Anda di halaman 1dari 11

ANALISA KAFEIN DENGAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

A. ACARA
Analisa kafein dalam teh dengan mengggunakan spektrofotometri UV/VIS.

B. PRINSIP
Ekstraksi kafein dengan menggunakan pelarut air dan pengendapan alkaloid lain
dengan menggunakan MgO. Absorbansi kafein diukur dengan menggunakan
spektrofotometer pada panjang gelombang 273 nm.

C. TUJUAN
Mengetahui kandungan kafein dalam sampel teh dan membandingkannya dengan
standar.

D. DASAR TEORI
1. Spectrofotometer
Spektrofotometri UV-VIS adalah pengukuran serapan cahaya di daerah ultraviolet
(200 – 350 nm) dan sinar tampak (350 – 800 nm) oleh suatu senyawa. Serapan cahaya
UV atau VIS (cahaya tampak) mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi elektron-
elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi
berenergi lebih tinggi.
Panjang gelombang cahaya UV-VIS bergantung pada mudahnya promosi
elektron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk promosi
elektron, akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih pendek. Molekul yang
memerlukan energi lebih sedikit akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih
panjang.
Prinsip dari spektrofotometri UV-VIS senyawa yang menyerap cahaya dalam
daerah tampak (senyawa berwarna) mempunyai elektron yang lebih mudah dipromosikan
dari pada senyawa yang menyerap pada panjang gelombang lebih pendek. Jika radiasi
elektromagnetik dilewatkan pada suatu media yang homogen, maka sebagian radiasi itu
ada yang dipantulkan, diabsorpsi, dan ada yang transmisikan. Radiasi yang dipantulkan
dapat diabaikan, sedangkan radiasi yang dilewatkan sebagian diabsorpsi dan sebagian
lagi ditransmisikan.
Absorpsivitas hanya tergantung pada suhu, pelarut, struktur molekul dan panjang
gelombang atau frekuensi radiasi yang digunakan. Spektrum absorpsi (kurva absorpsi)
adalah kurva yang menggambarkan hubungan antara absorban atau transmitan suatu
larutan terhadap panjang gelombang atau frekuensi radiasi.
Pemilihan panjang gelombang untuk analisis kuantitatif dilakukan berdasarkan
pada spektrum absorpsi yang diperoleh pada percobaan. Pengukuran absorpsi harus
dilakukan pada panjang gelombang absorban maksimum λ maks karena :
1. Kepekaan maksimum dapat diperoleh jika larutan dengan konsentrasi tertentu
memberikan signal yang kuat pada panjang gelombang tersebut.
2. Perbedaan absorban sangat minimal dengan berubahnya panjang gelombang
disekitar panjang gelombang absorban maksimum sehingga
kesalahan pengukuran sangat kecil.

Pelarut yang digunakan untuk spektrofotometri harus memenuhi persyaratan


tertentu agar diperoleh hasil pengukuran yang tepat. Pertama-tama, pelarut harus dipilih
yang melarutkan komponen analat, tetapi sesuai dengan bahan kuvet.

1. Kafein

Kafein dikenal sebagai trimethylxantine dengan rumus kimia C8H10N4O2 dan


termasuk jenis alkaloida. Bentuk alami kafein adalah Kristal putih, prisma heksagonal
dan dan berbobot molekul 194,19 dalton. Kafein memiliki titik leleh 238oC dan
mengalami sublimasi pada suhu 178oC. Kafein terdapat secara alami pada biji kopi, biji
coklat, daun teh serta cula nuts.

Rumus Molekul kafein

Kafein sebagai zat stimulant sering dituding sebagai penyebab kecanduan. Hal
tersebut tidak sepenuhnya benar. Kafein hanya dapat menimbulkan kecanduan jika
dikonsumsi dalam jumlah yang sangat banyak dan rutin. Kafein memiliki sifat
antisorporific yang dapat mengatasi sergapan rasa kantuk kadar kafein per 240 mL untuk
berbagai jenis minuman adalah :

No Produk Kadar (mg)


1. Minuman bersoda 23
2. Kopi 65-120
3. Minuman energi 70-85
4. Teh 20-90
5. Coklat 5-35
6. Susu coklat 1-15

A. ALAT DAN BAHAN


• Beaker glass 500 mL
• Neraca analitik
• Spatula
• Hot plate
• Batang pengaduk
• Corong
• Erlenmeyer
• Erlenmeyer double neck
• Pompa
• Labu ukur 250 mL
• Labu ukur 100 mL
• Labu ukur 50 mL
• Pipet tetes
• Pipet volume 10 mL
• Spektrofotometri UV-VIS
A. PROSEDUR
• Preparasi Sampel
1. Menimbang sampel yang telah dihaluskan dengan teliti sebanyak 0,5-1,5
gram.
2. Menambahkan MgO (magnesium oksida) 2-3 gram.
3. Menambahkan aquadest sebanyak ± 250 mL.
4. Memanaskannya dan biarkan mendidih selama ± 1 jam.
5. Mendinginkannya sampai suhu kamar.
6. Menyaringnya 2 kali, yang pertama dengan menggunakan kertas saring
whatman sedangkan yang kedua adalah dengan menggunakan membran
0,5 µm.
7. Memasukan filtrat ke dalam labu ukur dan ditera sampai 250 mL.

• Larutan baku
1. Larutan baku induk

Menimbang ± 50 mg standar kafein dalam labu ukur 100 mL dan


menambahkan aquadest sampai tanda batas.

2. Larutan baku kerja

Memipet larutan standar (1) sebanyak 10,0 mL ke dalam labu ukur 50 mL


dan menambahkan aquadest sampai tanda batas (100 ppm).

• Deret standar
Membuat larutan standar yang mengandung 4, 6, 8, 10, dan 12 ppm dari
larutan baku kerja 100 ppm.

• Pengukuran
1. Larutan sampel : membuat pengenceran larutan sampel dari hasil preparasi
sebanyak 10 kali.
2. Larutan baku : mengukur larutan sampel dan larutan baku masing-masing
pada λ maksimal 273 nm.
A. DATA HASIL PENGAMATAN

Jenis sampel : Teh

Jenis pengujian : Kafein

Metode : spektrofotometri UV-VIS

λ pengukuran : 274 nm

1. Pengukuran kurva baku

STANDAR C (ppm)
A (absorbansi)
1 4 0,2328
2 6 0,3335
3 8 0,4367
4 10 0,5305
5 12 0,6251
Persamaan linier

Y = OX2 + 0,04908 x + 0,03908

r = 0,9997

2. Penentuan sampel
ID sampel W (gram) A C Fp Cakhir
The 0,5587 0,433 8,0158 2500 20039,5
0,433 8,0240
2,724 Over Range
3. Perhitungan
• C x Fp
= 8,0158 x 2500
= 20039,5 ppm (µg/mL)

Konversi dalam gram = 20039,5 : 1000.000 = 0,0200395 gram

Konversi dalam persen (%) = 0,0200395W sampelx 100%

= 0,02003950,5587 x 100%

= 3,5868 %

• = 8,0240 x 2500
= 20060 ppm (µg/mL)

Konversi dalam gram = 20060 : 1000.000 = 0,02006 gram

Konversi dalam persen (%) = 0,02006W sampelx 100%

= 0,020060,5587 x 100%

= 3,5904 %

• Rata-rata = 3,5868+3,49042
= 3,5886 %

A. PEMBAHASAN
Sampel yang dipergunakan dalam analisa kadar kafein dengan spektrofotometri
UV-VIS adalah daun teh, daun teh yang dipergunakan adalah daun teh dalam kemasan
(teh celup). Daun teh yang dipakai adalah sebanyak ± 0,5-1,5 gram, dan yang berhasil
ditimbang saat praktikum adalah 0,5587 gram.
Sebelum dianalisa, daun teh yang sudah ditimbang tersebut ditambahkan MgO
sebanyak 2-3 gram, penambahan MgO ini dimaksudkan untuk melarutkan senyawa-
senyawa alkaloid yang dapat mengganggu hasil dari proses pengukuran dengan
menggunakan spektrofotometer dan selanjutnya ditambahkan aquadest dengan jumlah
kurang dari 250 mL. campuran tersebut kemudian dipanaskan dan dibiarkan mendidih
selama 1 jam, proses pemanasan dan pendidihan ini dilakukan untuk mengekstrak kafein
yang terkandung dalam sampel.
Setelah proses pemanasan dan pendidihan selesai dilakukan, maka campuran
tersebut dibiarkan dingin sampai suhunya mencapai suhu kamar, kemudian ditambahkan
aquadest sampai tanda batas. Proses selanjutnya adalah proses penyaringan, proses ini
dilakukan 2 kali, hal ini dilakukan karena analisa dengan menggunakan spektrofotometer
UV-VIS sampel diukur dari serapan sinar UV-VIS sehingga larutan sampel yang akan
dianalisa diusahakan harus sebening mungkin (tidak ada endapan atau alkaloid-alkaloid),
jika larutan yang dipergunakan tidak dalam keadaan bening, maka akan mengganggu
hasil dari analisa.
Proses penyaringan yang pertama dilakukan dengan menggunakan kertas saring
whatman biasa, yang bertujuan untuk memisahkan larutan dan endapan yang berukuran
besar yang terkandung dalam campuran. Sedangkan proses penyaringan yang kedua
dilakukan dengan menggunakan saringan membrane, saringan ini berbentuk seperti spon
yang berpori sangat kecil berukuran 0,5 µm, sehingga partikel-partikel sampel yang
berukuran sangat kecil pun dapat dipisahkan, proses penyaringan ini dilakukan dengan
bantuan pompa, sehingga proses penyaringan tidak berlangsung lama.
Berdasarkan prosedur larutan sampel sebanyak 250 mL seharusnya disaring
semua dengan saringan membrane, akan tetapi hal tersebut tidak efisien sehingga saat
praktikum larutan sampel 250 mL tersebut disaring dengan saringan membran
secukupnya dan filtratnya dipipet sebanyak 5 mL dan dimasukan kedalam labu ukur 50
mL, hal ini dilakukan untuk mengencerkan sampel yang diperkirakan terlalu pekat, dan
akan mengakibatkan over range saat pengukuran.
Proses analisa dengan menggunakan spektrofotometer, sampel yang dianalisa
dibandingkan dengan larutan baku yang sesuai dengan jenis pengujian yang dilakukan.
Karena jenis pengujian saat praktikum adalah kafein, maka standar yang dipakai adalah
standar kafein yang telah diketahui konsentrasinya. Pembuatan standar kafein ini
dilakukan dengan menimbang secara teliti kafein standar sebanyak 0,05 gram dan
dimasukan dalam labu ukur 100 mL kemudian ditambahkan aquadest sampai tanda batas,
larutan kafein standar dalam labu ukur tersebut adalah 500 ppm.
Dari larutan kafein standar tersebut dibuat larutan baku kerja, yaitu larutan standar
baku yang dipergunakan untuk membuat larutan deret standar. Larutan baku kerja
mempunyai konsentrasi 100 ppm yang didapatkan dari pengenceran larutan standar baku
dengan konsentrasi 500 ppm, hal ini dilakukan dengan cara memipet larutan standar baku
(500 ppm) sebanyak 10,0 mL kemudian dimasukan kedalam labu ukur 100 mL,
ditambahkan aquadest sampai tanda batas, larutan ini memiliki konsentrasi 100 ppm.
Setelah larutan standar baku kerja sudah dibuat, maka selanjutnya adalah
membuat larutan deret standar dengan konsentrasi yang meningkat yaitu 4, 6, 8, 10, 12
ppm, konsentrasi ini dipilih karena konsentrasi inilah yang memenuhi transmitan 0,2 s/d
0,8 , larutan ini didapatkan dari pengenceran larutan baku kerja (100 ppm). Saat
praktikum volume dari masing-masing larutan deret standar adalah 50 mL, dilakukan
dengan cara :

Vol larutan standar kerja Konsentrasi deret standar


(100 ppm) yang diambil (ppm)
(mL)
2 4
3 6
4 8
5 10
6 12

Setelah proses pembuatan larutan deret standar selesai, maka proses selanjutnya
adalah pengukuran. Proses pengukuran pertama dilakukan pada larutan deret standar,
karena proses pengukuran sampel dilakukan dengan membandingkan konsentrasi deret
standar dengan konsentrasi kafein dalam sampel.
Proses pengukuran dilakukan dengan menggunakan sinar Ultra Violet (UV) pada
Lamda (λ) 174 nm. Dalam referensi pengukuran kafein dilakukan dalam λ 173, akan
tetapi dalam prakteknya pengukuran kafein secara maksimal dapat dilakukan pada λ 174
nm.
Sebelum proses pengukuran dilakukan, kuvet yang dipergunakan dibilas terlebih
dahulu dengan larutan yang akan diukur, proses pembilasan dilakukan ± 3 kali setelah
dibilas, larutan yang akan diukur dimasukan secukupnya dan kuvet dilap dengan
menggunakan tisu sampai tidak terdapat butiran air diluar permukaan kuvet, terakhir
kuvet dilap dengan menggunakan tisu khusus yang memiliki serat halus sehingga tidak
mengakibatkan permukaan luar dari kuvet tergores. Pengukuran deret standar dilakukan
secara bertahap dari larutan dengan konsentrasi rendah sampai yang tertinggi.
Setelah pengukuran deret standar selesai dilakukan, selanjutnya dilakukan
pengukuran sampel. Seperti halnya untuk pengukuran deret standar, saat pengukuran
sampel pun kuvet dibilas dengan menggunakan larutan sampel yang akan diukur.
Dari hasil pengukuran dengan menggunakan spektrofotometer diketahui bahwa
absorbansi untuk masing-masing deret standar adalah 4 ppm, 0,2328 ; 6 ppm, 0,3335 ; 8
ppm, 0,4367 ; 10 ppm, 0,5350 ; 12 ppm, 0,6251. Dengan persamaan linier Y = OX 2 +
0,04908 x + 0,03908 dan regresi linear 0,9997. Regresi linear adalah ketelitian
pembuatan standar yang dipergunakan untuk pengukuran dan regresi linear yang baik
adalah mendekati 1, dan hal ini membuktikan nilai 0,9997 saat pengukuran berarti cukup
baik.
Pengukuran sampel daun teh yang sudah dilakukan pengenceran 10 kali dilakukan
2 kali dan untuk sampel pekat (tidak dilakukan pengenceran) dilakukan 1 kali untuk
membuktikan apakah konsentrasi yang pekat akan mengakibatkan pengukuran menjadi
over range.
Dari hasil pengukuran sampel, diketahui bahwa sampel yang tidak diencerkan
ternyata memang over range sehingga konsentrsainya tidak dapat diketahui, sedangkan
konsentrasi akhir untuk sampel teh yang sudah diencerkan adalah 20039,5 ppm (µg/mL)
dan 20060 ppm (µg/mL), jika dikonversikan kedalam persen (%) maka hasilnya 3,5868%
dan 3,5904% maka rata-rata dari konsentrasi kafein yang terkandung dalam daun teh
kemasan (teh celup) adalah 3,5886%.

B. KESIMPULAN
Berdasarkan teori, λ pengukuran untuk kafein adalah 173 sedangkan pada saat
praktikum dilakukan pengukuran dengan λ 174, hal ini dilakukan karena ternyata
pengukuran untuk kafein sangat maksimal pada λ 174.
Dari hasil pengukuran dengan menggunakan spektrofotometer diketahui bahwa
absorbansi untuk masing-masing deret standar adalah 4 ppm, 0,2328 ; 6 ppm, 0,3335 ; 8
ppm, 0,4367 ; 10 ppm, 0,5350 ; 12 ppm, 0,6251. Dengan persamaan linier Y = OX 2 +
0,04908 x + 0,03908 dan range 0,9997.
Dari hasil pengukuran sampel, diketahui bahwa sampel yang tidak diencerkan
ternyata memang over range sehingga konsentrsainya tidak dapat diketahui, sedangkan
konsentrasi akhir untuk sampel teh yang sudah diencerkan adalah 20039,5 ppm (µg/mL)
dan 20060 ppm (µg/mL), jika dikonversikan kedalam persen (%) maka hasilnya 3,5868%
dan 3,5904% maka rata-rata dari konsentrasi kafein yang terkandung dalam daun teh
kemasan (teh celup) adalah 3,5886%.

C. DAFTAR PUSTAKA
• Modul PJJ SPEKTROFOTOMETRI, 2008
• www.forumkimia.multiply.com
Lampiran kurva pengukuran :

STANDA C (ppm) A
R (absorbansi)

1 4.00 0.2328
2 6.00 0.3335
3 8.00 0.4367
4 10.00 0.5305
5 12.00 0.6251
intercept
(a) 0.03908
slope (b) 0.04908
r 0.99979