Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Proses pengolahan bijih besi ini dapat di olah dengan beberapa macam jenis alat, salah
satu contohnya adalah dapur tinggi listrik. Dan dalam proses bijih besi menjadi sebuah besi
atau baja juga dikenal proses sinter. Logam merupakan salah satu bahan yang berguna bagi
kehidupan manusia. Definisi menurut kamus bahasa indonesia, logam adalah mineral yang
tidak tembus pandang, dapat menjadi penghantar panas dan arus listrik. Logam sangatlah
berguna dalam kehidupan manusia mulai dari zaman dahulu sampai sekarang contohnya
digunakan untuk berbagai keperluan diantaranya untuk membuat kapal, pesawat, mobil dan
masih banyak yang dihasilkan dari bahan logam. Untuk mendapatkan suatu jenis logam
seperti besi, tembaga, perak, allumunium, perak, emas dan bahan logam lainnya diperlukan
penambangan sebab logam berada di dalam kerak bumi. Untuk mendapatkan logam sendiri
tidak langsung diambil begitu saja tetapi perlu dilakukan pemisahan agar logam yang ingin
diambil harus dipisahkan dari batuan yang pengikutnya atau waste sampai ke tahapan
metalurgi.
Besi merupakan logam kedua yang paling banyak di bumi ini. Karakter dari endapan besi
ini bisa berupa endapan logam yang berdiri sendiri namun seringkali ditemukan berasosiasi
dengan mineral logam lainnya. Kadang besi terdapat sebagai kandungan logam tanah
(residual), namun jarang yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Endapan besi yang ekonomis
umumnya berupa Magnetite, Hematite, Limonite dan Siderite. Kadang kala dapat berupa
mineral: Pyrite, Pyrhotite, Marcasite, dan Chamosite.
Metalurgi (metallurgi) adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk memperoleh logam
(metal) melalui proses fisika dan kimia serta mempelajari cara-cara memperbaiki sifat fisik
dan kimia logam murni maupun panduannya (alloy).
Besi merupakan salah satu logam yang merupakan salah satu logam yang paling umum
dan sering digunakan dalam kehidupan manusia. Besi juga merupakan salah satu logam yang
paling banyak diperoleh di perut bumi. Untuk itu makalah ini akan membahas tentang proses
pengolahan sampai tahap metalurgi.
1.2 Rumusan Masalah

Beberapa metode dalam pembuatan PCB.


Pembuatan PCB yang banyak digunakan.
Proses pembuatan PCB.
Hasil pembuatan PCB

1.3 Tujuan

Mengetahui gambar konstruksi dapur listrik.


Mengetahui proses kerja dapur listrik.
Mengetahui jenis dapur listrik.
Mengetahui keuntungan (advantage) dapur listrik.

BAB II
PENGERTIAN BESI
2.1

Klasifikasi bijih besi (iron ores).

Besi merupakan logam kedua yang paling banyak di bumi ini. Karakter dari endapan besi
ini bisa berupa endapan logam yang berdiri sendiri namun seringkali ditemukan berasosiasi
dengan mineral logam lainnya. Kadang besi terdapat sebagai kandungan logam tanah
(residual), namun jarang yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Endapan besi yang ekonomis
umumnya berupa Magnetite, Hematite, Limonite dan Siderite. Kadang kala dapat berupa
mineral: Pyrite, Pyrhotite, Marcasite, dan Chamosite.
Beberapa jenis genesa dan endapan yang memungkinkan endapan besi bernilai ekonomis
antara lain :
1. Magmatik: Magnetite dan Titaniferous Magnetite
2. Metasomatik kontak: Magnetite dan Specularite
3. Pergantian/replacement: Magnetite dan Hematite
4. Sedimentasi/placer: Hematite, Limonite, dan Siderite
5. Konsentrasi mekanik dan residual: Hematite, Magnetite dan Limonite
6. Oksidasi: Limonite dan Hematite
7. Letusan Gunung Api
Dari mineral-mineral bijih besi, magnetit adalah mineral dengan kandungan Fe paling
tinggi, tetapi terdapat dalam jumlah kecil. Sementara hematit merupakan mineral bijih utama
yang dibutuhkan dalam industri besi. Mineral-mineral pembawa besi dengan nilai ekonomis
dengan susunan kimia, kandungan Fe dan klasifikasi komersil dapat dilihat pada Tabel
dibawah ini:
Tabel mineral-mineral bijih besi bernilai ekonomis
Susunan kimia
Kandungan Fe (%)
Klasifikasi
komersil
Magnetit
FeO, Fe2O3
72,4
Magnetik atau
bijih hitam
Hematit
Fe2O3
70,0
Bijih merah
Limonit
Fe2O3.nH2O
59-63
Bijih coklat
Siderit
FeCO3
48,2
Spathic,
black band,
clay
ironstone
Sumber : Iron & Ferroalloy Metals in (ed) M. L. Jensen & A. M. Bafeman, 1981; Economic
Mineral Deposits, P. 392.
Mineral

Besi Primer
Proses terjadinya cebakan bahan galian bijih besi berhubungan erat dengan adanya
peristiwa tektonik pra-mineralisasi. Akibat peristiwa tektonik, terbentuklah struktur sesar,
struktur sesar ini merupakan zona lemah yang memungkinkan terjadinya magmatisme, yaitu

intrusi magma menerobos batuan tua. Akibat adanya kontak magmatik ini, terjadilah proses
rekristalisasi, alterasi, mineralisasi, dan penggantian (replacement) pada bagian kontak
magma dengan batuan yang diterobosnya.
Perubahan ini disebabkan karena adanya panas dan bahan cair (fluida) yang berasal dari
aktivitas magma tersebut. Proses penerobosan magma pada zona lemah ini hingga membeku
umumnya disertai dengan kontak metamorfosa. Kontak metamorfosa juga melibatkan batuan
samping sehingga menimbulkan bahan cair (fluida) seperti cairan magmatik dan metamorfik
yang banyak mengandung bijih.
Besi Sekunder
Cebakan mineral alochton dibentuk oleh kumpulan mineral berat melalui proses
sedimentasi, secara alamiah terpisah karena gravitasi dan dibantu pergerakan media cair,
padat dan gas/udara. Kerapatan konsentrasi mineral-mineral berat tersebut tergantung kepada
tingkat kebebasannya dari sumber, berat jenis, ketahanan kimiawi hingga lamanya pelapukan
dan mekanisma. Dengan nilai ekonomi yang dimilikinya para ahli geologi menyebut endapan
alochton tersebut sebagai cebakan placer.
Jenis cebakan ini telah terbentuk dalam semua waktu geologi, tetapi kebanyakan pada
umur Tersier dan masa kini, sebagian besar merupakan cadangan berukuran kecil dan sering
terkumpul dalam waktu singkat karena tererosi. Kebanyakan cebakan berkadar rendah tetapi
dapat ditambang karena berupa partikel bebas, mudah dikerjakan dengan tanpa
penghancuran; dimana pemisahannya dapat menggunakan alat semi-mobile dan relatif murah.
Penambangannya biasanya dengan cara pengerukan, yang merupakan metoda penambangan
termurah.
Cebakan-cebakan placer berdasarkan genesanya:
Genesa
Jenis
Terakumulasi in situ selama pelapukan
Placer residual
Terkonsentrasi dalam media padat yang bergerak
Placer eluvial
Terkonsentrasi dalam media cair yang bergerak
Placer aluvial atau sungai
(air)
Placer pantai
Terkonsentrasi dalam media gas/udara yang
Placer Aeolian (jarang)
bergerak
Placer residual, Partikel mineral/bijih pembentuk cebakan terakumulasi langsung di atas
batuan sumbernya (contoh : urat mengandung emas atau kasiterit) yang telah mengalami
pengrusakan/peng-hancuran kimiawi dan terpisah dari bahan-bahan batuan yang lebih ringan.
Jenis cebakan ini hanya terbentuk pada permukaan tanah yang hampir rata, dimana
didalamnya dapat juga ditemukan mineral-mineral ringan yang tahan reaksi kimia (misal :
beryl).
Placer eluvial, Partikel mineral/bijih pembentuk jenis cebakan ini diendapkan di atas
lereng bukit suatu batuan sumber. Di beberapa daerah ditemukan placer eluvial dengan
bahan-bahan pembentuknya yang bernilai ekonomis terakumulasi pada kantong-kantong
(pockets) permukaan batuan dasar.

Placer sungai atau alluvial, Jenis ini paling penting terutama yang berkaitan dengan
bijih emas yang umumnya berasosiasi dengan bijih besi, dimana konfigurasi lapisan dan berat
jenis partikel mineral/bijih menjadi faktor-faktor penting dalam pembentukannya. Telah
dikenal bahwa fraksi mineral berat dalam cebakan ini berukuran lebih kecil daripada fraksi
mineral ringan, sehubungan : Pertama, mineral berat pada batuan sumber (beku dan malihan)
terbentuk dalam ukuran lebih kecil daripada mineral utama pembentuk batuan. Kedua,
pemilahan dan susunan endapan sedimen dikendalikan oleh berat jenis dan ukuran partikel
(rasio hidraulik).
Placer pantai, Cebakan ini terbentuk sepanjang garis pantai oleh pemusatan gelombang
dan arus air laut di sepanjang pantai. Gelombang melemparkan partikel-partikel pembentuk
cebakan ke pantai dimana air yang kembali membawa bahan-bahan ringan untuk dipisahkan
dari mineral berat. Bertambah besar dan berat partikel akan diendapkan/terkonsentrasi di
pantai, kemudian terakumulasi sebagai batas yang jelas dan membentuk lapisan. Perlapisan
menunjukkan urutan terbalik dari ukuran dan berat partikel, dimana lapisan dasar berukuran
halus dan/ atau kaya akan mineral berat dan ke bagian atas berangsur menjadi lebih kasar
dan/atau sedikit mengandung mineral berat.
Placer pantai (beach placer) terjadi pada kondisi topografi berbeda yang disebabkan oleh
perubahan muka air laut, dimana zona optimum pemisahan mineral berat berada pada zona
pasang-surut dari suatu pantai terbuka. Konsentrasi partikel mineral/bijih juga dimungkinkan
pada terrace hasil bentukan gelombang laut. Mineral-mineral terpenting yang dikandung
jenis cebakan ini adalah : magnetit, ilmenit, emas, kasiterit, intan, monazit, rutil, xenotim dan
zirkon.
Mineral ikutan dalam endapan placer, Suatu cebakan pasir besi selain mengandung
mineral-mineral bijih besi utama tersebut dimungkinkan berasosiasi dengan mineral-mineral
mengandung Fe lainnya diantaranya : pirit (FeS 2), markasit (FeS), pirhotit (Fe1-xS), chamosit
[Fe2Al2 SiO5(OH)4], ilmenit (FeTiO3), wolframit [(Fe,Mn)WO4], kromit (FeCr2O4); atau juga
mineral-mineral non-Fe yang dapat memberikan nilai tambah seperti : rutil (TiO 2), kasiterit
(SnO2), monasit [Ce,La,Nd, Th(PO4, SiO4)], intan, emas (Au), platinum (Pt), xenotim
(YPO4), zirkon (ZrSiO4) dan lain-lain.
2.2

Eksplorasi Bijih Besi

Penyelidikan umum dan eksplorasi bijih besi di Indonesia sudah banyak dilakukan oleh
berbagai pihak, sehingga diperlukan penyusunan pedoman teknis eksplorasi bijih besi.
Pedoman dimaksudkan sebagai bahan acuan berbagai pihak dalam melakukan kegiatan
penyelidikan umum dan eksplorasi bijih besi primer, agar ada kesamaan dalam melakukan
kegiatan tersebut diatas sampai pelaporan.
Tata cara eksplorasi bijih besi primer meliputi urutan kegiatan eksplorasi sebelum
pekerjaan lapangan, saat pekerjaan lapangan dan setelah pekerjaan lapangan. Kegiatan
sebelum pekerjaan lapangan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai prospek
cebakan bijih besi primer, meliputi studi literatur dan penginderaan jarak jauh. Penyediaan
peralatan antara lain peta topografi, peta geologi, alat pemboran inti, alat ukur topografi, palu
dan kompas geologi, loupe, magnetic pen, GPS, pita ukur, alat gali, magnetometer,
kappameter dan peralatan geofisika.

Kegiatan pekerjaan lapangan yang dilakukan adalah penyelidikan geologi meliputi


pemetaan; pembuatan paritan dan sumur uji, pengukuran topografi, survei geofisika dan
pemboran inti.
Kegiatan setelah pekerjaan lapangan yang dilakukan antara lain adalah analisis
laboratorium dan pengolahan data. Analisis laboratorium meliputi analisis kimia dan fisika.
Unsur yang dianalisis kimia antara lain : Fe total, Fe2O3, Fe3O4, TiO2, S, P, SiO2, MgO, CaO,
K2O, Al2O3, LOI. Analisis fisika yang dilakukan antara lain : mineragrafi, petrografi, berat
jenis (BD). Sedangkan pengolahan data adalah interpretasi hasil dari penyelidikan lapangan
dan analisis laboratorium.
Tahapan eksplorasi adalah urutan penyelidikan geologi yang umumnya dilakukan
melalui empat tahap sbb : Survei tinjau, prospeksi, eksplorasi umum, eksplorasi rinci. Survei
tinjau, tahap eksplorasi untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang berpotensi bagi
keterdapatan mineral pada skala regional. Prospeksi, tahap eksplorasi dengan jalan
mempersempit daerah yg mengandung endapan mineral yg potensial. Eksplorasi umum,
tahap eksplorasi yang rnerupakan deliniasi awal dari suatu endapan yang teridentifikasi .
Eksplorasi rinci, tahap eksplorasi untuk mendeliniasi secara rinci dalarn 3-dimensi
terhadap endapan mineral yang telah diketahui dari pencontohan singkapan, paritan, lubang
bor, shafts dan terowongan.
Penyelidikan geologi adalah penyelidikan yang berkaitan dengan aspek-aspek geologi
diantaranya : pemetaan geologi, parit uji, sumur uji. Pemetaan adalah pengamatan dan
pengambilan conto yang berkaitan dengan aspek geologi dilapangan. Pengamatan yang
dilakukan meliputi : jenis litologi, mineralisasi, ubahan dan struktur pada singkapan,
sedangkan pengambilan conto berupa batuan terpilih.
Penyelidikan Geofisika adalah penyelidikan yang berdasarkan sifat fisik batuan, untuk
dapat mengetahui struktur bawah permukaan, geometri cebakan mineral, serta sebarannya
secara horizontal maupun secara vertical yang mendukung penafsiran geologi dan geokimia
secara langsung maupun tidak langsung.
Pemboran inti dilakukan setelah penyelidikan geologi dan penyelidikan geofisika.
Penentuan jumlah cadangan (sumberdaya) mineral yang mempunyai nilai ekonomis adalah
suatu hal pertama kali yang perlu dikaji, dihitung sesuai standar perhitungan cadangan yang
berlaku, karena akan berpengaruh terhadap optimasi rencana usaha tambang, umur tambang
dan hasil yang akan diperoleh.
Dalam hal penentuan cadangan, langkah yang perlu diperhatikan antara lain :
Memadai atau tidaknya kegiatan dan hasil eksplorasi.
Kebenaran penyebaran dan kualitas cadangan berdasarkan korelasi seluruh data
eksplorasi seperti pemboran, analisis conto, dll.
Kelayakan penentuan batasan cadangan, seperti Cut of Grade, Stripping Ratio,
kedalaman maksimum penambangan, ketebalan minimum dan sebagainya bertujuan
untuk mengetahui kondisi geologi dan sebaran bijih besi bawah permukaan.
Umumnya terdapat di alam Indonesia mempunyai kadar besi (Fe) sekitar 35% 40%
berbentuk besi oksida hematit (Fe2O3) dan bercampur dengan material ikutan seperti SIO2,
Al2O3, CaO, MgO, TiO2, Cr2O3, NiO2, P, S dan H2O.

Untuk meningkatkan kadar besi (Fe) hingga 60-65% diperoleh melalui tahapan proses:
1. Proses Penghancuran (Crushing)
Bahan baku dalam bentuk batuan atau pasir dihancurkan sampai ukuran menjadi mesh
10. Dimaksudkan untuk memperbesar luas permukaan dari material sehingga memudahkan
untuk proses selanjutnya.
2. Proses Penghalusan (Grinding)
Dimaksudkan agar butiran halus bijih besi lebih banyak lagi terpisah dengan kotoran atau
mineral mineral ikutan yang tidak diinginkan, proses ini sampai menhasilkan ukuran 120
mesh.
3. Proses Pemisahan (Magnetic Separator)
Untuk memisahkan material logam dan non logam dengan pencucian dengan
menggunakan air dalam mesin silender yang dilapisi magnet apabila bijih besi tersebut
banyak mengandung hematit Fe2O3 atau magnetit (Fe3O4) akan terpisah sempurna sehingga
kemurnian dari oksida besi meningkat.
4. Proses Pemanggangan (Roasting)
Proses ini dilakukan material bijih besi banyak mengandung bijih hematit (Fe2O3) diubah
menjadi magnetit (Fe3O4) yang mempunyai daya magnit lebih kuat sehingga terpisah antara
material yang non magnet dan dihasilkan kadar Fe sampai 65%.
5. Proses Kalsinasi (Rotary Dryer)
Proses ini bertujuan untuk mengurangi kandungan air dalam material, material
diumpankan ke silinder yang berputar dengan arah yang berlawanan (counter current)
Dihembuskan gas panas dari burner (temp. 200-300oC).
6. Proses Pembuatan Pellet (Pan Palletizer)
Sebelum masuk ke alat ini material bijih besi dicampur dalam alat mixer agitator dengan
komposisi tertentu ditambahkan batubara dan binder bentonit dengan tujuan agar konsentrat
besi oksida halus dapat merekat membentuk gumpalan-gumpalan (aglomerisasi yang disebut
pellet basah (green pellet) yang mempunyai kekuatan yang cukup kuat untuk dapat dibawa ke
proses selanjutnya, sedang batubara fungsinya untuk meningkatkan kadar besi dengan cara
proses reduksi dari internal pada proses selanjutnya.
Prinsip kerja dari alat ini adalah proses aglomerisasi konsentrat bijih besi yang telah
bercampur batubara dan binder bentonit dimasukkan secara kontinyu kedalam mesin
pelletizing yang berbentuk setengah drum/bejana yang berputar dengan kecepatan dan sudut
kemiringan tertentu sambil disemprotkan air secara kontinyu.
Akibat perputaran ini terjadilah gaya centrifugal yang menyebabkan partikel-partikel halus
saling mendekat dan menekan satu sama lain sehingga terbentuklah gumpalan-gumpalan
pellet basah (green pellet) sampai ukuran diameter 12 mm dan mempunyai kuat tekan 5
kg/pellet dan kuat jatuh 5 kali, hal ini diperlukan agar tidak pecah selama proses handling
atau tranportasi ke proses berikutnya.
7. Proses Reduksi (Rotary Kiln)
Proses ini bertujuan untuk memurnikan kandungan besi oksida menjadi besi murni dengan
cara proses reduksi external dengan gas alam (gas CO) dan reduksi Internal dari Batubara

Dengan temperatur 1700C akibat dari proses ini material oksida besi akan terpisah
membentuk besi murni (Fe 92%) dan oksidanya membentuk gas CO2. Prinsip kerjanya
material berbentuk pellet diumpankan ke silinder yang berputar dengan RPM dan sudut
kemiringan tertentu kemudian dihembuskan gas panas dari arah berlawanan (counter current)
kemudian dari titik titik tertentu di semprotkan gas CO dari gas alam sehingga akan terjadi
proses reduksi dari internal maupun external.
Kemudian material tersebut didinginkan di pendingin cooler sampai temperatur 60C dan
siap untuk dikemas atau curah. Hasil yang keluar dari alat ini sudah merupakan produk
sponge iron yang berupa pellet dengan qualitas sesuai produk standart ASTM, JIS, DIN dan
mempunyai kekuatan tekan 250mpa dengan diameter 12-15 mm.
8. Produksi Pig Iron
Hasil pellet (green pellet) yang dihasilkan dari proses pelletizer dimasukkan dalam tungku
(blast furnace) dimasukkan larutan kapur, gas CO sebagai zat pereduksi dengan temperatur
tertentu, kemudian akan mengalami proses pelelehan (melting) sehingga terpisah antara
kandungan yang banyak mengandung logam besi (Fe) dan akan terpisah karena perbedaan
berat jenis dari kotorannya (slag), kemudian kandungan besinya akan masuk ke mesin casting
(cetak) sesuai kebutuhan dengan kandungan Fe total 95% dalam produk jadi Pig Iron.
2.3

Konstruksi mesin-mesin pengolah bijih besi (iron ores)

2.3.1 Dapur tinggi


Proses produksi didalam dapur tinggi terdiri atas 4 tahap :
1. Proses pemasukan muatan
2. Proses reduksi
3. Proses pencairan
4. Hasil produksi dapur tinggi
1. Proses Pemasukan Muatan
Yang dimaksud dengan muatan dapur tinggi adalah isi dari dapur tinggi yang terdiri atas
bahan bakar kokas, biji besi dan bahan tambah yang berupa batu kapur.
2. Proses Reduksi
Reduksi yaitu Oksid arang dan kokas serta zat arang C. Proses ini terjadi sangat cepat.
Pada proses reduksi terbagi menjadi 3 daerah, yaitu:
Daerah pengeringan
Daerah paling atas, terdapat gas CO2
Daerah reduksi
Muatan akan mulai melebur dan bergerak kebawah mendekati daerah pencairan
Daerah pencairan
3. Proses Pencairan
Muatan dapur tinggi yang berisi kokas, biji besi dan batu kapur setelah mengalami
pemanasan akan bergerak kebawah. Dalam perjalanan dari atas ke bawah mengalami proses
reduksi.
4. Hasil produksi dapur tinggi
- Besi kasar sebagai bahan dasar pembuatan baja
- Terak
- Gas dapur tinggi

2.3.3 Jaw Crusher (Alat pemecah)


Crusher berfungsi untuk memecahkan batuan alam menjadi ukuran yang lebih kecil
sesuai spesifikasi yang dibutuhkan. Selain memisahkan batuan hasil pemecahan dengan
menggunakan saringan atau screen. Crusher terdiri dari beberapa bagian yaitu crusher primer,
crusher sekunder, crusher tersier. Setelah batuan diledakan, batuan dimasukan kedalam
crusher primer. Hasil dari crusher primer dimasukan kedalam sekunder untuk mendapatkan
hasil yang diinginkan. Bila hasil crusher sekunder belum memenuhi spesifikasi yang
ditetapkan maka batuan diolah kembali di crusher tersier dan seterusnya. Peralatan
penghancur zat padat dibagi atas mesin pemecah (crusher)mesin giling (grinder), mesin
giling ultrahalus (ultrafine grinder) dan mesin potong (cutting machine) . Mesin pemecah
bertugas melakukan kerja berat memecah bongkah-bongkah besar menjadi kepingankepingan kecil. Mesin pemecah primer digunakan untuk mengerjakan bahan mentah hasil
tambang dan dapat menampung segala macam yang keluar dari muka tambang dan
memecahkannya menjadi kepingan kepingan antara 6-10 inchi. Mesin pemecah sekunder
bertugas untuk memecahkan lagi kepingan-kepingan menjadi partikel yang ukurannya,
barangkali 0.25 inchi .Untuk pemecah secara komersil dalam ukuran of masses of solids 1 ft
atau lebih, berdiameter sampai dengan 200-mesh, setidaknya akan melalui 3 tahapan
berdasarkan tipe mesinnya.
3 stage yang dilalui adalah :
1. Coarse size reduction ( reduksi ukuran kasar ) : umpan 2-96 in
2. Intermediate size reduction (reduksi ukuran intermedium) : umpan 1-3 in
3. Fine size reduction ( reduksi ukuran halus) : umpan 0.25-0.5 in
Table. Jenis crusher beserta rasio reduksi
Tipe crusher
Jaw
Gyratory
True
Cone (standard)
Roll
Single roll
Double roll
Impact

1.

Rasio reduksi
4: 9:1
3:1 10:1
4:1 6:1
Maksimum 7:1
Maksimum 3:1
Sampai 15:1

Jaw crusher
Jaw crusher diperkenalkan oleh Blake dan Dodge , dan beroperasi dengan menerapkan
penghancur bertekanan. Merupakan salah satu peralatan pemecah batu yang paling terkenal
di dunia. Jaw Crusher sangat ideal dan sesuai untuk penggunaan pada saat penghancuran
tahap pertama dan tahap kedua. Memiliki kekuatan anti-tekanan dalam menghancurkan
bahan paling tinggi hingga dapat mencapai 320 Mpa.
Keuntungan stone crusher model jaw crusher ini antara lain :

1. struktur sangat sederhana sehingg perawatannya mudah


2. kapasitas yang fleksibel
3. Proteksi dari over load
4. Efisiensi tinggi dan biaya operasi yang rendah
5. Hasil akhir partikel dan rasio hancur yang baik
Untuk pengolahan mineral pertambangan, jaw crusher dapat digunakan untuk pengolahan
menghancurkan bauksit, bijih tembaga, bijih emas, bijih besi, bijih timah, mangan, bijih
perak, bijih seng, alunite, aragonit, arsenik, aspal, ball clay, barit, basal, bentonit, kokas,
beton, dolomit, feldspar, granit, kerikil, gipsum, kaolin, batu kapur, marmer, kuarsa, pasir
silika, dll. Sering digunakan sebagai peralatan pengolahan primer, sehingga jaw crusher
dianggap memiliki kelebihan dalam pemeliharaan mudah dan baik untuk instalasi.
Jaw crusher dapat mencapai rasio 4-6 dan menghancurkan bentuk produk akhir. Mereka
banyak diterapkan untuk menghancurkan kekerasan tinggi, kekerasan pertengahan dan batu
lunak dan bijih seperti terak, bahan bangunan, marmer, dll. Kekuatan resistensi tekanan di
bawah 350Mpa, yang, cocok untuk menghancurkan primer. Jaw crusher bisa digunakan
dalam kimia pertambangan, industri metalurgi, konstruksi, jalan dan bangunan kereta api,,
kemahiran, dll
Prinsip Kerja Mesin Jaw Crusher:
Jaw Crusher bekerja mengandalkan kekuatan motor . Melalui roda motor, poros
eksentrik digerakkan oleh sabuk segitiga dan slot wheel untuk terdiri dari jaw plate, jaw plate
yang bergerak dan side-lee board dapat dihancurkan dan diberhentikan membuat jaw plate
bergerak seirama. Oleh karena itu, material dalam rongga penghancuran yang melalui
pembukaan pemakaian.
kerja alat ini adalah dengan menggerakan salah satu jepit, sementara jepit yang lain
diam. Tenaga yang dihasilkan oleh bagian yang bergerak mampu menghasilakn tenaga untuk
menghancurkan batuan yang keras. Kapasitas jaw crusher ditentukan oleh ukuran
crusher.Alat pemecah rahang ini terutama dipakai untuk memecah bahan olahan berupa bijihbijih atau batu-batu. Bahan olahan ini ini dipecah diantara dua rahang besi atau baja.
Konstruksinya mempunyai sepasang rahang yang satu diam dan yang satunya bergerak maju
mundur ( bolak-balik ). Proses pemecahan bahan olahan dari pemecah rahang ini berlangsung
berkala dengan cara tekanan & potongan.
Jaw crusher ada 2 jenis, yaitu:
1. Jaw crusher system blake ( titik engsel diatas )
2. Jaw crusher system dodge ( titik engsel dibawah )
1. Sistem Blake dgn ciri-ciri titik engsel di atas, bagian bawah bergerak mundur maju
CARA KERJA :
Suatu eksentrik menggerakkan batang yang dihubungkan dengan dua toggle, togel
yang satu dipakukan pada kerangka dan satu lagi ke rahang ayun. Titik pivat terletak pada
bagian atas rahang gerak atau diatas kedua rahang pada garis tengah bukan rahang. Pada
system ini, umpan dimasukkan kedalam rahang berbentuk V yang terbuka ke atas. Satu
rahang tetap dan tidak bergerak, sedangkan rahang yang satu lagi membuat sudut 20 derajat
30 derajat dan dapat bergerak maju mundur yang digerakkan oleh sumbu eksentrik, sehingga
memberikan kompresi yang besar terhadap umpan yang terjepit diantara dua rahang. Muka
rahang ini mempunyai alur dangkal yang horizontal. Umpan besar yang terjepit antara bagian

atas rahang dipecah dan jatuh keruang bawahnya yang lebih sempit dan dipecah. Pada mesin
ini baut pecah yang berfungsi sebagai penahan apabila terdapat material solid dengan ukuran
yang lebih besar dan keras maka dia akan pecah dengan sendirinya tetapi tidak akan merusak
keseluruhan dari pada alat jaw crusher.

2.4

Proses dan hasil proses sintering

Sintering merupakan proses pemanasan dibawah titik leleh dalam rangka membentuk
fase kristal baru sesuai dengan yang diinginkan dan bertujuan membantu mereaksikan bahanbahan penyusun baik bahan keramik maupun bahan logam.
Proses sintering akan berpengaruh cukup besar pada pembentukan fase kristal bahan.
Fraksi fase yang terbentuk umumnya bergantung pada lama dan atau suhu sintering. Semakin
besar suhu sintering dimungkinkan semakin cepat proses pembentukan kristal tersebut. Besar
kecilnya suhu juga berpengaruh pada bentuk serta ukuran celah dan juga
berpengaruh pada struktur pertumbuhan kristal (setyowati, 2008).
Suhu sintering dapat ditentukan dari eksperimen termal seperti DTA, DTG, dan DSC.
Berdasarkan hasil eksperimen ini diperoleh suhu lelehan selain suhu dekomposisi. Setiap
komposisi senyawa tertentu memiliki titik leleh berbada. Sintering bahan keramik biasanya
ditentukan sekitar 75% dari titik leleh total .
Pada proses sintering, terjadi proses pembentukan fase baru melalui proses pemanasan
dimana pada saat terjadi reaksi komponen pembentuk masih dalam bentuk padat dari
campuran serbuk. Hal ini bertujuan agar butiran-butiran (grain) dalam partikel-partikel yang
berdekatan dapat bereaksi dan berikatan. Proses sintering fase padat terbagi menjadi tiga
padatan, yaitu:
a. Tahap awal
Pada tahap awal ini terbentuk ikatan atomik. Kontak antar partikel membentuk leher
yang tumbuh menjadi batas butir antar partikel. Pertumbuhan akan menjdi semakin cepat
dengan adanya kenaikan suhu sintering. Pada tahap ini penyusutan juga terjadi akibat
permukaan porositas menjadi halus.
b. Tahap menengah
Pada tahap ini terjadi desifikasi dan pertumbuhan partikel yaitu butir kecil larut dan
bergabung dengan butir besar. Akomodasi bentuk butir ini menghasilkan pemadatan yang
lebih baik. Pada tahap ini juga berlangsung penghilangan porositas. Akibat pergeseran batas
butir, porositas mulai saling berhubungan dan membentuk silinder di sisi butir.
c. Tahap akhir
Fenomena desifikasi dan pertumbuhan butir terus barlangsung dengan laju yang lebih
rendah dari sebelumnya. Demikian juga dengan proses penghilangan porositas, pergeseran
batas butir terus berlanjut. Apabila pergeseran batas butir lebih lambat daripada porositas
maka porositas akan mucul dipermukaan dan saling berhubungan. Akan tetapi jika
pergeseran batas butir lebih cepat daripada porosositas maka porositas akan mengendap di
dalam produk dan akan sulit dihilangkan
Produk yang dihasilkan diharapkan memiliki densitas yang tinggi dan homogen,
maka pada proses sintering harus terjadi homogenisasi. Jika terdapat lapisan

oksida pada serbuk logam, proses sintering yang diharapkan bisa menjadi lebih lambat.
Selain lapisan oksida ini menyebabkan produk yang dihasikan menjadi lebih getas, lapisan
oksida tersebut juga menghambat proses difusi antar partikel serbuk saat sintering dan
meningkatkan temperatur sintering. Lapisan oksida yang menempel pada serbuk terbentuk
akibat kontak antar permukaan serbuk dengan udara dan akibat perlakuan yang diterima
serbuk saat proses produksi metalurgi serbuk berlangsung. Oksida pada serbuk dapat
diminimalkan dengan mengalirkan gas reduksi sebelum atau sewaktu sintering berlangsung.

Hasil proses sintering


1.
2.
3.
4.
5.

Plat.
Hot wheel (roda gila).
Gear (gear mesin).
Baut dan mur.
As dan pipa besi.

Besi Plat
Adalah bahan baku dalam pembuatan berbagai macam mesin dan kebutuhan industri lainya.
seperti pembuatan mobil, kapal dan berbagai macam alat transportasi. selain itu Besi plat juga
bisa di pergunakan untuk pembuatan berbagai macam keperluan alat-alat rumah tangga. bisa
juga di pergunakan untuk dasar bahan bangunan.
Roda gila
adalah sebuah roda yang dipergunakan untuk meredam perubahan kecepatan putaran dengan
cara memanfaatkan kelembaman putaran (moment inersia). Karena sifat kelembamannya ini
roda gila dapat menyimpan energi mekanik untuk waktu singkat. Roda gila dipergunakan
untuk membuat torsi yang dihasilkan oleh motor bakar lebih stabil.
Gear (gear mesin)
Gear adalah pengubahsuaian roda dan gandar. Gear merupakan mesin ringkas yang terdiri
daripada roda yang mempunyai gigi atau bergerigi.
Baut dan Mur
Baut dan mur digunakan untuk mengencangkan part-part di berbagai macam area kendaraan.
Terdapat berbagai macam tipe baut dan mur tergantung pada penggunaannya. Adalah penting
untuk mengetahuinya agar dapat melakukan perawatan dengan benar.
Pipa Besi
Di antara semua pipa baja lainnya, pipa baja bulat yang lebih sering digunakan. Pipa-pipa
baja bulat yang paling banyak digunakan dalam industri konstruksi. Menurut aplikasi yang
berbeda, pipa baja bulat memiliki diameter yang berbeda. Pipa-pipa ini dapat disesuaikan
dengan mudah. Pipa baja ini tersedia dalam ketebalan yang berbeda, panjang diameter yang
berbeda, dan dalam kualitas yang berbeda. Umumnya, pipa baja bulat yang tinggi tahan
korosi, reformable ketangguhan, tinggi dan memiliki kekuatan yang lebih tinggi.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini diantaranya :
1. Proses metalurgi bertujuan untuk meningkatkan kadar besi lebih tinggi dan memenuhi
standar untuk dipasarkan.
2. Untuk meningkatkan kadar besi (Fe) hingga 60-65% diperoleh melalui tahapan proses
diantaranya : Proses Penghancuran (Crushing), Proses Penghalusan (Grinding), Proses
Pemisahan (Magnetic Separator), Proses Pemanggangan (Roasting), Proses Kalsinasi
(Rotary Dryer), Proses Pembuatan Pellet (Pan Palletizer), Proses Reduksi (Rotary Kiln),
Produksi Pig Iron.