Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENGAMATAN

ETIKA LINGKUNGAN
Diajukan untuk memenuhi Tugas Mata Pelajaran PLH

DISUSUN OLEH:

NAMA

: SITI SUGESTI

KELAS

: X-2

YAYASAN PERGURUAN NUSA PUTRA


SMK PLUS NUSA PUTRA
TAHUN 2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat,Taufik dan
Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Pengamatan Etika Sosial dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga Laporan Pengamatan ini dapat dipergunakan
sebagai salah satu acuan
Kami berharap semoga Laporan Pengamatan ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi Laporan
Pengamatan ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Laporan Pengamatan ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki
sangat kurang.Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukanmasukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan Laporan Pengamatan ini.

Surade, 25 Mei 2016


Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................................................i


Daftar Isi ......................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang ................................................................................................................1

B.

Rumusan Masalah ..........................................................................................................1

C.

Tujuan .............................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN
A.

Pengertian Etika Lingkungan...........................................................................................2

B.

Teori-teori Etika Lingkungan............................................................................................3

C.

Dasar Etika Dalam Mewujudkan Kesadaran Masyarakat...............................................4

D.

Prinsip-prinsip yang relevan untuk lingkungan hidup .....................................................5

E.

Penerapan Etika Lingkungan Hidup ...............................................................................8

BAB III PENGAMATAN


A.

Kondisi kebersihan kelas................................................................................................10

B.

Peran serta siswa dalam menjaga kebersihan kelas.....................................................10

C.

Pengaruh kebersihan kelas terhadap konsentrasi belajar siswa ..................................10

BAB IV KESIMPULAN ...............................................................................................................12


Daftar Pustaka ...........................................................................................................................13
Lampiran ....................................................................................................................................14

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sebagian besar manusia saat ini sudah tidak peduli lagi dengan sesama dan lingkungannya
karena merasa berkelimpahan. Setelah sejarah panjang inovasi teknologi dan eksploitasi sumberdaya
alam, manusia lalu mengalami kritis keterbatasan. Disisi lain, kekuatan yang dimiliki manusia
sebenarnya justru merusak, bahkan membunuh manusia sendiri lewat kerusakan ekologik. Pada
situasi seperti ini, manusia pada dasarnya sudah mulai kehilangan orientasi dan harapan hidup.
Risiko berupa pudarnya orientasi dan harapan hidup yang mungkin telah dicanangkan,
dipersiapkan dan diusahakan selama proses kehidupannya melalui penciptaan bentuk-bentuk
peradaban yang digunakan untuk memanfaatkan dan mengolah sumber daya alam guna
keberlangsungan hidup spesies manusia itu sendiri. Manusia lantas terlena dengan potensi dan
kekuatannya sendiri dalam merengkuh kenikmatan fasilitas yang diberikan alam dan melupakan satu
sisi dalam dirinya sendiri yang sesungguhnya merupakan kelemahan dan sekaligus menjadi
kekuatannya, yaitu sikap mental
Atas dasar itu dalam pendidikan lingkungan setiap persoalan selalu dibahas dalam kaitannya
dengan pembangunan dalam meningkatkan kualitas hidup (manusia) secara keseluruhan. Pendidikan
etika lingkungan, terutama yang menekankan pada paham ekosentrisme, sangat penting untuk
dilakukan dan dan diberikan pada generasi muda. Mengingat merekalah yang kelak akan meneruskan
mengelolah alam semesta ini.
B. Rumusan masalah
1. Apa pengertian Etika Lingkungan ?
2. Apa saja teori dalam etika lingkungan ?
3. Bagaimana dasar-dasar etika untuk mewujudkan kesadaran lingkungan?
4. Bagaimana prinsip-prinsip yang relevan untuk lingkungan hidup?
5. Bagaimana penerapkan etika lingkungan/ membiasakan diri melakukan aturan etika lingkungan?
C. Tujuan
1. Mengetahui Pengertian Etika Lingkungan
2. Mengetahui teori-teori yang berkaitan dalam etika lingkungan
3. Menjelaskan dasar-dasar etika dan kesadaran lingkungan
4. Mengetahui penerapan etika lingkunga
5. Mengetahui cara-cara/ respon yang digunakan untuk mengefektifkan penerapan etika lingkunga.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Etika Lingkungan

Etika lingkungan berasal dari dua kata, yaitu etika dan lingkungan. Etika berasal dari bahasa
yunani yaitu Ethos yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Ada tiga teori mengenai pengertian etika,
yaitu etika Deontologi, etika Teologi, dan etika Keutamaan. Etika Deontologi adalah suatu tindakan di
nilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Etika
Teologi adalah baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat suatu tindakan.
Sedangkan Etika keutamaan adalah mengutamakan pengembangan karakter moral pada diri setiap
orang.
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi
kelangsungan kehidupan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lain baik secara langsung
maupun secara tidak langsung. Jadi, etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam
bergaul dengan lingkungannya. Etika lingkungan diperlukan agar setiap kegiatan yang menyangkut
lingkungan dipertimbangkan secara cermat sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.
Adapun

hal-hal

yang

harus

diperhatikan

sehubungan

dengan

penerapan etika

lingkungan sebagai berikut:

Manusia merupakan bagian dari lingkungan yang tidak terpisahkan sehingga perlu menyayangi
semua kehidupan dan lingkungannya selain dirinya sendiri.

Manusia sebagai bagian dari lingkungan, hendaknya selalu berupaya untuk menjaga terhadap
pelestarian, keseimbangan dan keindahan alam.

Kebijaksanaan penggunaan sumber daya alam yang terbatas termasuk bahan energy.

Lingkungan disediakan bukan untuk manusia saja, melainkan juga untuk makhluk hidup yang lain.

Di samping itu, etika Lingkungan tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam,
namun juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan
manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk hidup lain atau
dengan alam secara keseluruhan.
Pengelolaan sumber daya alam secara bijaksana merupakan faktor utama dalam memelihara
berlangsungnya keseimbangan lingkungan. Kebijakan moral manusia dalam pergaulannya dengan
lingkungan untuk memelihara dan mengelola keseimbangan disebut dengan etika lingkungan. Etika
lingkungan ini memelihara hubungan antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan
lingkungannya, dan hubungan manusia dengan Tuhan penciptanya. Disini juga berlaku pola selaras,
serasi, dan seimbang.
Kehidupan manusia di muka bumi ini tidak terlepas dari peran serta lingkungan. Sebagaimana
manusia merupakan bagian dari lingkungan, bersama-sama dengan tumbuhan, hewan, dan
mikroorganisme yang telah menjadi satu mata rantai yang tidak akan terpisah. Untuk itulah, manusia
harus memanfaatkan sumber daya alam secara tepat, agar lingkungan tetap lestari.

B. Teori-teori Etika Lingkungan


Sikap dan perilaku seseorang terhadap sesuatu sangat ditentukan oleh bagaimana pandangan
seseorang terhadap sesuatu itu. Manusia memilki pandangan tertentu terhadap alam, dimana
pandangan itu telah menjadi landasan bagi tindakan dan perilaku manusia terhadap alam. Pandangan
tersebut dibagidalam tiga teori utama, yang dikenal sebagai Shallow Environmental Ethics,
Intermediate Environmental Ethics, and Deep Environmental Ethics. Ketigateori ini dikenal juga
sebagai Antroposentrisme, Biosentrisme, dan Ekosentrisme.
a.

Antroposentrisme

Dinamakan berdasar kata antropos = manusia, adalah suatu pandanganyang menempatkan manusia
sebagai pusat dari sistem alam semesta. Karena pusat pemikiran adalah manusia, maka kebijakan
terhadap alam harus diarahkan untuk mengabdi pada kepentingan manusia. Alam dilihat hanya
sebagai objek, alat dansarana bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Dengan demikian alam dilihat
tidak memiliki nilai dalam dirinya sendiri. Alam dipandang dan diperlakukan hanyasebagai alat bagi
pencapaian tujuan manusia. Namun, dalam sikapnya yang dianggap semena-mena terhadap alam,
pandangan ini juga peduli terhadap alam. Manusia membutuhkan lingkungan hidup yang baik, maka
demi kepentingan hidupnya, manusia memiliki kewajibanmemeliharan dan melestarikan
alamlingkungannya. Kalaupun manusia bersifat peduli terhadap alam, hal itu dilakukan semata-mata
demi menjamin kebutuhandan kepentingan hidup manusia, dan bukan atas pertimbangan bahwa
alammempunyi nilai pada dirinya sendiri. Teori ini jelas bersifat egoistis, karena hanya mengutamakan
kepentingan manusia. Itulah sebabnya teori ini dianggap sebagaisebuah etika lingkungan yang
dangkal dan sempit (Shallow EnvironmentalEthics).
b.

Biosentrisme

Adalah suatu pandangan yang menempatkan alam sebagai yangmempunyai nilai dalam dirinya
sendiri, lepas dari kepentingan manusia. Dengandemikian, biosentrisme menolak teori
antroposentrisme yang menyatakan bahwahanya manusialah yang mempunyai nilai dalam dirinya
sendiri. Teori biosentrisme berpandangan bahwa makhluk hidup bukan hanya manusia
saja.Pandangam biosentrisme mendasarkan kehidupan sebagai pusat perhatian.Maka, kehidupan
setiap makhluk dibumi ini patut dihargai, sehingga harusdilindungi dan diselamatkan. Biosentrisme
melihat alam dan seluruh isinyamemilki harkat dan nilai dalam dirinya sendiri. Alam memiliki nilai justru
karenaada kehidupan yang terkandung didalamnya. Manusia hanya dilihat sebagai salahsatu bagian
saja dari seluruh kehidupan yang ada dimuka bumi, dan bukanlahmerupakan pusat dari seluruh alam
semesta. Maka secara biologis, manusia tidak ada bedanya dengan makhluk hidup lainnya.
c.

Ekosentrisme

Pandangan ini didasarkan pada pemahaman bahwa secara ekologis, baik makhluk hidup maupun
benda-benda abiotik saling terkait satu sama lain. Air disungai, yang termasuk abiotik, sangat

menentukan bagi kehidupan yang adadidalamnya. Udara, walaupun tidak termasuk makhluk hidup,
namun sangatmenentukan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Jadi, ekosentrisme
selainsejalan

dengan

biosentrisme

(dimana

kedua-duanya

sama-sama

menentang

teoriantroposentrisme) juga mencakup komunitas yang lebih luas, yakni komunitasekologis


seluruhnya.
Ekosentrisme disebut juga Deep Environtmental Ethics. Deep ecolog menganut prinsip biospheric
egolitarian-ism, yaitu pengakuan bahwa seluruhorganisme dan makhluk hidup adalah anggota yang
sama statusnya dari suatukeseluruhan yang terkait. Sehingga mempunyai suatu martabat yang sama.
Inimenyangkut suatu pengakuan bahwa hak untuk hidup dan berkembang untuk semua makhluk (baik
hayati maupun non-hayati) adalah sebuah hak universalyang tidak bisa diabaikan.
C. Dasar Etika Dalam Mewujudkan Kesadaran Masyarakat
Empat tingkat kesadaran lingkungan mengiodentifikasi bahwaawalnya pemikiran etika lingkungan
itu muncul karena adanya krisis lingkungan yang sebab utamanya adalah gaya hidup manusia dan
perkembangan peradabannya. Pola hidup konsumtif, tanmpa memperhitungkan bagaimana
ketersediaan/ daya dukung lingkungan serta didukung pengangkatan-pengangkatan teknologi
membuahkan perilaku eksploitasi. Namun, sering berjalannya waktu, manusia mulai menghadapi
masalah persaingan mendapatkan sumber daya alam yang ironisnya justru semakin berkurang dan
tingkat daya dukungnya pun mulai menurun. Masalah ini lah yang memaksa manusia untuk melihat
kembali bagaimana kedudukan, fungsi dan interaksinya dengan alam semesta yang melahirkan
gagasan kesadaran dan etika lingkunga.
Dasar-dasar pemikiran/pendekatan etika lingkungan, yaitu:
Dasar pendekatan ekologis, mengenalkan suatu pemahaman adanya keterkaitan yang luas atas
kehidupan yang luas atas kehidupan dimana tindakan manusia pada masa lalu, sekarang, dan yang
kan datang, akan memberi dampak yang tak dapat di perkirakan. Kita tidak bisa melakukan hanya satu
hal atas alam, kita tidak juga bisa sepenuhnya memahami bagaimana alam bekerja, pun kita tidak
akan pernah bisa mengelak bahwa apa yang kita lakukan pasti memberi dampak pada organisme lain,
sekarang atau akan datang.
1. Dasar pendekatan humanisme, setara dengan pendekatan ekologis, dasar pendekatan ini
menekankan pada pentingnya tanggung jawab kita untuk hak dan kesejahteraan manusia lain
atas sumber daya alam.
2. Dasar pendekatan teologis, merupak dasar dari keduan pendekatan sebelumnya, bersumber
pada agama yang nilai-nilai luhur dan mulia ajarannya menunjukkan bagaiman alam
sebenarnya diciptakan dan bagaimana kedudukan dan fungsi manusia serta interaksi yang
selayaknya terjalin antara alam dan manusia

3. kesadaran-kesadaran lingkungan selayaknya ada bagi kepentingan keberlanjutan bumi dan


sumber daya alam, yaitu:

Manusia bukanlah sumber utama dari segala nilai

Keberadaan alam dan segala sumber dayanya bukanlah untuk manusia semata, tetapi untuk
seluruh spesies organisme yang ada didalamnya.

Tujuan kehidupan manusia dibumi bukan hanya memproduksidan mengonsumsi, tetapi


sekaligus mengkonservasi dan memperbarui sumber daya alam.

Meningkatkan kualitas hidup, sebagaiman dasar ketiga diatas, harus pula menjadi tujuan
kehidupan.

Sumber daya alam itu sangat terbatas dan harus dihargai sertadiperbaharui.

Hubungan antara manusia dengan alam sebaiknya kesetaraan antara manusia dan alam,
sebuah hubungan dengan organisme hidup dalam kerja sama ekologik.

Kita harus memelihara stabilitas ekologik dengan mempertahankan dan meningkatkan


keanekaragaman biologis dan budaya.

Fungsi utama negara adalah mencanangkan dan pengawasan pemberdayaan sumber daya
alam, melindungi individu dan kelompok masyarakat dari eksploitasi dan perusakan
lingkungan.

Manusia hendaknya saling berbagi dan mengasihi, tidak individualis dan mendominasi.

Setiap manusia di pelanet bumi adalah unik dan memilii hak berbagai atas sumber daya alam.

Tidak satu pun individu manusia, pihak industri atau negara berhak untuk meningkatkan
haknya atau sumber daya alam.

D. Prinsip-prinsip yang relevan untuk lingkungan hidup


Etika lingkungan hidup yang menuntut manusia untuk berinteraksidalam alam semesta.Dengan ini
bisa dikemukakan bahwa krisis lingkungan global yang kitaalami saat ini sebenarnya bersumber pada
kesalahan pemahaman atau cara pandang manusia mengenai dirinya, alam, dan tempat manusia
dalam keseluruhanekosistem. Manusia keliru memandang dan keliru menempatkan diri dalamkonteks
alam semesta seluruhnya. Dan inilah awal dari semua bencana lingkunganhidup yang kita alami
sekarang. Oleh karena itu, pembenahan harus pulamenyangkut pembenahan cara pandang dan
perilaku manusia dalam berinteraksi baik dengan alam maupun dengan manusia lain dalam
keseluruhan ekosistem.
Kesalahan cara pandang ini bersumber dari etika antroposentrisme, yangmemandang bahwa
manusia sebagai pusat alam semesta, dan hanya manusia yangmempunya nilai, sementara alam dan
segala isinya sekedar alat bagi pemuasankebutuhan dan kepentingan hidup manusia. Manusia

dianggap berada diluar,diatas dan terpisah dari alam. Bahkan, manusia dipahami sebagai penguasa
atasalam yang boleh melakukan apa saja. Cara pandang seperti ini melahirkan sikapdan perilaku
eksploitatif tanpa kepedulian sama sekali terhadap alam dan segalaisinya yang dianggap tidak
mempunyai nilai pada diri sendiri.Oleh karena itu, dapat disampaikan beberapa prinsip yang relevan
untuk lingkungan hidup. Prinsip-prinsip ini yang dilatar belakangi oleh krisis ekologiyang bersumber
pada cara pandang dan perilaku manusia.
1.

Prinsip sikap hormat terhadap alam (Respect for Nature)

Dari ketiga teori lingkungan hidup, ketiganya sama-sama mengakui bahwaalam perlu dihormati.
Hormat terhadap alam merupakan suatu prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari alam
semesta seluruhnya. Dengan kata lain,alam mempunyai hak untuk dihormati, tidak saja karena
kehidupan manusia bergantung pada alam, tetapi terutama karena kenyataan bahwa manusiaadalah
satu kesatuan dari alam.
2.

Prinsip Tanggung Jawab (Moral Responsibility for Nature)

Setiap bagian dan benda dialam semesta ini diciptakan oleh Tuhan dengantujuannya masing-masing,
terlepas dari apakah tujuan itu untuk kepentinganmanusia atau tidak.Oleh karena itu, manusia
sebagai bagian dari alam semesta bertanggung jawab pula untuk menjaganya. Prinsip ini menuntut
manusiauntuk mengambil usaha, kebijakan dan tindakan bersama secara nyata untuk menjaga alam
semesta dengan segala isinya. Itu berarti kelestarian dankerusakan alam semesta merupakan
tanggung jawab bersama seluruh umatmanusia. Wujud konkretnya, semua orang harus bisa bekerja
sama, bahu-membahu untuk menjaga dan melestarikan alam, dan mencegah sertamemulihkan
kerusakan alam dan segala isinya. Hal ini juga akan terwujud dalam bentuk mengingatkan, melarang
dan menghukum siapa saja yang secarasengaja ataupun tidak sengaja merusak dan membahayakan
keberadaan alam.
3.

Solidaritas Kosmis (Cosmic Solidarity)

Terkait dengan kedua prinsip tersebut yakni prinsip solidaritas. Prinsip initerbentuk dari kenyataan
bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta.Oleh karena itu, manusia mempunyai kedudukan
yang

sejajar

dengan

alam,maka

akan

membangkitkan

perasaan

solider,

perasaan

sepenanggungandengan alam dan dengan sesama makhluk hidup lain. Manusia lalu bisamerasakan
apa yang dirasakan oleh makhluk hidup lain. Manusia bisamerasakan sedih dan sakit ketika
berhadapan dengan kenyataan memilukan betapa rusak dan punahnya makhluk hidup tertentu. Ia ikut
merasa apa yangterjadi dalam alam, karena ia merasa satu dengan alam.Prinsip ini lalu mendorong
manusia untuk menyelamatkan lingkungan dansemua kehidupan yang ada di alam semesta. Prinsip
ini juga mencegahmanusia untuk tidak merusak dan mencemari alam dan seluruh
kehidupandidalamnya, sama seperti manusia tidak akan merusak kehidupannya sertamerusak rumah
tangganya sendiri.Prinsip ini berfungsi sebagai pengendali moral, yakni untuk mengontrol perilaku

manusia dalam batas-batas keseimbangan kehidupan. Prinsip ini jugamendorong manusia untuk
mengambil kebijakan yang pro-alam, pro-lingkungan, atau menentang setiap tindakan yang merusak
alam. Khususnyamendorong manusia untuk mengutuk dan menentak pengrusakan alam
dankehidupan didalamnya. Hal ini semata-mata karena mereka merasa sakit samaseperti yang
dialami oleh alam yang rusak.
4. Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulain terhadap Alam (Caring for Nature)
Prinsip ini juga muncul dari kenyataan bahwa sesama anggota komunitasekologis mempunyai hak
untuk dilindungi, dipelihara, tidak disakiti, dandirawat. Prinsip kasih sayang dan kepedulian adalah
prinsip tanpamengharapkan balasan yang tidak didasarkan atas kepentingan pribadi tetapi sematamata karena kepentingan alam. Semakin mencintai dan peduli kepadaalam, manusia semakin
berkembang menjadi manusia yang matang, sebagai pribadi yang identitasnya kuat. Manusia
semakin tumbuh berkembang bersama alam, dengan segala watak dan kepribadian yang tenang,
damai, penuh kasih sayang, luas wawasannya seluas alam.
5. Prinsip No Harm
Berdasarkan keempat prinsip moral tersebut, prinsip moral lainnya yangrelevan adalah prinsip no
harm. Artinya, karena manusia memiliki kewajibanmoral dan tanggung jawab terhadap alam, paling
tidak manusia tidak akanmau merugikan alam secara tidak perlu. Dengan mendasarkan diri pada
biosentrisme dan ekosentrisme, manusia berkewajiban moral untuk melindungi kehidupan dialam
semesta ini.Sebagaimana juga dikatakan oleh Peter Singer, manusia diperkenankanuntuk
memanfaatkan segala isi alam semesta, termasuk binatang dantumbuhan, untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Hal itu dilakukan dengan bijaksana untuk tetap menghargai hak binatang dan
tumbuhan untuk hidup danhanya dilakukan sejauh memenuhi kebutuhan hidup manusia yang
palingvital. Jadi, pemenuhan kebutuhan hidup manusia yang bersifat kemewahandan di luar batasbatas yang wajar ditentang karena dianggap merugikankepentingan makhluk hidup lain (binatang dan
tumbuhan).Dengan kata lain, kewajiban dan tanggung jawab moral bisa dinyatakandalam bentuk
maksimal dengan melakukan tindakan merawat (care),melindungi, menjaga dan melestarikan alam.
Sebaliknya, kewajiban dantanggung jawab moral yang sama bisa mengambil bentuk minimal
dengantidak melakukan tindakan yang merugikan alam semesta dan segala isinya :tidak menyakiti
binatang, tidak meyebabkan musnahnya spesies tertentu, tidak menyebebkan keanekaragaman
hayati di hutan terbakar, tidak membuanglimbah seenaknya, dan sebagainya.
6.

Prinsip Hidup Sederhana dan Selaras Dengan Alam

Yang dimaksudkan dengan prinsip moral hidup sederhana dan selarasdengan alam adalah kualitas,
cara hidup yang baik. Yang ditekankan adalahtidak rakus dan tamak dalam mengumpulkan harta dan
memiliki sebanyak- banyaknya.Prinsip ini penting, karena krisis ekologis sejauh ini terjadi karena
pandangan antroposentrisme yang hanya melihat alam sebagai objek eksploitasi dan pemuas

kepentingan hidup manusia. Selain itu, pola dan gayahidup manusia modern konsumtif, tamak dan
rakus. Tentu saja tidak berarti bahwa manusia tidak boleh memanfaatkan alam untuk kepentingannya.
Kalaumanusia memahami dirinya sebagai bagian integral dari alam, ia harusmemanfaatkan alam itu
secara secukupnya. Ini berarti, pola konsumtif dan produksi manusia modern harus dibatasi. Harus
ada titik batas yang bisaditolerir oleh alam.
E. Penerapan Etika Lingkungan Hidup
Sikap ramah terhadap lingkungan hidup harus bisa menjadi sesatu kebiasaan yangdilakukan oleh
setiap manusia dalam menjalankan kehidupan baik dalam lingkungankeluarga, sekolah, dan
lingkungan masyarakat.
Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam membudayakan sikap tersebut antara lain,dengana
a) Lingkungan Keluarga
lingkungan keluarga adalah salah satu tempat yang sangat efektif menanamkannilai-nilai etika
lingkungan.
Hal itu dapat dilakukan dengan :
1. Menanam pohon dan memelihara bunga di pekarangan rumah. Setiap orangtua memberi
tanggung jawab kepada anak-anak secara rutin untukmerawatnya dengan menyiram dan
memberi pupuk.
2. membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya. Secara bergantian,setiap anggota
keluarga mempunyai kebiasaan untuk menjaga kebersihandan merasa malu jika membuang
sapah sembarang tempat.
3.

Memberikan tanggung jawab kepada anggota keluarga untuk menyapurumah dan pekarangan
rumah secara rutin.
b) lingkungan Sekolah
Kesadaran mengenai etika lingkungan hidup dapat dilakukan di lingkungan sekolahdengan
memberikan pelajaran mengenai lingkungan hidup dan etika lingkungan,melalui kegiatan
ekstrakulikuler sebagi wujud kegiatan yang konkret denganmengarahkan pada pembentukan
sikap yang berwawasan lingkungan seperti:

Pembahasan atau diskusi mengenai isu lingkungan hidup

Pengelolaan sampah

Penanaman Pohon

penyuluhan kepada siswa

Kegiatan piket, dan jumsih (jumat bersih)

c) Lingkungan Masyarakat
Pada lingkungan masyarakat , kebiasaan yang berdasarkan pada etika lingkungan dapat
ditetapkan melalui :
1. Membuangan sampah secara berkala ke tempat pembuangan sampah
2. Kesiadaan untuk memisahkan antara sampah organic dan sampah nonorganik
3. Melakukan kegiatan gotong royong atau kerja bakti secara berkala dilingkungan
tempat tinggal
4. Menggunakan kembali dan mendaur ulang bahan-bahan yang masihdiperbaharui

BAB III

PENGAMATAN

A. Kondisi kebersihan kelas


Menurut hasil pengamatan yang telah penulis lakukan, dapat diketahui bahwa kondisi
kebersihan di kelas, masih kurang bersih, karena kebersihannya itu hanya ditemukan pada pagi hari
saja dan setelah memasuki siang hari kondisinya menjadi kotor kembali dan masih banyak ditemukan
coretan-coretan yang menempel di meja dan bangku, ini diakibatkan karena kurangnya kesadaran
siswa mengenai akan pentingnya kebersihan.

B. Peran serta siswa dalam menjaga kebersihan kelas


Agar kelas kita terlihat bersih, siswa dapat berperan dalam menjaga kebersihan kelas dengan
cara tidak membuang sampah sembarangan, selain itu siswa juga bisa memungut sampah yang
berserakan dan membuangnya pada tempat sampah yang telah tersedia agar tidak ada sampah yang
berserakan di lingkungan sekolah. Serta, siswa diharapkan tidak mencorat-coret tembok dan bangku
yang merupakan sarana pembelajaran, dengan begitu, bangku dan tembok akan tetap terlihat bersih
tanpa adanya coretan-coretan yang dibuat oleh siswa dan siswi. Siswa dan siswi juga diharapkan
menyediakan alat alat kebersihan, seperti sapu, kemoceng, dll. karena apabila memasuki musim
hujan dan di suatu kelas itu tidak tersedia alas kaki maka biasanya kelas itu akan menjadi kotor.
Hal yang paling pokok untuk peran siswa dan siswi dalam menjaga kebersihan kelas adalah,
kesadaran diri masing-masing individu untuk menjaga kebersihan kelasnya agar kelas tetap dalam
keadaan bersih dan nyaman untuk proses kegiatan belajar mengajar.

C. Pengaruh kebersihan kelas terhadap konsentrasi belajar siswa


Dari hasil penelitian diatas dapat diketahui bahwa pengaruh kebersihan kelas terhadap
konsentrasi belajar siswa, kebanyakan siswa tidak dapat berkonsentrasi belajar jika ruangan kelas
yang ditempatinya itu kotor. kalau kita dapat persentasi tanggapan siswa itu sekitar 26 % yang tidak
dapat berkonsentrasi dan sekitar 76 % yang masih bisa berkonsentrasi.
Kebersihan sangat mempengaruhi konsentrasi belajar siswa. Jika kelas bersih, indah dan
tertata rapi maka kemungkinan besar kenyamanan dalam proses pembelajaran akan tercapai, selain
itu konsentrasipun bisa lebih fokus, dengan begitu sistem kerja otak akan semakin meningkat. Tetapi
sebaliknya, jika lingkungan sekolah terutama kelas terlihat kotor dan kumuh, pelajaran atau

materi yang akan diberikan oleh guru akan sulit diterima oleh siswa, hal ini disebabkan karena
pecahnya konsentrasi akibat situasi kelas yang tidak nyaman. Suasana kelas yang seperti ini juga
menyebabkan siswa bosan atau mengantuk. Maka dari itu kelas harus selalu dalam keadaan bersih
agar siswa bisa meningkatkan konsentrasi belajarnya.

BAB IV

KESIMPULAN

Etika lingkungan berasal dari dua kata, yaitu etika dan lingkungan. Etika berasal dari bahasa yunani
yaitu Ethos yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Ada tiga teori mengenai pengertian etika, yaitu etika
Deontologi, etika Teologi, dan etika Keutamaan. Etika Deontologi adalah suatu tindakan di nilai baik atau
buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Etika Teologi adalah baik
buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat suatu tindakan. Sedangkan Etika keutamaan
adalah mengutamakan pengembangan karakter moral pada diri setiap orang.
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi kelangsungan
kehidupan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lain baik secara langsung maupun secara tidak
langsung. Jadi, etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan
lingkungannya. Etika lingkungan diperlukan agar setiap kegiatan yang menyangkut lingkungan
dipertimbangkan secara cermat sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.
Guna menjamin kelangsungan hidup kita dan generasi mendatang diharapkan agar tetap memiliki
kehidupan dan lingkungan dalam suasana yang baik dan menyenangkan, banyak hal yang dilakukan untuk
menjaminkelangsungan hidup alam semesta, setidaknya kita harus merubah sikap dalammemandang dan
memperlakukan alam sebagai hal bukan sebagai sumber kekayaan yang siap dieksploitasi, kapan dan
dimana saja.

DAFTAR PUSTAKA

http://h-sansblogs.blogspot.co.id/2013/02/Laporan Pengamatan-etika-lingkungan-hidup.html
http://www.belajarbagus.com/2015/02/etika-lingkungan.html

LAMPIRAN