Anda di halaman 1dari 36

KODE ETIK PROFESI

AKUNTAN INDONESIA

Disusun oleh :
Indira Kusuma
W(023135003)
Angelia Yovanny
(023135009)

Profesi Akuntan
Akuntan adalah mereka yang telah lulus dari pendidikan strata satu (S1)
program studi akuntansi dan telah memperoleh gelar profesi Akuntan
melalui pendidikan profesi akuntansi yang diselenggarakan oleh beberapa
perguruan tinggi yang telah mendapat izin dari Departemen Pendidikan
Nasional atas rekomendasi dari organisasi profesi Institut Akuntan
Indonesia (IAI).

Organisasi Institut Akuntan


Indonesia (IAI)
23 Desember 1957
Lahir Organisasi Institut Akuntan Indonesia (dulu bernama
Ikatan Akuntan Indonesia) disingkat IAI.
11 Februari 1959
Anggaran dasar IAI disahkan oleh Menteri Kehakiman RI
7 April 1977
Para akuntan publik membentuk sub-organisasi tersendiri
dibawah IAI bernama Ikatan Akuntan Indonesia-Seksi Akuntan
Publik (IAI-SAP) diubah menjadi IAI-KAP
23 Mei 2007
IAI-KAP diubah menjadi Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI)
disetujui IAI 4 Juni 2007.

Struktur Etika Institut Akuntan


Indonesia
Ada 4 kebutuhan dasar untuk mencapai tujuan profesi akuntansi (Prosiding
Kongres VIII IAI tahun 1998):
Kredibilitas
Profesionalisme
Kualitas jasa
Kepercayaan
Struktur Kode Etik IAI

Prinsip Etika IAI


Saat ini kode etik IAI yang disahkan pada kongres IAI VIII
tahun 1998 terdiri atas delapan prinsip yaitu :

Struktur Etika Institut Akuntan


Indonesia
PRINSIP ETIKA

ATURAN ETIKA

Disahkan Kongres
IAI untuk seluruh
anggota IAI
Disahkan oleh rapat
anggota
kompartemen atau
institut profesi sejenis

INTERPRETASI
ETIKA

Dilaksanakan oleh
Pengurus
Kompartemen/Institut
Profesi sejenis

TANYA JAWAB

Dewan Standar
Profesi
Kompartemen/Institut
Profesi sejenis

Rerangka Kode Etik IAI dan IAPI

Proses Penalaran Prinsip


Etika
Hasil kerja profesi akuntan untuk
kepentingan publik (Prinsip 2)

Kompetensi mencakup tiga untuk :


Pengetahuan (knowledge) Prinsip 5
Keterampilan teknis (skill) Prinsip 8
Sikap-perilaku etis (attitude) :
- Prinsip 3 (Intergritas)
- Prinsip 4 (Objektivitas)
- Prinsip 6 (Kerahasian)
- Prinsip 7 (Perilaku profesional)

Oleh karena itu setiap


anggota
dituntut
untuk
mengembangkan
rasa
tanggung jawab (Prinsip 1)

Tanggung jawab diwujudkan


dalam
bentuk
upaya
peningkatan kompentensi
secara
berkelanjutan
(Prinsip 5)

Kode Etik/Aturan Etika-IAPI


IAPI sebagai salah satu sub organisasi profesi akuntan publik Indonesia yang
bernaung di bawah organisasi induknya (IAI) telah menetapkan Kode Etik
Profesi Akuntan Publik yang baru berlaku efektif per tanggal 1 Januari 2010.
Bagian A berisi Prinsip Dasar Etika Profesi yang terdiri dari :

Bagian B Aturan Etika Profesi yang terdiri


dari :

Struktur Kode Etik IAPI tampaknya telah disesuaikan dengan Struktur Kode
Etik : the International Federation of Accountants/IFAC.

Pengaturan dan Perizinan KAP


Bentuk wujud campur tangan pemerintah dan lembaga legislatif dalam
peraturan dan pengawasan terhadap KAP antara lain :
UU No.34 tahun 1954 tentang Pemberian Gelar Akuntan
UU No. 5 tahun 2011 tentang Akuntan Publik
Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 423/KMK.06/2002 tentang Jasa
Akuntan Publik (telah dicabut dengan keluarnya Peraturan Menteri Keungan
No. 17/PMK.01/2008).
Surat Keputusan Menteri Keuangan No.359/KMK.06/2003 tentang Perubahan
atas Keputusan Menteri Keuangan No.423/KMK.06/2002 tentang Jasa
Akuntan Publik (telah dicabut dengan keluarnya Peraturan Menteri Keuangan
No. 17/PMK.01/2008).
Peraturan Menteri Keuangan No. 17/PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan
Publik. (telah dicabut dengan keluarnya UU No. 5 Tahun 2011)
Otoritas Jasa Keuangan
Peraturan perundang-undangan lain yang relevan.

KODE ETIK PROFESI AKUNTAN:


INTERNASIONAL FEDERATION OF
ACCOUNTANTS (IFAC)
Bagian A
Berisi prinsipprinsip
fundamental
Etika Profesi
yang berlaku
untuk seluruh
profesi akuntan
dan juga berisi
kerangka konsep
untuk
menerapkan
prinsip-prinsip
tersebut

Bagian B

Bagian C

Berisi penjelasan
lebih lanjut
mengenai
penerapan
kerangka konsep
dan prinsipprinsip
fundamental pada
bagian A untuk
situasi-situasi
khusus, terutama
bagi mereka yang
berpraktik
sebagai akuntan
publik

Berisi penjelasan
lebih lanjut
mengenai
kerangka konsep
dan prinsipprinsip
fundamental pada
bagian A untuk
diterapkan pada
situasi-situasi
khusus, terutama
bagi profesi
akuntan bisnis
(akuntan
manajemen)

Struktur dan Kerangka Dasar Kode


Etik IFAC
Struktur Kode Etik IFAC

Kerangka Dasar Kode Etik IFAC

Proses Menjamin Independensi


Pikiran dan Penampilan
Eliminasi
ancaman
atau kurangi sampai
ke tingkat yang dapat
diterima dengan :
-Menerapkan
pengamanan
-Profesi
-Legislasi
-Regulasi
-Didalam Klien dan
Firma

Prinsip-prinsip Fundamental Etika


IFAC:

Independensi
Independensi dalam pikiran
adalah suatu keadaan pikiran
yang
memungkinkan
pengungkapan suatu kesimpulan
tanpa terkena pengaruh yang
dapat
mengompromosikan
penilaian
profesional,
memungkinkan seorang individu
bertindak berdasarkan integritas,
serta menerapkan objektivitas
dan skeptisme profesional.

Independensi dalam penampilan


adalah penghidaran fakta dan
kondisi yang sedemikian segnifikan
sehingga pihak ketiga yang paham
dan
berfikir
rasional-dengan
memiliki pengetahuan akan semua
informasi yang relevan, termasuk
pencegahan yang diterapkan-akan
tetap dapat menarik kesimpulan
bahwa
skeptisme
profesional,
objektivitas, dan integritas anggota
firma,
atu
tim
penjaminan
(assurance
team)
telah
dikompromikan.

Prinsip-prinsip fundamental etika tidak dapat dinegosiasikan atau


dikompromikan bila seorang akuntan ingin menjaga citra profesinya yang
luhur.

Ancaman Independensi
Akuntan Publik
a)
Kepentingan diri (self-interest) adalah wujud sifat yang
lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau keluarga
dibandingkan dengan kepentingan publik yang lebih luas.
Contoh langsung Ancaman Kepentingan Diri untuk akuntan
publik : Kepentingan keuangan dalam perusaahan klien, atau
kepentingan keuangan bersama pada suatu perusaah klien.
Contoh langsung Ancaman Kepentingan Diri untuk akuntan
bisnis : Perjanjian kompensasi insentif, penggunaan harta
perusahaan yang tidak tepat.
b)
Review diri (self-review)
Contoh Ancaman Review Diri untuk akuntan publik :Temuan
kesalahan material saat dilakukan evaluasi ulang.
Contoh Ancaman Review Diri untuk akuntan bisnis, yaitu
keputusan bisnis atau data yang sedang ditinjau oleh akuntan
frofesional yang sama yang membuat keputusan bisnis atau
penyiapan data tersebut.

Lanjutan....

c)
Advokasi (advocacy) dapat timbul bila akuntan
profesional pendukung suatu posisi atau pendapat sampai titik
dimana objektivitas dapat dikompromikan.
Contoh langsung ancaman untuk akuntan publik :
Mempromosikan saham perusahaan publik dari klien, dimana
perusahaan tersebut merupakan klien audit.
d)
Kekerabatan (familiarity) timbul dari kedekatan
hubungan sehingga akuntan profesional menjadi terlalu
bersimpati terhadap kepentingan orang lain yang mempunyai
hubungan dekat dengan akuntan tersebut.
Contoh langsung Ancaman Kekerabatan untuk akuntan publik :
Anggota tim mempunyai hubungan keluarga dekat dengan
seorang direktur atau pejabat perusahaan klien.
Contoh langsung Ancaman Kekerabatan untuk akuntan bisnis :
Hubungan yang lama dengan rekan bisnis yang mempunyai
pengaruh pada keputusan bisnis.

e.)
Intimidasi (intimidation) dapat timbul jika akuntan profesional
dihalang untuk bertindak objektif, baik secara nyata maupun
dipersepsikan.
Contoh Ancaman Intimidasi untuk Akuntan Publik :Diancam dipecat
atau diganti dalam hubungannya dengan penugasan klien.
Contoh Ancaman Intimidasi untuk Akuntan Bisnis : Ancaman
pemecatan akuntan profesional dalam bisnis atau anggota keluarga
dekat atas ketidaksetujuan penerapan prinsip akuntansi atau cara
penerapannya.

PENGAMANAN TERHADAP
ANCAMAN
Ada dua kategori pokok pengamanan terhadap
Ancaman Independensi, yaitu:

KODE ETIK AKUNTAN


PUBLIK
Penerapan Prinsip-prinsip Etika Fundamental untuk Profesi Akuntan Publik
dijabarkan secara rinci pada bagian B Kode Etik IFAC dengan kode 200.
Daftar isi dan kode bagian B ini adalah:
200 Pendahuluan
210 Penunjukan Profesional dan Penerimaan Klien
220 Konflik Kenpentingan
230 Pendapat Kedua
240 Fee dan Jenis Imbalan Lainnya
250 Pemasaran Jasa Profesional
260 Hadiah dan Keramahtamahan
270 Penyimpanan Aset Klien
280 Objektivitas Semua Jasa
290 Independensi Perikatan Penjaminan

KODE ETIK AKUNTAN BISNIS


Penerapan Prinsip-prinsip Etika Fundamental untuk Profesi Akuntan Bisnis
(Akuntan Manajemen) dijabarkan secara rinci pada bagian C Kode Etik IFAC
dengan kode 300. Daftar isi dan kode bagian C ini adalah:

300 Pendahuluan
310 Potensi Konflik
320 Penyusunan dan Pelaporan Informasi
330 Bertindak dengan Keahlian yang memadai

STANDAR PROFESIONAL
AKUNTAN PUBLIK (SPAP)
Standar Profesional Akuntan Publik (disingkat SPAP) adalah kodifikasi berbagai
pernyataan standar teknis yang merupakan panduan dalam memberikan jasa bagi
Akuntan Publik di Indonesia. SPAP dikeluarkan oleh Dewan Standar Profesional
Akuntan Publik Institut Akuntan Publik Indonesia (DSPAP IAPI).
SPAP merupakan kodifikasi berbagai pernyataan standar teknis dan aturan etika.
Pernyataan standar teknis yang dikodifikasi dalam buku SPAP ini terdiri dari :

Standar Auditing
Standar auditing merupakan pedoman audit atas laporan keuangan
historis. Standar auditing terdiri atas sepuluh standar dan dirinci dalam
bentuk Pernyataan Standar Auditing (PSA). Dengan demikian PSA
merupakan penjabaran lebih lanjut masing-masing standar yang
tercantum di dalam standar auditing.
Di Amerika Serikat, standar auditing semacam ini disebut Generally
Accepted Auditing Standards (GAAS) yang dikeluarkan oleh the
American Institute of Certified Public Accountants (AICPA).

A. Pernyataan Standar Auditing


(PSA)
PSA berisi ketentuan-ketentuan dan pedoman utama yang harus diikuti
oleh Akuntan Publik dalam melaksanakan penugasan audit.
Kepatuhan terhadap PSA yang diterbitkan oleh IAPI ini bersifat wajib
bagi seluruh anggota IAPI. Termasuk didalam PSA adalah Interpretasi
Pernyataan Standar Auditing (IPSA), yang merupakan interpretasi
resmi yang dikeluarkan oleh IAPI terhadap ketentuan-ketentuan yang
diterbitkan oleh IAPI dalam PSA.

B. Standar Umum
1)
2)
3)

Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan
pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor.
Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam
sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.
Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib
menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama

C. Standar pekerjaan lapangan

Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten


harus disupervisi dengan semestinya.
Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh unutk
merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang
akan dilakukan.
Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi,
pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar
memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keungan yang diaudit.

D. Standar pelaporan

Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada, ketidakkonsistenan
penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan
dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.
Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali
dinyatakan lain dalam laporan auditor.
Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan
keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak
dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka
alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan
keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat
pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikul
oleh auditor

Standar Atestasi
Atestasi (attestation) adalah suatu pernyataan pendapat atau
pertimbangan yang diberikan oleh seorang yang independen dan
kompeten yang menyatakan apakah asersi (assertion) suatu entitas
telah sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
Asersi adalah suatu pernyataan yang dibuat oleh satu pihak yang
dimaksudkan untuk digunakan oleh pihak lain, contoh asersi dalam
laporan keuangan historis adalah adanya pernyataan manajemen
bahwa laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum.
Standar atestasi membagi tiga tipe perikatan atestasi
(1) pemeriksaan (examination),
(2) Review
(3) prosedur yang disepakati (agreed-upon procedures)

A. Standar umum

Perikatan harus dilaksanakan oleh seorang praktisi/lebih yang memiliki keahlian dan
pelatihan teknis
Perikatan harus dilaksanakan oleh seorang praktisi/lebih yang memiliki pengetahuan
cukup
Praktisi harus melaksanakan perikatan hanya jika ia memiliki alasan untuk meyakinkan
dirinya bahwa kondisi Asersi dapat dinilai dengan kriteria rasional dan Asersi tersebut
dapat diestimasi atau diukur secara konsisten dan rasional dengan menggunakan kriteria
tersebut.
Dalam semua hal yang bersangkutan dengan perikatan, sikap mental independen harus
dipertahankan oleh praktisi
Kemahiran profesional harus selalu digunakan oleh praktisi dalam melaksanakan
perikatan, mulai dari tahap perencanaan sampai dengan pelaksanaan perikatan tersebut

B. Standar pekerjaan
lapangan
1) Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika
digunakan
asisten
harus
disupervisi
dengan
semestinya
2) Bukti yang cukup harus diperoleh untuk memberikan
dasar rasional bagi simpulan yang dinyatakan dalam
laporan

C. Standar pelaporan
1) Laporan harus menyebutkan asersi yang dilaporkan dan
menyatakan sifat perikatan atestasi yang bersangkutan
2) Laporan harus menyatakan simpulan praktisi mengenai
apakah asersi disajikan sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan/kriteria yang dinyatakan.
3) Laporan harus menyatakan semua keberatan praktisi yang
signifikan tentang perikatan dan penyajian asersi
4) Laporan suatu perikatan untuk mengevaluasi suatu asersi
yang disusun berdasarkan kriteria yang disepakati.

Standar Jasa Akuntansi dan


Review
Standar jasa akuntansi dan review memberikan rerangka untuk fungsi nonatestasi bagi jasa akuntan publik yang mencakup jasa akuntansi dan review.
Sifat pekerjaan non-atestasi tidak menyatakan pendapat, hal ini sangat
berbeda dengan tujuan audit atas laporan keuangan yang dilaksanakan
sesuai dengan standar auditing.

Jasa akuntansi yang diatur dalam standar ini antara lain:

Standar Jasa Konsultansi


Standar Jasa Konsultansi merupakan panduan bagi praktisi
(akuntan publik) yang menyediakan jasa konsultansi (menyajikan
temuan, kesimpulan dan rekomendasi) bagi kliennya melalui
kantor akuntan publik.
Jasa konsultasi dapat berupa :

Standar Pengendalian
Mutu
Standar Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik (KAP)
memberikan panduan bagi kantor akuntan publik di dalam
melaksanakan pengendalian kualitas jasa yang dihasilkan
oleh kantornya dengan mematuhi berbagai standar yang
diterbitkan oleh Dewan Standar Profesional Akuntan Publik
Institut Akuntan Publik Indonesia (DSPAP IAPI) dan Aturan
Etika Kompartemen Akuntan Publik yang diterbitkan oleh
IAPI.

Unsur-unsur pengendalian mutu yang harus harus diterapkan oleh


setiap KAP pada semua jenis jasa audit, atestasi dan konsultansi
meliputi: