkan pemberian
nutrisi parenteral.
Pada anak gizi buruk, dilakukan tata laksana sesuai dengan
tata
laksana gizi buruk.

Remaja 12-18 tahun

Pengkajian
gizi
meliputi
data
antropometri, data biokimia, data klinis
dan fisik, data kebiasaan makan dietary
history / serta data riwayat personal.
Informasi
yang
diperoleh
melalui
pengkajian
gizi
selanjutnya
dibandingkan dengan standar baku/nilai
normal, sehingga dapat dievaluasi dan
diidentifikasi
seberapa
besar
masalahnya.

3. Nyeri

Kaji nyeri dengan QUEST (Q:question/pertanyaan anak,U:use/menggunakan skala


atau peringkat nyeri,E:evaluate/mengevaluasi perilaku,S:secure/melindungi
keterlibatan orang tua,T:take/mengambil tindakan

Catatan: skala peringkat nyeri untuk anak bisa


menggunakan skala peringkat nyeri WAJAH (usia3tahun),
Oucher (usia3-13tahun), skala numerik (usia 5tahun),
Poker Chip Tool-skala Analogi Visual-Alat Warna (usia44.5tahun), Word Graphic rating Scale (usia 4-17tahun)

Gunakan strategi nonfarmakologis misal: distraksi, relaksasi, bimbingan imajinasi,


bicara sendiri positif, penghentian pikiran, stimulasi kutan, memilih perilaku
Kolaborasi pemberian terapi farmakologis sesuai rute dan metode pemberian
berdasar SOP (oral, sublingual, intravena, SC, IM)
Selalu libatkan orang tua karena mereka yang paling mengetahui kondisi anak
mereka
Observasi strategi koping anak yang digunakan selama prosedur nyeri.
Catatan: Golden rule pengkajian nyeri pada anak adalah temperamen
mempengaruhi gaya koping

KONSEP ANAK TENTANG NYERI


(berdasar PERKEMBANGAN KOGNITIF)
Usia 2-7 tahun
(pikiran
praoperasional)

-Nyeri sebagai pengalaman fisik yang


konkret
-Memandang nyeri sebagai hukuman
untuk kesalahan
-Berpikir dalam hilangnya nyeri secara
magis
-Cenderung membuat seseorang untuk
bertanggung jawab atas nyerinya dan
dapat memukul orang lain

Usia 7-10 tahun(pikiran


operasional konkret)

-Menyatakan nyeri secara fisik misal sakit


kepala, sakit perut
-Mampu menerima nyeri secara psikologis
-Takut bahaya tubuh
-Dapat memandang nyeri sebagai hukuman

Usia lebih 13 tahun


(operasional formal)

-Mampu meberikan alasan nyeri


-Menerima beberapa tipe nyeri psikologis
-Mempunyai pengalaman hidup yang terbatas
untuk menghadapi nyeri

4. Perubahan proses
keluarga

Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan pasien


Kenali masalah keluarga dan kebutuhan akan informasi dan dukungan
Berikan informasi yang dibutuhkan dan jelaskan adanya kesalahan
konsep
Terapkan prinsip-prinsip pembelajaran untuk penjelasan (misal: mulai
dari sejumlah kecil informasi, informasi yang sangat umum, berikan
waktu bagi keluarga untuk menyerap informasi dan mengajukan
pertanyaan, gunakan penjelasan dan teknik-teknik yang sesuai)
Eksplorasi harapan keluarga
Bantu kelaurga untuk membedakan rasa takut realistis dan tidak
realistis
Jawab pertanyaan dengan jujur dan sabar
Dorong ekspresi perasaan mengenai terapi yang ditentukan
Hormati hak-hak orang tua
Tunjukkan sikap perhatian yang menghargai anak dan orang tua
Berikan umpan balik dan pujian

Diagnosa lain yang mungkin muncul

Antisipasi berduka
Kerusakan interaksi sosial
Perubahan pola seksualitas (untuk
remaja)

STRATEGI KEBERHASILAN
PENATALAKSANAAN

Penggunaan dan pemilihan


kombinasi ARV yang tepat
Menjaga adherence (jam yang tepat
tiap hari harus lebih dari 95% )
Dukungan perawatan yang optimal/
terapi supportif : perbaikan status
nutrisi, pencegahan infeksi,
dukungan keluarga, stimulasi
tumbuh kembang

Referensi

Direktorat Bina Gizi Masyarakat Kementerian


Kesehatan RI (2010), Pedoman Pelayanan Gizi Bagi
ODHA, Jakarta.
Januar, B dan Siregar, SP (2004), Infeksi pada bayi,
Sari Pediatri, vol.6.,no.1.
KPAN (2012), Epidemi HIV di Indonesia dan
Perguruan Tinggi, tidak dipublikasikan.
Nasronudin (2007), Penyakit Infeksi di Indonesia
Solusi Kini dan Mendatang, Airlangga University
Press, Surabaya.
Wong and Whaley (2003), Clinical Manual of
Pediatric Nursing, Mosby.