Anda di halaman 1dari 16

Metode Pelaksanaan Pekerjaan

Nama Pekerjaan : Pembangunan Jalan dan Jembatan


Nama Penawar

I.

: PT. TUNAS MANUNGGAL UTAMA

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Metode Pelaksanaan Pekerjaan ini disusun berdasarkan, uraian yang didapat didalam
dokumen lelang dan uraian
Yang diberikan saat rapat yang telah didokumentasikan dalam bentuk Berita Acara Penjelasan
Pekerjaan (Aanwizing). Metode Pelaksanaan ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan
yang harus dipenuhi didalam mengikuti Pelelangan Pekerjaan Pembangunan Jalan dan
Jembatan.
I.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari uraian Metode Pelaksanaan ini adalah untuk menjelaskan secara garis
besar uraian tahapan pelaksanaan dari pekerjaan pekerjaan utama dan pekerjaan
penunjang, sehingga dapat dilihat keterkaitan dari masing masing pekerjaan maupun antar
pekerjaan terhadap spesifikasi yang telah disyaratkan. Dalam metode ini juga akan
digambarkan pelaksanaan pekerjaan dengan memperkecil gangguan terhadap lalulintas.
I.3 Lokasi Pekerjaan dan Lingkup Pekerjaan
Lokasi pekerjaan ini berada di wilayah Kec. Antapani,Kota Bandung, dengan lingkup pekerjaan
antara lain :

Pekerjaan persiapan yang meliputi pekerjaan mobilisasi, persiapan fasilitas penunjang,

pengukuran,pengujian bahan, dll.


Pekerjaan tanah yang akan meliputi pekerjaan pembersihan / pengupasan top soil, galian

dan timbunan tanah untuk pekerjaan pelebaran jalan dan bahu jalan.
Pekerjaan lapisan kontruksi perkerasan pada jalan yang terdiri dari timbunan pilihan, lapis

pondasi Bawah Agregat C.


Pekerjaan Overlay diatas existing jalan berupa AC

jalan sebelum dihampar AC-BC akan diratakan dengan menggunakan AC BC Leveling.


Pekerjaan Minor.

WC, dimana pada beberapa bagian

II.

METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN

Metode pelaksanaan pekerjaan yang diuraikan dibawah ini akan dijelaskan mengenai tahapan
dan tata cara pelaksanaan yang menggambarkan pelaksanaan pekerjaan dari awal sampai
akhir, yang disusun berdasarkan dokumen lelang, gambar teknis, dan spesifikasi. Penjelasan ini
akan meliputi :

II.1

Program Mobilisasi
Pengendalian Mutu Pekerjaan
Uraian Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan

Program Mobilisasi
Program mobilisasi yang akan diuraikan didalam bagian ini adalah untuk memberikan
penjelasan dan penjabaran mengenai hal-hal yang akan dilakukan oleh PT. TUNAS
MANUNGGAL UTAMA didalam masa mobilisasi, program mobilisasi ini meliputi :

1. Lokasi dan Lahan untuk Base camp


Dalam melaksanakan pekerjaan Peningkatan Jalan Bunisari ini PT. TUNAS MANUNGGAL
UTAMA akan menggunakan base camp menyewa lahan di area dekat dengan lokasi
pekerjaan dan lokasi lain yang representatif. Pada lokasi luar area ini telah tersedia
fasilitas dan peralatan sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Kantor Unit Produksi


Gudang
Workshop / bengkel
Asphalt Mixing Plant
Stone Crusher
Truck Scale
Generator Set
Dll

Sedangkan untuk kantor proyek / kantor lapangan yang akan memonitor jalannya
pelaksanaan pekerjaan, maka PT. TUNAS MANUNGGAL UTAMA akan mengadakan
(penyewaan) lahan tambahan yang akan dicari didekati lokasi proyek.

2. Laboratorium
Untuk melakukan pengendalian mutu pekerjaan dalam pelaksanaan paket proyek ini,
maka PT. TUNAS MANUNGGAL UTAMA akan menggunakan laboratorium utama yang

telah dimiliki yang berlokasi di Base camp AMP. Pada Laboratorium tersebut telah
tersedia peralatan untuk pengujian tanah, pengujian agregat, pengujian aspal dan
pengujian beton. Untuk menunjang kecepatan didalam memonitor mutu hasil pekerjaan
di lapangan, maka PT. TUNAS MANUNGGAL UTAMA akan mengadakan laboratorium
tambahan yang akan berlokasi di lahan kantor proyek. Pada laboratorium ke dua ini
akan dilengkapi dengan beberapa peralatan laboratorium untuk pengujian tanah dan
pengujian beton, termasuk peralatan untuk pengujian kepadatan tanah / lapis pondasi
agregat di lapangan dengan sand cone.
3. Daftar Mobilisasi Personil
Pelaksanaan pekerjaan paket proyek ini mengusulkan staf inti proyek yang terdiri dari :
1.
2.
3.
4.
5.

General Super Intendent


Highway Engineer
Material Engineer
Quantity enginner
Petugas K3

Tenaga kerja yang akan diadakan / dimobilisasi ke lapangan untuk melaksankan


pekerjaan paket pyoyek ini, akan terdiri dari :
a. Mandor
b. Pekerja terlatih
c. Pekerja Biasa
Seluruh staf inti proyek tersebut beserta staf lainnya sesuai dengan usulan di dalam
Struktur Organisasi Kerja, akan dimobilisasikan ke lokasi proyek dalam kurun waktu 7
(tujuh) hari sejak diterbitkan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK). Sedangakan mobilisasi
tenaga kerja akan disesuaikan dengan kebutuhan yang tercermin dari Rencana
Kerja/Schedule.
4. Mobilisasi Peralatan
Daftar

jenis

peralatan

yang

akan

dimobilisasi

ke

lapangan

untuk

menunjang

pelaksanaan pekerjaan utama pada paket proyek ini, sesuai dengan kebutuhan alat
untuk melaksanakan pekerjaan.

5. Pengukuran Lapangan dan Shop Drawing

Dalam periode mobilisasi ini PT. TUNAS MANUNGGAL UTAMA akan melakukan
pengukuran berdasarkan data titik dasar dan titik tetap ( Bench Mark ) kerangka dasar
eksisting, selanjutnya diikuti dengan pemasangan Bench Mark, pengukuran poligon,
pengukuran sipat datar, pengukuran situasi detail dan staking out. Hasil dari
Pengukuran ini akan disajikan dalam bentuk gambar sesuai skala gambar yang
ditentukan

dalam spesifikasi teknis, yang akan menghasilkan gambar kerja ( shop

drawings ) berupa gambar situasi, potongan memanjang dan usulan potongan


melintang ( profil desain ). Gambar kerja tersebut akan dimintakan persetujuannya dari
Pengawas Proyek / Direksi. Gambar kerja yang telah disetujui tersebut kemudian akan
menjadi dasar pelaksanaan pekerjaan dilapangan ( Site Execution ).

6. Analisa Sumber Material (Quarry)


Uraian mengenai analisa sumber material ini dimaksudkan untuk memberi gambaran
secara rinci bagaimana bahan dan material dasar untuk pelaksanaan pekerjaan
konstruksi ini diperoleh, bagaimana dan dimana proses pengelolahanpencampuran
akan dilakukan serta bagaimana proses pengangkutan material tersebut ke lokasi
proyek yang dikaitkan dengan pengendalian lalu lintas (traffic management).
Pembahasan analisa sumber bahan ini akan dibatasi pada beberapa bahan/ material
dasar utamayang diperlukan antara lain :
1.

Boulder
Boulder yang akan digunakan diambil dari quarry silumajang dengan jarak rata-rata

sekitar 24 km dari Base camp. Boulder / Batu Belah yang sudah terseleksi kualitasnya
tersebut akan diproses untuk dijadikan batu pecah (agregat kasar, agregat halus dan
abu batu) yang kemudian akan digunakan sebagai campuran :
1. AC WC
2. AC BC / AC BC Leveling
3. AC Base
4. Agregat Kelas A
5. Agregat Kelas B
6. Agregat Kelas S
Pemecahan boulder menjadi batu pecah akan menggunakan mesin pemecah batu
(Stone crusher) sedangkan untuk pencampuran menjadi aspal panas (hotmix) adalah
menggunakan Asphalt Mixing Plant.
2.

Batu untuk pekerjaan pasangan


Material batu yang akan digunakan untuk pekerjaan pasangan batu dengan mortar

(saluran) dan pasangan batu (tembok penahan tanah) akan diambil dari lokasi quarry
setempat. Material yang telah terseleksi sesuai persyaratan spesifikasi akan diangkat
ke lokasi proyek dengan menggunakan angkutan dari suplier (diterima ditempat).
3.

Pasir pasang

Material pasir yang akan digunakan untuk pekerjaan pasangan batu akan diambil
dari quarry yang berada di sekitar AMP. Material tersebut akan diangkut dengan
angkutan dari suplier ( diterima ditempat ).
4. Timbunan biasa dan timbunan pilihan
Material timbunan biasa diambil dari lokasi quarry dengan jarak angkut 15 km ke
lokasi pekerjaan. Sedangkan untuk material timbunan pilihan akan diambil dari quarry
yang berjarak 60 km ke lokasi pekerjaan.
5.

Aspal
Aspal yang akan digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan campuran aspal adalah

dari jenis aspal minyak yang mempunyai titik lembek 48C. Aspal Minyak tersebut
akan diangkut dengan menggunakan tangki aspal langsung dari lokasi gudang supplier
ke lokasi base camp utama PT. TUNAS MANUNGGAL UTAMA. Pengujian awal terhadap
penetrasi dan titik lembek aspal akan selalu dilakukan sebelum aspal tersebut
dibongkar di base camp, kemudian pemeriksaan kedua akan dilakukan lebih detail di
laboratorium, sebelum aspal tersebut dapat diterima.
6. Bahan Aditif Anti Pengelupasan
Bahan Aditif Anti Pengelupasan yang akan digunakan untuk campuran aspal panas
akan diangkut langsung dari lokasi gudang supplier ke lokasi base camp utama PT.
TUNAS MANUNGGAL UTAMA (diterima ditempat).
7.

Baja Tulangan
Baja tulangan akan didatangkan da di stock oleh supplier kelikasi penyimpanan

bahan dekat lokasi kantor lapangan, yaitu setelah hasil pemeriksaan kwalitas baja
tulangan tersebut lolos uji.

II.2

Pengendalian Mutu Bahan Dasar dan Pekerjaan

Untuk memantau dan menjamin mutu bahan dan hasil pekerjaan, maka PT. TUNAS MANUNGGAL
UTAMA akan mengusulkan laboratorium utama di base camp dan laboratorium penunjang yang
akan diadakan di lokasi proyek. Laboratorium ini dilengkapi dengan minimal uji, antara lain :
a. Pemeriksaan / pengujian tanah

Kepadatan laboratorium

CBR Laboratorium

Berat jenis tanah

Batas batas Atterberg

Analisa saringan

Kadar air

Kepadatan lapangan dengan metode kerucut (sand come)


b. Pemeriksaan / pengujian beton
Slump test
Cube/cylinder moulds

C. Untuk pemeriksaan / uji aspal

Pengujian metode Marshall


Ekstraksi dengan metode sentrifugal
Ekstraksi dengan metode Refluks
Berat jenis agregat kasar
Berat jenis agregat halus
Pengeboran benda uji inti (core drill)
Termometer logam
Penetrometer
Titik lembek
Dan perlengkapan / peralatan lain.
Pengendalian mutu bahan dan hasil pekerjaan di lapangan akan dilakukan dengan
berpedoman pada beberapa referensi (standar rujukan) sebagai berikut :
Spesifikasi Umum dan Spesifikasi Khusus (bila ada)
Standar AASHTO dan Standar Nasional Indonesia (SNI)
Prosedur pengendalian mutu dalam Sistem Manajemen Mutu PT. Seneca Indonesia
sesuai ISO 9001 2008

Pengendalian mutu ini akan dilakukan sejak pengadaan seluruh bahan dasar yang akan
digunakan dalam pekerjaan ini. Pengendalian mutu ini dijalankan untuk memeriksa dan
menjamin bahwa bahan-bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini telah memenuhi atau
melebihi ketentuan yang disyaratkan dalam spesifikasi. Pemeriksaan mutu bahan tersebut akan
dilakukan secara intern PT. TUNAS MANUNGGAL UTAMA dengan melibatkan Quality Control
(Material Engineer) tingkat pusat dan di lapangan. Hasil pengendalian mutu secara intern ini,
selanjutnya akan diperiksakan secara extern dengan melibatkan pihak external untuk
mendapatkan persetujuan, dalam hal ini adalah dari konsultan supervise dan Direksi Pekerjaan.
Untuk gambaran lebih jelas mengenai pengendalian mutu ini, dapat di lihat dalam flow chart
yang melampiri dokumen ini.

II.3

Uraian Metode Kerja


1. Pekerjaan Umum ( Persiapan )
a. Memobilisasi GS, staf inti dan pelaksana serta peralatan konstruksi .
b. Melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait didaerah dimana lokasi proyek
berada, khususnya dengan

pihak kepolisian untuk menentukan waktu / jam kerja

yang diijinkan dan yang terbaik ditinjau dari segi kepadatan lalu lintas.
c. Menyiapkan peralatan komunikasi untuk petugas lapangan,

agar

dapat

berkomunikasi dengan base camp sehingga selalu terpantau kondisi kepadatan lalu
d.
e.
f.
g.

lintas dilapangan.
Menyiapkan kantor lapangan dan fasilitas penunjang.
Melakukan pengukuran lapangan dan pembuatan shop drawings.
Melakukan dokumentasi (photo) pada kondisi progres nol persen.
Bila diperlukan, melakukan pengujian tanah (soil investigations) untuk mengetahui
secara teliti kondisi tanah yang sebenarnya , khususnya didalam mengantisipasi

pelaksanaan pekerjaan peebaran jalan.


h. Melakukan pengujian bahan dasar yang akan digunakan termasuk pembuatan job
mix formula.

i.

Menentukan tempat pembuangan hasil pembersihan dan tanah galian yang tidak
dapat dipakai untuk konstruksi.

2. Pengembalian Kondisi dan Pekerjaan Minor


Pelaksanaan pekerjaan pengembalian kondisi jalan (minor) akan dimulai dengan
menginventariskan kondisi permukaan existing jalan saat dilakukan Field Engineering.
Dari hasil FE (field engineering) tersebut akan didapat lokasi-lokasi yang mengalami
kerusakan yang perlu dikembalikan kondisinya dengan menggunakan campuran aspal
panas. Pelaksanaan pekerjaan ini akan dilakukan dalam periode mobilisasi.
3. Pekerjaan Tanah
a. Setelah hasil pengukuran dan hasil pengujian tanah serta usulan shop drawings
termasuk didalamnya sistem pengendalian lalu lintas disetujui oleh Direksi Pekerjaan,
maka pekerjaan tanah untuk pondasi pelebaran jalan dapat dimulai dengan terlebih
dahulu melakukan pekerjaan pembersihan dan pengupasan top soils.
b. Tanah digali dengan excavator dengan ukuran dan kedalaman sesuai gambar kerja
yang disetujui.
c. Material hasil galian tanah termasuk hasil pembersihan dan pengupasan top soils ini
akan dibuang kelokasi pembuangan yang telah disiapkan dan disetujui oleh Direksi
Pekerjaan.
d. Setelah dimensi dan elevasi galian pada pelebaran jalan tercapai sesuai dimensi dan
elevasi rencana, maka akan dilakukan penyiapan dan pemadatan badan jalan
(subgrade) pada lokasi galian tersebut.
e. Pada lokasi pelebaran jalan dimana terdapat pekerjaan timbunan pilihan, maka
sebelum pekerjaan penimbunan dengan timbunan pilihan dimulai, akan dilakukan trial
section (penghamparan dan pemadatan) untuk mendapatkan persetujuan terhadap
metode kerja penumbunan yang akan dilaksanakan. Bahan timbunan pilihan yang
f.

digunakan akan diangkut dengan dump truck dari Quarry.


Bila diperlukan maka pada lokasi pekerjaan timbunan biasa juga akan dilakukan trial
section untuk mendapatkan persetujuan terhadap metode kerja penimbunan yang
akan dilaksanakan, sebelum pekerjaan penimbunan biasa tersebut dilakukan. Bahan
timbunan biasa yang digunakan akan diangkut dengan dump truk dari lokasi

pekerjaan.
g. Semua pekerjaan penimbunan akan dilakukan dengan penghamparan dan pemadatan
lapis per lapis, dengan ketebalan gembur setiap lapisan tidak lebih dari 20 cm.
h. Lapisan terkhir dari timbunan pilihan maupun timbunan biasa akan dilakukan uji
kepadatan dengan menggunakan alat Sand cone.
4. Pekerjaan Drainase
a. Pekerjaan Drainase akan dimulai dengan melakukan pengukuran situasi dan elevasi
dasar saluran, khususnya outlet dari existing saluran untuk menentukan ketinggian
(arah dan kelandaian) saluran rencana dengan menggunakan titik ikat yang
disetujui dan diikuti dengan pemasangan patok serta profil kemiringan galian.
b. Saluran drainase yang ada, untuk sementara direlokasi agar tetap berfungsi
sebelum pekerjaan drainase yang permanen selesai dilaksakan, kondisi ini
dimaksudkan untuk menjaga aliran air disekitar lokasi proyek dalam mengantisipasi

musim hujan. Dewatering kemudian akan dilakukan terhadap saluran drainase lama
yang dipindahkan, sebelum pekerjaan pelebaran jalan dilokasi bekas saluran
c.

drainase tersebut dilaksanakan.


Untuk menjaga kestabilan pekerjaan pelebaran jalan, maka pekerjaan penggalian
dan penimbunan untuk membentuk saluran drainase akan dilaksanakan secara

d.

bertahap dan disesuaikan dengan progres pekerjaan tersebut diatas.


Pada daerah drainase yang telah tergali dan tebentuk serta elevasi dasar saluran
telah sesuai dengan dimensi gambar kerja yang disetujui dan juga telah dipadatkan,
maka sesuai lokasi yang direncanakan akan dilanjutkan dengan pekerjaan

e.

pemasangan batu dengan mortar.


Untuk daerah saluran yang terbentuk dengan penimbunan, maka pekerjaan
pemasangan batu kali akan dikerjakan apabila pekerjaan penimbunan tersebut
telah memperhatikan sesetabilan.

5. Pekerjaan Struktur Perkerasan Pelebaran Jalan,


a.Lapisan strukur perkerasan pada pelebaran jalan, akan dimulai dari urutan pekerjaan
penghamparan timbunan pilihan, agregat kelas B, agregat kelas A, pekerjaan pengaspalan
yang terdiri dari lapis AC Base, AC Binder dan AC WC.
b.Proses pemadatan akan dilakukan untuk menyiapkan tanah dasar sebelum timbunan pilihan,
penyiapan badan jalan tersebut dilakukan dengan menggunakan alat pemadat mekanis
dan perapihannyadibantu dengan tenaga manusia.
c. Pekerjaan penghamparan lapis material timbunan pilihan, lapis pondasi bawah (agregat
kelas B) dan lapis pondasi atas (agregat kelas A), pada pekerjaan pelebaran akan
dilakukan dengan menggunakan motor grader dan dipadatkan lapis per lapis dengan
menggunakan Tandem Roller. Untuk mendapatkan kepadatan yang maksimum pada kadar
air optimum yang direncanakan, maka dilapangan akan ditempatkan satu unit water tank
untuk sewaktu waktu akan diperlakukan dalam mengendalikan kadar air saat proses
pemadatan.
d.Pekerjaan penghamparan dan pemadatan aspal panas (hotmix) diatas permukaan agregat A
yang telah diprime coat akan dilaksanakan / dimulai dengan lapisan AC Base, dilanjutkan
dengan AC Binder dan ACWC.
e.Tack coat sebagai bonding akan dilakukan sebelum pekerjaan lapisan untul ACBC dan ACWC.

6. Pekerjaan Beton K-250


a. Sesuai gambar dalam dokumen tender, maka volume pekerjaan beton K-250 akan
digunakan sesuai gambar atau petunjuk Direksi dan atau pekerjaan lainnya sesuai
hasil field engineering yang telah disetujui Direksi Pekerjaan.
b. Beton K-250 di produksi secara manual (concrete mixer). Material berupa pasir,
semen dan agregat kasar diterima dilokasi pekerjaan.
c. Secara umum tahapan pelaksanaan pekerjaan beton K-250 untuk pekerjaan diatas
(butir a ) dapat diuraikan secara berikut :
Pekerjaan akan dimulai dengan pembuatan shop drawings untuk kemudian
dimintakan persetujuannya dari Direksi Pekerjaan.

Baja Tulangan yang telah dirakit (cutting and bending) di base camp akan
dibawa kelokasi pekerjaan untuk dipasangkan sesuai shop drawings. Baja
tulangan akan dipasangkan / diikat dengan menggunakan kawat beton.
Pekerjaan dilanjutkan dengan pembuatan dan pemasangan bekisting yang
terbuat dari balok kayu dan multiplex untuk membentuk dimensi struktur
sesuai shop drawings.
Sebelum dilakukan pengecoran beton, maka semua hasil rakitan penulangan
dan bekisting akan dibersihkan terlebih dahulu dan dimintakan persetujuannya
dari Direksi Pekerjaan.
Untuk menjaga agar tidak terjadi pemisahan agregat (segredasi) dari beton,
maka pengecoran beton akan dilakukan dengan menggunakan luncuran
manual.
Selama proses pengecoran, beton akan diperiksa kekentalannya dengan uji
slump dan terhadap beton yang lolos uji, akan dituangkan dan pemadatan
beton akan dilakukan dengan menggunakan concrete vibrator sedemikian rupa
agar tidak terjadi bleeding.
Untuk mengetahui kondisi kekuatan beton, maka atas persetujuan Direksi
Pekerjaan,

akan

dilakukan

pengambilan

dan

pembuatan

benda

uji

kubus/silinder.
Pembongkaran bekisting kemudian akan dilakukan setelah beton mengeras
dan sesuai engan persyaratan Spesifikasi.
7. Pekerjaan Baja Tulangan U-24,
a. Material baja tulangan U-24 yang telah disetujui berdasarkan hasil uji / sertifikat
mutu, akan disupply oleh suplier dan diterima dilokasi basecamp pendukung PT.
Seneca Indonesia.
b. Baja tulangan U-24 akan distock dan dipisahkan sesuai ukuran diameternya.
c. Perakitan ( cuting dan bending ) akan dilakukan dengan menggunakan alat
pemotong (bar cutting) dan alat pembengkok (bar bending) sesuai dengan ukuran
yang ada didalam shop drawing yang disetujui.
d. Baja tulangan yang telah dipotong dan dibentuk, kemudian diangkut kelokasi
pekerjaan

dengan

menggunakan

Dump

truck

akan

dilakukan

dengan

menggunakan tenaga manusia (manual)


e. Untuk tetap menjaga mutu baja tulangan sebelum digunakan dilapangan, maka
semua stock yang ada di base camp ataupun yang belum terpasang dilokasi
pekerjaan akan dilindungi dengan penutup agar terhindar dari pengkaratan.
8. Pekerjaan Bahu Jalan,
Perkerjaan bahu jalan akan dilaksanakan setelah pelaksanaan pekerjaan perkerasan aspal
panas (ACWC). Pekerjaan bahu jalan tersebut akan menggunakan material aggregat kelas
S, untuk Aggregat S penghamparan akan menggunakan motor grader dan dipadatkan
lapis per lapis dengan menggunakan vibro Roller. Untuk mendapatkan kepadatan
maksimum pada kadar air optimum yang direncanakan, maka dilapangan akan
ditempatkan satu unit water tank untuk sewaktu waktu akan diperlukan dalam

mengendalikan kadar air saat proses pemadatan, sedangkan untuk lapis Latasir kelas A,
penghamparan akan menggunakan asphal finisher dan dipadatkan dengan menggunakan
Tendem dan PTR.
9. Pekerjaan Minor,
Pekerjaan minor lainnya seperti Pohon dan Marka Jalan, akan dilaksanakan pada akhir
pekerjaan setelah pekerjaan pelebaran dan overlay dilaksanakan.
10.

Pelaksanaan pembersihan akhir akan dilakukan setelah seluruh pekerjaan

selesai, sebelum dilakukan Profesional Handling Over.


Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas terhadap usulan metode pelaksanaan yang
telah diuraikan diatas makadilampirkan Diagram Metode Pelaksanaan Pekerjaan awal
pelaksanaan pekerjaan sampai akhir pekerjaan.

III.

URAIAN PEKERJAAN UTAMA

Pekerjaan Utama pada Paket Peningkatan kapasitas Jalan Indrapura Lima Puluh B,
adalah sebagai berikut :
Lapis Pondasi Agregat, terdiri dari : Lapis Agregat B, Lapis Pondasi Agregat A, Lapis
Pondasi Agregat S
Pekerjaan Aspal, terdiri dari : Aspal Minyak, Laston lapis aus (ACWC) dan Laston Lapis
antara (ACBC)
Pekerjaan Tanah, terdiri dari : Biasa dan Timbunan Pilihan
Tahapan pelaksanaan fisik pekerjaan utama dilapangan akan diuraikan sebagai berikut :
A. LAPIS PONDASI AGREGAT
Secara umum methode pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi agregat A, B dan S adalah
sebagai berikut :
1. Persiapan Pelaksanaan
a) Memobilisasi dan setting peralatan dilapangan yang diperlukan untuk penghamparan
dan pemadatan lapis pondasi aggregate base.
b) Pembersihan lokasi permukaan yang akan dihampar aggregate base. Lokasi tersebut
harus sudah mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan.
c) Lokasi pekerjaan merupakan daerah pelebaran yang sebelum nya telah digali dan
dihampar timbunan pilihan dan sudah berada pada elevasi sesuai gambar kerja serta
telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
d) Pencampuran untuk aggregat A, aggregat B dan aggregat S dilakukan di base camp
dan setelah disetujui direksi, lalu material tersebut di angkut kelokasi pekerjaan
dengan menggunakan dump truck.
e) Melakukan trial compaction untuk mengetahui jumlah lintasan alat pemadat yang
digunakan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
2. Proses Pelaksanaan

a) Pemasangan rambu-rambu pengaman lalu lintas


b) Material pondasi agregat diproduksi di base camp sesuai JMF yang disetujui diangkut
ke lokasi penghamparan dengan menggunakan Dump Truck.
c) Material dihampar sesuai tebal dan elevasi rencana yang terlihat didalam shop
drawing.
d) Material dihampar dengan menggunakan Motor grader kemudian dipadatkan dengan
menggunakan vibro roller dengan berat alat dan jumlah lintasan sesuai dengan trial
compaction yang telah disetujui oleh pihak Direksi pekerjaan.
e) Water tanker disediakan untuk menjaga kadar air agar pemadatan dialkukan pada
kadar air optimum.
3. Pengendalian Kualitas
a) Pengujian kepadatan lapisan dengan metode sand cone dilakukan untuk mengetahui
nilai kepadatan lapangan, dimana nilai kepadatan lapangan harus 100% dari nilai
kepadatan hasil pengujian di lab.
b) Proof rolling test akan dilakukan terlebih dahulu terhadap lapisan agregat A sebelum
pengujian density test.
B. PEKERJAAN ASPAL
Secara umum metode pelaksanaan penghamparan dan pemadatan pekerjaan aspal akan
dilakukan sebagai berikut
1. Persiapan Pelaksanaan
a) Memobilisasi dan setting peralatan dilapangan untuk penghamparan dan pemadatan
lapisan aspal baru.
b) Lokasi pekerjaan terdiri dari pelapisan (overlay) di atas permukaan aspal lama,
dimana pada lokasi tertentu terdapat pekerjaan Leveling, dan sepanjang lokasi
pelebaran jalan.
c) Bahan campuran berupa agregat halus dan agregat kasar untuk hotmix dihasilkan
dari produksi stone crusher dengan material dasar batu boulder yang didapat dari
Quarry Silumajang yang berjarak 24 km dari base camp.
d) Filler berupa semen didatangkan dari Suplier terdekat.
e) Aspal diterima di base camp Suplier dan selanjut nya diuji kualitasnya (penetrasi dan
titik lembek) sebelum dituangkan ke tangki penyimpanan.
f) Pembuatan JMF hotmix AC Base, ACBC dan ACWC di labolarotium dengan
pengawasan dan persetujuan Direksi pekerjaan.
g) Pengajuan shop drawing dan persetujuan Direksi Pekerjaan.
h) Hotmix diproduksi di base camp dengan alat AMP (asphalt mixing plant) dan diangkut
dengan dump truck ke lokasi pekerjaan dengan jarak 138 km.
i) Sebelum pelaksanaan pekerjaan di lokasi proyek, maka dilakukan trial compaction
untuk mengetahui jumlah lintasan alat pemadat, pengujian ini disaksikan dan
disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
j) Melakukan pengukuran dan stationing, dan pembuatan temporary marking diatas
lokasi permukaan yang telah direncanakan untuk diberi lapisan aspal baru.
Pengukuran disaksikan dan disetujui oleh Direksi pekerjaan.
k) Melakukan proses pembersihan terhadap permukaan aspal yang akan dilakukan
pelapisan ulang (Overlay). Pembersihan ini dilakukan sebelum permukaan aspal

diberi lapisan pengikat tack coat untuk mendapatkan kondisi bonding yang terbaik
anatar lapisan aspal yang lama dan lapisan baru.
2. Proses Produksi
a) Dimulai dengan pemanasan aspal ( Aspal Minyak ) di dalam aspal storage sampai
temperatur yang disyaratkan.
b) Pengisian aggregat ke masing-masing cold bin yang sudah ditentukan dan tetapkan
ukuran bukaan cold bin untu masing-masing fraksi aggregat sesuai hasil percobaan
bukaan / gate cold bin (kalibrasi bukaan cild bin).
c) Tetapkan garis penunjuk untuk batas penimbangan aggregat dan aspal sesuai job
mix formula.
d) Material dari cold bin dikeluarkan dan dijalankan melalui conveyer ke dryer untuk
dikeringkan dengan suhu pemanasan sesuai spesifikasi, kemudian dinaikkan dengan
hot elevator menuju ke penimbangan material di hot bin.
e) Aspal yang sudah cukup panas sesuai item a) juga dinaikkan menuju ke
penimbangan aspal.
f) Aggregat dan aspal ditimbang sesuai ketentuan untuk kemudian dicampur dalam
pugmill dengan wakru pencampuran yang ditentukan 30 detik.
g) Hasil campuran tersebut dikeluarkan melalui batching gate ke aras Dump Truck dan
diperiksa temperaturnya sebelum diangkut ke lapangan.
3. Proses Pelaksanaan
a) Pemasangan rambu-rambu pengaman lalu lintas.
b) Apabila semua mobilisasi peralatan serta pembuatabn temporary marking telah
dilaksanakan dan disetujui dilapangan, maka pekerjaan akan dimulai dengan
pelaksanaan tack coating.
c) Tack coating akan dilakukan bertahap lajur per lajur sesuai dengan metode kerja dan
rencanapelaksanaan yang disetujui. Penyemprotan tack coat secara bertahap ini
dilakukan untuk mempertimbangkan apabila terjadi kerusakan peralatan produksi
(AMP), paving set dan kondisi hujan yang tidak memungkinkan pekerjaan dilanjutkan.
d) Kerataan dan setting time terhadap hasil tack coat tersebut akan dimintakan
persetujuannya dari Deraksi Teknis dan Direksi Pekerjaan yang bertugas dilapangan.
e) Proses penghamparan terhadap campuran material aspal panas yang diproduksi di
AMP akan dimulai dengan pemeriksaan temperatur ampuran aspal panas tersebut
sesaat sebelum ditumpahkan ke dalam hopper finisher, yaitu untuk mendapatkan
jaminan bahwa temperature campuran yang akan berkaitan dengan viskositas aspal
masih memenuhi persyaratan spesifikasi teknis.
f) Setelah dihamparperiksa kelurusan tepi dengan menggunakan tali.
g) Satu group tenaga dipergunakan untuk finishing, perapihan permukaan dan tepi
hamparan.
h) Pemadatan Break Down dengan menggunakan Tandem Roller (jumlah lintasan sesuai
dengan trial compaction)
i) Pemadatan intermidiate dengan menggunakan Pneumatic Tyre Roller (jumlah
lintasan sesuai dengann trial compaction)
j) Pemadatan Akhir / Finishing dengan menggunakan Tandem Roller (jumlah lintasan
sesuai dengan trial compaction)

4. Pengendalian Kualitas
Pengujian di laboratorium terhadap campuran aspal, antara lain :
Marshal test
Stability
Density, dan properties lainnya.
Pengujian dilapangan/setelah pengharapan

Pemeriksaan suhu campuran, saat proses pemadatan


Core drill test
Density test

C. PEKERJAAN TANAH
Secara umun metode pelaksanaan pekerjaan timbunan biasa dan timbunan pilihan
adalah sebagai berikut :
1. Persiapan pelaksanaan
a) Mobilisasi dan setting peralatan dilapangan yang diperlukan untuk penghamparan dan
pemadatan timbunan
b) Pembersihan lokasi permukaan yang akan dihampar material timbunan. Lokasi tersebut
harus sudah mendapat persetujuan dari Dereksi Pekerjaan.
c) Lokasi pekerjaan timbunan biasa merupakan bahu sedangkan lokasi pekerjaan timbunan
pilihan merupakan daerah pelebaran dimana pekerjaan pennyiapan badan jalan sudah
dilaksanakan dan elevasi sudah sesuai gambar kerja dan telah di setujui oleh Direksi
Pekerjaan.
d) Material timbunan diambil dari lokasi quarry terdekat dan material sudah diperiksa
kualitasnya di laboratorium dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
e) Pengajuan shop drawing dan persetujuan dari Direksi Pekerjaan.
f) Material timbunan di angkut dari quarry ke lokasi pekerjaan dengan menggunakan dump
truck.
g) Untuk pekerjaan timbunan pilihan terlebih dahulu dilakukan trial compaction untuk
mengetahui jumlah lintasan alat pemadat dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
2. Proses pelaksanaan
a) Pemsangan rambu-rambu pengaman lalu lintas.
b) Material dihampar sesuai elevasi rencana shop drawing.
c) Material timbunan biasa atau timbunan pilihan dihampar dengan menggunakan motor
grader kemudian dipadatkan menggunakan vibratory roller, dengan alat berat dan
jumlah lintasan sesuai dengan trial compaction yang telah disetujui oleh pihak Direksi
Pekerjaan.
d) Water tangker disediakan untuk menjaga kadar air untuk pemadatan dilakukan pada
kadar air optimum.
3. Pengendalian kualitas
a) Pengujian kepadatan lapisan dengan metode sand cone dilakukan untuk mengetahui
nilai kepadatan lapangan harus >100% dari nilai kepadatan hasil pengujian di lab.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas terhadap usulan metode pelaksanaan yang
telah diuraikan diatas,

maka akan dilampirkan :

a. Peta yang menggambarkan lokassi proyek, usulan lokasi base camp dan lokasi sumber
material yang digunakan.
b. Beberapa diagram alir (flow chart) yang menggambarkan usulan pelaksanaan
pemeriksaan bahan dasar dan metode kerja dari beberapa pekerjaan utama.

IV. PEKERJAAN PENUNJANG


Pekerjaan penunjang merupakan pekerjaan sementara yangmempengaruhi kelancaran /
keberhasilan pennyelesaian

pekerjaan dan salah satunya adalah Manajemen

Pengaturan Lalu Lintas.


IV. 1. Manajemen Pengaturan Lalu Lintas
Pengaturan lalu lintas merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam
pelaksanaan pekerjaan jalan ini . untuk setiap tahapan pekerjaan dan sepanjang
waktu pelaksanaan, diupayakan tidak mengganggu aktifitas arus lalu lintas yang ada
di jalan tersebut. Terhambatnya aktifitas arus lalu lintas di lokasi pekerjaan dan
daerah sekitarnya akan menimbulkan kerugian bagi pengguna jalan dalam berbagai
aspek, safety bagi para pengguna jalan perlun mendapat jaminan agar tidak
menimbulkan kerugian bagi seluruh pihak.
Manajemen pengaturan lalu lintas dalam pelaksanaan pekerjaan dapat di lakukan
dengan dengan bewrbagai cara antara lain:
1. memasang berbagai jenis rambu rambu pengaman di sekitar lokasi pekerjaan
secara tepat dan benar, baik secara fungsi bentuk dan lokasi penempatan sesuai
spesifikasi dan ketentuan yang ada.
2. Menempatkan petugas pengatur lalu lintas secara efektif dan efisien untuk
mengatur dan mengerahkan arus lalu lintas yang ada.
3. Mengatur secara tepat jadwal pelaksanaan setiap jenis pekerjaan yang ada.
Pekerjaan pekerjaan yang akan menimbulkan gangguan besar (friction) terhadap
arus lalu lintas, di atur jadwalnya sedemikian rupa

sehingga pelaksanaan

pekerjaan tidak terlalu mengganggu arus lalu lintas yang ada dan menimbulkan
kepadatan arus lalulintas yang berarti.
4. Jika tidak memingkinkan melakukan pekerjaan pada siang hari, maka untuk
pekrjaan tertentu seperti overlay, akan dilakukan pada malam hari dengan
memasang penerangan yang cukup, agar tidak mengganggu arus lalu lintas.
teknik pengaturan lalu lintas selama pekerjaan diperlihatkan didalam gambar terlampir.
V. SISTEM MANAJEMEN

V.1. pengendalian Aspek Lingkungan


Pekerjaan ruas jalan ini juga akan member peningkata pada tarap perekonomian pada
masyarakat sekitarnya. Namun yang perlu di cermati bahwa pelaksanaan pekerjaan ini
juga akan menimbulkan dampak negative terhadap aspek lingkungan, terutama pada
saat pelaksanaan pekerjaan ruas jalan tersebut.
Perkiraan dampak yang akan terjadi saat pelaksanaan pekerjaan , dalam pembahasan
ini terbagi atas 2 (dua) bagian, yaitu:

Tahap Pra Konstruksi


Komponen lingkungan yang di perkirakan akan terkena dampak dari proyek
pekerjaan jalan ini antara lain, yaitu:
a. Masyarakat pengguna jalur jalan angkuta material, khususnya tanah urug dan
material lainnya dari sumber material dan base camp dari lokasi pekerjaan.
b. Masyarakat yang menggunakan Ruang Milik Jalan (Rumija) untuk kegiatan
mereka, misalnya : untuk tempat tinggal, berjualan, dll, terkena pembebasan
lahan untuk konstruksi pelebaran jalan.
c. Berkurangnya lahan tempat pemberhentian kenderaan umum dan tempat

parker.
Tahap Konstruksi
Sumber dampak yang akan mengakibatkan keresahan lingkungan pada tahap
konstruksi
antara lain :
a. Adanya kegiatan mobilisasi alat alat berat untuk konstruksi, sehingga
menimbulkkan dampak kemacetan lalu lintas.
b. Kegiatan pengiriman/pengangkutan material untuk konstruksi, misalnya : tanah
urug, agregat, batu kali, pasir, dll.
c. Kegiatan angkuta untuk pembuangan material : material bekas galian
d. Kebisingan akibat beroperasinya alat-alat berat.
e. Penurunan kualitas udara terutama akibat debu, khususnya karena adanya
operasi pengangkutan tanah ex galian tanah dan utntuk tibunan, serta gas
buang dari alat-alat konstruksi dan alat-alat pengangkutan.

Untuk meminimalisir kondisi tersebut diatas, maka PT. Seneca Indonesia akan
melakukan
upaya-upaya antara lain :
a. Mengadakan penyuluhan kepada masyarakat di sepanjang lokasi jalur angkutan
material untuk proyek dengan melibatkan penduduk dan pejabat setempat
(Camat), lurah, RW, RT) setempat, pemilik proyek (Dinas PU Bina Marga) dan
pelaksana proyek (Kontraktor),
mengenai

rencana/jadwal

kegiatan penyuluhan ini harus menjelaskan

kegiatan

pelaksanaan

dan

member

gambaran

bagaimana tipikal proyek tersebut setelah ditangani. Pada kesempatan ini, pihak
proyek juga harus dapat akibat menampung aspirasi/kemarau, masyarakat

sekitarnya yang terkena dampak lingkungan lainnya baik masa pra maupun pasca
konstruksi.
b. Terhadap dampak yang timbul akibat pelaksanaan pemadatan tanah, maka
terutama pada musim kering/kemarau, akan dilakukan penyiraman tanah/jalan
sehingga gangguan debu dapat diminimalkan.
c. Terhadap dampak yang timbul akibat kemungkinan debu, maka semua kendaraan
proyek yang membawa material keluar dan masuk kelokasi proyek harus tertutup
dengan terpal penutup.
d. Terhadap dampak kebisingan

yang akan timbul, akan diusahakan dengan cara

menggunakan peralatan yang jalan yang membatasi kecepatan laju kenderaan


saat melewati lokasi proyek, sehingga intensitas kebisingan yang keluar dari
knalpot kenderaan angkutan dan alat berat dapat dikurangi.
e. Untuk mengurangi dampak meningkatnya volume lalu lintas di lokasi proyek,
maka akan dilakukan hal-hal sebagai berikut:
Melaksanakan koordinasi dengan pihak kepoisian, khususnya yang berkaitan
dengan pengaturan lalu lintas.
Melaksanakan mobilisasi alat dan bahan kontruksi pada saat jam yang tidak
sibuk, yaitu dengan terlebih dahulu mensurvey kondisi volume lalu lintas
harian rata-rata setiap jamnya.
Melaksanakan mobilisasi alat dan bahan dengan cepat dan tepat waktu
Mengusakan dan mengatur dan mengatur penempatan bahan dilokasi
proyek sedemikian rupa sehingga tidak akan menggangggu kelancaran lalu
lintas yang ada saat bongkar muat bahan.
f. Terhadap
dampak
yang
timbul
karena

adanya

kemungkinan

pembongkaran/pemindahan utilitas umum, maka akan dilakukan koordinasi


dengan pihak terkait menyangkut pemberitahuan kapan kegiatan dimulai,
prosedur dan pengamanan pelaksanaan.
IV. PENUTUP
Demikian uraian metode Pelaksanaan beserta aspek-aspek yang terkait di dalamnya,
semoga uraian diatas dapat memenuhi persyaratan yang dibutuhkan untuk kelengkapan
Dokumen