Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KEPANITERAAN BAGIAN PROSTODONSIA

GIGI TIRUAN CEKAT

Disusun oleh:
Izfan Yulviansyah
08/264523/KG/8249
Dosen Pembimbing :
drg.Heriyanti Amalia K., S.U., Sp. Pros (K)
BAGIAN PROSTODONSIA
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA

2015

I.

PENDAHULUAN

Gigi yang hilang dapat dilakukan perawatan dengan pembuatan gigi palsu atau
gigi tiruan. Ada beberapa jenis gigi tiruan; yang pertama adalah gigi tiruan lepasan
yaitu gigi tiruan yang dapat dilepas-pasang dengan mudah oleh dokter gigi maupun
pasien; dan yang kedua adalah gigi tiruan cekat yang tidak dapat dilepas-pasang oleh
dokter maupun pasien. Gigi tiruan cekat dapat menggantikan satu atau lebih gigi yang
hilang dan dipasang secara permanen pada gigi asli sebagai pendukung (Ramadhan,
2010).
Gigi tiruan cekat memiliki beberapa kelebihan, antara lain adalah karena
langsung dilekatkan pada gigi asli, maka gigi tidak mudah lepas, maka mengurangi
kemungkinan gigi untuk tertelan ataupun hilang, tidak memakai klamer sehingga
tidak menyebabkan keausan permukaan gigi, tidak memiliki komponen akrilik
sehingga lebih nyaman, dirasakan seperti gigi sendiri oleh pasien, dan dapat
melindungi gigi serta jaringan pendukungnya (Smith and Howe, 2007).
Secara umum tujuan pembuatan GTC adalah untuk :
1. Memperbaiki fungsi organ pengunyahan yang berkurang daya kunyahnya
dikarenakan hilangnya satu atau lebih gigi asli
2. Memperbaiki estetika
3. Mencegah terjadinya perpindahan tempat gigi disekitar ruangan yang
kosong akibat hilangnya gigi.
4. Memelihara dan mempertahankan gusi.
5. Memulihkan fungsi fonetik.
Keuntungan dari pembuatan GTC adalah tidak mudah terlepas atau tertelan
dikarenakan dilekatkan pada gigi asli, dirasakan sebagai gigi asli oleh pasien, dapat
dipasang kembali di dalam mulut tiap kali dilepas karena tidak mempunyai pendekap
yang dapat menyebabkan keausan pada permukaan email gigi, dan dapat melindungi
gigi terhadap stress karena mempunyai efek splint, serta menguntungkan jaringan
pendukungnya karena menyebarkan tekanan fungsi ke seluruh gigi.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Gigi Tiruan Cekat adalah restorasi yang tidak dapat dilepas sendiri oleh
pasien maupun dokter gigi dan melekat secara permanen pada mahkota atau akar gigi
asli sebagai pendukung (Tylman, 1970). Menurut Ewing (1959), indikasi perawatan
GTC dilakukan pada pasien berusia 20-50 tahun. Pasien berusia kurang dari 20 tahun
merupakan kontraindikasi karena ruang pulpa masih besar, tulang rahang masih dalam
keadaan tumbuh, belum cukup padat dan keras serta foramen apikal masih belum
menutup sempurna. Pasien yang berusia lebih dari 50 tahun juga merupakan
kontraindikasi, karena gigi sudah banyak yang mengalami atrisi dan abrasi sehingga
menjadi pendek dan tidak teratur, struktur jaringan keras gigi sudah rapuh serta
terjadinya resesi gingiva dan gigi goyah.
Salah satu indikasi penting gigi tiruan cekat adalah kebersihan mulut.
Kebersihan mulut yang baik merupakan indikasi positif untuk perawatan GTC. Pada
penderita yang kebersihan mulutnya tidak terpelihara atau tidak dapat memeliharanya,
GTC merupakan suatu kontra indikasi (Prajitno, 1994). Sebab pada umumnya GTC
memerlukan pembersihan yang terus menerus. Bila tidak, maka kemungkinan besar
karies akan menyerang gigi penyangganya atau terjadi kerusakan jaringan periodontal
dan halitosis akibat dari penumpukkan plak pada gigi tiruan (Martanto, 1985).
Kontra indikasi GTC adalah :
1.

Pasien terlalu muda atau tua

2.

Struktur gigi terlalu lunak

3.

Hygiene mulut jelek

4.

Gigi yang harus diganti banyak

5.

Kondisi daerah tak bergigi mengalami resorbsi eksisi.

6.

Alveolus pendukung gigi kurang dari 2/3 akar gigi.

7.

Gigi pegangan abnormal dan jaringan periodonsium tidak sehat.

8.

Oklusi abnormal.

9.

Kesehatan umum jelek.

10.

Tidak terjalin kooperatif dari pasien dan operator.

11.

Mempunyai bad habit (kebiasaan buruk).

12.

Gigi hipersensitif walaupun sudah dianestesi.

(Ewing, 1959)

Komponen-komponen GTC (Three Units Bridge) adalah :

1. Pontic (P)
Pontic adalah gigi buatan pengganti dari gigi atau gigi-geligi yang hilang.
Pontic dapat dibuat dari porselen, akrilik, logam, atau gabungan dari bahan-bahan
ini (Allan and Foreman, 1994). Pontic memiliki fungsi yang sama dengan gigi asli
seperti fungsi mastikasi, estetik, bicara, dan penyalur beban dari oklusal pada gigi
pegangan. Syarat-syarat sebuah pontic, antara lain : cukup kuat, halus, tidak
menyebabkan makanan terjebak, mempertahankan lengkung gigi, oklusi baik, dan
dapat melindungi jaringan di bawahnya (Soratur, 2006).
Beberapa macam bentuk pontic adalah :
a. Saddle pontic
Merupakan pontic yang memiliki bentuk seperti gigi asli dan mengganti
dari seluruh bentuk gigi yang hilang. Kekurangan bentuk ini sering
menyebabkan inflamasi jaringan lunak di bawah pontic tersebut.
b. Ridge lap pontic
Pontic ini memiliki bentuk yang tidak menempel edentulous ridge pada
permukaan palatinal/lingual, sedang permukaan bukal atau labialnya
menempel. Pontic ini dapat memperkecil kemungkinan terjebaknya sisa
makanan, tetapi tidak mengabaikan faktor estetik, biasanya digunakan
untuk gigi anterior.

c. Sanitary/Hygiene pontic
Pontic ini memiliki bentuk yang sama sekali tidak menempel pada
edentulous ridge. Jenis pontic ini dapat mempermudah self cleansing.
Biasanya untuk gigi posterior bawah.
d. Conical pontic (Spheroid atau Bullet)
Pontic ini hampir sama dengan hygiene pontic tetapi pada jenis ini ada
bagian yang bersinggungan dengan edentulous ridge, sering juga disebut
sebagai bullet / spheroid pontic.
(Soratur, 2006)
2. Retainer (R)
Retainer adalah restorasi di mana pontic dicekatkan. Retainer ini
menghubungkan bridge dengan gigi pegangan. Fungsi retainer adalah untuk
menjaga agar GTC tetap pada tempatnya. Retainer dapat dibuat intrakoronal atau
ekstrakoronal (Allan and Foreman, 1994).
Tipe tipe retainer antara lain:
a. Tipe dalam dentin (intra coronal retainer )
Preparasi dan badan retainer sebagian besar ada di dalam dentin atau di dalam
mahkota gigi. Contoh : tumpatan MOD (Mesio Okluso Distal) atau MO
(Mesio Oklusal)
b. Tipe luar dentin (ekstra coronal retainer )
Preparasi dan bidang retensi sebagian besar ada di luar dentin atau diluar
badan mahkota gigi. Contoh : full cast crown, crown
c. Tipe dalam akar.
Preparasi dan bidang retensi sebagian besar ada di dalam saluran akar. Contoh
: mahkota pasak inti.
(Indrastuti et al., 2004)

3. Konektor (C)
Konektor adalah alat yang mencekatkan pontic ke retainer atau retainer
dengan retainer. Konektor dapat berupa sambungan yang disolder, cor, dovetail,
atau stress-breaker (Allan and Foreman, 1994).
Pada dasarnya dikenal beberapa tipe GTC berdasarkan konektornya, yaitu :
a. Fixed- fixed bridge : konektor pada kedua sisi bersifat rigid.
b. Fixed movable bridge : salah satu konektor bersifat rigid dan less-rigid
pada sisi yang satunya.
c. Spring bridge : pontic jauh dari retainer dan dihubungkan dengan palatal
atau lingual konektor. Konektor yang berhubungan dengan pontic lebih
tipis, sedangkan yang berhubungan dengan retainer lebih tebal, sehingga
memiliki fleksibilitas yang dapat mengurangi stress.
d. Cantilever bridge : memiliki hanya satu fixed retainer pada gigi pegangan
dengan satu pontic.
e. Compound bridge : merupakan kombinasi dua atau lebih dari bridge.
f. Maryland bridge (resin bonded bridge)
g. Temporary acrylic bridge
(Soratur, 2006)
4. Abutment (A)
Abutment atau gigi pegangan adalah gigi pemegang retainer. Gigi pegangan
dapat bervariasi dalam kemampuannya untuk menahan jembatan dan tergantung
pada faktor-faktor seperti membran periodontal, panjang, serta jumlah akar (Allan
and Foreman, 1994).
Syarat-syarat gigi pegangan :

Mempunyai mahkota klinik tinggi

Jumlah dan panjang akar memadai

Dentin tebal

Poros tegak

Kondisi membran periodontal harus sehat

Gigi vital lebih baik daripada gigi non vital

(Indrastuti et al., 2004)

5. Sadel (S)
Sadel adalah daerah di antara gigi-geligi pegangan, terutama adalah tulang
alveolar yang ditutupi jaringan lunak. Tulang alveolar akan berubah kontur selama
beberapa bulan setelah kehilnagan gigi. Kontur dan tekstur sadel ini akan
mempengaruhi desain pontic (Allan and Foreman, 1994).
Dalam preparasi GTC dikenal empat macam finish line, antara lain:
1.

Shoulderless/knife edge/tanpa pundak; bentuk ini biasanya dibuat untuk


gigi pegangan yang tipis atau pada GTC dengan retainer terbuat dari bahan
yang mempunyai kekuatan tepi yang cukup kuat.

2.

Shoulder/berpundak; bentuk ini dibuat pada gigi pegangan dengan retainer


tanpa kekuatan tepi, sehingga pada tepi retainer tersebut mempunyai
ketebalan (contoh pada resin akrilik mahkota jaket).

3.

Chamfer finish line; bentuk ini biasanya digunakan untuk retainer jenis
mahkota penuh (full veneer cast crown).

4.

Partial shoulder/ berpundak sebagian; bentuk ini mempunyai pundak pada


bagian bukal atau labial, kemudian akan menyempit pada daerah proksimal
dan akhirnya hilang sama sekali pada daerah palatinal/lingual.
(Indrastuti et al., 2004)

Alat-alat yang digunakan pada preparasi GTC terdiri atas :


1. Cylindris bur terdiri atas:

2.

3.

a.

fissure bur

b.

tappered bur

c.

chamfer bur

Wheel bur, terdiri atas:


a.

Round edge wheel bur

b.

Flat discs wheel bur

Sand paper discs

Digunakan pada akhir preparasi agar hasil preparasi halus dan


menumpulkan sudut-sudut yang tajam .
(Indrastuti et al., 2004)

III. LAPORAN KASUS

A. Identifikasi
Nama

: Sumarni

Umur

: 32 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Alamat

: Pogung Baru, Yogyakarta

Tanggal Pemeriksaan

: 6 Maret 2015

No Kartu

: 102681

B. Anamnesa
1. Pemeriksaan Subyektif
Motivasi : Datang ke klinik atas keinginan sendiri untuk membuatkan gigi tiruan
pada gigi belakang kanan dan kiri pada rahangatas dan rahang
bawahnya.
CC

: Ingin membuatkan gigi tiruan karena tidak adanya gigi membuat


tidak nyaman dan mengganggu fungsi pengunyahan.

PI

: Saat ini tidak ada keluhan rasa sakit.

PDH

: Pasien pernah mencabutkan sisa akar gigi gerahamnya yang


berlubang tanpa komplikasi.

PMH

: Sehat, tidak dicurigai menderita penyakit sistemik, tidak ada riwayat


alergi obat-obatan, cuaca, maupun makanan.

FH

: Ayah : Sehat, tidak dicurigai menderita penyakit sistemik


Ibu : Sehat, tidak dicurigai menderita penyakit sistemik.

2. Pemeriksaan Obyektif
a. Umum : Jasmani : sehat.
Rohani : kooperatif dan komunikatif.
b. Lokal : EO

IO

: Wajah : simetris, tidak ada kelainan


Pipi

: simetris, tidak ada kelainan

Bibir

: simetris, tidak ada kelainan

Lnn

: tidak teraba.

: Mukosa : normal, tidak ada kelainan


Gingiva : normal, tidak ada kelainan
Lidah

: normal, tidak ada kelainan

Palatum : normal, tidak ada kelainan


Frenulum : normal, tidak ada kelainan
Alveolus : normal
Gigi

: 22 dan 12 agenese, ukuran dan bentuk normal

OH

: baik

b. Formula gigi
1.

V IV III II I

I II III IV V

8 7 6

2 1 1 2

7 8

8 7 6

2 1 1 2

o
7 8

V IV III II I

I II III IV V

Ket :
X: Telah dicabut K: Karies

O: Tumpatan

: agenese

C. Klasifikasi
RA: Applegate Kennedy Klas VI modifikasi 1P
RB: Applegate Kennedy Klas VI modifikasi 1P
D. Pemeriksaan Rontgen Foto
Tidak ada kelainan di daerah yang tak bergigi dan tidak ada kelainan disekitar

10

gigi 15 dan 17 yang akan dijadikan gigi pegangan. Jaringan periodontal sehat.
Luas ligamen periodontal gigi pegangan lebih besar daripada gigi yang hilang.
IV. RENCANA PERAWATAN
Kunjungan I :
1. Menjelaskan kepada pasien tentang jalannya perawatan dalam pembuatan
gigi tiruan cekat
2. Melakukan anamnesis
3. Persiapan-persiapan di dalam mulut sebelum dibuat gigi tiruan cekat,
meliputi perawatan periodontal yaitu scaling.
4. Melakukan rontgen foto untuk mengetahui kondisi gigi pegangan dan
jaringan pendukungnya.
5. Indikasi dan mencetak study model RA dan RB dengan :
-

Sendok cetak

: perforated stock tray no. 2

Bahan cetak

: alginat (irreversible hydrocolloid)

Metode

: mukostatik

6. Membuat simulasi preparasi gigi tiruan cekat 3 unit


Hasil pencetakan dengan alginat diisi dengan gips stone dan dilakukan
boxing untuk pembuatan study model. Setelah study model jadi, dilakukan
simulasi preparasi dengan crownmess sesuai desain yang telah dibuat.
Tipe GTC yang akan dibuat adalah fixed-fixed bridge yang terbuat dari
porcelain fused to metal dan terdiri dari 3 unit, yaitu pontic gigi 16 dengan
menggunakan gigi

15 dan 17 sebagai gigi pegangan. Retainer yang

digunakan adalah tipe full crown yang dipreparasi dengan menggunakan bur
kecepatan tinggi (high speed bur). Bentuk pontic yang digunakan adalah
hygiene pontic, yaitu pontic yang bagian lingual dan fasialnya tidak
menempel pada edentulous ridge.
Kondisi gigi sebelum dipreparasi:
Jarak mesiodistal 15 : 6,40 mm
Ruang pada gigi 16 : 7,80 mm

11

Jarak mesiodistal 17 : 10,20 mm

7,80 mm

10,20 mm
mm

6,4 mm

Rencana preparasi gigi:


Pengurangan

15

Oklusal

: 1,4 mm

Bukal

: 1,4 mm

Lingual

: 1,4 mm

Distal

: 1,6 mm

Mesial

: 1,4 mm

9,0 mm

9,20 mm
6,2 mm

Pengurangan

17

Oklusal

: 1,4 mm

Bukal

: 1,4 mm

Lingual

: 1,4 mm

Mesial

: 2,4 mm (mesiobukal) dan 2 mm (mesiolingual)

Distal

: 1,4 mm (distobukal) dan 1,8 mm (distolingual)

Desain Gigi Tiruan Cekat

P
C

A
C

Keterangan :

12

A = Gigi pegangan dengan retainer full veneer cast crown


P = Pontic ( hygiene pontic)
C = Rigid Connector

Kunjungan II :
Preparasi gigi dan pontic pada gigi atau GTC 3 unit memakai bur kecepatan
tinggi. Retainer pada gigi 15 adalah tipe full crown. Prinsip preparasi mengikuti
kesejajaran/paralelisme dinding-dinding aksial gigi pegangan yang akan dipreparasi.
1. Langkah-langkah preparasi gigi 15adalah sebagai berikut:
a. Pengurangan bagian oklusal
1) Menggunakan round edge wheel bur. Bagian oklusal dikurangi 1,4 mm.
Pengurangan tonjol dilakukan menurut bentuk permukaan oklusal dan
morfologi gigi.
2) Periksa jarak gigi dengan gigi antagonisnya menggunakan sonde.
b. Pengurangan bagian mesial
1) Pengurangan bagian mesialsebanyak 1,4 mm pada sisi bukal dan palatal
menggunakan flat disc wheel bur makan sebelah untuk menghilangkan
contact point. Setelah contact point terbuka kemudian pengurangan gigi
dilanjutkan dengan menggunakan tapered diamond bur panjang.
2) Pemotongan pada bagian proksimal dibuat konvergen ke arah oklusal
sebesar 5.
c. Pengurangan bagian distal
1) Pengurangan bagian distal sebanyak 1,6 mm pada sisi bukal dan palatal
menggunakan tapered diamond bur.
2) Pemotongan pada bagian proksimal dibuat konvergen ke arah oklusal
sebesar 5.
d. Pengurangan bagian bukal
1) Pengurangan bagian bukal sebanyak 1,4 mm menggunakanmenggunakan
tapered diamond bur.
2) Pengurangan meluas sampai pada garis pertemuan dengan permukaan
proksimal, jangan sampai mengenai gigi tetangganya

13

3) Pemotongan pada bagian bukal dibuat konvergen ke arah oklusal sebesar


5.
e.

Pengurangan bagian palatal


1) Pengurangan bagian palatal sebanyak 1,4 mm menggunakan tapered
diamond bur.
2) Pengurangan meluas sampai pada garis pertemuan dengan permukaan
proksimal, jangan sampai mengenai gigi tetangganya
3) Pemotongan pada bagian palatal dibuat konvergen ke arah oklusal sebesar
5.

f.

Pembuatan finishing line servikal :


1) Gigi diisolasi menggunakan cotton roll kemudian gingiva dikeringkan.
2) Gingival margin diretraksi menggunakan benang yang dibasahi adrenalin
kemudian dilingkarkan pada gigi pegangan, kemudian ditekan ke arah
apikal. Benang dimasukkan ke dalam sulkus gingiva (dekat gingival
margin) dengan bantuan instrumen seperti probe selama 10 menit.
Kemudian benang diangkat dari sulkus gingiva.
3) Akhiran servikal yang dibuat adalah bentuk chamfer dengan menggunakan
chamfer bur terletak di subgingiva.

g.

Finishing hasil preparasi


Pengurangan sudut aksial dengan menghilangkan seluruh bagian yang tajam,
runcing, tidak rata dan undercut-undercut untuk memperoleh hasil preparasi
yang cukup halus dengan menggunakan tapered diamond bur. Untuk
penghalusan menggunakan sand paper disc.

2. Langkah-langkah preparasi gigi 17 adalah sebagai berikut:


a.

Pengurangan bagian oklusal :


1) Dengan bur fisur dibuat saluran-saluran melalui fisur oklusal sedalam1,4
mm sebagai panduan preparasi oklusal. Kemudian permukaan oklusal
dikurangi 1,4 mm sesuai bentuk permukaan oklusal dengan round edge
wheel bur.
2) Periksa jarak gigi dengan gigi antagonisnya.

14

b.

Pengurangan bagian mesial


1) Pengurangan

menggunakan

menggunakantapered

diamond

bur.

Pengurangan pada sisi ini dilakukan sebesar 2,4mm pada sisi mesiobukal
dan 2 mm pada sisi mesiopalatal.
2) Pemotongan pada bagian proksimal dibuat konvergen ke arah oklusal
sebesar 5.
c.

Pengurangan bagian distal


1) Penghilangan contact poin dengan flat disc wheel bur kemudian dilanjutkan
pengurangan dengan menggunakan tapered diamond bur Permukaan distal
sebanyak 1,4 mm pada sisi distobukal dan 1,8 mm pada sisi distopalatal.
2) Pemotongan pada bagian proksimal dibuat konvergen ke arah oklusal
sebesar 5.

d.

Pengurangan bagian bukal


1) Pengurangan bagian bukal sebanyak

1,4 mm dengan menggunakan

tapered diamond bur meluas sampai pada garis pertemuan dengan


permukaan proksimal.
2) Pemotongan pada bagian bukal dibuat konvergen ke arah oklusal sebesar
5.
e.

Pengurangan bagian palatal


1) Pengurangan bagian palatal sebanyak 1,4 mm menggunakan tapered
diamond bur meluas sampai pada garis pertemuan dengan permukaan
proksimal.
2) Pemotongan pada bagian palatal dibuat konvergen ke arah oklusal sebesar
5.

f.

Pembuatan finishing line servikal :


1) Gigi diisolasi menggunakan cotton roll kemudian gingiva dikeringkan.
2) Gingival margin diretraksi menggunakan benang yang dibasahi adrenalin
dan dilingkarkan pada gigi pegangan, kemudian ditekan ke arah apikal.
Benang dimasukkan ke dalam sulkus gingiva (dekat gingival margin)
dengan bantuan instrumen probe selama 10 menit. Kemudian benang
diangkat dari sulkus gingiva.

15

3) Akhiran servikal dibuat bentuk chamfer pada bagian bukal dan palatal
dengan menggunakan chamferbur. Finish line berada di subgingiva.
g.

Finishing hasil preparasi


Pembulatan bagian aksial dan menghilangkan bagian yang tajam, runcing,
tidak rata dan undercut dihilangkan untuk memperoleh hasil preparasi yang
halus menggunakan tapered diamond bur. Sisi-sisi yang tajam dihaluskan
menggunakan sand paper disc.

3.

Setelah dipreparasi dibuat cetakan model kerja :


Sendok cetak

: perforated stock tray no. 2.

Bahan cetak

: elastomer

Metode

: double impression.

Cara mencetak:
Cara yang dilakukan yaitu terdiri dari bahan cetak putty yang terdiri dari
base dan katalis dengan perbandingan 1:1 diaduk dengan tangan kemudian
setelah mencapai konsistensi tertentu, bahan cetak diletakkan dalam sendok
cetak. Bahan cetak exaflex injection yang terdiri dari basedan katalis dengan
perbandingan 1:1 diaduk diatas glass plate. Setelah mencapai konsistensi
tertentu, bahan cetak exaflex diletakkan dalam sendok cetak yang telah diberi
bahan cetak putty sebelumnya serta dipaskan dalam mulut pasien kemudian
ditekan pada daerah gigi yang dipreparasi. Cara mencetak ini disebut single
stage impression.
Setelah bahan cetak setting sendok cetak dikeluarkan dari

mulut

pasien.Hasil cetakan diisi dua kali dengan glass stone.Selanjutnya model kerja
dikirim ke laboratorium untuk pemrosesan gigi tiruan cekat.
Cetakan model kerja yang satunya digunakan untuk membuat mahkota
sementara.Sebelum pasien pulang,mahkota sementara gigi tiruan cekat 3 unit
dari self curing acrylic yang telah jadi dipasang pada pasien.
Pembuatan mahkota sementara dibuat dari self curing acrylic dengan
metode indireksebagai berikut :
a. Gigi sebelum dipreparasi dicetak menggunakan bahan cetakelastomer (I).

16

b. Gigi sesudah dipreparasi dicetak menggunakan bahan cetak alginat


kemudian diisi dengan gips stone. Setelah gips stone mengeras dan dilepas
dari cetakan didapatlah model gigi setelah preparasi (II).
c. Cetakan (I) diisi dengan self curing acrylic
d. Model gigi setelah preparasi (II) dimasukkan ke hasil cetakan (I) yang telah
diisi self curing acrylic.
e. Fiksasi sampai self curing acrylic mengeras
f. Lakukan pengurangan pada mahkota sementara tersebut dan cobakan pada
pasien
Mahkota sementara yang tidak pas dikurangi sampai benar-benar pas
beroklusi dengan gigi antagonisnya. Mahkota sementara disemen dengan
semen sementara fletcher dan larutan eugenol. Pemasangan mahkota
sementara dilakukan dengan cara:
a. Mahkota sementara gigi tiruan cekat 3 unit dibersihkan lalu dikeringkan.
Gigi yang akan dipasangi gigi tiruan cekat juga dikeringkan.
b. Fletcher dan eugenol diaduk sesuai konsistensinya, kemudian dioleskan
pada gigi yang dipreparasi dan bagian dalam mahkota sementara gigi tiruan
cekat 3 unit.
c. Mahkota sementara gigi tiruan cekat 3 unit dipasang dengan tekanan
maksimal, kemudian pasien disuruh menggigit beberapa menit.
d. Pemeriksaan retensi, stabilisasi, dan oklusi.
e. Pasien diinstruksikan untuk menjaga kebersihan mulutnya dan diminta
untuk tidak makan atau menggigit makanan yang keras dulu. Bila ada
keluhan rasa sakit segera kembali untuk dikontrol.
Kunjungan III (Try In) :
Pemeriksaan yang harus diperhatikan adalah kontak proksimal antara GTC
dengan gigi sebelahnya, pemeriksaan pada tepi GTC tidak boleh menekan gingiva,
dan pemeriksaan kontak oklusal saat posisi sentrik, lateral, dan anteroposterior.
Dilihat retensi dan stabilisasinya. Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika try-in adalah:
retensi, stabilisasi, oklusi, dan kenyamanan pasien.

17

1. Retensi
Kemampuan GTC untuk melawan gaya pemindah yang cenderung memindahkan
gigi tiruan kearah oklusal. Cara mengecek retensi gigi tiruan adalah dengan cara
memasang gigi tiruan tersebut ke dalam mulut pasien. Jika tidak mempunyai
retensi maka gigi tiruan tersebut akan terlepas setelah dipasang, namun jika tidak
terlepas berarti gigi tiruan tersebut sudah mempunyai retensi.
2. Stabilisasi
Merupakan perlawanan atau ketahanan GTC terhadap gaya yang menyebabkan
perpindahan tempat atau gaya horizontal. Stabilisasi terlihat dalam keadaan
berfungsi, misal pada mastikasi.Pemeriksaan stabilisasi gigi tiruan dengan cara
menekan bagian gigi tiruan secara bergantian.Gigi tiruan tidak boleh
menunjukkan pergerakan pada saat tes ini.
3. Oklusi
Pemeriksaan aspek oklusi pada saat posisi sentrik, lateral dan anteroposterior.
Caranya dengan memakai kertas artikulasi yang diletakkan di antara gigi atas dan
bawah, kemudian pasien diminta melakukan gerakan mengunyah. Setelah itu
kertas artikulasi diangkat dan dilakukan pemeriksaan oklusal gigi. Pada keadaan
normal terlihat warna yang tersebar secara merata pada permukaan gigi. Bila
terlihat warna yang tidak merata pada oklusal gigi maka terjadi traumatik oklusi.
Jika terjadi traumatik oklusi maka dilakukan grinding pada gigi tersebut.
Pengecekan oklusi ini dilakukan sampai tidak terjadi traumatik oklusi.
Try in atau pengepasan GTC menggunakan campuran serbuk fletcher dan larutan
eugenol selama 1 minggu.
Kunjungan IV (Insersi) :
Satu minggu setelah pengepasan kemudian dilakukan insersi GTC dengan
sementasi menggunakan SIK tipe I. Sebelumnya dilakukan pemeriksaan subjektif,
ditanyakan apakah ada keluhan dari pasien setelah GTC dipasang dan dipakai.
Pemeriksaan objektif dilihat dari keadaan gigi dan jaringan lunak di sekitar daerah

18

GTC apakah ada peradangan atau tidak, periksa retensi dan oklusi pasien. Jika tidak
ada peradangan, retensi dan oklusi pasien baik maka dilakukan penyemenan GTC.
Penyemenan GTC:
1. GTC dibersihkan dan disterilkan lalu dikeringkan, gigi pegangan yang akan
dipasang GTC juga dikeringkan.
2. Semen diaduk untuk mendapatkan konsistensi yang baik untuk penyemenan,
kemudian dioleskan pada bagian dalam dari GTC.
3. GTC dipasang dan pasien diinstruksikan untuk dalam posisi oklusi sentrik
beberapa menit.
4. Kelebihan semen yang mengalir ke gingival diambil kemudian dibersihkan.
5. Instruksikan pada pasien untuk menjaga kebersihan mulut
6. Bila ada keluhan rasa sakit segera kontrol.
Setelah dilakukan penyemenan, dicek kembali retensi, stabilisasidan oklusi
(dengan articulating paper).
Kunjungan V (Kontrol) :
Kontrol :
- Pemeriksaan subyektif

: menanyakan apakah ada keluhan dari pasien setelah


GTC dipasang dan dipakai.

- Pemeriksaan obyektif

: melihat keadaan jaringan lunak disekitar daerah GTC,


apakah ada peradangan atau tidak. Memeriksa retensi,
stabilisasi, dan oklusi pasien.
V. PROGNOSIS

Prognosis pembuatan gigi tiruan cekat pada kasus ini adalah baik, karena gigi
pegangan kuat untuk mendukung gigi tiruan, jaringan pendukung yang sehat,
kesehatan umum dan kebersihan mulut pasien baik, serta pasien yang kooperatif dan
komunikatif.

19

DAFTAR PUSTAKA

Allan, D.N., and Foreman, P.C., 1994, Petunjuk Bergambar Mahkota & Jembatan,
Hipokrates, Jakarta

20

Depkes RI (Departemen Kesehatan Republik Indonesia)., 2008, Laporan Hasil Riset


Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional 2007, Baand Penelitian and
Pengembangan Kesehatan, Jakarta
Ewing, E.J., 1959, Fixed Partial Prosthesis, 2nd ed., Lea and Febinger, Philadelphia
Indrastuti M et al., 2004, Bahan Ajar Prosthodonsia II, Fakultas Kedokteran Gigi
UGM, Yogyakarta
Martanto, P., 1985, Ilmu mahkota dan Jembatan, Edisi 2, Jilid 1, Penerbit Alumni
Bandung
Prajitno, H.R., 1991, Ilmu Geligi Tiruan Jembatan Pengetahuan Dasar dan
Rancangan Pembuatan, Edisi 1, EGC, Jakarta
Ramadhan, A.G., 2010, Serba Serbi Kesehatan Gigi dan Mulut, Bukune, Jakarta
Selatan
Smith, B.G.N, and Howe, L.C., 2007, Planning and Making Crown and Bridges, 4th
ed., Informa Healthcare, New York
Soratur, S.H., 2006, Essentials of Prosthodontics, Jaypee Brothers Medical
Publishers, New Delhi
Tylman, S.D., 1970, Theory and Practice of Crown and fixed prosthodontics
(Bridges), 6th ed., The C.V. Mosby Co., St. Louis

21