Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

PENDEKATAN KONSELING REALITAS


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Teori Teori Konseling II
Oleh :
1. Tri Sugeng Adek Purnomo (1114500103)
2. Fathurrohman

(1114500076)

3. Ainun Nuril Haq

(1114500045)

4. Tri Wulan Ningsih

(1114500101)

Kelas

: 3-D BK

Dosen Pengampu

: Hastin Budisiwi, S.Psi ,. M.Pd

PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2015
1

KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW.

Berkat

limpahan

dan rahmat-Nya

penyusun mampu menyelesaikan tugas mata kuliah Teori- Teori Konseling II


yang berjudul Pendekatan Konseling Realitas.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Teori
Teori Konseling II yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai
sumber informasi, referensi, dan berita. Makalah ini di susun oleh penyusun
dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang
datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari
Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa
Universitas Pancasakti. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan
dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing kami meminta
masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang akan
datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca. Terima kasih.

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman Judul......................................................................................

Kata Pengantar......................................................................................

ii

Daftar Isi...............................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..........................................................................

B. Rumusan Masalah.....................................................................

C. Tujuan.......................................................................................

D. Metode Penelitian .

BAB II PEMBAHASAN
A. Nama Pendekatan dan Tokoh....................................................

B. Konsep Dasar Pendekatan Konseling Realitas.........................

C. Asumsi Perilaku Bermasalah....................................................

D. Tujuan Konseling Realitas........................................................

E. Peran Konselor Terhadap Konseling Realitas...........................

F. Diskripsi Proses dan Teknik Konseling Realitas......................

10

G. Kelebihan dan Keterbatasan Konseling Realitas......................

13

H. Contoh Penerapan Konseling Realitas......................................

14

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan...............................................................................

16

B. Saran.........................................................................................

17

DAFTAR PUSTAKA............................................................................

iv

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Masalah


Konseling merupakan proses belajar yang menekankan

dialog Rasional dengan klien. Konselor secara verbal aktif


mengajukan banyak pertanyaan tentang situasi kehdupan klien
sekarang. Konselor menggunakan pertanyaan pada seluruh
proses konseling untuk membantu klien menyadari tingkah
lakunya, membuat pertimbangan nilai atas tingkah lakunya, dan
membangun rencana pengubahan tingkah laku. Konseling Realita
pada hakikatnya menentang pendekatan konseling lain yang
memperlakukan klien sebagai individu yang sakit. Disamping itu
konseling realita memerankan konselor sebagai guru yang
menciptakan kondisi yang kondusif mengajar, dan memberikan
contoh serta mengajak klien untuk menghadapi realita. Dan
untuk lebih jelas akan kami paparkan di makalah ini.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai
berikut:
1. Apa Pendekatan dan siapa tokoh ?
2. Apa konsep dasar Pendekatan Realitas ?
3. Apa saja Asumsi perilaku bermasalah Pendekatan Konseling
Realitas?

4. Apa tujuan Pendekatan Konseling Realitas?


5. Apa peran konseling Dalam Pendekatan Konseling Realitas ?
6. Apa Deskripsi Konsep dasar Pendekatan Konseling Realitas?
7. Apa saja teknik Pendekatan Konseling Realitas?
8. Apa Kelebihan dan keterbatasan dari Pendekatan Konseling
Realitas
9. Contoh Penerapan Pendekatan Konseling Realitas?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mahasiswa mampu memahami Nama Pendekatan dan tokoh
Pendekatan Konseling Realitas
2. Mahasiswa mampu memahami Konsep dasar Pendekatan
Konseling Realitas
3. Mahasiswa mampu memahami asumsi perilaku bermasalah
Pendekatan Konseling Realitas
4. Mahasiswa mampu memahami tujuan Pendekatan Konseling
Realitas
5. Mahasiswa

mampu

memahami

Peran

konseling

dalam

Pendekatan Konseling Realitas


6. Mahasiswa mampu memahami deskripsi konseling dalam
Pendekatan Konseling Realitas
7. Mahasiswa mampu memahami teknik konseling
8. Mahasiswa mampu memahami kelebihan dan keterbatasan
Pendekatan Konseling Realitas
9. Mahasiswa
mampu
mengetahui

contoh

penerapan

Pendekatan Konseling Realitas


1.4 Metode Penulisan
Metode

penulisan

makalah

ini

adalah

dengan

menggunakan kajian pustaka, yakni dengan mengkaji buku-buku


yang sesuai dengan topik yakni Pendekatan Konseling Realitas
dan mencari referensi yang lain di internet.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Nama dan Tokoh Pendekatan Realitas


1. Pengertian Pendekatan Realitas
Terapi realitas adalah suatu sistem yang difokuskan kepada
tingkah laku sekarang. Terapis berfungsi sebagai guru dan model
serta mengkonfrontasikan klien dengan cara-cara yang bisa
membantu menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhankebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang
lain. Inti terapi realitas adalah penerimaan tanggung jawab
pribadi, yang dipersamakan dengan kesehatan mental.
Terapi

realitas

yang

menguraikan

prinsip-prinsip

dan

prosedur-prosedur yang dirancang untuk membantu orang-orang


dalam mencapai suatu identitas keberhasilan dapat diterapkan
pada

psikoterapi,

konseling,

pengajaran,

kerja

kelompok,

konseling perkawinan, pengelolaan lembaga dan perkembangan


masyarakat. Terapi realitas meraih popularitas di kalangan

konselor sekolah, para guru dan pimpinan sekolah dasar dan


menengah, dan para pekerja rehabilitasi.
Sedangkan menurut Paul D. Meier, dkk., terapi realitas
yang

diperkenalkan

perhatiannya
dengan

oleh

terhadap

kelakuan

memperhatikan

melakukan

hal

yang

William

tiga

baik

Glasser

yang

hal

bertanggung

(3-R):

(do right),

memusatkan

realitas

dan

jawab,
(reality),

tanggungjawab

(responsiblility).
Individu harus berani menghadapi realitas dan bersedia untuk
tidak mengulangi masa lalu. Hal penting yang harus dihadapi
seseorang adalah mencoba menggantikan dan melakukan intensi
untuk masa depan. Seorang terapis bertugas menolong individu
membuat rencana yang spesifik bagi perilaku mereka dan
membuat sebuah komitmen untuk menjalankan rencana-rencana
yang telah dibuatnya. Dalam hal ini identitas diri merupakan satu
hal penting kebutuhan sosial manusia yang harus dikembangkan
melalui interaksi dengan sesamanya, maupun dengan dirinya
sendiri. Perubahan identitas biasanya diikuti dengan perubahan
perilaku di mana individu harus bersedia merubah apa yang
dilakukannya dan mengenakan perilaku yang baru. Dalam hal ini
terapi realitas dipusatkan pada upaya menolong individu agar
dapat memahami dan menerima keterbatasan dan kemampuan
dalam dirinya.
2. Biografi
William

Glasser

mengembangkan

adalah

konseling

seorang

realitas

pada

psikiater
tahun

yang

1950-an.

Gllassser mengembangkan teori ini karena merasa tidak puas


dengan

praktek

psikiatri

yang

telah

ada

dan

dia

mempertanyakan dasar-dasar keyakinan terapi yang berorientasi


kepada Freudian.

Glasser dilahirkan pada tahun 1925 dan dibesarkan di


Cleveland, Ohio. Pada mulanya Glasser belajar dibidang teknik
kimia di Universitas Case Institute Of Technology. Pada usia 19
tahun ia dilaporkan sebagai penderita shyness atau rasa malu
yang akut
Pada perkembangan selanjutnya Glasser tertarik studi
psikologi, kemudian dia mengambil program psikologi klinis pada
Western Reserve University dan membutuhkan waktu tiga tahun
untuk meraih gelar Ph.D ahirnya Glasser menekuni profesinya
dengan menetapkan diri sebagai psikiater.
Setelah

beberapa

waktu

melakukan

praktek

pribadi

dibidang klinis Glasser mendapatkan kepercayaan dari California


Youth Authority sebagai kepala psikiater di Ventura School For
Girl. Mulai saat itulah Glasser melakukan eksperimen tentang
prinsip dan teknik reality terapi.
Pada awalnya, William Glasser menolak model Freud dan
pada tahun 1961 dia menggabungkan model Freud dengan
model yang dikembangkannya sendiri, kemudian dikenal dengan
nama terapi realitas. Inti terapi realitas, yang saat ini diajarkan di
seluruh dunia adalah bahwa kita semua bertanggung jawab atas
apa yang kita pilih untuk dilakukan. Asumsi dasarnya adalah kita
semua mampu mengendalikan hidup kita saat ini. Di akhir tahun
1970-an, Glasser mencari sebuah teori yang dapat menjelaskan
semua karyanya. Glasser belajar tentang Control Theory dari
William Powers, dan dia percaya bahwa teori ini memiliki potensi
yang besar.
Pada tahun 1969 Glasser berhenti bekerja pada Ventura
dan mulai saat itu mendirikan Institute For Reality Theraphy Di
Brent Wood. Selanjutnya menyelenggarakan educator treaning
centre yang bertujuan meneliti dan mengembangkan programprogram untuk mencegah kegagalan sekolah. Banyak pihak yang

dilatih dalam lembaganya ini antara lain: perawat, pengacara,


dokter, polisi, psikolog, pekerja social dan guru.
Pada 20 tahun berikutnya, dia memperluas, merevisi,
mengklarifikasi apa yang telah dia ajarkan. Pada tahun 1996,
Glasser telah merasa yakin bahwa revisi-revisi ini telah merubah
control theory dan kemudian dia merubah nama teori tersebut
menjadi choice theory untuk merefleksikan semua yang telah dia
kembangkan. Dalam beberapa buku terbarunya, Glasser (1998,
2000, 2003) menguraikan dasar-dasar teori terbarunya yang
dikenal dengan nama terapi realitas baru.
B.

Konsep Dasar Konseling Realitas


a. Hakekat Manusia dalam Konseling Realitas
1. Manusia terlahir dengan lima kebutuhan dasar, yaitu
kebutuhan bertahan (survival), kebutuhan mencintai dan
memiliki

(love

and

belonging),

kebutuhan

kekuasaan

(power), kebutuhan kebebasan (freedom/independence),


dan kebutuhan kesenangan (fun).
2. Perbedaan antara apa yang diinginkan dengan persepsi
tentang apa yang diperoleh merupakan sumber utama
dalam bertindak pada suatu peristiwa
3. Semua perilaku manusia dibentuk oleh tindakan (acting),
pikiran (thinking), perasaan (feeling) dan kondisi fisiologis
(physiology
4. Perilaku manusia berasal dari dalam diri; karenanya
manusia harus bertanggungjawab atas segala perilakunya
5. Manusia melihat dunia melalui sistem perseptual

b. Pandangan tentang Pribadi tidak Sehat


1. Pendekatan konseling realita meyakini bahwa tindakan
manusia merupakan hasil dari pilihan yang dibuatnya
2. Individu membuat pilihan maka diharapkan dia mampu
membuat pilihan yang bertanggungjawabkemampuan
untuk

memilih

tindakan

yang

akan

dilakukan

untuk

memenuhi kebutuhannya tanpa menghalangi orang lain


untuk memenuhi kebutuhannya
3. Pribadi salah suai terjadi ketika individu tidak mampu
mengarahkan perilakunya dalam memenuhi kebutuhannya
berdasarkan

prinsip

tanggung

jawab

(responsibility),

kenyataan (reality), dan norma (right)


c. Pokok inti Konseling Realitas
Ada dua pokok inti dalam konseling realitas yang dijadikan
sebagai titik tolak kegiatan pada konseling Realitas dalam
menganalisis masalah-masalah klein, antara lain :
1. 3 R (Right, Reality Dan Responbility)
a) Right : adalah kebenaran dari tingkah laku seseorang
dengan standar norma yang berlaku baik itu norma
agama, hukum, dan lain-lain.
b) Reality : adalah kenyataan, yaitu individu bertingkah
laku sesuai dengan kenyataan yang ada.
c) Responbility : adalah bertanggung jawab, yaitu tingkah
laku dalam memenuhi kebutuhan dengan menggunakan
cara yang tidak merugikan orang lain.

10

2. Identitas

Keberhasilan

(Success

Identity)

dan

Identitas Kegagalan (Failure Identity)


Dalam proses perkembangan hidup seorang individu,
terdapat kecenderungan dalam dirinya untuk menganut
suatu perasaan success identity dan failure identity.
Tujuan

dari

konseling

realitas

adalah

agar

individu

mencapai identitas keberhasilan.

d. Karakteristik Konseling Realitas


Terapi Realitas Sekurang-kurangnya ada delapan ciri yang
menentukan terapi realitas sebagai berikut.
1. Terapi Realitas Menolak Konsep Tetang Penyakit Mental.
Ia

berasumsi

bahwa

bentuk-bentuk

gangguan

tingkah laku yang spesifik adalah akibat dari ketidak


bertanggung jawaban. Pendekatan ini tidak berurusan
dengan diagnosis-diagnosis psikologis.
2. Terapi realitas berfokus pada tingkah laku sekarang alihalih pada perasaan-perasaan dan sikap-sikap. Meskipun
tidak menganggap perasaan-perasaan dan sikap-sikap itu
tidak penting, terapi realitas menekankan kesadaran atas
tingkah- laku sekarang.
3. Terapi realitas berfokus pada saat sekarang, bukan kepada
masa lampau. Karena masa lampau seseorang itu telah

11

tetap dan tidak bisa diubah, maka yang bisa diubah


hanyalah saat sekarang dan masa yang akan datang.
4. Terapi realitas menekankan pertimbangan-pertimbangan
nilai. Terapi realitas menempatkan pokok kepentingannya
pada peran klien dalam menilai kualitas tingkah lakunya
sendiri dalam menentukan apa yan g membantu kegagalan
yang dialaminya.
5. Terapi realitas tidak menekankan transferensi.
Ia tidak memandang konsep tradisional tentang
transferensi sebagai hal yang penting. Ia memandang
trasferensi sebagai suatu cara bagi terapis untuk tetap
bersembunyi sebagai pribadi. Glasser (1965) menyatakan
bahwa

para

klien

tidak

mencari

suatu

pengulangan

keterlibatan dimasa lampau yang tidak berhasil, tetapi


mencari suatu keterlibatan manusiawi yang memuaskan
dengan orang lain dalam keberadaan mereka sekarang.
6. Terapi
bukan

realitas

menekankan

aspek-aspek

asapek-aspek

ketaksadaran.

kesadaran,

Terapi

realitas

menandaskan bahwa menekankan ketaksadaran berarti


mengelak dari pokok masalah yang menyangkut ketidak
bertanggung jawabana klien dan memaafkan klien atas
tindakannya menghindari kenyataan.
7. Terapi

realitas

mengingatkan

menghapus
bahwa

hukuman.

pemberian

hukuman

Glasser
guna

mengubah tingkah laku tidak efektif dan bahwa hukuman


untuk

kegagalan

melaksanakan

rencana-rencana

mengakibatkan perkuatan identitas kegagalan pada klien


dan perusakan hubungan terapeutik.

12

8. Terapi realitas menekankan tanggung jawab, yang oleh


Glasser

(1965,

kemampuan

hlm.

untuk

13)

mendefinisikan

memenuhi

sebagai

kebutuhan-kebutuhan

sendiri dan melakukannya dengan cara tidak mengurangi


kemampuan orang lain dalam memenuhi kebutuhankebutuhan mereka.Glasser (1965) menyatakan bahwa
mengajarkan tanggung jawab adalah konsep inti dalam
terapi realitas.
C. Asumsi Bermasalah
Reality therapy pada dasarnya tidak mengatakan bahwa
perilaku individu itu sebagai perilaku yang abnormal. Konsep
perilaku menurut konseling realitas lebih dihubungkan dengan
berperilaku yang tepat atau berperilaku yang tidak tepat.
Menurut Glasser, bentuk dari perilaku yang tidak tepat tersebut
disebabkan karena ketidak mampuannya dalam memuaskan
kebutuhannya, akibatnya kehilangan sentuhan dengan realitas
objektif,

dia

realitasnya,

tidak
tidak

dapat
dapat

melihat
melihat

sesuatu

sesuai

dengan

sesuatu

sesuai

dengan

realitasnya, tidak dapat melakukan atas dasar kebenaran,


tangguang

jawab

dan

realitas.

Meskipun konseling realitas tidak menghubungkan perilaku


manusia dengan gejala abnormalitas, perilaku bermasalah dapat
disepadankan dengan istilah identitas kegagalan. Identitas
kegagalan ditandai dengan keterasingan, penolakan diri dan
irrasionalitas, perilakunya kaku, tidak objektif, lemah, tidak
bertanggung jawab, kurang percaya diri dan menolak kenyataan.
Menurut Glasser (1965, hlm.9), basis dari terapi realitas adalah
membantu para klien dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan
dasar

psikologisnya,

yang

mencangkup

13

kebutuhan

untuk

mencintai dan dicintai serta kkebutuhan untuk merasakan bahwa


kita berguna baik bagi diri kita sendiri maupun bagi oaring lain.
Pandangan tentang sifat manusia mencakup pernyataan
bahwa suatu kekuatan pertumbuhan mendorong kita untuk
berusaha mencapai suatu identitas keberhasilan. Penderitaan
pribadi

bisa

diubah

hanya

dengan

perubahan

identitas.

Pandangan terapi realitas menyatakan bahwa, karena individuindividu bisa mengubaha cara hidup, perasaan, dan tingkah
lakunya,

maka

merekapun

bisa

mengubah

identitasnya.

Perubahan identitas tergantung pada perubahan tingkah laku.


Maka jelaslah bahwa terapi realitas tidak berpijak pada
filsafat deterministik tentang manusia, tetapi dibangun diatas
asumsi bahwa manusia adalah agen yang menentukan dirinya
sendiri. Perinsip ini menyiratkan bahwa masing-masing orang
memilkiki

tanggung

jawab

untuk

menerima

konsekuensi-

konsekuensi dari tingkah lakunya sendiri. Tampaknya, orang


menjadi apa yang ditetapkannya.
D. Tujuan konseling
Tujuan konseling realitas adalah sebagai berikut :
1. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri,
supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku
dalam bentuk nyata.
2. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta
memikul

segala

resiko

yang

ada,

sesuai

dengan

kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan


pertumbuhannya.
3. Mengembangkan

rencana-rencana

nyata

dan

dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

14

realistik

4. Perilaku

yang

sukses

dapat

dihubungkan

dengan

pencapaian kepribadian yang sukses, yang dicapai dengan


menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk
mengubahnya sendiri.
5. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas
kesadaran sendiri.
E. Fungsi dan Peran Konselor
Tugas dasar konselor adalah melibatkan diri dengan konseli
dan kemudian membuatnya untuk menghadapi kenyataan. Yang
antara lain sebagai berikut :
1. Bertindak sebagai pembimbing yang membantu konseli
agar bisa menilai tingkah lakunya sendiri secara realistis.
2. Berperan sebagai moralis
3. Motivator
4. Sebagai guru
5. Memberikan kontrak
F. Proses dan Teknik-teknik Konseling
1. Prosedur
Untuk mencapai tujuan-tujuan konseling itu terdapat
prosedur yang harus diperhatikan oleh konselor realitas.
Prosedur tersebut terdapat delapan diantaranya:
a. Berfokus pada personal
Prosedur utama adalah mengkomunikasikan
perhatian

konselor

kepada

klien.

Perhatian

itu

ditandain oleh hubungan hangat dan pemahamnnya


ini merupakan kunci keberhasilan konseling.
b. Berfokus pada perilaku

15

Konseling realitas berfokus pada perilaku tidak pada


peraaan dan sikap. Konselor dapat meminta klien
untuk melakukan sesuatu menjadi lebih baik dan
bukan meminta klien merasa yang lebih baik.
c. Berfokus pada saat ini
Konseling realitas memandang tidak perlu melihat
masa lalu klien. Konselor tidak perlu melakukan
explorasi

terhadap

pengalaman-pengalaman

irrasional di masa lalunya.


d. Pertimbangan nilai
Konseling
realitas
menganggap

yang

pentingnya

melakukan pertimbangan nilai, penilaian perilakunya


oleh diri klien akan membantu kesadarannya tentang
dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif atau
mencapai identitas keberhasilan.
e. Pentingnya pernyataan
Kesadaran klien tentang perilakunya yang tidak
bertannggung

jawab

harus

dilanjutkan

dengan

perencanaan untuk mengubahnya menjadi perilaku


yang bretanggung jawab. Untuk mencapai hal ini
konselor bertugas membantu klien untuk memperoleh
pengalaman berhasil pada tingkat-tingkat yang sulit
secara progresif.
f. Komitmen
Perencanaan
meyakinkan
kebahagiaanya

saja

tidak

klien

cukup.

bahwa

sangat

Konselor

kepuasaan

ditentukan

oleh

terus
atau

komitmen

pelaksanaan rencana-rencananya.
g. Tidak menerima dalih
Adakalanya renacana yang telah disusun dan telah
ada komitmen klien untuk melaksanakan, tetapi tidak
dapat dilaksanakan atau mengalami kegagalan. Pada
saat itu konselor perlu membantu rencana dan mebuta
komitmen baru Untuk melaksanakan upaya lebih
lanjut.

16

h. Menghilangkan hukuman harus ditiadakan.


Konseling realitas tidak memperlakuakn hukuman
sebagai tekhnik perubahan perilaku.
2. TeknikKonseling Realitas
TeknikKonseling Realita menggunakan banyak teknik untuk
mencapai tujuan-tujuan konseling, khususnya teknik-teknik dari
perspektif konseling perilaku seperti yang telah dikemukakan.
Teori konseling realita memiliki beberapa teknik tersendiri yaitu:
a. Metapor
Konselor menggunakan taknik ini seperti senyuman,
imej, analogi, dan anekdot untuk memberi konseli suatu
pesan penting dalam cara yang efektif. Konselor juga
mendengarkan

dan

menggunakan

ditampilkan diri konseli


3. Hubungan
Menggunakan hubungan

sebagai

metapor

bagian

yang

yang

asensial dalam proses terapoutik. Hubungan ini harus


memperlihatkan upaya menuju perubahan, menyenagkan,
positif, tidak menilai, dan mendorong kesadaran konseli.
4. Pertanyaan
Konselor menekankan evaluasi dalam perilaku total,
asesmen harus berasal dari konseli sendiri. Konselor tidak
mengatakan apa yang harus dilakukan koseli, tetapi
menggunakan pertanyaan yang terstruktur dengan baik
untuk membantu konseli menilai hidupnya dan kemudian
merumuskan perilaku-perilaku yang perlu dan tidak perlu
di ubah.
5. WDEP & SAMI2C3
Merupakan akronim dari wants (keinginan), direction
(arahan), evaluasi (penilaian), dan planing (rencana).
Teknik ini digunakan untuk membantu konseli menilai
keinginan-keinginannya.

Perilaku-perilakunya,

kemudian merumuskan rencana-rencana.

17

dan

SAMI2C3 mempersentasikan elemen-elemen yang


memaksimalkan keberhasilanya keberhasilan rencana :
mudah/ sederhana (simple), dapat dicapai (attainable),
dapat diukur (measurable), segera (immedate), melibatkan
tindakan (involving), dapat dikontrol (controled), konsisten
(consistent), dan menekankan pada komitmen (committed)
6. Renegosiasi
Konseli tidak selalu dapat menjalankan rencana
perilaku pilihanya. Jika ini terjadi, maka konselor mengajak
konseli untuk membuat rencana ulang dan menemukan
pilihan perilaku lain yang lebih mudah.
7. Intervebsi paradoks
Terinspirasi oleh Frankl (pendiri konselng Gestalt),
Glasser menggunakan paradoks untuk mendorong konseli
menerima

tanggung

jawab

bagi

perilakunya

sendiri.

Intetrvensi paradoksikal ini memiliki dua bentuk rerabel


atau reframe dan paradoxical pressciption.
8. Pengembangan ketrampilan
Konselor perlu membantu konseli mengembangkan
ketrampilan untuk memnuhi kebutuhan dan keinginankeinginannya dalam cara yang bertanggung jawab. Koselor
dapat mengajar konseli tentang berbagai ketrampilan
seperti perilaku asertif, berfikir rasional, dan membuat
rencana.
9. Adiksi positif
Menurut Glesser, merupakan teknik yang digunakan
untuk

menurunkan

barbagai

bentuk

perilaku

negatif

dengancara memberikan kesiapan atau kekuatan mental,


kreatifitas, energi dan keyakinan. Contoh : mendorong
olahraga yang teratur, menulis jurnal, bermain musik,
yoga, dan meditasi.
10.
Penggunakan kata kerja
Dimaksudkan untuk membantu konseli agar mampu
mengendalikan hidup mereka sendiri dan membuat pilihan

18

perilaku total yang positif. Daripada mendeskripsikan koseli


dengan kata-kata: marah, depresi, fobia, atau cemas
konselor

perlu

menggunakan

kata

memarahi,

mendepresikan, memfobiakan, atau mencemaskan. Ini


mengimplikasikan

bahwa

emosi-emosi

tersebut

bukan

merupakan keadaan yang mati tetapi bentuk tindakan


yang dapat diubah.
11.
Konsekuensi natural
Konselor harus memiliki keyakinan bvahwa konseli
dapat bertanggung jawab dan karena itu dapat menerima
konsekuensi dari perilakunya. Koselor tidak perlu menerima
permintaan maaf ketika konseli membuat kesalahan, tetapi
juga tidak memberikan sangsi. Alih-alih koselor lebih
memusatkan pada perilaku salah atau perilaku lain yang
bisa membuat perbedaan sehingga konseli tidak perlu
mengalami kosekuensi negatif dari perilakunya yang tidak
bertanggung jawab.
H.

Kelemahan dan kelebihan Terapi Realitas


a) Kelemahan:
1. Terapi realitas terlalu menekankan pada tingkah laku
masa kini sehingga terkadang mengabaikan konsep lain,
seperti alam bawah sadar dan riwayat pribadi.
2. Terapi

realitas

bergantung

pada

terciptanya

suatu

hubungan yang baik antara konselor dan konseli.


3. Terapi realitas bergantung pada interaksi verbal dan
komunikasi

dua

arah.

Pendekatan

ini

mempunyai

keterbatasan dalam membantu konseli yang dengan


alasan apapun, tidak dapat mgekspresikan kebutuhan,
pilihan, dan rencana mereka dengan cukup baik.

19

4. Teori ini mengabaikan tentang intelegensi manusia,


perbedaan individu dan faktor genetik lain.
5. Dalam konseling kurang menekankan hubungan baik
antara konselor dan konseli, hanya sekedarnya.
6. Pemberian

reinforcement

jika

tidak

tepat

dapat

mengakibatkan kecanduan/ketergantungan.

b) Kelebihan:
1. Terapi realitas

ini

fleksibel

dapat

diterapkan

dalam

konseling individu dan kelompok.


2. Terapi

realitas

penyimpangan

tepat

diterapkan

perilaku,

dalam

penyalahgunaan

perawatan
obat,

dan

jawab

dan

penyimpangan kepribadian.
3. Terapi

realitas

meningkatkan

tanggung

kebebasan dalam diri individu, tanpa menyalahkan atau


mengkritik seluruh kepribadiannya.
4. Asumsi mengenai tingkah laku merupakan hasil belajar.
5. Asumsi

mengenai

kepribadian

dipengaruhi

oleh

lingkungan dan kematangan.


6. Konseling bertujuan untuk mempelajari tingkah laku baru
sebagai upaya untuk memperbaiki tingkah laku manusia.
I.

Contoh Penerapan Konseling Realitas


Anton adalah siswa kelas VII MTs Salafiyah Slarang Kidul.
Dia

adalah

orang

yang

20

tidak

rajin

dan

disiplin

di

sekolahnya, dia sering bermain dengan temannya dan


kalau dirumah dia pergi dan begadang sampai pagi,
sehingga waktu di sekolah ketika sedang belajar dia tidur
di kelas, karena keadaan tersebut sehingga didalam
menjani tugas sekolahnya menjadi terhambat. Hal ini tentu
akan berakibat pada proses belajar mengajar dan prestasi
di sekolah.
Dari contoh kasus di atas maka anton itu perlu di
berikan bimbingan agar anton dapat menyelesai kan
masalah yang di hadapinya. Dan dalam hal ini konselor
juga harus dapat menyelesaikan masalah anton dengan
tepat. Yaitu dengan cara mengingatkan kembali apa tujuan
sebelumnya dan memberikan arahan agar anton dapat
merumuskan rencana baru dan konselor harus mengawasi
perilakunya. Dan perubahan ini dapat teratasi jika anton
dapat mengatasi apa yang menjadi permasalahannya.

21

BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
Terapis Realita berfungsi sebagai guru dan seorang
model dalam membantu para klien mengevaluasi apa yang
sedang mereka lakukan dan apakah tingkah laku mereka
dapat

memenuhi

kebutuhan

dasar

mereka

tanpa

membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain. Inti


terapi realita adalah mempelajari bagaimana membuat
pilihan

yang

lebih

baik

dan

lebih

efektif

dan

untuk

mendapatkan pengendalian diri yang lebih efektif. Orangorang yang bertanggungjawab atas hidup mereka dan
bukan korban keadaan diluar kendali mereka. Sehingga,
praktisi terapi realita berfokus apa yang mampu dan ingin
dilakukan saat ini oleh para klien cara untuk merubah
tingkah laku mereka. Para praktisi mengajarkan para klien
cara untuk membuat hubungan yang penting dengan orang
lain. Terapis terus meminta klien untuk mengevaluasi
kefektifan apa yang sedang mereka pilih dilakukan untuk
menentukan apakah ada kemungkinan pilihan yang lebih
baik.
Praktik terapi realita bekerja bersama dua komponen yaitu
lingkungan konseling dan prosedur-prosedur khusus yang
mendorong perubahan tingkah laku. Proses terapis ini
membantu para klien merubah arah untuk mendapatkan
apa yang mereka inginkan. Tujuan terapi realita meliputi
perubahan tingkah laku, pembuatan keputusan yang lebih
baik, meningkatkan hubungan yang penting, meningkatkan

22

hidup, dan pemenuhan semua kebutuhan psikologis yang


lebih efektif.
Kontribusi-kontribusi Terapi Realita Kelebihan terapi
realita adalah fokus jangka pendeknya dan fokus tersebut
berhubungan dengan masalah-masalah tingkah laku yang
sadar. Pengetahuan dan kesadaran tidaklah cukup karena
evaluasi diri klien, rencana tindakan, dan komitmen yang
mengikuti adalah inti dari proses terapi. Fokusnya lebih
banyak pada menolong para klien untuk melakukan evaluasi
diri, untuk memutuskan apakah yang mereka lakukan
evaluasi diri, untuk memutuskan apakah yang mereka
lakukan berguna atau tidak, dan untuk berkomitmen untuk
melakukan

apa

yang

disarankan

dapat

memberikan

perubahan. Kelebihan lain, para klien tidak diapandang


sebagai orang tidak memiliki harapan dan tidak bisa
ditolong. Tetapi para klien dipandang mampu melakukan hal
yang terbaik bagi mereka atau membuat pilihan-pilihan
yang mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka.
Banyak konseling yang gagal karena terapis memiliki
agenda bagi para klien mereka. Terapis realita membantu
klien untuk mencari data mengenai perasaan, kesadaran,
dan tindakan mereka sendiri. Sekali klien memutuskan
bahwa tingkah laku mereka tidak berguna, maka mereka
sadar untuk melakukan tingkah laku yang lebih efektif.
b. Saran
Konseling

realitas

merupakan

konseling

yang

dimana

seorang individu agar dapat menerima kenyataan . sehingga


saran dari kelompok kami adalah :
Sebagai seorang klien harus berperilaku

23

DAFTAR PUSTAKA
Gunarso, singgih. 1992. Konseling dan psikoterapi.Jakarta : BKPBM
Fauza, Lutfi. Pendekatan pendekatan Konseling Individual. Malang : Elang Mas
Noor, Fatimah.2013. Teori Konseling Realitas. http://:WWW.google.com
( dikutip tanggal 8 November 2015 )
Corey, Gerald. 1988. Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung:
Eresco.
http://counseling-realitas-dalam-kelompok.html

24